tittle : Bad Boy Good Boy
author :
cast : taohun, exo members
genre : romance, family, angst
rate : T
summary : Tao, seorang bad boy yang berubah setelah kehadiran seorang namja baik-baik bernama Sehun. Tapi ada satu rahasia yang di sembunyikan Sehun.
desclaimer : semua cast bukan punya saya, mereka milik orang tua masing-masing. Tapi saya yakin cerita ini milik saya sendiri.
warning : YAOI/BL, OOC, cerita pasaran, membosankan, crack pair, typo(s), alur berantakan, alur kecepetan, tidak sesuai EYD, gak suka gak usah baca
...
happy reading
.
.
.
Bel pulang sekolah berbunyi, seluruh siswa merapikan barang mereka, dan segera pergi meninggalkan kelas. Luhan menolehkan badannya ke samping, dimana Sehun masih sedang merapikan barang-barangnya.
"Kau pulang dengan siapa?" tanya Luhan.
"Aku dijemput."
"Apa sudah datang?" Luhan sedikit gelisah.
"Sepertinya belum."
"Mian aku tak bisa menemenimu. Aku ada kelas vokal." wajah Luhan nampak menyesal. Sehun tersenyum dan mengangguk.
"Gwenchana." ucapnya menenangkan Luhan.
"Kalau begitu aku pergi dulu ya? Pai!" Luhan segera berlari keluar kelas menuju ruang musik.
Sehun mulai beranjak dan memikul tas ranselnya. Berjalan sendiri sambil sedikit menundukkan kepalanya, karna sekolah masih ramai. Ia takut diperhatikan berlebihan lagi oleh siswa siswi lain. Sehun melewati lorong dimana terdapat berbagai ruangan untuk kegiatan ekstrakulikuler. Ia melihat tanda yang menempel di ruang dance. Ia tersenyum kecil dan memutuskan untuk sedikit mengintip kegiatan di dalam ruangan itu. Di dalam ruangan terdapat beberapa anak sedang merenggangkan tubuhnya, pemanasan.
"Ternyata Lay hyung anak ekskul dance..." Sehun bergumam pada diri sendiri saat melihat Lay juga berada diantara anak-anak yang sedang melakukan pemanasan itu. Sebenarnya Sehun sangat suka menari dan ia ingin ikut kegiatan sekolah tersebut. Tetapi suatu hal yang tidak memperbolehkan Sehun capek membuat ia hanya menyimpan keinginan itu.
"Apa yang kau lakukan?" pertanyaan dengan nada datar dan tepukan kecil pada pundak kanan Sehun membuat ia reflek menolehkan kepalanya.
"T-tao?!" mata sipit Sehun sedikit melebar melihat siapa yang ada di depannya. "A-ani."
"Kau tidak masuk?" tanya Tao dengan nada yang tidak sedatar tadi. Sehun masih dengan mata melebarnya, menggelengkan kepalanya. "Oh, kau malu?"
"A-ani." perkataan Sehun tak di dengar oleh Tao, karena ia sedang melongokkan kepalanya ke dalam ruang dance, memanggil Lay.
"Sudah kupanggilkan Lay hyung. Kalau begitu aku duluan." Tao berlalu meninggalkan Sehun yang menatap Tao bingung. Tao sungguh aneh. Kemudian Lay keluar.
"Ada apa, Tao? Eh, Sehunnie. Kemana Tao?" tanya Lay setelah tidak menemukan namja panda yang memanggilnya. Sehun menunjuk punggung Tao yang sudah mulai menjauh.
"Ada apa dia? Aneh sekali anak itu." Lay juga ikut bingung melihat kelakuan Tao hari ini.
"Ohya, sedang apa disini, Sehunnie? Apa kau mau ikut ekskul dance?" Lay akhirnya menanyakan keberadaan Sehun.
"Aniyo... Aku hanya lewat dan sedikit mengintip ke dalam, karna aku penasaran. Tapi Tao mengira aku takut untuk masuk. Jadi dia memanggil Lay hyung untukku." jawab Sehun dengan tampang polos.
"Memangnya kau akan mengikuti ekskul apa?" tanya Lay ingin tau.
"Eum... Belum kupikirkan hyung." tiba-tiba ponsel Sehun berdering, menandakan ada panggilan masuk ke ponselnya.
"Yeoboseyo."
"Ahhh, nde." setelahnya Sehun menutup panggilan. Dialihkan pandangannya pada Lay yang masih berdiri disampingnya. "Lay hyung, aku pamit dulu. Jemputanku sudah menunggu. Annyeong~".
"Nde, annyeong~" Sehun sedikit membungkuk lalu segera pergi untuk pulang.
