BAKTERI CINTA KONOHA
Bagaimana Aku Tidak Mencintaimu?
"Hatching." Naruto menggosok-gosok hidungnya yang bertambah merah.
"Apa misi Tim 7 kali ini, Hokage-sama?" Tanya Sasuke.
Kakashi memandang satu per satu anggota Tim 7. Sasuke dengan wajah tampannya yang tak lagi sedingin es, Sakura yang semakin cantik dengan surai kapasnya yang mulai dipanjangkan kembali, Naruto masih dengan sifat konyolnya namun sudah mulai menampakkan ketampanan gen Yondaime, dan Sai yang masih tetap mempertahankan senyuman palsunya.
"Aku harap kalian mendengarkan penjelasanku sampai selesai dan jangan menyelanya. Terutama kau, Naruto." Peringatan Kakashi.
"Eh? Aku?" Ulang Naruto bingung.
"Tim 8 sepertinya baru saja berhadapan dengan musuh yang sangat kuat." Kakashi memulai penjelasannya.
"Kami masih belum tahu seberapa kuat musuh yang menyerang, dan apa yang sebenarnya terjadi pada Tim 8 karena baru dua jam yang lalu aku mendapatkan kabar jika Genma menemukan keempat anggota Tim 8 tergeletak tak sadarkan diri 100 meter dari pos jaga mereka." Naruto mengerutkan keningnya. Baru mengerti apa maksud Kakashi memperingatkannya lebih dulu sebelum menjelaskan keadaan yang terjadi.
"Apa mereka baik-baik saja, Sensei?" Sela Sakura.
"Diamlah, Sakura!" Perintah Sasuke tajam. Sakura melirik Sasuke kesal.
"Itu yang juga aku ingin tahu, Sakura." Jawab Kakashi.
"Sasuke, Tim 7 akan melakukan pengecekan di pos jaga Tim 8, bersama Tim Gai. Mereka sudah menunggu kalian di pintu gerbang Konoha. Berangkatlah segera!" Perintah Kakashi.
"Ha'i." Jawab Sasuke, Sai, dan Sakura patuh. Naruto masih diam, suaranya seperti tercekat di dalam pikirannya.
"Sakura, kau tetap disini."
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Tambah Kakashi.
"Ha'i, Kakashi-sensei." Sakura mengangguk mengerti.
"Kalian bertiga boleh pergi."
Segera setelah kalimat Kakashi sempurna, Tim 7 menghilang dari pandangan Kakashi dan Sakura.
"Ada apa, Sensei?" Tanya Sakura tak sabar.
"Hinata. Matanya terluka." Jawab Kakashi.
"Apa maksudmu, Sensei?"
"Sepertinya Hinata terlalu memaksakan diri menggunakan byakugannya terus menerus." Jawab Kakashi tak yakin.
"Bukankah dulu Hinata juga pernah mengalaminya saat terlalu lelah berlatih dengan Neji, Sensei?" Sakura mencoba menggali ingatan Kakashi.
"Ya. Aku ingat." Jawab Kakashi.
"Tapi aku tak yakin kasus ini akan sama dengan kasus sebelumnya. Kabar dari Genma tentang ketidaksadaran Tim 8 membuatku tak bisa tenang memikirkan Hinata. Karena itu berangkatlah ke perbatasan bersama Shizu dan Tsunade-sama." Jelas Kakashi.
"Ha'i. Wakarimashita." Sakura menganggukkan kepala mengerti.
"Kau boleh pergi. Tsunade-sama dan Shizu sudah menunggumu di Rumah Sakit Konoha."
"Ha'i."
"Sakura." Sakura menghentikan langkah kakinya keluar ruangan Hokage, dan segera membalikkan tubuh kurusnya kembali.
"Ya, Sensei?"
"Tolong kau jaga Shizu. Jangan biarkan dia terlalu lelah." Pinta Kakashi sedikit malu-malu. Sakura mengulum senyum geli.
"Ha'i, Ha'i."
Blum.
Sakura menyempatkan diri untuk terkikik geli menyadari perubahan sifat Kakashi yang semakin lama semakin terlihat kasih sayangnya pada Shizune sejak mereka menikah sebulan yang lalu. Entah kenapa Sakura seperti ikut merasakan kebahagiaan Shizune melihat perhatian Kakashi.
'Sepertinya pikiranku jika Kakashi-sensei menikah karena pengaruh bakteri cinta terlalu berlebihan.' Pikir Sakura di balik senyum gelinya.
"Eh?" Mata Sakura yang sempat terpejam terbuka cepat.
"Tunggu. Bukankah seharusnya aku masih kesal pada Kakashi-sensei yang terlibat dalam rencana bakteri cinta Sasuke-kun juga?" Gumam Sakura pada dirinya sendiri.
"Bagaimana bisa aku lupa bakteri cinta hanya kebohongan yang dibuat Sasuke-kun?" Sakura masih bergumam sendiri.
"Hahh… Sudahlah!" Sakura mendengus kesal.
"Bukan waktunya memikirkan itu!"
Sakura beranjak dari tempatnya berdiri untuk menemui Shizune dan Tsunade yang sudah menunggunya di Rumah Sakit Konoha seperti penjelasan Kakashi.
"Huft! Untunglah sepertinya Sakura sudah melupakan kekesalannya." Kakashi yang sejak berduaan dengan Sakura di dalam ruang Hokage mengkhawatirkan keselamatannya, terlebih ruangannya, menghela nafas lega.
oOo oOo oOo
Wush. Wush.
Tap. Tap. Tap. Tap. Tap. Tap.
