Palpitate

Baekhyun, Luhan

Sehun, Kai

Kris, Chanyeol, Chen, Tao

Fantasy, Romance

T

Note : Big Apologize. (Bow for an hour XD)

Chapter sebelumnya terbuka bagi siapapun yang lupa akan jalan ceritanya. Karena terakhir kali saya update cerita ini sekitar setahun lalu XD.

Chapter 5

"That time is this time

It's time to palpitate

When the hold of the darkness is spoiled

The light close your eyes

And the 'tap'

Under your skin"

Buk!

"Hey!" Sorak Kai lantang. Ia kaget saat Chanyeol menghempaskan sebuah buku tebal di hadapan mereka.

Buku itu terkembang, melihatkan tulisan-tulisan berbahasa asing diikuti simbol-simbol tak terbaca.

Membuat Baekhyun menyatukan alisnya. Bingung.

Dan dia melihat Chanyeol menatapnya, lalu bergumam 'Apa?'

"Paragraf kedua," Jawab Chanyeol. "Kurasa cocok untukmu.."

Baekhyun menekuni sebuah paragraph di halaman buku itu.

"It's time to palpitate?" Baekhyun tertawa pelan. "Apa maksudnya ini?" . Ia dorong buku itu menjauhinya.

"Itu artinya, sekarang adalah waktunya untuk berdebar." Kai menjawab dengan kesal.

Baekhyun berdiri dengan cepat,kursinya membuat bunyi bising sebentar.

"Aku tau artinya!" Ia marah.

Jelas sekali. Balasan Kai memang menyebalkan.

Kai terperangah.

"Mungkin sesuatu yang membuat berdebar?" ujarynya ragu. Baekhyun masih saja semenyeramkan tadi.

"Bukan. Tapi kau.." Chanyeol tunjuk Baekhyun dengan tatapan.

"Jangan bercanda! Aku tidak pernah berdebar!"

Dan Kai bingung dengan reaksi Baekhyun. Biasanya anak itu paling tenang.

"Who knows?" tutur Chanyeol dibarengi gedikan bahu.

"Apa maksudmu? Bukannya kita memang tidak berdebar? Kita punya jantung yang mati." Kai heran. Memastikan bahwa ia tak berdebar, disentuhlah dada kirinya sendiri.

Hanya memastikan.

Chanyeol menunjuk baris ketiga pada paragraph tersebut,

"When the hold of the darkness is spoiled…." Chanyeol bergumam, sembari telunjuknya berada di atas tulisan-tulisan yang membuat Kai mual.

Ia menambahkan.. "kurasa itu saat kau tertidur dan bermimpi.."

"Bahasanya terlalu rumit untukku." Keluh Kai.

"Bukannya kita memang tidak tidur? Lalu yang terjadi pada Baekhyun, sedikit menyinggung pengertian kalimat itu. Walau aku tidak tahu pasti."

Chanyeol sebenarya juga bingung.

"Saat kau tak bisa membaca dan merasakannya, itu adalah ini.." Chanyeol menunjuk baris keempat.

'When the lightclose your eyes'

Kai mengernyit heran. "Bagaimana cahaya menutup matamu, Hyung?" pertanyaan Kai untuk Baekhyun.

Baekhyun tak menjawab. Dan dimata Chanyeol, Baekhyun terlihat mengerti.

Chanyeol meluruskan punggungnya yang sedari tadi membungkuk kearah buku yang terkembang diatas meja, sembari berdeham ia berkata.

"Ya, diantara kau dan orang itu ada itu tidaklah buruk."

Itu hasil analisanya?

"Ayolah Chanyeol…" Baekhyun menghela napas. "Berhentilah mengatakan sesuatu itu bukan hal yang buruk."

Baekhyun tertidur, lalu bermimpi meminum darah seseorang yang ia temui esok harinya.

Apanya yang tak buruk?

Dia hanya tidak mengerti.

Terdengar helaan napas dari Kai, ia beranjak pergi meninggalkan kedua anggota clan-nya itu disalah satu ruangan di menara pemantau gedung universitas SM.

"Aku akan melakukan aktifitas normal." Katanya lalu benar-benar menghilang dibalik pintu yang tertutup dengan suara pelan.

Sekarang adalah jam istirahat, dan Kai akan menghabiskan waktu istirahatnya untuk berpura-pura makan di kafetaria universitas.

