.

.

.

Note from Ciel Poetreas, for all the audience

.

I. Untuk reviewer sesi pertama siaran ini

Pertama, terima kasih untuk LalaNur Aprilia, KOLINnoKOLIN, Codename Sailor D, Akasaka Kirachiha, dan Yuki Hiiro yang telah memberikan review untuk cerita ini. Terima kasih pula untuk Mary the Yellow Chrysolite yang telah memberikan private message (PM) kepada Ciel mengenai tantangan dan pertanyaan Anda.

Karena banyaknya jumlah kata yang ada di sesi ini, menampung tantangan dari enam orang sekaligus tidak akan cukup. Maka, Ciel memutuskan untuk memasukkan surat dari satu orang setiap sesi. Untuk kalian yang telah diberi PM oleh Ciel dan belum membalas surat pendaftran (Mary the Yellow Chrysolite), silakan pergi ke akun dan balas PM dari Ciel, karena Ciel masih akan menunggu formulir pendaftaran Anda. Untuk Yuki Hiiro, Ciel juga memberikan surat pendaftaran untuk Anda, karena Ciel memberikan hak istimewa untuk orang pertama yang memberi tantangan dan pertanyaan setelah lima orang pertama mendapat formulir pendaftaran.

Deadline: 4 Juli 2014.

Catatan: Bila sampai deadline tidak ada balasan PM, maka Ciel menganggap Anda tetap masuk sebagai pengirim Truth and Dare, namun tidak mengikuti Live Questing. Kecuali bila Anda bisa memberikan keterangan jelas untuk terlambat mengirimkan PM. Berikan tanggal kalian membaca sesi ini, serta alasan untuk terlambat.

II. Untuk pembaca yang bukan reviewer sesi pertama siaran ini

Untuk para pembaca selain enam orang ini:
LalaNur Aprilia
Mary the Yellow Chrysolite
KOLINnoKOLIN
Codename Sailor D
Akasaka Kirachiha
Yuki Hiiro

Mohon maaf, karena kalian tidak bisa memberikan pertanyaan maupun tantangan untuk para personifikasi negara untuk saat ini. Sebagai gantinya, Ciel menginginkan kalian untuk mengerjakan tugas rumah sebagai berikut:

1. Mencari lagu untuk Live Karaoke
Live Karaoke adalah segmen di mana siapa pun yang berada di panggung akan membawakan lagu pilihan mereka, atau pilihan fans. Entah pembawa acara, peserta kontes, atau bahkan kru acara. Kalian bebas memilih lagu apa yang kalian inginkan, beserta siapa yang memilihkan (entah kalian sendiri, OC kalian, personifikasi, kru acara, atau pembawa acara), dan siapa yang dipilih untuk menyanyikan lagu tersebut. Satu orang boleh mengirim sampai tiga atau empat lagu.

2. Menentukan permainan untuk Live Game
Live Game adalah segmen di mana para personifikasi memainkan permainan selain Truth and Dare. Bebas seperti apa permainan tersebut. Boleh saja permainan seperti seven minutes in heaven, pocky game, dan sejenisnya. Dan, tentukan siapa yang akan memainkannya. Pilihan pemainnya adalah di antara personifikasi atau pembawa acara.

3. Menentukan personifikasi dan tantangan dan pertanyaan untuk Live Reversing
Live Reversing
adalah segmen di mana para personifikasi ganti memberikan tantangan dan pertanyaan untuk para pembawa acara. Pertanyaan dan tantangan tidak boleh di atas rate T, karena para pembawa acara adalah anak-anak kelas 1 SMP. Formatnya adalah sebagai berikut:
[nama personifikasi] - [nama pembawa acara yang akan ditanya/ditantang] = [tantangan/pertanyaan]
Tantangan dan pertanyaan tidak boleh lebih dari tiga untuk setiap pembawa acara. Ini berlaku untuk setiap satu pengirim review atau PM.

Dengan semua ini, untuk sementara, saya akan tetap mengkonfirmasi Truth and Dare untuk para personifikasi, tanpa memberikan formulir pendaftaran live questing.

Sekian Ciel tutup catatan ini, karena Arisa yang sudah menunggu.

Sign,

.

CP & YW

PS: Silakan cari lagu METHOD_REPLEKIA/. Karena akan ada lagu tersebut di salah satu segmen cerita.

.

.

.

Hetalia – Axis Powers Himaruya Hidekazu

OC © Yukari Wada & Ciel Poetreas

Hetalia First Channel: Truth and Dare! © Yukari Wada & Ciel Poetreas

.

.

.

"Baiklah… Karena ini siaran langsung, maka kalian harus…" Arisa mulai menjelaskan peraturan ketika berada di atas panggung kepada para personifikasi negara. "…tentu saja. Yang pertama, menjaga ketenangan di atas panggung. Kalian boleh ramai, namun tidak boleh sampai melebihi batas."

.

Arisa Watanabe (13)

Meraih juara kelas, terkadang membuat Arisa sedikit sombong. Namun, gadis berkelahiran Yokohama ini baik dan mau menolong satu sama lain. Biasanya sekretaris kelas ini melankolis, namun terkadang juga ceria. Ia berusaha keras mempertahankan gelarnya sebagai juara kelas dengan belajar rajin, walau terkadang ia malas mengerjakan tugas sekolah. Kalau sudah marah bisa membuat kelas sunyi bagai kuburan. Kreatif dan penyuka musik K-Pop. Saat ini menjadi kru di bidang tata acara dan memegang setlist kontes.

.

Siaran langsung? Para personifikasi bergidik ngeri. Kita tidak boleh sembarang bertindak…

"Lalu, hampir semua penonton di sini adalah remaja berusia lima belas tahun ke atas. Kalian boleh bertindak aneh, namun jangan mengganggu kesucian di panggung ini," lanjut Arisa.

"Tunggu," tukas Emil. "Kalau penontonnya berusia lima belas, kenapa anak usia SMP seperti kalian yang menjadi kru acara?"

"Oh, itu. Di kelas kami, 1-3—yang semuanya bekerja sebagai kru acara ini, hampir semua anak, kesucian matanya direnggut oleh video porno," ucap Arisa. "Kecuali para gadis dan beberapa laki-laki. Tapi, ada sih, sedikit gadis di kelas kami yang kadang membayangkan hal aneh seperti itu…"

Emil mengangguk paham, tapi tetap saja ia tidak paham dengan jalan pikir presiden direktur acara ini.

"Ada peraturan lain?" tanya Eduard.

"Tentu. Tidak ada telanjang bulat. Tidak ada rate M di atas panggung, karena sudah disediakan closet di belakang panggung. Kalau ditanya pemirsa harus jujur, tidak boleh bohong. Dan sisanya, seharusnya kalian sudah mengerti," ucap Arisa. "Baiklah…" Ia mengambil telepon genggamnya yang bertombol QWERTY. "…moshi moshi, Manami. Sudah siap?"

"Tentu! Natao dan Namiko sudah standby di atas panggung. Aku dan Rinno juga sudah selesai dan siap-siap di sisi kanan. Kamu di sisi kiri, kan? Yamato sama sisanya mana? Sudah siap?"

"Oh, Yamato sama Matsue butuh lima menit lagi. Rio lagi makan P*cky, tapi sudah siap."

"Lha, Suzuki sama Fuyuki? Mereka belum datang ke sisi sini."

"Lagi 'disiksa' Sonota. Gara-gara main basket padahal sebentar lagi acaranya mulai." Padahal, sepertinya 'siksaan' yang dimaksud tidak seburuk itu…

"Sudah kuduga. Sonota memang sadis kalau ada yang tidak diinginkan. …ya sudah, kita mulai, ya!"

"Oke!"

.

.

.

Di atas panggung, berdirilah seorang gadis berambut toska muda lurus seperut dengan poni yang disibak ke sisi kanan dan jepit biru di sisi kiri rambutnya. Ia mengenakan kemeja biru kotak-kotak berlengan pendek, dengan rompi jeans biru dan celana jeans hitam, serta sepatu kets putih bergaris hitam dan biru.

Di sebelah si gadis, berdiri seorang laki-laki yang lebih tinggi daripada si gadis. Rambutnya yang berwarna biru muda itu rapi, dengan belahan rambut di sisi kirinya. Ia mengenakan kemeja putih, yang dihias dasi biru dan jas hitam kebiruan, serta celana panjang berwarna senada dengan jasnya. Ia juga mengenakan sepatu kulit berwarna hitam.