5 shinobi remaja dan seorang gadis bercepol dua melompati dahan demi dahan dengan wajah serius. Masing-masing mengkhawatirkan keadaan keempat teman mereka yang tak sadarkan diri, selain itu bayangan kehebatan musuh yang mampu membuat Tim 8 bertekuk lutut mulai menggelanyuti pikiran mereka.
"Hatching."
"Apakah masih jauh, Neji?" Tanya Lee.
"Sebentar lagi kita akan sampai di pos jaga Tim 8." Jawab Neji.
"Kenapa Sakura tak ikut, Sai?" Tanya Tenten.
"Entahlah. Kakashi-sensei menahannya sendiri di kantor Hokage." Jawab Sai yang kemudian tersenyum pada Tenten.
'Dia tampan juga,' Batin Tenten. Tak sadar jika sekilas Neji sempat meliriknya yang sedang mengagumi wajah tampan Sai.
"Hatching."
"Naruto." Naruto memutar kepalanya kesamping, menatap seorang pemuda berambut raven di depannya.
"Untukmu." Sasuke melemparkan sebuah kotak berwarna hijau tua. Naruto mengamati kotak hijau pemberian Sasuke dengan wajah bingung.
"Minumlah. Itu obat flu. Aku membelinya di toko obat." Jelas Sasuke. Naruto sedikit terkesan dengan perhatian Sasuke padanya.
"Arigatou," Naruto tersenyum tipis.
"Berkonsentrasilah dan jangan memikirkan hal lain. Semakin cepat kita menyelesaikan misi kita, semakin cepat kau dapat bertemu Hinata." Nasehat Sasuke panjang lebar. Naruto menyeret iris safirnya yang sempat melebar sedikit karena kaget, menghindari tatapan tajam onyx Sasuke.
"Aku tahu." Seberkas rona merah tipis mulai muncul di pipi tan Naruto.
oOo oOo oOo
"Apa kalian sadar hampir saja membuat gempar seluruh Konoha?!" Tsunade menatap penuh intimidasi satu per satu remaja yang telah duduk bersimpuh lebih dari 1 jam yang lalu di depannya.
"Ya, Tsunade-sama." Jawab keempat shinobi tersebut dengan suara putus asa, membuat Tsunade semakin kesal karena menjadi tak tega memarahi keempatnya lagi.
"Kaing, kaing," Akamaru menutupi matanya dengan telinganya yang panjang.
"Hinata! Sampai di Konoha kau harus menjelaskan semua padaku bagaimana bisa kau membawa obat tidur saat misi!" Jantung Hinata berdebar kencang mendengar namanya disebut.
"Ha'i, Tsunade-sama." Angguk Hinata patuh.
"Dan kau, Sakura! Pergi ke rumah sakit nanti malam bersama Hinata!"
"Ha'i, Shiso." Jawab Sakura cepat. Shizune hanya menatap kasihan pada Sakura dan Hinata yang lagi-lagi mendapatkan amukan Tsunade.
"Sudah. Sudah, Tsunade-sama." Shizune berusaha menenangkan Tsunade.
"Hahh!" Tsunade menghela nafas berat.
"Shizune! Kita pulang!" Tsunade melangkahkan kakinya panjang-panjang dan masih menggumamkan kata-kata keluhannya sepanjang tubuhnya masih terlihat oleh keempat remaja di belakangnya.
"Hahh…" Keempat remaja dan seekor anjing duduk bergelimpungan sembari menghela nafas lega.
"Gomen ne, Sakura-san. Gara-gara aku lagi, kau jadi kena marah Tsunade-sama." Sesal Hinata. Sakura menggulirkan iris emeraldnya menatap Hinata yang salah mengarahkan kepalanya sedikit lebih jauh dari tempat Sakura duduk, karena memang mata Hinata tertutup oleh sebuah perban.
"Tak usah dipikirkan Hinata," Sakura refleks menggelengkan kepala pinknya.
"Aku justru bersyukur kalian baik-baik saja. Terutama kau, Hinata." Kata Sakura tulus.
"Salahkan si bodoh Shino yang seenaknya sendiri menaburkan obat tidur pada makanan kami." Kiba melibatkan diri dalam obrolan.
"Guk." Dukung Akamaru.
"Hey, aku tak tahu jika Hinata membawa obat tidur saat misi." Shino membela diri.
"Aku kira itu suplemen penambah tenaga seperti yang pernah dia berikan dulu." Tambah Shino
"Kau, Sakura! Lagi-lagi aku tertidur karenamu!" Bentak Kiba yang mendapat sebuah tawa kikuk dari gadis bersurai kapas.
"Haha, maaf, Kiba." Sakura menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
"Sudahlah, Kiba! Jangan berlebihan! Kau cerewet sekali seperti seorang wanita." Sindir Shino yang mendapat tatapan tak terima dari Kiba.
'Apa?!' Bukan Kiba, malah Sakura, yang kesal mendengar kata "berlebihan" dari Shino karena mengingatkannya pada kata-kata menyebalkan Uchiha Sasuke.
"Gomen ne, Kiba-kun. Sakura-san membuat obat tidur itu untukku." Hinata mencoba membela Sakura. Lagi-lagi Hinata menatap lawan bicaranya tak tepat sasaran, Kiba yang coba diajaknya bicara namun Akamaru yang dilihatnya.
"Sudahlah, aku lelah. Ayo kita siap-siap pulang." Kiba berdiri dan menepuk-nepuk pakaiannya dari debu yang banyak menempel.
"Ayo, Hinata. Aku akan membantumu." Sakura mengangkat tubuh Hinata kemudian menggenggam tangan Hinata.
"Arigatou, Sakura-san." Ucap Hinata yang lagi-lagi menatap tak tepat sasaran.
