BAKTERI CINTA KONOHA

Sasuke menangkap salah satu pergelangan tangan Sakura yang bergetar.

"Sakura." Sasuke membuka mata onyx nya yang semenit lalu tertutup.

"Apa yang kalian lakukan pada kami?!" Desis Sasuke.

"A-aku ti-tidak…" Sakura tak bisa untuk tidak merasa panik.

"Sasuke-kun?!" Pekik Sakura melihat Sasuke yang pingsan.

"Sai-kun?!" Jerit Ino melihat Sai juga tak sadarkan diri.

"Ba-bagaimana ini," Hinata menggigit-gigit jari-jarinya.

Agresi Dimulai! – Bagian Dua –

Tap.

Naruto telah sampai dan mendarat bersama seorang wanita cantik bersurai gelap panjang.

"Senpai!" Pekik Ino yang masih sibuk mengalirkan cakra berpendar hijau pada kepala Sai, matanya terlihat berkaca-kaca hebat.

"Ada apa?" Tanya Shizune meminta penjelasan pada siapapun yang bersedia menjawab.

"Sasuke-kun dan Sai-kun tiba-tiba tak sadarkan diri." Jawab Ino dengan suara bergetar hebat.

"Shizune-san kenapa jadinya seperti ini?!" Tanya Sakura yang juga tak beranjak dari samping Sasuke. Wajah Sakura tak kalah ketakutan dibandingkan dengan Ino dan Hinata.

"Hey, seseorang jelaskan padaku!" Teriak Naruto mencari perhatian namun tak ada yang menghiraukannya, bahkan oleh Hinata untuk saat ini.

"Hinata! Periksa aliran cakra mereka!" Perintah Shizune.

"Hai." Hinata mengangguk patuh. Tak butuh waktu lama bagi Hinata untuk segera masuk dalam mode byakugannya yang aktif. Hinata menelusuri aliran cakra Sasuke dan Sai dengan cermat.

"Tak ada yang salah dengan aliran cakra mereka." Jawab Hinata setelah byakugannya kembali dinonaktikan.

Shizune mulai menggigiti ibu jari tangan kirinya, berfikir.

"Sakura! Coba kau cium Sasuke sekarang!" Perintah Shizune membuat ketiga gadis di depannya tercekat kaget. Sakura dan Ino bahkan menghentikan aliran cakra berpendar kehijauan mereka pada Sasuke dan Sai.

"A-apa?!" Tanya Sakura dengan gagap tak yakin akan pendengarannya sendiri.

"Ke-kenapa Sakura harus mencium Sasuke-kun, Senpai?!" Protes Ino.

"Tidak ingat apa yang aku katakan pada kalian, tte.." Shizune meneguk ludah.

"Tentu kalian ingat kan?" Shizune melirik takut pada Naruto yang mendelik padanya.

"Setelah mereka memakan makanan mereka, cium saja langsung! Efeknya akan segera terlihat."

"Jangan khawatir. Mereka tidak akan ingat tentang ciuman kalian setelah efeknya bekerja."

Ino, Sakura, dan bahkan Hinata menggali kembali ingatan mereka pada malam dimana mereka mulai menyusun rencana mereka.

"Sudah, cepat lakukan!" Desak Shizune menarik kembali kesadaran Sakura. Sakura bergeming, ditatapnya Sasuke dan Shizune bergantian. Mencium Sasuke memang menjadi impiannya, namun bukan ciuman yang seperti ini. Sakura mulai merasakan sedikit penyesalan dalam hatinya.

"Ba-baiklah, Shizune-san!" Putus Sakura setelah lama terdiam.

Sakura memandang Sasuke miris. Seharusnya ciuman pertamanya tak seperti ini. Sakura selalu membayangkan akan melakukan ciuman pertamanya dengan Sasuke di bawah guguran kelopak Sakura, atau di bawah indahnya sinar bulan. Atau bahkan jika memungkinkan di tengah guyuran salju. Tapi sekarang, jangankan untuk mewujudkan salah satu mimpinya, Sakura harus kehilangan ciuman pertamanya dalam keadaan yang sangat jauh dari kesan romantis.

"Sasuke-kun…" Tangan Sakura bergetar saat menyentuh pipi Sasuke yang mulai terlihat sedikit lebih gembul.

Sakura perlahan membunuh jarak antar keduanya. Semakin dekat dengan wajah Sasuke membuat Sakura mampu merasakan nafas hangat Sasuke. Satu senti sebelum Sakura akhirnya mendaratkan bibirnya pada bibir Sasuke, Sakura bersumpah bahwa dia tak sedang berhayal saat melihat rona merah tipis yang mulai nampak pada kulit wajah Sasuke yang putih. Namun Sakura terlalu kalut untuk bisa mencerna kejanggalan ini dengan akal sehatnya.

Cup.

Sebuah ciuman singkat berhasil didaratkan mulus tanpa halangan di bibir Uchiha Sasuke. Sakura segera menarik tubuhnya, menanti reaksi Sasuke. Namun menunggu lama pun tak ada reaksi dari bungsu Uchiha ini.

"Ba-bagaimana ini, Shizune-san? Sasuke-kun belum bangun juga?!" Sakura hampir tak mampu menahan air matanya lagi.

