The New Journey
Chapter 9: Clue
A/N: Hai hai! I'm baaack! #dilemparbatu. tolong jangan bunuh aku karena apdetnya lama #sembunyidibelakangminato.
minato: oii apa-apaan nih?
Author: diem aja nape... berhubung kemaren author ke luar kota dan laptopnya gak dibawa maka author tak bisa apdet.
minato: alesan...
Author: diem lu to! abaikan saja orang aneh berambut biru ini skrg bales riview dulu!
.
SuperdudeX: Hmmm... kalau Shadow Labrys sama Minato gak bisa._. tapi kalau Labrys bisa. soalnya Labrys kan udah punya Persona jadi shadownya gak bisa diceritain lagi. mungkin kalo Labrys vs Minato bisa dan aku adain di Chapter selanjutnya. Oya ngomong-ngomong kamu bukan orang indonesia ya? (maaf hehe soalnya ngomongnya formal sih._.v)
raymond21 : author hampir lupa genre cerita ini famili-_-" (minato: dasar pikun). Permintaan anda telah dikabulkan! ya disini ada sedikit cerita tentang Minato sama Naoto waktu kecil dulu. semoga cerita masa lalunya rame:)
Eqa Skylight: Tenang-tenang! mau tau pair minako? silahkan cari tau di chapter selanjutnya #dilemparkejurang. Minako keluarnya di chappie sepuluh. jadi mari kita tunggu saja:)
Wokay balas review udah sekarang mari kita kecerita!
Disclaimer
Pesona series owned by Atlus.
Genres
Friendship, Family, Slight Romance.
|10 Mei 2012, Malam Hari|
Dua orang pria sedang terduduk saling berhadapan memainkan seperangkat catur. Tk! Salah seorang dari pria itu menjalankan pionnya maju dari tempat asalnya. Tk! Pria yang satu lagi pun mengangkat bentengnya dan memajukan posisinya tiga kotak. Pria yang pertama pun diam sejenak untuk berpikir. Setelah berpikir cukup lama, ia membuat kudanya memakan salah satu pion milik pria kedua serta berkata pada pria itu.
"Sejauh ini rencana kita memang berhasil, tapi apa kau yakin bocah itu bisa menangkap Minato?" Ucap Pria yang pertama itu. Pria kedua itu mengambil cangkir yang berisi kopi dan memberi satu tegukkan sebelum menjawab pertanyaan pria itu.
"Ya aku tidak bisa yakin sepenuhnya. Yang bisa kita lakukan saat ini hanyalah menunggu hasilnya. Aku akan pergi ke Iwatodai untuk empat atau lima hari, ada beberapa hal yang harus ku lakukan." Jawab pria kedua sambil menggerakkan salah satu pion caturnya ke depan.
"Ah tentu, kalau begitu aku akan terus memantau mereka di sini." Ucap pria pertama. Tk! Satu lagi pion, kali ini dari pihak berbeda, dimajukan.
Bip, bip, bip, bip! Dering handphone menggema di ruangan tempat mereka berada. Pria kedua segera mengambil handphonenya dari atas meja dan mengangkat panggilan dari siapa pun yang meneleponnya.
"Ya, ada apa?"
"Polisi?"
"Hmm, begitu. Terima kasih atas informasimu." Setelah mengatakan terima kasih, pria kedua itu menutup teleponnya. Pria itu pun berdiri dari kursinya dan mengambil serta mengenakan jas yang ia sangkutkan di kursinya.
"Apa yang terjadi?" Rasa penasarannya membuat pria pertama bertanya-tanya tentang apa yang dibicarakan oleh pria kedua ditelepon.
"Polisi sudah mulai bergerak, informan ku bilang mereka sedang melakukan pencarian terhadap orang dibalik penyerangan kediaman Shirogane." Jawab pria kedua sambil berjalan ke arah pintu. Cklk! Ia memutar gagang pintunya.
"Heh, Misanori Shirogane. Sepertinya dia tidak akan membiarkanmu lolos begitu saja." Kata pria pertama sambil mengambil dan meneguk kopi dari cangkir yang baru saja ia ambil dari atas meja.
"Kalau ia berpikir ia dapat menanggkapku dengan mudah, maka dia salah besar. Aku pikir aku akan pergi ke Iwatodai sekarang. Kalau sesuatu terjadi, segera beritahu aku." Pria kedua itu pun membuka pintunya dan keluar dari ruangan itu meninggalkan pria pertama di ruangan itu. Pria pertama itu meneguk kembali kopinya dan tersenyum.
"Heheh... semakin lama semakin menarik."
.
.
Minato menatap pria separuh baya itu dengan asistennya beserta dua orang bodyguardnya. Kakeknya sudah menemukan petunjuk mengenai pelaku penyerangan itu, ini akan memudahkan Minato dan teman-temannya untuk menemukan orang di balik P-1 Grand Prix. Atau ada kemungkinan juga kalau dua kejadian itu didalangi oleh satu orang yang sama. Mana pun pernyataan yang benar, petunjuk-petunuk ini akan sangat membantu, berapa banyak pun pelaku di balik dua kejadian itu.
