Jaejoong terdiam. Dia melihat pria di depannya dengan pandangan bertanya —ini salah satu actingnya yang terhebat. Jaejoong sebenarnya ingin langsung memulai pembicaraan dengan pria di depannya mengingat ia juga cukup tertarik dengan namja tampan ini. Tetapi memanggil nama si pria malah hanya akan membuatnya tidak dapat menilai bagaimana si pelaku berusaha mendekatinya. Jadi, dia hanya diam dan menunggu. Jaejoong melihat Yunho dari bawah hingga atas. Dia berpikir benarkah pria dengan wajah tampan bertubuh tegap dengan mata musang tajam menarik ini adalah seorang pria beristri.
Ah, istrinya pasti akan sangat menyesal dan sedih saat tahu suaminya tidak lama lagi berselingkuh dengannya.
Sebenarnya Jaejoong merasa bersalah karena ia juga ikut andil dalam menjerumuskan pria tampan ini. Tapi berpikir mungkin pria ini tidak bahagia bersama istrinya, Jaejoong mulai berpikir ulang. Siapa tahu dia bisa memberikan yang tidak dimiliki si istri pria ini. Perasaan aneh berdebar dan memacu adrenalin mungkin? Jaejoong diam-diam menyeringai.
Yunho tertegun dan Jaejoong tersenyum dengan begitu manis. Ia sedikit membasahi bibir miliknya, sambil terus menatap Yunho dengan pandangan tertarik. Hampir saja ia tertawa dengan sangat kencang saat menangkap tonjolan di leher Yunho bergerak naik dan turun —pertanda ia meneguk ludah.
"Ekhm.." Jaejoong lagi-lagi menahan rasa ingin tertawanya saat melihat si pria tersentak begitu kaget saat ia berdeham. Pria di depannya sepertinya baru pertama kali akan melakukan pendekatan dengan orang incarannya. Si naïf dengan pikiran yang sangat lucu pikirnya terkekeh.
Yunho tidak dapat menahan rasa bergemuruh dalam dadanya saat melihat si cantik tersenyum dengan begitu sensual padanya. Ia ingin sekali langsung mengerjang tubuh munggil itu dalam pelukannya. Menelanjangi, mencumbu dan menumpahkan semuanya. Yunho merasa terasa sesak di bagian bawahnya saat suara-suara sensual, jeritan melayang di kepalanya. Dia merasa mengidap satu penyakit psikologi sepertinya.
Bertatapan dengan Jaejoong saja bisa langsung membuatnya tegang. Sepertinya ia pasti akan langsung keluar saat melihat Jaejoong terbaring naked di bawahnya.
"Err… ma-maaf," katanya berjenggit kaku.
Jaejoong tersenyum. "Tidak apa. Jadi, apa yang ingin kau bicarakan? Bukan hanya ingin meminta maaf, bukan?"
Yunho merasa benar-benar akan pingsan sekarang. Jika saja dia tidak ingat bagaimana perjuangan Yoochun untuk membuat ia dapat berada dalam satu ruangan dengan pemuda cantik ini. Ia pasti hanya akan termangu, diam-diam mengagumi bagaimana perasaan itu meluap-luap di dadanya yang menghangat.
.
Disclaimer: Semua cast memang bukan milik saya, mereka semua milik Tuhan, keluarga dan diri mereka masing-masing. Tapi fiksi ini jelas milik saya.
Rated: M (For sexual contens)
Pairing: YunJae
Warning: OOC, Typos and Miss Typos, Boys Love, Alur terlalu membingungkan, Sex Scene, Naif|Yunho, and Arogan|Jaejoong.
.
Yunho sangat ingat pertama kali ia bertemu dengan namja cantik di depannya ini. Saat itu salju sedang sangat deras turun perlahan menutupi tanah di bumi. Ia sebagai suami yang baik mengantar istrinya ke salah satu rumah sakit swasta yang lumayan terkenal. Rencananya, ia ingin berdiskusi dengan salah satu dokter ahli kehamilan tentang bagaimana cara membuat istrinya menjadi 'subur'. Sebenarnya ia sendiri sudah cukup pesimis dengan keadaan istrinya, ia sebagai orang yang baik tidak ingin sang istri mengalami sesuatu yang malah akan membuat keadaannya semakin fatal. Tapi sepertinya sang istri sangat ingin mengandung. Jadi ia dan sang istri pun berencana mencari satu jalan keluar.
Hebatnya itulah pertama kali mereka bertemu. Yunho yang lelah menunggu karena antrian yang lumayan banyak dari ibu-ibu hamil pun pergi dari sana menuju rest room —bermaksud untuk mencuci muka supaya pikirannya tidak lagi jenuh. Saat itulah ia bertemu dengan si cantik. Keluar dari salah satu bilik dengan wajah memerah, terlihat lega.