Mata mint tua si gadis dan mata biru sangat tua milik si laki-laki berkilat-kilat, kala sang produser mengacungkan jempol kanan, pertanda studio sudah on-airsecara live. Musik pembuka bergema; musik tersebut diisi dengan nada ceria, namun kesan menantang dan misterius juga terasa di lagu tersebut. Mereka pun tersenyum gembira, dan kemudian menyapa lewat microphone yang menggantung di telinga kanan mereka,

"International First Channel!"

Para penonton di dalam studio pun membalas dengan sorakan gembira, "Truth and Dare!"

.

Namiko Akimoto (12)

Menjadi wakil ketua 1-3 justru membuat Namiko semakin kewalahan, karena ketua kelasnya yang terkadang tidak memperhatikan kelasnya dengan baik—singkatnya, tidak becus. Gadis berkelahiran Wakayama yang menyukai musik Barat ini cukup hobi untuk selfie, sehingga membuat kepercayaan dirinya berkembang dan mampu menjadi pembawa acara. Ia ceria, namun terkadang reaksinya terhadap sesuatu berlebihan. Terobsesi pada Natao Ito, namun Natao justru seringkali menjauh karena ketakutan. Bersyukurlah bahwa Namiko bukan orang yandere. Menjadi pembawa acara atas kemauannya sendiri.

.

Natao Ito (13)

Menjadi petugas pencatat agenda harian membuat Natao stres, karena waktu istirahatnya berkurang. Remaja berkelahiran Maibara ini baik dan ramah, namun terkadang bersikap stay cool terhadap sesuatu yang bukan urusannya. Menderita karena Namiko yang terobsesi padanya, padahal dia sudah menyukai gadis lain, yang berasal dari kelas lain. Hampir tidak pernah selfie, karena itu ia harus berlatih membawakan acara agar bisa menjadi pembawa acara yang baik. Menjadi pembawa acara atas keinginan Namiko.

.

"Bagaimana kabarnya, penonton semua~?" tanya Namiko.

Para penonton bersorak dengan girang. Sepertinya, mereka tidak sabar melihat para personifikasi favorit mereka. Lagipula, sebagian besar dari mereka adalah gadis remaja.

"Baguslah kalau kabarnya baik! Bagi yang sakit dan tetap menonton konser ini, dari mana pun dan di mana pun kalian, semoga lekas sembuh!" seru Natao.

Penonton pun bersorak lagi, kali ini menjawab, "Amin…!"

Natao pun tersenyum. "Nah, Namiko, kenapa acara ini berbentuk konser live? Bukan acara reality show rekaman seperti acara lain?" tanyanya pada Namiko. Setahu orang yang menonton Tokutsubaki Channel dengan setia, kontes Truth or Dare diadakan dalam bentuk reality show dan direkam, bukan secara live. Kalau secara live memang ada, namun di atas panggung konser? Itu baru luar biasa.

"Karena…" Namiko terdiam sejenak. "Satu: kita akan membawakan lagu-lagu untuk mengisi acara. Siapa pun yang berada di panggung ini akan membawakan lagu pilihan mereka, atau pilihan fans. Entah pembawa acara, peserta kontes, atau bahkan kru acara! Segmen itu bernama 'Live Karaoke'!"

Penonton bersorak girang. Mereka terdengar senang, karena akan ada acara hiburan selain Truth and Dare.

"Dua: si pengirim pertanyaan dan tantangan dapat masuk ke panggung, mengajukan pertanyaan dan tantangannya di sini, dan menyaksikan jawaban dari semua pertanyaan dan tantangannya di sini hingga selesai! Segmen tersebut dinamakan 'Live Questing'!" lanjut Namiko.

Penonton di studio pun bersorak lagi.

"Oh iya," ucap Natao. "Katanya ada segmen di mana kita melakukan permainan selain Truth and Dare. Ada juga segmen di mana kita, pembawa acara yang ganti ditantang oleh para personifikasi. Apa nama segmen itu?" tanyanya.

Namiko tersenyum. "Nama segmen itu adalah…" Namiko terdiam lagi, membangkitkan rasa tegang di antara para penonton. "Namanya adalah 'Live Game' dan 'Live Reversing'!"

Para penonton bersorak lagi.

"Entah…rasanya nama-nama itu sedikit kurang kreatif…" ucap Natao. "Tapi, karena ini memang live, jadi mohon maklumi saja, ya…penonton…" katanya sambil melihat para penonton.

"Baiklah; tanpa menunggu lama-lama, kita sambut pembawa acara lainnya!" seru Namiko, membuat para pemirsa di studio bersorak kaget.

"Tunggu!" seru Natao. "Ada presenter lain?!" Untuk yang ini, Arisa memang sengaja tidak memberitahukannya pada Natao. Agar ekspresi yang natural tetap dijaga para pembawa acara. Tokutsubaki Channel memang terkenal karena cara membawakan acara dengan ekspresi pembawa acara yang natural, membuat setiap acara semakin terasa menarik.

"Tentunya. Karena suatu alasan, produser acara ini menunjuk sepuluh orang, termasuk kita, untuk menjadi pembawa acara. Oke," Namiko pun melihat pintu belakang panggung di sisi kirinya (dari sudut pandang penonton, pintu tersebut berada di sebelah kanan), "kita sambut Ishida Manami dan…Kugimiya Rinno!"

Dari tempat yang dilihat Namiko, muncullah seorang remaja laki-laki dan seorang remaja perempuan, yang lebih pendek daripada si laki-laki. Si laki-laki berambut merah tua rapi dengan poni yang sedikit pendek. Ia mengenakan kemeja putih dengan dasi merah tua dan jas hitam, serta celana panjang hitam dan sepatu kulit hitam. Sedangkan, si perempuan berambut toska muda seleher—mirip Vash, walau dengan poni yang lebih panjang—dan mengenakan kemeja biru kotak-kotak lengan pendek beserta rompi biru tua dan celana jeans hitam, serta sepatu kets hitam bergaris biru.

Si gadis pun berseru, "Pagi, semuanya~!" sambil melambaikan tangannya kepada penonton. Para penonton di studio pun bersorak gembira, karena kedatangan pembawa acara yang tidak kalah baiknya.

.

Manami Ishida (13)

Menyesal karena menjadi bendahara kelas, lantaran teman-teman kelasnya yang terkadang tidak mau membayar uang kas dengan sejuta alasan. Walau frekuensi foto narsisnya yang tidak separah Namiko, Manami memiliki tingkat kepercayaan diri yang sama baik dengan Namiko; hal itu mendukungnya dalam membawakan acara secara alami. Gadis berkelahiran Okayama ini ceria dan terbuka, namun terkadang bersikap tidak peduli pada orang yang tidak dianggapnya akrab dengannya. Menjadi pembawa acara atas kemauannya sendiri.

.

Sedangkan, si laki-laki menghadap penonton dan membungkuk pada mereka sedikit, lalu berkata, "Pagi, pemirsa. Hari yang menyenangkan." Itu membuat para gadis bersorak akan kesopanannya yang…cool.

.

Rinno Kugimiya (13)

Laki-laki berkelahiran Ehime ini memiliki sense humor yang baik. Sama seperti Natao, Rinno hampir tidak pernah foto narsis. Namun, Rinno memilih untuk hanya memahami setlist acara agar bisa bersikap alami ketika ada hal aneh yang terjadi, yang termasuk di dalam setlist. Biasanya tenang, namun akrab dan mudah bergurau. Tapi, kalau marah…jangan coba-coba. Menjadi pembawa acara karena ia disuruh oleh Manami.

.

"Rinno, kau tidak usah sesopan itu," ucap Manami.

"Terserah aku, bukan? Toh yang punya badan ya aku sendiri, kok malah kamunya yang repot," tukas Rinno, membuat seluruh orang yang berada di studio tertawa, termasuk Natao dan Namiko.

"Iya sih," kata Manami. "Oya, bagaimana dengan Rio, Yamato, dan Matsue?"

"Hm…masih belum datang, sepertinya," jawab Namiko. "Sebentar, biar aku ca—"

Tiba-tiba, dari sisi kiri panggung, datanglah seorang laki-laki yang berlari-lari ketakutan. Rambutnya berwarna ungu sangat tua dengan rambut depan sebelah kiri yang sedikit lebih panjang daripada sisi lainnya. Ia mengenakan kemeja putih lengan pendek dengan rompi wol kuning tua tanpa kancing, serta celana panjang coklat kotak-kotak dan sepatu kets hitam dengan garis-garis kuning. Kedatangan tiba-tiba itu membuat penonton berbisik-bisik heran.

Namiko melihat laki-laki itu dengan bingung. "Ada apa dengan dia?"

