BAKTERI CINTA KONOHA

Agresi Dimulai! – Bagian 1 –

Kriiing Kriing Kriing…

Jam beker di atas meja kecil disamping ranjang milik laki-laki dewasa berambut perak menjerit-jerit memekakkan telinga meminta perhatian. Namun ternyata pemiliknya lebih memilih untuk menggeliat guna merapatkan selimutnya berharap dapat mengurangi suara bising yang tiba-tiba di dengarnya.

Plug.

Seorang wanita dewasa bersurai hitam gelap panjang menekan sebuah tombol merah di bagian paling atas dari jam beker, menghentikan jeritan jam beker yang semakin menjadi itu.

"Kakashi-kun ayo bangun!" Hatake Shizune mengguncang-guncang tubuh atletis yang masih asyik bersembunyi di balik selimut.

"Hmmm…" Gumam Kakashi.

Shizune mendesahkan nafas pelan. Tahu bahwa laki-laki dewasa berambut perak yang baru 1 bulan lalu menjadi suaminya itu baru tidur menjelang pagi hari, membuat Shizune tak ingin memaksa Kakashi membuka mata sayunya.

"Sudah jam 6." Kata Shizune. Tak ada tanggapan dari Kakashi.

"Aku akan membangunkanmu 15 menit lagi, Kakashi-kun." Shizune beranjak pergi.

.

.

Kakashi menyibak selimutnya kasar. Direnggangkan tubuh lelahnya sejenak sebelum bangun dan duduk untuk mengembalikan kesadarannya selama beberapa saat. Kakashi melirik jam beker di samping tempat tidurnya.

'Jam 6.30?' Kakashi menguap lebar tak peduli. Toh sudah menjadi kebiasaannya telat bahkan setelah menjabat sebagai Hokage. Lagipula pasti di kantor Hokage sudah ada Shikamaru. Keputusannya mengangkat Nara Shikamaru sebagai asisten Hokage terbukti sangat tepat.

Sebelum beranjak keluar kamar dan mencari istrinya, Kakashi merapikan tempat tidurnya terlebih dulu. Dia dan Shizune memang sudah membuat perjanjian siapa yang bangun paling belakang adalah yang mendapat tugas untuk merapikan tempat tidur. Walau kebanyakan Shizune yang mengalah karena kesibukan Kakashi.

"Hooaaam…" Kakashi kembali menguap lebar. Mata sayunya berkeliling mencari sosok Shizune tapi tak bisa ditemukannya di seluruh ruang dapur.

"Kemana dia?" Tanya Kakashi pada udara.

Ting Tong. Ting Tong. Ting Tong.

"Ya." Kakashi mengeraskan suaranya.

Tanpa banyak membuang waktu, Kakashi segera menghampiri pintu masuk rumahnya untuk mencari tahu siapa orang yang sudah nekad bertamu sepagi ini. Tapi sebelumnya tak lupa Kakashi memasang masker wajah yang disembunyikan di kantong celananya.

"Ohayou, Kakashi Sensei," Sapa Ino dengan senyuman manis.

"Ah, kau Ino." Kakashi balas tersenyum di balik maskernya.

"Ohayou. Ada perlu apa kalian berdua sepagi ini?" Tanya Kakashi tanpa basa-basi pada Ino dan Tenten.

"Ah, aku ingin mengambil obat yang dibuat oleh Shizune senpai." Jawab Ino.

"Apa Shizune-san ada?" Tanya Tenten tak sabar.

"Hmm, aku juga tidak melihatnya." Jawaban Kakashi membuat Ino dan Tenten mendesah kecewa.

"…." Kakashi menatap wajah-wajah kecewa dua gadis muda di depannya.

"Tapi sepertinya aku tahu obat yang kalian maksud." Kata Kakashi kemudian.

"Hontou?!" Tanya Ino dan Tenten setengah berteriak membuat Kakashi berjingkat kaget dengan semangat muda mereka yang sudah seperti Gai saja.

"Hei! Tak bisakah kalian mengurangi sedikit semangat masa muda kalian?" Protes Kakashi. Ino dan Tenten hanya nyengir tak berdosa.