Keadaannya yang saat itu hanya melihat dari pantulan kaca membuatnya dapat mengelak. Berpura-pura tidak melihat, Yunho diam-diam memandang paras cantik itu. Entah memang pikirannya yang memang saat itu sedang sangat jenuh dengan sang istri atau apa… ia ingin sekali mengganti pasangan hidupnya dengan si cantik berbibir merah delima itu.
Ekhm!
Ia tersentak kaget. Suara dehaman lembut sedikit dalam itu langsung membawanya dalam satu kenyataan.
Mereka sedang saling berhadapan sekarang.
"Jaejoongie,"
Namja cantik itu terkekeh. "Kau memanggilku begitu akrab. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
Yunho kaget. Ingin sekali ia bilang, 'Iya, aku pernah bertemu denganmu sebelum ini!', tapi sepertinya itu bukan'lah salah satu jawaban yang akan membawa mereka dalam hubungan yang sangat dekat. "Err… sebenarnya tidak. Tapi jujur, aku sering melihatmu dari jauh." Yunho sangat gugup mengatakan satu kejujuran itu. Ia seperti anak yang baru saja lulus junior high school rasanya.
"Aku tahu itu."
Deg
"A-apa?"
Jaejoong tertawa begitu cantik, sebelah tangannya menutup mulutnya yang hampir terbuka dengan lebar. Mata sipitnya semakin terlihat cantik saat membentuk satu garis hitam melengkung. "Siapa yang tidak sadar sedang ditatap oleh seorang pria tampan selama beberapa minggu?" Jaejoong ingin sekali menepuk pipi—yang menurutnya—pasti merona itu. "Kau tahu, pertama kali aku sadar karena kau menatapku dengan mata yang hampir tidak berkedip barang sedetik pun." Jaejoong mengedipkan matanya imut saat berkata seperti itu.
Yunho mematung. "Se-sejak kapan?"
Jaejoong memasang wajah yang sangat lucu, "Kau tidak dengar? Aku bilang, sejak kau menatapku dengan mata yang hampir tidak berkedip barang sedetik pun, Yunho-ah."
"Ta-tapi…"
"Tapi kau selalu tidak berkedip saat menatapku?" Jaejoong hampir saja terbahak dengan sangat lebar saat Yunho terlihat begitu kaget mendengarnya menyatakan pertanyaan itu—sebenarnya lebih mirip dengan pernyataan.
Yunho diam. Sekarang ia merasa begitu gugup di depan pemuda cantik ini. Tidak tahu harus berkata apa—dia tidak mau melarikan diri dengan mengakhiri percakapan, tetapi juga bingung harus mengatakan apa setelah ia tertangkap basah seperti orang mesum melihat Jaejoong. Yunho begitu bimbang dengan dirinya sekarang.
Jaejoong sebenarnya orang yang sangat baik. Ia juga memikirkan perasaan orang yang telah sah memiliki Yunho. Tapi… ia pun bukan orang munafik yang hanya memikirkan kebahagian orang lain—yang menurutnya, bahkan tidak dapat menjaga apa yang telah ia miliki. Jadi dengan wajah yang sangat polos, Jaejoong membuat aura cantiknya keluar sembari melangkah mendekati Yunho yang terdiam. Ia membelai pipi Yunho dengan halus, "Aku tidak tahu apa kau sungguh sangat tertarik dan menginginkanku, akan tetapi… aku ingin kau menemaniku untuk malam ini."
Yunho tidak dapat berpikir lagi. Ia sungguh sangat menginginkan Jaejoong juga malam ini. Ingin membuat tubuhnya menghangat dengan setiap pengeluaran Jaejoong. Ingin mengecap rasa manis berbeda dari namja cantik di depannya. Merasakan setiap belaian halus, perih cakaran yang akan ia terima dan remasan gemas dari tangan berjari lentik itu. Yunho meneguk ludah tanpa sadar saat perlahan mereka berjalan ke arah tempat tidur di sana. Terduduk dengan Jaejoong mendaratkan belahan indahnya tepat di atas paha Yunho.
"Aku kedinginan," lirih Jaejoong mengaitkan kedua tangannya di leher kekar Yunho. Ia mendekatkan kepala mereka, menghembuskan nafas hangat membelai rahang Yunho dan perlahan mengalir ke lubang kecil cuping telinga pria tampan itu. "Bisa kau peluk aku?"
