Sendirian.

Sendirian itu sungguh menyedihkan.

Aku menangis terisak-isak tapi tak seorangpun mendengarku.

Aku merasa lelah karena sendirian,

Hei, kumohon, seseorang…

Temukan aku.

Disclaimer

Vocaloid © Crypton/Yamaha

Winter Lavender © Ameshiro Kaitsune

Warning

Typo(s), OOC, AU, alur kecepatan. Don't like don't read.

Rated

T

BRAKK

Seorang anak laki-laki berambut pirang menggebrak meja keras-keras, membuat meja tersebut retak dan hampir terbelah dua. Kertas-kertas dan dokumen yang berada di atas meja itu berjatuhan.

"Apa-apaan ini!?" dia menunjuk-nunjuk formulir kepindahan sekolah.

"Woah, tenang, Len! Tenagamu itu terlalu berbahaya, tahu!" laki-laki berparuh baya yang menjadi korban kemarahan anak laki-laki itu buru-buru menangkap sebuah tablet yang nyaris ikut terjatuh.

"Apa maksudmu tiba-tiba memindahkanku ke sekolah lain!?" tanyanya gusar.

"Sebenarnya tadi aku baru dapat telepon dari seorang guru di sana, jadi-"

"SETIDAKNYA KAU MENANYAKAN PERSETUJUANKU DULU, DONG!"

"… Maaf."

Len menjatuhkan diri di kursinya. Dia menarik nafas sejenak lalu kembali menatap laki-laki paruh baya di depannya, yang merupakan ayahnya sendiri.

"Kan sudah kubilang, kalau kau melakukan sesuatu yang melibatkanku, kau harus meminta pendapatku juga!"

"Iya, iya, aku sudah minta maaf, 'kan. Lagi pula kondisinya mendadak sekali…"

"Haah…" Len mengacak-acak rambutnya. Ayahnya ini suka seenaknya saja, Len sering cepat emosi kalau berhadapan dengannya. "Lalu?"

"Hari ini aku akan ke sana untuk melihat keadaannya, kau ikut?"

Len menghela nafas. "Tentu saja!"

"Kalau begitu kita pergi sekarang?"

Len berdiri dari posisi duduknya. "Kalau begitu aku ucapkan selamat tinggal dulu kepada teman-temanku di sekolah…"

"Oh? Memangnya mereka masih berada di sana?"

Len menoleh kesal. "Kau memanggilku pulang saat masih jam sekolah, tahu!" Len bergegas keluar. "Tunggu!"

"Apa lagi!?"

"Kau harus mengganti meja kerjaku, lho…"

Ugh. Len meremas kepalan tangannya.

"Tidak peduli!" jeritnya lalu membanting pintu keras-keras.

Ayahnya terkekeh. Menggoda anaknya adalah hal paling menyenangkan untuknya.

.:WL:.

"Oi, Len!" Mikuo melambai-lambaikan tangannya. Len mengangkat tangannya.

"Kenapa kau pulang cepat tadi?"

"Ayahku memanggil pulang…"

"Memang ada urusan apa?"

Len berdehem. "Yah, ayahku bilang, dia ingin memindahkanku ke sekolah lain…"

"APA!? KAU MAU PINDAH?"

Len menutup telinganya. "Jangan teriak-teriak, dong!"

Laki-laki berambut tosca di depannya tanpa sadar menjatuhkan buku-buku tugas yang dibawanya tepat di kaki Len.

"Aduh!"

"Yang benar saja! Kau masih harus memimpin rapat besok, tahu!"

"Yah, soal itu sih," Len memutar bola matanya. "Yah, Mikuo. Kau sebagai wakil yang harus bertanggung jawab menggantikanku!"

Mikuo melotot.

"Woah! Jangan salahkan aku, ayahku yang seenaknya memindahkanku…"

"Ta-tapi ini terlalu mendadak tahu! Teganya kau meninggalkanku!" Mikuo mengguncang-guncangkan bahu Len lalu tanpa sadar memeluknya sambil menangis.

"Ap-"

Seorang guru yang baru masuk ke ruang itu bergegas keluar lagi.

