BAKTERI CINTA KONOHA
Terungkap!
"Apa kau yakin Sai akan lewat, Sasuke? Kita sudah menunggu lebih dari 1/2 jam disini." Gerutu Naruto yang sibuk menggambar bulatan-bulatan abstrak di atas tanah berpasir tempatnya berjongkok.
"Hn." Jawab Sasuke yang berdiri di sampingnya dengan bersidekap. Wajah Sasuke boleh terlihat tenang, namun sebenarnya hati Sasuke mulai meragukan deduksi yang dibuatnya.
"Bukankah rumah Sai ke arah sebaliknya?" Tanya Naruto yang baru menyadari kejanggalan tempat mereka mencegat Sai. Sasuke bergeming mendengar gerutuan Naruto yang tak ada habisnya.
"Ayo pulang saja, Sasuke!" Naruto berdiri cepat. Sasuke tak bergerak sedikitpun dari posisinya.
"Sasuke! Ayo pergi dari sini! Aku lelah menunggu!" Naruto melempar kayu alatnya menggambar ke sembarang arah.
"Kau cerewet sekali seperti Sakura!" Sindir Sasuke tak tahan lagi.
"Cerewetpun, kau suka padanya." Balas Naruto.
"Apa yang kalian lakukan disini?" Seorang pemuda berkulit pucat tiba-tiba sudah berdiri di depan Sasuke dan Naruto yang saling memandang dengan tatapan membunuh satu sama lain.
"Heh? Kau benar-benar lewat sini, Sai?!" Heran Naruto. Sasuke menyeringai penuh kemenangan. Setidaknya kehadiran Sai mengukuhkan kepintarannya membuat sebuah deduksi.
"Sai! Kami butuh bantuanmu." Kata Sasuke lansung pada intinya.
"Bantuanku? Untuk apa?" Tanya Sai tak mengerti.
"Apa yang kau sembunyikan di belakang punggungmu, Sai?" Tanya Naruto menginterupsi Sasuke.
"Tidak ada," Sai membuat sebuah senyum palsu. Sasuke melirik tangan Sai yang tertekuk ke belakang.
Sret.
Sai memutar tubuhnya cepat. Tanpa disadari Sai, Naruto sudah membuat sebuah bushin yang menyelinap ke belakang punggung Sai.
"Naruto! Kembalikan!" Panik Sai dengan wajah tersipu.
"Apa ini? Cara merayu wa…" Belum selesai Naruto membaca judul buku Sai, Sai sudah lebih dulu merebut kembali bukunya.
"Jangan sembarangan mengambil barang orang, Naruto!" Protes Sai.
"Hahahaha, aku tak tahu kau sampai harus membaca buku hanya untuk merayu Ino, ttebayou!" Naruto tertawa terbahak-bahak dengan menumpukan satu tangannya pada Sasuke, sementara tangan Naruto yang lain sibuk memegangi perutnya yang sakit akibat tertawa yang tak kunjung berhenti.
Sai semakin tersipu malu mendengar tawa besar Naruto. Malu sekali ketahuan oleh rekan satu timnya tentang kelemahannya merayu wanita. Sai melirik Sasuke yang tak mengeluarkan suara tawa sedikitpun. Sai berfikir Sasuke lebih dewasa dengan tak menertawakan kelemahan rekannya. Tapi ternyata Sai salah besar. Sasuke membuang wajahnya ke samping untuk menyembunyikan ekspresi anehnya karena mati-matian menahan tawa.
"Hahh…" Sai menghela nafas berat. Cepat-cepat dimasukkannya buku yang baru dibelinya dalam perjalanan pulang misi dari perbatasan Konoha ini ke dalam tas kecil di pinggangnya.
"Berhenti tertawa! Atau aku tak mau membantu kalian!" Ancam Sai.
"Hahahahaha…" Naruto tak merasa takut sedikitpun dengan ancaman Sai.
.
.
Sai melukis 3 ekor tikus hitam di atas media khusus untuk menggambar jutsunya. Sai mengangkat sebelah tangannya dan mulai merapalkan nama jutsunya.
"Ninpou Chouuju Giga,"
Ketiga ekor gambar tikus hitam bangkit menjadi tikus sungguhan yang segera berbaris rapi di depan Sasuke yang membagikan gulungan kecil berisi jadwal misi di perbatasan pada anggota tim 8 dan tim 10.
"Kenapa hanya 3 ekor, Taichou?" Tanya Sai tak mengerti karena seingat Sai rookie konoha berjumlah 12 orang.
"Tanya orang bodoh di sampingku." Jawab Sasuke melirik Naruto yang memasang wajah sebal pada Sasuke.
"Shikamaru tak perlu karena dia yang membuat jadwal misi. Tim 7 sudah terwakili oleh aku dan Sasuke. Besok kita akan berangkat misi, Sai! Kau mulai sekarang akan berjaga di perbatasan sebagai anggota tim 7, bukan sebagai ANBU." Jelas Naruto.
"Tim 8 biar aku yang memberitahu Hinata sendiri." Naruto menggaruk-garuk pipi berkumisnya dengan telunjuk kanannya.
"Sakura-chan biar si brengsek ini yang memberitahunya."
"Dan Ino aku serahkan padamu," Naruto sepertinya sudah melupakan buku merayu Sai karena wajahnya terlihat serius saat menjelaskan keadaan pada Sai.
"Jadi kita hanya perlu memberitahu Shino, Kiba, dan Chouji." Naruto menghitung dengan jarinya dan menunjukkannya tepat di depan iris obsidian Sai.
"Tim Gai belum kembali dari Kumogakure." Tambah Sasuke. Sai menganggukkan kepala mengerti.