"Entah," ucap Manami. "Dikejar Matsue, kali?" Matanya yang berwarna ungu tua menyiratkan tanda tanya.

.

Yamato Takeuchi (13)

Berkelahiran di kota Saga, Yamato memiliki sifat terbuka yang membuat banyak orang senang berinteraksi dengannya. Walau awalnya kesulitan belajar, akhirnya ia mampu menaikkan nilainya, membuat ia cukup populer di kalangan kelasnya. Bukan tipe yang senang selfie, namun memiliki kepercayaan diri yang cukup untuk membawakan suatu hal di depan umum. Ia memiliki kadar imajinasi yang sulit dibayangkan. Memiliki ketertarikan aneh terhadap sesuatu yang berbau over-reaction. Terkadang keras kepala, namun baik dan mau menolong kawan-kawan yang membutuhkan. Menjadi pembawa acara atas dukungan kawan-kawannya.

.

"Yamato, kamu itu lagi apa?" tanya Rinno. "Dikejar setan, apa dikejar apa?" Iris perak kemerahannya menyiratkan keheranan terhadap temannya itu.

Penonton tertawa terbahak-bahak, melihat tingkah Yamato dan komentar Rinno.

"Matsue sepertinya…hah, begitulah," ucap Yamato.

"Oke, itu tidak jelas," kata Natao. "Matsue sendiri di mana?"

"Di belakang panggung," jawab Yamato sambil terengah-engah; matanya yang berwarna ungu kebiruan berkilat-kilat penuh ketakutan. "Aku harap dia—"

"Oh, kau di sini rupanya, Yamato~"

Yamato bergidik ngeri. Perlahan ia menoleh ke sisi panggung tempatnya ia keluar. Ia melihat seorang gadis yang lebih pendek darinya. Rambutnya berwarna merah kejinggaan dan dikuncir berbentuk high ponytail yang lalu dikepang. Matanya yang berwarna ungu tua berkilat penuh amarah, walau alis matanya tidak terlalu menunjukkannya. Ia mengenakan seragam pelaut bermodel terusan pendek berlengan panjang dengan warna dasar merah dan kerahnya berwarna pastel. Ia mengenakan dasi hijau yang diikat hingga menyerupai bentuk kelopak bunga sakura. Ia juga mengenakan kaos kaki putih dan sepatu hitam.

"Tolong jangan bunuh aku!" seru Yamato ketakutan.

.

Matsue Ono (13)

Gadis berkelahiran Yamagata ini ramah, dan merupakan pekerja keras. Paling tidak suka bila difoto, yang otomatis membuatnya juga tidak suka selfie dan muncul di depan umum. Anehnya, ia bersikap biasa saja ketika diwawancara. Sebetulnya, ia lebih menginginkan menjadi kru belakang panggung, namun karena suatu hal ia pun akhirnya ikut menjadi pembawa acara dengan terpaksa. Seperti Natao, Matsue pun sengsara setelah menjadi petugas pencatat agenda harian kerlas 1-3. Ia rendah hati, simpel, dan menganut kehidupan yang sedikit tradisional. Menjadi pembawa acara dengan paksaan dari wali kelasnya, agar ia tumbuh lebih percaya diri.

.

"Oi, oi. Sudah cukup berkelahinya," ucap Natao. "Kalian selalu bertengkar tidak jelas seperti ini."

Matsue pun menenangkan diri. "…baiklah. Hei, bukannya yang seharusnya datang itu Rio, baru aku dan Yamato?" tanyanya.

Namiko pun melihat kertas setlist miliknya, lalu bergumam. "Benar, yang masuk itu Rio dulu." Ia pun melihat ke sekeliling. "Hei, Manami di mana?"

Sontak, Natao, Matsue, Rinno, dan Yamato ikut celingak-celinguk. Tiba-tiba, Manami muncul dari sisi kiri panggung, dengan membawa seseorang yang tidak begitu asing di mata Namiko dan kawan-kawannya. Orang itu berambut hitam kebiruan dengan ujung-ujung rambutnya yang sedikit melengkung ke luar. Ia mengenakan kemeja putih dengan dasi kuning, jas hitam kecoklatan, dan celana panjang coklat kotak-kotak, serta sepatu kulit hitam. Orang itu sedang memakan stik P*cky rasa coklat.

Rinno pun mendesah. "Anak ini…" gumamnya.

Setelah si orang berdiri di dekat para presenter lain, Manami berhenti dan lalu mengomelinya. "Seharusnya kamu ini datang sebelum Yamato dan Matsue! Kenapa kamu malah santai sambil makan P*cky?"

"Habisnya, aku baru mau datang, si Yamato sudah datang duluan ke sini. Ya sudah, aku makan sebentar."

"Plis, deh~" ucap Manami, frustrasi. "Kamu ini kerjaannya makan terus…" Setelah itu, Manami pun memulai ritualnya: menceramahi Rio dengan berbagai hal.

.

Rio Kousaka (13)

Rakus dan hobi makan, anehnya tubuhnya tidak gemuk. Laki-laki berkelahiran Kanazawa ini keras kepala dan terkadang suka menyalahkan orang lain. Ia sebetulnya jujur, namun orang lain menganggapnya berbohong karena salah persepsi. Ia terkadang ceroboh dan suka menyusahkan kawan-kawannya—terutama Arisa dan Airi dan Manami, namun mudah bergaul dan bisa dibilang kreatif. Hobinya bermain terkadang membuatnya tidak memperhatikan pelajaran saat di kelas. Menjadi pembawa acara atas dorongan wali kelasnya, agar Rio bisa belajar untuk lebih memperhatikan suasana dan situasi di sekitarnya.

.

"Akh, sudahlah!" seru Namiko. "Setlist yang diberi Arisa jadi tidak karuan, kalau begini terus caranya! Kembali ke acara!" Ia pun melirik ke Natao, "Natao yang kuidolakan~" ucapnya genit.

Natao bergidik ngeri. "A-a-apa?" tanyanya.

"Panggilkan mereka, dong~"

Natao bergidik lagi. Sudah sering ia menghadapi Namiko yang terobsesi padanya seperti ini, tapi…ini di atas panggung! Tapi, ia tetap harus melakukan tugasnya sebagai pembawa acara.

Natao pun berdehem sekali sebelum berkata, "Baiklah. Kita datangkan tiga pembawa acara yang terakhir, namun juga bukan yang terburuk. Karena salah satu dari mereka telah menggubah lagu pembuka untuk acara ini…" Itulah yang Natao tahu dari Arisa, karena Natao tidak tahu yang mana yang menjadi komposer lagu. "…kita sambut: Kanada Fuyuki, Kashiwagi Sonota, dan…Namikawa Suzuki!"

Penonton pun bersorak lagi. Mereka cukup bersemangat untuk melihat trio yang secara notabene dikatakan berbakat. Yang satu di bidang komposisi lagu dan seni rupa, sedangkan dua lainnya di bidang olahraga.

Namun, mengapa yang datang…hanya dua orang?

Keduanya yang datang adalah laki-laki, dan pakaian mereka sama seperti yang dikenakan Yamato…hanya perbedaan warna. Yang satu berambut merah tua dengan ujung-ujung rambutnya yang sedikit melengkung ke luar, dan memiliki belahan rambut di sisi kiri kepalanya. Ia mengenakan kemeja putih berlengan pendek dengan rompi wol merah tua tanpa kancing, serta celana panjang merah berpola kotak-kotak dan sepatu kets hitam dengan garis-garis merah.

Lalu, laki-laki yang satunya lagi berambut biru tua yang disisir rapi. Ia mengenakan kemeja putih yang memiliki lengan pendek, rompi wol biru tua tanpa kancing, serta celana panjang biru dengan pola kotak-kotak. Ia juga mengenakan sepatu kets hitam dengan garis-garis berwarna biru.

"Suzuki dan Fuyuki," ucap Matsue. "Mana Sonota?"

"Oh…dia…" Si laki-laki berseragam biru mulai kebingungan. "Ng… Fuyuki, kamu lihat?"

.

