BAKTERI CINTA KONOHA

Agresi Hinata, Hinata's Kiss! – Bagian 1 -

Ting tong. Ting tong. Ting tong.

"Sialan! Siapa yang pagi-pagi sudah mengganggu tidurku, ttebayou!" Gerutu Naruto. Naruto nungging dan menyembunyikan kepalanya di balik bantal.

Ting Tong. Ting Tong. Ting Tong.

Suara bel rumahnya yang terus-terusan berbunyi benar-benar mengganggu pendengaran Naruto. Membuat pemuda jabrik itu tidak bisa lagi terlelap dalam buaian mimpi.

Ting Tong. Ting Tong. Ting Tong.

"ARRRGGHHH!" Naruto duduk kesal. Menatap jam beker yang jarum pendeknya masih menunjuk angka 6 dan jarum panjangnya di angka 12. Benar-benar tepat. Tanpa menunjukkan pergerakan yang berarti.

"Siapa yang pagi-pagi bertamu ke rumah orang, ttebayou!" Geram Naruto.

Naruto meloncat turun dari ranjangnya, kemudian berjalan cepat menuju pintu masuk rumahnya, berniat menghajar siapapun yang mengganggu tidurnya sekarang.

"SIAPA?!" Naruto segera membentak tersangka pengganggu tidurnya tanpa mengecek lebih dulu orang yang ada di balik pintu, yang ternyata seorang gadis bersurai biru gelap dengan membawa sekeranjang penuh bahan makanan mentah.

Untung saja pintu masuk rumah Naruto arah terbukanya ke dalam. Tak dapat dibayangkan seandainya arah terbukanya keluar dan Naruto membuka pintu tersebut dengan anarkis, pasti kening licin Hinata tak akan terselamatkan dari ciuman keras nan menyakitkan pintu Naruto.

"Kon-ni-chiwa, Na-ruto-kun." Eja Hinata di sela kekagetannya.

Naruto mengerjapkan matanya beberapa kali. Baiklah, Naruto merasa perlu merubah pernyataan sebelumnya. Siapapun asal bukan gadis yang anehnya nampak sangat cantik pagi ini.

"Konnichiwa, Hinata." Naruto sejenak terpana dengan penampilan Hinata yang terlihat sangat berbeda dari biasa.

Jika biasanya Hinata memakai pakaian yang sangat tertutup dengan jaket lavender khasnya, kali ini Hinata berdiri di depan Naruto dengan memakai dress putih dengan sedikit corak warna lavender di bagian bawah yang membentuk motif Uzumaki melingkar berkeliling. Rambutnya yang tergerai dan dipermainkan angin musim semi membuat gadis yang sedang berkembang itu nampak semakin mempesona saja di mata langit Naruto.

"Eh? Konnichiwa?!" Naruto baru tersadar dengan kejanggalan sapaan Hinata. Naruto mendongakkan kepala jabriknya cepat dan mata langitnya menantang matahari di atas sana yang sudah berkilat-kilat menyilaukan.

"Bukankah baru jam 6?!" Gumam Naruto pada dirinya sendiri.

'Sial!' Rutuk Naruto dalam hati.

"Berada lama kau berdiri di sini, Hinata?" Tanya Naruto.

"Baru saja, Naruto-kun." Bohong Hinata yang faktanya sudah berdiri di depan pintu rumah Naruto sejak 3 jam yang lalu sejam pukul 6 pagi.

"Ehm…" Naruto membuka lebar pintunya. Mengambil alih keranjang makanan Hinata.

"Masuklah." Naruto mempersilahkan. Hinata mengangguk tanpa suara.

.

.

Tak. Tak. Tak. Tak. Tak. Tak.

Suara benturan pisau dan telenan menggema di seluruh ruang dapur Naruto. Seorang gadis bersurai biru gelap membungkus dirinya dengan celemek orange yang terikat kuat pada tubuh moleknya. Rambutnya yang biasa tergerai, dikuncir kuda oleh pemiliknya, meninggalkan juntaian rambut di masing-masing sisi wajahnya. Melipatgandakan nilai tambah pada wajah yang sebenarnya memang sudah terlihat cantik tanpa perlu usaha lebih.

Sementara seorang laki-laki jabrik memilih untuk duduk diam memperhatikan gerakan sang gadis yang begitu cekatan mengiris, mencuci sayuran, merebus atau menggoreng, memasukkan bumbu-bumbu kemudian mengaturnya dalam wadah-wadah terpisah. Pemandangan yang tidak pernah sekalipun terlihat di dapur pemuda kyuubi ini selama 18 tahun hidupnya.

