BAKTERI CINTA KONOHA

Rahasia Dibalik Bakteri Cinta!

Bruk. Bruk. Bruk.

Sasuke, Sai, dan Naruto jatuh bersamaan di atas meja kecil tempat menyajikan makanan di kedai Yakiniku-Q.

Seorang gadis bersurai pirang dan seorang gadis bersurai biru gelap muncul dari balik asap putih menggantikan keberadaan dua pelayan laki-laki kedai Yakiniku-Q yang baru saja mengantarkan 4 gelas minuman untuk tim 7.

"Cepat gunakan jutsumu, Ino." Perintah Sakura.

"A-apa kau yakin ini akan berhasil, Sakura?" Tanya Ino ragu. Sakura dan Hinata menatap Ino.

"Apa jutsumu ini akan menghabiskan banyak cakramu, Ino-san?" Tanya Hinata khawatir.

"Aku tak tahu, Hinata. Tou-san biasanya menggunakan media khusus yang ada di divisi intel saat dia akan membaca ingatan seseorang." Jawab Ino ragu.

"Aku hanya pernah sekali mencoba jutsu pembaca pikiran ini tanpa media khusus pada seekor kucing." Tambah Ino.

Sakura menatap Hinata. Hinata menggelengkan kepalanya pelan.

"Hahh.." Sakura menghela nafas berat.

"Kenapa baru sekarang kau mengatakannya, Ino?" Keluh Sakura.

"Apa rencana ini kita batalkan saja?" Tanya Sakura kemudian. Ino menatap Sakura dan Hinata bergantian. Kentara sekali rona penasaran akan jawaban Ino pada wajah dua gadis cantik teman kunoichinya ini. Ino menggigit sedikit bibir bawahnya mencoba menghilangkan keraguannya.

"Aku akan mencobanya." Putus Ino yang disambut senyum ceria Sakura.

"Uhm." Sakura mengangguk semangat.

"Tapi jangan memaksakan diri, Ino." Nasehat Sakura. Ino menganggukkan kepala mengerti. Ino berjalan mendekati Sai yang tak sadarkan diri.

"Bantu aku memeganginya, Sakura." Pinta Ino. Sakura beranjak dari duduknya untuk menegakkan badan Sai yang tergolek lemas di atas meja makan.

Ino meletakkan salah satu tangannya di atas rambut hitam Sai. Ino kemudian memejamkan mata, dan saat iris aquamarinenya terbuka, tubuh Ino sudah melayang di depan otak Sai. Ino menyentuh sedikit bagian dari otak Sai. Saat Ino menarik kembali tangannya, gulungan besar keluar dari sana. Gulungan besar tersebut kemudian mulai terbuka dengan cepat. Ino memejamkan matanya kembali untuk menggali informasi dari ingatan Sai.

'Kenapa tak ada satupun ingatan Sai tentang bakteri cinta?' Ino mengerutkan keningnya dengan matanya yang terpejam saat tak sedikitpun rekaman gambar yang muncul dari gulungan besar yang masih terus terbuka cepat sehubungan dengan bakteri cinta.

'Apa jutsuku tidak berhasil?' Pikir Ino.

Cukup lama Ino masih mempertahankan posisinya untuk terus menggali ingatan Sai. Ino membuka matanya karena tak kunjung mendapatkan hasil. Tak ingin lekas menyerah demi kedua temannya, Ino sekali lagi menarik sebuah gulungan besar lain dari dalam otak Sai. Ino lalu kembali memejamkan mata dan mencoba kembali usahanya untuk mencuri ingatan Sai.

.

.

"Apa ini? Jantungku tak bisa berhenti berdebar-debar." Akhirnya usaha Ino membuahkan hasil. Ino melihat sosok Sai yang memegang dada kirinya dengan wajah bingung dalam sebuah kamar. Tak berapa lama kemudian dalam kediamannya, Sai menyentuh bibirnya dengan wajah tersipu.

.

.

"Kau kenapa, Sai?" Kali ini ingatan Sai menampilkan gambar dirinya yang berdiri diam memandang Naruto yang berteriak kesal pada Kakashi yang tertawa geli.

"Sasuke, jatuh cinta itu seperti apa?" Sai dan Sasuke saling memandang dalam diam.

.

.

"Aduh aku lelah sekali." Ingatan Sai kembali berganti. Ino melihat Sai yang berjalan santai dalam balutan baju jounin lengkap, memijit-mijit tengkuknya sendiri.

"Hm?" Sai berhenti di depan toko buku saat iris obsidiannya tak sengaja membaca judul sebuah buku "Cara Merayu Wanita untuk Seorang Pemula". Sai berdiri diam. Tak lama kemudian, rona merah tipis kembali menjalari wajah pucatnya.

.

.

"Hati-hati dijalan, Sai." Wajah Ino yang tersenyum bahagia sepertinya terekam sangat kuat dalam ingatan Sai.

"Ino. Suki da yo"Sai mengulum sebuah senyum tipis.

.

.

Ino membuka iris aquamarinenya, menatap Sakura dan Hinata dengan wajah tersipu dan nafas yang sedikit tersengal.

"Kau baik-baik saja, Ino-san?" Tanya Hinata khawatir.

Ino menganggukkan kepala untuk menjawab pertanyaan Hinata. Ino kemudian menyeret iris aquamarinenya menatap Sai yang berada dalam kuncian tangan mungil Sakura dengan pandangan penasaran.

'Sai-kun. Apa benar semua yang baru saja aku lihat?' Pikir Ino dalam diam.

"Ada apa?" Tanya Sakura. Ditidurkan kembali kepala Sai di atas meja makan.

"Apa yang kau dapatkan, Ino?" Ino hanya menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan Sakura.

"Aku tak bisa mendapatkan informasi sedikitpun tentang bakteri cinta dari Sai-kun." Cerita Ino. Nafas Ino mulai terdengar kembali normal.

"Sepertinya dia mengunci ingatannya. Mungkin saat berada di Root, Sai-kun dilatih jutsu pengunci ingatan." Ino mencoba membuat sebuah kesimpulan.

"Lalu kenapa wajahmu memerah? Kau yakin baik-baik saja?" Tanya Sakura khawatir.

"Jangan pedulikan aku!" Ino mengalihkan pandangannya dari iris emerald Sakura.

"Sekarang siapa selanjutnya?" Ino menatap Sasuke dan Naruto bergantian.

'Sepertinya Naruto lebih mudah digali ingatannya daripada Sasuke,' Pikir Ino.

"Baiklah aku akan membaca ingatan Naruto lebih dulu. Hinata, tolong angkat tubuhnya." Perintah Ino.

"Ha'i." Hinata menarik tubuh Naruto dari atas meja dan menyandarkan kepala jabrik Naruto pada tubuhnya.

Grep.

Sakura memegang erat pergelangan tangan Ino untuk menghentikan langkah yang akan diambil Ino.

"Jawab pertanyaanku, Ino." Paksa Sakura.

"Apa kau baik-baik saja?"

"Ya. Kau tak usah khawatir, forehead." Ino tersenyum tipis merasa senang melihat Sakura yang tak lagi malu-malu menunjukkan rasa khawatirnya pada Ino.

