.

.

.

Note from Ciel Poetreas, for all the audience

.

Ciel tidak akan berlama-lama untuk catatan ini.

Pertama, selain kelas 1-3, personifikasi prefektur Jepang bertugas sebagai kru acara International First Channel dan karyawan Tokutsubaki Entertainment, tanpa diketahui Kiku, 'ayah' sekaligus 'kakak' sekaligus pembina mereka. Sebagian besar bekerja sebagai kameraman, namun juga ada yang bertugas sebagai petugas belakang panggung atau karyawan biasa.

Untuk data mereka, silakan lihat di kitawiki di page "Feudal Domains and Prefectures of Japan".

Catatan: di page tersebut, kalian akan melihat prefektur bagian Kyushu. Lihat pada fotonya, di baris kedua (yang bawah). Deskripsi di bawah foto menuliskan Oita, Miyazaki, dan Kagoshima secara urut. Namun, di fotonya berurutan sebagai Kagoshima, Oita, dan Miyazaki. Mohon agar tidak terkecoh dengan deskripsi yang ada. Di bawah setiap foto karakter, ada huruf kanji yang menunjukkan nama prefektur yang dipersonifikasikan; mohon disamakan dengan daftar yang sudah disediakan di page tersebut. Ciel pernah salah asumsi dan hasilnya sangat kacau.

Dan satu lagi. YANG MEMBUAT NAMA MANUSIA UNTUK PERSONIFIKASI PREFEKTUR ADALAH YUKARI WADA, BUKAN HIMARUYA HIDEKAZU. NAMA-NAMA TERSEBUT DIAMBIL DARI NAMA-NAMA KOTA PREFEKTUR YANG BERSANGKUTAN, DAN DIGUNAKAN APABILA ALTERNATED UNIVERSE DIPERLUKAN. MOHON DIMENGERTI.

Satu lagi. Untuk reviewer yang anonymous (tidak memiliki akun situs ini) ketika sesi satu (sebelum sesi dua diterbitkan), Ciel akan menganggap Anda tetap mendapat kesempatan untuk Truth and Dare, walau tanpa Live Questing. Untuk anonym yang baru memberi review ketika sesi dua diluncurkan, silakan kerjakan PR yang tercantum di sesi kedua, bukan sesi pertama.

Sign,

.

CP & YW

.

.

.

Hetalia – Axis Powers Himaruya Hidekazu

OC © Yukari Wada & Ciel Poetreas

Hetalia First Channel: Truth and Dare! © Yukari Wada & Ciel Poetreas

.

.

.

"Namiko," panggil Natao. "Setelah ini, kita melakukan apa?"

"Hm…Live Karaoke, setelah itu Live Questing lagi, Live Reversing, Live Letters, Live Questing, Live Game, Live Letters, Live Questing, dan seterusnya~" jawab Namiko, sambil memakan takoyaki pesanannya. Waktu itu, mereka sedang istirahat di kantin yang diurus oleh Nakano Hamura—personifikasi Prefektur Tokyo—dan Minou Ikeda—personifikasi Prefektur Osaka. "Seharusnya, segmen berikutnya dibuat lebih menarik."

Natao mengangguk setuju. "Dengan harapan Sonota tidak menyanyikan Replekia lagi."

"Amin~"

Nakano yang mendengar hal tersebut menoleh, mengalihkan perhatian dari sayuran yang sedang dipotongnya di atas talenan. "Sonota menyanyi Replekia hari ini?" tanyanya.

"Iya," jawab Natao. "Mungkin, ia lelah karena digoda satu studio. Salahkan Namiko untuk itu."

"Ah, Natao jahat~" rengek Namiko, namun Natao mendiamkannya. Natao memakan okonomiyaki bekalnya dengan tenang, tanpa mempedulikan rengekan Namiko.

Minou, yang sedang memanggang takoyaki, terdiam sejenak sebelum berkomentar. "Tapi, Sonata hanya menggunakan Replekia sekali dalam sehari, kan? Dia tidak akan menggunakannya lagi setelah kejadian tadi." Perlu dicatat, bila Sonota sering dipanggil Sonata karena huruf dan pelafalan yang mirip. Ujung-ujungnya, Tokutsubaki Entertainment menjadikan Sonata sebagai nickname resmi Sonota. "Paling, setelah ini ia akan menyanyi Purger."

"Iya, tapi bukan Purger-nya Misha!" seru Namiko. "Lebih baik Purger-nya Aurica!"