'Rasanya aku pernah lihat seseorang dengan kunciran seperti itu,' Pikir Naruto.

'Ino?' Tanya Naruto pada dirinya sendiri.

'Tidak! Untuk apa aku memikirkan rambut Ino,'

'Hmmm, rasanya aku pernah melihatnya bersama Sakura-chan.'

'Tapi dimana ya? Kenapa rasanya begitu menyesakkan melihat kunciran rambutnya sekarang?!' Naruto sedikit menjambak rambut jabriknya.

"A, ano, Naruto-kun." Suara Hinata memecah lamunan Naruto.

"Eh? Ya, Hinata?"

"Se-sebaiknya kau mandi dulu." Usul Hinata. Naruto menatap Hinata dengan pandangan yang susah diartikan.

"Baiklah, Uzumaki-san." Naruto yang memasang senyum jahil segera berdiri dan berjalan menuju kamar mandinya melewati Hinata yang terpaku.

'Eh?' Hinata masih terpaku untuk beberapa lama, berfikir jika pendengarannya mulai tidak normal.

"Huwaaaa…." Hinata menenggelamkan kedua telinganya yang memerah karena terlalu tinggi kadar rasa malu atas godaan Naruto, dalam kedua tangan kecilnya.

'Rasanya seperti mimpi saja.' Pikir Hinata dengan wajah memerah padam. Kepala Hinata berdenyut-denyut seakan seluruh darahnya berkumpul di sekitar kepalanya saja.

"Awww." Hinata mencubit kecil lengannya yang terbuka.

'Tidak! Ini bukan mimpi.' Hinata kini menutupi seluruh lehernya dengan kedua telapak tangannya sendiri, menyalurkan kehangatan disekeliling lehernya. Seulas senyum mengembang di wajah ayunya yang merona.

Sementara itu di dalam kamar mandi, Naruto menggosok badannya dalam sebuah renungan. Tangannya yang sebelumnya sibuk menggosok lengan kekarnya dengan sabun mendadak pergerakannya terhenti di dada kirinya. Lama Naruto meletakkan tangannya di sana.

'Rasa hangat ini, kapan aku pernah merasakannya?'

'Rasa hangat saat pertama kali diakui oleh Iruka Sensei?' Naruto mulai menyalakan shower yang membilas tubuhnya yang tanpa halangan.

'Bukan. Rasanya berbeda. Rasa hangat yang membuat jantungku berdegup kencang. Kehangatan yang benar-benar berbeda. Berbeda dari yang aku rasakan dari Iruka Sensei, Kakashi Sensei, Sakura, Sasuke, teman-teman…'

'Bahkan Ayah dan Ibu.'

"Kehangatan yang rumit.'.

'Kehangatan yang hanya aku rasakan saat berada di dekat gadis itu.'

.

.

"Ada yang bisa aku bantu, Hinata?" Tanya Naruto setelah menyelesaikan mandinya dan berganti pakaian.

Hinata menoleh. Memperhatikan Naruto yang sudah segar dan berpakaian lengkap dengan kaos biru polos di bagian depan dengan sisa-sisa rona merah yang masih enggan pergi.

"Tidak, Naruto-kun." Hinata menggeleng dengan sesegera mungkin menarik pandangannya dari mata langit Naruto.

"K-kau duduk saja, Naruto-kun." Pinta Hinata.

Naruto menuruti permintaan Hinata tanpa banyak protes seperti biasanya. Untunglah rumah peninggalan orangtuanya ini walaupun sederhana tapi sudah terlengkapi dengan aneka perabotan yang dibutuhkan oleh Naruto untuk dapat hidup layak. Dipandanginya Hinata yang saat ini sibuk melepas celemek orangenya tadi, tak lupa dilepaskan pula ikatan kuda pada surai birunya.

Hinata sibuk beberapa kali mengambil dan menata makanan di meja makan, sementara Naruto sendiri memilih untuk sibuk memandangi wajah tersipu Hinata. Rona merah tipis pada kulitnya yang seputih porselen, dress putih dengan corak lavender Uzumaki yang baru pertama kali dilihat Naruto, membuat gadis itu serasa tak memiliki kadar membosankan untuk tetap terbingkai dalam iris safir pemuda jabrik ini.

