Palpitate

Tittle: Palpitate

Author: Keep'Dark'Beef

Genre: Fantasy, Suspense, Romance, de el el

Rate: T to M (seiring berjalannya keong sama rumahnya)

Length: Chaptered (sesuai review)

Cast: Kris, Luhan, Chen, Sehun, Kai, Baekhyun, Chanyeol, Tao.

Pair yang telah terindifikasi: KaiHun/KaixSehun.

Disclaimer: God (owner of everything)

Copyright: KeepBeef Chiken Chubu

WARNING!

Bakal ada pair yang ga' ke-sangka. (red-crack)

Dan karena aku author baru, jadi sekarang belum ada kata-kata

DON'T LIKE DON'T READ. Hehehehe

Soalnya entar dikira author galak lage…

Oh ea sebelumnya ada sesuatu nih…

Aku liatin viewers Palpitate ampe ratusan (tadi baru liat) dan pas aku liat ripiunya ada beberapa belas(?).

Kalo aku salah maapin ea, tapi sebanding ga' sih?

Itu artinya apa? Banyak yang diam aja. Banyak yang cumin 'mampir' aja ea?

Hehehehe

Kagak apa-apa deh. Mumpung karena saya masih baru jadi yang hanya 'mampir' itu kagak bakal aku apa-apain(?).

Dan yah, saatnya chapter 3…

Kalo bisa yang baca klik klik di kolom review ea..

Chapter 3

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Baekhyun duduk terdiam, tatapannya ia kunci pada sosok tinggi dan tampan yang tengah duduk didepannya, Chanyeol. Ia menerawang keluar jendela. Seperti menunggu sesuatu.

Sebenarnya Baekhyun bukan menatap Chanyeol, dia hanya sedang berkonsentrasi untuk memasuki gelombang pikiran Chanyeol.

"jangan sembarangan, Byun Baek…" ujar Chanyeol dingin tanpa mengalihkan pandangannya pada Baekhyun yang dengan terang-terangan tengah membaca pikirannya. Itu terbukti dari sesuatu yang terasa menggilitik perasaan Chanyeol. Perasaan setiap kali Baekhyun mencoba memasuki jaringan gelombang pikiran orang lain.

"kau memikirkan, Kai?" Tanya Baekhyun tenang, seolah tak mendengar ucapan mencekam Chanyeol barusan.

Chanyeol mengambil posisi duduk disebelah Baekhyun, disofa ruang tengah rumah megah mereka.

"bagaimana tidak? Kau tidak lupakan peristiwa apa yang terjadi terakhir kali saat aku mengijinkannya pergi sendiri? Itu sangat berbahaya, hampir saja seseorang mengenalinya yang tengah menghisap habis darah binatang. Ceroboh!" umpat Chanyeol kesal.

Baekhyun tersenyum, masih lekat dipikirannya bagaimana seorang murid ditemukan pingsan tidak jauh dari bangkai bison yang dihisap Kai. Tiba-tiba gelombang pikir Baekhyun menangkap gelombang lain selain dirinya dan Chanyeol.

Ia menambah senyumannya dan menepuk bahu Chanyeol pelan.

"si ceroboh itu sudah pulang…"

Chanyeol langsung berdiri dan bergerak cepat menuju pintu utama.

"dari mana saja kau?" katanya bringas namun tetap datar.

"aku dari perpustakaan kota, meminjam buku." Ujar Kai tenang, ia tunjukan buku setebal 7 cm pada Chanyeol.

"asal kau tau saja Kai…"

"iya hyung, aku tidak akan mengulangi kesalahanku waktu itu.."

"iya… dan…"

"lagian saat itu aku sedang tidak dalam kondisi yang fit, jadi indra pendeteksi auraku melemah. Dan ingat hyung, aku sangat kehausan saat itu dan sekarang pun demikian. Baekhyun hyung, aku haus.."

Begitulah Kai memotong setiap ceramah Chanyeol, pemimpin mereka. Dan Kai berlalu meninggalkannya setelah sebelumnya merengek pada Baekhyun.

"hanya sedikit…" balas Baekhyun, ia melangkah menuju pantry tempat penyimpanan 'minuman' mereka.

"iya sedikit. 2 liter" sorak Kai dari ruang tengah.