Suzuki Namikawa (13)

Lelaki berkelahiran Kobe yang merupakan ketua kelas 1-3 ini atletis, karena sering bergabung dalam klub olahraga di sekolahnya. Biasanya mudah bergaul, namun sering melakukan sesuatu menurut kehendaknya sendiri, membuat gurunya terkadang mengomelinya karena terkadang menelantarkan pekerjaannya sebagai ketua kelas. Ketika SD, ia sering diburu para gadis karena keluarganya yang kaya, namun Suzuki tidak begitu peduli dengan hal tersebut. Reaksinya ketika berdekatan dengan Sonota Kashiwagi membuat orang berpersepsi bila sesuatu terjadi pada perasaan Suzuki. Apalagi, ia pernah mengatakan bila ia grogi ketika Sonota disuruh duduk di sebelahnya, dan seringkali diomeli Sonota karena tidak piket sesuai jadwal, atau tidak mengerjakan kewajibannya sebagai ketua kelas dengan baik. Ia menyukai musik jenis Barat dan menjadi pembawa acara dengan terpaksa atas pertaruhannya dengan Fuyuki Kanada…entah apa isi dari taruhan tersebut. Ia pun melakukannya setelah diancam oleh Namiko yang akan mencabut haknya sebagai ketua kelas.

.

"Aku?" gumam laki-laki berseragam merah. "Tidak," ucapnya sambil menggelengkan kepala.

.

Fuyuki Kanada (13)

Laki-laki berkelahiran Saitama ini merupakan kawan baik dari Suzuki, karena sama-sama merupakan anggota klub basket. Mudah bergaul, walau terkadang menggunakan bahasa kasar, yang membuatnya sering didenda oleh wali kelasnya. Ia sering mengatakan kepada Sonota Kashiwagi jika Suzuki ***** (biasanya seperti ingin memberinya sesuatu, ingin pergi ke rumahnya, dan sejenisnya—biasanya apapun yang menunjukkan rasa suka), dan suka bertingkah ceroboh di sekitar Sonota, yang terkadang membuat si gadis menegur atau bahkan mengomelinya dengan halus. Ini membuat orang-orang—terutama teman-teman sekelas—berasumsi bila sesuatu disembunyikan Fuyuki. Usianya satu bulan lebih tua daripada Sonota dan delapan tiga perempat bulan lebih tua daripada Suzuki. Menyukai musik J-Rock dan menjadi pembawa acara karena taruhan dengan Suzuki…entah apa taruhan itu. Ia juga menjadi MC karena ancaman Namiko yang akan mencabut jabatannya sebagai kapten klub basket kelas 1 SMP Tokutsubaki bila tidak menjadi presenter.

.

"Kalau begitu, cari dia," ucap Namiko sambil memandang Fuyuki dan Suzuki dengan tajam. "Kalian berdua."

"Lho? Kok kami?" ucap Suzuki.

"Nggak mau tahu. Kalau Sonota tidak ada, acara ini tidak akan jalan. Semua presenter harus komplit sebelum para peserta didatangkan ke atas panggung. Pokoknya cari sampai ditemukan. SEKARANG!" seru Namiko dengan suara menggelegar, menimbulkan feedback di dalam studio.

Kelabakan dengan amarah Namiko, Suzuki dan Fuyuki langsung melesat ke belakang panggung.

"Huh…" desah Namiko. "Kalau saja Sonota sama mereka, mungkin tidak akan seperti ini."

"Hahaha…omong-omong, Namiko." Manami memandang Namiko dengan tatapan usil. "Kau seperti ingin men-'ciee-ciee'-kan mereka."

"Ahaha, begitu ya?" tanya Namiko. "Mungkin iya…"

"Aku membayangkan…" gumam Rinno. "Kalau misalnya Namiko yang belum datang ke sini, lalu Sonota menyuruh mereka mencarimu…kira-kira bakal seperti apa, ya?"

"Mungkin, pada akhirnya, Sonota yang mencariku," jawab Namiko enteng.

"Atau, dia akan membuntuti Suzuki dan Fuyuki agar tidak pindah jalur dalam menjalankan tugasnya…" ucap Matsue. "Persis mata-mata."

"Aku pernah mengalaminya."

Sontak, para pembawa acara menoleh ke Natao. Para penonton bersorak kaget.

"Serius kamu, Natao?" tanya Matsue.

"Benar. Aku ceritakan saja, ya." Natao pun menyilangkan kedua tangannya ke depan dadanya. "Waktu pelajaran Seni, aku dan Suzuki sedang mengerjakan tugas gambar ilustrasi di perpustakaan."

Namiko mengangguk paham. "Terus?"

"Beberapa waktu kemudian, Sonota datang dan memberitahu kami bila waktu sudah habis, dan kami disuruh kembali ke kelas."

"Lalu?" tanya Rio, yang baru saja selesai diceramahi Manami. Sepertinya, ia pun tertarik mendengarkan cerita tersebut.

"Suzuki bilang, 'Tunggu sebentar'. Lalu Sonota terdiam sejenak, dan akhirnya berkata, 'Ya sudah. Aku tunggu'. Begitulah…"

"Dan dia benar-benar menunggu kalian berdua?"

"Iya. Sepertinya ia menunggu di depan perpustakaan. Sekitar enam menit kemudian, Suzuki pergi ke luar, dan tiba-tiba masuk lagi. Dia bilang kalau Sonota beneran menunggu kami. Akhirnya, kami pun keluar dari perpustakaan dan kembali ke kelas."

Penonton di studio bergumam, "Oooh~" mendengar cerita Natao.

"Pantas saja kalau waktu itu Sonota tidak ada di kelas…" gumam Matsue, mengingat kapan hal tersebut terjadi. "Ternyata dia menunggu kalian."

"Aku punya beberapa asumsi mengenai ini. Tapi…" Manami menghentikan ucapannya. "…akan kutunda, karena mereka sudah datang."

Sesuai dengan yang Manami ucapkan, Suzuki dan Fuyuki sudah datang kembali ke panggung, kali ini dengan membawa seorang gadis. Gadis itu berambut perak muda sedada yang dikuncir ke belakang dengan pita hitam; belahan rambutnya berada di sisi kiri kepalanya. Ia mengenakan pakaian yang sama dengan Matsue, namun dengan rok yang lebih panjang—kira-kira melebihi lutut—dan dasi bolo—jenis dasi yang terdiri dari kabel dikenakan di leher dengan pengikat berbentuk hiasan yang besar dan diikat dengan cara digeser—berpengikat oval hitam. Ia juga mengenakan kaos kaki hitam dan sepatu kets hitam. Di pinggangnya, berlingkar sabuk kulit hitam yang dipakai miring dengan sisi kanannya turun. Sabuk itu memiliki rantai yang menggantung dan melingkar di sisi kirinya, dan sebuah kotak hitam yang kecil, panjang, dan berdiameter tujuh senti di sisi kanannya. Matanya yang berwarna ungu keperakan menyiratkan keheranan.

Setelah semua pembawa acara berkumpul, Namiko bertanya pada si gadis, "Kamu itu dari mana saja?"

"Oh…itu? Dari ruang properti panggung," jawabnya. "Microphone yang mau aku pakai ketinggalan di sana."

.

Sonota Kashiwagi (13)

Sebetulnya, gadis Tokyo ini bertugas menjadi petugas jaga piket—mengabsen murid-murid yang piket kelas dan menentukan sanksi bila mereka tidak piket sesuai jadwal—untuk kelas 1-3. Namun, ia akhirnya keluar dari sekolah dengan jabatannya sebagai petugas jaga piket tetap diserahkan ke dirinya. Simpel dan apa adanya, namun pelupa dan moody. Penyuka lagu-lagu Ar tonelico dan Surge Concerto, serta artis-artis doujin bergenre fantasi dan folk, serta wave; lagu-lagu yang sama sekali tidak pernah didengar teman-temannya. Paling tidak suka selfie karena ia memiliki kepercayaan diri yang sangat rendah, namun ia mampu saat menjadi presenter. Menguasai bahasa Hymmnos (segala dialek!), Emotional Song Pact, REON-4213, serta bahasa Inggris dan sedikit bahasa Hongaria karena hobinya berbicara dalam bahasa asing. Hobi memanggil Suzuki dengan sebutan 'ketua kelas' dan Fuyuki dengan sebutan 'kapten basket', membuat banyak berasumsi bila ini ada hubungannya dengan Fuyuki dan Suzuki. Saat ini bekerja di Tokutsubaki Entertainment sebagai komposer lagu plus seiyuu dan bersekolah dengan metode homeschooling. Menjadi pembawa acara karena disuruh oleh Namiko, walau ia tidak tahu alasan jelasnya.

.

"Sudahlah. Karena sekarang semua pembawa acara telah berkumpul, mari kita mulai inti acaranya," ucap Namiko. Seluruh pembawa acara pun berderet dengan jarak satu meter antar orang dan menghadap para penonton, dengan posisi dari kiri ke kanan: Suzuki, Sonota, Fuyuki, Natao, Namiko, Manami, Rio, Rinno, Matsue, dan Yamato. Dan, posisi ini ditentukan TANPA PERSIAPAN. Kru bidang tata panggung, Airi Itano, hanya berkata, "Terserah kalian posisinya mau seperti apa. Yang penting semuanya bisa dilihat penonton dan jaraknya satu meter antar MC."