Ino melanjutkan langkahnya yang tertunda. Ino menghirup nafas dalam sebelum meletakkan salah satu tangannya diatas rambut jabrik Jinchuuriki Kyuubi ini. Ino kembali memejamkan mata dan saat iris aquamarinenya terbuka, Ino berada di tempat asing. Tak seperti yang terjadi pada Sai, Ino saat ini berada di sebuah tempat minim penerangan dan yang lebih sial lagi kaki Ino tenggelam dalam air yang banyak menggenang.

Belum selesai Ino menikmati rasa terkejutnya, Ino harus kembali merasakan kejutan besar saat di depannya sosok Kyuubi duduk manis dalam kandangnya dan memandang Ino dengan sepasang mata besarnya.

"Hey, bocah! Apa yang kau lakukan disini?!" Kyuubi memamerkan taring-taring tajamnya pada Ino yang bergetar ketakutan.

"Hah!" Ino yang sudah melepaskan jutsunya segera menjauhkan tangannya dari kepala jabrik Naruto.

"Ada apa?" Tanya Sakura yang kembali was-was melihat wajah pucat Ino.

"Aku tidak mau membaca pikiran Naruto lagi!" Suara Ino terdengar bergetar menahan takut.

"Naruto, sialan!" Umpat Ino.

"Dia membuatku terjebak di dalam kandang Kyuubi." Ino menatap Naruto yang masih tidur dengan kesal.

"Heh? Benarkah?" Tanya Sakura tak percaya.

"Lalu apa kau sempat berkenalan dengan Kyuubi?" Tanya Sakura konyol.

"Bagaimana mungkin aku sempat berfikir untuk berkenalan, JIDAT!" Teriak Ino di depan wajah Sakura.

"Melihatnya saja aku sudah sangat ketakutan!"

"Jangan berteriak-teriak seperti itu! Kau akan menarik perhatian orang lain, PIG!" Sakura membalas teriakan Ino.

Hinata sebenarnya sangat ingin bertanya bagaimana keadaan kandang Kurama di dalam tubuh Naruto. Tapi melihat wajah kesal Ino, Hinata lebih memilih diam dibanding mendapatkan semprotan dari Ino seperti Sakura.

"Hinata, sampai kapan kau mau memeluk Naruto, eh?" Tanya Sakura yang sudah mereda emosinya.

"Hah?" Hinata terkejut menyadari posisi yang awalnya hanya memegangi pundak Naruto tanpa sadar sudah berubah dengan memeluk Naruto dari belakang karena terlalu asyik memperhatikan pertengkaran kecil Ino dan Sakura. Hinata cepat-cepat menyandarkan kepala Naruto kembali di atas meja makan.

"Jadi, satu-satunya harapan kita adalah Sasuke?" Tanya Sakura entah pada siapa.

"Masih ada Neji. Tapi kita harus menunggunya pulang besok." Jawab Ino.

"Bagaimana dengan Shikamaru-kun?" Tanya Hinata.

"Kau benar juga, hampir saja kita melupakan Shikamaru." Kata Ino.

"Ya, ampun! Berapa banyak lagi cakra yang akan aku habiskan hanya untuk mencari tahu kebenaran dari bakteri cinta" Keluh Ino. Ino menatap Sakura masih dengan tatapan kesal.

"Cepat angkat kepala Sasuke-kun, forehead!" Perintah Ino.

"Biasa saja, PIG!" Sakura menegakkan badan Sasuke dan menyandarkan kepala Sasuke pada tubuhnya.

Ino meletakkan salah satu tangannya di atas rambut raven Sasuke. Ino kemudian memejamkan mata dan saat iris aquamarinenya terbuka, tubuh Ino sudah melayang di depan otak Sasuke. Ino menyentuh sedikit bagian otak Sasuke. Saat Ino menarik kembali tangannya, gulungan besar keluar dari kepala Sasuke. Gulungan besar tersebut kemudian mulai terbuka dengan cepat. Ino memejamkan matanya kembali untuk menggali informasi dari ingatan Sasuke.

'Ternyata tak sesulit yang aku pikirkan.' Batin Ino.

oOo oOo oOo

"Kau yakin Sasuke? Jika sampai mereka menangkap basah kita, tamat sudah riwayat kita." Naruto bergidik ngeri membayangkan sannaro Sakura yang beberapa kali pernah dirasakannya.

"Diam dan ikuti saja rencanaku." Perintah Sasuke.

"Dari mana kau punya ide konyol ini, Sasuke?" Tanya Naruto heran. Sasuke menatap Naruto dengan iris onyx dinginnya tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

"Jadi, siapa yang akan menjadi mangsa di kandang macan?" Tanya Sai memecah keheningan.

"Aku." Jawab Sasuke.

.

.

"Hahh…" Sakura mendesahkan nafas panjang untuk kesekian kalinya.

"Kau kenapa sih! Gayamu seperti nenek-nenek saja!" Cibir Ino. Sakura hanya melirik Ino tanpa hasrat meladeni cibiran Ino.

"Hai, gadis-gadis," Sapa Shizune yang secara tiba-tiba berdiri di depan para kunoichi yang berwajah galau.

"Senpai?" Ino menaikkan sebelah alisnya heran.

"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Ino kemudian.

"Aku sedang berjalan-jalan dengan Kakashi-kun saat melihat kalian. Boleh aku bergabung?" Shizune segera mengambil posisi duduk di samping Tenten yang kebetulan kosong tanpa menunggu persetujuan keempat kunoichi yang ada di sana.

"Apa yang kalian bicarakan? Sepertinya seru."

.

.

"Ngomong-ngomong, Shizune-san. Jangan-jangan Kakashi Sensei melamarmu karena bakteri ini?" Pertanyaan Sakura membuat Shizune kagok dan butuh waktu beberapa lama untuknya bisa menjawab.

"Tentu saja." Jawab Shizune.

"Demi cinta, bukan?" Shizune mengulum sebuah senyuman aneh.

"Jika efeknya sehebat itu bisa saja aku juga segera menyusulmu, Shizune-san. Kyaaa…" Sakura menenggelamkan wajahnya di balik telapak tangannya yang penuh goresan luka dan menjerit centil seperti kebiasaannya saat masih genin dulu, membuat ketiga teman kunoichinya menatap Sakura dengan pandangan sweatdrop. Mata Shizune terlihat menatap tajam luka goresan yang banyak terukir pada tangan Sakura.

.

.

"Hahahahahaha," Naruto terlihat begitu menikmati tawa besarnya. Sementara Sasuke sibuk menyembunyikan rona merah karena malu dengan aktingnya sebagai Shizune yang terasa begitu centil untuk ukuran seorang Uchiha.

"Hahahaha," Sai pun tak ingin menahan tawa gelinya.

"Aku tak pernah tahu jika Uchiha sangat pandai berakting." Komentar Sai.

"Urusai!" Sasuke mempercepat langkahnya.

"Jadi sekarang aku harus terlihat jatuh cinta pada Sakura atau Hinata?" Sai mengukir sebuah senyuman mengejek.

"Jangan macam-macam!" Teriak Sasuke dan Naruto bersamaan.

"Naruto! Mulai sekarang kau yang akan jadi Shizune." Sasuke yang sudah mengurat kesal melangkah cepat meninggalkan kedua rekannya.

"Tunggu, Shisuke. Jangan marah." Naruto dan Sai mengejar Sasuke dengan sedikit usaha lebih.

.

.

"Eh? Kau menyamar sebagai Shizu?" Kakashi menatap Sasuke dengan tatapan tak percaya.