"Eh benar kah?" Shizune terlihat sama tak mengertinya dengan Sakura.

"Mu-mungkin kurang lama kau menciumnya, Sakura." Jawab Shizune asal.

"Jangan bercanda, Senpai!" Bentak Ino.

"Kau coba saja, Sakura!" Paksa Shizune menghiraukan tatapan bingung ketiga adik seperguruannya.

"Ba-baiklah."' Sakura kembali mengambil posisi untuk mencium Sasuke. Sakura sedikit menggigit bibir bawahnya. Malu sekali harus melakukan hal seperti ini dua kali saat Sasuke sedang pingsan. Sakura mulai membuat janji dengan dirinya sendiri tak akan melakukan hal aneh-aneh lagi yang berhubungan dengan cinta. Cukup menunggu dengan sabar seperti Hinata saja.

Sakura kali ini memutuskan untuk menempelkan bibirnya sedikit lama dari sebelumnya. Sakura segera mengangkat wajahnya saat merasakan sedikit gerakan di bawahnya.

"Sakura?" Desis Sasuke.

Sakura menjauh dari Sasuke, memberi ruang bagi pemuda tampan itu untuk mengangkat tubuhnya.

"Apa yang terjadi?" Tanya Sasuke dengan wajah bingung.

"Huhuhu…" Sakura menundukkan kepalanya dalam-dalam tak mampu menahan air mata ketakutannya lagi, salah satu tangannya mulai mencengkram tanah yang didudukinya.

"Maafkan aku, Sasuke-kun. Aku berjanji aku tidak akan melakukannya lagi." Sakura menangis tersedu-sedu terlihat benar-benar menyesali perbuatannya. Air matanya mengalir deras dari kedua sudut matanya.

"Maafkan aku, maafkan aku." Sakura menangis semakin keras walau Sakura sudah berusaha mengurangi suara dengan membungkam mulutnya.

"Aku tidak mengerti maksudmu, Sakura." Sasuke mengangkat kepala pink Sakura yang tertunduk dalam.

"Sudah, jangan menangis." Sasuke menurukan tangan Sakura dari wajahnya yang memerah karena menangis begitu keras.

Sakura bisa merasakan Sasuke mulai membimbingnya untuk jatuh dan menangis dalam pelukan Sasuke, membuat Sakura berhenti menangis sejenak untuk menikmati kekagetannya akan perlakuan lembut Sasuke.

'Apa efeknya sudah bekerja?' Batin Sakura.

"Aku tidak mengerti maksudmu, tapi jangan menangis lagi, Sakura." Sasuke mulai menelusuri rambut kapas Sakura yang sudah memanjang kembali dengan jari-jari kekarnya.

"Aku sudah terlalu banyak melihat air matamu." Sasuke sedikit mengeratkan pelukannya seolah menekan begitu banyak emosi dalam hatinya yang saat ini memberontak ingin keluar.

"Sasuke-kun…" Lirih Sakura.

.

.

Hinata memandang Naruto khawatir. Bagaimana tidak? Hinata masih berfikir bahwa gadis yang dicintai Naruto adalah Sakura, dan melihat orang yang dicintai sedang berpelukan dengan laki-laki lain pasti sangat menyakitkan.

Namun Naruto yang berdiri tegak di samping Shizune tak menunjukkan ekspresi apapun yang dapat dengan mudah diartikan Hinata, membuat gadis bermata indigo ini mengerutkan keningnya.

"Sakura…" Lirih Ino yang tak tahu harus ikut bahagia atau bersedih melihat Sasuke memeluk Sakura. Disatu sisi Sakura adalah sahabatnya, namun disisi lain perasaan sukanya pada Sasuke masih sama seperti dulu. Ino mungkin bisa menganggap dirinya bingung, namun air mata yang berjatuhan dalam kediamannya menunjukkan kenyataan yang lain.

"Ino-san…" Lirih Hinata yang menatap Ino iba. Shizune melirik Hinata.

"Baiklah Ino sekarang giliranmu mencium Sai!" Perintah Shizune.

"A-apa?" Gagap Ino.

"Ke-kenapa harus aku, Senpai?" Protes Ino.

"Ya, karena kamu yang paling dekat dengan Sai." Lagi-lagi jawaban Shizune terdengar begitu asal.

"Jangan bercanda, Senpai!" Tolak Ino.

"Hinata saja! Sepertinya Sai menyukai Hinata!" Usul Ino.

"Heh?" Hinata memekik kaget dengan usulan Ino, wajahnya merona membayangkan dirinya harus mencium Sai.

"Tidak bisa, tte…" Naruto membungkam mulut Shizune dengan tidak sopan.

"Hei, Ino! Bukankah Sai cukup tampan seperti Teme?!" Naruto benar-benar tidak paham cara membujuk wanita.

"Diamlah!" Sasuke menghentikan gerakan Sakura yang mencoba melepaskan diri dari pelukan Sasuke karena penasaran dengan keributan yang di dengarnya.

"Memangnya kenapa jika Sai tampan?!" Geram Ino mulai tersulut emosi.

"Jika bukan Hinata, kenapa tidak kau saja?!" Teriak Ino menunjuk kasar Naruto.