Tap. Tap. Tap. Tap. Tap. Tap.
"Hm?" Naruto dan Neji mengerutkan keningnya kaget melihat mata amethyst Hinata yang tertutup rapat oleh sehelai kain penutup khusus.
"Apa yang terjadi padamu, Hinata-sama?" Neji mengambil langkah panjang mendekati Hinata.
"Dia baik-baik saja, Neji. Hanya terlalu lelah menggunakan byakugannya." Jawab Sakura segera. Neji sepertinya tak peduli dengan penjelasan Sakura.
"Kau baik-baik saja, Hinata-sama?" Tanya Neji khawatir.
"Iya, Neji Nii-san." Jawab Hinata cepat, mencoba menghilangkan kekhawatiran Neji.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada Tim 8?" Tanya Tenten penasaran.
"Kami baru saja pulang dari pos jaga kalian, dan kami tak menemukan tanda-tanda adanya musuh yang menyelinap." Jelas Lee pada Tim 8 dan Sakura.
"Tentu saja kalian tidak akan menemukan siapapun. Kami…"
Shino mulai menceritakan secara ringkas dengan gaya bicara khasnya, menceritakan dari awal sampai akhir bagaimana Tim 8 jatuh bergelimpangan karena obat tidur yang dibawa Hinata termakan oleh Tim 8.
"Itu sangat berbahaya!" Komentar Sasuke.
"Jika efek obatnya bekerja saat kalian melawan musuh, selemah apapun musuhnya, kalian pasti tidak akan selamat." Jelas Sasuke.
"Wakatta, wakatta." Jawab Kiba kesal.
"Jadi, apa diantara kalian ada yang terluka?" Tanya Tenten dibalik senyuman lebar.
"Tidak ada, Tenten. Kecuali telinga kami yang panas mendengarkan ceramah Tsunade-sama." Jawab Kiba.
"Sebelum kalian datang, kami baru saja akan membereskan barang dan kembali ke Konoha." Tambah Kiba.
"Bagaimana kita akan membawa Hinata pulang, Kiba? Dia tak bisa melihat dan melompat dengan mata tertutup." Tanya Shino.
Kiba dan Shino menatap Hinata. Sebenarnya mereka tak keberatan sama sekali jika harus menggendong Hinata sampai Konoha. Toh, mereka sudah sering melakukannya selama bertahun-tahun bersama di Tim 8. Yang jadi masalah sekarang adalah keberadaan Naruto. Shino dan Kiba tahu jika pemuda jabrik itu diam-diam mulai mengagumi sosok Hinata.
"Bagaimana jika Sakura yang menggendongnya?" Usul Tenten asal sembari menjulurkan lidahnya pada Sakura yang tengah menatapnya kesal.
"Kita tidak mungkin meminta bantuan Tim Gai. Mereka harus menjaga perbatasan menggantikan Tim 8 karena memang ini jadwal mereka berjaga, Sakura." Dukung Sai.
"Ya, ya, ya. Sai-kun benar. Karena itu pilihan Hinata hanya digendong olehmu." Tenten tersenyum Sai memiliki pemikiran yang sama dengannya.
"Atau mungkin Hinata ingin memilih sendiri salah satu dari kalian berenam?" Tanya Tenten kemudian.
"Lama sekali. Paksa saja Naruto menggendong Hinata, Sasuke!" Usul Kiba tak sabar.
"Eh?" Hinata terpekik kaget mendengar usulan Kiba.
"Ya, Kiba benar. Jika itu Naruto, Hinata tak akan menolak." Dukung Shino.
"Guk. Guk." Akamaru menyalang setuju.
Naruto, pemuda yang menjadi perbincangan, hanya diam tak berkomentar. Mata langitnya sibuk mengawasi Hinata, yang berdiri disamping seorang laki-laki bermata amethyst sepertinya, dalam rona merah dan memainkan kedua tangannya di depan dada. Namun yang lebih menjadi perhatian Naruto adalah mata amethyst Hinata yang tersembunyi di balik penutup matanya.
"Neji, Tenten. Ayo kita berangkat ke perbatasan. Kita sudah terlambat." Peringatan Lee.
"Baiklah." Neji menatap Hinata sejenak sebelum membalikkan badannya.
"Siapapun yang menggendong Hinata-sama. Aku titipkan adikku pada kalian." Ucap Neji sebelum melompat pergi dan diikuti oleh Lee yang menyempatkan diri untuk melambaikan tangan dan mengedipkan sebelah matanya pada Sakura.
"Sakura!" Panggil Sasuke. Sakura yang masih bergidik ngeri setelah menerima kedipan mata Lee, menolehkan kepalanya cepat. Memandang Sasuke dengan wajah aneh.
"Jangan suka membuat obat aneh lagi!" Kata Sasuke.
"Kau bisa membahayakan keselamatan Tim 8. Kau tahu?" Tanya Sasuke kemudian.
"Sudahlah, Taichou. Sakura pasti tidak tahu jika obat tidurnya akan termakan oleh Tim 8 saat misi." Bela Sai. Sasuke menatap Sai tajam.
"Jangan selalu membelanya, Sai!" Ucap Sasuke tajam.
"Dia akan menjadi gadis yang kurang bertanggungjawab!"
"Cukup, Sasuke-kun. Aku tahu aku salah." Sasuke menghela nafas memandang gadis musim seminya yang kembali menjadi manja.
"Ayo, kita kembali ke Konoha!" Perintah Sasuke yang segera memposisikan diri sebagai pemimpin diantara teman-temannya.