"Jangan banyak berkomentar, Kakashi!" Sasuke berusaha menyembunyikan rasa malunya dibalik sifatnya yang menjengkelkan.

"Jadi, Sensei. Kami minta bantuanmu untuk menjaga rahasia ini dari para kunoichi itu." Jelas Naruto. Kakashi menatap ketiga anggota tim 7 di depannya bergantian.

"Apa yang akan kalian berikan jika aku menyetujuinya?" Tantang Kakashi. Sasuke diam sejenak sebelum menyeringai penuh rahasia.

"Kami akan memberikan Konoha keturunan yang hebat." Ketiga laki-laki yang ada di ruangan Rokudaime menganga lebar mendengar jawaban Sasuke.

.

.

"Kakashi bilang mereka akan memulai agresi mereka hari ini." Bisik Sasuke pada Naruto dan Sai sebelum berangkat ke tempat training field.

"Lakukan tugas kalian sebaik-baiknya." Ingat Sasuke.

"Dan kau, Naruto! Jangan melakukan hal bodoh!" Ancam Sasuke.

.

.

"Aku hanya melakukan yang Shizune-Nee minta!" Jelas Naruto mencari perlindungan. Iris safir Naruto menatap Sasuke menuntut sebuah perlindungan karena memang Sasuke yang pertama kali menyamar sebagai Shizune dan memberinya tugas ini.

"KAU!" Teriak Sakura.

"AKAN MATI!" Sakura dengan mata berkilat api segera melompat menjauh dari Uchiha Sasuke yang duduk pasrah menanti kematian tragis sahabat kuningnya yang sangat bodoh.

"HUAAAA…. AMPUN….!" Naruto melompat sejauh-jauhnya meninggalkan Hinata yang sibuk menahan tubuh Sakura yang memberontak hebat dan berteriak-teriak penuh emosi jiwa.

"Dasar bodoh!" Gumam Sasuke yang menggulirkan iris onyxnya menatap wajah Sai yang masih bersemu merah dan terlihat sangat kebingungan untuk menenangkan Ino yang meraung dalam kuncian tangan pucat Sai pada kedua lengan gadis bunga itu.

.

.

"Hahahahahaha," Kakashi terlihat sangat puas menertawakan cerita mantan muridnya yang begitu menggelitik hati.

"Jangan tertawa, Sensei!" Teriak Naruto, yang hampir saja kehilangan nyawanya, dengan kesal.

"Kau kenapa, Sai?"Tanya Sasuke pada Sai yang hanya berdiri diam tanpa banyak berkomentar.

"Sasuke, jatuh cinta itu seperti apa?"Sai dan Sasuke saling memandang dalam diam.

.

.

"Sasuke-kun, bukankah ini?" Sakura terkejut menatap sebuah bangku marmer di dekat pintu gerbang Konoha sedikit jauh di depannya.

"Aku ingin memulai semuanya dari tempat ini, Sakura." Sasuke menatap Sakura dengan tatapan lembut nan tajam khas Uchiha.

"Aku minta maaf untuk semua kesalahanku. Sebenarnya dari dulu aku suka padamu. Karena itu…"

Grep.

Sebelum Sasuke sempat menyempurnakan kalimatnya, Sakura memeluknya erat.

"Huhuhuhu, Sasuke-kun." Sakura menangis bahagia.

"Karena itu, maukah kau menemaniku sampai mati dan melahirkan Uchiha-uchiha kecil kita?" Bisik Sasuke.

"Iya! Iya! Aku mau…! Iya!" Jawab Sakura segera di sela tangis bahagianya. Sasuke tersenyum tipis.

"Kau benar-benar gadis yang bersemangat." Sasuke membalas pelukan Sakura.

.

.

"Kau harus menemui Naruto dan memastikan dia tak menyamar lagi menjadi Shizune-san." Sasuke tak melepaskan pandangan sedikitpun dari ketiga kunoichi yang sibuk menyusun sebuah rencana untuk Hinata.

"Iya, Sakura-san. Aku mengerti."

"Sudah waktunya Naruto dan Sasuke-kun pulang latihan spairing. Ayo berpencar!" Instruksi Sakura.

"Ha'i!"

Ketiga kunoichi tersebut segera menyebar ke tempat tujuan masing-masing yang berbeda. Tentu saja setelah membayar tagihan mereka.

"Gawat! Aku harus segera memberitahu yang lain!" Sasuke menghilang dari tempatnya bersembunyi untuk mengawasi kegiatan tiga kunoichi korbannya dalam satu kedipan mata.

.

.

"Senpai, ada sesuatu yang ingin aku lakukan sekarang padamu. Bolehkah?" Sakura tersenyum manis.

"Lakukan saja!" Sasuke yang terpaksa kembali menyamar sebagai Shizune tak menyadari bahaya yang mengancamnya.

Sakura menjitak kepala Sasuke sekeras mungkin membuat Sasuke menundukkan tubuhnya untuk memegang erat-erat kepalanya yang benjol.

"ITTAI!" Teriak Sasuke.

"Sakura sialan!" Desis Sasuke selirih mungkin.

.

.

"Haha, kau tak perlu marah-marah seperti itu," Sindir Kakashi dengan senyuman di balik masker hitamnya.

"Urusai!" Sasuke meninggalkan Kakashi dengan wajah yang sangat kesal.

Sasuke masih sibuk menggosok-gosok rambut ravennya yang ternoda oleh benjolan kecil.

"Haha, kau akhirnya terjebak senyum palsu Sakura juga." Sai ikut-ikutan menertawakan Sasuke tanpa merasa takut sedikitpun menerima deathglare dari Sasuke.

"Kau gantikan aku!" Perintah Sasuke yang tak menerima sebuah penolakan.

.

.

"Omedettou, Senpai!" Ino menghiraukan protes Sakura, kembali memeluk Shizune yang semakin tersipu.

"Hei, aku juga ingin memeluk Shizune-san!" Protes Sakura.

"Sialan! Dia dapat bagian yang menyenangkan!" Umpat Sasuke mengintip Sai yang tersipu malu dalam pelukan Sakura dan Ino.

.

.

"Kau masih ingin bilang rencanaku ini konyol?" Sasuke menatap Naruto dengan pandangan meremehkan.

"Baiklah-baiklah. Kau menang dengan bakteri cinta konyolmu itu."

Sasuke melompat tanpa pemberitahuan ke depan sebuah gang tak jauh dari tempatnya dan Naruto berdiri. Mata onyx tajam Sasuke berhasil menangkap siluet seorang gadis yang sudah bisa ditebak oleh otak geniusnya, siluet gadis musim seminya. Namun yang terlihat oleh Ino hanyalah Sasuke yang mengerutkan keningnya.

"Ada apa?" Tanya Naruto. Sasuke menggelengkan kepala.

"Sepertinya hanya perasaanku," Bohong Sasuke.

.

.

"Karena itu aku lebih memilih menunggumu seperti yang selama ini aku lakukan." Sakura membuat senyum palsu yang apik.

Grep.

Sakura memeluk Sasuke yang tak membalas pelukannya.

"Sasuke-kun." Lirih Sakura di dekat telinga Sasuke.

"Seharusnya kau tahu bagaimana aku sangat mencintaimu." Sakura mengeratkan pelukannya pada Sasuke yang masih tak bergerak sedikitpun.