"bodoh. Itu terlalu banyak. Persedian kita akan habis kalau begitu." Umpat Baekhyun sebal yang hanya dibalas dengan kekehan pelan dari Kai.

Sedangkan Chanyeol…

"kurang ajar.." gumamnya. Ia berjalan pelan kearah Kai. Berniat untuk memukul kepala dongsaeng kurang ajar itu.

Namun aksi Chanyeol gagal karena Kai langsung berlari saat merasakan aura hitam dan merah dari Chanyeol menguat.

Yang berarti Chanyeol siap mencelakai Kai. Tentunya dengan arti yang sesungguhnya, mungkin setelah ini Kai akan patah tulang rusuk serta geger otak stadium awal mengingat dia tidak sebegitu lemahnya.

"ampun hyung..ampun.." serunya sambil berlarian yang diladeni oleh Chanyeol. Terjadilah kejar-kejaran dengan kecepatan cahaya antara Chanyeol dan tentunya Kai.

Baekhyun menghela napas

"…bagaimanapun mereka keluargaku…"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"woow" gumam Chen pelan, ia lirik Luhan yang menghela napas panjang, lalu berkata

"aku yang salah atau kau yang bodoh Kris?"

Kris terhenyak, "sekarang apa lagi hyung?" katanya lemas, karena merasa apapun yang ia lakukan akan bernilai salah oleh sepupu tercerewetnya itu.

"kita adalah mahasiswa yang tinggal dirumah sewa…" balas Luhan, suaranya meninggi.

"iya, ini rumah sewanya. Lalu apa lagi..?" suara Kris juag ikut meninggi. Tangannya menunjuk bangunan yang ada dihadapan mereka.

"kau benar. Tapi kau menyewa rumah dengan tiga lantai, luas halaman total 150 m dan fasilitas lengkap." Lanjut Luhan. Tangannya mengepal, tak tergambarkan bagaimana kesalnya diri Luhan sekarang.

"hyung… kita membutuhkan semua fasilitasnya. Aku membeli rumah inikan untuk memperlancar aksi kita menjalankan misi." Kris menjelaskan, diikuti tangannya yang mengambang-ngambang diudara.

Seketika keheningan tercipta, bukan karena Luhan kalah kali ini dalam beradu argument, namun salah satu ucapan Kris membuatnya berpikir.

"kau membeli rumah ini? Bukan menyewanya?" kata Luhan. Dingin dan tenang tidak seperti sebelumnya.

'kena kau hyung.' Batin Chen yang sedari tadi setia menonton acara debat tidak jelas antara Kis dan Luhan yang sepertinya akan dimenangkan oleh…

Salah satu diantara mereka pastinya.

Kris memperbaiki posisi berdirinya, iya, mereka masih berdiri didepan gerbang rumah yang telah dibeli Kris.

"ya begitulah.. harganya tidak mahal." Jawabnya. Tidak mahal untuk Kris sama saja dengan istilah kebangkrutan ayah author.

"Kris…" bentak Luhan. Ia merasa Kris sudah keterlaluan dengan menghabiskan uang jerih payah mereka untuk membeli gedung mewah seperti dihadapan mereka saat ini.

"ck.. ayolah hyung. Tidak bisakah kita masuk kedalam dan istirahat." Sehun menengahi dengan nada merengek. Tak dapat dipungkiri seluruh sendi pada tubuhnya terasa melemas.

"Sehun benar. Tidak baik bertengkar didepan rumah baru. Ayo…" Chen menambahi.

Luhan menghela napas lagi dan Kris tersenyum menang.

"ayo hyung.." ucap Kris pada Luhan. Tentu dengan nada seperti kali-ini-kau-kalah-hyung.

Sesampainya didalam rumah megah yang disebut sebagai rumah sewa oleh Kris.

"dimana kamarku?" Tanya Sehun. Ransel berisi computer jinjing masih melekat manis dipunggungnya.

"begini… dilantai satu hanya ada dua kamar, itu untuk tamu. Dilantai dualah tempat tidur kita, ada empat kamar. Dilantai tiga telah kusiapkan 'ruang kerja'." Jelas Kris. Ia duduki sofa yang terletak diruang tamu itu.

"ruang kerja?" Tanya Sehun, nadanya tak percaya.

"ya begitulah…" balas Kris, ia tengah menepuk-nepuk bantalan sofa dan menidurinya.