"Sensei! Anda salah paham!" Len meronta dari pelukan Mikuo.

" Ugh. Hentikan, Mikuo! Kau mengerikan!" Len memukul Mikuo hingga terpelanting dan membentur meja kayu yang langsung patah, untunglah ruang OSIS saat itu tidak ada siapapun selain mereka berdua.

"Aduh… sakit!"

Len mendecih. "Jangan mendekat!"

"Bercanda, tahu!" Mikuo menepuk celananya. "Memang kau mau pindah kemana?"

Len memutar bola matanya ke arah atas. "Kalau tidak salah namanya Voshtune no Gakku atau apalah."

Mikuo berdiri mematung.

"Oi—kau kenapa?"

"Kau serius akan dipindah ke sana?"

Len mengaguk.

Mikuo hanya diam, dia mengambil buku-bukunya yang berserakan lalu bergegas keluar.

"Kalau—" dia menghentikan langkahnya. "Kau bertemu dengan seorang perempuan yang mirip denganku, jangan pernah berhubungan dengannya!"

"Eh? Kenapa?"

"Pokoknya jangan!" Mikuo melirik Len sekilas. "Tapi kurasa kau akan langsung bertemu dengannya besok. Hati-hati, Len!"

Len hanya menatapnya bingung.

"Sudahlah, kau mau pamit dengan sensei apa tidak?"

"Iya, iya." Len mengikuti Mikuo keluar dari ruangan itu.

"Sudah ya, sampai jumpa lagi Len." Mikuo melambaikan tangannya, Len mengaguk sambil tersenyum.

Setelah berpamitan dengan wali kelasnya, Len berjalan pulang, diliriknya smartphone berbentuk rollerphone yang melingkar di pergelangan tangannya, ada sebuah message dari ayahnya di sana.

"-Len, tunggu di situ, aku akan menjemputmu."

Len menyenderkan tubuhnya di pintu masuk, dia melamun.

"Voshtune no Gakku itu seperti apa ya? Namanya tampak familiar…"

"LEN!"

Len tersentak kaget, sosok yang memanggilnya hanya tersenyum jahil.

"Melamun saja, ayo naik!"

Len merengut ketika tahu yang mengagetkannya adalah ayahnya sendiri. Dengan malas dia menaiki mobil lalu duduk di sebelah ayahnya.

"Sebenarnya, kenapa kau memindahkanku ke sana?"

"Kau dengar cerita selengkapnya saja nanti."

"Huft!" Len menyenderkan tubuhnya.

"Jangan mengeluh begitu, siapa tahu kau menemukan sesuatu yang kau cari di sana kan?"

"Memangnya siapa—atau apa yang kucari?"

"Yah, apa saja."

Len diam saja mendengar ledekan ayahnya.

Tapi apakah benar, ada sesuatu yang dicarinya di kota kecil itu? Len bertanya pada dirinya sendiri.

.:WL:.

"Apa-apaan ini?" Len mengernyitkan dahinya.

"Ada apa Len?"

"Lihat saja sendiri. Apa ini benar-benar sekolah yang kau banggakan itu?"

"Uh, yang sepertinya begitu. Hahaha…" jawabnya sambil tertawa lebar.

Len melotot. "KALAU BEGITU JELASKAN KENAPA KONDISINYA SEPERTI ITU!" jeritnya gusar, menunjuk ke arah gerbang sekolah yang berbecak darah di sana sini dan pintu aula yang pecah berantakan. "Dan banyak sekali mobil polisi, tahu!"

"Uh, kau tahu 'kan, Len, itu…"

"APA!?"

Belum sempat laki-laki paruh baya itu menjelaskan, seorang guru berambut cokelat berlari tergopoh-gopoh ke arah mereka.

"Ah, selamat siang, apa kau Kagamine Len-san, murid baru yang akan datang itu? Perkenalkan saya Meiko-sensei."

Len yang sudah bersiap mengamuk buru-buru mengatur emosinya.

"Uh, selamat siang, sensei, ehm…" Len melirik ke arah lain, perasaan gugup berada di lingkungan baru mulai menyerangnya.