"Sudah, tidak usah mengurus dia lagi. Lagipula, dialah yang menentukan lagunya sendiri. Mungkin, setelah ini bukan Purger, tapi…" Nakano terdiam sejenak. "Rahasia."

"Ah, Nakano ini…" Namiko merengut. "Kau yang paling tahu tentang Sonota, tapi tidak mau membicarakannya pada kami!"

"Makanya, bikin Sonata percaya pada kalian, agar kalian bisa menyelam ke dalamnya. Lagian, di antara kalian ada juga yang sama saja seperti dia, tapi beda jenis," ujar Minou. "Sudah, kalian makan saja. Sebentar lagi juga mulai!"

.

.

.

Produser acara pun mengacungkan jempolnya lagi, pertanda semua sudah siap disiarkan secara langsung di seluruh Jepang—tidak, mungkin juga dunia. Seluruh personifikasi dan pembawa acara telah berdiri di atas panggung, sedangkan Iranda, sang tamu telah dipersilakan kembali ke tempat duduknya.

Manami pun memasang senyum sambil berseru, "International First Channel!"

"Truth and Dare!" seru para penonton dengan girangnya.

"Sekarang, saatnya kita melihat pesan untuk segmen baru…" Namiko terdiam sejenak. "…Live Karaoke!" serunya, membuat para penonton bersorak senang. "Anu, siapa di antara para pembawa acara yang membawa surat request untuk Live Karaoke?"

"Aku!" seru Matsue, lalu membuka amplop putih yang dibawanya. Ia mengambil secarik kartu yang berada di dalam amplop itu, lalu membaca isinya. "Dari yang berkode nama Ichal-LasanIsAwesome…ha?"

Gilbert menggumam-gumam dengan keras, seperti berseru, "Hei, dia mengambil trademark-ku!" Namun, itu tidak dihiraukan teman-temannya.

"Isinya apa?" tanya Rio. Yang lain pun ikut tertarik.

"Ung…lagunya The Immoral Memory ~The Lost Memory~ dari grup VanaN'Ice, subgrup Vocaloid yang beranggota Kagamine Len, Gakupo, dan Kaito…"

"Yang menyanyi?" tanya Rinno.

"Emil, Lukas, dan Mathias."

Tiga personifikasi tersebut mati membeku sambil berdiri di tempat.

Seluruh personifikasi mengangakan mulutnya, kecuali kalangan fudanjoshi—Kiku, Elizaveta, Kirana, Satya, Bella, dan Mei—yang segera mempersiapkan 'alat perang' mereka, seperti kamera, buku kosong, alat tulis, dan lain-lain. Sebagian besar penonton berteriak histeris, sebagiannya lagi tertawa terbahak-bahak. Kru studio tertawa kecil. Namiko, Manami, Rinno, Rio, Natao, Suzuki, dan Fuyuki tertawa terbahak-bahak; Matsue menunjukkan senyum manis nan mengerikan, sedangkan Sonota hanya menatap seisi studio dengan tatapan kosong.

Razak, yang sedari tadi melihat reaksi Sonota yang berbeda daripada penghuni studio pun bertanya, "Anu, Sonota?"

Sonota meliriknya tajam. "Ada apa?"

"Reaksimu…apa kau tidak tahu lagu itu?"

Sonota memutar bola matanya, "Tidak penting. Bukan berarti aku tidak tahu lagu ini. Tapi, siapa pun yang disuruh menyanyi," Sonota melirik ke Emil, Lukas, dan Mathias, "silakan menyanyi." Para personifikasi lain dan para presenter pun bergeser ke sisi panggung.

Ketiga orang itu pun akhirnya maju ke tengah panggung, lalu berdiskusi sebentar. Akhirnya, Emil mengambil bagian Len; Lukas mengambil bagian Gakupo; dan Mathias mengambil bagian Kaito. Setelah itu, musik dimainkan oleh Mino, dan mereka mulai bernyanyi.

[Lukas] Sepia iro ni
[Lukas] Somaru,
mi oboe no
[Lukas] Aru joukei…

[Mathias] Taikutsu na sora…
[Mathias] Miagete wa,

[Mathias] Tame-iki;
[Mathias] Majiri no gogo…

Para fans sudah berteriak sangat histeris, namun mereka kembali menenangkan diri agar bisa mendengar suara ketiga anggota Nordik yang merdu itu. Suara Lukas dan Mathias itu, untuk mereka itu…ng…membuat mereka langsung ingin kembali ke khayangan.

