BAKTERI CINTA KONOHA

Menyusun Rencana Untuk Hinata!

"Hmm..." Hinata mencoba mengingat-ingat kembali apa saja yang harus di belinya di pasar. Menyesali kecerobohannya yang kurang konsentrasi karena terlalu memikirkan Naruto yang entah kenapa masih belum juga terpengaruh oleh bakteri cinta buatan Shizune, membuat Hinata bertanya-tanya apa jangan-jangan Naruto saat ini memang tidak menyukai gadis manapun.

"Hei, Hinata." Tiba-tiba saja laki-laki jabrik itu sudah muncul di samping Hinata. Membuat Hinata refleks menghentikan langkahnya.

'Heh? Sejak kapan Naruto-kun keluar dari pikiranku?!' Hinata sepertinya mulai tertular penyakit konyol Naruto.

"Mau kemana?" Tanya Naruto.

"A-aku mau ke pasar, Naruto-kun." Hinata melirik Naruto dengan gugup. Jaket orange kebanggaan Naruto dibiarkan pemiliknya terbuka. Memperlihatkan dada bidang Naruto yang tetap tak bisa disembunyikan oleh kaos hijau dengan lambang Uzumaki berwarna coklat di bagian tengah.

"Boleh aku temani?" Naruto memamerkan sebuah senyuman yang sialnya membuat Naruto tampak semakin tampan di mata indigo Hinata.

"A-apa kau tidak sibuk, Naruto-kun?" Hinata menarik-narik lengan bajunya sendiri untuk mengurangi kegugupannya.

"Hmm, aku ada latihan sih dengan tim 7. Tapi tak apa. Jangan dipikirkan." Jawab Naruto santai. Naruto mulai berjalan, Hinata terpaksa menggerakkan kakinya juga.

"Bagaimana jika Sakura-san memukulmu lagi karena terlambat, Naruto-kun?" Tanya Hinata dengan nada khawatir.

"Haha, aku sudah terbiasa dengan amukan Sakura-chan." Naruto menggosok belakang kepalanya yang tidak gatal.

Hinata diam, masih belum terbiasa beradu argumen dengan Naruto. Naruto melirik gadis indigo yang lebih pendek darinya ini dan membuat sebuah senyum simpul. Walau tak disadari sang gadis. Saat ini entah apa yang ada dalam pikiran mereka masing-masing.

.

.

Seorang pemuda jabrik mengangkat salah satu tangannya, seperti menghormat, melindungi wajahnya dari silau sinar matahari. Tangannya yang lain sibuk memeluk belanjaan yang menggunung, memenuhi semua ruangan dalam kantong belanja yang berwarna coklat terang. Berdiri di sampingnya seorang gadis bersurai biru gelap dengan senyuman manis yang tak kunjung lepas dari wajah ayunya mengawasi tingkah sang pemuda.

"Huah… Matahari ini membuat kulitku semakin gosong saja, ttebayou!" Gurau Naruto membuat Hinata tak tahan untuk tak tertawa geli.

"Hehehehe" Naruto nyengir, memamerkan deretan gigi putihnya yang berjajar rapi.

"Biar aku yang membawanya, Naruto-kun." Hinata berusaha merebut kantong belanjanya dari pelukan Naruto.

"Tidak usah." Tolak Naruto.

"Bukankah sangat jarang aku bisa menemanimu berbelanja, Hinata?" Naruto tersenyum tipis. Hinata tak bisa menahan dirinya untuk tak menikmati kebersamaannya bersama Naruto, membuat rona merah tipis selalu setia menemaninya sejak detik pertama Naruto tiba-tiba menyapanya.

"Hora! Naruto!" Naruto dan Hinata menggerakkan kepala untuk menatap seorang gadis bersurai merah muda dan seorang pemuda berambut raven yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri saat ini.

"Sa-ku-ra-chan?" Naruto memasang wajah terkejut. Hinata tak jauh beda dengannya.

Bagaimana tidak terkejut. Di depan mereka berdiri seorang gadis berambut merah muda tertawa sangat renyah, seolah ingin memamerkan kebahagiaannya, bergandengan tangan dengan pemuda berambut raven yang membuang wajahnya menghindari tatapan Naruto dan Hinata. Di pipinya tampak jelas rona merah walaupun tipis. Sepertinya dia masih malu harus dilihat banyak orang tengah menggandeng tangan gadis musim seminya.

"Kau, terlambat latihan!" Suara Sakura kembali menegas.

"Ahaha, maaf." Naruto tersenyum kikuk. Hinata menatap bocah rubah ini khawatir.

"Ayo pergi." Sasuke sedikit merajuk, ditariknya tangan Sakura.

"Tunggu sebentar, Sasuke-kun. Aku ingin bicara dengan Hinata." Sakura melepas genggaman Sasuke dengan sedikit usaha.

Sakura kemudian menyeret Hinata menjauh dari Sasuke dan Naruto yang sekarang saling memandang dengan tatapan aneh.

"Apa Naruto sudah menyatakan cinta padamu?" Bisik Sakura dengan senyum sumringah. Hinata menggelengkan kepalanya pelan.

"Sungguh?!" Sakura mengernyitkan keningnya.

"Tapi, bukankah sikapnya terlihat berbeda dari biasanya, Hinata?" Tanya Sakura ragu.