Sasuke memejamkan mata onyx kelamnya. Saat matanya terbuka, yang nampak adalah saringan Sasuke lengkap dengan ketiga tomoenya.

Grep.

Cengkraman Sasuke pada salah satu pergelangan tangan Ino mampu mematahkan jutsu Ino dengan mudahnya, atau mungkin juga saringan Sasuke yang memiliki andil besar mematahkan jutsu Ino.

Ino menatap mata saringan Sasuke yang aktif dengan ekspresi ketakutan, namun tubuhnya tak bisa menjauh dari Sasuke yang masih tak ingin melepaskan pergelangan tangan Ino dari cengkraman tangan kekar Sasuke.

"Sasuke-kun," Pekik Ino tertahan dengan wajah penuh peluh dan nafas yang tersengal.

"Sudah cukup, Ino." Suara berat Uchiha Sasuke mengakhiri keasyikan Ino dengan jutsunya.

oOo oOo oOo

Mata saringan Sasuke sudah kembali normal. Pergelangan tangan Ino sudah dilepaskannya. Ino yang nafasnya masih sedikit tersengal tiba-tiba kehilangan keseimbangannya. Namun sebelum sempat terjatuh, Sai yang telah tersadar juga dari tidurnya menangkap tubuh lemas Ino.

"Sai-kun?" Kaget Ino.

"Sudah cukupkan informasi yang kalian ingin ketahui?" Sasuke bangkit dari pelukan Sakura dan beranjak dari duduknya, menghiraukan Ino dan Sai yang masih saling memandang.

"Ayo kita pergi, Sai!" Perintah Sasuke. Sai mengalihkan pandangannya pada Sasuke. Sai kemudian membantu Ino duduk karena tubuh Ino terlihat masih lemas.

"Apa maksud semua ini, Sasuke-kun? Sai-kun?" Tanya Ino sebagai satu-satunya yang sementara ini tahu kebenaran di balik bakteri cinta dengan suara bergetar. Sasuke menatap Ino, tatapan yang sebenarnya diam-diam masih sangat dikagumi Ino.

"Untuk apa kalian tahu?" Jawab Sasuke dengan pertanyaan lain.

"Tentu saja kami harus tahu, Sasuke-kun. Kalian sudah mempermainkan perasaan kami." Tanpa diduga, Hinata yang lebih banyak diam melayangkan protes.

Sasuke tak menjawab dan lebih memilih untuk menghindar dari pertanyaan lain yang kemungkinan besar bertambah banyak. Sasuke menegakkan badannya dan beranjak dari tempatnya berdiri.

"Ayo pergi, Sai!" Perintah Sasuke sekali lagi.

"Tunggu!" Giliran Sakura memegang erat pergelangan tangan Sasuke.

"Bukankah seharusnya kalian meminta maaf pada kami?!" Tanya Sakura dengan suara yang tak kalah bergetar dari Ino.

"Untuk apa?" Balas Sasuke dengan pandangan datar.

"Bukankah kita sama saja, Sakura? Kalian pun terbukti tak segan-segan menjebak dan membohongi kami jika bakteri cinta benar-benar ada." Sasuke, walaupun tak mengatakannya dengan nada sinis, namun cukup membuat hati Sakura, Ino dan Hinata tergigit.

"Jangan suka membesarkan suatu masalah dan menanggapinya dengan berlebihan."

"Dan jangan suka melimpahkan kesalahan pada laki-laki jika hati kalian tersakiti oleh angan-angan kalian yang terlalu tinggi tentang cinta." Sakura tanpa perintah perlahan melepaskan cengkramannya pada tangan Sasuke.

"Ayo, Sai! Kita pergi!" Perintah Sasuke pada Sai untuk yang ketiga kalinya. Sasuke tak membuang banyak waktu untuk menghilang dari hadapan para kunoichi sebelum langkahnya terhambat kembali.

Sebelum menyusul kepergian Sasuke, Sai masih menyempatkan diri menatap khawatir pada Ino, walaupun nafas Ino perlahan terlihat normal. Ketiga kunoichi temannya masih menenggelamkan diri dalam keheningan. Tak satupun kata yang keluar dari bibir mungil para kunoichi ini, namun Sai tahu ketiganya sedang mencerna kata-kata Sasuke dan membuat mungkin mulai membuat kesimpulan masing-masing.

Poft.

Bahkan Sai yang menghilang tiba-tiba tak mampu menarik perhatian ketiga kunoichi yang masih asyik merenung dengan wajah sendu.

"Bagaimana dengan Naruto, Sasuke?" Tanya Sai yang berhasil menyusul Sasuke.

"Biarkan saja si bodoh itu!" Jawab Sasuke kesal.

"Sudah aku bilang pura-pura saja menikmati apapun yang Sakura berikan, tapi dia malah memakan semua daging itu dengan penuh semangat."

"Haha, kapan kau pernah tahu Naruto sembuh dari kebodohannya, Sasuke?" Sai memamerkan sebuah senyum palsu pada kapten Tim 7 di sampingnya.

"Ino. Aku tak pernah tahu dia memiliki jutsu yang hebat." Puji Sasuke entah sadar atau tidak, pikirannya melayang kembali pada masa dimana Sakura dan Ino memperebutkan perhatian Sasuke saat di akademi. Sai menghentikan tawanya dan menatap Sasuke datar.

"Lalu, apa sekarang kau berpaling menyukai Ino?" Tanya Sai dengan wajah dingin.

"Jika iya, apa yang akan kau lakukan?" Sasuke melompat pergi meninggalkan Sai yang masih bertahan pada posisinya. Sai tak tahu jika Sasuke hanya menggodanya, karena Sai tak melihat sebuah seringai geli yang menghiasi wajah Sasuke.

"Mungkin aku akan membeli buku baru." Gumam Sai seorang diri.

.

.

"Hahh…" Sakura menghela nafas berat.

"Perasaanku tidak enak, Hinata." Sakura menatap Hinata dengan wajah bingung.

"A-apa kita harus meminta maaf pada mereka, Sakura-san?" Tanya Hinata.

"Hahh…" Sekali lagi Sakura menghela nafas berat.

"Aku tak mengerti." Sakura melemaskan badannya dan menumpukan beban tubuhnya pada meja makan kedai Yakiniku-Q.

"Bukankah mereka yang berbohong pada kita? Kenapa malah kita yang merasa bersalah?" Gumam Sakura. Hinata melirik pemuda jabrik yang masih tertidur pulas disampingnya, sama tak mengertinya dengan Sakura.

"Seharusnya kita yang membuat mereka menyesal. Mereka sudah membuat kita menangis." Keluh Sakura.

"Berlebihan? Menimpakan semua kesalahan pada laki-laki? Angan-angan yang terlalu tinggi tentang cinta?" Sakura mulai tak bisa mengendalikan emosinya.

"Bagaimana bisa Uchiha Sasuke mudah sekali mengatakannya dengan wajah dinginnya itu!" Sakura mengomel sendiri.

"Arggh! Sial!" Sakura mengacak-ngacak rambut pinknya frustasi.

"Kenapa keadaan berbalik dari yang kita rencanakan?!"

"Bukankah seharusnya kita memanfaatkan rasa bersalah mereka dan membuat mereka menurut pada kita?"

"Sakura-san." Lirih Hinata yang menatap khawatir pada Sakura yang masih tak berhenti berkeluh kesah.