[Lukas] Kodoku
[Lukas] Oshi tsubusare,
[Lukas] Kurutte
[Lukas] Shimai sou…!

[Mathias] Ubawareta
[Mathias] Kioku mo,
[Mathias] Uso mo,
[Mathias] Shinjitsu mo…

[Lukas] Omoi
[Lukas] Shizume,
[Lukas] Zankoku ni
[Lukas] Sugisaru jikan…

[Mathias] Naze koko ni
[Mathias] Iru no ka sae,
[Mathias] Shirazu ni…

[Lukas/Mathias] Tada,
[Lukas/Mathias] Kanjou no nai mama,
[Lukas/Mathias] Barabara no kokoro wo
[Lukas/Mathias] Tokashite yuku…

[Lukas/Mathias] Omoi dase nai,
[Lukas/Mathias] Taisetsu na
mono wo…

Ketika masuk ke reff inilah, para fans—terutama para gadis—berteriak kencang.

[Lukas/Mathias] Remember!

[Lukas/Mathias] Kegareta,
([Emil] Kegareta…)
[Lukas/Mathias] Tsumi bukaki ai…

[Lukas/Mathias] Jikan ga
([Emil] Ai o modoseru nara…)
[Lukas/Mathias] Moshi modoseru nara,

[Lukas/Mathias] Anata to sugoshita
([Emil] Sugoshita kisetsu…)
[Lukas/Mathias] Azayaka na

[Lukas/Mathias] Kisetsu wo
([Emil] Mou ichido shiritai…)
[Lukas/Mathias] Mou ichido shiritai…

[Lukas/Mathias] Remember!

[Lukas/Mathias] Oshiete,
([Emil] Oshiete…)

[Lukas/Mathias] Kuuhaku no mama…

[Lukas/Mathias] Doushite
([Emil] Namida wa koboreru)

[Lukas/Mathias] Namida wa koboreru?

[Lukas/Mathias] Toki wo kake meguri,
([Emil] Toki kake meguri…)

[Lukas/Mathias] Ano basho he…

[Lukas/Mathias] Nukenai itami no
([Emil] Nukenai itami no wake wa…)
[Lukas/Mathias] Wake wa doko ni?

Ketika mereka kembali ke bagian awal lagu—dengan lirik yang berbeda, para gadis melihat mereka dengan mata yang berbinar-binar.

[Mathias] Nureta kami wo
[Mathias] Hodoki,
kawashita
[Mathias] Kuchizuke no ato…

[Lukas] Zankoku ni,
[Lukas] Mukuchi na
anata no
[Lukas] Hitomi no oku ni…

[Mathias] Koko kara,
[Mathias] Sukutte to
[Mathias] Eien wo
[Mathias] Yakusoku shita…

[Lukas] Doku ni
[Lukas] Nomi komare,
[Lukas] Muyuu byou
[Lukas] No you ni…

[Mathias] Azayaka sugite,
[Mathias] Mie nai;
[Mathias] Anata no
[Mathias] Yoko-gao…

[Lukas] Mabushiku
[Lukas] Terasareru
[Lukas/Mathias] Hikari wa
[Lukas/Mathias] Maboroshi…

Para fans berteriak histeris ketika mereka menyanyi, walau saat itu sedang interlude. Yuuta kembali melaporkan bila sudah satu per tiga penonton di areanya yang pingsan dan mimisan. Namun, ketika sudah setengah jalan, ketiga personifikasi itu sempat kelelahan. Walau begitu, kelima kawan mereka sesama anggota Nordik mendukung mereka. Hal itu mendukung mereka untuk tetap menyanyi. Bahkan, hampir seluruh presenter—kecuali Namiko yang tidak tahu banyak lagu ini—mendukung mereka dengan ikut menyanyikan lirik lagu itu. Namun…ada sesuatu yang dianggap kebetulan. Lihatlah siapa yang menyanyikan lirik-liriknya, dan bandingkanlah dengan penyanyi aslinya. Ada yang menemukan trivia baru?

[Lukas/Mathias/Natao/Yamato/Rinno/Rio/Suzuki/Fuyuki] Remember!