"Naruto-kun memang selalu baik padaku," Jawab Hinata. Sakura menghela nafas panjang melepaskan rasa heran dengan sepasang shinobi yang sama anehnya dengan Shikamaru dan Temari ini.

"Dia tak seharusnya terus menggantung perasaanmu, Hinata," Nasehat Sakura.

"Tak apa, Sakura-chan. Aku tak ingin memaksakan perasaanku padanya." Jawab Hinata mengulum senyum.

"Bilang pada Naruto jangan membuatmu bingung dengan sikapnya. Wanita butuh sebuah kepastian, Hinata. Bukan sesuatu yang samar. Kau mengerti?" Kata Sakura begitu lembut pada Hinata.

"Demo…" Hinata memutuskan untuk tak meneruskan kata-katanya.

"Sakura, ayo pergi!" Sakura baru saja ingin membuka mulutnya, suara berat Sasuke sudah mengusik keasyikannya dengan sang gadis Hyuuga.

"Baiklah. Nanti sore di tempat biasa. Jam 4." Bisik Sakura cepat.

Sakura segera pergi menyusul Sasuke yang sudah lebih dulu melompat pergi dengan wajah yang lebih merona dari sebelumnya, setelah yakin Hinata menangkap pesannya dari anggukan pelan kepala Hinata. Naruto sendiri hanya diam tak bergeming.

"Daijobu, Naruto-kun?" Suara Hinata yang lembut menyadarkan Naruto dari lamunan sesaatnya.

"Tentu." Naruto tersenyum lebar. Hinata tidak tahu senyum Naruto tulus atau palsu.

"Aku senang akhirnya Sakura-chan bisa mendapatkan kebahagiaannya." Tambah Naruto.

"Dia sudah menantikan kebahagiaan ini sejak kecil. Melewati banyak hal-hal menyakitkan karena Sasuke. Aku benar-benar senang bisa melihat senyum bahagianya lagi."

'Naruto-kun..' Hinata mengeratkan genggaman pada tangannya sendiri.

"Nah, Hinata. Sekarang kau mau kemana?" Tanya Naruto.

"Eh? Pu-pulang ke rumah, Naruto-kun." Jawab Hinata.

"Baiklah aku akan mengantarmu." Tanpa menunggu penolakan Hinata, Naruto melangkahkan kembali kaki jenjangnya, membuat Hinata yang baru saja membuka mulutnya tanpa suara berlari kecil untuk menyeimbangkan langkah dengan pujaan hatinya ini.

"Jadi, untuk siapa kau berbelanja sebanyak ini?" Tanya Naruto saat Hinata berhasil menyampai langkahnya.

"Untuk murid-muridku di akademi, Naruto-kun. Hari ini aku harus menggantikan Tenten-san mengajar." Jawab Hinata.

"Tenten? Kenapa?" Tanya Naruto.

"Tenten-san ada misi bersama tim Gai ke Kumogakure selama 7 hari, Naruto-kun."

"Hmm, begitu." Naruto manggut-manggut.

"Wah aku iri sekali dengan murid-murid akademimu, Hinata." Hinata menatap Naruto tak mengerti.

"Ya, karena mereka lebih sering merasakan masakanmu daripada aku, ttebayou!" Naruto memerkan cengiran kesukaan Hinata, membuat wajah Hinata bersemu merah.

Walau sikap Naruto tak berubah semanis Sai, selucu Shikamaru, malu-malu seperti Neji, atau sejelas Sasuke. Walau tak sedikitpun Naruto menyinggung kata cinta untuk Hinata, untuk sekedar menolak atau menerima perasaan Hinata, namun hati Hinata tak pernah bisa mengelak dari kebahagiaan yang membuncah saat dia dan Naruto terlibat dalam obrolan panjang dan ringan seperti sekarang.

"Hahahaha, kau memang manis sekali, Hinata." Hinata menunduk semakin dalam mendengar pujian Naruto yang terdengar seperti sedang menggodanya.

oOo oOo oOo

Tap.

Seorang gadis bersurai merah jambu sepunggung mendarat tiba-tiba di atas tanah, membuat debu berterbangan liar disekitarnya.

"Gomen ne, minna." Haruno Sakura menangkupkan kedua telapak tangannya di depan wajahnya dan memasang wajah menyesal.

"Kau terlambat 15 menit, Sakura!" Omel Ino.

"Hehe, iya-iya aku tahu. Maaf, Ino, Hinata." Sakura tertawa kikuk.

"Ayo kita segera cari tempat duduk, minna." Usul Hinata.

"Huh! Dasar kau itu, mentang-mentang berhasil mendapatkan hati Sasuke-kun. Apa kau tak tahu kami berdua sampai bosan menunggumu yang sangat telat." Ino melangkah masuk lebih dahulu mencari tempat duduk untuk mereka di dalam kedai dango. Omelannya masih terus terdengar bahkan setelah mendapatkan tempat duduk yang diincarnya.

"Dia kenapa sih?" Bisik Sakura. Hinata menggelengkan kepalanya tak mengerti.

"Hey! Cepat masuk!" Perintah Ino.

"Iya-iya, Ino-pig! Kau itu kenapa sih marah-marah?" Gerutu Sakura meninggalkan Hinata berjalan di belakangnya.