"Ini obat kalian." Kakashi memberikan sebuah botol kecil yang terisi serbuk putih hampir setengahnya.

"Cepat bawa dan pergilah. Tak baik kalian bertamu terlalu pagi." Nasehat sang Rokudaime.

"Demo Hokage-sama, ini sudah hampir jam 7." Interupsi Tenten.

"Sudah-sudah." Ino menarik sedikit lengan Tenten, memaksa gadis bercepol dua itu untuk mundur dan bersembunyi di belakangnya.

"Baiklah Kakashi-sensei, kami pamit dulu." Ino sedikit menundukkan kepala, begitu juga dengan Tenten.

"Ya. Hati-hati di jalan." Jawab Kakashi dengan senyuman.

"Siapa?" Tanya Shizune yang sudah berada di belakang Kakashi saat suaminya itu menutup pintu rumahnya kembali.

"Ino dan Tenten mencarimu."

"Ada perlu apa?" Tanya Shizune bingung.

"Mereka membutuhkan obat dan aku sudah memberikannya pada mereka." Jawab Kakashi. Shizune menatap Kakashi dalam diam seperti bingung akan suatu hal.

"Jangan pedulikan mereka." Kakashi memecah lamunan Shizune.

"Kau dari mana?" Tanya Kakashi kemudian.

"Aku dari kamar mandi, Kakashi-kun." Jawab Shizune.

Kakashi mengajak Shizune untuk beranjak dari depan pintu masuk rumah mereka menuju dapur kembali. Kakashi sangat lapar sekarang.

"Aku punya berita menggembirakan untukmu." Shizune membuat sebuah cengiran lebar dan mengedipkan sebelah matanya.

"Hn? Apa?" Kakashi menundukkan kepala menata mata kelam Shizune.

"Nanti saja jika aku sudah benar-benar yakin," Shizune menjulurkan lidahnya mengejek.

"Untuk saat ini masih rahasia. Kau pasti sangat terkejut," Shizune tertawa senang melihat wajah penasaran Kakashi. Shizune memang ingin sedikit bermanja dengan suaminya.

"Heee…, kau berani bermain rahasia dengan Rokudaime?" Kakashi melompat tepat di depan Shizune untuk menghalangi langkah Shizune yang mendahului Kakashi sebelum sampai di ruang dapur.

"Kau harus membayarnya dengan sebuah ciuman selamat pagi, Hatake Shizune!" Perintah Kakashi.

"Hihihi," Shizune tertawa geli.

"Baiklah, Tuan Hatake." Shizune memelorotkan masker wajah Kakashi. Menatap sejenak mata Kakashi yang tanpa saringan lagi. Mengukir sebuah senyuman bahagia di wajah cantiknya, Shizune mulai menyusupkan tangannya di pinggang Kakashi. Sedikit demi sedikit memperpendek jarak antara keduanya.

"Aishiteru, Kakashi-kun." Sepasang suami istri baru ini hampir saja berciuman bermandikan hangatnya cahaya mentari pagi yang merangsek masuk melalui jendela ke dalam ruang tamu tempat mereka berhenti jika saja Kakashi tidak mengingat sesuatu.

"Sial! Aku lupa Shikamaru sedang sakit!" Kakashi dengan tega meninggalkan Shizune yang masih memonyongkan bibirnya.

"HATAKE KAKASHI!" Shizune berteriak kesal.

oOo oOo oOo

"Daah Ino, sampai jumpa besok." Tenten melambaikan tangannya sebentar sebelum melompat pergi. Hari ini tim Gai mendapatkan misi selama 1 hari di daerah perbatasan. Ino membalas lambaian tangan Tenten dengan senyum yang terpasang di wajahnya.

"Baiklah sekarang tugasku untuk memberikan ini pada Hinata." Ino mulai berjalan santai menuju rumah Hinata. Hari masih pagi. Masih kurang 6 jam lagi agresi mereka siap dilancarkan.