[Lukas/Mathias/Natao/Yamato/Rinno/Rio/Suzuki/Fuyuki] Kegareta,
[Lukas/Mathias/Natao/Yamato/Rinno/Rio/Suzuki/Fuyuki] Tsumi bukaki ai…

[Lukas/Mathias/Natao/Yamato/Rinno/Rio/Suzuki/Fuyuki] Jikan ga
[Lukas/Mathias/Natao/Yamato/Rinno/Rio/Suzuki/Fuyuki] Moshi modoseru nara,

[Lukas/Mathias/Natao/Yamato/Rinno/Rio/Suzuki/Fuyuki] Anata to sugoshita
[Lukas/Mathias/Natao/Yamato/Rinno/Rio/Suzuki/Fuyuki] Azayaka na

[Lukas/Mathias/Natao/Yamato/Rinno/Rio/Suzuki/Fuyuki] Kisetsu wo
[Lukas/Mathias/Natao/Yamato/Rinno/Rio/Suzuki/Fuyuki] Mou ichido shiritai…

[Lukas/Mathias/Natao/Yamato/Rinno/Rio/Suzuki/Fuyuki] Remember!

[Lukas/Mathias/Natao/Yamato/Rinno/Rio/Suzuki/Fuyuki] Oshiete,
([Emil/Matsue/Manami/Sonota] Oshiete…)

[Lukas/Mathias/Natao/Yamato/Rinno/Rio/Suzuki/Fuyuki] Kuuhaku no mama…

[Lukas/Mathias/Natao/Yamato/Rinno/Rio/Suzuki/Fuyuki] Doushite
([Emil/Matsue/Manami/Sonota] Namida wa koboreru)

[Lukas/Mathias/Natao/Yamato/Rinno/Rio/Suzuki/Fuyuki] Namida wa koboreru?

[Lukas/Mathias/Natao/Yamato/Rinno/Rio/Suzuki/Fuyuki] Toki wo kake meguri,
([Emil/Matsue/Manami/Sonota] Toki kake meguri…)

[Lukas/Mathias/Natao/Yamato/Rinno/Rio/Suzuki/Fuyuki] Ano basho he…

[Lukas/Mathias/Natao/Yamato/Rinno/Rio/Suzuki/Fuyuki] Nukenai itami no
([Emil/Matsue/Manami/Sonota] Nukenai itami no wake wa…)
[Lukas/Mathias/Natao/Yamato/Rinno/Rio/Suzuki/Fuyuki] Wake wa doko ni?

Para presenter pun berhenti menyanyi, karena mereka tahu para fans ingin mendengar suara Emil ketika bernyanyi. Alhasil, ketika Emil menyanyi, para fans langsung pingsan. Para presenter pun hanya bisa geleng-geleng kepala melihat hal ini. Karena…walau suara Emil memang sedikit seduktif untuk para gadis, suaranya tidak cocok dengan suara Len.

[Emil] Nando de mo,
[Emil] Anata no namae
[Emil] Yobu kara,

[Emil] Omoi dashite
[Emil] Hoshikute…
[Emil] Koe

[Emil] Karete mo…

Ketika Emil, Lukas, dan Mathias menyanyi lagi, sekali lagi para penonton bersorak.

[Lukas/Mathias] Remember!

[Lukas/Mathias] Tori modoshita
([Emil] Kioku no…)
[Lukas/Mathias] Kioku no

[Lukas/Mathias] Hahen ga mune wo
([Emil] Hahen mune shime tsukete…)

[Lukas/Mathias] Shime tsukete…

[Lukas/Mathias] Kimi ga satta
([Emil] Kimi ga satta)

[Lukas/Mathias] Kotae wo shiru tabi,

[Lukas/Mathias] Oroka na jibun wo
([Emil] Jibun wo ayamete mo…)
[Lukas/Mathias] Ayamete mo…

[Lukas/Mathias] Remember!

[Lukas/Mathias] Tsunagatta
([Emil] Kizuna no)

[Lukas/Mathias] Kizuna no ito;

[Lukas/Mathias] Itsu ka,
([Emil] Ito ga itsu ka…)

[Lukas/Mathias] Musubareru you ni to,

[Lukas/Mathias] Kuri kaeshi inori wo
([Emil] Kitto ai sasageru yo…)

[Lukas/Mathias] Sasageru yo,,,

[Lukas/Mathias] Tatoe kore ga,
([Emil] Kore ga ayamachi to shitte…)
[Lukas/Mathias] Ayamachi da to shitte mo...

[Lukas/Mathias] Remember…
[Lukas/Mathias] Yami ni ochiteku…

[Lukas/Mathias] Remember!