"Heee…" Cibir Naruto.

"Kau bercanda? Aku laki-laki, Ino. Aku hanya mencium wanita!" Tolak Naruto yang sudah melepaskan tangannya dari mulut Shizune.

"Tapi kau mencium Sasuke." Sindir Shizune.

"APA?!" Naruto menatap horor pada Shizune.

"Naruto-kun, jangan marah lagi," Hinata mencoba menenangkan Naruto dari jarak yang tidak dekat.

"Jika kau tak mau melakukannya, Sai bisa tak sadarkan diri seumur hidup dan itu tanggung jawabmu, Ino." Shizune mulai menakuti Ino.

"Tapi bagaimana denganku, Senpai?!" Suara Ino terdengar serak.

"Aku juga seorang gadis, dan kau pasti paham bahwa ciuman pertama adalah sesuatu yang sakral bagi seorang gadis." Ino mencoba beragumen.

"Sudah aku bilang diamlah, Sakura!" Suara Sasuke kembali terdengar datar seperti Sasuke yang asli.

"Demo, Sasuke-kun. Aku ingin tahu!" Sakura mulai memberontak dari pelukan Sasuke.

"Cepat lakukan, Ino!" Desak Shizune.

"Iya, Ino, Kau tak kasihan melihat Sai?" Dukung Naruto.

"Berjuanglah, Ino-san!" Semangat yang coba diberikan Hinata tak membantu keadaan Ino sama sekali.

"Kalian kejam sekali padaku!" Ino menghapus air matanya yang tak mau berhenti mengalir dengan punggung tangannya.

Ino menatap wajah pucat Sai yang terlihat begitu tampan dan tanpa dosa. Sebuah pemandangan yang terlihat tak singkron dengan Sai dalam keadaan sadar yang mulutnya terasa begitu pahit jika berkomentar.

Ino memejamkan matanya. Dibunuhnya jarak antara dirinya dan Sai hanya menggunakan intuisinya saja. Walaupun belum menyukai Sai seperti Ino menyukai Sasuke, tapi Ino tetap merasakan jantungnya berdetak dengan ritme yang tidak normal.

Cup.

Ino sukses mendaratkan bibirnya pada bibir tipis Sai. Namun Ino tak segera menarik kepalanya menjauh karena tak ingin mengulang kesalahan yang sama seperti Sakura. Cukup sekali saja Sai menghancurkan mimpi tentang ciuman pertamanya dengan Sasuke. Semua teman-temannya kecuali Sakura yang masih terkunci dalam pelukan Sasuke, menatap Ino dengan wajah tersipu.

Tes.

Sai dapat merasakan air mata Ino yang terasa dingin menyentuh kulit pucatnya. Sai memutuskan untuk membuka mata, namun pandangannya terhalang oleh poni pirang Ino yang menggelitiki kulit wajahnya.

Sreeet.

Sai mendorong Ino menjauh dari tubuhnya. Ditatapnya Ino yang merona dengan mata yang sembab penuh air mata. Sai sendiri terlihat lebih merona daripada Ino. Salahkan kulit pucat Sai yang tak mampu menyembunyikan rona itu.

"Hahaha, lihat Ino, dia benar-benar bangun kan?" Naruto tertawa puas.

"Ya, ya," Shizune mengangguk-angguk.

"Sudah aku bilang, kau hanya perlu menciumnya, ttebayou!"

'HAH?!"

'Sial!'

'APA?!'

'Dasar bodoh!'

'Naruto-kun?!'

"BODOH!"

Bletak. Pofft.

Naruto yang terlalu kesal tanpa sadar memukul kepala Shizune yang ternyata adalah seorang bushin, membuat bushin Naruto yang melakukan Henge no Jutsu sebagai Shizune segera menghilang meninggalkan Naruto dan menyisakan asap tipis.

Naruto meneguk ludah dengan susah payah. Perlahan memutar kepala jabriknya mencoba mencari tahu reaksi orang-orang di belakangnya. Perasaannya tidak enak, seperti tertekan oleh puluhan ekor gajah.

"NA-RU-TO!" Sakura yang sudah berhasil melepaskan diri dari pelukan Sasuke menatap Naruto garang.

"Huuuaaaaa….." Air mata Ino yang berhenti mengalir sejenak tersihir oleh tatapan tajam onyx Sai, kembali berjatuhan dengan derasnya.

"Naruto! Aku bersumpah akan membunuhmu. Huaaa….." Ino meraung dalam kuncian tangan pucat Sai pada kedua lengannya.

Kretek. Kretek. Kretek.

Bunyi jari jemari Sakura yang ditekuk pemiliknya sebagai pemanasan sebelum melakukan perhitungan dengan bocah Kyuubi di depannya terdengar begitu menyeramkan di telinga semua orang di sekitarnya.

"Eh, Haha, Sakura-chan, jangan marah!" Naruto mundur teratur.

"Aku hanya melakukan yang Shizune-Nee minta!" Jelas Naruto mencari perlindungan.

"KAU!" Teriak Sakura.

"AKAN MATI!" Sakura dengan mata berkilat api segera melompat menjauh dari Uchiha Sasuke yang duduk pasrah menanti kematian tragis sahabat kuningnya yang sangat bodoh.