"Aku akan menunggu kalian di bukit belakang desa." Sai berbicang dengan ketiga tikusnya yang dijawab dengan suara cicitan. Setelah melihat Sai mengangguk, ketiga tikusnya segera menyebar ke tempat Chouji, Shino dan Kiba berada untuk menyerahkan gulungan kecil, yang berada dalam gigitan tikus-tikus kecil Sai.
"Baiklah, Taichou. Aku sudah menyelesaikan tugasku. Bolehkah aku pergi sekarang?" Tanya Sai pada Sasuke yang menatapnya tajam. Sejak Kakashi terpilih menjadi Rokudaime Hokage, Uchiha Sasuke dipilih oleh rekan-rekannya untuk menggantikan posisi Kakashi sebagai kapten tim 7.
"Hn." Sasuke tak berani membuka mulutnya karena takut tak mampu menahan tawa geli yang tersembunyi di balik iris onyxnya.
Sai segera melompat pergi, meninggalkan suara tawa Naruto yang kembali menggema, namun untuk kali ini sudah bercampur dengan suara tawa Sasuke.
"Semoga berhasil, Sai!" Teriak Naruto di sela tawanya yang sedikit mereda.
Sreeet.
Naruto tanpa aba-aba melompat pergi. Sasuke sedikit terperanjat. Dipandangnya Naruto yang melompat sembari menatapnya.
"Aku akan memberitahu Hinata sekarang, Sasuke!" Teriak Naruto sebelum mempercepat lompatannya agar tak tertangkap Sasuke.
"Sial! Dia meninggalkanku sendirian!" Umpat Sasuke.
oOo oOo oOo
Fiuh, fiuh, sluurp…
Gaara dan Shikamaru yang tak mengejar Sasuke dan Naruto akhirnya memutuskan untuk makan ramen berdua di warung Paman Teuchi.
"Kau mau tambah ramennya, Gaara?" Tawar Shikamaru melirik mangkok ramen Gaara yang sudah kosong. Sepertinya baru pertama kali Gaara merasakan ramen Paman Teuchi yang menjadi favorite Naruto.
"Bolehkah?" Tanya Gaara tak yakin.
"Ya, jika kau mau." Jawab Shikamaru.
Gaara baru saja mengangkat tangannya untuk memesan ramen keduanya, saat suara wanita dewasa yang berat dan tegas menegurnya.
"Gaara!" Shikamaru dan Gaara refleks menoleh ke belakang menatap seorang wanita berkuncir 4 dan seorang laki-laki berambut coklat, yang sejak perang dunia keempat berakhir tak lagi membuat cemong wajahnya sendiri.
Temari melangkahkan kakinya dengan cepat dan berdiri di depan Shikamaru dan Gaara yang menatapnya sedikit ngeri.
"Bukankah Nee-san sudah bilang jika urusanmu di kantor Hokage selesai, segera pulang dan beristirahat?!" Temari berkacak pinggang di depan Gaara.
"Hey, Temari. Gaara sudah dewasa, jangan berlebihan." Shikamaru mencoba membela adik ipar yang bahkan lebih tua dari Shikamaru itu.
"Diam kau, Nara Shikamaru!" Temari ganti menatap garang Shikamaru.
"Apa kau tahu Gaara sedang sakit?!" Suara Temari mengeras namun masih terasa nada khawatir pada suaranya. Shikamaru melirik Gaara yang menatapnya dengan pandangan tanpa dosa.
"Dia terlihat baik-baik saja." Shikamaru memutar bola matanya bosan.
"Gaara, kau sudah memesan ramennya?" Bisik Kankorou menghiraukan pertengkaran Temari dan Shikamaru.
"Belum. Kau ingin makan juga, Nii-san?" Tawar Gaara.
"Shikamaru yang membayar." Putus Gaara tanpa seizin Shikamaru.
"Benarkah?" Mata Kankorou berkilat senang.
"Pesankan untukku juga." Kankorou mengambil tempat duduk di samping Gaara yang kebetulan kosong. Gaara mengangguk. Mengangkat sebelah tangannya, dan saat Ayame menatapnya, Gaara memamerkan jari tengah dan jari telunjuknya. Ayame mengangguk mengerti. Hanya butuh waktu tak lebih dari 5 menit bagi Gaara dan Kankorou untuk dapat menikmati ramen masing-masing.
"Itadakimasu." Kankorou dan Gaara mengucapkannya dengan lirih mengabaikan pertengkaran Shikamaru dan Temari yang masih berlanjut.
"Kau tidak ingat bagaimana manjanya dirimu saat sakit?" Sindir Temari.
"Hey, kau tak ikhlas merawatku?!" Sengit Shikamaru.
"Salah sendiri kau membuat adik kecilku berkeliaran dijalan saat sedang sakit!" Temari bersidekap dan membuang wajahnya kesamping tak mau menatap wajah kesal Shikamaru.
"Bagaimana jika dia sakit perut terlalu banyak makan ramen?!" Urat kesal Shikamaru mulai nampak jelas mendengar alasan Temari yang terlalu berlebihan dan sedikit tak masuk akal menurut Shikamaru.
"Apa yang salah dengan makan banyak ramen? Kau sendiri sanggup menghabiskan dango berpuluh-puluh tusuk!" Balas Shikamaru.
"Owh, jadi kau tak ikhlas mentraktirku?!" Sengit Temari.
"Gaara, ramennya enak sekali, ya?" Bisik Kankorou.
"Hn." Jawab Gaara di sela suapannya.
"Mendokusai," Shikamaru memijit-mijit keningnya frustasi.