"Saatnya kita memanggil peserta kita, yaitu para personifikasi negara! Nah, mengapa kita tahu bila mereka personifikasi?" tanyanya sambil melirik ke Manami, menandakan bila setelah itu adalah dialognya.

"Itu karena pemerintahan pusat Jepang yang menyuruh kita mengadakan acara ini, dan mereka memberitahu semuanya…dan fans mereka banyak sekali." Manami menatap para penonton yang bersorak kegirangan dengan tatapan yang berkata 'I do not know what happen with these bunches of people'.

"Entah apa yang terjadi pada para personifikasi di luar sana…" gumam Sonota. "Karena pemerintah juga bilang, kalau mereka ini bekerja sebagai politikus. Mungkin karena itu mereka menjadi populer."

"Tapi kenapa di kalangan remaja?" tanya Rinno. "Harusnya kalau politikus itu populer di kalangan kakek-kakek. Berarti, mereka kan juga terkenal di antara kakek nenek?"

Sontak, semua presenter dan para penonton tertawa terbahak-bahak. Bahkan, tidak sedikit dari para penonton yang sampai guling-guling dan berjongkok saking gilanya ucapan Rinno itu. Rinno sendiri pun ikut tertawa, menyadari ucapannya yang konyol.

"Mungkin…" Matsue menahan tawanya. "Kakek-kakek menganggap mereka terlalu muda untuk populer di kalangan mereka."

"Tentu saja," ucap Rio. "Mereka itu awet muda."

"Rio benar," sahut Namiko. "Nah, daripada menunggu lama, mari kita sambut mereka! Inilah para nation~!"

Dari sisi kiri panggung, keluarlah para personifikasi negara. Dimulai dari Alfred, Arthur, Matthew, Ludwig, Feliciano, dan seterusnya, sampai Lovino, Antonio, Francis, Gilbert, dan Herakles di belakang. Mereka berbaris menjadi satu deret, yang ajaibnya masih cukup untuk membuat sela sejauh satu meter antar personifikasi. Berterimakasihlah pada pemerintah, yang telah membuatkan mereka studio super besar. Para personifikasi berdiri di tengah panggung; para presenter sendiri berjalan ke sisi samping kiri dan kanan panggung. Suzuki, Sonota, Fuyuki, Natao, dan Namiko berada di sisi kiri; sedangkan Manami, Rio, Rinno, Matsue, dan Yamato berada di sisi kanan.

"Ini dia, empat puluh lima personifikasi negara, micro nation, daerah bagian, dan daerah autonomi yang telah kita tunggu!" seru Namiko. "Oh, dan tentunya mereka bisa berbahasa Jepang…dengan ciri khas masing-masing~"

"Ada sebagian besar yang kita kenal, tapi…" Manami berjalan dan mendekati Emil. "Kau…Emil Steilsson-san?"

Emil mengangguk. "Ada apa?" tanyanya tenang.

"Sebelahmu ini…" ucapnya sambil menunjuk Astrid, yang berada di antara Emil dan Lukas. "Adikmu atau bahkan…pacarmu?" Salahkan Astrid yang dua puluh senti lebih pendek daripada Emil. Astrid mengenakan pakaian khas daerahnya dan rambutnya yang mencapai pinggangnya coklat bergelombang.

Muka Emil memerah. "As-Astrid itu saudaraku! Jangan salah paham!" kilahnya.

"Iya. Kakak atau adik?" tanya Manami memastikan.

Emil terdiam sejenak. "…dia kakakku."

"APA?!" seru Manami. "Kakakmu?!"

Bahkan, para penonton berseru kaget dengan pernyataan Emil. Maklumi saja, selama ini mereka mengira Astrid adalah adik dari Emil.

"Iya," sahut Lukas. "Tapi, karena pertumbuhan Astrid lambat, akhirnya sering dikira adiknya…seperti sekarang."

Manami meringis. "Maaf…"

"Tidak apa, banyak yang mengiraku begitu," ucap Astrid lembut, membuat Manami merasa lebih tenang.

"Maafkan saya…" ucap Manami pada Astrid.

Astrid menggeleng sambil tetap tersenyum. "Tidak apa. Akrab saja denganku."

"Omong-omong, aku suka sekali…Kepulauan Faroe," ucap Sonota. "Aku ingin ke sana untuk melihat flora dan faunanya."

"Oh~" Astrid berlari mendatangi Sonota, lalu memegang kedua tangannya, yang membuat Sonota sedikit kaget. "Tentu saja boleh! Aku akan mengajakmu kapan-kapan! Oh, dan bagaimana dengan menangkap ikan paus beserta Ólavsøka? Itu menyenangkan, lho~" ucapnya kegirangan. Mata birunya bersinar penuh kebahagiaan.

Sonota mengangguk setuju dengan polosnya, membuat Astrid semakin senang dan berlari kembali ke tempatnya. "Aku dapat turis baru~" ucapnya gembira.

"Um…maaf?" tanya Matsue kebingungan. Waktu itu, ia sedang berkenalan dengan Toris. "Apa yang terjadi?"

"Maaf, kalau ada orang yang bilang mau ke tempatnya, Astrid memang menjadi sangat ceria…" ucap Millie. Rambutnya perak sebahu dengan mata biru kehijauan dan mengenakan pakaian khas Eskimo. "Tapi, mohon padamu…kalau marah…"

"Baik, aku tahu, aku tahu!" ucap Namiko. "Baik, bagaimana kalau kita langsung ke segmen intinya saja?"

Semua personifikasi dan presenter mengangguk setuju.

"Pertama, silakan para personifikasi untuk mengucapkan halo pada para pemirsa…" ucap Natao.

Dan, para personifikasi pun bergantian mengucapkan salam pada para penonton. Setiap personifikasi mendapat sorakan bahagia dari penonton di studio. Bahkan, salah satu kameraman acara bernama Yuuta Takano melapor bila ada beberapa gadis yang pingsan ketika salah satu personifikasi mengucapkan salam mereka. Sungguh mengerikan.

"Nah, sekarang, untuk segmen pertama…Live Questing!" seru Manami. "Kita akan mengundang tamu pertama kita. Silakan masuk~"

Dari sisi kanan panggung, datanglah seorang gadis berusia lima belas tahun dengan rambut perak sebahu dan acak-acakan. Ia mengenakan kaus hitam dengan tulisan 'ROCK 'N DEATH', yang dipadu dengan rompi jeans biru beserta celana jeans biru tanggung…dan sandal jepit. Ia membawa penggaris besi di tangan kanannya, dan matanya yang heterokromatik—dengan mata kiri berwarna perak dan mata kanan berwarna hitam—memandang para personifikasi dengan datar.

Merasa ini gilirannya, Yamato maju dan bertanya pada si gadis, "O-nee-san, namanya siapa?"

Si gadis menatapnya sejenak, sebelum menjawab, "Iranda. Iranda Melati Sukma."

Yamato mengangguk-angguk paham. "Nama Indonesia…dengan sedikit sentuhan gotik?" gumamnya. "Sudahlah. Iranda-san, silakan ucapkan tantangan Anda kepada para personifikasi yang Anda inginkan di sini."

Iranda menatap para personifikasi dengan intens. "Nordik."

Mathias dan grupnya terkejut. "I-iya?" tanya mereka.

"Aku tantang kalian…untuk…" Iranda terdiam sejenak. "Menarikan Gangnam Style bareng-bareng."

Sontak, semua yang berada di studio tertawa terbahak-bahak. Tidak hanya para presenter, hampir semua personifikasi dan para penonton di studio tertawa mendengar tantangan yang aneh itu. Mathias dan kawan-kawannya 'mati' membeku di atas panggung.

"Kita…" gumam Lukas. "Gangnam Style? Di sini?"

Tiino tertawa kecil. "Mungkin, itu akan menyenangkan. Bukan begitu, Suu-san?" tanyanya sambil menoleh ke Berwald.

Berwald mengangguk. "S'har'snya b'gitu."

"Itu memalukan…!" ucap Virta sambil menutup wajahnya. "Aku tidak mau!"

"Tapi, mungkin itu akan menyenangkan~" kilah Astrid riang. "Bagaimana dengan Emil?" tanya Astrid sambil melirik Emil.

Emil kelabakan. "Kalau ini tantangan…aku terpaksa," jawabnya pelan. Wajahnya merona, mendengar grupnya akan menunjukkan tarian paling fenomenal di dunia.