Sepanjang perjalanan Ino berkali-kali mampir ke beberapa toko. Mulai dari toko pakaian, toko buah, toko daging, hampir semua toko di sambanginya walau tak membeli apapun. Ino ingin memanfaatkan hari libur yang jarang dia dapat semenjak memilih untuk memfokuskan diri sebagai Medic-nin seperti Shizune dan Sakura.

"Baiklah paman, terima kasih banyak." Ino tanpa sengaja menangkap suara seorang tegas gadis yang sudah tidak asing lagi baginya saat sedang asyik memperhatikan ikan koi yang berenang-renang di bak penjual ikan.

"Temari-san!" Panggil Ino segera setelah menemukan sumber suara.

"Oh, kau, Ino," Temari membalas sapaan Ino.

"Sedang apa disini?" Tanya Ino.

"Gaara ada perlu dengan Rokudaime. Tapi Rokudaime tidak berada di kantornya." Jelas Temari.

'Tentu saja. Kakashi Sensei bahkan masih belum mandi sepertinya.' Batin Ino. Namun Ino memilih diam, tak ingin menjatuhkan martabat Hokagenya sendiri di depan tamu negara lain.

"Dimana Shikamaru?" Tanya Ino.

"Dia sakit." Jawab Temari. Ino melirik bungkusan di tangan kanan Temari.

"Apa itu obat untuk Shikamaru?" Tanya Ino karena Temari memang baru saja keluar dari toko obat.

"Ya." Jawab Temari singkat.

"Jangan salah paham! Aku diminta Gaara untuk menjemput Shikamaru di rumahnya. Tapi Ibu Shikamaru malah memintaku merawat anaknya yang sakit karena ada urusan mendadak dengan anggota klan Nara." Jelas Temari panjang lebar saat Ino memasang seringai mengejek.

"Haha." Tawa Ino membuat Temari sedikit salah tingkah.

"Tunggulah disini, Temari-san. Aku akan menitipkan sesuatu padamu untuk Shikamaru." Tiba-tiba timbul niat jahil Ino untuk mengerjai Shikamaru dan Temari yang sudah jelas-jelas saling menyukai tapi tak ada yang mau mengalah untuk mengaku terlebih dahulu.

"Jangan lama-lama, Ino." Pinta Temari. Ino mengangguk dan segera pergi dari hadapan Temari sejenak.

oOo oOo oOo

Hinata menaburkan sejumput bubuk putih di atas kepala-kepala onigiri buatannya. Jantungnya berdebar dengan ritme yang tak beraturan. Beginilah jika seseorang tahu apa yang akan dilakukannya salah tapi tetap nekat untuk melakukannya.

'Demi cinta.' Tekad Hinata dalam hati.

"Fuih… Hampir saja aku terlambat," Ino menyeka dahinya yang basah oleh keringat. Hinata melirik Ino dan tersenyum.

"Biar aku saja yang membereskan sisanya, Ino-san." Usul Hinata.

"Tidak. Lebih baik kita kerjakan bersama, Hinata." Tolak Ino. Hinata mengangguk setuju.

Hinata dan Ino segera membereskan peralatan masak mereka yang tergeletak di hampir semua bagian dapur keluarga Hyuuga. Hinata dan Ino membagi tugas. Hinata mendapat tugas mencuci alat-alat memasak yang kotor, sedangkan Ino mendapat tugas untuk menyapu dan membersihkan kotoran yang ada di dapur Hinata.

"Hhhh…." Hinata membuang nafas berat. Dia tahu ini tidak benar, tapi melihat teman-temannya begitu bersemangat, Hinata jadi tidak tega untuk tidak ikut terlibat. Walau sebenarnya Hinata pun sangat penasaran dengan isi hati Uzumaki Naruto.

Ino melirik Hinata yang terlihat melamun. Sebenarnya Ino tak tega memaksa gadis lugu ini untuk ikut terlibat dalam rencana mereka, hanya saja Ino, Sakura, dan Tenten lebih tidak tega lagi jika Naruto terus-terusan menggantung perasaan Hinata.

"Ayo, Hinata. Cepat kita selesaikan." Ino memecah lamunan Hinata. Hinata mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya kembali.

oOo oOo oOo

"Hinata? Ada apa kau kesini, ttebayou?" Naruto mengangkat sebelah alisnya, heran, melihat Hinata tiba-tiba muncul bersama Ino dan membawa keranjang makanan.