"HUAAAA…. AMPUN….!" Naruto melompat sejauh-jauhnya meninggalkan Hinata yang sibuk menahan tubuh Sakura yang memberontak hebat dan berteriak-teriak penuh emosi jiwa.

oOo oOo oOo

"Satu suap lagi?" Tanya Temari.

"Hn," Jawab Shikamaru singkat.

"Cih. Dasar kau ini." Temari menyuapkan satu sendok bubur terakhir Shikamaru yang tadi sempat dibuat oleh Nara Yoshio, ibu Shikamaru, sebelum pergi dan menitipkan Shikamaru untuk dirawatnya.

"Me-re-pot-kan saja." Sindir Temari yang sengaja menekan kata merepotkan. Temari menyeringai puas akhirnya bisa membalas Shikamaru dengan label yang sering diberikan Shikamaru padanya.

"Ya ya ya," Respon Shikamaru dengan mulut penuh.

"Kau makanlah dango ini. Teman perempuanmu, Ino, membelikannya untukmu." Temari membiarkan Shikamaru sibuk menatap bulatan-bulatan manis di depannya.

'Memangnya sejak kapan aku jadi penggemar makanan manis?' Pikir Shikamaru tanpa punya niat untuk menyentuh dangonya yang disejajarkan rapi oleh Temari di atas piring kecil. Shikamaru mengabaikan dango-dango itu begitu saja di meja samping tempat tidurnya.

"Apa kepalamu masih terasa pusing?" Temari sedikit memajukan tubuhnya. Shikamaru tak menjawab, tapi wajahnya terlihat semakin memerah.

Kening Temari berkerut.

'Wajah Shikamaru merah sekali, sepertinya demam Shikamaru benar-benar parah.' Temari meletakkan punggung tangannya pada kening Shikamaru.

"Panas sekali." Gumam Temari.

Temari meninggalkan Shikamaru sejenak. Mengaduk-aduk isi kantong belanjaannya tadi di toko obat. Mengambil beberapa bulatan pil berwarna coklat kelam dan menyiapkan segelas air minum untuk Shikamaru.

"Minum obatmu dan istirahatlah lagi." Temari meletakkan butiran-butiran obat di tangan Shikamaru.

"Cepat makan obatmu, Shikamaru!" Perintah Temari karena Shikamaru hanya menatap ngeri keempat butir obatnya.

"Cerewet!" Shikamaru segera mengambil satu bulatan obat untuk dikunyahnya.

"Pahit sekali, Temari." Rengek Shikamaru yang terdengar sedikit manja.

"Makanlah bergantian dengan dango mu. Sedikit saja agar pahitnya hilang." Bujuk Temari dengan sabar. Shikamaru mengambil satu tusuk dango. Digigitnya setengah dari bulatan pertama dango di tangannya.

Shikamaru mengulangi dengan makan satu bulatan obat dan selanjutnya menggigit tiap bulatan pertama dango pada setiap tusuknya sampai keempat obatnya habis tertelan.

"Minumlah sedikit." Temari memberikan segelas air pada Shikamaru.

"Kau ini seperti anak kecil saja," Temari memandang kasian pada dango-dango yang kehilangan tiap bulatan pertamanya.

Shikamaru tak merespon. Diletakkannya gelas air minum yang sudah tandas isinya. Shikamaru memelorotkan tubuhnya. Temari sebenarnya ingin membantu tapi dia memutuskan untuk membiarkan Shikamaru melakukannya sendiri.

"Terima kasih, Temari." Shikamaru menarik selimutnya menutupi mulutnya.

"Aku sudah tidak apa-apa. Sebentar lagi Kaa-san pasti sudah pulang. Kau pulanglah." Usul Shikamaru. Temari bergeming, mempertimbangkan keadaan Shikamaru.

"Tidurlah. Aku akan menunggu sampai ibumu benar-benar dirumah," Putus Temari.

"Dasar bodoh!" Lirih Shikamaru sembari memejamkan matanya yang terasa panas.

Temari beranjak dari kamar Shikamaru yang sangat hijau. Tak ingin mengganggu waktu istirahat bocah rusa itu. Shikamaru diam-diam membuka kembali matanya yang sempat tertutup untuk membuntuti Temari sampai gadis itu hilang di balik pintu kamarnya yang ditutup.

.

.

"…ka…" Mata Shikamaru sedikit bergerak.

"Hey, ayo bangun." Shikamaru bisa mendengar suara lembut seorang gadis yang biasanya selalu terdengar tegas dan sombong.

"Shikamaru!" Temari masih mencoba membangunkan Shikamaru.

Perlu beberapa saat untuk Temari sampai gadis itu berhasil membuat Shikamaru membuka mata.

'Dingin?' Tanpa sadar Shikamaru mengangkat tangannya dan menyentuh benda lembut yang bertengger di atas kepalanya.

"Badanmu panas sekali dan kau berkali-kali mengingau, jadi aku mengompresmu dengan handuk." Jelas Temari.

"Tadi ibumu sudah pulang tapi segera pergi saat ada anggota klanmu yang memanggilnya kembali."