"Kenapa kita bertengkar sih, Temari?!" Greget Shikamaru tak mengerti.
oOo oOo oOo
Seorang gadis bersurai merah muda panjang menatap pintu rumah Rokudaime Hokage dengan pandangan nanar. Hatinya bergemuruh hebat. Matanya terasa sangat panas.
"Kau masih ingin bilang rencanaku ini konyol?"
"Baiklah-baiklah. Kau menang dengan bakteri cinta konyolmu itu."
Sakura menggelengkan kepala beberapa kali, mencoba mengusir suara Naruto dan Sasuke yang masih berputar-putar dalam otaknya.
'Shinobi tak boleh terpengaruh oleh perasaannya,' Gadis beriris emerald itu menghela nafas panjang.
"Aku harus memastikan semuanya." Tekad Sakura.
Ting Tong. Ting Tong.
Haruno Sakura menekan bel rumah Rokudaime Hokage dengan tangan bergetar menahan emosi yang bercampur aduk dalam hatinya.
"Tunggu sebentar…" Sakura dapat mendengar teriakan seorang wanita dewasa dari dalam rumah.
'Kami-sama, semoga semua yang aku dengar tadi hanyalah mimpi.' Doa Sakura dalam hati.
.
.
"Maaf ya, Sakura. Aku hanya bisa menyuguhkanmu secangkir ocha." Kata Shizune sungkan.
"Aku yang minta maaf karena membuatmu repot, Shizune-san." Sakura tersenyum tipis.
"Ada perlu apa kau kemari? Seingatku baru kemaren malam kau ke rumahku." Tanya Shizune heran, sembari mengambil duduk di depan Sakura.
"Ya, aku tahu itu." Jawab Sakura.
"Kau baik-baik saja, Sakura?" Shizune memasang wajah khawatir mendengar jawaban singkat Sakura yang tak biasa.
"Ya. Tak ada hari yang lebih baik dari hari ini." Bohong Sakura. Shizune menghela nafas.
"Maaf ya aku tak bisa menemani latihan kalian lagi. Kakashi-kun entah kenapa melarangku keluar rumah sejak sekitar 2 minggu yang lalu." Cerita Shizune dengan ekspresi mengingat-ingat sesuatu.
'Sekitar dua minggu yang lalu?' Sakura mengerutkan keningnya. Tangannya mencengkram ujung roknya erat.
'Kami-sama, semoga tidak benar apa yang aku pikirkan.' Sakura menggigit sedikit bibir bawahnya.
"Ano, Shizune-san. Kemarin malam saat aku dan Ino berkunjung, apa kau ingat apa yang kita bicarakan?" Tanya Sakura.
"Eh? Bukankah sebelum sempat bicara kalian segera pulang karena aku pingsan?" Shizune membalik pertanyaan Sakura dengan bingung. Sakura berusaha sekuat tenaga menahan air matanya.
"Apa Sensei yang mengatakannya padamu, Shizune-san?" Sakura mencoba memastikan.
"Ya. Kakashi-kun bilang jika aku tiba-tiba pingsan di dalam kamar." Jawab Shizune. Sakura menatap Shizune tak percaya selama beberapa saat sebelum menundukkan kepala merah jambunya, Shizune dapat melihat sedikit seringai yang dibuat Sakura.
"Hahahahahaha," Sakura yang tertawa tiba-tiba mengagetkan Shizune.
"Kau kenapa, Sakura?" Tanya Shizune sedikit takut.
"Haha." Sakura menghapus beberapa butir air mata yang menggantung di sudut mata kanannya.
"Tak apa, Shizune-san." Sakura menggelengkan kepala.
"Aku hanya tiba-tiba ingat sesuatu yang lucu." Bohong Sakura.
"Jadi, Shizune-san. Apa kau juga tidak pernah merasa pernah bertemu denganku, Ino, Tenten, dan Hinata di kedai dango?" Tanya Sakura lagi. Shizune menaikkan sebelah alisnya.
"Tidak." Shizune menatap Sakura bingung.
"Baiklah Shizune-san. Tolong jangan bilang Kakashi Sensei aku baru saja bertamu." Pinta Sakura.
"Onegai!" Sakura menangkupkan tangannya benar-benar memohon.
"Kenapa aku tidak boleh mengatakannya pada Kakashi-kun, Sakura?" Tanya Shizune.
"Sepertinya Kakashi Sensei, Sai, Sasuke-kun, dan Naruto ingin memberi kejutan padaku. Aku ingin mengagetkan mereka dengan kejutan balasan dariku." Bohong Sakura. Sakura mengedipkan sebelah matanya pada Shizune dengan ekspresi yang dibuat sangat ceria. Padahal baru beberapa hari yang lalu Sakura mengatakan pada Tenten jika Sakura membenci ekpresi khas Rock Lee itu.
"Kau tak membohongiku kan, Sakura?" Curiga Shizune.
"Kapan aku pernah berbohong padamu, Shizune-san?" Sakura mengulum senyum palsu yang banyak dipelajarinya diam-diam dari Sai.
Shizune menghela nafas. Sebenarnya Shizune ingin mengatakan pada Sakura jika Sakura tak begitu pandai berbohong di depan Shizune yang sudah bertahun-tahun menganggap Sakura sebagai adiknya sendiri, apalagi Kakashi terlihat begitu menyayangi murid beriris emerald cerah ini. Namun entah kenapa, hati kecilnya sebagai sesama wanita memerintahkan otaknya untuk berpura-pura tidak menyadari kebohongan Sakura.
"Sebentar lagi Kakashi-kun akan pulang , Sakura." Ucap Shizune setelah melihat jam di atas Sakura.
"Eh benarkah?" Sakura segera berdiri dari duduknya.
"Kalau begitu aku pamit dulu, Shizune-san." Sakura menundukkan sedikit kepalanya.