"Begitu... lebih baik kau masuk dulu kakek. Teman-temanku datang berkunjung dari Iwatodai, dan kami juga sudah menyiapkan makan malam. Bagaimana kalau kau bergabung dengan kami?"
"Hmm... tentu, aku ingin sekali bertemu teman-temanmu." Ucap Sang Master Detektif itu. Ia pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah anaknya itu, mungkin lebih tepat disebut bekas rumah anaknya. Suasana hangat terasa oleh Sang Master Detektif itu. Ia, Yakushiji, dan dua orang bodyguardnya mengikuti Minato ke arah ruang makan untuk menyantap makan malam bersama. Saat mereka memasuki ruang makan, seluruh orang yang ada di ruang makan terheran-heran dengan siapa orang-orang yang dibawa oleh Minato. Ya, semua orang yang ada di ruang makan heran kecuali Naoto tentu saja.
"Kakek?" ucap Naoto. Ia pun berdiri dari kursinya dan membungkuk kepada kakeknya itu.
"Sudah lama sekali aku tidak kemari. Jadi, kalian teman-teman Minato dari Iwatodai, benar? Aku Misanori Shirogane, kakek dari Minato dan Naoto. Senang bertemu dengan kalian." Ucap Misanori ramah kepada mereka. Mitsuru berdiri dari kursinya dan, entah mengapa, yang lain pun ikut berdiri dari kursinya.
"Ya, Sir. Kami teman Minato dari Iwatodai. Aku Mitsuru Kirijo. Suatu kehormatan bisa bertemu denganmu." Ucap Mitsuru memperkenalkan dirinya sambil membungkuk menunjukkan rasa hormat kepada pria separuh baya itu. Yang lain pun mengikuti Mitsuru, memperkenalkan diri mereka dan memberi hormat pada Tuan Misanori Shirogane. Misanori melihat satu persatu wajah mereka, untungnya Labrys dan Aigis memakai pakaian yang dapat menutupi bagian mekanikal pada tubuh mereka dan benda mekanikal yang ada di atas kepala mereka sangat mirip dengan headphone, sehingga Misanori tidak curiga dengan mereka berdua. Ya walaupun Misanori merasa sedikit aneh, namun ia memutuskan untuk tidak berkata apa-apa soal itu.
"Silahkan duduk, Kakek." Ucap Minato.
"Tentu." Misanori pun duduk di salah satu kursi yang lainnya mengikuti. Untungnya meja makan itu sangat lebar dan cukup untuk menampung semua yang ada di rumah itu. Santapan malam sudah siap di atas meja. Malam ini mereka akan ditemani oleh berbagai makanan lezat dengan kari sebagai menu utamanya.
"Apa yang kalian tunggu, ayo makan." Ucap Misanori.
"Itadakimashu!"
Mereka pun menyantap makanan yang tersedia di depan mereka. Sensasi rasa masakan yang dibuat Minato memang sangat luar biasa. Ya tentu saja, Minato dapat melakukan semua ini berkat Senpainya yang sekarang telah meninggal. Yap, Shinjiro Aragaki. Minato sering melihatnya memasak bersama dengan Minako, adiknya. Ia bukan benar-benar adik kandungnya, tapi Minato sudah menganggapnya sebagai adiknya sendiri. Minako menemaninya selama sepuluh tahun setelah kecelakaan yang menimpa orang tuanya. Ia sangat menyayangi Minako sama seperti ia menyayangi Naoto. Cukup tentang Minako. Minato mempelajari bagaimana memasak masakan yang enak dengan melihat Shinjiro-senpai memasak. Ia sangat cerdas hingga bisa mempelajari sesuatu hanya dengan melihat.
"Hmm... masakan ini benar-benar enak, siapa yang memasaknya?" tanya Misanori di sela-sela kegiatan makan malam mereka.
"Onii-san yang membuatnya. Beberapa dari kami membantu, tapi Onii-san yang menambah bumbunya."
"Kau bisa memasak Minato?"
"Ah ya, aku mempelajarinya saat tinggal di asrama dua tahun lalu."
"Hahaha... begitu."
Misanori pun melanjutkan makannya. Semua terlihat menikmati masakan yang dibuat oleh Minato. Mulai dari aroma kari yang sangat menggugah selera, penampilannya yang membuat lapar, dan rasanya yang sangat memanjakan lidah (#Author jadi laper). Semua mereka nikmati. Setelah semua selesai makan, Misanori berkata kepada mereka.
"Kedatanganku ke sini sebenarnya adalah untuk memberi tahu Minato dan Naoto tentang petunjuk yang kutemukan tentang pelaku dibalik penyerangan kediaman Shirogane." Semua terdiam, tidak berkata apa pun dan menunggu Sang Master Detektif melanjutkan perkataannya.
"Aku tau kalian sedang menyelidiki hal lain yang cukup berbahaya, walaupun aku tidak tau pasti apa yang kalian selidiki. Tapi satu yang kutahu, apa yang kalian selidiki berhubungan dengan Persona dan Shadow, benar?"