"Nah, bagaimana sekarang?" Tanya Ino langsung pada intinya saat Sakura dan Hinata duduk di tempat masing-masing.

"Apa kau menemui masalah atau kejanggalan pada sikap Sasuke-kun?" Tanya Ino lagi. Kali ini targetnya adalah Sakura.

"Pertanyaanmu aneh sekali," Jawab Sakura heran.

"Sudah, jawab saja!" Geram Ino.

"Tak ada yang janggal, Ino." Jawab Sakura mengalah.

"Hanya saja sikapnya padaku terlalu manis. Aku jadi merasa aneh sendiri sebenarnya." Sakura mengernyitkan keningnya.

"Entah kenapa aku lebih menyukai Sasuke-kun yang seperti Sasuke," Pandangan Sakura terlihat kosong, sepertinya tak sadar dengan kata-katanya yang baru saja meluncur keluar dari mulutnya.

"Bilang saja kau ingin pamer," Sindir Ino. Sakura menghiraukan sindiran Ino karena memang sedang tidak selera untuk meladeni sikap aneh, Ino.

"Bagaimana dengan Sai-kun, Ino-san?" Tanya Hinata mencoba untuk mengalihkan topik. Ino menatap Hinata, mata aquamarinenya berubah berkaca-kaca.

"Ya ampun, Sakura! Hinata!" Raut wajah Ino sekarang mulai berubah frustasi.

"Sepertinya Sai-kun selalu mengikutiku."

"Lihatlah ini," Ino mengeluarkan beberapa potret dirinya dalam banyak aktifitas.

Satu lukisan menggambarkan Ino yang sedang melayani salah satu pelanggan toko bunganya, satu lukisan saat Ino sedang memarahi Choji dan Shikamaru entah apa kesalahan mereka, dan satu lukisan yang menggambarkan Ino yang berwajah sendu dan menatap awan seorang diri.

"Bagus sekali." Puji Hinata.

"Apa semua ini gambar Sai, Ino?" Tanya Sakura.

"Tentu saja! Siapa lagi yang pintar menggambar diantara kita?" Tanya Ino dengan nada yang dibuat kesal.

"Huh! Kau tak sadar siapa saat ini yang sedang pamer?!" Sindir Sakura.

"Apa maksudmu, Jidat?!" Tanya Ino tak terima. Sakura mengendikkan bahu.

"Heee… Aku tak pernah tahu Sai tipe laki-laki yang sangat romantis." Komentar Sakura yang saat ini asyik mengagumi potret Ino yang digambar oleh Sai hampir mendekati sempurna.

"Ino-san beruntung sekali," Pujian Hinata membuat wajah Ino semakin aneh saja karena tak tahu harus berekspresi seperti apa, membuat Sakura dan Hinata tertawa geli.

"Baiklah. Lupakan Sai." Putus Sakura di tengah tawanya.

"Tujuan kita berkumpul untuk membahas Naruto." Tambah Sakura.

"Tunggu dulu. Tenten masih belum datang, Sakura." Ino mencoba mengingatkan ketidakhadiran gadis bercepol dua yang selalu terlihat bersemangat itu dengan menunjuk kursi di samping Hinata yang masih kosong.

"Tenten-san pergi melaksanakan misi ke Kumogakure bersama tim Gai selama 1 minggu, Ino-san." Kata Hinata.

"Eh benarkah?" Tanya Ino memastikan yang dijawab sebuah anggukan oleh Hinata.

"Baiklah kalo begitu."

.

.

"Oke, karena semua sudah setuju kita mulai saja rencananya." Putus Sakura.

"Kau mengerti tugasmu kan, Hinata?" Tanya Sakura memastikan.

"Kau harus menemui Naruto dan memastikan dia tak menyamar lagi menjadi Shizune-san." Tambah Sakura mengingatkan.

"Iya, Sakura-san. Aku mengerti." Jawab Hinata.

"Sudah waktunya Naruto dan Sasuke-kun pulang latihan spairing. Ayo berpencar!" Instruksi Sakura.

"Ha'i!"

Ketiga kunoichi tersebut segera menyebar ke tempat tujuan masing-masing yang berbeda. Tentu saja setelah membayar tagihan mereka.

'Gawat! Aku harus segera memberitahu yang lain!'

oOo oOo oOo

"Aduh…" Naruto mengelus-elus pelipisnya yang tak sengaja tergores kunai Sasuke.

"Hm?" Naruto tertegun menyadari tak jauh dari tempatnya berdiri seorang gadis bersurai biru gelap bersandar pada dinding sebuah toko yang sudah tutup. Mata amethysnya terlihat menerawang ke depan. Seperti memikirkan sesuatu yang berat.

"Jadi ada kemungkinan Naruto tak terkena efeknya karena dia seorang Jinchuuriki?" Hinata memutar kembali ingatannya saat dia, Ino dan Sakura berkumpul sore hari tadi.

'Apa benar begitu?' Pikir Hinata ragu.

Naruto menghentakkan kaki dan mendarat tepat di depan sang kunoichi Hyuuga.

"Hinata? Sedang apa kau disini?" Ganti Hinata yang terperanjat oleh kehadiran Naruto yang begitu tak terduga.

"Na-naruto-kun?" Kaget Hinata.

"Hei, apa yang kau lakukan disini?" Naruto mengulang lagi pertanyaannya.