"Tunggu, Sasuke. Siapa yang akan menggendong Hinata?" Cegah Shino. Semua mata menatap Naruto yang berdiri dengan wajah serius.
"Wakatta, ttebayou." Naruto menatap Sasuke penuh arti.
"Taichou. Aku ingin membicarakan sesuatu dengan Tim 7."
"Baiklah."
.
.
Wush. Wush.
Tap. Tap. Tap. Tap. Tap. Tap.
Hinata memainkan tarik-menarik jaket lavendernya dalam buaian angin. Rona merah tak mau hilang dari daerah sekitar wajahnya. Jantungnya berdebar sangat kencang. Bagaimana tidak? Saat ini Naruto membopongnya seperti pengantin. Seperti yang diceritakan oleh Ino tentang apa yang Sai lakukan saat awal-awal agresi para kunoichi itu di mulai. Sesuatu yang sangat sering dimimpikan Hinata.
Rona merah pada wajah Hinata semakin bertambah tiap di rasakannya genggaman tangan besar Naruto pada lengannya, semakin mengerat beberapa kali.
Naruto sedikit bersyukur mata amethyst Hinata tersembunyi di balik perban. Naruto jadi tak perlu bingung bagaimana menutupi seberkas rona merahnya, walaupun masih terlalu tipis untuk terlihat pada kulit tan Naruto.
'Semoga Hinata tak menyadari debaran jantungku.' Doa Naruto dalam hati.
"A-ano, Naruto-kun." Panggil Hinata mencoba memecah kesunyian.
"Hatching."
"Ya, Hinata?" Jawab Naruto.
"Kau sakit, Naruto-kun?" Tanya Hinata dengan nada khawatir.
"Haha. Hanya sedikit flu, Hinata." Jawab Naruto dalam cengiran lebar yang tak terlihat oleh Hinata.
'Pasti karena aku meninggalkannya diluar malam itu,' Pikir Hinata. Hinata menumpuk kedua tangannya di depan dadanya merasa bersalah pada Naruto.
"Naa, Hinata." Panggil Naruto. Hinata mendongakkan wajahnya yang tersipu, dan menatap Naruto dengan mata yang tertutup.
"Jika aku melompat terlalu cepat, katakan saja padaku."
"Aku tak ingin merasakan jyuuken Neji lagi jika aku menjatuhkanmu, ttebayou." Naruto memejamkan mata langitnya demi memamerkan sederet giginya yang terjajar rapi walau gadis dalam gendongannya tak dapat melihatnya.
"Arigatou, Naruto-kun." Hinata tersenyum geli.
Sasuke yang melompat di samping Naruto memutar bola matanya bosan. Mata onyxnya yang tajam berhasil membingkai wajah Sakura yang menatap lurus jalan di depannya dan tersenyum penuh arti. Sasuke berani bertaruh jika Sakura sedang memutar kembali ingatannya tentang permintaan Naruto sebelumnya.
oOo oOo oOo
"Hahh…" Kakashi menyandarkan punggungnya pada badan kursi sedikit kasar. Keenam shinobi yang berdiri di depannya menanti reaksi Hokage mereka dengan wajah serius.
"Jadi, Tim 8 tak sadarkan diri karena obat tidur dan bukan oleh musuh?" Ulang Kakashi.
"Ya, Hokage-sama." Jawab Shino mewakili Tim 8.
"Gomen ne, Hokage-sama. Ini semua karena aku kurang hati-hati membawa obat." Hinata menundukkan kepalanya di hadapan Kakashi. Kakashi kembali menegakkan posisi duduknya.
"Bagaimana dengan matamu, Hinata?" Tanya Kakashi.
"Aku baik-baik saja, Hokage-sama." Jawab Hinata. Sayang sekali iris indigo Hinata tersembunyi di balik perban, jadi Kakashi tak bisa mencari kebenaran dari mata indigo sang gadis.
"Baiklah, aku tidak akan memperpanjang percakapan ini lagi. Sepertinya Tim 8, terutama Hinata, butuh mengistirahatkan tubuh mereka." Putus Kakashi bijak.
Tok. Tok. Tok.
Kakashi mengalihkan perhatiannya pada pintu masuk ruang Hokage yang berbunyi.
"Masuk." Jawab Kakashi.
Pintu masuk ruang Hokage dibuka perlahan oleh seorang pemuda yang rambut hitamnya dikuncir tegak kebelakang. Mata Shikamaru bergulir menatap satu per satu anggota Tim 8 dengan tenang. Namun saat beradu pandang dengan anggota Tim 7, Shikamaru segera mengalihkan pandangannya dengan wajah merona merah.
"Ada apa, Shikamaru?" Tanya Kakashi.
"Aku membawa surat jawaban dari Kirigakure dan Komugakure, Hokage-sama." Jawab Shikamaru setelah berdiri di samping Kakashi.
Kakashi mengambil alih gulungan yang dibawa oleh Shikamaru. Dibukanya salah satu dari 2 gulungan di hadapannya, dan Kakashi pun tenggelam dalam kata demi kata yang tertulis di dalam gulungan.
"Hmmmpphh…" Telinga Shikamaru terlalu tajam untuk tak menangkap suara menahan tawa dari anggota Tim 7, membuat Shikamaru semakin tersipu malu.
"Hm?" Kakashi mendongakkan wajahnya menatap Sai, Naruto, Sakura, dan bahkan Sasuke sedang menahan tawa geli dengan gayanya masing-masing.
"Apakah Anda sudah selesai membacanya, Hokage-sama?" Tanya Shikamaru tak sabar. Kakashi menoleh dan menemukan wajah Shikamaru yang tersipu.
'Apa aku melewatkan banyak cerita?' Pikir Kakashi.