Ketika mereka selesai bernyanyi dan musik pun selesai, para fans bersorak dengan kencang dan bertepuk tangan dengan meriah. Begitu pula dengan para personifikasi dan para presenter. Tidak disangka, mereka bisa menyanyikan lagu Jepang—terutama Vocaloid—dengan sebaik dan…seseksi itu.

"Hebat!" seru Namiko, lalu menoleh ke Matsue. "Apakah ada request lain?" tanyanya.

Matsue menggeleng. "Untuk kali ini, tidak ada."

Namiko menghela nafas. "Baiklah, kembali ke Live Questing!"

Para penonton pun kembali bersorak.

"Tamu kedua," sambut Manami, "silakan masuk!"

Dari belakang panggung, datanglah seorang gadis berusia sekitar lima belas tahun dengan rambut hitam kecoklatan yang dikuncir ke samping kiri kepalanya. Ia mengenakan sailor uniform putih dengan kerah biru dan dasi merah, serta rok biru. Ia mengenakan kacamata yang melindungi bola matanya yang berwarna hijau zamrud, yang berkilat-kilat penuh kegembiraan, namun juga keberanian. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah kipas lipat berwarna hijau.

"O-nee-san, namanya siapa?" tanya Rinno dengan ramah, namun juga tenang.

"Aku Yukinami Friedrich! Senang bertemu!" ucap si gadis. Para penonton pun berseru kagum dengan keceriaan si gadis.

"Yukinami Friedrich…Jepang-Jerman?" tanya Natao.

"Ya! Ayahku Jerman, sedangkan ibuku Jepang!"

"Kalau begitu," sahut Rio, "apa tantangan dan pertanyaan Anda?"

"Duo Indonesia!" seru Yukinami.

Satya dan Kirana menoleh dengan ekspresi kaget. "Iya?"

"Katakan nation yang kalian suka, lalu nyatakan cinta kalian dan cium mereka!" seru Yukinami, dengan nada yang ceria, namun juga menantang.

Para penonton bersorak lagi. Mereka sudah menyiapkan kamera dan video camera, bila sesuatu terjadi. Begitu pula dengan para personifikasi, yang sudah mulai memegang ponsel masing-masing untuk memotret atau merekam tantangan tersebut. Tentu saja pengecualian untuk Bad Touch Trio, yang tidak bisa berbuat apa-apa karena diikat. Satya dan Kirana hanya bisa menelan ludah. Namiko, Manami, Fuyuki, Suzuki, Yamato, dan Rio menggoda kedua personifikasi tersebut. Sedangkan Rinno, Natao, dan Matsue hanya tertawa mendengar tantangan yang simpel, namun menantang tersebut.

"Ini…gabungan antara Truth dan Dare, kan?" tanya Satya. "Oke, akan aku lakukan!"

Kirana mengangguk setuju. "Aku juga!"

Ketika Satya dan Kirana mulai berunding tentang bagaimana cara mereka menyatakan cinta pada personifikasi yang mereka suka, Matsue mulai menoleh ke sana dan ke mari. "Sonota di mana?" tanyanya.

Namiko, yang mendengar pertanyaan Matsue, mulai melihat ke sekitarnya. "Benar juga…" Namiko pun mendekati Suzuki dan menepuk bahunya. "Suzuki," panggilnya.

Suzuki menoleh. "Ada apa?" tanyanya.

"Sonota hilang. Cari dia."

"Lho, kok aku?"

"Kamu kan ketua kelas. Seharusnya kamu cari dia."

"Tapi, dia kan sudah keluar."

"Tapi, dia juga tetap bagian dari kelas! Nomor absennya saja tidak diapa-apakan! Lihat, kamu ya tetap nomor 25, bukan 24!"

"Iya, aku tahu. Tapi—"

"CARI ATAU KAMU GAK USAH JADI KETUA KELAS!"

Semua penonton hening. Para personifikasi hening. Kru studio hening. Para presenter hening. Yukinami si tamu ikut hening. Bahkan, yang berada di belakang panggung pun hening. Serasa seperti kuburan. Semua terdiam mendengar teriakan Namiko yang lagi-lagi menimbulkan feedback itu.

Suzuki pun mendesah. "Oke, oke." Ia pun pergi ke belakang panggung.

Setelah Suzuki pergi, Manami mendekati Namiko dan bertanya, "Namiko, ada apa, toh?"

"Sonota itu hilang entah ke mana. Aku suruh Suzuki mencarinya, tapi dia tidak mau. Ya sudah, aku teriaki saja." Namiko pun kembali ke acara. Melihat Satya dan Kirana yang sudah siap untuk menyatakan perasaan mereka, Namiko pun tersenyum. "Nah, silakan kerjakan tantangan Anda semua."