Sehun langsung mengambil posisi disamping Kris.

"aku ingin kesana hyung.." ujarnya.

"ya baiklah..ayo.." ajak Kris. Ia berdiri dan berjalan menuju tangga diikuti ketiga sepupunya.

Setelah sampai dilantai dua, Luhan berhenti..

"aku akan langsung istirahat." Katanya dan menuju sebuah pintu kamar yang ia anggap letaknya paling strategis.

Tidak ada yang menjawabnya, Kris, Sehun dan Chen terus melaju hingga sampai pada lantai tiga.

"wah, ini seperti dirumah.." seru Chen ekspresif. "apa dikamar juga menggunakan komputerisasi?" tanyanya.

"tentu saja ada. Dan satu lagi.. ini memang rumah. Kalian boleh menyebutnya The Second Pride." Kris berujar, suaranya mendamaikan siapapun yang mendengarnya. Ia menerawang mengenang rumah yang bernama sama dengan nama keluarga besar mereka, PRIDE. Rumah yang biasa mereka tempati.

"kali ini kau memang menang telak dari Luhan hyung, hyung.." kata Sehun, membuat seringaian mengerikan terpahat diwajah tampan Kris.

"terima kasih." Jawabnya bangga.

.

.

.

Lantai dua…

Luhan terdiam, ia pandangi daun pintu berwarna coklat dihadapannya. Itu adalah pintu kamar yang ia incar, dan sesuatu membuatnya tertegun..

"..Kris..? ck.." ucapnya. Pasalnya didaun pintu itu sudah tertempel sebuah kertas bertuliskan nama Kris. Itu artinya ruangan itu milik Kris.

"brengsek…" umpatnya lalu menyusuri lorong lantai dua itu.

"Sehun… Chen…" Luhan terhenti, ia pandangi tulisan namanya didaun pintu terakhir.

"jangan bilang kalau ini ruanganku.."

Bukannya Luhan takut mendapat kamar yang paling ujung, namun ia hanya tidak suka berada ditempat paling jauh. Itu sama saja menjadi ranking terakhir dikelas F, prinsipnya. Dan Luhan yakin, Kris tau mengenai masalah prinsipnya itu. dan hanya ada satu hal yang ada dipikiran Luhan saat ini.

"dia mengerjaiku.." lirihnya penuh dendam. Namun Karena tubuhnya yang terasa lelah, mau tak mau Luhan pun membuka pintu kamar yang paling tak strategis menurutnya itu dan langsung merebahkan tubuh kurusnya diatas kasur empuk. Diruangan itu ada sebuah computer dan beberapa alat-alat tekno laninnya.

Lebih dari itu perabotannya tampak sama saja dengan kamar-kamar biasa . hanya saja mungkin lebih mewah.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Luhan berdiri disana, ditengah-tengah danau dengan air berwarna merah. Perlahan, Luhan menyadari bahwa cairan disekitarnya itu bukanlah air, melainkan…

"darah…"

Terdengar suara rintihan, suara itu pelan namun memekakkan.

Luhan melihat kesekelilingnya.

Disana…

Disebrang danau darah berdiri seorang namja seusianya, menatapnya lekat.

Namja itu memiliki wajah yang cantik dan terkesan berkilauan.

Tanpa apapun sebagai alasnya, namja itu berjalan diatas air menuju tempat Luhan berada.

Gerakannya bahkan tidak membuat darah dibawahnya bergetar.

Detik berikutnya, namja cantik itu telah berada tepat dihadapan Luhan. Badan mereka hanya berjarak 5 cm dan kenyataan itu membuat Luhan sesak.

Tangan dingin itu menyentuh pipi Luhan, lalu menggerakkanya perlahan menyusuri lekuk wajah Luhan.

Jemari yang terasa sedingin es itu sekarang bergerak didaerah leher Luhan bagian kiri.

Namja itu berbisik…

"…saranghae…" dan mengecup leher Luhan sekilas namun tidak membuat jarak antara bibirnya dengan leher Luhan menjauh.

Luhan tak bicara, ia tak bisa, sampai ia merasakan sesuatu yang tajam dan runcing, menusuk…

.

.

.

.

"hah…hah..ahhhh…" Luhan terduduk, napasnya tersengal.

"what the…" gumamnya pada dirinya sendiri.