.
.
.
.
Alphard putih berhenti di lobi sebuah rumah sakit swasta di Seoul. Seorang namja manis dan yeoja yang sudah berumur tetapi masih terlihat cantik keluar dari mobil tersebut, sebelum mobil itu berlalu. Hari ini adalah jadwal Sehun -namja manis- untuk melakukan check up. Ditemani eomma tercintanya, ia memasuki ruangan salah satu dokter yang sudah lama merawatnya.
Di dalam ruangan seorang pria, sepertinya masih muda, sedang memperhatikan data-data pasien. Ia menolehkan kepalanya kearah pintu saat pintu ruangannya terbuka. Shim Changmin -pria tersebut- tersenyum melihat Sehun dan nyonya Oh memasuki ruangannya. Berdiri dari duduknya, dan membungkuk ke arah nyonya Oh.
"Hai Sehun." sapanya pada Sehun.
"Anyeong~ Changminnie, hyung." Sehun dan nyonya Oh mendudukkan tubuhnya di kursi yang tersedia di depan meja Changmin.
"Langsung kita mulai saja. Kajja, Sehuna!" Sehun beranjak dan mengikuti Changmin untuk berganti pakaian. Lalu berbaring di ranjang yang tersedia di ruangan yang lumayan luas itu. Dua perawat masuk dan mempersiapkan berbagai alat untuk pemeriksaan Sehun.
"Kudengar hari ini hari pertamamu sekolah?" tanya Changmin sambil mulai memeriksa. Sehun mengangguk dengan semangat.
"Bagaimana sekolah?" kali ini Changmin memasangkan beberapa alat pada tubuh Sehun.
"Menyenangkan, hyung. Sehun mendapat banyak teman. " jawab Sehun menggebu-gebu.
"Benarkah? Tapi kau tidak lupa meminum obat kan?" seketika Sehun terdiam. Tadi ia lupa meminum obatnya, karena terlalu senang dengan lingkungan barunya, sehingga melupakan penyakitnya.
"Ani, hyung. Sehun ingat kok." bohong Sehun.
"Pintar." Changmin mengacak pelan rambut Sehun. Setelahnya ia berkonsentrasi dengan pekerjaannya.
.
.
Kurang lebih satu jam, Changmin sudah selesai dengan pekerjaannya. Ia mendudukkan dirinya dihadapan nyonya Oh, disusul Sehun yang sudah mengganti pakaiannya.
"Chagi, kau beli bubble tea duluan di kantin, nde?" nyonya Oh mengusap surai blonde anaknya. Sehun mengangguk senang dan segera keluar menuju kantin rumah sakit. Sehun tau eommanya dan Changmin ingin berbicara serius tentang penyakitnya, dan tidak ingin didengar olehnya. Sehun tersenyum miris mengingat itu.
"Bagaimana perkembangannya, Shim uisa?" tanya nyonya Oh membuka percakapan. Changmin melepas kacamata yang bertengger manis di pangkal hidungnya. Menggeleng sambil memijit pangkal hidungnya.
"Tak ada perkembangan. Keadaannya masih sama, hanya mungkin sedikit lebih baik karena suasana hatinya." tampak raut kecewa dan sedih dari wajah nyonya Oh.
"Sepertinya Sehun melupakan obatnya, sebaiknya nyonya terus mengingatkannya walau ia dia sekolah." lanjut Changmin.
"Benarkah? Iya, saya akan terus mengingatkannya." jawab nyonya Oh. Setetes air mata tidak dapat dibendung oleh nyonya Oh, mengalir melewati wajahnya yang masih terlihat cantik diumurnya.
"Saya akan melakukan yang terbaik sebisa saya." meyakinkan nyonya Oh, Changmin tersenyum hangat.
"Kalau begitu, saya pamit dulu Shim uisa. Kanshamnida." pamit nyonya Oh. Membungkuk sedikit sebelum keluar untuk menjemput Sehun yang sedang membeli bubble tea di kantin.
.
.
.
.
Pukul 18.53 Tao memasuki rumah mewahnya. Ia baru saja pulang dari latihan wushunya. Rumahnya sepi, hanya ada beberapa maid yang sedang melakukan tugasnya. Tao sudah biasa dengan keadaan seperti ini, pulang tanpa ada orang yang menyambutnya. Orang tuanya terlalu sibuk bekerja. Tetapi ia kadang bersyukur orang tuanya tidak pulang. Karena setiap mereka pulang, ia hanya akan mendengar pertengkaran yang dilakukan kedua orang tuanya. Jadi lebih baik mereka tidak pulang. Tao menuju dapur, mengambil segelas air mineral lalu menghabiskannya dalam sekali teguk. Kemudian ia pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri.