Yunho gugup. Sebenarnya ini pertama kali ia digoda. Istrinya tidak pernah menggodanya —akan tetapi lebih mengarah pada bekerja sendiri. Jika ia dan istrinya sedang berhubungan, yang bergerak, merangsang dan sebagainya hanya istrinya. Pernah sekali ia mencium bibir istrinya, tetapi tidak pernah sampai benar-benar bernafsu. Dan hebatnya, Jaejoong yang hanya menggodanya dengan lirihan nafas hangat itu dapat menaklukan nafsu birahinya hingga bertekuk lutut.
Jaejoong hebat di ranjang. Yunho pernah mendengar kalimat itu saat kekasih Jaejoong bergurau dengan teman-temannya. Dan, sekarang ia ingin membuktikannya sendiri.
Yunho melilitkan tangannya di pinggang ramping Jaejoong. Mendekap hangat perpisahan atas dada dan tulang pinggul itu dengan lembut. Saat Jaejoong mulai menciumi pipinya, Yunho pun mulai membelai punggung sempit namja cantik itu. Ia meremas pelan sisi pinggang Jaejoong. Merasakan tekstur kenyal di tangannya dengan hikmat.
Ahh!
—dan saat Jaejoong mendesah lirih, mereka hanya dapat menyelami manik indah mata masing-masing. Membuat keduanya terkubur dalam lautan cinta dalam malam ini. Tidak ingat akan seorang wanita yang sedang menunggu suaminya di meja makan.
.
.
.
Yoochun melihat layar ponselnya yang bordering kencang. Disana tertulis dengan jelas nama istri Yunho sedang melakukan panggilan padanya. Ia enggan untuk mengangkat panggilan itu, akan tetapi ia perlu sesuatu untuk membantu sahabatnya. Jadi dengan rasa malas yang sangat besar Yoochun akhirnya menekan tombol hijau, "Hm?"
["Yoochun-ah, apa kau bersama dengan Yunho-ah?"]
Yoochun menghela nafas. "Iya. Dia sedang banyak sekali pekerjaan di kantor. Aku rasa ia tidak akan pulang malam ini." Yoochun tersenyum saat seorang namja bohai menghampirinya dengan dua gelas minuman berwarna kekuningan. Ia menunjuk meja nakas di sebelah ranjang mereka, dan mengisyaratkan namja bohai itu duduk di pangkuannya.
["Bisa aku bicara sebentar dengannya? Hanya ingin memastikan ia baik-baik saja, Yoochun-ah.]
Yoochun melepas lumatan bibirnya saat kalimat itu terlempar padanya. Tapi ia tidak bingung harus berkata apa. Toh, walaupun Yunho ketahuan… sahabatnya itu hanya akan berterima kasih dan tidak akan menyalahkannya barang sedikitpun. Sahabatnya itu akan merasa bebas untuk mendekati namja incarannya. "Tidak. Yunho sekarang sedang sangat sibuk. Jika kau mengganggunya, semua konsentrasinya hanya akan rusak dan ia harus berpkir ulang untuk semua inovasi yang telah ia rangkai, Boa." Katanya.
Yoochun meremas gemas belahan bohai bokong indah namja manis di pangkuannya. Ia menyeringai saat mendengar eluhan sedih dari sebrang bersamaan dengan lenguhan indah yang dikeluarkan namja lumba-lumba ini. Ia menutup ponselnya tanpa berbicara sedikit pun untuk berbasa-basi. Ia sedang sibuk, dan tidak ingin diganggu lagi.
.
.
Di kamar yang dipakai YunJae.
Yunho sedang asik mengecupi setiap jengkal leher jenjang nan indah Jaejoong. Ia menjilat setiap inchi lapisan kulit putih lembut itu dengan nikmat. Merasakan rasa manis bercampur asin sedikit kecut dari keringat Jaejoong—yang sangat ia senangi kini. Mengecupi beberapa bagian berdenyut dengan pelan, dan menyedot dengan kencang.
"Ini untuk tanda dariku, Joongie."
Jaejoong terkekeh dan membelai rahang kekar Yunho. "Aku harap tanda ini pertama kali kau berikan padaku, Yunho-ah, bukan pada istrimu."
"Ne?!"
.
.
.
Tobe Continue
Terima kasih untuk DahsyatNayff, DarkLily, ichi. Cassiopeiajaejoong, dwi. Yuliani. 562, Ai Rin Lee, Reanelisabeth, yoon HyunWoon, FlowAraa23, dienha, kirio. Luo. 7, Sungye, zahra32, Iyvjj1, kim anna shinotsuke, 5351, alby, guest, akiko ichie, thinse, ShinJiWoo920202, birin. Rin, YunJaeDDiction, Narita Putri, my yunjaechun, nickeYJcassie, Dewi15, NadiaDianR.
Maaf ini bukan fanfic Mpreg, jadi kalaupun nanti ada Changmin ga bakalan jadi anaknya YunJae.
Saya masih nunggu review untuk lanjutannya, terima kasih.