Jackpot! Semua terkejut mendengar perkatan Misanori. Apa yang ditakutkan oleh Naoto benar-benar terjadi dan Minato sepertinya harus menyiapkan banyak penjelasan kepada kakeknya nanti.
"Ahh, jadi perkataanku memang benar. Hmm... kalian semua pasti bertanya-tanya kenapa aku bisa mengetahuinya, bukan? Well, temanku yang memberitahuku, ia dari kepolisian. Kalian tahu, Detektif Kurosawa. Kami berdua adalah sehabat baik. Karena dia juga aku bisa menemukan keberadaanmu dua tahun lalu di Iwatodai Minato-kun."
"Detektif Kurosawa memberitahumu!?" ucap Akihiko.
"Tidak semua, sebagian tentang Shadow dan Persona itu kudapatkan dari Minato. Bahkan Minato pernah memanggil Personanya di depanku. Bukankah begitu Minato?" semua pun melihat ke arah minato seakan-akan menanti penjelasan mengapa ia memanggil Persona di depan kakeknya.
"A-ah... ya, maaf teman-teman. Tapi saat penyerangan kediaman Shirogane terjadi, kami benar-benar terpojok. Jadi aku terpaksa menggunakannya." Ucap Minato dengan nada meminta maaf. Sekarang ia merasa bersalah terhadap teman-temannya.
"Minato-kun saat itu memanggil Personanya untuk melindungku dari tembakan peluru salah satu dari penyusup itu. Aku tidak mengetahui banyak soal Persona dan Shadow. Informasi yang kudapat dari Kurosawa hanya mengenai usaha kalian bertarung untuk memusnahkan Shadow dua tahun lalu. Kurosawa bilang kau lah yang memimpin tim ini dua tahun lalu Nona Kirijo. Kalau boleh, aku ingin mengetahui tentang hal ini, sebelum aku menyebutkan mengenai petunjuk yang kutemukan mengenai pelaku penyerangan itu. Ada kemungkinan penyerangan ini memiliki hubungan dengan apa yang terjadi dua tahun lalu."
Minato memandang ke arah Mitsuru. Mitsuru terdiam dan menutup matanya, terlihat sedang berpikir. Lalu ia kembali membuka matanya dan berkata.
"Kau sudah mengetahui cukup banyak, kupikir tidak ada yang perlu disembunyikan darimu. Aku akan memberitahumu semua tentang apa yang kami lakukan dua tahun lalu." Mitsuru diam sejenak dan begitu pula Sang Master Detektif, menunggu jawaban dari wanita muda itu. Mitsuru pun menceritakan semua tentang apa yang mereka lakukan dua tahun lalu tentang pertarungan mereka, operasi mereka setiap bulan purnama, bagaimana jumlah mereka bertambah, bahkan tentang penghianatan Ikutsuki, dan tidak lupa yang paling penting dari semua itu tentang The Fall dan pertarungan mereka dengan Nyx. Mitsuru menjelaskannya dengan sangat jelas. Minato juga ikut menambahkan dan menceritakan penyebab ia meninggal dua tahun lalu. Naoto banyak mendengar hal-hal baru yang belum diceritakan oleh Minato kepadanya.
"Begitu... jadi itu penyebab kematianmu."
"Umm, aku tahu semua itu terdengar seperti karangan belaka, tapi... itu lah kenyataannya." Ucap Minato.
"Nah, aku percaya semua itu. Lagi pula banyak hal dunia ini yang tidak bisa dijelaskan oleh logika. Detektif yang hebat adalah seorang detektif yang dapat memikirkan semua kemungkinan bahkan kemungkinan yang terdengar sangat mustahil. Adikmu Naoto sudah melalui masa itu saat dia mengatasi kasus pembunuhan berantai di Inaba, benar kan Naoto? Bagaimana kalau kau menceritakan tentang kasus yang kau tangani itu?"
Naoto mengangguk dan menjelaskan apa yang ia alami selama mengatasi kasus pembunuhan berantai di Inaba satu tahun yang lalu. Setelah menceritakan semuanya, mulai dari usahanya dan kecurigaannya pada Yu saat itu, juga tentang rencananya untuk diliput oleh stasiun televisi hanya untuk menguji teorinya, hingga ia bergabung dengan Investigation Team.
"Saat itu aku mau tidak mau mempercayai hal-hal yang tidak masuk akal saat mengatasi kasus itu."
"Membiarkanmu dirimu untuk diculik... itu benar-benar gerakan yang berbahaya." Ucap Labrys.
"Man, siapa pun yang menculikmu, dia memiliki nyali yang besar untuk menculik seorang detektif dari keluarga Shirogane." Ucap Junpei sambil melihat ke arah Naoto.
"Baiklah aku berterima kasih atas informasi yang kau berikan Nona Kirijo. Sekarang petunjuk yang hilang sudah kutemukan, ini akan lebih memudahkan kita untuk menemukan siapa yang menyerang kediaman Shirogane." Misanori diam sejenak. Semuanya menunggu ia kembali bicara dan ia pun kembali berbicara.