"Apa mungkin kita terkena genjutsu Sasuke-kun?" Tebak Sakura yang tiba-tiba bangkit dari tumpukan tangannya sendiri.

"Sial! Saat genting seperti ini kenapa Shikamaru harus menjemput Ino berangkat misi ke perbatasan?!" Keluh Sakura yang kembali melemaskan tubuhnya.

oOo oOo oOo

Hinata melirik Naruto yang masih belum sadar juga dari pingsannya, membuat Hinata bingung. Sasuke dan Sai bisa dengan mudah terbebas dari efek obat tidur yang dibuat oleh Sakura, kenapa Naruto masih belum bangun juga dari efek obat tidur yang rencana awalnya akan dipakai oleh Hinata untuk membius Naruto dan mencium paksa Naruto. Rencana yang digagalkan oleh pemilik wajah tampan khas Uchiha, saat pemuda itu membawa kabar misi dari Rokudaime untuk Naruto.

"Naruto-kun," Hinata mencoba membangunkan Naruto dengan suara lirihnya. Semua kekesalannya pada jinchuuriki kyuubi ini seperti menguap begitu saja saat melihat wajah tertidur Naruto yang sangat polos.

"Maaf," Hinata menoleh menatap seorang gadis berambut coklat sebahu, dengan sebuah bandana putih diikat kuat diatas kepalanya dan membawa sebuah nampan di depan dadanya, tersenyum kikuk pada Hinata.

"Nona sudah terlalu lama disini, kami butuh meja ini untuk tamu kami yang menunggu di sana." Pelayan wanita itu sepertinya mencoba menjelaskan kesulitannya pada Hinata.

"Eh?" Kaget Hinata.

"Gominasai," Hinata sedikit menundukkan kepalanya untuk meminta maaf.

Hinata tak punya pilihan lain selain membawa Naruto pergi dengan mengalungkan sebelah tangan Naruto diatas pundak kecilnya.

.

.

Sepanjang perjalanan menuju rumah Naruto, Hinata tak henti-hentinya menguatkan dirinya untuk tak pingsan karena kedekatan tubuhnya dengan pemuda jabrik kecintaannya.

'Tinggal sebentar lagi,' Hinata semakin mempercepat lompatannya. Sebelah tangannya memegang erat tangan Naruto yang berada di atas pundaknya, sementara satu tangannya lagi memeluk perut Naruto agar pemuda bermata langit itu tak terjatuh.

Tap.

"Hahh…" Hinata menghela nafas panjang, nafas yang sejak keluar dari kedai Yakiniku-Q terasa tercekat di tenggorokannya.

"Dimana Naruto-kun meletakkan kunci rumahnya?" Tanya Hinata pada pintu rumah Naruto yang tentu saja tak mendapatkan jawaban apapun.

Mata amethyst Hinata bergerak liar menyusuri inci demi inci tempat-tempat tersembunyi yang sekiranya dapat dijadikan tempat Naruto menyimpan kunci rumahnya walaupun nihil hasilnya.

"Hmmm… Nyam Nyam Nyam." Igauan kecil Naruto membuat jantung Hinata serasa berhenti berdetak beberapa saat.

"Ba-bagaimana ini?" Panik Hinata.

Hinata kembali menghela nafas lega karena Naruto tak kunjung membuka mata langitnya.

Hinata sempat berfikir untuk mendobrak pintu Naruto dengan hakkenya, namun niat itu dibatalkan Hinata karena takut jika bukan hanya pintu rumah Naruto yang akan hancur, tapi ruangan depan rumah Naruto pun ikut hancur. Karena tak kunjung menemukan kunci rumah Naruto, Hinata memutuskan untuk menurunkan tubuh Naruto dan menyandarkannya pada pintu rumah sang pemuda.

Swiiing…

Angin musim semi membelai kulit Hinata, entah kenapa gadis Hyuuga ini bergidik ngeri.

Hinata menatap Naruto yang mendengkur pelan. Hinata kemudian mulai membuka jaket ungunya perlahan. Pikiran Hinata mulai mempertimbangkan keputusan gadis itu untuk menyelimuti Naruto dengan jaketnya apakah tepat atau tidak. Kata-kata Sasuke yang serasa menyindirnya membuat Hinata takut melakukan sesuatu yang mungkin menurut Naruto juga berlebihan.

Sreeet…

Hinata kembali mengeratkan resleting jaketnya.

"Gomen ne, Naruto-kun." Dengan berat hati Hinata melompat pergi meninggalkan Naruto yang masih tertidur di pintu masuk rumahnya berselimutkan angin malam musim semi Konoha.

oOo oOo oOo

"Hoooaaaaam…" Shikamaru menguap sangat lebar.

"Gomen, Shikamaru, Chouji, kalian pulanglah dulu. Aku ada perlu." Ino memasang wajah memohon dan tanpa menunggu jawaban dari Chouji dan Shikamaru, Ino melompat pergi.

"Mau kemana dia? Apa dia tak lelah?" Heran Shikamaru.

Kryuuuk….

"Hm?" Shikamaru menatap Chouji yang memegangi perut tambunnya.

"Shikamaru, aku lapar. Bagaimana jika kita makan dulu sebelum pulang?" Tawar Chouji.

Shikamaru menggosok-gosok belakang kepalanya bingung.

"Maaf, Chouji. Aku ada urusan." Tolak Shikamaru merasa tak enak hati pada Chouji.

"Kau tak apa jika makan sendiri?" Tanya Shikamaru. Chouji menatap Shikamaru dengan pandangan penuh selidik membuat Shikamaru sedikit salah tingkah.

"Apa hari ini Temari-san akan kembali ke Suna?" Tebak Chouji dengan senyum geli.

"Hm?" Shikamaru memalingkan wajah mencoba menyembunyikan rona merah yang bergelanyut manja pada kedua pipinya.

"Ya," Lirih Shikamaru.

"Hahaha. Jadi, itu alasan kenapa tim 10 berangkat misi setelah tim 7?" Chouji tertawa geli menghiraukan Shikamaru yang tersipu karena rencananya diketahui Chouji.

"Kau benar-benar mudah ditebak, Shikamaru!" Ejek Chouji.

"Cih. Mendokusai."

oOo oOo oOo

"Sakura-chan masih marah ya, Sasuke? Hatching." Naruto menggosok-gosok hidungnya yang gatal.

"Ternyata rumor yang beredar jika orang bodoh tidak bisa sakit flu itu bohong." Sai tersenyum tanpa dosa pada Naruto.

"Sialan kau, Sai!" Naruto sudah hampir mencakar wajah pucat Sai jika Sasuke tak berdiri dan menghalangi niat Naruto.

"Berhenti bertengkar!" Lerai Sasuke.

"Ayo pulang, Latihan selesai." Sasuke melangkahkan kakinya pergi menjauhi Naruto dan Sai.

"Mau kemana? Hatching." Tanya Naruto dengan suara yang mulai sedikit serak.

"Mencari Sakura." Jawab Sasuke tanpa menoleh.

"Huh! Si brengsek itu masih saja menyebalkan." Gerutu Naruto saat Sasuke tak lagi berada di sekitarnya dan Sai.

"Kau juga mau menemui Ino, Sai?" Tanya Naruto yang masih belum melupakan rasa kesalnya.

"Tidak. Dia pasti lelah baru pulang dari misi." Jawab Sai tanpa tahu jika wanita memiliki kekuatan lebih yang tak terlihat jika berhubungan dengan sesuatu yang menyangkut perasaannya.