"Soal kehamilanmu, omedettou." Sakura mengukir sebuah senyuman tulus.
"Arigatou, Sakura." Jawab Shizune.
Sakura berbalik cepat dan segera berjalan keluar pintu dengan Shizune yang mengekor di belakangnya.
Cklek. Blum.
"Hahhh…" Shizune menghela nafas berat saat Sakura tak berbicara lagi sepatah katapun sebelum menutup pintu rumahnya. Sakura, gadis musim semi itu, mungkin terlihat tegar diluar. Namun Shizune tahu jika sebenarnya Sakura hanyalah gadis rapuh seperti wanita kebanyakan.
Sakura menyandarkan dirinya sejenak pada pintu rumah Kakashi. Sakura memelorotkan tubuhnya dan memeluk erat kedua kakinya yang tertekuk, berusaha meredam suara tangisnya yang sudah tak sanggup di tahannya lagi.
"Huhuhu, Sasuke-kun."
'Tak cukupkah semua pengorbananku menekan dalam-dalam rasa sedih dan kecewaku selama ini, Sasuke-kun?'
'Kenapa kau senang sekali meninggikan hatiku untuk menjatuhkannya lebih dari yang sanggup aku tahan?'
Terlalu dalam luka yang dibuat Sasuke kali ini. Sakura merasa kata "sakit" tak mampu lagi menggambarkan perasaannya yang terluka oleh kebohongan yang dibuat Sasuke. Walau mungkin bagi orang lain, kebohongan seperti ini bisa dimaklumi dan dimaafkan dengan mudah, entah bagi Sakura. Sakura sendiri tidak mengerti, dari sekian banyak cara Sasuke menyakiti hatinya selama ini, kali ini rasa sakitnya terasa lebih menyakitkan dari sebelum-sebelumnya.
Semua sikap manis Sasuke, semua senyuman malu-malu Sasuke, sebait kata cinta Sasuke, semua hal mengenai Sasuke yang mampu membuat gadis musim semi ini tertawa sebelumnya, berubah menjadi kenangan mampu menguras gudang air mata dalam iris emeraldnya.
"Sakura…" Lirih Shizune. Shizune yang ternyata masih belum beranjak dari depan pintu merasa bisa mendengar suara tangis tertahan Sakura.
oOo oOo oOo
Tap.
Hinata yang sedang dalam perjalanan pulang dari akademi Konoha menuju rumahnya, terlonjak kaget saat Sakura tiba-tiba sudah berdiri di depannya dengan mata sedikit sembab.
"Sakura-san?" Pekik Hinata kaget.
"Apa yang terjadi denganmu?" Kali ini Hinata mengkhawatirkan mata emerald Sakura yang terlihat sembab.
"Kita ditipu, Hinata!" Jawab Sakura dengan nada datar.
"Apa maksudmu, Sakura-san?" Tanya Hinata tak mengerti.
"Bakteri cinta hanya sebuah kebohongan." Jawab Sakura langsung pada intinya.
"Sasuke, Sai, dan Naruto menipu kita mentah-mentah." Tambah Sakura.
Mata Hinata melebar. Otaknya segera menangkap pesan dalam kalimat terakhir Sakura. Namun hati Hinata masih menolak untuk sependapat dengan otaknya.
"Aku tak mengerti," Lirih Hinata setelah terdiam beberapa lama.
"Aku akan menceritakan semua padamu." Kata Sakura dengan wajah sangat serius.
Sakura segera menceritakan semua obrolannya bersama Shizune beberapa saat lalu. Hinata mendengarkan dengan seksama. Hinata meremas kuat-kuat ujung jaket ungu sebelah kanannnya saat Sakura menyelesaikan ceritanya.
"Jadi, apa yang akan kita lakukan, Sakura-san?" Tanya Hinata yang masih mempertahankan wajah terkejutnya.
"Aku akan kerumah Ino." Jawab Sakura.
"Kau mau ikut denganku, Hinata?" Tawar Sakura.
"Hm?" Sakura yang sudah sejak awal mengaktifkan cakra pelacaknya untuk berjaga-jaga, merasakan keberadaan cakra Naruto yang semakin jelas.
"Naruto, dia akan kemari. Sebaiknya aku pergi. Kau bisa menyusul ke rumah Ino sendirian kan, Hinata?" Tanya Sakura cepat.
Segera setelah Hinata menganggukkan kepala sebagai persetujuan, Sakura melompat pergi.
"Byakugan," Hinata kembali berjalan normal dengan byakugannya yang aktif untuk mengawasi Naruto yang ternyata diam-diam mengikutinya, saat Naruto lama tak kunjung melompat turun dari atas pohon tempatnya mengawasi Hinata.
'Kenapa Naruto-kun harus mengikutiku diam-diam?; Pikir Hinata dalam hati.
oOo oOo oOo
Seorang gadis bersurai biru gelap memandang dalam diam sebuah kalung dengan simbol klan Uzumaki sebagai gandulnya, yang tak sengaja terlihat oleh mata amethysnya yang sudah kembali normal.
Cukup lama Hinata berdiri diam di depan kalung berbandul banyak simbol klan di Konoha itu. Mungkin mata lahir Hinata terlihat memandang kalung yang banyak menggantung di tempatnya, namun sebenarnya pikiran Hinata melayang ke belakang hari menggali ingatannya satu per satu sejak agresi bakteri cinta dimulai.
Tak pernah sedikitpun Hinata menaruh curiga pada Naruto, Sasuke, bahkan Sai yang ternyata begitu pintar berakting, seolah-olah efek dari bakteri cinta itu benar-benar ada.
'Jadi, apa semua sikap manis mereka hanya sebuah kebohongan juga?' Pikir Hinata.