Ketika Satya berjalan mendekati Razak dan Kirana berjalan mendekati Willem, ponsel Namiko bergetar. Namiko mengambil dan melihat apa yang terjadi. Ternyata, e-mail dari Suzuki.

Aku lagi di ruang properti panggung sama Kashiwagi. Dia gak mau kembali ke panggung gara-gara takut 'itu'.

Namiko pun membalas:

Jadi? Kamu temani?

Tak lama kemudian, Suzuki membalas:

Ng…iya. Soalnya, di sini gelap juga. Lampunya rusak. HP-ku gak ada senternya juga. Apalagi HP-nya Sonota.

Namiko tersenyum licik.

Sementara itu, Satya sedang melakukan aksi pernyataannya pada Razak. Razak, yang mengetahui bila Satya hendak menyatakan 'itu' padanya, hanya bisa menelan ludah. Mukanya memerah karena malu akan dinyatakan di depan para penonton studio. "Kamu…mau apa?" tanya Razak.

"Oh, tentunya. Ini tantangan dari fans untukku. Akan kulakukan." Jawaban Satya sama sekali tidak terdengar pas dengan pertanyaan Razak. Namun, ini karena Satya tahu isi lubuk hati Razak yang terdalam. "Razak… Aku suka kamu."

BLAAAR…! Razak pun pingsan di tempat. Satya hanya bisa garuk-garuk kepala melihat ini. Para penonton dan kru bersorak, "Cieee~", sedangkan para personifikasi bertepuk tangan. Para fudanjoshi memotret dan merekam adegan tersebut dengan suksesnya.

Satya mendesah. Ia pun mengangkat tubuh Razak yang terkapar di atas panggung, lalu membawanya ke belakang panggung.

Yukinami menggaruk-garuk kepala. "Sepertinya, ini tidak seperti yang diharapkan."

Namiko meliriknya. "Memang ada apa, Yukinami-san?"

"Ng…sebetulnya aku lebih suka kalau Satya dengan Natalia, lalu Kirana dengan Kiku…"

Namiko berkeringat mendengar hal itu. "Itu…pilihan mereka…sudah tidak bisa ditolong lagi…tapi, pasti akan ada hal lain yang lebih baik!" dukungnya.

Yukinami pun menghela nafas, lalu tersenyum. "Tentu saja! Aku harus bersabar!"

Sementara itu, Willem mulai berkeringat dingin. Ia merasa kelabakan, karena Kirana akan melakukan pernyataan di depannya. Tidak hanya di depannya, melainkan juga di depan para personifikasi. Di depan para fans. Di depan seluruh dunia. Namun, ia tetap merasa kagum dengan keberanian Kirana yang akan menyatakan hal itu padanya.

"Willem," ucap Kirana dengan suara yang lembut. "Aku menyukaimu."

DOOOR…! Willem pun ikut pingsan. Dengan sigap, Ludwig dan Mathias langsung membawanya ke belakang panggung.

Yukinami merengut. "Mereka lembek," katanya. "Bahkan mereka belum ciuman sama sekali."

Matsue tertawa. "Mungkin karena ini di depan orang banyak." Ia pun melirik Yukinami. "Tapi, tantanganmu hanya itu, bukan?"

Yukinami mengangguk. "Tapi, mohon agar aku tetap di sini. Aku ingin melihat segmen yang tersisa."

Matsue mengangguk setuju, lalu berjalan mendekati Namiko. "Namiko, beritahu Suzuki kalau segmen Live Questing sudah selesai."

Namiko mengangguk sekali. Karena ia tidak mau berlama-lama dengan mengirimkan surat elektronik pada si ketua kelas, akhirnya ia pun meneleponnya. "…moshi moshi, Suzuki? Kau masih di sana?"

"Iya…"

"Cepat ke sini. Acara Live Questing-nya sudah selesai."

"Oh, baiklah…" Sambungan pun diputus.

Namiko pun menghela nafas. "Huh…padahal, bukannya mereka bisa keluar dari ruang properti panggung dan mencari ruang lain? Apa ruang itu terkunci? Hah, tidak mungkin." Ia pun menoleh pada Rio. "Apa segmen berikutnya?" Walau ia sudah tahu segmen selanjutnya, Namiko tetap bertanya pada Rio, yang sedari tadi melamunkan sesuatu.

"Hm…ah!" gumam Rio terkejut. "Ng…Live Reversing."