"Jika Anda sudah selesai membacanya, izinkan aku mengundurkan diri, Hokage-sama." Pamit Shikamaru yang sepertinya tak tahan untuk berlama-lama di dalam ruangan Hokage bersama Tim 7.
"Ya, kau boleh keluar, Shikamaru. Aku akan memanggilmu jika aku membutuhkanmu." Kakashi memutuskan untuk sekali-sekali membuat Shikamaru berhutang budi padanya.
"Ha'i." Shikamaru menundukkan kepalanya sedikit sebelum berjalan cepat melewati Tim 7 yang masih saja menahan tawa geli.
"Baiklah, kalian juga silahkan pulang setelah mengambil uang misi kalian." Lanjut Kakashi.
"Ha'i, Hokage-sama." Jawab Tim 7 dan Tim 8 segera.
"Ah, sebelumnya, Sakura…"Panggil Kakashi yang tak mendapatkan sebuah jawaban dari Sakura.
"Sakura!" Sasuke menyodok lengan Sakura yang membuat gadis bersurai merah muda yang masih mengulum senyum geli itu terlonjak kaget.
"Eh? Aku?" Sakura menunjuk wajahnya sendiri.
"Hmm…" Kakashi kembali melakukan kebiasaannya mengamati keempat murid kesayangannya.
Naruto yang menepuk jidatnya frustasi. Sai yang memamerkan sebuah senyum palsu pada Kakashi, Sasuke yang memberikan sebuah deathglare pada Sakura, dan gadis bersurai merah muda yang nyengir tidak jelas sembari menggosok-gosok belakang kepalanya.
"Ada apa, Kakashi-sensei?" Tanya Sakura.
"Kau yang akan mengantar Hinata pulang." Kakashi merubah perintahnya.
"Bagaimana, Hinata?" Tanya Kakashi.
"Jika Sakura-san tidak merasa keberatan, Hokage-sama." Jawab Hinata. Kakashi tersenyum lembut. Ditatapnya emerald Sakura yang tak sengaja beradu pandang dengan mata Kakashi. Sakura mengalihkan pandangannya dengan membawa rona tersipu pada pipi putihnya begitu melihat senyuman Kakashi di balik masker hitamnya. Senyuman geli yang menyadari kenakalan murid-muridnya.
"Baiklah kalau begitu, Naruto. Kau tetap disini. Yang lain silahkan keluar." Titah Kakashi.
"Ha'i, Hokage-sama."
oOo oOo oOo
"Hoooaaam," Kiba menguap lebar, disudut matanya bergantung setitik air mata.
"Kau mau pulang, Kiba?" Tanya Shino yang tak terlihat lelah sedikitpun.
"Ya. Aku ngantuk sekali." Jawab Kiba.
"Bagaimana denganmu, Sasuke?" Tanya Shino beralih pada Sasuke.
"Aku akan menunggu Naruto keluar." Jawab Sasuke.
"Kau, Sai?" Harapan terakhir Shino jika Shino benar-benar ingin mencari teman.
"Aku akan menemui Ino." Jawab Sai begitu jujur.
"Kau jadian dengan Ino, Sai?" Tanya Kiba yang tiba-tiba hilang rasa kantuknya.
"Segera." Jawab Sai cepat, tak lupa dengan sebuah senyuman palsu andalan Sai.
"Guk!" Akamaru menyalak.
"Sepertinya, akhir-akhir ini suasana hati para shinobi menjadi panas." Komentar Shino.
"Jika semua mempunyai rencana masing-masing, aku akan pulang. Jaa.." Pamit Shino.
"Kenapa dia tak bertanya padaku?" Gerutu Sakura.
"Hatching."
Hinata yang mendengar suara bersin Sakura mengerutkan keningnya.
"Tentu saja. Sejak kapan Shino punya hobi bermain dengan perempuan, Sakura?!" Jawab Kiba.
Kiba berjalan mendekati Hinata yang berdiri diam tak jelas menatap siapa.
Pluk.
Kiba menepuk pelan kepala biru Hinata pelan. Namun sepertinya masih cukup berat hingga gadis indigo itu sedikit menundukkan kepala birunya menerima tangan besar Kiba.
"Hinata. Cepatlah sembuh." Kata Kiba sangat lembut. Kali ini Hinata menolehkan kepalanya dengan tepat. Kiba dan Hinata saling bertukar sebuah senyuman manis.
"Arigatou, Kiba-kun." Jawab Hinata.
"Baiklah-baiklah. Ayo kita pulang, Hinata." Sakura menyeret Hinata menjauh dari Kiba, yang mendapatkan dengusan geli dari Sasuke.
"Sakura-san," Kaget Hinata yang tak siap dengan aksi Sakura.
"Jaa…" Sakura melambaikan tangannya tanpa menoleh sedikitpun ke belakang.
"Kalo begitu aku juga pergi. Jaa…" Sai menghilang dari hadapan Kiba, Akamaru, dan Sasuke dengan meninggalkan seberkas asap tipis.
"Baiklah, ayo kita juga pulang, Akamaru." Ajak Kiba.
"Guk." Akamaru menjawab dengan senang.
"Kiba," Panggil Sasuke.
"Apa?" Jawab Kiba dengan kata tanya.
"Besok, apa aku boleh bermain lagi dengan Akamaru?" Tanya Sasuke sedikit ragu.
"Hahahaha, bermainlah sepuasmu, Sasuke!" Kiba menaiki punggung Akamaru.
"Jaa!" Pamit Kiba.
oOo oOo oOo
"Apa kau lelah, Hinata?" Tanya Sakura. Hinata menatap Sakura tepat, karena memang Sakura membatasi pergerakan Hinata dengan menggenggam erat-erat tangan Hinata.