Bletak. Sebuah pukulan telak dari Ino di terima Naruto di atas kepala kuningnya.

"Ah! Ittai!" Naruto berjongkok, sibuk mengelus-elus kepala kuningnya.

"Naruto-kun?!" Hinata sedikit memekik kaget melihat Naruto yang kesakitan.

"Daijo.." Tangan Hinata hampir saja menyentuh kepala jabrik Naruto, namun Ino menghalanginya. Hinata bahkan tak sempat meneruskan kekhawatirannya karena kalah suara dengan Sakura yang entah sejak kapan ada di belakang Naruto.

"Sudah, jangan pedulikan kepala kuning ini, Hinata!" Sakura berkacak pinggang.

"Ayo ikut aku!" Sakura segera menyeret Hinata ke lapangan tempat Tim 7 beristirahat. Ino mengekor di belakang mereka.

Hinata menelusuri jejak Naruto yang masih sibuk mengelus-elus kepalanya yang sedikit benjol dengan sudut mata indigonya. Hinata sedikit menggigit bibir bawahnya, tak tega melihat laki-laki yang disukai sejak akademi ini mengaduh seperti itu.

Setelah sampai di tempat istirahat, Hinata, Ino, dan Sakura segera menata teh hijau buatan Hinata dalam gelas-gelas kecil dan meletakkannya di atas tikar berwarna biru langit. Sakura memang sengaja meminta Hinata dan Ino hanya membuat onigiri dan teh hijau demi meminimalisir kegagalan misi mereka atau bahkan makanan tersebut termakan oleh orang lain.

"Baiklah. Sudah beres." Sakura berdiri.

"Aku akan memanggil Naruto dan Sasuke. Kau tunggu saja disini, Hinata." Instruksi Sakura. Hinata menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

"Ayo, Ino." Ajak Sakura.

Setelah kedua teman kunoichinya menghilang dari pandangan, Hinata menatap kepala-kepala onigiri di depannya. Ada wajah Naruto, Sasuke, dan Sakura. Hinata sendiri tidak membuat kepalanya dan Ino karena memang dia sudah makan siang dirumah bersama Hanabi dan ayahnya sebelum Ino akhirnya bergabung.

Sreeek. Tap.

Hinata mendongakkan kepala. Di depannya sekarang berdiri laki-laki berambut gelap dengan pakaian khas ANBU rootnya, memasang senyum palsu yang memang selalu terpasang di wajahnya setelah berhasil melepaskan topeng kucing dari wajahnya.

"Sai-kun?"

"Hai…" Sai mengukir senyum.

"Apa yang kau lakukan disini, Hinata?" Tanya Sai.

"Loh Sai?!" Sakura yang lagi-lagi seperti hantu, yang entah sejak kapan sudah kembali, terlihat kaget melihat Sai dan Hinata sedang bertatapan dalam diam.

"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Sakura.

"Maksudku, kau tidak ada jadwal latihan bersama bukan?" Cepat-cepat Sakura menambahkan, takut Sai tersinggung.

"Aku tiba-tiba saja ingin berada di sini, Sakura." Sai mengambil tempat duduk di sebelah Hinata.

"Boleh aku duduk disebelahmu?" Tanya Sai. Hinata mengangguk.

"Apa ini?" Tanya Sai lagi.

"Onigiri, Sai-kun." Jawab Hinata.

"Apakah ini Naruto, Sasuke, dan Sakura?" Sai menunjuk satu per satu kepala onigiri di dalam keranjang. Hinata mengangguk.

"Aku tidak ada?" Tanya Sai.

"Ma-maaf, Sai-kun. Aku tidak tahu kau juga akan berlatih bersama." Nada suara Hinata menunjukkan sedikit penyesalan.

"Tak apa," Sai tersenyum kemudian kembali menatap kepala-kepala onigiri di depannya.

"Kau juga tidak ada, Hinata?" Tanya Sai lagi. Hinata menggeleng, membuat sebuah senyum simpul.