"Aku tidak menemukan banyak petunjuk mengenai siapa pelakunya. Tapi aku menemukan cukup petunjuk setidaknya untuk menemukan dimana dan bagaimana kita bisa menemukan orang ini. Dari penjelasan para penyerang, mereka bilang mereka disewa di Iwatodai. Itu artinya ada kemungkinan kita bisa menemukannya di Iwatodai. Kediaman Shirogane ada di Tokyo dan aku sangat yakin dia tidak mungkin masih berada di Tokyo sekarang. Karena yang ia incar adalah Minato, kemungkinan besar ia bisa ada di Inaba." Misanori berhenti sejenak sebelum ia berkata kembali.
"Sang pelaku mengetahui nama Arisato sebagai nama belakang yang dipakai Minato saat dua tahun lalu. Ia juga sepertinya mengetahui kembalinya Minato. Dari kedua hal ini, dapat disimpulkan kalau sang pelaku terlibat dengan aktivitas SEES dua tahun lalu baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, Nona Kirijo, aku meminta kerja samamu agar kasus ini dapat terselesaikan."
"Ya, tentu saja. Aku akan menolong sebisa mungkin, aku akan mengirimkan berkas-berkas mengenai orang yang terlibat dalam aktivitas SEES dua tahun lalu." Ucap Mitsuru.
"Terima kasih, Nona Kirijo. Tapi, aku tidak mengetahui banyak tentang Persona atau pun Shadow, dan aku juga tidak terlibat dengan aktivitas kalian dua tahun lalu. Jadi aku ingin menyerahkan kasus ini... padamu Minato. Ini akan menjadi latihan yang bagus untukmu menjadi seorang detektif." Ucap Misanori, ia menatap kepada Minato dengan penuh harapan ia akan mengambil alih kasus ini. Minato menutup matanya sejenak dan lalu membukanya kembali dan membalas tatapan kakeknya dengan wajah yang merasa bersalah.
"Maaf kakek. Tapi aku pikir lebih baik kalau kau memberikannya pada Naoto."
"Hmm? Aku pikir kau harus mengambil alih kasus ini Minato-nii. Kalau kau bisa menyelesaikan kasus ini maka kau juga akan mendapatkan cukup kepercayaan dari polisi saat kau kembali menjadi detektif. Kau bisa melakukannya." Ucap Naoto. Minato menghela nafasnya lalu kembali berkata.
"Bukan itu masalahnya, aku... maaf tapi aku tidak mau menjadi detektif."
Semua terkejut dengan pernyataan Minato itu. Terutama Misanori dan Yakushiji. Minato yakin kakeknya akan memarahinya karena pernyataannya itu. Naoto lalu bertanya pada Minato.
"Kenapa? Dengan kemampuanmu... kau―" sebelum Naoto dapat menyelesaikan perkataannya. Misanori memotong ucapannya.
"Begitu rupanya. Aku tidak akan memaksamu. Aku akan memberikan kasus ini pada Naoto kalau begitu, dan kalau kau berubah pikiran kau bisa bicara pada Naoto." Ucap Misanori dengan nada kecewa sambil memberikan berkas-berkas yang ia bawa kepada Naoto. Naoto ragu, tapi ia mengambil berkas-berkas itu dari tangan kakeknya. Naoto tidak tega melihat kakeknya seperti itu.
"Aku minta maaf, Kakek." Ucap Minato. Ia memalingkan wajahnya untuk menghindari tatapan kecewa yang diberikan oleh kakeknya dan Yakushiji. Keheningan menyelimuti mereka sampai akhirnya Misanori dan asisten serta bodyguardnya berdiri. Lalu ia berkata.
"Urusanku di sini sudah selesai. Aku akan kembali ke Tokyo. Dan kalian berhati-hatilah. Oya, soal apa yang kalian selidiki saat ini... aku ingin kau tahu Nona Kirijo, kalau kau membutuhkan bantuan maka Keluarga Shirogane akan dengan senang hati menolongmu."
"Tentu, Tuan Shirogane. Terima kasih atas tawaranmu."
"Bukan masalah. Kalau begitu aku pergi, jaga adikmu Minato."
Misanori dan ketiga orang yang bersamanya pun berjalan keluar rumah dengan diantarkan oleh Naoto. Minato masih terduduk di atas kursinya dengan wajah yang tertunduk. Tak lama Naoto pun kembali. Naoto pun mengambil berkas-berkas yang ada di atas meja dan berkata pada Minato.
"Aku akan kembali ke kamarku untuk melihat berkas-berkas ini. Kalau kau berubah pikiran, kau bisa langsung bicara padaku Minato-nii." Setelah berkata hal itu Naoto langsung berjalan ke atas tangga menuju ruangannya. Junpei pun berbicara sesaat ia yakin kalau Naoto tidak dalam berada jarak untuk mendengar perkataannya.
"Dude, kenapa kau menolak tawaran itu? Maksudku, kenapa kau tidak mau menjadi detektif. Ku dengar kau adalah cucu laki-laki tertua dari Misanori Shirogane." tanya Junpei tidak percaya sahabat baiknya ini memutuskan hal seperti itu.