"Apa yang kita lakukan sekarang?" Naruto berfikir.

"Ah! Bagaimana bisa aku melupakan Garaa!" Naruto menepuk jidatnya keras-keras.

"Ayo, kita bermain dengan Gaara," Ajak Naruto yang dijawab anggukan kepala oleh Sai.

"Hatching."

oOo oOo oOo

"Naruto?" Kaget Gaara.

"Hai, Gaara," Naruto nyengir rubah.

"Ada apa?" Tanya Gaara.

"Apa kau sibuk? Ayo kita main. Hatching." Ajak Naruto.

"Hei, Naruto! Jangan menularkan virus pada adik kecilku!" Suara berat seorang pemuda Suna terdengar dari dalam rumah sebelum pemilik suara menampakkan diri dari belakang Gaara.

"Hai, Kankorou. Konbanwa." Sapa Naruto.

"Konbanwa, Kankorou-san," Sapa Sai.

"Konbanwa." Balas Kankorou singkat.

"Gaara, apa kau sudah selesai bersiap-siap?" Tanya Kankorou.

"Ya." Jawab Gaara.

"Mau kemana?" Tanya Sai.

"Kami akan kembali ke Suna nanti siang." Jawab Kankorou.

"Eh, kalian mau pulang hari ini?" Pekik Naruto kaget.

"Ya." Jawab Gaara beserta sebuah anggukan kepala.

"Cepat sekali, ttebayou."

"Kita bahkan belum bermain, Gaara."

Gaara menatap Kankorou dengan tatapan manja seorang adik kecil. Tatapan yang dipelajari oleh Gaara, sejak hubungan antara ketiga shinobi Suna bersaudara ini semakin akrab, sebagai tatapan yang mampu meluluhkan kekeraskepalaan Temari. Naruto memandang Gaara sweatdrop, sedang Sai kembali memasang senyum palsunya.

"Jangan menatapku seperti itu!" Ancam Kankorou. Gaara bergeming.

"Hahh..!" Kankorou mendesahkan nafas kesal.

"Berjanjilah kau akan kembali sebelum Nee-chan pulang." Akhirnya Kankorou menyerah oleh bujukan mata Gaara.

'Ternyata jurus mata ini bekerja untuk Kankorou juga.' Gaara tersenyum penuh kemenangan. Ditatapnya Naruto yang masih sweatdrop dengan wajah ceria.

"Ganti bajumu, Gaara. Aku tak ingin gadis-gadis Konoha mengejar kita dengan teriakan-teriakan yang memekakkan telinga." Naruto mengulang ingatannya setahun yang lalu saat bermain dengan Gaara, yang dikenal oleh gadis-gadis Konoha sebagai Kage tampan dari Suna, membuat Naruto dan Gaara sampai harus menyamar menjadi kakek-kakek untuk menghindari kejaran para gadis.

"Baiklah." Gaara menganggukkan kepala.

Gaara berlari kembali ke dalam rumah untuk melepas jubah Kage kebanggaannya.

"Hatching!"

"Naruto, jika sampai Gaara tertular flumu, bersiaplah dikipas Temari sampai ke Kiri." Peringatan Kankorou. Naruto meneguk ludah dengan susah payah.

oOo oOo oOo

"Gomen ne." Ino yang baru mendarat di depan teman-temannya memasang wajah menyesal.

"Apa kalian sudah menunggu lama?" Tanya Ino yang segera mengambil duduk di samping Sakura.

"Tidak. Baru 30 menit yang lalu, Pig." Jawab Sakura tanpa semangat.

"Kau baik-baik saja? Jika kau lelah, kau pulanglah dan beristirahat. Tak perlu memaksakan diri." Nasehat Sakura kemudian.

"Haha. Tenanglah Sakura. Aku baik-baik saja." Jawab Ino.

"Apa terjadi sesuatu yang menyenangkan padamu, Ino?" Tanya Sakura heran dengan Ino yang sepertinya tak terpuruk sedikitpun dengan kenyataan tentang bakteri cinta yang ternyata hanyalah sebuah lelucon.

"Tidak. Aku hanya banyak merenung memikirkan kata-kata Sasuke-kun." Jawab Ino.

"Sasuke-kun benar, Sakura. Mungkin seharusnya kita tak menanggapi kebohongan mereka dengan berlebihan."

"Bagaimanapun juga, sikap mereka pada kita sepertinya sesuatu yang tulus." Gumam Ino yang sebenarnya masih merasa ragu dengan pikirannya sendiri.

"Hahh…" Sakura mendesahkan nafas frustasi.

"Kepalaku serasa ingin meledak memikirkan gurauan mereka." Keluh Sakura.

"Apa sih yang kalian bicarakan dari tadi? Aku tak mengerti." Sela Tenten.

"Diamlah, Tenten. Kau semakin merusak suasana hati ku saja." Gumam Sakura keras-keras. Tenten mengerucutkan bibirnya kesal.

"Haha. Jangan hiraukan dia, Tenten." Kata Ino sedikit sweatdrop.

"Ngomong-ngomong kenapa Hinata belum datang?" Tanya Ino pada Tenten dan Sakura.

"Tadi Hinata sempat kesini sebentar untuk memberitahu kami jika dia harus berangkat misi ke perbatasan." Jelas Tenten.

"Ah, benar juga. Aku lupa sekarang giliran tim 8 berangkat misi." Kata Ino.

"Paman, dangonya 6." Pesan Ino yang dijawab oleh anggukan kepala dan senyum sumringah paman pemilik kedai. Tak butuh waktu lama bagi Ino untuk dapat menikmati kelezatan dango kesukaan Temari.

"Jadi, apa yang sebenarnya kalian obrolkan sejak tadi?" Tanya Tenten tak sabar.

Sakura mengangkat kepalanya yang sebelumnya disandarkan pada tepi meja. Ditatapnya iris caramel Tenten dengan tatapan penuh selidik.

"Tenten. Apa kau benar-benar mencium Neji saat agresi pertama kita mulai?" Tanya Sakura langsung pada intinya.

"Ke-kenapa kau tiba-tiba kau menanyakannya, Sakura?" Tenten menggulirkan iris caramelnya menjauhi iris emerald Sakura.

"Jawab saja, Tenten." Desak Sakura.

Tenten menatap Sakura dan Ino bergantian. Cukup lama Tenten bergelut dengan dirinya sendiri sebelum memutuskan untuk mengakui sesuatu yang memalukan. Tenten mendesahkan nafas berat.

"Maaf. Aku berbohong." Jawab Tenten penuh sesal.

"Aku tak pernah mencium Neji saat agresi kita mulai." Lanjut Tenten.

"Jadi, Neji mengatakan cintanya padamu bahkan sebelum kau menciumnya?" Sakura mencoba memperjelas jawaban Tenten.

"Ya, Sakura."

"Tenten. Mungkin ini akan menjadi kabar gembira untukmu." Ino tersenyum tipis. Tenten mengerutkan keningnya bingung.

"Kau tahu? Bakteri cinta hanya sebuah lelucon yang dibuat oleh Sasuke-kun, Sai-kun dan Naruto." Jelas Ino tahu akan kebingungan Tenten.

"Aku tak paham." Tenten menggelengkan kepalanya pelan.