"Aku sudah makan dirumah, Sai-kun."

'Sial! Mereka berdua melupakanku!' Gerutu Sakura dalam hati.

'Apa jangan-jangan Sai menyukai Hinata, ya?' Tebak Sakura.

"Eh, Sai?! Kau sudah disini saja, ttebayou?!" Suara cempreng Naruto benar-benar membuat Sakura sweatdrop. Sasuke memilih menatap Sai datar, sedangkan Ino hanya berdiri diam di belakang Sasuke.

"Ya," Jawab Sai singkat.

Sasuke memilih duduk disamping Sai, meletakkan katananya diantara dirinya dan Sai. Ino dan Sakura berebut tempat duduk disamping Sasuke. Naruto tak banyak bicara segera duduk di samping Hinata, membuat Hinata sedikit tersipu. Akhirnya Sakura kebagian tempat duduk disamping Sasuke, Ino mengalah dan memilih untuk duduk diantara Naruto dan Sakura.

"Apa ini?" Tanya Sasuke, entah pada siapa. Raut wajahnya menampakkan kebingungan dengan makanan aneh yang sedikit mirip wajahnya.

'Hey! Bahkan dalam bentuk onigiri, aku setampan ini' Narsis Sasuke dalam hati.

"Onigiri, Sasuke-kun." Jawab Sakura dan Ino hampir bersamaan.

"Kalian bodoh sekali, melihat pun Sasuke tahu itu onigiri." Sai tak sedikitpun merasa terganggu dengan tatapan membunuh yang dilancarkan Sakura padanya saat ini.

"Sai! Apa-apaan kau! Tadi Hinata menjawab seperti itu tak masalah buatmu!" Sakura naik darah membuat Ino harus memeluknya erat-erat agar kepala Sai selamat.

"Hahh…" Sasuke menghela nafas pelan. Pemandangan seperti ini memang menjadi hal yang biasa dilihatnya setelah kembali menjadi anggota tim 7.

"Kau suka sekali membuat wajah orang ya, Hinata." Komentar Naruto mengabaikan keributan di depannya.

"A-apa kau tidak suka, Naruto-kun?" Tanya Hinata.

"Bukan. Aku pernah bilang kan? Rasanya sedikit aneh memakan wajahku sendiri. Hehe." Naruto nyengir lebar.

Sasuke hanya melirik Naruto yang sibuk mengamati onigirinya. Sementara Sasuke sudah mulai menggigit pipi onigirinya. Hinata, Ino, dan Sakura yang sudah tenang menatap Sasuke dengan berdebar-debar.

'Semoga Sasuke-kun tak menyadari sesuatu,' Doa ketiga kunoichi ini dalam hati masing-masing.

"Kalau kau tak lapar, aku bersedia menggigit kepalamu itu, Naruto." Usul Sai pada Naruto yang masih tak bergeming menatap onigirinya. Naruto melirik Sai jengkel.

"Apa kau lapar, Sai-kun?" Tanya Hinata lembut. Naruto menatap Hinata dan Sai yang saling bertukar pandang di depannya.

"Hmmm…." Gumam Naruto tak jelas. Hatinya baru saja serasa dicubit.

"Urusai, Kurama!"Desis Naruto. Entah apa yang Kurama katakan padanya.

Sakura terkikik geli dengan pemandangan di depannya. Sasuke hanya melirik Sakura dengan ekor matanya heran akan kemudahan perubahan mood Sakura. Ino sibuk menuangkan teh hijau dalam gelasnya kembali.

"Ano, Sai. Kau bisa makan kepalaku." Sakura menyodorkan kepala onigirinya pada Sai, berharap dapat segera mengakhiri suasana aneh di depannya.

'Benar kan? Gadis ini moodnya gampang sekali berubah,' Komentar Sasuke dalam hati.

"Kau bisa minum teh dari ku, Sai-kun" Tawar Ino tak mau kalah.

"Sungguh?" Tanya Sai. Sakura mengangguk. Sai melirik Sasuke. Ino mengangguk. Sai hanya menatap Ino tanpa ekspresi.