"Apa kita sudah bisa makan?" Tanya Naruto dalam balutan senyuman rubah, segera setelah Hinata duduk nyaman di kursinya, mengambil tempat berhadapan dengan Naruto.

"Aku lapar sekali, ttebayou!"

Hinata tersenyum. Semangat Naruto inilah salah satu hal yang sangat disukainya dari sang jinchuuriki kyuubi.

"Ayo kita makan, Naruto-kun."

Hinata menunggu Naruto sampai selesai mengambil hidangan sebelum dia mulai melayani dirinya sendiri.

"Itadakimasu…" Naruto berteriak penuh semangat.

"Itadakimasu." Hinata sebaliknya mengatakannya dengan suara yang lirih.

Mereka berdua kemudian makan dalam diam. Mungkin. Karena sebenarnya mereka berdua saling melirik seperti sepasang remaja yang baru saja jadian.

"Apa kau tidak biasa makan sambil mengobrol, Hinata?" Tanya Naruto berusaha memecah keheningan.

Hinata meletakkan sumpitnya. Menatap Naruto yang juga tengah menatapnya.

"Maaf," Hinata memasang wajah menyesal.

"Aku tak terbiasa makan dalam kondisi berisik. Naruto-kun. Tou-sama melarang kami berbicara saat makan." Cerita Hinata. Naruto tersenyum mengerti.

"Ya. Bagaimanapun kau adalah putri pewaris klan Hyuuga. Tentu saja kau sangat berbeda dari ku, ttebayou." Canda Naruto yang tak mendapat respon berarti dari Hinata.

Hinata kembali makan dalam diam, begitu pun Naruto.

'Aku memang tak bisa bersikap seceria dan sebebas Sakura-san, mungkin itu yang membuatmu tak bisa menyukaiku, Naruto-kun.' Pikir Hinata.

Sementara Hinata sibuk makan dalam lamunan, Naruto sibuk mengawasi bagaimana cara makan Hinata yang terlihat sangat anggun. Semua gerakannya sangat berbeda dengan Hinata ketika gugup dan menjadi sangat ceroboh. Naruto mau tidak mau tersenyum geli. Rasa hangat itu dirasakannya lagi di dalam dadanya.

"A-ano, Naruto-kun." Panggil Hinata.

"Ya?" Jawab Naruto.

"Bolehkah aku bertanya?" Tanya Hinata.

"Tentu." Jawab Naruto.

'Bolehkah aku menanyakannya?' Pikir Hinata dalam hati.

"Apa yang ingin kau tanyakan, Hinata?" Tanya Naruto tak sabar.

"A-apa kau masih menyukai Sakura-san?" Tanya Hinata ragu. Naruto sedikit membulatkan iris safirnya, lumayan kaget dengan pertanyaan Hinata.

"Itu yang kau pikirkan tentangku saat ini?" Jawab Naruto dengan sebuah pertanyaan balasan setelah terdiam beberapa saat. Hinata menatap lurus iris safir Naruto untuk mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri, namun tak kunjung didapatkannya.

"Ka-kalau begitu, apa ada gadis yang kau su-kai, Naruto-kun?" Naruto diam tak menjawab, namun rona merah tipis mulai bercampur dengan kulit tannya. Pertanyaan Hinata semakin mengganggu zona amannya dari topik sensitif ini.

Hinata menundukkan pandangannya. Dalam pikirannya, kediaman Naruto tak memberikan jawaban yang diharapkannya.

'Apa aku benar-benar harus menanyakannya?' Hinata mempertimbangkan dalam hati. Hinata menggenggamkan kedua tangannya erat di pangkuannya ragu untuk menanyakan pertanyaannya terakhirnya.

"A-ano, Naruto-kun." Hinata memberanikan diri menantang kembali iris safir di depannya.

"A-apa Naruto-kun menyukai laki-laki?" Tanya Hinata dengan wajah polos.

GUBRAK!

Naruto yang sedang serius menanti pertanyaan apa lagi yang akan keluar dari mulut gadis indigo itu jatuh terjengkang dari kursi tempatnya duduk. Dengan gerakan lambat, Naruto berusaha bangun lagi dan menumpukan sebagian besar berat tubuhnya pada meja makan.

"Apa-apaan pertanyaan itu, HINATA?!" Rasanya Naruto ingin menangis saja mendengar pertanyaan terakhir Hinata yang seolah meragukan kenormalannya sebagai seorang laki-laki muda.

.

.