"A-aku menunggumu." Jawab Hinata. Sedari tadi Hinata memang sudah membulatkan tekadnya untuk melaksanakan rencana yang baru sore tadi dibuat oleh teman-temannya khusus untuknya.

"Menungguku?" Kening Naruto berkedut heran.

"A-apa kau sudah makan, Naruto-kun?" Hinata menjawab pertanyaan Naruto dengan pertanyaan lain.

Naruto menggeleng. Matanya masih belum puas menelanjangi Hinata dengan banyak pertanyaan tak terungkap di balik iris safirnya.

"A-apa aku boleh menemanimu makan malam, Naruto-kun?" Tanya Hinata takut-takut.

Naruto masih menatap intens Hinata sesaat, sebelum akhirnya memutuskan untuk menyungging senyum tipis.

"Mau menemaniku ke Ichiraku, Hinata?" Tawar Naruto. Hinata mengangguk setuju.

.

.

"Hey Naruto, aku pikir kau tidak jadi datang." Paman Teuchi memberi sambutan hangat pada Naruto yang baru masuk sebelum Hinata menyusulnya.

"Haha, maaf Paman. Aku harus membeli beberapa ramen ditoko. Persediaan ramenku sudah habis." Naruto nyengir lebar, tangan kanannya memamerkan sebuah kantung plastik yang berisi penuh ramen cup.

"Duduklah, Hinata." Naruto menepuk kursi di sebelahnya. Hinata duduk tanpa banyak bicara.

"Wah, apa kau pacar Naruto?" Tanya Paman Teuchi yang benar-benar tak pintar membaca situasi.

Blush!

Bagaimanapun usaha Hinata untuk tidak merona di dekat Naruto entah kenapa selalu terasa sia-sia. Memang saat perang dunia keempat berlangsung, Hinata bertekad untuk mendekatkan diri pada Naruto. Tapi ternyata setelah perang usai, semua orang sibuk membangun Konoha kembali, membuat Hinata akhirnya memutuskan untuk melupakan sejenak tekadnya membuat Naruto melihatnya sebagai seorang wanita lebih dari sebelumnya.

"A-ano…" Hinata baru saja berusaha menjelaskan kesalahan tebakan Paman Teuchi saat suara berat pemuda jabrik di sampingnya terdengar.

"Bukankah dia cantik, Paman?" Naruto menyela Hinata sebelum gadis itu berhasil menyelesaikan kalimatnya.

"Hahahahaha," Paman Teuchi tertawa sangat keras melihat wajah Hinata yang sukses merona hebat mendengar pujian Naruto.

"Kau memang seperti ayahmu, pandai memilih gadis cantik." Naruto hanya tertawa garing lagi-lagi dengan menggosok-gosok belakang kepalanya. Sayangnya rona tipis di kulit tan Naruto tak dapat ditangkap mata Hinata yang masih menunduk dalam menyembunyikan wajah meronanya.

"Bilang pada Naruto jangan membuatmu bingung dengan sikapnya. Wanita butuh sebuah kepastian, Hinata. Bukan sesuatu yang samar. Kau mengerti?" Hinata baru memahami maksud Sakura. Naruto, memang selalu bersikap samar-samar padanya. Naruto tak pernah membalas pernyataan cintanya, atau menegaskan bagaimana perasaan Jichuuriki Kyuubi itu padanya. Sejak perang dunia keempat berakhir, sikapnya pada Hinata memang menjadi lebih lembut dan perhatian. Tapi benar kata Sakura jika wanita butuh sebuah kepastian.

'Aku akan menanyakan kejelasan perasaan Naruto padaku,' Tekad Hinata dalam hati.

'Aku harus berjuang untuk diriku sendiri. Menjadi lebih berani dan kembali berhenti bersikap malu-malu padanya!' Hinata menyemangati dirinya seolah-olah hal itu mudah baginya untuk dilakukan.

"Hahaha, ya, tentu saja buah jatuh tak jauh dari pohonnya, Paman." Canda Naruto yang entah sejak kapan tahu banyak tentang pribahasa.

Sejak perang dunia ninja keempat berakhir, semua orang di Konoha memang sudah tidak terikat lagi dengan aturan untuk merahasiakan identitas asli Naruto yang notabene adalah anak dari Yondaime Hokage. Toh, Naruto sendiri sudah mengetahuinya langsung dari sang ayah. Tapi meskipun begitu, Naruto tidak mengganti nama keluarganya dengan Namikaze. Karena sudah terlalu terbiasa menyandang klan Uzumaki di depan namanya.

"Ini untuk mu, Naruto-kun." Ayame meletakkan semangkok besar ramen di depan Naruto.

"Arigatou, Ayame-Nee." Naruto tersenyum lebar menatap semangkok ramen besar dihadapannya yang masih mengepulkan asap tipis.

"Dan ini untuk pacar Naruto yang cantik," Ayame nyengir lebar. Baru kali ini Naruto terlihat makan bersama gadis cantik. Biasanya yang menemani Naruto selalu Iruka. Atau jika tidak, kadang Naruto terlihat bersama Sasuke, Sai, Shikamaru, Yamato, dan teman-teman laki-laki yang lain. Ayame sendiri jadi agak khawatir dengan kenormalan pemuda jabrik ini.