Hinata menggigit sedikit bibir bawahnya saat kembali mengingat senyum dan tawa bahagia teman-teman kunoichinya ketika mereka berfikir bahwa efek bakteri cinta benar-benar bekerja.
Mungkin pada awalnya Hinata merasa iri dengan ketiga teman kunoichinya yang tak sedikitpun ingin menyembunyikan kebahagiaan mereka. Namun jika semua kebahagiaan itu dibuat diatas sebuah kebohongan, Hinata sedikit bersyukur Naruto tak membuat kebahagiaan yang sama untuknya.
'Apa semua ekspresi yang Naruto-kun tunjukkan padaku, dan semua kedekatan kita beberapa hari ini juga sebuah kebohongan?' Hinata merasakan sesak di dadanya. Kali ini bukan karena latihannya sebagai Miko, karena rasa sesaknya sekarang mampu membuat mata amethys Hinata terasa panas.
'Naruto-kun, apa salahku padamu?'
'Aku tak pernah berfikir sedikitpun kau akan melakukan hal sejauh ini, Naruto-kun.'
'Hanya untuk menggapai hatimu, haruskah aku merasakan sakit hati yang seperti ini?'
"Apa kau jadi membeli kalung ini, Nona?" Sebuah pertanyaan dari penjual kalung menyadarkan Hinata dari lamunannya.
"Kau sudah memandangnya lebih dari 30 menit."
"Atau jika kau tidak suka, kami masih memiliki kalung dengan bandul klan Hyuuga di dalam." Tawar paman penjual kalung. Hinata menatap paman penjual kalung tak enak hati.
"Gomenasai, aku hanya ingin melihat saja, Ojii-san." Tolak Hinata.
"Baiklah jika begitu, aku permisi." Pamit paman penjual kalung tanpa sedikitpun merasa kesal pada Hinata.
"Hahh…" Hinata menghela nafas berat.
Hinata memutuskan untuk beranjak pergi karena tak enak hati pada paman penjual kalung. Hinata masih berpura-pura tak menyadari sepasang iris safir yang mengamatinya sejak tadi dari atas sebuah pohon tak jauh dari tempatnya berdiri diam. Saat Hinata sudah berjalan sedikit jauh, pemilik mata langit itu melompat turun.
"Ojii-san." Panggil Naruto pada paman penjual kalung.
"Ya, tunggu sebentar." Jawab paman penjual kalung.
"Ada ap.. oh! Naruto-kun!" Pekik paman penjual kalung gembira atas kedatangan sang pahlawan Konoha yang sangat jarang bisa ditemuinya.
"Konbanwa, Ojii-san," Naruto tersenyum kikuk.
"Konbanwa, Naruto-kun," Balas paman penjual kalung antusias.
"Tumben sekali kau mampir, Naruto-kun. Ada yang ingin kau beli?" Tanya paman penjual kalung kemudian.
"Ya, begitulah. Hehe." Naruto nyengir rubah.
"Hmm, apa yang gadis Hyuuga tadi ingin beli, Ojii-san?" Tanya Naruto basa-basi.
"Apakah dia kekasihmu?" Tanya paman penjual kalung penuh selidik.
"Haha, ya, begitulah." Naruto tertawa kikuk.
"Sepertinya kekasihmu yang cantik itu ingin membelikanmu hadiah, Naruto-kun." Cerita paman penjual kalung.
"Dia berdiri lama memandang kalung berbandul aneh ini," Paman penjual kalung menunjukkan sebuah kalung dengan bulatan yang tak diketahui oleh paman penjual kalung adalah lambang klan Uzumaki.
"Aku sudah menawarkan kalung dengan bandul Hyuuga tapi dia menolaknya juga. Aku jadi tidak mengerti apa yang dipikirkannya, karena kekasihmu berdiri lama di sini." Jelas Paman penjual kalung panjang lebar.
'Itu juga yang ingin aku ketahui, Ojii-san.' Kata Naruto dalam hati. Naruto mengulurkan tangannya untuk menyentuh kalung dengan bandul klan ibunya.
"Ojii-san, bolehkan aku minta tolong padamu?" Tanya Naruto.
"Tentu saja, Naruto-kun." Jawab paman penjual kalung segera.
"Tolong simpan kalung dengan bandul Uzumaki ini dan bandul Hyuuga sampai aku punya uang untuk membayarnya, Jii-san." Pinta Naruto.
.
.
Naruto yang diam-diam membuntuti Hinata mengerutkan keningnya. Sebelum sampai di depan rumah, Hinata tiba-tiba berhenti berjalan dan berdiri diam. Surai biru gelapnya dibiarkan sang pemilik byakugan dipermainkan angin malam musim semi.
Naruto tak menyadari jika Hinata sejak lama kembali mengaktifkan byakugannya untuk mengecek keberadaan Naruto yang ternyata masih memilih untuk membuntutinya diam-diam.
'Apa perasaanku, tak sedikitpun memiliki arti bagimu, Naruto-kun?'
"Hiks… Hiks… Hiks…" Hinata tak dapat menahan lagi air matanya. Hinata menyembunyikan rapat-rapat sepasang iris amethysnya dibalik kegelapan untuk memeras semua air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
"Hiks… Hiks… Hiks…" Tak ada kata yang diucapkan Hinata sedikitpun selain isakan tangisnya. Kedua tangannya tergenggam erat satu sama lain menutupi sederet gigi putihnya yang dikatupkan erat demi menekan suara isakannya.
Naruto ingin sekali melompat turun dan bertanya apa yang terjadi pada gadis indigonya. Namun kaki Naruto entah kenapa seperti terpasang perekat yang kuat hingga sang Jinchuuriki hanya bisa puas memandang gadis indigonya yang menangis tanpa sebab yang jelas. Tapi apapun alasannya, pasti Hinata baru saja mengalami sesuatu yang buruk.