"Hooooaaaaam," Naruto menguap sangat lebar, disudut matanya bahkan nampak air mata yang bertumpuk mewakili usahanya menahan kantuk.

Hinata diam tak bereaksi terhadap kuapan besar Naruto, tangannya masih sibuk mencuci peralatan bekas sarapan mereka.

'Bahkan setelah Ino-san dan Sakura-san mendandaniku dengan tampilan yang berbeda dari biasanya, kau tak sedikitpun nampak tertarik padaku, Naruto-kun." Hinata berusaha menyembunyikan rapat-rapat rasa kecewanya.

Hinata mendongakkan kepalanya menatap wajah mengantuk Naruto. Walaupun kecewa, entah kenapa Hinata tak tega melihat Naruto yang sepertinya mati-matian menahan kantuk.

"Naruto-kun," Panggil Hinata. Naruto menatapnya tanpa suara.

"Kau tidurlah sebentar, biar aku yang membereskan sisanya." Usul Hinata. Naruto bergeming seperti mencoba mempertimbangkan sesuatu.

"Hmm, baiklah." Naruto segera meninggalkan Hinata yang diam terpaku dengan sikap Naruto yang entah kenapa terasa begitu dingin padanya.

'Naruto-kun, apa kau marah karena pertanyaanku?' Pikir Hinata.

'Atau kau jengkel padaku yang mengganggu hari liburmu?' Hinata menggigit sedikit bibirnya menekan rasa sedihnya.

oOo oOo oOo

'Apa sekarang waktu yang tepat ya?' Tanya Naruto pada dirinya sendiri. Rona merah muda mulai menjalari pipinya.

Sebenarnya selama ini diam-diam dalam sikapnya yang biasa atau bahkan menurut orang lain terlihat dingin dan tidak peduli pada Hinata, Naruto selalu memperhatikan Hinata. Tanpa berusaha menarik banyak perhatian orang lain,

Naruto selalu mencari informasi tentang gadis indigonya itu. Mengamati perkembangan sang gadis yang tumbuh semakin dewasa dan cantik, serta menjaganya dari incaran laki-laki lain yang terlihat tertarik pada gadis indigonya.

Naruto tahu sikap yang dia jadikan topeng menunjukkan seolah dirinya acuh kepada perasaan sang gadis, membuat gadis itu memendam banyak luka di hatinya. Naruto tak punya pilihan. Dia membutuhkan waktu yang lama memang untuk benar-benar meyakinkan hatinya bahwa dia jatuh cinta pada Hyuuga Hinata diatas kesadarannya dan bukan rasa kasihan karena Naruto sendiri juga tahu rasa sakitnya cinta bertepuk sebelah tangan.

Setelah Sasuke menyatakan cinta pada Sakura, Naruto merasa hatinya lega luar biasa. Setidaknya dia bisa terlepas dari belenggu cinta segitiga di tim nya. Dan sekarang Naruto tak harus menahan diri lagi untuk membalas perasaan tulus sang gadis bulan.

Gadis yang masih tersenyum lembut di atas semua luka hati yang sengaja atau tidak dibuat oleh Naruto. Gadis yang selalu perhatian bahkan tanpa berharap Naruto akan membalasnya. Gadis yang bersedia mengorbankan hidup untuk jinchuuriki sepertinya, sebelum Naruto menjadi seorang pahlawan bagi Konoha. Gadis yang melakukan segala sesuatu dengan usahanya sendiri untuk dapat diakui oleh Naruto.

"Naruto-kun?" Hinata menatap Naruto khawatir. Naruto sudah melamun cukup lama.

"Hm, ya?" Tanya Naruto. Hinata menggeleng.

"Sudah selesai makannya?" Tanya Hinata. Naruto menatap mangkoknya yang sudah tandas membuatnya bingung kapan dan bagaimana dia menghabiskannya.

"Hmm, ya." Jawab Naruto penuh keraguan.

.

.

Naruto masih sibuk tenggelam dalam pikirannya sendiri bagaimana cara mengungkapkan keyakinan yang baru saja dia dapatkan. Diliriknya Hinata yang masih sibuk mencuci mangkok, sendok, dan gelas bekas makan mereka. Sementara dirinya sendiri mendapat tugas mengeringkan semua peralatan itu dengan serbet yang dibawa Hinata dari rumah.

'Kenapa rasanya aku pernah melakukan ini semua ya?' Pikir Naruto dalam hati.

"Naruto-kun,"

Merasa namanya dipanggil, Naruto menoleh. Menghentikan sejenak kegiatannya mengeringkan semua peralatan makan yang telah selesai dicuci oleh Hinata.