"A-arigatou." Ayame semakin tak bisa menahan senyum geli melihat wajah Hinata yang tersipu malu.

"Siapa namamu, gadis cantik?" Goda Paman Teuchi.

"Hyuuga Hinata desu." Jawab Hinata dengan sedikit menundukkan kepalanya untuk menghormati Paman Teuchi yang usianya lebih tua darinya.

"Jadi kau seorang Hyuuga," Gumam Paman Teuchi yang seharusnya sudah bisa menebak dari mata amethys Hinata yang spesial.

"Ya, saya putri Hyuuga Hiashi, Paman." Jelas Hinata.

"Wah Naruto-kun pintar sekali mencari pacar," Puji Ayame tulus saat tahu ternyata Hinata seorang putri berdarah ningrat.

"A-arigatou," Hinata kembali bersemu merah jambu membuat siapapun yang melihatnya tentu tidak akan percaya jika mereka berdua menolak mengaku sebagai sepasang kekasih. Naruto hanya mengawasi obrolan singkat Ayame, Paman Teuchi, dan Hinata tanpa punya keinginan untuk berkomentar.

Hinata kemudian mengambil sepasang sumpit di sampingnya. Memisahkan sumpit yang masih saling menempel satu sama lain. Kulit wajahnya sedikit demi sedikit mulai kembali ke warna normal.

"Kau mau, Hinata?" Tanya Naruto menawarkan satu butir telur rebus.

"Tidak, Naruto-kun. Terima kasih." Hinata menatap Naruto dengan wajah ayunya yang masih menyisakan sedikit rona merah.

Hinata mengerutkan keningnya saat melihat pelipis Naruto yang terluka. Bagaimana bisa Hinata tidak menyadarinya dari tadi.

"Naruto-kun, kau terluka." Hinata tanpa sadar sudah menyentuh luka di pelipis mata kanan Naruto.

"Ittai." Pekik Naruto pelan.

"Gomenasai," Hinata segera menarik tangannya.

"Tak apa, Hinata. Saat latihan aku berbuat ceroboh dan terkena kunai Sasuke. Karena Sakura-chan tak ada, aku tak bisa segera mengobatinya." Jelas Naruto yang menatap lurus mata indigo Hinata yang nampak sangat khawatir padanya, namun sang gadis nampaknya lebih tertarik dengan luka di pelipisnya daripada iris safir Naruto.

'Tentu saja Sakura-san tak ada, dia bersamaku dan Ino-san di kedai dango.' Jelas Hinata dalam hati.

"Bolehkah aku coba mengobatinya, Naruto-kun?" Tanya Hinata.

Naruto mengangguk setuju. Namun dalam hati dia bertanya-tanya sejak kapan gadis ini mempelajari ninjutsu medis.

Hinata tanpa diduga mengaktifkan byakugannya. Keningnya berkerut. Pelipis kanan Naruto yang terluka terdapat putaran cakra yang aneh, cakra yang berbeda dari normal dan berwarna merah.

'Apa bakterinya tak memiliki efek karena Naruto terlindungi cakra merah ini?' Pikir Hinata.

'Jadi benar efeknya tak terlihat pada Naruto karena dia seorang Jinchuuriki seperti tebakan Sakura-san?' Hinata masih mengawasi pergerakan cakra merah yang sangat aktif di tempat Naruto terluka.

"Ada apa, Hinata?" Hinata menatap Naruto masih dengan byakugannya yang aktif. Hinata menggeleng. Byakugannya tak lama kemudian di non-aktifkan. Didekatkannya kembali tangan kanannya pada luka di pelipis Naruto yang kini hampir tertutup sepenuhnya. Sepertinya cakra merah itu yang membuat Naruto sembuh sangat cepat dari keadaan normal.

'Apa ini ninjutsu medis khusus? Cakranya terasa berbeda dari Sakura-chan.' Naruto bertanya-tanya dalam hati. Cahaya berpendar kebiruan keluar dari telapak tangan gadis Indigo di depannya.

"Sudah selesai, Naruto-kun." Naruto meraba pelipis mata kanannya. Benar saja lukanya sembuh 2 kali lebih cepat dari sebelumnya.

"Arigatou, Hinata."

Naruto dan Hinata saling menatap dalam diam. Dua iris berbeda yang sama-sama indah saling beradu. Entah apa yang kedua remaja ini pikirkan tak ada yang mengerti selain pemiliknya karena raut wajah mereka tak memberikan sedikitpun petunjuk bagi orang lain untuk menguraikan perasaan masing-masing.

"Ehem!" Suara deheman paman Teuchi membuat Hinata dan Naruto sedikit salah tingkah dan segera mengalihkan pandangannya pada ramen yang salah satunya belum tersentuh sedikitpun.

.

.

"Sering-sering saja kau ajak pacarmu yang cantik itu makan disini, Naruto. Hahahaha." Tawa besar Paman Teuchi membuat Hinata kembali merona.

Ya, ampun malam ini Hinata benar-benar tak bisa lepas dari warna merah di pipi chubbynya. Ini baru misi sederhana agar Naruto tak melakukan Henge no Jutsu sebagai Shizune lagi. Bagaimana dengan misi yang lebih berat dari ini? Hinata mulai melupakan semangatnya sesaat yang lalu.