'Ada apa dengannya? Apa sesuatu yang buruk terjadi padanya?' Tanya Naruto pada dirinya sendiri.
Naruto sebenarnya berencana untuk membuat kejutan pada gadis indigonya dengan melompat tiba-tiba di depan sang gadis lalu menculiknya sebelum gadis itu sempat menyentuhkan kaki di pekarangan rumahnya. Naruto ingin menyatakan cintanya dengan cara romantis seperti ayahnya, seperti yang pernah diceritakan Kushina padanya. Namun sepertinya Naruto harus menunda rencananya kali ini.
'Aku harap dia tak menangis karenaku.' Doa Naruto dalam hati.
oOo oOo oOo
"Sakura?" Sasuke menatap heran pada seorang gadis bersurai merah jambu yang bersandar dalam diam menatap langit malam Konoha di depan pintu pagarnya.
Sasuke baru kembali ke rumahnya setelah jalan-jalan sejenak di desa dan berkunjung ke rumah Kiba karena tak tahu harus menghabiskan waktu dimana. Sasuke bahkan rela diminta bantuan oleh Kiba untuk memandikan Akamaru, karena Kiba sendiri sibuk menemani tikus Sai yang masih belum kembali pada Sai untuk berbincang-bincang tentang populasi kucing yang semakin banyak berkeliaran di Konoha.
Sakura yang menangkap suara berat Uchiha Sasuke menolehkan kepala cepat. Iris emerald indahnya segera tersembunyi saat pemiliknya membuat sebuah senyuman lebar.
"Okaerinasai, Sasuke-kun." Sapa Sakura dalam balutan senyum.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Sasuke tanpa basa-basi, tak terpengaruh oleh senyum yang dibuat Sakura.
"Heeeh… kenapa kau tak bersikap manis lagi padaku, Sasuke-kun." Sakura mendorong tubuhnya dengan tangannya yang sudah terpasang sarung tangan hitam, membuat Sasuke mengerutkan keningnya waspada.
"Aku baru saja berlatih jutsu baru dengan Tsunade-sama." Jelas Sakura setelah menyadari arah pandangan Sasuke pada sarung tangan hitamnya.
Sebuah kebohongan kembali dibuat Sakura tanpa tahu jika Sasuke menyadari kebohongannya. Latihannya dengan Tsunade sudah selesai dengan cepat karena Tsunade bilang ada urusan di kantor Hokage.
Setelah bertemu Hinata, Sakura pergi ke gunung tempat kepala Hokage tercetak untuk memecah belah batu-batu besar disana demi meluapkan semua kekecewaannya hingga tangannya berdarah. Untung saja Sakura seorang medic-nin, jadi Sakura bisa segera menyembuhkan lukanya sendiri sebelum menemui Sasuke. Satu hal yang tak diketahui Sakura adalah bahwa Sasuke ada di kantor Hokage saat Tsunade masuk ke dalam ruangan.
"Kau tahu, Sasuke-kun?" Sakura berjalan pelan mendekati Sasuke yang masih memasang ekspresi waspada bahkan kepada gadis musim seminya, membuat inner Sakura tersenyum miris.
"Aku baru selesai latihan dan aku lelah sekali." Sakura mengatakannya dengan suara lembut.
"Tapi aku merindukanmu." Sakura menghentikan langkahnya tepat di depan Sasuke yang tak berkomentar sedikitpun.
"Karena itu aku lebih memilih menunggumu seperti yang selama ini aku lakukan." Sakura membuat senyum palsu yang apik. Sementara Sasuke tertohok hatinya mendengar ucapan Sakura.
Grep.
Sakura memeluk Sasuke yang tak membalas pelukannya.
"Sasuke-kun." Lirih Sakura di dekat telinga Sasuke.
"Seharusnya kau tahu bagaimana aku sangat mencintaimu." Sakura mengeratkan pelukannya pada Sasuke yang masih tak bergerak sedikitpun.
oOo oOo oOo
"Ayo kita pulang, Sai-kun." Bujuk Ino untuk yang kesekian kalinya pada Sai yang tak beranjak sedikitpun dari duduknya.
"Aku sedang menunggu. Duduklah sebentar lagi, Ino." Tolak Sai untuk yang kesekian kalinya juga.
"Kita sudah menunggu selama 1 jam lebih, Sai-kun!" Kesal Ino.
"Sebenarnya siapa yang kita tunggu?!"
"Tidakkah kau lelah? Kau bilang besok giliran tim 7 berjaga di perbatasan. Kau harus beristirahat, Sai-kun!" Cerocos Ino tanpa henti. Sai tersenyum. Kali ini bukan senyum palsunya yang biasa.
Cit. Cit. Cit.
Telinga Sai dan Ino menangkap suara cicitan tikus. Sai tanpa membuang banyak waktu segera menggelar media gambar khususnya. Ketiga tikus hitam yang telah berhasil melaksanakan misi mengantar jadwal jaga di perbatasan kepada anggota tim 8 dan tim 10 segera kembali menjadi sebuah gambar tak bernyawa dalam media gambar khusus Sai, setelah melaporkan keberhasilan misi mereka pada Sai.
Sai menggulung media gambarnya dan memasukkannya ke dalam tas pinggangnya. Urat di kening Ino berkedut kesal.
'Jadi aku harus menunggu satu jam lebih hanya untuk tiga ekor tikus?!' Rutuk Ino dalam hati.
"Ayo. Aku akan mengantarmu pulang terlebih dulu."