"Ambil saja, Sai!" Tegas Sakura saat dilihatnya Ino meletakkan cangkir teh hijau di depan Sai.

Tidak masalah. Toh onigiri kepala Sakura hanya sebagai kamuflase agar dua laki-laki target utama, Sasuke dan Naruto, tidak curiga. Jika Sai tidak datang, Sakura akan memakai diet sebagai alasan untuk tidak makan onigiri kepalanya. Selain itu Sakura tiba-tiba penasaran sekali dengan wanita yang disukai kembaran Sasuke yang sama menjengkelkan ini.

Sasuke menghentikan sejenak kunyahannya, memperhatikan Sakura dan Sai dalam diam.

"Bagaimana denganmu?" Tanya Sai ragu.

"Aku sedang diet. Jadi aku tidak makan siang." Jawab Sakura cepat. Ternyata alasan pertamanya masih harus dipakai juga. Ino mengangguk-angguk menguatkan alasan Sakura.

"Ambillah," Sakura semakin mendekatkan kepala Onigirinya. Sai masih ragu sejenak.

"Tak apa, Sai-kun." Desak Ino yang sepertinya tahu rencana Sakura.

"Arigatou," Sai tersenyum. Perutnya memang sangat lapar. Kepala Sakura segera beralih tangan padanya.

Sasuke sendiri kembali meneruskan aktivitas makannya. Sekarang hampir separuh kepalanya sudah ada dalam perut. Onigiri ini rasanya enak juga. Tidak terlalu manis dan tidak terasa hambar. Sasuke sendiri memang tidak menyukai makanan yang terlalu manis.

'Pacar Naruto ini pintar sekali memasak,' Puji Sasuke lagi-lagi hanya dalam hati.

"Ada yang aneh dengan onigiri ini," Naruto memperhatikan wajah onigirinya dengan serius.

Sakura, Ino, dan Hinata saling melirik dalam diam. Namun dalam hati mereka tak henti-hentinya berdoa memohon pada Kami-sama berharap Naruto tidak menangkap basah mereka.

"Aku rasa hanya perasaanmu, Naruto." Sakura tersenyum kikuk. Sasuke menghentikan gerakan mengunyahnya. Sai yang sudah menggigit rambut Sakura pun menghentikan gerakannya.

"I-iya, Naruto-kun. Mungkin hanya perasaan Naruto-kun saja." Hinata mencoba membantu Sakura mengalihkan perhatian Naruto. Dirinya tak kalah gagap dengan Sakura.

"Tidak, Hinata." Naruto memandang Hinata tajam. Hati Hinata mencelos, merasa gugup luar biasa. Bukan hanya karena malu, tapi rasa takut dan khawatir. Sakura sendiri tanpa sadar berkali-kali meneguk ludah, khawatir. Kenapa bocah jabrik yang konyol ini tiba-tiba menjadi begitu pandai.

"A-apa yang aneh memang?" Tanya Ino tak kalah gugup dari kedua temannya.

"Kumisku hanya ada dua, ttebayou!" Naruto memasang wajah konyolnya lagi. Membuat Ino, Sakura, bahkan Hinata hampir saja terjengkal kebelakang saking sweatdropnya.

"Cih. Dasar bodoh." Sasuke segera menelan makanan yang tadi sempat berhenti di mulutnya dengan kesal. Rugi sekali dia menghentikan aktivitas makannya hanya untuk mendengarkan kebodohan Naruto. Sai segera melepas rambut Sakura dan mengunyahnya pelan, tak lupa senyuman tersungging di wajahnya, seperti sudah terlalu maklum dengan sifat konyol Naruto.

"Naruto memang bodoh." Ledek Sai.

Bletak.

"Dasar bodoh!" Sakura benar-benar kesal. Konyol sekali dia berkali-kali terjebak dengan wajah serius Naruto. Tidak saat Naruto kembali ke Konoha setelah pulang training bersama Jiraiya, tidak sekarang. Saking kesalnya Sakura rela berdiri demi bisa memukul kepala duren Naruto.

"Ittai!" Naruto menggosok-gosok kepala kuningnya.

"Tak bisakah kau tak memukul kepalaku keras-keras, Sakura-chan…" Rajuk Naruto.