"Ya, ya, Naruto-kun. Dia manis sekali." Kali ini Ayame ikut-ikutan menggoda.

"Hahaha," Naruto tertawa garing.

"Aku harus punya banyak misi jika ingin membawanya sering-sering ke sini, Paman." Gurau Naruto.

"Baiklah kami pulang dulu. Selamat malam, Paman, Ayame-Nee."

"Arigatou, Ojii-san," Hinata membungkukkan kepalanya sedikit.

Naruto sedikit menyeret Hinata, berusaha kabur dari sindiran-sindiran Paman Teuchi dan Ayame yang hampir saja membuat Naruto ikut merona.

"Kyaaa, mereka berdua manis sekali," Ayame memasang wajah gemas melihat punggung Naruto dan Hinata yang semakin menjauh darinya.

Hinata dan Naruto selanjutnya melangkah dalam diam. Hinata akhirnya mengalah dalam debat pendapat untuk mengantar Hinata pulang ke rumahnya.

"Kita akan mencari tahu sebab kenapa Naruto tak terpengaruh sedikitpun oleh bakteri cinta Shizune-Senpai," Hinata kembali memutar ingatannya.

"Ya! Dan memastikan kau dapat kata cinta dari Naruto."

"Kita sama-sama wanita, Hinata. Sekeras apapun kau mencoba menyakinkan kami kau baik-baik saja tanpa balasan dari Naruto, kami tak akan mempercayainya."

"Tenang saja, Hinata. Kau pasti tak akan menyesalinya."

'Bagaimana jika efeknya yang terjadi memang karena Naruto-kun seorang Jinchuuriki?' Pikir Hinata.

Saat Hinata tenggelam dalam lamunannya sendiri, tiba-tiba saja tidak ada angin tidak ada hujan, pipi Naruto bersemu, dan dia bergumam sendiri.

"Ada apa, Naruto-kun?" Tanya Hinata yang sudah kembali kesadarannya.

"Ah, tidak. Aku hanya sedang berbincang-bincang sedikit dengan Kurama." Jawab Naruto.

"Kurama?" Hinata mengerutkan sedikit keningnya.

"Ya. Nama Kyuubi dalam tubuhku adalah Kurama. Aku belum pernah cerita?"

"Kurama." Hinata mengulang nama Kyuubi tanpa mengindahkan pertanyaan Naruto.

"Nama yang bagus, Naruto-kun." Puji Hinata. Naruto terdiam sesaat. Tapi kemudian mengulum senyum.

"Kurama bilang, terima kasih untuk pujianmu." Cengir Naruto.

"Apa aku bisa bertemu dengannya, Naruto-kun?" Tanya Hinata yang sebenarnya merasa penasaran sejak dulu bagaimana kondisi Kyuubi dalam diri Naruto. Naruto terlihat menimbang-nimbang sesuatu dalam benaknya.

"Aku tak tahu, Hinata." Jawab Naruto.

"Hanya Sasuke satu-satunya yang pernah melihat Kurama di dalam tubuhku selain aku." Mata Naruto menerawang.

"Walaupun bisa, mungkin sekarang bukan saat yang tepat." Naruto menoleh dan menatap Hinata dengan senyum rubahnya, membuat Hinata terpaku untuk beberapa saat.

Sepanjang sisa perjalanan, mereka berdua kembali berjalan berdampingan dalam diam. Kembali tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Sepertinya malam ini Naruto dan Hinata memikirkan banyak hal.

"Kita sudah sampai," Hinata mendongakkan kepalanya. Hey, sejak kapan jarak antara rumahnya dan pusat desa begitu dekat sampai Hinata tak menyadarinya?

"A-arigatou, Naruto-kun." Naruto tersenyum hangat.

Hinata menggenggam erat ujung jaket ungunya.

"Karena itu kau tak boleh menyerah begitu saja. Bukankah itu jalan ninja kalian?" Hinata dapat mengingat jelassenyum hangat Sakura dan Ino padanya.

"Hinata?" Naruto mendekatkan wajahnya pada Hinata, yang refleks dihindari Hinata dengan sedikit memundurkan tubuhnya. Salah satu kebiasaan Naruto yang berdampak buruk bagi kesehatan jantung Hinata.

Grep.

Naruto mencengkram erat lengan Hinata dengan kedua tangan kekarnya. Hinata yang merona tak bisa banyak bergerak karena Naruto mengunci pergerakannya. Naruto memasang wajah menyelidik. Dibibirnya tersungging senyum aneh yang tak mampu Hinata deskripsikan. Iris safirnya menatap lekat pada mata amethys Hinata, membuat nafas Hinata tercekat.

"Dari tadi aku perhatikan kau sering sekali melamun." Naruto membuka suara.

"Ada masalah? Kau bisa menceritakannya padaku." Tawar Naruto. Hinata menggeleng kaku.

"A-aku.." Hinata meneguk ludah, mencoba mengalahkan rasa gugupnya.

"Berjuanglah!" Kata-kata Ino merayapi pikirannya membakar semangat juang Hinata kembali.

"A-apa aku boleh me-memasak sarapan un-untukmu besok, Naruto-kun?"

"Dan ji-jika kau tak keberatan, apa aku bo-boleh menemanimu di hari liburmu? Ba-bagaimana jika pergi piknik?"