Namiko tersenyum. "Baiklah…nah, kawan-kawan personifikasi, Live Reversing adalah segmen di mana kalian ganti memberikan pertanyaan dan tantangan pada kami pembawa acara. Nah, ada yang mau?" tanyanya pada para personifikasi. Saat itu, Suzuki dan Sonota sudah kembali ke panggung.

Matthew pun berpikir sejenak, lalu mendekati Sonota dan berkata, "Sonota, bolehkah aku bertanya?"

Sonota mengangguk. "Tentu."

Matthew menelan ludah. Jujur, ia merasa ia memang harus menanyakan ini, walau ia tidak akan tahu dengan reaksi Sonota saat ia menanyakannya. "Bagaimana, kalau misalnya…Fuyuki dan Suzuki itu…"

"Iya?"

"…suka satu sama lain?"

"…"

"Ini…bukan pertanda baik." Begitu ucapan Matsue. "Dia gila."

Sonota tersenyum, dengan aura gelap memancar dari dirinya. "Aku memang gila." Ia sudah bersiap dengan Folding Umbrella = Axe Mode kesukaannya.

"Dia berani juga…" begitu gumaman Yukinami. "Berani mengatakan dirinya sendiri gila. Itu fatal sangat."

"Dia itu tsundere, tapi dorodere. Yangire, tapi yandere. Kuudere, tapi juga dandere. Dia ini sebetulnya apa sih?" gumam Natao. "Aku heran."

Namiko mengalihkan segmen acara. Setelah berkata pada Matthew untuk tidak memikirkan reaksi dari Sonota yang hampir menderita syndrome tersebut—tentunya dengan beberapa kru menenangkan Sonota yang sudah bersiap menjadi pembunuh bayaran itu, Namiko pun berkata pada para penonton, "Sekarang, saatnya Live Letters! Ini adalah segmen di mana kita tetap mengadakan Truth and Dare, namun dengan surat yang dikirimkan fans!" Ia pun menoleh ke Rinno, "Rinno, kau bawa suratnya?" tanyanya.

Rinno mengangguk. Ia membuka amplop coklat yang dibawanya, lalu mengambil secarik kertas putih di dalamnya. Ia pun membacanya, "Ini dari kode nama: Irgill…Kirkland?"

Allistor, Arthur, dan Peter saling berpandangan. "Mereka menggunakan marga kita?" tanya mereka bersamaan.

Rinno pun mendesah, tidak mau mengurus nama itu. Itu hanya kode nama, pikirnya. "Baik…untuk Alfred."

"Ya?" jawab Alfred.

"Apa reaksimu…" Tiba-tiba, Rinno tertawa membaca isi surat tersebut. "…bila, hahaha, Arthur di-rape oleh Francis?"

"WHAT THE HELL YOU SAY? BLOODY GIT!" seru Arthur, begitu mendengar kalimat itu; teriakannya hampir menimbulkan feedback, walau tidak separah Namiko. "AKU DI-RAPE SI BLOODY FROG SIALAN ITU?!"

Para personifikasi kembali tertawa. Baik karena pertanyaan yang dibaca Rinno, maupun karena reaksi Arthur.

Alfred pun tertawa, sebelum menjawab, "Maka, si hero ini akan menyelamatkan Artie~!"

Semua penonton bersorak. Para personifikasi menggoda Arthur yang merona wajahnya karena malu. "Kesimpulannya memang benar! Alfred adalah pahlawannya Arthur!" Begitulah seruan mereka.

"Lalu…" Rinno membaca isi surat itu lagi. "Allistor-san."

"Ya?"

"Relakah kau bila Alfred dan Arthur berpacaran?"

Allistor mendesah. "Jujur, aku tidak serela itu. Tapi, kalau itu memang keinginannya Arthur…aku izinkan saja. Kecuali kalau Alfred membuatnya sengsara."

Seluruh penonton bersorak.

"Sekarang tantangannya," ucap Rinno, menenangkan para penonton di studio. "Baik. Aku langsung saja. Ludwig-san. Cium Feliciano-san, tanpa protes."

Seluruh fudanjoshi di studio langsung bersiap dengan 'alat perang' mereka. Begitu pula dengan para personifikasi yang langsung menyiapkan kamera ponsel masing-masing. Ludwig merasa tubuhnya memanas, sedangkan Feliciano hanya melihat seisi studio sambil bergumam heran.