"Ya kenapa kau menolaknya? Maaf aku tahu ini bukan urusanku tapi Kakekmu terlihat... kecewa dengan perkataanmu." Tanya Labrys.
"*Sigh* sebenarnya aku tidak ada masalah dengan menjadi detektif. Dulu saat aku kecil aku sering menemani ayahku dan membantunya menyelesaikan cukup banyak kasus. Aku sangat menikmatinya saat itu. Naoto pun semakin lama tumbuh semakin besar. Aku mengajarkan apa yang diajarkan oleh ayahku padanya, ia begitu tertarik untuk menjadi seorang detektif."
Flashback
Cklk! Minato memutar gagang pintu itu dan membuka pintu ruangan itu. Naoto yang mengetahui bahwa kakaknya telah kembali langsung menghampirinya dan memeluk kakaknya itu. Minato tersenyum sambil mengusap-usap kepala adiknya itu.
"Onii-san! Onii-san! Ceritakan padaku tentang kasus terakhir yang kau tangani bersama ayah!" ucap Naoto setelah melepaskan pelukkannya. Ia menarik-narik tangan Minato, pertanda tak sabar untuk mendengar ceritanya.
"Hahaha... iya, iya. Ayo kita duduk dulu." Ucap Minato sambil menggandeng tangan adik kecilnya itu, menentengnya ke arah sofa. Mereka berdua pun duduk di atas sofa itu. Minato menceritakan kasus terakhir yang ia bantu ayahnya selesaikan. Naoto mendengarkan ceritanya dengan sangat antusias.
"Jadi pelaku yang membunuh orang itu adalah pelayannya sendiri?"
"Ya, ia membunuh tuannya karena kesal dengan sikap tuannya yang kasar terhadapnya."
"Wah... kakak dan ayah memang sangat hebat." Puji Naoto. Ini bukan pertama kalinya Naoto memujinya seperti itu. Minato pun tertawa kecil begitu juga dengan Naoto. Setelah mereka selesai tertawa Minato bertanya pada Naoto.
"Kau ingin menjadi detektif Naoto?" Naoto lalu melihat ke arah Minato dengan wajah yang bingung. Naoto pun menjawab pertanyaan kakaknya itu sambil menunjukkan senyum polos seroang anak kecil.
"Hm! Tentu saja. Aku ingin menjadi detektif hebat seperti kakek dan ayah."
"Hahaha... aku yakin kau akan menjadi detektif hebat suatu saat nanti." Ucap Minato kepada adiknya itu.
"Kau pikir begitu? Tapi ayah tidak pernah mengajakku untuk membantunya menyelesaikan kasus seperti ia mengajakmu. Dan ayah juga tidak pernah mengajariku langsung seperti ia mengajarimu." Ucap naoto sambil menundukkan wajahnya. Minato dapat melihat rasa sedih yang terpampang di wajah adiknya itu. Ia pun memeluk adiknya dan mengatakan sesuatu untuk membuat senyuman kembali ke wajah adiknya itu.
"Jangan khawatir. Suatu saat ayah pasti akan membawamu bersamanya." Ucap Minato kepada Naoto.
"Kapan?" tanya Naoto.
"Saat kau sudah cukup besar untuk ikut bersamanya." Ucap Minato sambil melepaskan pelukkannya. Naoto pun tersenyum dan berkata pada Minato.
"Kalau begitu aku akan makan yang banyak biar aku cepat besar seperti Minato-nii!" ucap Naoto. Minato hanya bisa tertawa dengan perkataan adiknya itu.
.
.
"Kau bilang apa!?" suara yang penuh dengan amarah itu membuat gadis kecil itu takut. Ia hanya bisa melihat dari luar, dibalik pintu yang sedikit terbuka.
"Aku bilang aku tidak mau menjadi detektif." Ucap Minato. Kali ini pria yang tidak lain adalah ayahnya itu terlihat sangat marah.
"Apa maksudmu Minato? Kau adalah anak pertama dan anak laki-laki satu-satunya yang aku miliki. Dan tentu saja kau akan menjadi detektif sesuai dengan tradisi keluarga Shirogane!"
"Aku sudah bilang aku tidak mau menjadi detektif! Kalau ayah menginginkan seseorang untuk meneruskan tradisi keluarga Shirogane, maka ayah bisa memilih Naoto untuk itu. Aku tidak akan ikut ke Port Island besok!" ucap Minato. Kali ini pria itu tidak dapat menahan amarahnya. Ia pun mengangkat tangannya seakan ingin memukul Minato. Minato menutup matanya menunggu pukulan itu mengenai tubuh kecilnya. Tapi tidak terjadi apa-apa. Ternyata ibunya telah menghentikan ayahnya.
"Cukup! Kau tidak boleh melakukan itu padanya!" ucap ibunya sambil mengeluarkan air mata, menangis. Ayahnya pun menurunkan tangannya, dan berkata kepada Minato.