"Menjadi ketua klan sepertinya sibuk sekali ya, Shikamaru." Komentar Temari panjang lebar. Sementara Shikamaru memilih untuk diam mendengarkan.

"Hey, cepatlah sembuh dan kau harus membayar semua keringatku saat merawatmu, pemalas!" Temari mencoba mengajak Shikamaru untuk bercanda. Shikamaru tersenyum lemah.

"Ada apa kau membangunkanku?" Tanya Shikamaru. Shikamaru mencoba memaksakan diri untuk duduk walau pada akhirnya harus dibantu oleh Temari.

"Waktunya minum obat." Jawab Temari sembari beranjak mengambil beberapa butir pil berwarna coklat kelam lagi.

"Lagi?" Tanya Shikamaru tak senang.

"Ya. Paman penjual obat bilang besok kau pasti sudah sembuh." Temari mengambil duduk berhadapan dengan Shikamaru.

"Cepat minum." Perintah Temari.

"Mendokusai na." Dengus Shikamaru tapi tetap mengambil alih butiran-butiran obat dari telapak tangan halus Temari.

"Ini dangomu," Temari tersenyum lebar seperti menikmati penderitaan Shikamaru akan kepahitan obatnya.

Shikamaru sekali lagi melakukan hal yang sama. Mengunyah sebutir pil pahit yang dijejali dengan manisnya dango, membuat Shikamaru mengecap rasa nano-nano yang membuatnya sedikit mual.

"Kau sudah makan?" Tanya Shikamaru di sela penuhnya mulut Shikamaru oleh obat dan dango.

"Kau baru menanyakannya sekarang setelah aku menungguimu seharian, tuan jenius?" Sindir Temari.

"Hey, kau hanya perlu menjawab ya atau tidak, Temari!" Shikamaru mendengus kesal. Temari menaikkan sebelah alisnya.

"Sepertinya kau sudah sembuh, Shikamaru." Simpul Temari. Disentuhnya kembali kening Shikamaru dengan punggung tangannya.

"Aneh sekali. Badanmu sudah tidak sepanas tadi, tapi wajahmu masih saja memerah." Temari memiringkan sedikit kepalanya bingung, membuat Shikamaru mengumpat dalam hati akan kepolosan Temari.

"Sudah aku bilang aku tidak apa-apa, Temari!" Shikamaru menyingkirkan tangan Temari dari keningnya.

"Ini makanlah." Shikamaru menyodorkan butiran terakhir dangonya.

"Huh! Kau pikir satu butir dango ini sebanding dengan jerih payahku merawat anak manja sepertimu?" Sinndir Temari, namun tangannya tetap merebut dango yang ditawarkan Shikamaru dengan sedikit kasar.

"Jika aku sembuh aku akan membelikanmu dango sampai kau puas." Shikamaru meletakkan piring dangonya di samping meja tidurnya.

"Jangan menyesali janjimu, Shikamaru." Temari tersenyum penuh rahasia.

"Kau tidak pulang? Gaara pasti sibuk mencarimu." Tanya Shikamaru tak menanggapi peringatan Temari. Temari menggeleng.

"Sudah aku bilang aku akan menungguimu sampai ibumu kembali pulang." Tolak Temari.

"Terserah kau saja." Shikamaru memelorotkan kembali badannya untuk berbaring.

"Kau tak ingin makan sesuatu? Nanti malam kau harus minum obat terakhirmu." Tawar Temari.

"Aku hanya ingin tidur, Temari." Tolak Shikamaru.

"Rasanya kepalaku sakit sekali." Shikamaru memukul pelan sebelah keningnya.

"Baiklah-baiklah hentikan itu dan tidurlah!" Perintah Temari untuk kesekian kalinya.

"Cepatlah sembuh, Shikamaru." Bisik Temari selirih mungkin agar tak terdengar pemuda yang lebih muda 3 tahun darinya ini, setelah selesai membenarkan letak selimut Shikamaru.

Shikamaru memiringkan tubuhnya tak ingin Temari melihat rona merah di wajahnya. Tak butuh waktu beberapa lama bagi Temari untuk mendengar dengkuran kecil Shikamaru.

"Astaga!" Temari sedikit sweatdrop dengan kecepatan tidur Nara Shikamaru.

oOo oOo oOo

"Neji, Lee, ayo turun." Teriak Tenten dari bawah pohon tempat patroli dua anggota tim Gai itu.

"Guru Gai meminta kita untuk beristirahat!" Tenten berteriak penuh semangat. Waktu istirahat dan makan memang yang menjadi favoritenya dalam misi.

Slap. Tap. Tap.

"Tenten, kalau kau makan terus kau akan menjadi seekor babi." Komentar Lee segera setelah mendarat tepat di hadapan Tenten.

"Benarkan, Neji?" Lee menoleh pada Neji yang baru saja menonaktifkan byakugannya. Tak ada reaksi dari laki-laki yang pernah mati suri ini.

"Huh!" Tenten mendengus kesal. Melompat meninggalkan Lee dan Neji.

"Dia marah?" Heran Lee.

"Wanita memang selalu mempermasalahkan berat badan, Lee." Jelas Neji yang kemudian melompat menyusul Tenten. Lee mengendikkan bahu, kemudian ikut melompat menyusul dua rekan satu timnya.