Meiko tersenyum saja melihatnya. "Maaf ya keadaannya seperti ini, apa ayahmu sudah menceritakan kejadiannya?"

"Eh, belum…"

"Begitu? Mari sekarang kita ke ruang guru saja."

Len melangkah dengan hati-hati ketika melewati aula agar tidak menginjak pecahan beling. Ia semakin mempertanyakan keseriusan ayahnya memindahkannya ke sekolah ini.

"Apa aku akan baik-baik saja ya di sini?" guman Len, menatap guru-guru dan karyawan sekolah yang berlalu lalang tampak sibuk, juga dengan polisi yang sibuk mencari informasi di sana sini.

Meiko membuka pintu ruang guru, lalu mempersilahkan Len dan ayahnya duduk.

Len duduk dengan canggung.

"Ano, sensei…"

Meiko meletakkan secangkir teh di depan Len.

"Ada apa Kagamine-san?"

"Kenapa kalian tampak sibuk? Sepertinya tidak ada pelajaran?" Len meminum tehnya. 'Dan tentu saja kalau kondisinya seperti ini tidak mungkin ada pelajaran, dasar bodoh!' Len menjawab sendiri pertanyaannya.

"Oh iya, ayahmu belom menjelaskannya padamu, jadi begini," Meiko memulai ceritanya dari awal sampai akhir.

"Kakuma?" Len mengangkat sebelah alisnya.

"Kenapa Len? Kau merasa tertarik?"

Len menatap ayahnya dengan tatapan bosan. "Tidak sama sekali. Apa-apaan itu? Hanya kelompok yang suka berulah saja, 'kan?"

"Ya, tapi ulah mereka juga merengut nyawa orang." tegas ayahnya.

"Terus apa hubungannya denganku?"

Ayahnya melanjutkan obrolan dengan Meiko.

Len yang merasa diacuhkan mengitari isi ruangan itu sambil menyelidiki file-file yang ada di sana, matanya tertuju pada daftar kelas 9-7.

"Sensei, boleh aku melihat daftar ini?" tanyanya pada Meiko.

"Ya, boleh, kau memang akan dimasukkan ke kelas itu." jawabnya, lalu melanjutkan percakapannya dengan ayah Len yang sempat terpotong.

Len duduk di atas meja dan mulai membuka-buka daftar tersebut.

'...Kaai Yuki, Kagamine Rin, Kasane Teto…' Len dengan perlahan membaca nama-nama yang ada di daftar itu. Dia hendak membuka halaman selanjutnya, namun ia melihat sebuah nama yang sangat familiar di matanya.

"Tidak mungkin!" dia menatap lekat-lekat barisan nama tersebut.

"Ada apa?" tanya ayahnya.

"Eh, tidak, bukan apa-apa." ia menutup daftar itu dengan kasar lalu meletakannya kembali di tempatnya.

"Jangan duduk di atas meja, Len!" tegurnya.

"Iya, iya…" Len segera kembali duduk di sebelah ayahnya.

Meiko berdehem. "Jadi, begitulah ceritanya."

Ayah Len mengaguk-aguk mengerti. "Tenang saja sensei, untuk itulah dia ku pindahkan ke sini." ia menepuk kepala Len.

"Uh, apa?" Len melirik ayahnya.

"Tapi, apa anda yakin? Mereka bukan orang-orang yang bisa dilawan sendirian, lagipula-"

"Anda akan menyesal jika meragukan kemampuan anak ini," ayah Len tertawa lebar. "Aku melatihnya dengan sangat keras selama 15 tahun!"

"Begitukah?" wajah Meiko terlihat sedikit lega. "Tapi jika sendirian itu terlalu berbahaya… lagipula sepertinya ada anggota mereka lagi yang akan masuk ke sini besok."

"Aku tidak mengatakan dia akan melawan mereka sendirian, bukankah ada seseorang lagi yang sama kuatnya dengan dia? Anak pertama dari pasangan Kagamine yang lain."

Len yang tidak mengerti arah percakapan kedua orang itu hanya bisa bengong.