"Ya?" Naruto menatap Hinata dengan wajah yang masih menyisakan rona merah tipis pada kulit tannya yang eksotik.

Melihat wajah Naruto yang sekarang tersipu membuat Hinata mau tak mau ikut tersipu walau tak tahu atas dasar apa mereka berdua harus saling tersipu.

'Huaah…ada apa ini. Apa mungkin…'

"Hinata!" Naruto memutar tubuh Hinata memaksanya untuk menatap Naruto. Keduanya saling menatap dalam rona merah.

"A-a-ada apa?" Penyakit gagap Hinata mulai kambuh.

'Ungkapkan saja apa yang kau rasakan.' Naruto mengulang kembali kata-kata Sasuke pada Sai yang di dengarnya diam-diam.

"Aku cinta padamu!" 3 kata itu melesat cepat dari balik bibir Naruto. Membuat tubuh Hinata diam tak bergerak. Tak bersuara. Tak menampilkan ekspresi apapun.

Tepat 3 menit 49 detik waktu yang dibutuhkan Hinata untuk mempu memahami keadaan.

Tes. Tes. Tes.

Bukan kata-kata atau jeritan bahagia yang didapatkan Naruto, namun tetesan air mata yang tak kunjung berhenti mengalir melalui sudut mata amethyst sang gadis, membuat wajah tembem Hinata kebanjiran air mata. Sang pemuda jabrik dibuatnya kelabakan.

"Hi-Hinata?!" Naruto menggerak-gerakkan tangannya tak beraturan disekitar Hinata.

"Huhuhuhuhu." Hinata mulai berjongkok. Menenggelamkan wajah kusutnya yang penuh air mata di balik tumpukan lengannya.

"Apa aku salah bicara, ttebayou?!" Naruto semakin kelabakan.

"Hey, kenapa kau menangis, Hinata?!" Teriak Naruto panik.

"Sudah jangan menangis," Naruto menurunkan paksa lengan Hinata.

Naruto dengan tangan yang sedikit bergetar karena sisa rasa gugupnya mulai menghapus air mata Hinata yang tak mau berhenti mengalir. Hinata bahkan tak mau membuka matanya, sepertinya masih terlalu malu untuk bertatapan langsung dengan iris safir Naruto.

Sial bagi Naruto, Wajah Hinata yang merona merah membuat gadis Hyuuga itu nampak sangat manis. Mata ametyhsnya yang tersembunyi entah kenapa terlihat begitu menggoda di mata langit Naruto, dan bibirnya yang sedikit terbuka kali ini untuk mengeluarkan suara segukan entah bagaimana terdengar begitu menggoda pula di telinga Naruto.

Blush!

Tiba-tiba Naruto merasa seluruh wajahnya memanas.

"Hinata, buka matamu!" Perintah Naruto. Hinata bergeming tak membiarkan iris indigonya terlihat sedikitpun.

"A-aku tidak mau!" Tolak Hinata.

"Buka matamu, Hinata." Naruto yang masih terpana mulai merasa panik dengan tubuhnya yang seolah diluar kontrol.

"Tidak mau!" Tolak Hinata yang semakin menyembunyikan mata indigonya.

"Aku tak tahu apa yang terjadi jika kau tak membuka matamu," Ancam Naruto. Tangan kekarnya berhenti menghapus air mata Hinata yang terjatuh. Sebagai gantinya, tangan kekar itu mulai menyusup melewati surai Hinata yang tergerai, mengunci wajah Hinata untuk tetap lurus menatap Naruto dengan matanya yang masih terpejam.

'Aku mohon buka matamu, Hinata.' Naruto yang semakin kehilangan kontrol diri sedikit demi sedikit mulai membunuh jarak antara wajahnya dan Hinata.

"Baiklah gadis keras kepala, jangan kau buka mata indahmu."

Hinata yang mulai dapat merasakan nafas hangat Naruto mengerutkan keningnya. Sebelah tangan Naruto yang lain mulai menarik pinggangnya mendekat, menempelkan tubuh moleknya pada tubuh sang jinchuuriki kyuubi yang memanas.

'Naruto-kun,' Wajah Hinata semakin memerah karena tahu apa yang akan terjadi selanjutnya pada mereka berdua.

"Jangan salahkan aku." Bisik Naruto.