"Uhm…maaf," ucap Matsue, setelah membetulkan earphone yang menggantung di telinganya. "Sepertinya ada breaking news mendadak. Naoe-sensei bilang begitu lewat earphone-ku."

"Ah, benarkah?" tanya Namiko, yang disambut dengan anggukan dari Matsue. Penonton mendesah, karena keinginan mereka melihat adegan romantis hancur.

"Baik. Siapa host-nya?" tanya Namiko lagi.

"Nestmile-san…dan Arsellec-san."

"Oh, oke." Namiko pun menatap kamera dengan senyum. "Maafkan kami, karena adegan ciuman harus ditunda. Tetap di International Channel!"

"Truth and Dare!"

.

.

.

Letter from Yukari Wada, for all the audience

.

Saya dan Ciel sangat meminta maaf atas keterlambatan karena banyaknya pekerjaan yang harus dilaksanakan. Acara hari ini pun terasa sangat pendek karena pada dasarnya kami kehabisan ide setlist yang baru. Dan satu hal lagi. Mendeskripsikan ciuman atau hal seks itu sedikit membuat kami canggung, apalagi boy x boy. Tapi, kami akan berusaha melakukan yang terbaik untuk Anda semua.

Anda masih boleh memberikan review apapun kepada kami, karena itulah yang memotivasi kami untuk terus menulis dan membawakan acara ini demi hiburan untuk Anda.

Sign,

.

YW & CP

.

.

.

Bonus

.

Namiko mendatangi dan bertanya pada Suzuki, "Suzuki, kenapa kamu tadi tidak keluar saja dari ruang gelap tadi itu?"

Suzuki terdiam, lalu menghela nafas. "Ruangnya terkunci."

"Siapa yang mengunci?"

"Aku tidak tahu."

"Apa kau tahu ruang tersebut terkunci?"

"Iya. Sudah kucoba untuk membukanya, tapi tetap tidak bisa."

"Kapan ruang tersebut terkunci?"

"Itu…"

Tiba-tiba, terdengar suara baru. "Tepat setelah ketua kelas menutup pintu."

Namiko menoleh. Suzuki buru-buru menjauh dari Namiko.

"Sonota?" gumam Namiko. "Bagaimana kau bisa tahu?"

"Kau tidak tahu? Aku ini pelatih sihir untuk para murid di sekolah ini," jelas Sonota. "Makanya aku bisa tahu kapan pintu itu terkunci. Aku bisa saja membuka kunci sihir itu, tapi ternyata ada segel ganda yang membuat sihir itu susah dilepaskan."

"Dan siapa yang membuat segel ganda itu?" tanya Namiko.

"Aku berada di dalam ruangan. Ketua kelas datang dan tepat setelah dia menutup pintu, pintu itu terkunci. Ini bukan kebetulan. Ada yang sudah tahu dan ingin mencomblangkanku dengan ketua kelas secara cuma-cuma dan tidak elitnya."

"Kashiwagi, bisakah kau berbicara lebih normal?" tanya Suzuki sedikit keheranan.

"Itu sudah normal. Aku lanjutkan: ada segelintir orang yang ingin melakukan aksi ini, tapi hanya ada beberapa dari mereka yang menguasai sihir penyegelan ganda, apalagi yang jarak jauh."

"Dan siapa orangnya?" tanya Namiko.

Sonota melihat atas, seperti menerawang sesuatu yang bisa ia lihat secara tembus pandang. "Tachibana-sensei, bukan?"

Siiing…

"HAAA?! GURU MATEMATIKA KITA YANG JOYFULLY CRUEL AND STRICT ITU?!" seru Suzuki kaget. Ia lalu segera memegang kedua pundak Sonota dan bertanya sambil menggoyang-goyangkan tubuh si gadis dengan kencang. "SERIUS KAMU, KASHIWAGI! WALAU ACARANYA KAYA BEGINI KAMU JUGA GAK USAH MEMECAHKAN MISTERI SECEPAT ITU!"

Sonota yang pusing hanya bertanya dengan matanya berputar ke segala arah, "Apa maksudmu, ketua kelaaa~s?" dengan suara yang menandakan betapa pusingnya kepala Sonota saat itu.

Namiko tertawa licik. Misi pertama sukses! Aku harus berterima kasih pada Miyuki, Tachibana-sensei, dan Airi! Namun, ketika ia melihat Suzuki yang terus saja membuat Sonota pusing serasa berada dalam kora-kora, Namiko berseru, "Suzuki, lepaskan Sonota sekarang!"