Setelah itu tak terjadi apa-apa antara Baekhyun dan Chanyeol.

Vampire pemimpin Zion Clan-Chanyeol, terlihat tengah menatap dinding polos didepannya, melakukan sesuatu dengan kekuatannya.

Sedangkan baekhyun, vampire yang tengah dilanda kegalauan tingkat dewa itu terdiam menatap buku tebal yang ada dihadapannya. Tangan itu bergerak membalik buku itu hingga semuanya tertutup.

"Bibble of Zephyr?" Tanya Baekhyun, ditujukan pada Chanyeol. Yang dimaksud hanya menggumamkan pernyataan membetulkan.

"Oh, jadi ini kitab Zephyr itu? Aku tidak menyangka kitab yang selalu kau banggakan itu hanya berbentuk biasa sepeti ini." Katanya dengan suara aneh.

Sekarang dengan cepat tangan pucat itu membalikkan helaian-helaian kitab yang ada dihadapannya.

"Kau bodoh jika berpikiran, semua yang terlihat biasa itu tak berarti apa-apa.." sanggah Chanyeol, yang sama sekali tak dihiraukan Baekhyun.

Ada rasa aneh yang menelusup hatinya saat bagian epidermis terluarnya berinteraksi dengan lembaran-lembaran tua itu.

Sebuah lengan menepuk bahu Baekhyun pelan.

"Baekhyun.." kata Chanyeol berbisik, namun cukup jelas untuk didengar oleh telinga super Baekhyun.

Baekhyun yang tadinya menundukpun langsung menengadah dan mendapati dirinya telah berada di kafetaria universitas.

Namun detik berikutnya, ia mendecih pelan setelah mengetahui bahwa pandangan didepannya itu hanya hasil ilmu kompulsi dari Chanyeol.

"Hei Lain kali kau harus memberitahu dulu kalau ingin menggunakan kompulsi. Jangan buat aku seperti orang bodoh!" Bentak Baekhyun.

Sekarang ia berdiri didepan Chanyeol yang hanya terdiam menatap dinding ruangan yang saat ini ia jadikan sebagai sarana untuk menampilkan hasil kompulsinya.

Disana, disalah sisi dinding ruangan, terlihatlah pemandangan kafetaria iniversitas SM yang sangat ramai. Gambarnya terlihat sangat asli sampai membuat Baekhyun hampir tak dapat melihat celah dari ilusi Chanyeol tersebut.

"Jadi, yang mana orangnya? Aku penasaran bagaimana rupa manusia yang dapat menghindar dari kejaran gelombang pikirmu.." kata Chanyeol pelan.

Beakhyun menatap pantulan kompulsi dihadapannya. "Aku tidak dapat menemukannya.." gumamnya suram.

Ia telah kembali duduk karena tiba-tiba saja lututnya terasa lemas. Mungkin karena memikirkan ketidakberdayaannya menghadapi pria yang ia ragukan identitasnya sebagai manusia, Luhan.

"Kau tinggal merasakan.. Oh!, aku lupa, kau tidak bisa." Chamyeol tersenyum meremehkan.

"Berhenti membicarakan orang itu, aku muak." Tukas Baekhyun kasar. Ia tinggalkan ruangan yang kini dipenuhi oleh ilmu kompulsi Chanyeol, menuju tempat yang lebih baik, dimana tidak seorangpun akan mengingatkannya pada Luhan.

"Hey, tunggu aku.." sorak Chanyeol, dengan cepat lengan panjangnya telah menggantung nyata disebelah leher Baekhyun. Membuat Baekhyun yang menjadi tempat gantungan itupun memutar bola matanya.

Namun Baekhyun tak melakukan hal yang lebih dari itu. Menurutnya, hari ini sudah buruk dan ia memohon kepada siapapun dan apapun untuk tidak menambah kesialannya pada hari aneh ini.

Mereka berjalan, belum ada tujuan terpikirkan. Dengan tenang dan tanpa beban, Chanyeol menengokkan kepalanya kearah Baekhyun.

"Bagaimana kalau ke kantin?"

Baekhyun mendelik "Oh, iya.." dia mengehela napas. "Aku lupa kalau kau bodoh." Umpat Baekhyun datar, melihat itu Chanyeol hampir saja terbahak namun ia menahannya.

Walau bagaimanapun, Chanyeol tahu apa yang diinginkan Baekhyun saat ini. Dan itu bukan keramaian, tentunya.