'A-akhirnya keluar juga.' Hinata menghela nafas yang bahkan dia tak sadar telah dilupakannya untuk beberapa lama.

"A-aku tak ada misi."

"A-aku dengar dari Sakura-san besok adalah hari liburmu, Naruto-kun."

Masih dengan posisi sebelumnya, namun kali ini senyum Naruto berkembang menjadi senyum geli.

"Masuklah, Hinata." Naruto melepas cengkraman pada lengan Hinata. Mata Hinata menyipit, keningnya sedikit berkerut. Berfikir bahwa Naruto menolak permintaannya yang terlalu berani.

Naruto membalikkan tubuh membelakangi Hinata yang masih berdiri dalam diam.

"Segera lah tidur, Hinata. Bukankah besok kau ingin pergi memasak sarapan untukku dan pergi berpiknik?" Naruto sempat menyungging senyum sebelum mulai melompat melewati atap demi atap rumah penduduk, meninggalkan seorang gadis bersurai biru gelap yang masih berdiri kaku untuk beberapa lama di depan pintu gerbang rumahnya dengan wajah yang merona merah.

oOo oOo oOo

"Jadi, untuk apa kalian datang kemari?" Tanya Shizune dengan pandangan menyelidik pada kedua gadis remaja yang bertamu semalam ini ke rumahnya.

"Ano Senpai, aku…"

"Shizune!" Sebelum Ino sempat menyelesaikan kalimatnya, Kakashi menyela Ino. Shizune yang merasa dipanggil suaminya menoleh cepat.

"Ada apa, Kakashi-kun?" Tanya Shizune.

"Ada sesuatu penting yang ingin aku bicarakan padamu. Kemarilah sebentar." Perintah Kakashi yang segera beranjak dari ruang tamu menuju kamar pribadi mereka.

"Tunggulah sebentar disini." Perintah Shizune yang dijawab anggukan kepala oleh Ino dan Sakura.

"Duke! Kakashi sensei mengganggu saja!" Umpat Sakura kesal.

"Sudahlah, kita tunggu saja." Ino menyandarkan punggungnya pada badan sofa dengan kasar.

"Rasanya badanku lelah sekali hari ini." Gerutu Ino pada langit-langit ruang tamu Kakashi.

"Semoga mereka tak lama membicarakan sesuatu penting di dalam sana." Doa Ino yang diamini Sakura dengan desahan nafas berat.

.

.

"Maaf ya lama," Shizune tertawa kikuk.

"Apakah sesuatu yang penting sudah selesai dibicarakan?" Tanya Ino. Shizune hanya tertawa semakin kikuk.

"Jadi untuk apa kalian datang kesini?" Shizune mengulang pertanyaannya. Ino melirik Kakashi sensei.

"Ya, sepertinya kehadiranku mengganggu. Baiklah aku akan bersembunyi di dapur untuk membuatkan kalian teh." Kata Kakashi mengerti maksud lirikan Ino.

"Sensei, beritahu kami cara kerja sesungguhnya dari bakteri yang kau berikan pada kami." Tanya Ino segera setelah Kakashi tak terlihat lagi di sekitar mereka bertiga.

"Kenapa kalian tiba-tiba bertanya lagi? Bukankah aku sudah menjelaskan efeknya?" Tanya Shizune tanpa menjawab pertanyaan Ino lebih dulu.

"Ya, kami ingat. Kami hanya harus mencium dan menunggu hasilnya. Apakah benar-benar harus seperti itu?" Ragu Sakura.

"Hn. Tentu saja!" Jawab Shizune.

"Apa benar hanya seperti itu?" Desak Sakura yang masih tak yakin dengan jawaban Shizune.

"Tentu saja, Sakura. Aku yang membuatnya jadi aku yang tahu semuanya tentang bakteri itu." Jawab Shizune yang terdengar sedikit kesal pada kekeraskepalaan kedua gadis di depannya.

"Jadi, alasan kenapa Naruto tak terpengaruh bakteri itu karena Hinata belum menciumnya?" Ino menerawang mencoba membuat kesimpulan.

"Lalu jika Hinata berhasil mencium Naruto efek bakterinya akan segera nampak seperti yang lain?" Sakura mencoba membuat sebuah kesimpulan juga.

"Hn. Kurang lebih seperti itu." Shizune mengembangkan senyuman kikuk yang aneh.

"Tapi.." Ino menatap Shizune tajam.

"Sai-kun, Sasuke-kun, dan Shikamaru, mereka mengeluhkan sakit kepala sebelum efeknya terlihat." Kata Ino.

"Ya! Kau benar Ino." Dukung Sakura.

"Kenapa Naruto tak merasakan efek yang sama, Senpai?!" Desak Ino.

"Mungkin karena Naruto seorang Jinchuuriki dan orang yang bodoh jadi dosisnya kurang banyak," Jawab Shizune asal, tapi tepat seperti dugaan Sakura pada bagian kemungkinan karena Naruto seorang Jinchuuriki saja.

Sakura melirik Ino. Ino membalas lirikan Sakura dan mengangguk pelan.

"Senpai, ada sesuatu yang aku ingin lakukan sekarang padamu. Bolehkah?" Sakura tersenyum manis.

'Gawat! Senyuman itu…'

"Lakukan saja!" Jawab Shizune tak menyadari bahaya.