Mulutnya menganga, kelopak matanya terbuka dan menutup tak terkendali. Napasnya masih memburu, meraup semua udara disekitarnya seperti tidak akan ada oksigen lagi esok hari.

Peluh membanjiri permukaan kulitnya, tubuhnya bergetar dan kerongkongannya kering.

"..mimpi…" ucap Luhan setelah ia menyadari tengah berada dikamar barunya. Bukan didanau dengan air seperti darah dan seseorang…

"..ahhh… syukurlah.." gumamnya. Pandangannya ia alihkan pada sebuah jam digital di meja nakas yang menunjukkan angka 01.45. itu artnya Luhan sudah tidur dari siang dan tersadar ditengah malam setelah memimpikan sesuatu yang…

Luhan menggelengkan kepalanya perlahan, mencoba menghilangkan bayangan yang baru saja diputar dialam bawah sadarnya. Rasanya seperti sangat nyata saat sesuatu melukai lehernya dan mengoyaknya sadis.

Mengerikan…

Setelah menetralkan napasnya dan berhasil menghilangkan bayangan mimpi anehnya, Luhan beranjak dari kasurnya, berjalan pelan menuju pintu dan membukanya. Lalu mengeluarkan tubuhnya dari ruangan itu.

Perjalanan Luhan menuju dapur untuk mengambil air minum terasa sangat sepi. Selain memang ia sedang sendiri dan sekarang adalah tengah malam.

Setibanya didapur, Luhan membuka kulkas dan menenggak air mineral dingin dari sebuah botol yang ia temukan didalam benda besar itu.

Setelahnya ia menatapi seisi dapur yang didominasi oleh warna krem itu. Sama sekali bukan seperti rumah baru, maksudnya peralatan di rumah ini telah lengkap, dengan makanan dan minuman di kulkas dan sebagainya.

"pintar juga.." kata Luhan. Bertujuan untuk memuji rumah barunya, memuji Kris.

Masih dengan botol mineral ditangannya, Luhan melangkah kembali keruangannya. Bermaksud untuk tidur lagi. Namun sesampainya ia didepan pintu kamarnya, Luhan hanya berdiri dan menunduk.

"sepertinya aku tidak bias tidur lagi.." gumamnya pelan. Lalu terlintas sesaat dipikirannya tentang sesuatu mengenai lantai tiga rumah barunya itu.

"ruang kerja…" ucapnya dan melangkahkan kaki nya menuju keruangan yang ia maksud.

Disebelah kanan tangga lantai tiga, terdapat sebuah pintu. Itu berarti dibaliknya ada sebuah ruangan. Luhan menjulurkan tangannya untuk meraih knop pintu.

Sejurus kemudian, pemandangan yang ia rindukan pun terlihat. Sebuah ruangan dengan penerangan yang berasal dari benda-benda tekno dan bau dari ruangan kendali yang ia kenang. Memang baru sebentar ia mengangkat kaki dari runah Pride, namun kecintaannya akan rumah itu tak terhitungkan. Dan ruangan ini membuatnya merasakan kembali apa yang selalu ia rasakan saat di 'rumah'.

"Luhan hyung, kau belum tidur?" terdengar suara dari dalam ruangan. Sehun.

"Sehun ah, kau tidak tidur? Kudengar kau mengeluh karena kelelahan dan sekarang..?" Luhan membalas pertanyaan Sehun dengan pertanyaannya juga. Namun kata-katanya lebih terdengar seperti menghakimi Sehun yang kenyataannya memang tidak istirahat sejak sampai diruangan kendali ini.

"hehehe, aku sedang melakukan sesuatu hyung…" jawab Sehun, ia kembali menghadapkan wajahnya pada tiga layar computer dihadapannya. Sama seperti tiga computer yang ada di'rumah' mereka dulu.

Luhan berjalan mendekat dan berhenti disamping Sehun.

"ini keren hyung.. semuanya sama seperti 'rumah'. Aku langsung betah…" kata Sehun dengan jarinya yang masih menari-nari lincah diatas keyboard computer.

"iya, kurasa." Jawab Luhan ia merasa terkalahkan oleh Kris mengenai masalah yang satu ini, dan memang kenyataannya ia kalah.

Luhan masih sibuk memperhatikan sekelilingnya saat Sehun menyentuh lehernya. Membuat Luhan langsung mendelik pada Sehun.