"Aku tidak mau tahu, kau akan tetap ikut bersama kami ke Port Island besok. Aku berharap banyak darimu Minato."
Ayah Minato pun pergi bersama dengan Ibunya. Mereka berdua membuka pintu dan keluar melewati Naoto yang terlihat ketakutan. Minato menoleh ke arah pintu terkejut melihat Naoto berdiri di sana.
"Naoto!?" ucap Minato terkejut. Naoto memasuki ruangan dengan perlahan. Minato dapat melihat kalau tubuhnya masih bergetar karena takut.
"Umm... Onii-san, apa benar kau tidak mau menjadi detektif?"
"Ya, aku tidak mau menjadi detektif." Ucap Minato dengan nada dan wajah setenang mungkin, ia tidak mau membuat adik kecilnya tambah khawatir.
"Kenapa?" tanya Naoto. Minato agak bingung untuk menjawab pertanyaan Naoto yang satu ini, tapi ia akhirnya bisa menemukan jawaban untuk menjawab pertanyaannya.
"Karena, aku ingin menjadi sesuatu yang lain." Ucap Minato.
"Seperti apa?" tanya Naoto lagi. Minato terdiam sejenak, memikirkan jawaban lain dan ia pun menjawab pertanyaan adiknya sesaat ia menemukan jawabannya.
"Seorang pembisnis mungkin atau pun seorang musisi. Aku suka bermain musik. Aku ingin menjadi apapun yang aku suka, dan detektif bukanlah salah satunya."
"Kau tidak suka dengan hal-hal yang berhubungan dengan detektif?" tanya Naoto dengan wajah yang sedih. Minato langsung memberikan jawaban lain untuk menyangkal pernyataan adiknya itu.
"Bukan begitu, maksudnya Onii-san suka hal-hal yang berhubungan dengan detektif. Tapi ada beberapa hal yang lebih Onii-san suka dari itu. Kau mengerti?" Naoto mengangguk kecil sebagai jawabannya.
"Aku tidak mau menjadi detektif karena ku pikir aku tidak cocok untuk menjadi detektif, aku pikir kau lebih cocok untuk menjadi detektif dari padaku Naoto." Ucap Minato pada adiknya.
"Menurutku Minato-nii cocok menjadi detektif."
"Hahaha... tidak, kau lebih cocok daripada aku. Suatu saat kau akan menjadi detektif yang hebat, percayalah padaku. Sekarang bagaimana kalau kita bermain sebelum Onii-san pergi ke Port Island bersama ayah dan ibu, besok?" tanya Minato. Naoto pun tersenyum dan mengangguk. Minato pun menggendong Naoto dipunggungnya dan membawanya bermain ke taman.
End of Flashback
"Jadi itu alasannya. Kau benar-benar kakak yang perhatian Minato-san." Ucap Aigis.
"Aku tidak percaya kau berkata seperti itu pada ayahmu untuk mewujudkan cit-cita adikmu." Ucap Yukari.
"Ya, Naoto benar-benar ingin menjadi seorang detektif saat itu. Aku tidak mau menjadi penghalang dirinya untuk mencapai cita-citanya." Ucap Minato.
"Mungkin kau harus memberitahu alasanmu pada Kakekmu, nanti saat kau punya kesempatan." Ucap Akihiko.
"Kau benar Senpai," ucap Minato setuju.
"Oh ya Mitsuru, aku dengar kau akan kembali ke Iwatodai?" tanya Minato.
"Aku mengundurnya, Minako bilang ia akan kembali dan sampai di Jepang hari Minggu nanti. Aku akan kembali ke Iwatodai hari Sabtu dan kembali kemari hari Minggu malam." Ucap Mitsuru.
"Kalau begitu aku ikut denganmu, aku juga ingin menjemputnya dari bandara." Ucap Minato.
"Aku juga ikut, aku ingin ikut menjemputnya juga." Ucap Aigis.
"Jangan lupa aku juga ikut denganmu Mitsuru." Ucap Akihiko.
"Baiklah, baiklah. Aku pikir kita semua bisa menjemputnya di bandara."
"Ide yang bagus Senpai!" Ucap Junpei.
"Oh ya Minato, bisakah kau mengumpulkan anggota Investigation Team besok? Ada hal yang ingin kutunjukkan pada mereka."
"Tentu, aku akan membawa mereka ke sini setelah pulang sekolah kalau begitu. Oya, aku hampir lupa. Haru akan bergabung dan membantu kita mulai esok." Ucap Minato.
"Apa? Tapi, apa tidak apa-apa?" tanya Yukari.
"Dia yang memintanya. Ada apa?" tanya Minato.
"Hei kau bilang saat itu ia ditolong oleh orang yang bernama Sho itukan? Bukankah itu agak mencurigakan?" tanya Fuuka.
"Ya aku tahu, jangan khawatir. Kalau ia melakukan gerak-gerik aneh kita akan dengan mudah mengetahuinya. Ah, aku ingin kembali ke kamarku. Sebaiknya kalian juga kembali dan beristirahat. Night." Ucap Minato.
"Yo Night." Balas Junpei kepada sahabat berambut birunya itu.