"Kalau begitu, ayo!" seru Mathias.

"Sabar…" ucap Millie. "Disuruh saja belum. Kamu ini…"

"Sudah lama sejak nonton Gangnam Style…" gumam Namiko sambil terus tertawa. "Mari, Nordik. Main—"

"Tunggu."

Namiko menoleh ke Sonota, yang menginterupsi kalimatnya. "Ada apa?" tanya Namiko.

"Nordik bisa berarti dua konteks. Konteks satu: Denmark, Finlandia, Islandia, Norwegia, dan Swedia. Konteks dua: konteks satu tambah Greenland, Aland, dan Kepulauan Faroe." Sonota maju dan mendekati Iranda. "Konteks mana yang Anda maksud?" tanyanya.

Iranda mengangkat bahu. "Sebetulnya, aku hanya memaksudkan konteks satu. Tapi, konteks dua juga boleh."

"Oke, kalau gitu kita mainkan dua versi," ucap Sonota dengan nada dingin. "Kita mainkan konteks satu. Setelah itu konteks dua. Bagaimana?" tanyanya sambil melirik para penonton.

Penonton bersorak, "Yaaa…!"

Sonota tersenyum licik. "Kalau begitu, mari kita lakukan." Ia menoleh ke Iranda lagi. "Siapa personifikasi kesukaanmu?"

"Ludwig."

"Oke, Ludwig-san," ucap Sonota, memanggil Ludwig.

Ludwig menoleh ke Sonota. "Ada apa?"

"Temani Iranda-san. Selagi menyaksikan konteks satu Gangnam Style," jawab Sonota.

Iranda sedikit terkejut mendengar ucapan si presenter, dan kemudian wajahnya sedikit merona. "A-apa maksudmu?!" serunya. "Apa kau mau kubantai dengan penggarisku, hah?!"

"Sabar, Iranda-san," ucap Matsue. "Kau boleh membantai, tapi bukan pembawa acara! Lagipula, kita masih muda!"

Iranda pun akhirnya mencoba menenangkan diri. "…kalau personifikasi, boleh, kan?"

"Tentu. Bergantung personifikasinya baik atau tidak," jawab Sonota dengan cepat dan singkat. Matsue kaget dengan jawaban temannya itu, namun akhirnya menyerah dan memilih untuk diam. Sementara, Iranda mengangguk setuju dengan Sonota.

Ludwig mendatangi ketiga gadis itu, dan kemudian berkata, "Jadi, aku temani gadis ini?"

"Tentu," jawab Sonota.

Akhirnya, Iranda dan Ludwig pun pergi ke sisi panggung. Begitu pula dengan personifikasi dan presenter lain, kecuali lima laki-laki anggota Nordik. Dari kiri ke kanan, berdiri Mathias, Tiino, Emil, Lukas, dan Berwald. …tunggu. Adakah yang merasa familiar dengan urutan ini?

"Jadikan ini yang terbaik!" seru Alfred.

"Berjuanglah, Tiino!" seru Eduard.

"Da ze!" sahut Yong Soo.

"Siap?" Tanpa menunggu jawaban dari para 'korban', Namiko langsung berseru, "Musik!"

Kru bidang tata suara, Mino Yagami pun menyalakan musik yang dipesan: Gangnam Style. Awalnya, Emil sempat kikuk dengan gerakannya, lantaran ia berada di tengah. Lukas sempat hampir tidak mau menari. Mathias menari dengan girangnya. Tiino pun menari dengan wajah senang. Berwald menari, namun sedikit kaku dan ekspresinya tetap saja…menakutkan.

Namun, itu tidak menghentikan para penonton untuk bersorak-sorai. Mereka sangat girang dengan melihat mereka menari. Mereka memanggil nama para anggota Nordik, mendukung mereka, dan tentunya merekam mereka menari Gangnam Style.

Lama-lama, para anggota Nordik pun terbawa suasana. Mereka pun menari. Sekilas, para personifikasi dapat melihat Lukas yang tersenyum kecil, dan Berwald yang sudah mulai melemaskan tubuhnya dan rileks. Emil pun sudah tidak sekikuk tadi dan mulai menari mengikuti alunan lagu. Mathias dan Tiino pun tetap menari dengan ceria.

Astrid, Millie, dan Virta melihat kelima saudara mereka dengan rasa takjub. Gilbert, Alfred, Antonio, Francis, Satya, Razak, dan Yong Soo tertawa terbahak-bahak. Feliciano, Kiku, Toris, Raivis, Bella, Elizaveta, dan Lili mendukung mereka dengan sorak-soraian. Beberapa personifikasi lain tersenyum kecil. Para presenter pun tersenyum dan menyoraki mereka agar tetap menari. Iranda tertawa kecil melihat aksi mereka.

Begitu musik Gangnam Style berakhir, para anggota Nordik langsung terkapar di tempat karena kelelahan. Bukannya pingsan, melainkan kehabisan nafas saking serunya menari. Para penonton di studio terkejut dengan terkaparnya lima anggota Eropa Utara yang unik itu. Sementara itu, para personifikasi lain langsung mendatangi dan membangunkan mereka.

"Oi, bangun!" seru Arthur. "Kalian masih harus menyelesaikan konteks dua, tahu!"

"Benar!" sahut Alfred. "Cepat selesaikan tantangan ini!"

"Tapi…bisakah kami istirahat?" tanya Mathias, yang berdiri dibantu Ludwig. Nafasnya terengah-engah.

"Dasar. Tidak awesome!" seru Gilbert.

"Padahal, Gangnam Style itu hitungan gampang…" gumam Rinno. "Apa Bad Apple saja, sekalian?"

"GAK MAU!" seru Mathias dan Emil bersamaan. Bagaimana tidak? Menurut mereka, Bad Apple sangat rumit dan…membuat mereka pingsan tepat setelah menarikannya.

"Makanya," gumam Yamato. "Silakan menuju sesi kedua."

"Astrid-san, Millie-san, dan Virta-san," panggil Natao, "silakan melakukan tantangan Anda semua."

"Apa kami memang harus menari~?" tanya Virta, merengek pada Millie. "Aku tidak mau~"

"…maaf…" ucap Millie. "Ini demi fans, Virta. Kita tetap harus melakukannya." Mukanya menunjukkan kesan meminta ampun pada si gadis termuda di grup Nordik tersebut.

Akhirnya, grup Nordik konteks dua pun mempersiapkan diri di tengah panggung. Sementara itu, para personifikasi yang tadi membangunkan Nordik menyingkir ke sisi panggung. Musik pun dimainkan, dan para anggota Nordik mulai menari.

"Dipikir-pikir…ini akan lebih menarik bila personifikasi lain bergabung, tapi…" Manami terdiam sejenak. "Tantangan ini untuk Nordik, jadi percuma saja."

Arthur yang mendengar gumaman Manami itu hanya bisa mendesah. Ia yakin, bila kawan-kawannya sesama Blok Sekutu akan ikut-ikutan Gangnam Style bila mereka mau. …tunggu. Arthur merasa ada yang janggal. "Mana Alfred dan Francis?" Arthur menoleh ke kanan dan kiri, mencari dua orang yang tadinya berada di dekatnya, yang sekarang justru menghilang tanpa jejak.

Tiba-tiba, Lovino mendekati Arthur. "Kau lihat tomato bastardo?"

"Antonio?" Arthur berpikir sejenak. "Tidak."

"Dan, di mana Kak Gilbert?" tanya Feliciano. "Dia juga tidak ada—"

"BLOODY HELL! APA YANG KALIAN LAKUKAN DI SANA?!"

"APA ITU, A****T!"

"MERUSAK SUASANA!"

"BAKAR MEREKA SEMUA!"

"AAAKH, MATAKU TERCEMAR!"

"MERUSAK KEPERAWANAN ORANG!"

Arthur, Lovino, dan Feliciano membeku di tempat. Mereka menoleh dengan kaku ke arah pemilik suara, yang adalah Sonota, Fuyuki, Rinno, Suzuki, Namiko, dan Matsue. Mereka terlihat kaget dan wajah mereka memucat kala melihat tengah panggung. Ketika Arthur dan Italia bersaudara menoleh tengah panggung, Alfred, Antonio, Francis, dan Gilbert bergabung dalam acara Gangnam Style dan berada di belakang anggota Nordik. Yang bermasalah adalah…

Francis dan Antonio dan Gilbert ini telanjang bulat di tengah panggung.