Naruto menempelkan bibirnya pada bibir Hinata yang terasa panas. Mula-mula sebuah kecupan ringan. Namun seiring bergulirnya waktu mulai berubah menjadi sebuah ciuman lama yang dalam dan panas.

"Hahh... Hahh… Hahh..." Naruto dan Hinata saling menatap dalam desahan nafas yang sama sekali tak beraturan. Wajah keduanya terlihat sangat merah.

"Itu hukumanmu karena tak mau menurut, Hinata."

oOo oOo oOo

Naruto mengerjapkan mata langitnya beberapa kali sebelum benar-benar mendapatkan kesadarannya kembali. Wajahnya masih menyisakan rona merah karena mimpinya yang tak biasa.

'Sial! Ternyata hanya mimpi!' Naruto mengangkat tubuhnya yang banjir keringat dingin.

'Membuatku kaget saja!' Gerutu Naruto dalam hati.

Naruto menumpukan punggungnya pada badan sofa. Dipandangnya ruang tamunya dengan penuh selidik. Naruto merasa seperti melupakan sesuatu.

Kryuuuuk…

Perut Naruto berbunyi nyaring.

"Aduh, aku lapar sekali, ttebayou." Naruto memutuskan untuk berdiri dan berjalan menuju dapur demi membuat semangkok ramen instan.

"Hmm?" Naruto membulatkan iris safirnya saat hidungnya menangkap bau masakan yang sangat enak.

'Hey, bukankah aku hanya bermimpi jika Hinata datang dan memasak di dapurku?' Pikir Naruto tak mengerti.

"Kenapa bau masakan Hinata terasa begitu nyata?" Gumam Naruto pada dirinya sendiri.

Naruto mempercepat langkahnya menuju dapur. Nafas Naruto tercekat saat dilihatnya banyak makanan yang sudah terhidang di meja makannya. Dari tipisnya asap yang masih mengepul, Naruto bisa tahu jika makanan di depannya masih belum terlalu lama terabaikan.

"Awww." Naruto mencubit kecil lengannya yang terbuka.

"Ini bukan mimpi!" Kaget Naruto.

"Jadi, apa saat aku menyatakan cinta pada Hinata juga bukan mimpi?! Panik Naruto.

"Lalu, lalu, ciuman itu?" Wajah Naruto mendadak berubah warna.

"Argggh! Bagaimana ini, ttebayou?!" Naruto menggaruk-garuk kasar rambut jabriknya yang terlihat sedikit lebih panjang dengan frustasi.

"Hm?" Mata langit Naruto menangkap secarik kertas yang terlipat rapi di ujung meja makan tak jauh dari tempat Naruto berdiri.

Naruto mengulurkan tangan mengambil kertas kecil itu. Dibukanya lipatan kertas, menampakkan sederet kata yang ditulis begitu apik.

"Naruto-kun, maaf aku pulang tanpa pamit. Saat aku coba membangunkanmu, kau terlihat lelah sekali. Aku sudah memasakkan makan malam. Jangan terlalu banyak makan ramen karena tak baik untuk kesehatanmu. Hinata."

'Are? Bagaimana dia tahu aku ingin membuat ramen?' Heran Naruto selesai membaca pesan Naruto.

"Ah!" Naruto menepuk keningnya kasar sampai menimbulkan bunyi plak yang cukup keras.

Sekarang pemuda jabrik itu tahu mana yang mimpi dan mana yang kenyataan. Hinata masak di dapurnya dan dia meninggalkan gadis itu untuk beristirahat sejenak adalah kenyataan.

Hinata yang menangis saat Naruto menyatakan cinta, lalu ciuman pertamanya yang sangat panas bersama gadis indigo itu adalah sebuah mimpi. Naruto bahkan ingat sebenarnya dia berjanji pada Hinata untuk membawa gadis itu piknik, dan sekarang langit sudah berganti warna, bukan waktu yang tepat untuk dua orang manusia melakukan piknik di taman dekat patung kepala Hokage.

"Kuso! Kenapa jadi begini, ttebayou!" Umpat Naruto menyesali kebodohannya sendiri.

oOo oOo oOo

Naruto mulai menyuap nasi putih dalam mangkok plastiknya tanpa selera. Ada apa dengan pikirannya hari ini, semua terjadi seperti di luar kendalinya. Dan lagi setelah mimpi memabukkan itu, kepala Naruto rasanya pusing sekali seolah semua darah hanya berputar-putar di sekitar kepala jabriknya.

'Hey, bocah mesum.' Panggil Kurama.