Minato pun berjalan ke arah tangga, menuju ruangannya. Yang lain juga masuk ke ruangan mereka masing-masing, semua kecuali satu orang. Mitsuru tidak kembali ke ruangannya. Ia pergi ke arah ruangan Minato dan memanggil Minato sebelum ia masuk ke dalam kamarnya.
"Minato." Panggil Mitsuru.
"Hm? Mitsuru? Kau belum kembali ke ruanganmu?"
"Ada yang ingin kubicarakan denganmu sebelum aku kembali ke ruanganku. Kau tidak masalah kalau aku bicara denganmu sebentar?" tanya Mitsuru. Ia beharap Minato mau berbicara dengannya, walau hanya sebentar. Minato pun berpikir sejenak lalu membuka pintu kamarnya dan berkata.
"Tentu, kalau begitu kita bicarakan ini di dalam ruanganku. Ayo masuk." Ajak Minato.
"A-ah y-ya." Mitsuru pun menuruti kata Minato dan masuk ke dalam ruangan Minato. Minato menutup pintu kamarnya sesaat Mitsuru dan dirinya berada di dalam. Minato menghampiri dan duduk di sofa yang ada di ruangannya. Ia pun menepuk tempat duduk di sebelahnya, mengisyaratkan Mitsuru untuk duduk di sebelahnya. Mitsuru pun mengikuti apa yang diisyaratkan Minato dan duduk di sebelahnya. Minato menunggu Mitsuru berbicara, tapi Mitsuru tidak bicara setelah lama. Keheningan menyelimuti mereka, akhirnya Minato pun memutuskan untuk berbicara.
"Kenapa kau diam? Aku pikir kau ingin membicarakan sesuatu denganku. Tunggu... jangan katakan kalau itu hanya alasan yang kau buat untuk bisa bersamaku." Goda Minato kepada Mitsuru. Minato menunjukkan seringai jahilnya saat ia mengatakan itu pada Mitsuru. Pipi Mitsuru memerah seketika. Mitsuru pun berusaha menyangkal apa yang dikatakan Minato.
"Ti-tidak, a-aku..." Minato pun tertawa kecil melihat reaksi Mitsuru dan lalu berkata.
"Hahaha... semakin kau menyangkal, aku semakin yakin kalau penyataanku itu tadi benar."
Wajah Mitsuru semakin memerah. Mitsuru pun menghela nafasnya.
"Berhenti, menggodaku Minato." Ucap Mitsuru pada kekasihnya itu.
"Okay... okay... aku akan berhenti menggodamu. Haha... kau harus tau, kau lucu saat wajahmu memerah."
Blush! Wajah Mitsuru memerah ke tingkat ultra super duper ultimax greatest maximum (?). Minato hanya bisa tertawa kecil.
"*Sigh* kau tidak berubah sama sekali, Minato."
"Hmm... memangnya kenapa? Kau ingin aku berubah?" tanya Minato sambil tersenyum jahil.
"Tentu saja tidak, aku suka kau yang err... lupakan..."
"Hahaha...! Kau tahu aku senang kau baik-baik saja. Kau orang yang terakhir kali sadar. Kau benar-benar membuatku khawatir."
"Maaf sudah mengkhawatirkanmu, dan terima kasih untuk sup yang tadi pagi."
"Bukan masalah, my Empress. Ngomong-ngomong apa yang ingin kau bicarakan tadi?"
"Ah ya, Iori mengusulkan kalau kita memanggil Ken untuk membantu. Aku ingin tahu pendapatmu."
"Pendapatku? Hmm... kenapa tidak? Dia bagian dari kita, bukan? Kalau ia ingin membantu, maka kau harus membiarkannya membantu."
"Kau yakin? Aku tidak ingin membebaninya..."
"Nah, aku yakin ia akan senang bisa berkumpul dengan kita semua."
"Hmm... baiklah, aku akan coba bertanya padanya. Soal pelaku yang menyerang kediaman Shirogane, aku punya dugaan kuat kalau ia memiliki hubungan dengan Kirijo Group. Banyak hal yang tidak ku ketahui dari sisi gelap kirijo Group. Aku harap ini bukanlah awal dari suatu yang besar." Ucap Mitsuru seraya menatap ke arah lantai. Minato pun memegang bahunya.
"Jangan khawatir semua akan baik-baik saja." Ucap Minato. Kata-katanya terdengar sangat menenangkan.
"*Chuckle* kau benar, aku terlalu khawatir. Aku pikir kita hanya perlu waspada."
"Yup, ngomong-ngomong sekarang sudah larut. Sebaiknya kau istirahat,"
"Baiklah, aku akan kembali ke ruanganku kalau begitu. Malam, Minato."
"Malam, my Empress." Ucap Minato sambil memberi Mitsuru sebuah kecupan di keningnya. Mitsuru pun keluar dari ruangan Minato dengan wajah tersenyum.
Minato pun memutuskan untuk pergi berbaring di atas tempat tidurnya dan mengistirahatkan dirinya. Sementara Minato sudah tidur terlelap, Naoto masih terduduk di depan meja belajarnya, masih membaca berkas-berkas yang diberikan oleh kakeknya.