Spontan, Lovino langsung menutup mata Feliciano. Arthur pun menutup mata Peter yang berada di sebelahnya sambil berteriak, "BLOODY FROG! APA YANG KAU LAKUKAN, GIT!" Dan segera setelah itu, Arthur menyadari satu hal lain yang aneh. Tunggu, apa tadi presenter yang bernama Kashiwagi itu menyumpahi mereka dalam bahasaku? pikirnya.

Para penonton langsung berteriak ketakutan sekaligus kaget. Mereka melempari segala yang mereka punya ke tengah panggung, membuat para Nordik kaget dan segera menyingkir ke sisi panggung, hanya untuk melihat Bad Touch Trio yang sedang menari Gangnam Style sambil telanjang. Sontak, Emil langsung menutupi mata Astrid, Tiino menutup mata Virta, dan Mathias menutup mata Millie. Sementara itu, Alfred, yang menyadari hal itu pun langsung berlari kaget dengan melihat ketiga kawannya yang menari tanpa busana.

Beberapa personifikasi—seperti Mei, Toris, Razak, Willem, dan Roderich—langsung meminta kantung plastik pada kru properti yang berada di depan panggung—mereka adalah Takari Mizushima dan Yukise Iwasaki—dan muntah-muntah. Vash menutupi mata Lili; Eduard menutupi mata Raivis; dan Matthew menutup mata Flora. Elizaveta dan Ivan langsung menyiapkan senjata mereka—frying pan dan pipa ledeng; begitu pula dengan Natalia—pisau belati, Kiku—katana, Satya—bambu runcing, Kirana—buku ilmu santet, Lukas—troll beserta buku sihir, Feliks—kuda poni yang didatangkan entah dari mana, Allistor—revolver, Yao—wok, dan Lee—petasan.

Tidak hanya para personifikasi yang ingin membantai Bad Touch Trio, lantaran Iranda sudah bersiap-siap dengan penggaris besinya. Ia ingin sekali membantai Francis, yang membuatnya kehilalangan feeling kala melihat laki-laki pervert itu telanjang. Lagipula, Francis telah merusak rencananya melihat Nordik melaksanakan tantangannya.

Sekarang, kita lihat reaksi para presenter.

Namiko, Manami, Matsue, Rio, dan Natao sudah keburu lari ke belakang panggung untuk muntah-muntah. Yamato dan Rinno pun ikut kabur ke belakang panggung, namun untuk melaporkan kekacauan tersebut pada Arisa. Meninggalkan Sonota, Fuyuki, dan Suzuki. Dan mereka sudah mulai memasang cara masing-masing untuk menghakimi Bad Touch Trio.

Sonota mengeluarkan sesuatu dari kotak yang menggantung di sabuknya. Ternyata, barang itu adalah payung lipat berwarna hitam keunguan. Sonota memegang ujung gagang payung yang diberi semacam pemberat silinder, lalu mengayunkannya ke bawah dengan kencang. Alhasil, gagang payung tersebut terbuka dengan sendirinya; panjang gagang tersebut secara keseluruhan mencapai seratus lima puluh senti meter. Kemudian, Sonota memegang bagian payung yang dibungkus kain hitam keunguan, dan membuka pemberat pada gagang payung, memperlihatkan bilah runcing pada ujung yang ditutupi pemberat. Sonota memasukkan pemberat ke dalam kotaknya dan mengambil sikap siaga. Jadilah model senjata terbaru: Folding Umbrella = Sword Mode.

Suzuki meminta sesuatu dari Takari di depan panggung, yang langsung patuh dan mencari barang pesanannya. Setelah ditemukan, Takari kembali dan memberikan benda itu pada Suzuki. Benda itu adalah tongkat besi sepanjang satu setengah meter dengan dua bilah pisau bermata tunggal di setiap ujung tongkat. Sementara itu, Fuyuki ikut meminta senjatanya pada Youhei, yang mencarinya di sebuah kardus dan kemudian memberikannya pada Fuyuki. Benda itu adalah dua bumerang kayu yang kedua ujungnya tumpul dan sisi luar di salah satu ruasnya memiliki bilah pisau.

Iranda, Sonota, Suzuki, Fuyuki, dan semua personifikasi bersenjata pun berjalan tanpa suara dan mendekati Bad Touch Trio. Ketiga laki-laki tersebut, baru menyadari kelima belas orang sadis tersebut setelah merasakan aura ungu nan menyeramkan di sekitar mereka. Kala melihat mereka menunjukkan senyum manis namun dengan aura yang berbahaya, Bad Touch Trio berkeringat dingin. Mino pun mematikan musik dengan cekatan.

Dan, Satya mengomando, "SERAAAAANG….!"

.

.

.

Setelah sepuluh menit pembantaian, akhirnya para penonton pun bisa ditenangkan dan kembali ke tempat masing-masing. Atas persetujuan Arisa, seluruh anggota Bad Touch Trio pun diikat di kursi dengan tali tambang dan mulut mereka disumpal kain perca besar serta diplester dengan lakban hitam. Tentu saja tanpa busana. Ketiga laki-laki itu meronta-ronta, namun tidak ada yang mau membebaskan mereka. Saat itu, seluruh personifikasi, bintang tamu, dan para pembawa acara berkumpul di tengah panggung, menyaksikan Bad Touch Trio yang menderita karena kelakuan mereka sendiri.

"Haha, makanya, tidak usah aneh-aneh!" tawa Arthur. Personifikasi lain pun tertawa.

"Omong-omong," kata Manami, "siapa yang menyuruh untuk telanjang sambil menari di panggung?"

Antonio dan Francis melirik Gilbert. Gilbert panik sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ini justru membuat Sonota menyeringai licik.

"… Oke, ikat mereka sampai mereka mendapatkan tantangan!" seru Sonota.

Semua penonton bersorak bahagia, karena acara akan berjalan dengan lancar. Yah, setidaknya sampai Bad Touch Trio mendapatkan tantangan mereka.

"Um…" Raivis bergumam, membuat seluruh yang berada di panggung menoleh padanya. "Apakah…Kashiwagi-san memang…"

"Itu sudah bawaan lahir," ucap Fuyuki dengan asal. "Dia suka sekali menghukum teman-teman sekelas, walau itu bukan tugasnya."

"Tapi, ada pengecualian," kilah Namiko. "Sonota, apa kau pernah menghukum Suzuki dan Fuyuki sebelumnya?" tanyanya sambil menoleh ke Sonota.

Sonota berpikir sebentar. "…kurasa tidak."

"Lihat?" Namiko melirik Suzuki dan Fuyuki dengan senyum licik nan usil. "Dia sangat baik pada kalian. Harusnya kalian bersyukur."

Sunyi.

Namun, lama kelamaan, terdengar suara para penonton yang berteriak seperti, "Ciee~ Ciee~" Tak hanya itu, para personifikasi mulai berbisik-bisik, seperti menyetujui bila hal ini merupakan suatu pertanda, bila suatu ménage à trois terjadi di antara Fuyuki, Sonota, dan Suzuki. Bahkan, Iranda ikut menggoda ketiga orang tersebut. Begitu pula dengan presenter lain, bahkan para kru di studio. Suzuki dan Fuyuki mulai salah tingkah, bingung harus berkata apa.

Sonota, yang kesal dan bingung harus melakukan apa untuk mengheningkan studio, akhirnya berjalan ke tengah panggung. Ia menarik nafas, lalu mulai bernyanyi.

xA harr hLYUmLYUmOrO eje/.
(xA harr hUmmOrO eje ag dazua/.)
xA sorr kLYUvLYUr du qejyu/.
(xA sorr kUvUr du qejyu dn balduo/.)

xI rre fIrIlU hIlIsUsU ayulsa dazua/.
(xI rre cEzE fIrIlU hIlIsUsU ayulsa dazua,
vega ouvyu giz sphaela/.)

xA harr nAtLYInO hymmnos/.
(xA harr nAtAnO hymmnos, ut ouvyu/.)
xA sorr mLYOrArA du sphaela/.
(xA sorr mOrArA du daedu ag ujes/.)

xO rre mLYOtOyOyO giz wOsLYI du giz/.

xN herr v.t. ess dazua/.
(xA harr jOzOtO ouwua giz hymmnos/.)
xN herr v.t. goa balduo sphaela/.

xN rre hLYImLYUmOrO a.u.k. zess quesa/.
xN rre hLYUmLYUmOrO byui q.l.s. du sechel/.
xA harr nAtLYInO hymmnos/.
xA sorr mLYInLYUgO dn z.z.x./.

xA harr nAtLYInO hymmnos/.
xA rre mArArA sphaela/.
xA rre mArArA balduo ouvyu sphaela/.