"Tidak, Sakura-san." Jawab Hinata.
"Ada apa?" Tanya Hinata kemudian.
"Aku ingin mampir ke suatu tempat dulu. Bagaimana? Kau mau ikut?" Tawar Sakura.
"Un." Hinata mengangguk.
Sakura dan Hinata kemudian berjalan dalam diam. Sesekali, genggaman tangan Sakura pada Hinata mengerat. Hinata berfikir jika saat ini Sakura sedang memikirkan sesuatu yang berat, jadi tiap kali genggaman tangan Sakura padanya mengerat, Hinata membalasnya.
"Tunggulah sebentar disini, Hinata." Sakura membimbing Hinata duduk di atas sesuatu yang lumayan tinggi. Sepertinya saat ini Sakura membawanya di pusat desa, karena walaupun tak bisa melihat, telinga Hinata masih mampu menangkap bermacam-macam suara bising di sekitarnya.
"Aku tidak akan lama."
Sakura baru melompat pergi saat mendapatkan sebuah anggukan kecil dari gadis Hyuuga di depannya.
.
.
"Eh?" Hinata memekik kaget saat sesuatu yang dingin menyentuh kulit putihnya.
"Kau melamun, Hinata." Sakura mengambil duduk disamping Hinata yang menatapnya sedikit tak tepat sasaran.
"Apa urusanmu sudah selesai, Sakura-san?" Tanya Hinata. Hinata mendengar suara kresek-kresek tepat di tempat Sakura duduk.
"Hmm, ya. Aku sudah mendapatkan barang yang aku titipkan." Jawab Sakura tak jelas.
Sakura meraih sebelah tangan Hinata, meletakkan sesuatu yang harus di genggam Hinata kuat-kuat.
"Makanlah, Hinata. Ini juga salah satu makanan kesukaanku. Hehe."
Hinata mendekatkan makanan yang digenggamkan Sakura padanya. Dari asap dingin yang berseliweran di sekitar tangannya, Hinata tahu yang akan dimakannya adalah es batangan.
"Ini juga makanan kesukaan Naruto-kun." Gumam Hinata. Sakura melirik Hinata yang diam untuk menjilat es nya.
"Kau, tahu banyak tentang Naruto ya, Hinata?" Komentar Sakura. Hinata menghentikan jilatan pada es nya sebentar.
"Tidak, Sakura-san." Jawab Hinata.
"Masih banyak hal yang ingin aku ketahui tentang Naruto-kun." Hinata menundukkan kepala birunya untuk menyembunyikan rona merah yang mengintip di balik perbannya. Sakura mengeratkan genggaman tangannya pada stik es yang dijilatinya.
Sakura menatap langit biru di atasnya, sementara Hinata melanjutkan makan es yang sempat dihentikannya.
"Kenapa kau jatuh cinta pada Naruto, Hinata?" Tanya Sakura.
"Eh?" Pekikan kecil Hinata yang kaget tertangkap telinga Sakura.
"Ke-kenapa kau me-menanyakannya, Sa-Sakura-san?" Penyakit gagap Hinata kambuh. Sakura menanti jawaban Hinata dengan sabar.
"Aku benar-benar ingin tahu, Hinata." Ucap Sakura bersungguh-sungguh.
Hinata menatap ke depan. Mungkin niatnya menghindari iris emerald Sakura.
"Naruto-kun. Aku sangat mengagumi tekadnya yang pantang menyerah. Sesuatu yang tak aku miliki sebelumnya." Jawab Hinata setelah agak lama.
"Dia membuatku yang lemah dan mudah putus asa, menjadi seorang wanita yang kuat. Aku bisa mendapatkan semua kebahagiaanku hanya dengan melihat senyumannya yang sehangat matahari" Hinata menatap langit biru diatasnya. Sakura mendengar dalam diam untuk meresapi tiap kata yang begitu lembut mengalun dari bibir mungil Hinata.
"Banyak hal yang dapat aku pelajari darinya. Dan memiliki jalan ninja yang sama dengannya adalah kebahagiaanku yang lain."
Nafas Sakura terasa tercekat mendengar jawaban Hinata. Es yang melelah melewati tangan putihnya tak dihiraukan Sakura.
"Bukankah dia orang yang sangat bodoh, Hinata?" Tanya Sakura.
"Iee," Hinata menggelengkan kepalanya cepat.
"Aku justru iri dengan sifatnya yang ceria itu." Sanggah Hinata. Hinata tersenyum, mungkin semua kekonyolan Naruto yang selalu membuat Hinata tertawa berputar-putar dalam pikirannya.
"Bukankah dia sering menyakiti hatimu, Hinata?" Tanya Sakura lagi.
"Dia laki-laki yang terlalu bodoh bahkan untuk menyadari cintamu."
"Apalagi kebohongannya tentang bakteri cinta padamu. Apa kau tak marah padanya?" Tanya Sakura panjang lebar. Hinata merasa Sakura memiliki begitu banyak pertanyaan terkait dengan Naruto.
"Aku hanya sedikit kecewa, Sakura-san." Lirih Hinata.
"Tapi, setelah aku memikirkannya baik-baik, mungkin benar apa yang dikatakan oleh Sasuke-kun. Aku terlalu berlebihan."
"Naruto-kun, pasti punya alasan kenapa melakukannya."
"Lagipula Naruto-kun tak benar-benar berbohong padaku. Dia mungkin hanya tak ingin menghianati rencana Sasuke-kun dan Sai-kun."