"Oh, maksud anda," Meiko tampak berpikir. "Tapi ada dia benar-benar kuat? Dia hanya terlihat seperti anak biasa, yah, mungkin tidak terlalu biasa, karena dia termasuk jenius, maksudku, dia hanya terlihat seperti anak-anak lain yang tidak terlalu suka bergaul…"

"Ya, tapi kenyataan dia bukan hanya jenius, tapi juga agak berbahaya," ayah Len tersenyum penuh arti.

"Kalian ini membicarakan apa sih?" Len menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Sayang sekali ya, Len, selain kekuatan fisik kau tidak punya kepekaan dan kepintaran." ayahnya tersenyum mengejek, sementara Len melototinya lagi dengan tatapan sadis.

Meiko tertawa lalu bangkit dari duduknya. "Ayo, Len, akan ku antar kau berkeliling!"

Len segera mengikutinya dari belakang.

"Ini koridor kelas 7, di depan, belok kiri, koridor kelas 8," Meiko menunjuk ke ujung koridor. "Tapi untuk sekarang sebaiknya jangan ke koridor kelas 8 dulu."

"Kenapa?"

"Tadi pagi," Meiko menaiki tangga, melanjutkan jalannya ke koridor kelas 9. "Mereka berulah di sini, aku sudah cerita, 'kan?"

"Benar juga…"

"Tapi banyak juga yang selamat, tapi yang paling tragis adalah, kami menemukan mayat seorang siswi kelas 8 yang lehernya putus di koridor kelas 12."

"Sebenarnya apa tujuan mereka?"

"Itulah, tidak ada yang tahu kenapa, ada juga yang mengatakan mereka membunuh hanya untuk bermain-main saja."

Len bergidik ngeri.

Bermain-main saja katanya.

"Nah, kita sampai di koridor kelas 9!"

Len mengamati koridor tersebut, lalu berjalan menuju 9-7.

"Ini… kelasku?"

"Ya, ini kelasmu nanti."

Len mengobservasi isi ruang kelas itu, sangat besar namun meja dan kursinya berantakan. Pasti karena tadi pagi orang-orang di kelas ini berebut untuk keluar.

"Oh iya, aku ingat, anak anak perempuan yang bernama dan berwajah mirip denganmu."

Len mendelik.

"Yah, dia bukan murid menonjol, kepintarannya biasa saja dan dia sangat introvert, dia hanya punya seorang teman bernama IA, dan dia," Meiko berdehem. "Orang yang kehadirannya terkadang tak terasa."

"Eh?"

"Ya, bayangannya tipis."

"Oh." Len menguman saja. "Lalu sensei, aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan dengan ayahku tadi, bisa kau jelaskan padaku?"

"Kalau itu, biar ayahmu saja yang menjelaskan, ayo kita kembali!"

Len kembali mengikuti Meiko ke ruang guru. Di depan UKS dia melihat 2 orang murid laki-laki sedang di beri detensi oleh guru-guru.

"Mereka kenapa?"

"Oh, mereka?" Meiko mengangkat alisnya. "Mereka menahan murid-murid agar tidak keluar dari sekolah ini saat Kakuma berulah."

"Kenapa?"

Meiko mengangkat bahunya. "Entahlah, katanya hanya untuk bersenang-senang, dan sekarang mereka sedang dihukum!"

"Orang-orang di sekolah ini sadis juga," gumannya. "Lalu mereka, Kakuma itu kemana?"

"Pergi, mereka segera pergi begitu saja setelah puas mengacau."

'Ugh. Kuharap aku tidak berhubungan dengan mereka!' pikir Len.

"Bagaimana dengan orang tua yang anaknya jadi korban itu?" Len menatap ke arah luar melalui pintu aula yang sudah pecah.

Meiko terdiam sejenak. "Soal itu… entahlah."

Mereka sampai di ruang guru.

"Bagaimana Len, tertarik pindah ke sini?" ayahnya mengadahkan kepalanya dari file yang sedang dibacanya.

"Kalaupun aku berkata tidak, aku sudah dipindahkan ke sini, 'kan?"