"Ya ampun, Sakura, Sasuke-kun, Sai-kun. Bagaimana kalian bisa tahan satu tim dengan si bodoh ini." Ino memijit-mijit keningnya sedikit frustasi. Pasalnya Shikamaru adalah seorang jenius, Chouji sendiri memiliki sifat yang dewasa diusianya sekarang.

"Cepat makan!" Sakura menarik paksa onigiri dari genggaman tangan Naruto yang terangkat karena sibuk menggosok-gosok kepalanya yang sedikit benjol dan memasukkan dengan paksa pula ke mulut Naruto yang sibuk mengomel.

"Sakura-san…" Gumam Hinata tak tega melihat Naruto.

"Hau hejam sekali hada ku, Sakura-chan." (Kau kejam sekali padaku, Sakura-chan) Protes Naruto dengan mulut penuh.

"Jangan makan sambil bicara, Naruto-kun." Hinata mengisi kembali gelas Naruto yang sudah kosong.

"Nanti kau tersedak." Hinata menyuguhkan secangkir teh pada Naruto yang menatapnya dengan mulut penuh.

Naruto masih sedikit lama menatap Hinata tanpa suara sebelum menelan semua makanannya. Menyungging sebuah cengiran, Naruto menerima gelas pemberian Hinata.

"Arigatou, Hinata." Mendapat cengiran kusukaannya, membuat Hinata tanpa sadar tersipu malu.

"Hinata," Panggil Sasuke. Hinata mengalihkan pandangannya dari Naruto.

"Memang apa yang kau sukai dari Naruto?" Pertanyaan tak terduga dari seorang Uchiha Sasuke berhasil menohok hati teman-temannya, terutama sekali bagi Hinata.

"Hey, Sasuke! Apa-apaan kau," Naruto terlihat salah tingkah, diliriknya Hinata yang menundukkan wajah merah meronanya dalam-dalam.

"Aku hanya bertanya, apa yang… Argh!" Sebelum sempat Sasuke menyelesaikan pertanyaannya, Sasuke menjambak rambut ravennya.

"Sasuke-kun?!" Pekik Sakura. Ino mendelik kaget.

"A-ada apa?" Ino terlihat ketakutan.

"Argh!" Sai juga mengalami hal yang sama seperti Sasuke.

"Sai-kun?" Hinata menatap khawatir pada Sai.

"Ada apa ini?!" Tanya Naruto terlihat bingung.

"Sasuke! Sai! Jangan bercanda!" Bentak Naruto.

"Ino, cepat obati Sai! Aku akan mengobati Sasuke-kun!" Perintah Sakura.

"Ya!" Ino segera menidurkan Sai. Sakura pun melakukan hal yang sama pada Sasuke.

"Naruto! Cepat panggilkan Shizune-san!" Perintah Sakura.

"Sekarang!" Tegas Ino agar Naruto tak menanyakan apa pun.

"Baiklah!" Naruto melompat pergi dan merubah cakranya menjadi tipe sensor.

Sakura dan Ino segera mengalirkan cakra mereka pada kepala dua remaja tampan yang terbaring kesakitan. Sementara Hinata hanya bisa memandang panik melihat kedua teman kunoichinya. Tangan dua kunoichi muda itu terlihat bergetar ketakutan. Mereka tidak mengerti apa yang terjadi karena Shizune tak mengatakan apapun juga tentang efek samping bakteri cinta pemberian Shizune yang seperti ini.

Sasuke menangkap salah satu pergelangan tangan Sakura yang bergetar.

"Sakura." Sasuke membuka mata onyx nya yang semenit lalu tertutup.

"Apa yang kalian lakukan pada kami?!" Desis Sasuke.

"A-aku ti-tidak…" Sakura tak bisa untuk tidak merasa panik dan takut.

"Sasuke-kun?!" Pekik Sakura melihat Sasuke yang pingsan.

"Sai-kun?!" Jerit Ino saat Sai juga tak sadarkan diri.

"Ba-bagaimana ini," Hinata menggigit-gigit jari-jarinya.

oOo TBC oOo