'HAH?! Apa-apaan itu, Kurama?!' Teriak Naruto tak terima.

'A-a-pa kau bahkan tahu mimpiku?!' Gagap Naruto saat merasa aneh dengan Kurama yang tiba-tiba memanggilnya mesum.

'Tentu saja tidak, BODOH!' Kurama membalas teriakan Naruto.

'Tapi lama bersamamu aku tahu kalau kau sedang berfikiran mesum! HAHAHAHA,' Kurama tertawa sangat keras membuat Naruto sedikit sweatdrop.

'Kurama,' Naruto membuat sebuah senyuman tipis yang kaku untuk Kurama.

'Jika kau tidak tahu apa-apa jangan tertawa jelek seperti itu, BUODOH!' Naruto berteriak-teriak frustasi membuat kandang Kurama terlihat sedikit bergetar.

Ting Tong. Ting Tong. Ting Tong.

"Hmm?" Naruto yang sudah kembali ke alam sadar, mengerutkan keningnya.

"Siapa yang bertamu semalam ini?" Gumam Naruto pada dirinya sendiri.

Naruto melangkah gontai, semangatnya yang biasa seolah sudah habis persediaannya dari jiwa sang jinchuuriki. Naruto bahkan membuka pintu masuk rumahnya dengan sangat pelan, tak berminat pada siapapun tamunya malam ini.

"Hah?"

Tapi sepertinya Naruto lagi-lagi harus merubah pernyataannya, saat seorang gadis terlihat berdiri memunggunginya dalam balutan dress putih dengan sedikit corak warna lavender di bagian bawah yang membentuk motif Uzumaki melingkar berkeliling. Surai biru gelapnya yang tergerai terlihat dipermainkan oleh angin malam musim semi membuat gadis di depannya nampak seperti seorang bidadari langit yang malu-malu terlihat oleh manusia.

"Hinata?" Panggil Naruto ragu.

"Naruto-kun," Gadis di depannya menjawab panggilan Naruto dengan suara lirih yang masih mampu di dengar Naruto. Dari suaranya Naruto tahu jika gadis di depannya benar-benar Hyuuga Hinata.

"Bukankah kau sudah pulang?" Tanya Naruto heran.

"Apa ada barangmu yang tertinggal?" Naruto mengerti jawaban dari pertanyaan terakhirnya adalah tidak saat gadis itu menunduk dan menggelengkan kepalanya.

"Lalu, un…"

"Naruto-kun," Hinata memotong pertanyaan Naruto yang belum diselesaikan pemilik pertanyaan.

"Aku bermimpi berciuman denganmu." Hinata terlihat semakin menundukkan kepala, mungkin untuk menutupi rasa malunya.

'Eh?' Naruto kaget mendengar kejujuran Hinata.

"A-aku tak bisa melupakan mimpiku. Karena itu aku kemari. Aku ingin kita menjadikan mimpi itu sebuah kenyataan,"

'HAH?' Naruto melongo lebar.

"Tak usah ragu, Naruto-kun. Mendekatlah dan cium aku," Hinata semakin menundukkan kepalanya.

Naruto melangkahkan kaki mendekati Hinata. Tentu saja bukan untuk benar-benar mencium sang gadis. Naruto entah kenapa merasa sangat kesal dengan sikap aneh gadis di depannya. Atau sebenarnya Naruto yang bersikap aneh karena jika Naruto laki-laki normal, tawaran Hinata bagaikan durian yang jatuh dari langit.

Plok. Grep.

Naruto menggenggam erat bahu Hinata.

"Jangan bercanda, Hinata! Aku tak suka!' Geram Naruto. Hinata bergeming.

"Hey! Jawab aku! Jangan membelakangiku seperti ini!" Naruto memutar kasar tubuh Hinata yang diam tak bereaksi.

"Apa yang kau…"

"HUWAAAAA," Naruto mendorong tubuh Hinata sekuat tenaga sebelum dirinya sendiri jatuh terjengkang ke belakang sampai punggungnya menghantam tembok rumahnya kasar, saat dilihatnya tubuh Hinata menampilkan wajah seorang Rock Lee dengan dandanan yang sangat menor.

"Naruto-kun," Rock Lee dengan tubuh Hinata memonyongkan bibirnya dalam balutan lipstik tebal mulai bergerak pelan mendekati Naruto yang bersandar pada tembok dengan wajah ketakutan dan tubuh bergetar hebat.