"Neji, apa kau akan melakukannya malam ini?" Tanya Lee. Neji diam tak menjawab tapi rona merah tipis mulai merambati kulit wajahnya yang putih bersih.

"Ya. Aku sudah mempersiapkan hatiku." Jawab Neji sedikit lama.

"Hahahaha," Lee tertawa senang. Neji tak merespons. Diam-diam dibalik wajah tenang seorang Hyuuga Neji, sebenarnya tersembunyi kegugupan seorang laki-laki.

"Baiklah. Berjuanglah, Neji!" Lee mengangkat satu jempolnya dan membuat seringai menyilaukan. Neji menganggukkan wajah tersenyumnya sekali.

.

.

"Tenten!" Guru Gai mengambil suara. Matanya berkali-kali melirik gugup pada Neji dan Lee.

'Sial! Sensei sangat tak pandai berakting.' Gerutu Neji dalam hati.

"Ya, Sensei!" Jawab Lee penuh semangat, tak lupa menghormat pada Gai Sensei.

"Hey, aku yang dipanggil kenapa kau yang menjawab, Lee?!" Protes Tenten.

"Ya, Lee." Gai Sensei manggut-manggut.

"Aku memanggil Tenten. Kau tak seharusnya menjawabnya. Itu tidak sopan." Nasehat bijak Guru Gai.

"Maafkan aku, Guru!" Mata Lee mulai berkaca-kaca.

"Tidak Lee, Guru yang salah tak punya banyak waktu untuk mengajarimu." Pembicaraan mulai melenceng dan mata Gai Sensei sekarang ikut berkaca-kaca.

"Guru…"

"Lee…"

"Hahh…" Neji mendesahkan nafas panjang. Berfikir bahwa keputusannya untuk meminta bantuan Gai Sensei dan Lee adalah salah besar. Lebih baik dia melakukannya sendiri.

"Ayo pergi dari sini, Tenten." Neji bangkit dari duduknya.

"Heh? Mau kemana, Neji?" Tanya Tenten yang mengikuti langkah panjang Neji di belakang.

"Aku ingin memperlihatkan sesuatu yang sepertinya disukai seorang gadis." Jawab Neji tanpa menoleh. Mereka berdua mulai melompat-lompat.

'Sejak kapan laki-laki Hyuuga ini tahu apa yang disukai wanita?' Pikir Tenten. Kedua alis Tenten hampir bertemu.

"Apakah jauh? Bagaimana jika Guru mencari kita?" Tanya Tenten kemudian.

"Aku sudah meminta izin darinya, sebelum kita kembali pulang tengah malam nanti." Jawab Neji yang sudah mengaktifkan byakugannya karena sedikit lupa dengan jalan.

Tenten tak ingin banyak bertanya lagi karena takut Neji kesal padanya. Beberapa kali Tenten terlihat sibuk menyincing lengan bajunya yang agak kebesaran karena memang hari ini Tenten sengaja memakai baju baru warna merah maronnya yang dia beli saat menemani Ino berbelanja satu bulan yang lalu.

.

.

Neji memperhatikan dalam diam seorang gadis bersurai coklat yang dicepol dua yang sibuk mencabut dan merangkai bunga dengan tangannya. Gadis ceria yang sudah dikenalnya dan sedikit banyak terlibat dalam tiap fase perjalanan hidupnya yang penuh liku sejak 7 tahun lalu itu.

"Tenten!" Panggi Neji.

"Ayo kita kembali."

Tenten yang merasa di panggil namanya menoleh cepat. Dengan berat hati Tenten berlari menghampiri Neji.

"Cepat sekali?" Tanya Tenten.

"Aku belum menyelesaikan mahkota bungaku, Neji." Protes Tenten yang memamerkan mahkota bunga yang berhasil dirangkainya setengah jadi.

"Hmm…" Neji terlihat memikirkan sesuatu.

"Baiklah cepat selesaikan. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu sebelum kita kembali." Kata Neji dengan mimik serius.

"Yosh!" Tenten menghormat dan memamerkan deretan gigi putihnya yang berjejer rapi, membuat gadis 19 tahun itu terlihat sangat manis.

Neji sendiri segera beranjak pergi dari tempatnya duduk saat ini setelah Tenten menjauh dari pandangan tajam mata amethysnya. Kaki jenjang Neji melangkah mendekati segerombolan bunga nan cantik berwarna-warni tak jauh dari tempatnya duduk mengawasi Tenten. Dengan tenang Neji mulai mencabuti bunga-bunga kecil yang bergerombol itu satu per satu dan merangkainya menjadi sebuket bunga yang sangat indah.

"Neji, apa yang kau lakukan?" Suara Tenten terdengar jelas sekali di belakangnya.

"Sejak kapan kau disini?" Tanya Neji dengan heran. Apa Tenten yang terlalu cepat menyelesaikan rangkaian mahkota bunganya, atau Neji yang terlalu lama berkutat dengan buket bunganya menjadi sebuah pertanyaan yang berputar-putar di kepala Neji.

"Sejak 5 menit yang lalu, mungkin." Jawab Tenten dengan acuh dan mengambil duduk di tempatnya berjongkok.