Melihat senyum tulus Sai yang tak biasa, Ino memutuskan untuk meredam kekesalannya seorang diri saja. Sai dan Ino kemudian melompat berdampingan menuju rumah keluarga Yamanaka.
.
.
"Hati-hati dijalan, Sai-kun," Ino tak bisa berhenti mengembangkan senyum bahagianya.
"Ya." Sai mengangguk. Detik selanjutnya Sai sudah tak berada di depan Ino tanpa peringatan.
"Heh?!" Ino sedikit kaget.
"Dasar ANBU!" Ino menggelengkan kepala pirangnya.
Tangan Ino baru saja menyentuh kenop pintu toko bunganya yang menjadi satu dengan rumah keluarganya, saat Ino mendengar suara kaki seseorang yang menghentak tanah. Naluri Ino sebagai seorang kunoichi membuatnya bergerak cepat memutar tubuh.
"Sakura?" Ino mengerutkan kening atas kehadiran sahabat sejak kecilnya yang datang dengan cara tak biasa.
"Aku akan menceritakan sesuatu padamu, Ino." Ucap Sakura penuh rahasia.
oOo oOo oOo
"Aku tak percaya mereka bertiga tega mempermainkan perasaan kita," Gumam Ino.
Sakura sempat berfikir Ino akan menangis setelah mendengar cerita Sakura bahwa bakteri cinta hanya ide konyol tiga orang laki-laki yang sangat tak mengerti perasaan wanita.
"Ya." Tanggap Sakura dengan wajah sendu.
"Apa kau ingin aku pergi agar kau bisa menangis, Ino?" Tawar Sakura.
"Jangan konyol, forehead!" Tolak Ino.
"Aku tak akan menangis hanya karena alasan konyol!" Jujur tidaknya Ino dengan pernyataannya, Sakura merasa tersindir.
"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?" Tanya Sakura.
"Kita tunggu Tenten pulang," Usul Ino.
"Kenapa harus menunggu Tenten?" Tanya Sakura tak mengerti.
"Jika memang bakteri cinta hanya kebohongan konyol tiga laki-laki itu, kenapa Neji dan Shikamaru bersikap seolah-olah efeknya benar-benar terjadi?" Tanya Ino balik pada Sakura.
"Apa mereka juga terlibat dalam rencana konyol tiga laki-laki tak berperasaan itu?"
"Entahlah." Sakura mengendikkan bahu.
"Tapi kita tak perlu menunggu 3 hari lagi sampai Tenten pulang misi, Ino." Tolak Sakura.
"Kita hanya harus mencari informasi dari pelakunya."
"Bagaimana caranya?" Tanya Ino tak mengerti. Sakura memandang Ino kesal.
"Tentu saja dengan jutsu pembaca pikiranmu, Ino-PIG!" Teriak Sakura keras-keras tepat di gendang telinga gadis cantik bersurai pirang itu.
"Hey! Biasa saja, JIDAT!" Balas Ino tak terima.
"Kapan kita akan melakukannya? Bukankah besok kau bertugas di perbatasan?"
"Eh, benarkah?" Tanya Sakura.
"Ya, Sai baru saja menceritakan padaku tentang tim 7, tim 8, tim 10, dan tim Gai yang mendapat misi untuk menjaga daerah perbatasan sampai festival bunga dimulai." Jelas Ino.
"Dan besok giliran tim 7 yang berangkat misi, Sakura." Tambah Ino.
"Aneh sekali, Sasuke-kun, tak mengatakan apapun padaku." Heran Sakura.
"Lupakan! Saat Hinata datang, kita akan menyusun rencana." Kata Sakura tegas.
"Hahh…" Ino menghempaskan tubuhnya di atas kasurnya. Mata aquamarinenya terpejam, memutar kembali ingatannya dengan Sai yang baru saja dialaminya.
"Padahal aku dan Sai baru saja merencanakan sesuatu untuk kami lakukan saat festival bunga nanti." Gumam Ino. Sakura menaikkan sebelah alisnya merasa janggal dengan kalimat Ino yang baru diselesaikannya.
"Bukan sesuatu yang mesum kan?" Tuduh Sakura.
"Tentu saja tidak, forehead!" Gerutu Ino tak terima.
"Kami bukan kalian!" Sakura mendengus geli paham dengan sindiran Ino padanya. Sakura ikut menghempaskan tubuh lelahnya di samping Ino.
"Jika semua hal tentang bakteri cinta ini hanya sebuah kebohongan, mereka benar-benar keterlaluan." Gumam Sakura yang menyembunyikan sepasang emeraldnya di bawah lengannya yang bertumpu di atas matanya.
oOo oOo oOo
Naruto merubah posisi tidurnya untuk yang kesebelas kali dalam 10 menit. Iris safirnya tak mau tertutup. Ingatannya akan tangisan gadis indigo yang baru pertama kali dilihatnya sepanjang tahun Naruto mengenal Hinata, membuat dadanya berdebar tanpa sebab yang jelas.
Naruto menenggelamkan diri dalam alam bawah sadarnya. Saat iris safirnya terbuka, Naruto sudah berada di tempat remang-remang yang penuh air. Naruto berlari kecil menciptakan bunyi kecipuk air yang menggema di seluruh tempat minim penerangan tersebut.
Naruto berhenti sejenak menatap sesosok monster rubah berekor 9 yang memejamkan mata dan menumpukan kepalanya nyaman pada lipatan sepasang kaki depannya. Suara dengkuran monster rubah itu terdengar sedikit menyeramkan untuk ukuran orang yang belum pernah mendengarnya.
Naruto mendekati Kurama, monster rubah yang tertidur nyenyak, tanpa merasa takut sedikitpun.