Duak!

Sakura menjitak kepala Shizune sekeras mungkin membuat Shizune menundukkan tubuhnya untuk memegang erat-erat kepalanya yang benjol.

"ITTAI!" Teriak Shizune.

'Sakura sialan!'

"Eh?" Dua gadis remaja di depan Shizune saling menatap bingung karena berfikir jika Shizune yang ada di depan mereka saat ini adalah bushin Naruto lagi yang suka membuat kesimpulan asal. Bukankah bushin Naruto akan segera hilang jika terkena sebuah pukulan keras? Begitulah kira-kira apa yang dipikirkan oleh Ino dan Sakura.

"Gomen ne, Shizune-san." Sakura segera mendekati Shizune yang meringkik kesakitan.

"Aku hanya takut Naruto menyamar menjadi dirimu lagi." Jelas Sakura.

Shizune yang masih saja menggosok-gosok kepalanya segera berdiri dengan kesal meninggalkan Sakura dan Ino yang serba salah.

"Wah, bagaimana ini, dia marah, Ino." Bisik Sakura. Ino mengendikkan bahunya sama bingung dengan Sakura.

"Sial! Dia memukul kepalaku keras sekali!" Shizune mencak-mencak di tengah-tengah langkah panjangnya meninggalkan Ino dan Sakura dibelakangnya. Shizune berhenti melirik Kakashi yang menyandarkan tubuhnya dibalik tembok ruang tamu rumahnya.

"Haha, kau tak perlu marah-marah seperti itu," Sindir Kakashi dengan senyuman di balik masker hitamnya.

"Urusai!" Shizune meninggalkan Kakashi dengan wajah sangat kesal.

Kakashi menggelengkan kepalanya. Ditegakkan tubuhnya yang bersandar tadi dan kembali dibawanya nampan berisi 3 cangkir teh yang sempat diabaikannya beberapa waktu.

"Yo, anak-anak." Kakashi menyapa Ino dan Sakura dengan senyum lembutnya yang biasa.

"Ini teh kalian." Kakashi meletakkan nampan minumannya di tengah-tengah meja ruang tamu.

"Apa Shizune-senpai marah, Sensei?" Tanya Ino tak enak hati.

"Tentu saja! Kau memukulnya keras sekali, Sakura." Jawab Kakashi di sela senyum gelinya.

"Ya, aku kan hanya berjaga-jaga." Kata Sakura dengan nada menyesal.

"Eh, tunggu! Kau menguping?!" Tuding Sakura.

"Tidak. Aku hanya menyaksikan bagaimana kau memukul kepala Shizu." Jawab Kakashi menenangkan Sakura.

"Tapi lain kali, jangan pernah memukul kepalanya. Tidak. Jangan pernah menyakitinya. Karena Shizu sekarang sedang mengandung anak kami." Nasehat Kakashi dengan senyum kebapakan.

"EH?!" Pekik Sakura dan Ino berbarengan, mata keduanya melebar saking terkejutnya.

"Shizune-san hamil?!" Tanya Sakura memastikan.

"Hontou?!" Tanya Ino tak kalah bersemangat.

"Ya." Jawab Kakashi singkat dengan senyum tipis di balik maskernya.

"Apa…" Ino tak meneruskan kata-katanya saat dilihatnya Shizune sudah datang kembali dengan wajah yang datar. Tak ada tanda-tanda jika istri Rokudaime Hokage itu masih merasa kesal seperti sebelumnya.

"Senpai!" Ino berlari memeluk Shizune.

"Omedettou!" Ino mempererat pelukannya pada Shizune, membuat pipi Shizune ternoda oleh rona merah.

"Ino! Jangan memeluknya seerat itu!" Protes Sakura. Dilepaskannya tangan Ino yang melingkari tubuh Shizune dengan sedikit kasar.

"Apa kau lupa kata Kakashi-sensei? Shizune-san sedang hamil sekarang!" Sakura mengingatkan Ino.

"Hish! Aku tahu, cerewet!" Balas Ino sengit.

"Omedettou, Senpai!" Ino menghiraukan protes Sakura, kembali memeluk Shizune yang semakin tersipu.

"Hei, aku juga ingin memeluk, Shizune-san!" Protes Sakura kembali.

Ino dan Sakura mulai melupakan sejenak tujuan awal mereka berkunjung. Mereka berdua terlihat asyik berebut untuk memeluk Shizune, mengabaikan wajah Shizune yang memerah seperti kepiting rebus, dan tak mampu mengatakan sepatah katapun. Kakashi tersenyum geli di balik masker kesayangannya.

'Masa muda memang menyenangkan'

'Sialan! Dia dapat bagian yang menyenangkan!'

oOo TBC oOo

Yey! Akhirnya berhasil update juga Scene Naruhina.

Gomen ne ya readers bukannya Cand PHP cuma pengen buat cerita ada alurnya.

*ribet ya? :p

Cand mau nitip salam buat Yuan-san : "Hehehehe sabar ya, ini udah masuk pairing utama NaruHinanya ^^"

Buat Kojou-san : "Maaf ya Cand pengen ada alurnya jadi gak langsung ujuk-ujuk scene romantis NaruHina. ^^ Ini udah update NaruHinanya kok."

Buat para readers thank for your review, Cand nambah semangat kalo banyak yang review :D