"Lihat-lihat, apakah aku cantik?" Tanya Tenten yang tersenyum lebar saat memamerkan hasil karyanya yang bertengger manis di atas kepala bercepol Tenten.

"Hn." Jawab Neji singkat karena terlalu malu untuk memuji kecantikan Tenten secara langsung.

"Untukmu." Neji menyodorkan sebuket bunga yang dirangkainya sendiri di depan wajah Tenten yang tersipu.

"Un-untukku?" Tanya Tenten memastikan. Neji mengangguk. Mengambil tempat duduk disamping Tenten yang masih terpesona dengan buket bunga pemberian Neji.

"A-arigatou, Neji." Lirih Tenten menahan haru.

"Hn." Neji memalingkan wajahnya yang tersipu malu.

'Sial!' Umpat Neji saat usahanya untuk menormalkan kembali detak jantungnya tak berhasil juga.

'Apa aku berikan saja bakterinya sekarang ya?' Tanya Tenten dalam hati pada dirinya sendiri. Diliriknya Neji yang duduk diam menghindari tatapan Tenten.

'Demi cinta!' Tenten menyemangati dirinya sendiri.

Sebelum memanggil Neji yang membelakangi wajahnya, Tenten dengan cepat menaburkan bubuk bakteri itu pada setengah bagian bakpau yang sudah dipersiapkan sebelumnya.

"A-ano, Neji." Panggil Tenten gugup. Neji menatap Tenten dengan wajah datar. Tatapan tajam mata amethys Neji membuat Tenten semakin gugup saja.

"Apa kau mau bakpau?" Tanya Tenten membuat alis Neji terangkat sebelah berfikir jangan-jangan Tenten ngelindur.

"Disini tak ada penjual bakpau, Tenten." Jawab Neji.

"Aku membawanya satu tadi, hehe." Tenten mulai mengeluarkan sebutir bakpau dari balik badannya.

"Kita bisa bagi dua. Tunggu sebentar." Tenten membelah bakpaunya.

"Ini untukmu," Tenten memberikan bakpau bagian Neji dengan cengiran lebar menutupi rasa gugupnya.

"Arigatou." Ucap Neji yang segera menggigit bagiannya.

Tenten sibuk melirik Neji yang mengunyah bakpaunya dalam diam. Jantung Tenten mulai berdetak tak normal menanti reaksi Neji.

'Sepertinya ini waktu yang tepat,' Tekad Neji dalam hati. Walau di dunia nyata, Neji terlihat tak memikirkan apapun. Kemungkinan besar karena mata amethysnya yang spesial dan nampak tak berpupil itu, membuat orang lain sedikit kesulitan mengartikan ekspresi wajah Hyuuga yang tipis.

"Setelah mereka memakan makanan mereka, cium saja langsung! Efeknya akan segera terlihat." Tenten mengingat kembali cerita Shizune.

"Tenten." Panggil Neji membuyarkan lamunan Tenten.

"Eh, iya?!" Reaksi berlebihan Tenten membuat Neji sedikit kaget.

"Ada apa?" Tanya Neji.

"Jangan khawatir. Mereka tidak akan ingat tentang ciuman kalian setelah efeknya bekerja." Kata-kata Shizune semakin membulatkan tekad Tenten.

"Neji…" Tenten memejamkan iris coklatnya untuk menghindari tatapan mata amethys Neji.

Tenten mulai memajukan bibir mungilnya, wajahnya merona hebat karena malu dan gugup. Rasanya ini bukan dirinya tapi apa boleh buat jika memang cara kerjanya seperti ini.

Sementara Tenten sedikit demi sedikit mulai membunuh jarak antar keduanya. Neji diam terpaku tak tahu harus berbuat apa. Keringat dingin mulai membasahi wajahnya. Neji tak pernah sedikitpun berfikir Tenten bisa seberani ini, bahkan sebelum Neji sempat menyatakan maksud sebenarnya mengajak Tenten menjauh dari Gai Sensei dan Lee.

Grep.

Hyuuga Neji sukses mengunci bibir Tenten yang dimonyongkan dengan tangan kanannya.

Deg. Deg. Deg. Deg.

"A-apa yang akan kau lakukan?!" Suara Neji terdengar sedikit frustasi oleh rasa malu dan bingung yang tiba-tiba menyergapnya karena ulah Tenten.

"Uuu, uuu," Tenten tak bisa bicara karena bibirnya masih terkunci oleh tangan Neji erat.

"Tak seharusnya seorang wanita mencium laki-laki terlebih dahulu!" Kata Neji tegas. Tenten yang memasang wajah sedih hanya mengangguk-angguk mengerti.

"Jangan melakukannya lagi!" Perintah Neji. Tenten menunjuk bibirnya yang masih terkunci rapat oleh tangan Neji. Untunglah Neji segera sadar dan melepaskan tangannya dari bibir monyong Tenten.

"Huwaaaa…." Tenten menarik diri dari Neji. Malu sekali rasanya sudah bertindak senekad dan sebodoh ini.

'Kami-sama, apa yang harus aku lakukan?!' Tenten menenggelamkan wajahnya dalam-dalam pada kedua telapak tangannya.