xN rre hNmNmNrN ayulsa/.
xN rre hNmNmNrN ayulsa/.
xN rre hNmNmNrN ayulsa/.
xN rre hNmNmNrN ayulsa/.

xN rre hNmNmNrN ayulsa/.

xA harr hLYUmLYUmOrO eje/.
(xA harr hUmmOrO eje ag dazua/.)
xA sorr kLYUvLYUr du qejyu/.
(xA sorr kUvUr du qejyu dn balduo/.)

xI rre fIrIlU hIlIsUsU ayulsa dazua/.
(xI rre cEzE fIrIlU hIlIsUsU ayulsa dazua,
vega ouvyu giz sphaela/.)

xA harr nAtLYInO hymmnos/.
(xA harr nAtAnO hymmnos, ut ouvyu/.)
xA sorr mLYOrArA du sphaela/.
(xA sorr mOrArA du daedu ag ujes/.)

xA harr vIsIkI dazua/.
xA harr tAhAsA siann/.
xA harr lAkAkA maen/.
xA harr hAmmrA byui eje/.

xA rre wArAmA maen a.u.k. zess titia/.
xE rre hAkAtt nafan ouwua siann arhou/.

xA rre sEnEkk mirie, ag hEmmrA eje/.
(xA rre cEzE hymmnos/.
xE rre sAlE sphaela arhou/.)

xE rre lAnAcAaA eje/.
xA rre hLYAmLYEmLYErA sphaela/.
xA harr mLYErErA aje tafane sphaela/.
(xA rre cLYAzE tafane arhou hymmnos/.)

xA rre wArAmA maen a.u.k. zess titia/.
(xA rre cEzE hymmnos/.)
xE rre hAkAtt nafan ouwua siann arhou/.
(xE rre sAlE sphaela arhou/.)

xE rre lAnAcAaA eje/.
xA rre hLYAmLYEmLYErA sphaela/.
(xA rre yAzAtA aje tafane nEmElA sphaela/.)

Semua yang berada di studio langsung hening bagai kuburan. Para penonton di studio mulai gemetar ketakutan. Para personifikasi beserta si tamu—Iranda—mulai bergidik ngeri mendengar lagu tersebut. Para presenter dan kru studio berkeringat dingin. Bila Sonota menyanyikan lagu ini, maka ada dua arti. Membangunkan orang tidur, atau ingin menunjukkan kekesalannya yang paling ekstrim pada orang. Bagaimana tidak? Lagu ini memang terdengar seram di telinga mereka.

Namun, ada hal lain yang lebih gila. Walau Sonota bernyanyi dan musik pengiringnya terdengar di studio, Mino sama sekali tidak menyalakan musik pengiring untuk lagu tersebut! Bahkan, ia mengaku bahwa lagu yang dinyanyikan Sonota tidak tercantum di dalam kasetnya. Padahal, lagu ini terdengar dinyanyikan oleh banyak orang—sekitar seratus orang! Apa yang sedang terjadi?

Tiga menit berlalu sudah, dan akhirnya Suzuki membentak. "…KASHIWAGI!" serunya, tidak tahan dengan seramnya lagu tersebut. "APAPUN, TAPI JANGAN REPLEKIA! AKU MOHON!"

Lima belas detik kemudian, Sonota pun selesai bernyanyi. Dan tepat pada saat itu, musik yang mengiringi lagu itu pun berhenti. Sonota pun menghela nafas, lalu menatap seluruh yang ada di panggung dengan tatapan kosong. "Aku ingin mendiamkan kalian. Ya sudah, aku kasih saja Replekia."

"Iya, tapi…" Suzuki pun mendesah. "Tidak usah Replekia juga, kali?"

"Kalian itu kalau sudah ribut, tidak akan mendengarkan orang. Lagipula, di sini studio. Ada ribuan orang. Teriakan saja tidak akan mempan…kan?" Sonota pun menatap para penonton. "Kawan-kawan, maaf karena lagunya terdengar mengerikan. Namun, setelah ini, silakan pergi ke suatu tempat dan beli VCD-nya. Arti lagunya tidak sengeri itu, kok," jelasnya. Para penonton pun hanya mengangguk-angguk, walau sesungguhnya mereka masih merasa ketakutan dengan lagu tadi.

"Iya, tapi…feeling-nya itu, lho~" ucap Manami. Sonota hanya tertawa mendengar itu.

"Baiklah…" Namiko pun menenangkan diri, setelah ketakutan dengan lagu Replekia yang tadi dinyanyikan kawannya sesama presenter acara. "Sekarang, Iranda-san. Apakah ada tantangan lain, atau pertanyaan untuk disampaikan pada personifikasi?"

"Ada satu lagi," jawab Iranda, lalu menatap Kirana. "Kirana?"

"Ya?" tanya Kirana lembut.

"Kau menyukai Willem?"

Sunyi.

Kirana menelan ludah. Satya, Kiku, dan Razak megap-megap. Sonota, Suzuki, dan Fuyuki menunjukkan wajah berkata 'What the hell thing does she ask?'. Muka Willem merona, membuat Bella menggodanya.

"Ini…hanya pertanyaan, bukan?" tanya Kirana. "Kau tidak menyuruh untuk mencium, kan?"

"Tidak. Tapi, kalau kau tidak menjawab…"

"Baiklah, baiklah." Kirana berdehem sekali. Ia mengumpulkan semua keberaniannya, lalu berkata, "Iya. Aku suka."

Semua bergumam, "Oooh~" Namun, tidak ada yang bersorak, "Ciee~" Mengapa tidak? Hampir seluruh penonton trauma setelah mendengar lagu Replekia dari Sonota yang ternyata tidak begitu tahan dengan kebisingan ketika acara. Willem megap-megap; sementara Satya, Kiku, dan Razak sudah pingsan.

"Tapi, mungkin masih ada sesuatu yang aneh," lanjut Kirana, membuat semuanya kaget. Bahkan, ketiga orang yang pingsan tadi ikut bangun.

"Aneh apa?" tanya Iranda.

"Tidak. Tidak apa," ucap Kirana lembut. "Karena aku sudah menjawab, kau sudah selesai berurusan denganku, bukan?"

Wajah Iranda merona. "Te…tentu."

Namiko pun tersenyum, lalu berucap pada para penonton di studio, "Sekarang, karena tamu kita sudah selesai, mari kita istirahat sejenak. Tetap di: International First Channel!"

Para penonton pun bersorak, "Truth and Dare!"

.

.

.

Letter from Yukari Wada, for all the audience

.

Hari ini, adalah hari di mana reviewer pertama, LalaNur Aprilia, hadir. Kami sedikit bingung dengan karakterisasi Anda, karena itulah kami memunculkan tokoh Anda sebagai campuran tsundere dan yangire—variasi dari yandere yang tidak menggunakan cinta sebagai patokan psikopati orang itu. Kami harap, ini tidak mengecewakan.

Kalian yang memberi review dan PM, mohon kirimkan sesuai kriteria yang dijelaskan Ciel di awal sesi.

Sign,

.

YW & CP

.

.

.

Bonus

.

Ketika istirahat, Lovino mendatangi Matsue, lalu bertanya, "Matsue, apakah ketika Sonota bernyanyi, kru tata suara tidak menyalakan apa-apa ketika itu?"

Matsue mengangguk. "Ada apa?"

"Kalau begitu, kenapa kita bisa mendengar musik pengiring lagu itu? Dan kita mendengar banyak sekali orang yang menyanyi! Tapi, Sonota menyanyi sendirian! Apa yang terjadi?"

"…tanyakan pada Suzuki. Dia tahu."

Mendengar itu, Lovino pun mencari Suzuki. Begitu menemukannya di toilet pria, ia mendatanginya dan bertanya, "Suzuki, kenapa bisa ada musik pengiring saat Sonota tadi bernyanyi? Padahal tidak ada yang mengiringi di situ."

Suzuki, yang sedang mencuci tangan, menutup kran wastafel, lalu mengeringkan tangannya dengan handuk merah yang ia bawa. "Kalau aku memberitahumu, kau tidak akan percaya."

Lovino pun mulai bersungut-sungut. "Ayolah, yaro! Beritahu aku!"

Suzuki pun terdiam, lalu berjalan keluar toilet. Saat ia berpapasan dengan Lovino, ia berhenti, lalu berkata. "Ar tonelico." Ia pun pergi keluar dari toilet itu.

Lovino pun memandang figur Suzuki yang berjalan melalui koridor belakang panggung. Ia berdecak sambil membuat sumpah serapah. "Idiota! Aku bahkan tidak mengerti maksudnya!"