"Hahaha, tentu saja!" ayahnya tertawa jahil. "Baiklah Meiko-sensei, tolong segera urus kepindahannya, kami sudahi dulu hari ini."

"Baik, terima kasih!" Meiko membungkukkan badannya.

Len dan ayahnya segera keluar dari ruangan guru, lalu berjalan menuju tempat parkir yang tak jauh dari situ.

"Oh, iya, apa yang kau bicarakan dengannya tadi? Apa maksudmu dengan 'melawan mereka'?"

"Haah, kau ini benar-benar tidak peka ya, sudah jelas aku memindahkanmu ke sini untuk melawan Kakuma itu!"

"Begitu ya... eh, APA KATAMU!?"

"Kau tidak dengar?"

"Ugh. Aku mendengarnya. SANGAT JELAS."

"Kalau begitu ya, sudah!"

"TOU-SAN BODOH! BAGAIMANA KALAU AKU MATI!?" jeritnya kesal, ia menarik kerah baju ayahnya. Kalau tidak ingat bahwa orang yang berdiri di depannya ini adalah ayahnya, pasti dia sudah membenturkannya ke dinding berkali-kali.

"Mati? Sudahlah, jangan khawatir!" ayahnya tersenyum.

"Jangan khawatir, maksudmu?" Len menaikkan sebelah alisnya.

"Kalau kau mati, aku masih punya 3 anak yang lain…" ujarnya santai.

"…"

Len merasa urat kesabarannya sudah putus. Entahlah, dia merasa sangat emosional jika sudah berhubungan dengan ayahnya. Akhirnya yang bisa dia lakukan hanyalah mendengus-dengus kesal.

"Sudahlah Len, kau harus percaya pada kemampuanmu sendiri, kalau tidak untuk apa aku melatihmu dengan keras selama 15 tahun!"

"Tapi umurku belum genap 15 tahun…"

"Sama saja, 'kan?"

"APANYA!?"

"Sudah, sudah, lagipula kau tidak ingin… mengulang hal yang sama 'kan?"

Len terdiam. Setelah masuk ke dalam mobil dia menghela nafas.

"Oh, ngomong-ngomong…"

Len melirik ayahnya. "Apa?"

"Kau sudah menemukan apa yang kau cari?"

Len yang sedang merengut menahan setengah mati agar senyumnya tidak mengembang, dia tidak ingin diledek ayahnya lagi.

"Sudah." jawabnya dingin.

"Oh ayolah, jangan menutupi perasaanmu begitu, aku tahu kau pasti senang kan?"

Len diam saja, dia menoleh ke arah keluar agar ayahnya tidak melihat wajahnya yang sudah hampir tersenyum.

"Tenang saja, mungkin dia masih ingat padamu. Wajah imutmu tak banyak berubah, Len."

Imut.

IMUT?

"IMUT KATAMU!?" dia bersiap menghajar ayahnya dengan apapun yang sedang dipegangnya.

Ayahnya hanya tertawa, lalu mobil itu pun menjauhi halaman sekolah.

Len kembali mendengus kesal, tapi akhirnya dia tersenyum sambil kembali menatap ke arah luar jendela mobil.

Aku menemukanmu, Rin.

[A/N]

Maaf karena updatenya seabad. Semenjak ngepost chapter 1 itu saya bener-bener sibuk. Nasib baru jadi anak sma. (TAT)

Tenang aja sekarang saya udah naik ke kelas 11 kok. /lahterus?

Dan parahnya, saya kena writer block. Tapi berhubung saya ngerasa bersalah karena lama banget ga update, akhirnya saya paksain ini otak bikin jalan cerita.

Makanya saya minta maaf karena updatenya lama, chapter kali ini pendek (mungkin) dan ngebosenin (mungkin). Terutama, alurnya kecepetan.

Tapi ya, intinya saya bener-bener minta maaf.

Ohiya berhubung karakternya Len itu saya bikin ceria, makanya chapter ini juga ga terlalu gloomy…(?) tolong abaikan adegan peluk-pelukan di atas.(?)

Btw, saya ga terima flame.

Review again, onegai?