"Kurama, bangun!" Naruto menarik pipi Kurama dengan kuat untuk mengganggu tidur Kurama. Kurama tak sedikitpun membuka mata besarnya, hanya saja dengkurannya sudah tak terdengar lagi.
"Kurama…" Naruto yang sudah melepaskan pipi Kurama berkacak pinggang memikirkan cara untuk membangunkan Kurama. Naruto memutuskan untuk menarik kumis Kurama.
"Aku tak bisa tidur!" Rengek Naruto.
"Bangun dan temani aku berbincang-bincang!" Naruto melepas kumis Kurama karena takut Kurama akan mengamuk jika kumisnya patah oleh tarikan Naruto seperti setahun yang lalu.
"Grrr…" Kurama membuka matanya.
"Sudah aku bilang jangan menarik kumisku, Naruto!" Protes Kurama yang memamerkan gigi-gigi taringnya yang terlihat menyeramkan.
"Hehehehe," Naruto nyengir tak berdosa.
"Maaf, Kurama. Aku tak bisa tidur." Adu Naruto.
Kurama bergeming. Kening Naruto berkedut kesal saat Kurama kembali memasang posisi nyamannya dan kembali menutup mata.
"Hahh…" Naruto menghela nafas kesal.
Tap.
Naruto melompat di atas badan Kurama dan berbaring nyaman. Naruto menatap lurus atap kandang Kurama yang tak jelas ujungnya dan sangat gelap.
"Kurama, ceritakan lagi kisah ayah dan ibuku, ttebayou." Naruto bergumam seorang diri tak mengharapkan lagi tanggapan Kurama yang terdengar kembali mendengkur.
"Aku tak tahu harus bertanya pada siapa tentang gadis itu," lirih Naruto.
.
.
Naruto berdiri di depan pintu rumahnya sendiri dengan tatapan bingung. Tangan Naruto perlahan terulur untuk memutar kenop pintunya dengan perlahan. Saat pintu berhasil terbuka, Naruto seperti melakukan semua gerakannya refleks tanpa perlu berfikir lebih dulu, seperti sebuah kebiasaan.
"Tadaima," Ucap Naruto tak yakin.
"Okaerinasai," Suara ceria seorang wanita terdengar tak asing di telinga Naruto. Naruto berjalan memasuki rumahnya menuju sebuah ruangan yang terang dengan gerakan kaku.
"Kau pulang terlambat, Naruto!" Mata Naruto membulat melihat seorang wanita bersurai merah berkacak pinggang dengan salah satu tangan membawa penggorengan. Entah kenapa Naruto merasakan kerinduan yang membuncah dalam hatinya.
"Kau pasti bermain dulu dengan, Sasuke!" Tebak wanita beriris ungu gelap itu.
"Maaf, Kaa-chan. Tadi Yondaime memberi tim 7 misi dadakan." Naruto membela diri dengan sendirinya, semua serasa diluar kendali Naruto.
Wanita bersurai merah sangat panjang itu, Namikaze Kushina, mengulum sebuah senyum hangat pada Naruto. Wajahnya yang tadi terlihat menyeramkan mulai melembut dan menatap sayang pada Naruto.
"Kau pasti lelah. Duduklah." Kushina memutar tubuhnya untuk meletakkan penggorengan dan membawakan semangkok besar ramen yang masih mengepulkan asap pada Naruto yang sudah duduk manis di atas meja dengan wajah bingung.
"Makanlah. Kau pasti lapar." Perintah Kushina. Naruto tanpa banyak protes mulai meniup ramennya yang masih panas.
Sluurp…
Naruto menyeruput kuah ramennya. Kening Naruto berkerut. Rasa ramen ini tak asing di lidahnya.
"Bagaimana rasanya?" Tanya Kushina. Naruto memandang Kushina masih dengan tatapan bingung.
"Rasanya sama dengan buatan Hinata, bukan?" Naruto kaget mendengar pertanyaan Kushina. Bagaimana Kushina mengenal Hinata? Bukankah Kushina sudah…?
"Naruto," Panggil Kushina seperti memahami wajah bingung anak laki-laki satu-satunya itu.
"Jangan suka membuat Hinata menangis, ttebane."
.
.
"Hah?!" Naruto membuka iris safirnya kasar. Naruto merubah posisinya menjadi duduk di atas punggung Kurama yang masih asyik mendengkur.
"Sial! Lagi-lagi hanya mimpi!" Naruto menjambak sedikit rambut jabrik kuningnya yang sudah terlihat lebih panjang.
"Tapi kenapa aku bisa bermimpi tentang Kaa-chan?" Pikir Naruto.
"Apa aku yang membuat Hinata menangis seperti itu?"
"Siaaaal!"Naruto mengacak-acak kepala jabriknya sedikit frustasi.
oOo TBC oOo
Yupz..
1 Chap berhasil diselesaikan lagi ^^
Semakin mendekati akhir cerita yang semoga tak mengecewakan readers :D
Cand mau titip salam buat Yuan-san : "Eh, dimana letak kesamaan dengan Izanami, Yuan-san? Cand ora paham."
Buat Soputan-san : "Hahaha, yang terakhir bukan mimpi kok."
Buat Mastin-san : "Arigatou Gozaimasu "
Buat Close to you : Hehe, iya. Ceritanya itu mimpi dalam mimpi, You-san. Ya, yang diobrolin Kurama dan Naruto-kun memang tentang Hime. Apa yang dibahas? Wah kasih tahu gak ya… :p"
Buat Phoenix-san : "Jangan bingung, sini2 Cand pegangin "
Buat Guest : " Hehe, iya ceritanya mimpi dalam mimpi. Updatenya udah cepet loh :p"
Buat Guest : "Hehe, Cand juga suka ShikaTema, paporit kedua setelah NaruHina :D"