"Aku lapar." Ujar Chanyeol memelas, ia hentikan langkahnya dan memakai tampang 'anak anjing tersesat'.

Baekhyun membuang napas.

'Ini pasti hanya akal-akalan dia saja..' ucapnya dalam hati.

"kau tidak butuh….. astaga!" Baekhyun tak melanjutkan kata-katanya. Ia terperangah. Chanyeol disana, dengan tampang yang super aneh yang biasa disebut 'puppy eyes style'

Itu membuatnya...

Baekhyun menggeleng lemas. "Aku ingin muntah.." gumamnya.

Chanyeol tetap seperti itu, walaupun pandangan jijik Baekhyun terlihat kentara diwajah manis dan tenangnya. Ia tetap melakoni ekspresi yang sebenarnya juga ia benci itu. Namun keinginannya saat ini jauh lebih ia prioritaskan. Mengajak Baekhyun ke kantin.

"Kudengar, kantin adalah tempa yang nyaman untuk muntah." Ide Chanyeol.

"Kau menang." Akhirnya Baekhyun menyerah dengan kelakuan Chanyeol.

Ya, begitulah,

Buruknya.

"Hore!" Ucap Chanyeol kalem.

Baekhyun kembali mengeluh dalan hati. 'Tuhan, apa salahku?'

"Aku ingin mengumumkan sesuatu.." ucap Chen dengan raut misteriusnya disalah satu meja kantin yan ramai. Menatap Kris, Luhan dan Sehun yang duduk berhadapan dengannya, bergantian.

"Cepatlah Hyung, aku bahkan belum memesan makananku." desak Sehun. Tangannya menempel pada perutnya yang bergemuruh. Sedangkan, Kris dan Luhan yang telah memiliki piring berisi dihadapan masing-masing hanya menatap Chen datar.

"Tn. Sooman ingin bertemu kita?" (Tn. Sooman = kepala universitas yang mengundang mereka) tebak Kris, tangannya mengapit sebuah potongan makanan dan mengarahkannya ke mulut.

"Tidak, bukan itu." balas Chen.

"Lalu?" sekarang Luhan berkata. Ia tidak suka jika Chen sudah seperti ini, sama dengan Kris.

"Kalian masih ingat dengan Tao?" Chen memulai, tatapannya melunak.

"Tao? Yang Luhan Hyung akui sebagai ayahnya yang terbuang?"tukas Sehun tanggap. Mendengar itu, Luhan menatap Sehun garang.

"Tidak lucu." Balas Luhan.

Sehun hanya menggaruk tengkuknya, merasa aneh saja karena Luhan terkesan memarahinya.

"Lalu kenapa dengan Tao" lanjut Kris. Menengahi perang batin antara saudara itu.

Chen tersenyum 'Akhirnya ada yang tertarik juga' batinnya senang.

"Aku menyukainya." Ucap Chen tenang.

Sehun melotot. "Pardon?"

"Dan aku telah mengungkapkannya." Tambah Chen, senang

Sekarang Kris ikut bersorak dengan Sehun. "Apa?"

"hmp.." Chen mengangguk "Dan aku diterima."

"NO WAY!" dan ketiga saudara Chen itu terdengar seperti koor.

Chen terlihat tenang dengan reaksi saudaranya yang berlebihan itu, malahan senyumnya tambah lebar.

"Yes way. Aku akan memanggilkannya kesini." sejenak ia mencari.

"Honey!" seru Chen pada seseorang yang memang sedang berjalan menuju meja mereka. Dia Tao.

Kris langsung pucat. "Honey?" tanyanya pada Luhan yang terdiam melihat kedatangan Tao.

Tao datang dengan image yang lebih baik daripada saksi yang ketakutan seperti sebelumnya. Dia membungkuk dan mengucap salam.

"Hai semua!"

"Wah! Aku takjub!" Mata Sehun melebar cerah. Lalu ia seperti mengejek Kris dengan gerakan mulutnya. 'Kau kalah, Hyung.'.

Dan Kris diam.

Dengan pesona seperti itu, Kris adalah pemegang rekor mempunyai incaran setiap mereka berempat mendatangi tempat baru. Namun kini, memikirkan saja dia tidak.

Dia dihului oleh Chen? Bahkan pikiran player-nya?

Menyedihkan. Sangat.

Tapi, Luhan tidak menghiraukan keadaan sekitarnya lagi.