"Jika hanya sebuah kebohongan, bagaimana bisa Neji, Sasuke-kun, dan Sai-san mengatakan cintanya pada saat yang bersamaan? Setelah kita melakukan apa yang diperintahkan oleh Shizune-san?"

"Apa kau ingin mengatakan jika Neji juga terlibat dalam lelucon bakteri cinta?" Tanya Tenten pada Ino tak mengerti.

"Mungkin tidak. Aku tak sedikitpun melihat bayangan Neji dalam ingatan Sasuke." Jawab Ino cepat.

"Lalu, bagaimana dengan Shikamaru, Ino?" Tanya Sakura.

"Aku sudah sedikit membaca ingatan Shikamaru, tak ada sedikitpun yang berhubungan dengan bakteri cinta." Jawab Ino.

"Yang banyak dalam pikirannya hanya Temari-san saja, hihihi." Ino terkikik geli mengingat kembali bagaimana diam-diam Shikamaru ternyata begitu mengagumi sosok Temari sedari mereka masih seorang genin dulu.

"Jadi memang bakteri cinta hanyalah kebohongan yang dibuat oleh Sasuke-kun, Sai-kun, dan Naruto." Tambah Ino.

"Demo, Ino. Kenapa Naruto tak berpura-pura terkena efek bakteri cinta seperti Sasuke dan Sai?" Tanya Tenten yang merasa masih banyak kejanggalan yang belum dipahaminya.

"Entahlah," Ino menggendikkan bahunya.

"Aku tak menemukan satupun alasannya dari ingatan Sasuke-kun."

"Hahh…" Sakura menghela nafas berat.

"Kasihan sekali Hinata." Gumam Sakura.

"Naruto. Si bodoh itu, sampai kapan dia berencana menggantung perasaan Hinata?" Gumam Sakura.

"Hey, Ino. Setelah lama berfikir, aku merasa bodoh sekali. Bagaimana bisa kita tidak curiga dari awal sejak Naruto tertangkap basah menyamar sebagai Shizune-san dengan bushinnya?" Tanya Sakura pada Ino setelah berhasil mengurai banyaknya kejanggalan bakteri cinta sejak awal.

"Hm? Hey. Kau benar juga!" Ino terperanjat kaget menyadari kebenaran kata-kata Sakura.

"Gomen, minna. A-aku harus pergi." Suara Tenten yang lama tak terdengar menyadarkan Ino dan Sakura dari keasyikan mereka menganalisa keadaan.

"Terima kasih untuk informasinya. Jaa." Tenten segera berari meninggalkan Sakura dan Ino yang masih menatap bayangannya bahkan tanpa menunggu jawaban dari kedua temannya.

"Mau kemana dia?" Gumam Sakura.

"Pasti dia menemui Neji." Tebak Ino.

"Hahhh…" Sekali lagi Sakura menghela nafas panjang.

"Ya, Tuhan. Kenapa nasibku sial sekali!" Keluh Sakura.

"Hatching. Sayang sekali kedai ramen Paman Teuchi tutup, Gaara!"

Sakura dan Ino refleks menegakkan badan mereka karena terkejut mendengar suara yang sangat mereka kenal. Kedua kunoichi itu segera mengangkat sebelah tangan mereka dan merapalkan nama sebuah jutsu.

"Henge no Jutsu."

oOo oOo oOo

"Hahahahahaha," Naruto tak bisa menahan tawanya mendengar cerita Gaara tentang pertengkaran kakak perempuannya dengan Shikamaru di kedai ramen Paman Teuchi.

"Wanita memang seperti itu. Terlalu berlebihan dengan sesuatu yang sepele." Komentar Sai tanpa menyadari bahwa dua orang laki-laki bertubuh tambun di samping mejanya adalah Sakura dan Ino yang menyamar.

'Sialan kau, Sai-kun! Padahal aku berusaha membelamu di depan Sakura.' Rutuk Ino dalam hati.

'Sai! Jangan menyalahkanku jika besok kau tak bisa berjalan.' Ancam Sakura dalam hati.

"Tapi aku menyukainya." Sanggah Gaara. Naruto dan Sai, bahkan Ino dan Sakura yang diam-diam ikut mendengarkan pembicaraan mereka, menunggu Gaara mengunyah satu bulatan dango hijaunya untuk menyelesaikan kalimat Gaara yang terasa menggantung.

"Jika tidak berlebihan, berarti dia tak sayang padaku." Lanjut Gaara membuat Naruto dan Sai terperangah.

'Apa artinya Ino sayang padaku?' Pikir Sai dengan wajah sedikit tersipu.

'Hinata…' Naruto mengerutkan keningnya dalam diam.

"Kau yakin tak akan menyesal mengajakku kemari, Shikamaru?" Suara tegas seorang gadis Suna menyeruak ke dalam telinga tiga orang pemuda yang sedang asyik bercengkrama.

Naruto dan Gaara melebarkan matanya kemudian saling menatap.

"Henge no Jutsu." Naruto dan Gaara merapalkan jutsu bersamaan.

"Eh?" Sai yang tak mengerti apapun terlonjak sedikit kaget.

"Henge no Jutsu." Rapal Sai sebelum berubah menjadi seorang gadis manis berambut hitam kelam, tak seperti Naruto dan Gaara yang memilih menyamar sebagai 2 orang wanita dewasa yang lumayan cantik.

oOo oOo oOo

"Paman, aku pesan dangonya 8 dan 2 cangkir ocha," Pesan Temari dengan senyum sumringah. Shikamaru tanpa sadar tersenyum tipis melihat semangat Temari.

"Jadi, apa ini ajakan kencan?" Sindir Temari.

"Cih. Jangan terlalu percaya diri. Aku hanya melaksanakan tugasku untuk menjadi pendampingmu selama di Konoha." Sanggah Shikamaru.

"Terima kasih, Bibi." Temari tersenyum tipis pada seorang wanita setengah baya yang meletakkan pesanan Temari diatas meja.

Hap.

"Nyam, Nyam, Nyam." Temari menelan bulat-bulat dango pada tusukan pertamanya.

"Kau masih saja memakai alasan itu," Cibir Temari.

"Habiskan saja dangomu!" Perintah Shikamaru.

Temari mengendikkan bahu kemudian menekuni kembali kegiatannya menikmati satu demi satu bulatan dango yang dipesannya tanpa sedikitpun menawarkannya satupun pada Shikamaru.

'Sial! Jantungku berdebar kencang sekali.' Shikamaru mengalihkan seluruh beban kepala nanasnya di atas telapak tangan kanan yang dijadikan penyangga.

Shikamaru melirik Temari dengan wajah sedikit bersemu merah. Butiran-butiran keringat dingin mulai mengalir turun.

'Hmmmphh…' Ino dan Sakura sibuk menahan tawa geli melihat ekspresi gugup Shikamaru. Terlebih Ino yang tahu bagaimana sosok Temari dalam pandangan Shikamaru.

"Nyam, Nyam, Nyam."

'Ya, ampun. Bagaimana bisa aku jatuh cinta pada wanita ini.' Heran Shikamaru dalam hati.

"Hey, Shikamaru." Panggilan Temari membuyarkan lamunan Shikamaru. Shikamaru menatap Temari tanpa menjawab panggilan gadis bermata emerald gelap itu.

"Aku tahu kau tak terlalu suka makanan manis. Setelah aku menghabiskan semua dangoku, kita akan mencari makanan kesukaanmu." Temari memamerkan senyum lebarnya yang sangat manis bagi Shikamaru.