"kau terluka hyung.." kata Sehun langsung. Tangannya menjarak dari leher Luhan yang memang terlihat terluka dan berdarah.

"ha?..apa?" balas Luhan. Tangannya langsung berpindah kelehernya yang baru saja disentuh Sehun.

Luhan terdiam, tatapannya kosong dan pikirannya melayang pergi. Sekarang ia hanya seperti raga tanpa jiwa.

Dilehernya, ia merasakan sebuah luka dan luka itu mengeluarkan darah.

Langsung berkelibat kembali bayangan tentang mimpinya, dimana seseorang menusuknya dibagian lehernya yang sekarang ini terluka cukup besar.

"hyung, kau butuh bantuan?" Sehun membuyarkan lamunan Luhan tentang lukanya.

"tidak mungkin. Itu hanya mimpi…" ujarnya pada diri sendiri, namun Sehun yang mendengar hal itupun bingung.

"hyung?" panggil Sehun lagi. Menahan Luhan tetap didunia nyata dan terus membuatnya sadar.

Luhan kembali tersentak, sekarang pikirannya kalut.

"gwenchana.. kau tidurlah. Besok kita kuliah." Itulah jawaban Luhan atas kebingungan Sehun. Bahkan rasa penasarannya akan luka itupun tidak terjawab sedikit pun.

Luhan berjalan meninggalkan Sehun dengan langkah pasti, seakan tak terjadi apa-apa dengan otak dan alam bawah sadarnya.

"kalau kau butuh bantuan, panggil aku disini saja hyung!" sorak Sehun pada Luhan yang telah keluar dari ruangan kendali tersebut.

Luhan hanya membalasnya dengan gumaman.

Tapi setelahnya, ia berlari menuju kamarnya.

Menjatuhkan tubuh kurusnya diatas kasur yang empuk. Sangat empuk untuk membuat akal Luhan melayang pergi tak melekat pada kepalanya.

Namun kembali perasaan takut menyerangnya. Dan kembali ia sentuh luka menganga dilehernya.

Tidak sakit…

Itulah rasanya. Malahan bagian lehernya yang luka terasa sejuk.

Perasaan takut Luhan tergantikan dengan rasa penasarannya. Memang seperti itu dia, rasa takutnya tidak akan pernah mengalahkan rasa ingin tahunya yang berlebihan.

Kaki itu akhirnya melangkah menuju sebuah cermin besar yang melekat pada sebuah lemari pakaian.

Sekali lagi Luhan memuji Kris karena mengerti dengan kebutuhannya akan cermin. Tentunya diluar semua rasa jengkelnya terhadap saudaranya itu.

Mata itu menetap kosong pantulannya sendiri. Dengan ini tidaka ada yang dapat mengusiknya dengan mengatakan mimpi itu hanya bunga tidur, karena ia merasakan sendiri dampak sebuah mimpi. Dan itu tidak sederhana.

Didalam mimpi, Luhan merasakan seseorang merobek kulit bagian leher kirinya. Dicermin Luhan melihat akibat dari robekan itu. Luka cukup besar yang menganga dengan darah yang hampir kering.

Apakah itu artinya mimpi Luhan adalah nyata?

Tapi bukankah mimpi adalah hasil dari perjalanan roh saat tidur?

Lalu apa ini?

Pertanyaan…

Semuanya berkumpul dalam satu otak yang bahkan akalnya saja sedang mengawang di udara.

"perasaanku tidak enak." Gumam Luhan berbisik. Napasnya lemah hampir tak terdengar. Sempat ia mengira arwahnya sudah meninggalkan tubuhnya, namun pikiran itu dibatalkan oleh pantulan raganya dicermin dengan bahu yang bergerak teratur.

Bernapas…

Entah kenapa, Luhan bersyukur sekaligus merutuki kemampuannya bernapas.

Bukankah ia bodoh? Apakah Luhan ingin berhenti bernapas?

Itu pertanyaannya.

Dan jawabannya,

Karena tanpa bernapas, makhluk hidup tak bisa hidup.

Itu membuatku terdengar lemah.

Pikirnya sangat logis.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Kai, panggilkan Baekhyun. Kita harus pergi sekarang." Perintah Chanyeol pada Kai yang tengah melompat-lompat senang karena mereka akan melakukan ritual tiap minggu yang sangat menyenangkan.