"Bukankah Naruto-kun selalu seperti itu, Sakura-san?" Hinata tersenyum lembut pada Sakura.
"Dia tak akan pernah berkhianat dan meninggalkan teman-temannya. Itu juga yang aku sukai darinya."
Sakura tersenyum tipis. Sepertinya keputusannya kali ini benar-benar tepat. Walau sudah sangat jelas terlihat jika Hinata menyukai Naruto, namun gadis itu tampak sedikit kesulitan menyampaikan isi hatinya dengan sifatnya yang pemalu.
"Jika aku harus marah, aku akan marah pada diriku sendiri, Sakura-san." Lanjut Hinata.
"Aku menjadi egois. Aku bahkan berusaha menggapai hati Naruto-kun dengan paksa."
"Mungkin saja Naruto-kun masih menyukaimu, Sakura-san." Hinata mengukir sebuah senyuman Sakura kembali tercekat untuk beberapa saat.
Merasa tak ada pertanyaan lagi dari Sakura, Hinata melanjutkan untuk memakan es nya yang tinggal separohnya. Sakura mengepalkan tangannya erat. Masih banyak pertanyaan yang bercokol dalam hatinya. Pertanyaan yang sejak dulu sangat ingin ditanyakannya pada Hyuuga Hinata.
"Saat melawan Pein, apa yang sebenarnya kau pikirkan, Hinata?" Ternyata pertanyaan Sakura masih berlanjut.
"Apa yang membuatmu begitu berani melawan orang yang berkali-kali lipat jauh lebih kuat darimu? Apa kau tak takut?"
"Tentu saja aku takut, Sakura-san." Jawab Hinata.
"Tapi aku lebih takut jika kehilangan Naruto-kun," Gumam Hinata dengan wajah yang kembali merona.
"Dan kau menyatakan cintamu pada Naruto. Bagaimana kau bisa melakukannya dalam keadaan segenting itu?" Semakin jauh, entah kenapa Sakura semakin menggunakan emosi di setiap pertanyaan yang meluncur keluar dari mulutnya.
Hinata menundukkan wajahnya.
"Gomen ne, Sakura-san. Aku tahu aku sangat egois saat itu. Aku hanya ingin sedikit saja, Naruto-kun menyadari keberadaanku sebagai seorang wanita."
"Jadi, aku tidak akan menyesal jika akhirnya aku mati." Lirih Hinata.
"Kenapa kau begitu banyak berkorban untuknya, Hinata?" Suara Sakura terdengar bergetar di telinga Hinata. Hinata tak menemukan kata yang mampu mewakili perasaannya untuk pertanyaan Sakura yang satu ini.
Cukup lama Hinata dan Sakura tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Hinata yang kembali menjilati es nya tak menyadari jika sudah lama Sakura menatapnya dalam diam.
"Hinata," Panggil Sakura kembali. Hinata menolehkan kepala birunya pelan ke arah sumber suara.
"Ano, Hinata."
"Iya, Sakura-san."
"Aku rasa Naruto sudah jatuh cinta padamu, Hinata." Sakura menggosok-gosok pipinya. Hinata tersenyum hangat mendengar perkataan Sakura yang seperti mencoba untuk menghiburnya.
"Arigatou, Sakura-san. Kau memang gadis yang sangat baik." Puji Hinata tulus. Wajah Hinata yang tersenyum, membuat gadis indigo itu terlihat sangat cantik saat terbingkai dalam iris emerald Sakura. Membuat gadis bersurai merah muda tersebut tak sadar jika terpana dalam waktu lama.
"Gomen ne, Sakura-san. Sepertinya aku terlalu banyak bicara." Kata Hinata mengakhiri keterpanaan Sakura.
"Ah, tak apa, Hinata. Aku bersyukur banyak hal yang aku tahu." Kata Sakura.
"Apa ada yang ingin kau katakan pada Naruto, Hinata?" Tawar Sakura kemudian.
"Aku janji akan menyampaikannya pada Naruto." Sakura terlihat begitu antusias. Hinata terdiam untuk beberapa lama.
'Tak ada, ya?' Batin Sakura sedikit kecewa.
"Jika ada yang ingin aku ucapkan pada Naruto-kun, aku punya dua kata yang sangat ingin aku ucapkan padanya." Hinata menundukkan wajahnya yang memerah tipis.
"Eh, ada ya? Bisa kau beritahu aku, Hinata?" Tanya Sakura benar-benar antusias.
"A-aku malu, Sakura-san." Tolak Hinata yang menggelengkan kepala birunya cepat. Ditutupnya bibir mungilnya dengan kedua tangannya.
"Haha, baiklah. Aku tak akan memaksamu, Hinata." Sakura tertawa kikuk. Hinata masih mempertahankan posisinya.
"Hatch…!" Sakura menekan hidungnya kuat-kuat berusaha menyembunyikan bersinnya. Hinata mengangkat kepalanya, mengerutkan keningnya. Ada yang mengganjal dalam hatinya sejak tadi.
"Hahh…" Sakura menghela nafas panjang karena cukup lama menunggu kata yang keluar dari bibir mungil gadis Hyuuga disampingnya.
Hinata menggenggam jaketnya kuat-kuat. Semoga apa yang dipikirkannya memang benar.
"Dai suki." Hinata menatap Sakura dengan iris amethysnya yang tersembunyi di balik perban.
"Apa?" Kaget Sakura.
"Dai suki, Naruto-kun." Ulang Hinata dengan wajah tersipu. Iris emerald Sakura melebar, nafas Sakura tercekat mendengar ulangan kata Hinata. Sakura mengepalkan tangannya erat.
"A-aku ingin mengatakannya."