Shikamaru sedikit terharu mendengar perkataan Temari. Shikamaru menyungging sebuah senyum tipis. Entah kenapa kata-kata sederhana itu mampu menguatkan hati Shikamaru untuk membuang jauh-jauh rasa malunya.

"Temari, pinjamkan tanganmu sebentar." Shikamaru bertukar pandang dengan Temari yang berhenti sejenak mengunyah dango dalam mulutnya.

"Hm?" Temari menaikkan sebelah alisnya heran, namun tangannya tetap terulur di depan wajah Shikamaru.

Shikamaru terlihat merogoh kantong jaket jouninnya, sepertinya sedang mencari sesuatu yang kecil dan bersembunyi terlalu dalam di dalam kantong jaket. Tangan Shikamaru yang keluar dari dalam kantong terlihat seperti sedang menggenggam sesuatu. Saat genggaman tangannya terbuka, Temari semakin keras mengerutkan keningnya karena tak dapat melihat satupun benda di atas telapak tangan Shikamaru.

'Apa Shikamaru sudah gila karena lapar?' Pikir Temari asal.

"Aku tidak mengerti maksudmu, Shikamaru.?" Komentar Temari menatap bingung pemuda Nara yang terlihat seperti orang yang sedang asyik mengikat sesuatu pada jarinya.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Temari kemudian.

"Mengikat." Jawab Shikamaru cuek. Setelah menyelesaikan ikatan pada jarinya, Shikamaru mulai mengikat sesuatu yang tak terlihat pada jari manis Temari.

"Aku tak melihat apapun." Kata Temari yang semakin meragukan kewarasan pemuda Nara di depannya.

"Tentu saja." Shikamaru yang selesai mengikat jari manis Temari menatap serius pada gadis pirang berkuncir 4 di hadapannya.

"Aku sedang mengikat benang merah penghubung takdir kita, Temari." Kata Shikamaru dengan wajah yang sedikit tersipu.

"HAH?" Temari sweatdrop dengan jawaban Shikamaru yang terasa menggelitik pendengarannya.

Duook.

Seorang wanita berambut kuning menghantamkan kepalanya tanpa perasaan di atas meja mencoba menyembunyikan tawa. Seorang lagi wanita cantik berambut merah menatap Shikamaru dengan pandangan yang sulit diartikan. Sementara seorang gadis manis berambut hitam kelam sibuk mencatat kata demi kata yang diucapkan Shikamaru pada Temari.

Di meja yang berbeda, dua orang laki-laki berbadan tambun sibuk memegangi perut dan menutup mulut mereka, sepertinya mereka juga sedang berusaha mati-matian menahan tawa.

"Hmmppphh." Temari menahan tawa geli.

"Jangan tertawa!" Protes Shikamaru yang mulai menyesali keputusannya.

"Hahahahahaha," Temari akhirnya benar-benar tak bisa menahan tawa geli mendengar protes Shikamaru.

"Merepotkan!" Gerutu Shikamaru.

'Hn?' Belum selesai Shikamaru terbebani rasa malu karena kemungkinan cara yang dipilihnya terlalu konyol, Shikamaru merasakan dadanya kembali dihimpit beban mental yang lebih berat saat dilihatnya seorang pemuda berambut raven memasuki kedai dango bahkan sebelum Temari menyelesaikan tawanya.

'Sial! Apa yang Sasuke lakukan disini?!' Batin Shikamaru.

Sasuke bertukar pandang dalam diam dengan Shikamaru. Namun hanya sampai sebatas itu saja interaksi yang terjadi antar keduanya, karena Sasuke melanjutkan langkahnya melewati meja Shikamaru dan Temari dan baru berhenti di depan sebuah meja yang diduduki oleh 2 orang wanita dan seorang gadis remaja.

"Sai. Naruto."

Seorang wanita bersurai kuning mengangkat kepalanya yang tersembunyi di atas meja dan menatap Sasuke dengan wajah aneh penuh air mata karena terlalu keras berusaha menahan tawa. Seorang lagi gadis bersurai hitam gelap memamerkan seberkas senyum tipis yang nampak sangat manis sebagai balasan dari panggilan Sasuke.

Sementara seorang wanita cantik berambut merah yang tak disebutkan namanya oleh Sasuke, menggulirkan iris hijau pucatnya untuk beradu pandang dengan Shikamaru yang cengo. Menyesali kebodohan yang bahkan tak menyadari sedikitpun jika Sai, Naruto, dan Gaara berada di kedai dango dan bahkan menyamar sebagai perempuan.

"Sakura.." Kali ini giliran salah satu dari dua orang laki-laki berbadan tambun yang tercekat suaranya dan duduk kaku saat namanya tak luput dari mata elang Sasuke.

"Tim 7 mendapatkan misi dari Rokudaime. Cepat berdiri dan ikuti aku ke gedung Hokage." Perintah Sasuke.

Shikamaru meletakkan pelan-pelan keningnya pada sudut meja. Runtuh sudah dunia dan harga diri Shikamaru jenius yang tak menyukai hal-hal merepotkan di hadapan teman-teman dan bahkan calon adik iparnya.

'Kami-sama. Bunuh saja aku sekarang juga.' Doa Shikamaru dengan putus asa.

"Hahahahaha," Tawa Temari menggema semakin jelas.

oOo TBC oOo

Kyaaa….

Minna-san, gomen ne.

Modem Cand gak bisa dipake dari 4 hari yang lalu. Cand jadi gak bisa update ceritanya.

Semoga minna belum ilang feel sama fic Cand. Amin ^^

Akhirnya misteri Bakteri Cinta Konoha sudah terbongkar di fic ini. Hehe

Banyak yang sudah bisa menebak jalur ceritanya ternyata. :D

Cand mau kirim-kirim salam buat Kouuga-san : "Haha, yang ada Cand yang nangis geje duluan kalo ceritanya kepanjangan, Kouuga-san ^^"

Buat Kojou-san : "Chap 8 udah update Arigatou buat pujiannya, Kojou-san"

Buat Yuan-san : "Eh bukan, siklusnya terlalu rumit. Seperti film triangle apa gitu yang pernah Cand lihat."

Buat Soputan-san : "Arigatou "

Buat Hqhqhqh-san : "Hehe, pengen lihat Hinata-chan nangis. Biar Naruto terbuka hatinya :p"

Buat Futreza-san : "Tsundere itu apaan ya? Cand gak ngerti."

Buat Haris : "Arigatou koi-kun "

Buat Guest : "Ada yang kurang berkenan dengan kata-kata Kushina kah?"

Buat Guest : "Suka ceritanya apa penulisnya neh? Hehe"

Buat Guest : "Soalnya Cand juga gak suka kalo penasaran terlalu lama. Haha. Iya nanti Cand berusaha menjelaskan semuanya di Chap depan."

Buat Uzu-san : Eh, kok tidak terpecahkan maksudnya gimana, Uzu-san?"

Buat Close to you : "Anda seperti detektif saja. Haha. Ya, alur cerita Cand emang kurang lebih seperti itu You-san Selamat Anda berhasil menebak 95% dengan tepat. Hehe"

Ah, hampir saja melupakan hal penting.

Cand pengen ngucapin outanjoubi omedettou, Itachi Nii-san ^^ Baik-baik di alam lain ya, Itachi Nii-san. Aishiteru yoo " :D