Berburu.

"ne, sajangnim!" ucap Kai tegap. Ia makin terlihat aneh dengan senyum mengerikannya itu.

Dengan pasti dan kecepatan menakjubkan Kai sampai pada ruangan pribadi Baekhyun.

Dan mata kelam itu terbelalak.

Gerakannya berhenti.

Dan tanpa detakan jantung yang memacu karena semua tahu. Dia tidak punya jantung aktif.

Baekhyun…

Dia berbaring disana, diranjangnya.

Dengan sebuah majalah terletak pasrah diatas tubuh bagian atasnya.

Tubuhnya diam, tak melakukan gerakan apapun.

Dan apa yang membuat VAMPIRE muda seperti Kai terdiam?

Matanya…

Mata Baekhyun..

Tertutup.

Dia…

Dengan ketakutan yang sangat besar, Kai berlari menuju Chanyeol yang masih setia menunggu mereka diruang tengah.

"hyung, Baekhyun Hyung… dia …"

Dengan tempo yang sesingkat-singkatnya, Chanyeol pergi keruangan Baekhyun dan ekspresinya tidak jauh berbeda dengan Kai saat melihat pemandangan janggal ini.

"dia TIDUR!" kata Chanyeol terkejut.

Dan Kai bernapas lega.

'aku kira dia mati' batinnya.

Tak berapa lama setelah itu, terjadi pergerakan kecil dari Baekhyun. Namja manis yang sekarang tengah berbaring.

Vampire yang sedang tidur?

Aneh dan mustahil.

Pasalnya tidak ada jenis 'vampire gaya hidup' seperti mereka yang tidur.

"Baekhyun ah!" seru Chanyeol saat yakin Baekhyun sudah 'bangun'.

"kau tidur, hyung?" Tanya Kai langsung.

Penasaran. Itulah dirinya saat ini.

"mwo? Kau bodoh atau apa? Jelas-jelas aku baru saja pergi dan berhasil mengigit seorang manusia." Ujar Baekhyun aneh.

'pargi kemana? Sudah jelas dia baru saja bangun dari pembaringannya.' Batin Kai lagi.

"kau bermimpi Byun Baekhyun." Tukas Chanyeol mantap. Tatapannya tambah menggelap dan itu membuat Kai yang berdiri disampingnya merasa merinding.

"apa?" gumam Baekhyun tak percaya.

Bukan hanya dirinya.

Chanyeol dan Kai pun tak percaya.

Chanyeol mengambil posisi disebelah Baekhyun, ia duduk dengan tenang disana. Ditatapnya vampire yang baru saja tidur itu.

"kau bermimpi." Katanya lagi. Tanpa keraguan Baekhyun meyakini apa yang telah diutarakan pemimpin mereka itu. Tatapan Chanyeol yang makin kelam lah buktinya. Bukti disaat kekuatannya aktif.

Membaca apapun.

"apa tidak aneh hyung? Baekhyun hyung baru saja tidur. Dan kita tidak tidur. Maksudku…"

"kau tertidur karena takdir ingin menyampaikan sesuatu padamu. Lewat mimpi." Ujar Chanyeol pasti namun suaranya pelan dan lembut. Jarang sekali.

"perasaanku tidak enak." Gumam Baekhyun. Ia raba tengkuknya sendiri karena merinding.

"kupikir bukan sesuatu yang buruk…" tambah Chanyeol lagi. Kali ini ia berdiri dan merangkul pundak Kai.

"aku yakin kau sudah tidak haus lagi karena telah pergi berburu sendiri dialam bawah sadarmu. Jadi, kami pergi dulu ya!" pamit Chanyeol.

Takdir ingin menyampaikan sesuatu padamu lewat mimpi.

Kedengaran seperti mengada-ada.

Namun itulah nyatanya.

Sesuatu akan menghampiri mereka dan seperti Chanyeol bilang,

Bukan sesuatu yang buruk

Bersambung…

Hehehhehehehe

sebenernya sekarang author lagi ujian TO..

jadi publish nya kayak gini deh

mian kalo kagak puas...

dan maaf juga buat reviewnya...

author kagak bisa bales sekarang karena satu dan lain hal...#eeaaaaaaaaaaa

oleh karena itu maafin author atas segala kekurangan dan kelemahanku ea?

#apadah...

akhir kata...

Will you?