"Hmm... aku akan membutuhkan berkas-berkas dari Mitsuru-san untuk mempelajari ini lebih lanjut. Aku akan memintanya nanti. Atau mungkin aku akan memintanya lewat Minato-nii..." Naoto terdiam sejenak. Lalu ia menghela nafasnya.
"Apa yang dipikirkan Minato-nii mengatakan kalau ia tidak mau menjadi detektif...? Dulu ia terlihat menikmatinya."
"..."
"Heh, tentu saja. Penyebabnya adalah aku. Onii-san pikir kalau ia menjadi detektif, maka ia akan menjadi penghalang bagiku untuk menjadi detektif juga. Aku harus bicara soal ini padanya besok." Naoto pun merapikan kembali berkas-berkas yang berserakan di mejanya. Setelah tersusun rapi ia memasukkan berkas-berkas itu ke dalam laci mejanya. Ia pun berdiri dari kursinya dan tidur di atas tempat tidurnya.
.
.
|11 Mei 2012|
Sore hari, anggota Investigation Team plus haru berkumpul di rumah Minato dan Naoto. Mereka saling memandang satu sama lain, bertanya-tanya kenapa Mitsuru memanggil mereka kemari.
"Jadi... ada apa?" tanya Yu.
"Aku dengar kalian tidak bisa memanggil Persona kalian di dunia nyata, benar?" ucap Mitsuru.
"Ya, itu benar." Ucap Yosuke.
"Aku ingin memberi kalian ini." Ucap Mitsuru sambil membuka sebuah koper dengan 8 benda yang terlihat seperti sebuah pistol.
"*Gasp* i-itu!?" ucap Rise terkejut.
"Hahaha... sudah kuduga kalian akan memberi reaksi seperti itu. Jangan khawatir, ini bukanlah pistol." Ucap Junpei.
"Evoker... benar?" ucap Naoto.
"Ya benar, ini adalah evoker. Dengan evoker ini kalian bisa memanggil Persona kalian di dunia nyata." Ucap Minato.
"Wow, keren!" ucap Kanji.
Mitsuru pun membagikan evoker yang ada kepada masing-masing anggota Investigation Team. Evoker berwarna silver sama seperti evoker milik anggota SEES. Evoker itu di desain khusus dengan tulisan huruf IT yang merupakan kependekan dari Investigation Team.
"Jadi bagaimana cara menggunakannya?" tanya Chie. Junpei dan Minato pun memberikan senyuman kecil kepada mereka.
"Sebelumnya, sebaiknya kita mencoba ini di basement. Aku tidak ingin membuat rumah menjadi berantakkan." Ucap Minato. Minato pun berjalan. Ia membuka pintu yang mengarah pada basement rumahnya. Minato menuruni tangga, diikuti dengan yang lain. Ruangan basement itu sangat gelap tanpa penerangan. Naoto pun menyalakan lampu-lampu untuk menerangi ruangan itu. Basement itu sangat kosong, tidak ada apa-apa di sana.
"Biarkan aku yang menunjukkannya." Ucap Minato sambil mengeluarkan evoker dari dalam jas sekolahnya.
"Aww... aku ingin menunjukkannya juga kau tahu." Ucap Junpei.
"Heh, kau terlambat. Baiklah, perhatikan baik-baik." Minato pun mengarahkan evokernya ke arah kepalanya.
"Umm... apa yang kau lakukan Minato-san?" tanya Haru. Minato pun tersenyum. Ia menarik pelatuk dari evokernya dan lalu, PRANK! Aura biru mengelilingi Minato dan Thanatos pun muncul di belakangnya.
"Beginilah cara melakukannya." Ucap Minato.
"K-kau bercandakan?" tanya Yosuke.
"Tidak, ia tidak bercanda. Untuk memanggil Personamu kau harus menembakkan evoker itu ke kepalamu." Ucap Akihiko.
"Tapi... itu sangat aneh untuk mengarahkan sesuatu yang berbentuk seperti pistol dan menembakkannya ke kepalamu." Ucap Rise
"Ya, aku tahu. Awalnya aku juga ragu untuk melakukannya," ucap Yukari.
"Well, Yu! Bagaimana kalau kau yang pertama mencobanya?" ucap Minato.
"Huh? Aku?"
"Ya kau."
"Umm..." sepertinya Yu juga agak ragu melakukannya. Yu terdiam cukup lama, hingga tiba-tiba saja Thanatos melayangkan pukulannya ke arah Yu. Pukulan itu sudah pasti mengenainya kalau ia tidak menghindar.
"M-minato-san?"
A/N: YEAAAHH! DONE! chapter 10 lagi in progress tinggal setengah lagi lah bisa dibilang. Minako juga muncul di chappie 10 bersama dengan beberapa kawan lama Minato! dan soal cerita yang ini semoga rame:D author bingung entar minako wildcard atau bukan yah._. dari kemaren-kemaren bingung nih haha. okay R&R, please?