"JANGAN MENDEKAT!" Teriak Naruto.

"Cium aku, Naruto-kun," Lee dengan tubuh Hinata malah semakin mendekat menghiraukan penolakan Naruto.

"TIDAAAAAAK!" Jeritan Naruto terdengar sampai menggetarkan meja Hokage tempat Kakashi memeriksa laporan misi, saat bibir Lee kurang satu senti saja berhasil mengenai bibir manis pemuda kyuubi.

'HAHAHAHAHA' Naruto dapat mendengar jelas tawa jahat Kurama di dalam kandangnya.

.

.

Ting Tong. Ting Tong. Ting Tong.

BRUAK!

"Ittai!" Naruto yang baru saja terjatuh membuka matanya dalam bingung. Dielusnya kepala jabrik kuning yang baru saja mencium lantai kamarnya dengan kasar. Naruto menatap jam bekernya yang berdetak pelan namun pasti.

"Hanya mimpi?" Naruto memelorotkan sekalian tubuhnya yang hanya setengah terjatuh.

"Kenapa aku bisa bermimpi seaneh ini, ttebayou." Gerutu Naruto yang merubah posisinya duduk seperti kodok.

Ting Tong. Ting Tong. Ting Tong.

Telinga Naruto segera menangkap suara bel rumahnya saat kesadarannya sudah kembali.

"Sialan! Kali ini apa lagi?!"

Naruto berjalan perlahan menuju pintu. Sesampainya di depan pintu, Naruto dengan takut-takut mengintip siapa tamunya dari lubang kecil tempat mengintip tamu.

Nafas Naruto tercekat saat dilihatnya seorang gadis bersurai biru gelap berdiri membelakangi pintunya. Rambutnya yang tergerai dipermainkan angin musim semi membuatnya terlihat mempesona dari tempat Naruto mengintip. Persis seperti yang dimimpikannya. Ya mungkin tidak sama persis di bagian pakaian sang gadis yang terlihat normal dengan jaket lavender khasnya, dan tak ada sekeranjang bahan makanan mentah yang dibawanya.

Deg. Deg. Deg.

"Gawat! Apa dia Rock Lee lagi?" Naruto meneguk ludah. Mimpinya tentang Rock Lee masih menghantuinya, membuat kedua lututnya tanpa sadar kembali bergetar. Bahkan bulu kuduk Naruto serasa berdiri semua.

Namun kali ini Naruto bisa bernafas lega saat gadis bersurai biru gelap itu membalikkan badan, yang terlihat bukan wajah menor Rock Lee yang menyeramkan, melainkan seorang gadis cantik dengan pipi tembem menggemaskan yang berhias rona merah berjalan kembali mendekati bel pintu.

Ting Tong. Ting Tong. Ting Tong.

"Hahh…" Naruto menghela nafas lega. Sebuah senyuman tersungging di wajah berkumisnya.

"Ittai!" Naruto menyempatkan diri untuk mencubit lengannya untuk meyakinkan dirinya jika kali ini bukan lagi sebuah mimpi.

Cklek.

Suara pintu terbuka perlahan membuat Hinata sedikit memundurkan tubuhnya. Saat pintu terbuka lebar, seorang pemuda jabrik tersenyum hangat padanya.

"Ohayou, Hinata."

"Ohayou, Naruto-kun."

Sang mentari pagi mengintip malu-malu di ufuk timur menatap dua sosok manusia yang memberikan senyuman hangat satu sama lain.

"Masuklah."

oOo TBC oOo

Yey, udah update lagi ^^

Btw apa Cand updatenya kekilaten ya? Tlg review tntg jalan ceritanya ya, readers. Cand pengen tahu jalan ceritanya aneh apa gimana gitu.

Doa Cand kali ini semoga fic ini jadinya bagus dan berkenan di hati readers.

*perasaan doanya Cand dari dulu itu-itu mulu :p

Baiklah Cand mau titip salam buat close to you : "Cand biasanya updatenya 2 hari sekali kayak mandi, Hehehe."

Buat Guest : " Ini Chap 5 udah Naruhina banyak loh :D"

Buat readers semua : "Arigatou gozaimasu buat review2 positifnya ^^. Oya sebenarnya ficnya Cand ada rahasia-rahasiaannya loh. Tapi sepertinya Cand gak pandai menyampaikannya ya? Masih sedikit yang reviewnya bahas clue-clue yang Cand kasih. Semoga mulai chap ini jadi lebih terang ya. Haha *apa sih."