Byun Baekhyun duduk diseberang meja mereka bersama seseorang, dan buku Arkeologinya ada pada pangkuan Luhan sekarang.

Ia berniat mengembalikannya.

Luhan merasakan jantungnya berdenyut keras. Itu tidak bisa tenang saat ia sadar Byun Baekhyun juga tengah menatapnya.

Dan Luhan tersadar karena Sehun mengatakan sesuatu tentang 'mengambil makanan'. Oleh karena itupun ia mendapati mata Byun Baekhyun tak lagi tak lagi jatuh padanya.

"Lanjutkan saja, aku ada perlu." Luhan berbisik pada Kris yang makan dengan kesal. Ia pergi dengan buku Byun Baekhyun dan tanpa jawaban Kris.

Sehun membawa makanannya dengan riang. Dia sangat lapar dan tak ada hal lain untuk membuatnya senang selain benda-benda yang ia bawa saat ini. Kebanyakan karbohidrat dan juga susu.

Lalu Kai datang dengan senyuman aneh, dan menabrakkan dirinya pada Sehun dengan keras. Merusak segalanya.

"Hey!" seru Sehun tak terima ditabrak dengan semengerikan itu. Namun atensinya berubah pada lututnya yang berdarah dan pergelangan kakinya ngilu berat.

"Maafkan aku." Kai membersihkan darah pada lutut Sehun dengan ujung kemejanya.

"Kau baik?" katanya lagi, menatap Sehun.

"Tidak" Sehun meringis tajam. 'Ini ngilu sekali'.

Matanya berair walau tidak menetes.

Dan sebelum semua orang dikantin menonton mereka, Kai meletakkan Sehun pada punggungnya dan membawanya ke ruang kesehatan.

Banyak orang yang melihat kejadian barusan, termasuk Kris. Bahkan dia akan beranjak dari kursinya dan menolong Sehun andai saja orang yang bertabrakan dengan Sehun tak menggendongnya keluar kantin.

Kris berpikir, seperti hari ini sangat menyebalkan karena mungkin Sehun juga akan mendapat pacar segera. Ini merusak harga dirinya.

"Hari ini memang menyebalkan.." gumamnya sedih.

"Apa yang dilakukan anak bodoh itu?" Chanyeol; terdengar jengkel. Dia dan Baekhyun persis menyaksikan aksi tabrak Kai pada anak baru bernama Sehun.

"Dasar, anak itu.." gumam Baekhyun sebal, namun ia tersenyum.

"Jangan bilang dia sengaja.." ucap Chanyeol.

Baekhyun menoleh padanya pelan.

"Kau tahu." Senyumannya tambah melebar saat melihat Chanyeol spontan berdiri.

Baekhyun dengan mudah mendapati gelombang pikir Chanyeol. Itu gelombang yang kuat, ngomong-ngomong.

"Kai menyukai orang itu. Sudahlah." Kata Baekhyun lagi. Ia ambil sendok yang ada diatas piringnya dan memutar-mutarnya aneh.

"Tapi ini bahaya!" seru Chanyeol dan berlalu.

Baekhyun masih tersenyum geli akibatnya.

"Maaf." Suara seseorang dibelakang Baekhyun. Dan tidak ada gelombang pikir.

Orang ini...

Baekhyun menengok pelan dan melihat Luhan dengan sebuah buku. Ia berdiri dengan rambut coklat madu yang terang.

Baekhyun menghela napas dengan diam.

Ia mendadak terobsesi pada pria yang satu ini. Betapa susahnya Baekhyun untuk membaca pria ini. Dimana gelombang pikirnya?

"Apa aku menganggu?"

Baekhyun menatap mata Luhan yangbaru saja bicara. Tersadar dari pikirannya sedari tadi.

Baekhyun mengerjap pelan, mekanisme spontan yang biasa ada pada manusia.

Dan ketika pandangannya menatap sebuah plester melekat dileher Luhan. Baekhyun tak bisa menyembunyikan senyumnya.

"Tentu saja tidak." Dan memberikan seluruh perhatiannya pada Luhan.

Dia masih tersenyum sedangkan rencana licik sudah ada dikepalanya.

Kau terancam, Luhan.

WIP

Work In Progress.

Dan terima kasih pada pembaca yang meninggalkan sarannya. Sangat membantu walaupun tetap saja ini update nya ngaret.

Ampuni saya...