"Demo, aku malu sekali jika harus mengatakannya lagi, Sakura-san." Hinata menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Sakura mengulum sebuah senyuman tipis yang miris.
'Dengan sifatmu yang seperti ini, bagaimana mungkin aku tidak mencintaimu, Hinata?'
"Sakura! Hinata!"
oOo oOo oOo
"Sakura! Hinata!" Suara cempreng Ino menyeruak dalam gendang telinga Sakura.
'Sialan! Ino mengganggu saja.' Umpat Sakura dalam hati.
"Ternyata kalian disini!"
"Apa kalian tahu jika aku mencari kalian kemana-mana?" Keluh Ino. Ino duduk disamping Hinata.
"Ada apa kau mencari kami, Ino-san?" Tanya Hinata menatap Ino dengan matanya yang tertutup perban.
"Ada apa? Tentu saja karena aku mengkhawatirkanmu!" Jawab Ino kesal.
"Hei, kau tak perlu berteriak seperti itu, Ino!" Protes Sakura tak suka.
"Diam kau, forehead! Aku juga sedang kesal denganmu!" Balas Ino sengit.
"Bagaimana mungkin kau tak memberitahuku jika Hinata terluka? Aku juga bagian dari rahasia miko." Cerocos Ino. Sakura mengerutkan keningnya.
"Jika aku tak sengaja mendengar Tsunade-sama dan Shizune-senpai membicarakannya di rumah sakit, aku tak akan tahu mata Hinata terluka." Ino menatap Hinata dengan pandangan kesal karena gadis itu sudah membuatnya berfikiran macam-macam, tentu saja itu karena Ino sangat mengkhawatirkan keadaan Hinata.
"Aku baik-baik saja, Ino-san. Kau tak usah khawatir." Hinata mencoba menghentikan Ino berbicara lebih banyak lagi.
"Bagaimana kau bisa bilang baik-baik saja jika kau bahkan sampai mengacaukan aliran cakramu sendiri, Hinata?!" Protes Ino. Emerald Sakura melebar tak mempercayai apa yang baru saja di dengarnya.
"Gadis bodoh! Bisa-bisanya kau benar-benar mengorbankan segalanya untuk Naruto yang bahkan tak menganggap perasaanmu sama sekali!" Omel Ino tanpa memberikan kesempatan pada Hinata untuk menyela.
"Menjadi miko penjaga jinchuuriki dan mengorbankan mata, bahkan nyawamu untuk menyegel kekuatan Kyuubi?! Kau benar-benar gadis gila, Hinata!" Sakura mengatupkan mulutnya erat, berusaha mengurangi bunyi gemerutuk giginya menahan emosi.
"Ino-san, cukup. Tolong jangan katakan apapun lagi." Kata Hinata khawatir. Ino ganti menatap kesal Sakura yang hanya diam, seperti orang yang mendadak menjadi bisu.
"Sakura! Kau jangan diam saja! Nasehati gadis keras kepala ini! Tsunade-sama bilang karena cakra Hinata yang kacau byakugan Hinata tidak dapat dinonaktifkan!"
"Dai bahkan harus menutup matanya dengan kain ini agar tak menghabiskan banyak cakranya!"
"A-aku baik-baik saja, Ino-san. Sungguh. Benhentilah mengatakannya lebih jauh lagi." Bujuk Hinata yang sudah berkeringat dingin.
"Bagian mana yang baik-baik saja jika itu akan membahayakan nyawamu bahkan sebelum kau berhasil menjadi seorang miko, Hinata?!" Kening Ino berkedut kesal tak mengerti bagaimana bisa Hinata menanggapi masalahnya begitu santai.
"Hey, Sakura! Kenapa kau diam saja?!"
"Kau…"
Tap.
Seorang pemuda berkulit pucat tiba-tiba mendarat di depan kedua gadis, Ino dan Sakura, yang menatapnya dengan ekspresi masing-masing.
"Jangan khawatir, aku akan membawa gadis cerewet ini pergi." Kata Sai pada Sakura yang menatap iris obsidiannya tanpa melepaskan rasa terkejutnya akan rahasia besar yang baru saja diketahuinya.
"Apa maksudmu, Sai-kun?!" Protes Ino kesal.
"Jangan seena…"
"Kyaaa… Turunkan aku, Sai-k…"
Suara Ino menghilang bersamaan dengan hilangnya tubuh Ino yang digendong paksa oleh Sai, dan menghilang begitu saja dari hadapan Sakura dan Hinata.
"Hahh…" Hinata menghela nafas lega walau masih bingung bagaimana Sai bisa datang begitu tepat waktu.
Sakura menatap gadis indigo disampingnya dengan mata melebar, menatap Hinata dengan pandangan tak mengerti.
'Apa maksud semua ini?!'
OOo TBC oOo
Yosha! Chap 10 selesai juga.
Tinggal 1 Chap lagi.
Minna, ayo bilang ganbatte, Cand! ^^
Ne, Cand mau langsung aja kirim salam buat Mastin-san "Arigatou gozaimasu, Mastin-san ditunggu review di chap selanjutnya."
Buat Hqhqhqhq : "Naruhina selalu ada interaksinya kok walau hanya sekilas saja ^^"
Buat Ikhwan-kun : "Hahaha, Cand beda sama Temari-san, bisa2 endut kalo makannya kayak Temari-san. Gomen2 Shikamaru terlalu OOC kah? Tapi kawaii Cand sukaaaa ^^"
Buat Kojou-san : "Kalo Cand lebih suka baca reviewnya Kajou-san yang menambah semangat. Arigatou :D Kalo bisa reviewnya yang banyak ya. Haha :p"