Neji mendesahkan nafas berat. Harga dirinya sebagai laki-laki melarangnya untuk terpaku lebih lama, namun jiwanya masih sedikit shock dengan reaksinya pada Tenten entah kenapa baginya terasa sedikit janggal. Ditariknya tangan Tenten yang menutupi wajah chubbynya yang merona hebat. Neji memaksa Tenten menantang mata amethysnya. Dua anak manusia berbeda jenis ini saling menatap dalam rona merah.

"Tenten ada yang ingin aku tanyakan padamu dari dulu." Neji melepaskan tangannya dari dagu Tenten.

"Apa?" Suara Tenten terdengar masih menyimpan sedikit rasa gugup dan takut karena baru saja dimarahi oleh Neji.

"Maukah kau menikah denganku?" Tanya Neji dengan suara beratnya tanpa halangan berarti.

'Are?' Tenten melongo melihat hasil yang diluar rencana karena berfikir agresi yang dilancarkannya sudah gagal total.

"HEH?! MENIKAH?!" Teriak Tenten kaget. Butuh waktu sedikit lama baginya untuk benar-benar memahami makna kata-kata Neji semenit yang lalu. Neji sendiri merasakan telinganya sekarang berdengung hebat.

oOo oOo oOo

"Shikamaru, bangunlah." Mata Shikamaru sedikit bergerak.

"Ayo bangun dan cepat makan obatmu!" Shikamaru membuka matanya perlahan.

"Kaa-san?" Lirih Shikamaru. Wanita paruh baya yang dipanggil Shikamaru tersenyum, mengambil posisi duduk di depan Shikamaru yang masih terbaring.

"Bangun dan makan obatmu, Shikamaru." Ulang Yoshio.

Shikamaru bangun dari tidurnya untuk menempelkan punggungnya pada dinding kamarnya.

"Sebelumnya makan dulu buburmu," Yoshio meletakkan semangkok bubur kasar yang nampak mengerikan dipangkuan Shikamaru.

"Ayo, makanlah!" Perintah Yoshio karena Shikamaru hanya menatap bubur yang terlihat memiliki rasa yang sama mengerikannya dengan keempat butiran obatnya.

Glek. Shikamaru meneguk ludah dengan susah payah membayangkan rasa bubur di pangkuannya sekarang. Tapi karena Yoshio sudah memberi perintah, Shikamaru tahu dia tak harus membantah.

'Hm? Rasanya tak seseram bentuknya.' Pikir Shikamaru saat sesendok kecil bubur berhasil melewati kerongkongannya.

"Ini bukan buatanmu." Komentar Shikamaru menatap Yoshio yang sibuk menahan tawa geli.

"Kaa-san. Dimana kau membeli bubur aneh nan ajaib ini?" Tanya Shikamaru heran. Yoshio terkikik geli mendengar pertanyaan anak laki-laki satu-satunya ini.

"Sudah, habiskan saja buburnya dan segera makan obatmu!" Yoshio berdiri, mendekati Shikamaru dan mencium pipi Shikamaru.

"Kaa-san akan kembali setengah jam lagi." Detik berikutnya Yoshio benar-benar pergi meninggalkan Shikamaru yang mengawasi kepergiannya dengan sendok yang tergigit di mulutnya.

Shikamaru menyeringai sebelum kembali menyuap sendok demi sendok bubur sampai benar-benar tandas.

'Tanpa kau mengatakannya, aku tahu siapa yang membuat bubur ini, Kaa-san.' Shikamaru meletakkan mangkok buburnya yang kosong di atas meja di samping tempat tidurnya. Mengambil keempat butir obat berwana coklat kelam yang masih tertinggal rasa pahitnya pada lidah Shikamaru.

Shikamaru mulai mengunyah keempat butir obat itu sekaligus tanpa rengekan manja seperti yang dilakukannya dihadapan Temari sebelumnya. Walau tak ada rasa manis dango yang menetralisir rasa pahit obatnya, tak masalah. Bagi Shikamaru, wajah khawatir Temari yang direkamnya kuat-kuat dalam ingatannya, terasa lebih manis melebihi beberapa tusuk dango sekalipun.

Shikamaru menandaskan air dalam gelas yang juga sudah di sediakan Yoshio di atas meja yang sama dengan tempat Yoshio meletakkan obat Shikamaru, karena memang meja kecil itu merupakan satu-satunya meja terdekat yang mampu dijangkau Shikamaru yang sakit.

"Cepatlah sembuh, Shikamaru." Shikamaru tersenyum sembari mengambil posisi tidur kembali.

"Tentu saja aku akan segera sembuh, gadis bodoh!" Gumam Shikamaru sebelum kembali terlelap dalam buaian mimpi dimana gadis bersurai pirang yang dikuncir 4 terlibat di dalamnya.

oOo TBC oOo

Yey, akhirnya Chapter 3 update juga.

Fiuh! Nyeka keringat segede gajah.

Arigatou gozaimasu minna, review kalian benar2 menjadi semangat buat Cand. Semoga tiap Chapter selalu berkenan di hati readers ^^

Buat guest : Cand gak pengen buat Neji OOt. Cand sayang loh sama Neji. Hehe. Arigatou ya sudah baca fic Cand. Thx for your positive review too ^^