Sekitar 20 menit kemudian Tao keluar dari kamarnya dengan handuk kecil menggantung di lehernya dan rambutnya merahnya yang masih basah. Ia menuju meja makan untuk makan malam. Menghabiskan makan malamnya sendirian, setelah itu ia memutuskan untuk menonton tv.
Tak seperti biasanya, malam ini Tao tinggal di rumah. Biasanya setiap malam ia akan pergi keluar untuk berkumpul bersama teman-temannya, atau sekedar mencari kesenangan asal tidak tinggal di rumah. Mungkin karna kelelahan ia tertidur di sofa dengan televisi yang masih menyala menayangkan acara kartun.
.
.
"Appa pulang..." teriak tuan Oh memasuki rumah yang ia tinggali bersama istri dan anaknya. Tuan Oh melonggarkan dasinya, wajahnya tampak amat lelah. Tapi kerutan lelah itu berganti dengan senyum saat Sehun keluar dari arah dapur dan berlari menghambur ke pelukan tuan Oh.
"APPA! Bogoshipoyo?" ucap Sehun saat berada di pelukan tuan Oh. Tuan Oh yang baru pulang dari kepergiannya selama tiga hari itu terkekeh melihat kelakuan manja anak semata wayangnya.
"Appa juga sangat merindukan Hunnie." mengusap sayang surai anak kesayangannya. "Apa Hunnie sudah makan?". Sehun menggeleng. "Kalau begitu kajja kita makan." tuan Oh membawa Sehun keruang makan dimana nyonya Oh sedang mempersiapkan makan malam. Sehun segera duduk di kursi biasa ia duduk. Tuan Oh mengecup sekilas pipi nyonya Oh sebelum mengikuti Sehun duduk. Nyonya Oh meletakkan beberapa pil obat disamping piring Sehun, lalu ikut duduk disebrang Sehun. Sehun memakan pil-pil itu sebelum memulai makan malam.
Meja makan itu ramai berisi ocehan Sehun yang menceritakan hari pertamanya sekolah. Sedangkan nyonya dan tuan Oh hanya menanggapi seperlunya. Mereka bahagia melihat Sehun yang sangat bahagia.
Selesai makan, nyonya Oh menyiapkan obat yang harus Sehun konsumsi setelah makan dan langsung ditelan habis oleh Sehun tanpa protes.
"Setelah ini langsung tidur, nde?!" nyonya Oh menatap Sehun.
"Eomma..." panggil Sehun.
"Heum?"
"Larva nde?"
"Aniyo, kau harus istirahat!" tegas nyonya Oh.
"Ayolah, eomma. Hanya sampai pukul 8." mohon Sehun memelas. Melihat eommanya hanya diam saja, Sehun mulai mengeluarkan jurus andalnnya 'bbuing-bbuing'. Dan itu berhasil.
"Baiklah, tapi hanya sampai pukul setengah delapan." akhirnya nyonya Oh menyerah.
"Yeay! Gomawo, eomma." Sehun menghampiri eommanya, mengecup pipi eommanya, lalu berlari kecil menuju ruang keluarga.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Tuan Oh kepada istrinya, saat merek hanya tinggal berdua. Nyonya Oh menggeleng, dan kembali air mata menetes dari kedua matanya.
"Tak ada perkembangan." Tuan Oh memeluk istrinya, mencoba menenangkan. Ia juga sedih, tetapi ia harus kuat dihadapan istrinya. Ia pasrah dengan apa yang nantinya terjdi, tapi tetap berusaha sebaiknya.
.
.
.
.
Sudah seminggu terhitung Sehun bersekolah di XOXO High School. Saat ini sedang berlangsung pelajaran Fisika di kelas Sehun. Sehun terus memperhatikan dan berkonsentrasi dengan apa yang Bang songsaenim terangkan sampai ia mendengar Luhan menggeram.
"Mereka ini!" geraman Luhan setelah ia melihat pesan yang sepertinya salah dikirimkan kepadanya. Wajahnya terlihat sangat marah dan kesal.
"Lu, gwenchana?" tanya Sehun kawatir. Luhan hanya menunjukkan pesan pada ponselnya tanpa berkata.
From: Kim Kai
SMA Cheongsan. Pukul 10. Lapangan biasa.
"Ige mwoya?" Sehun hanya mengernyitkan keningnya, tidak mengerti maksud pesan itu. Luhan masih tidak menjawab. Ia menarik ponselnya, dan mengetikkan beberapa kalimat dan menunjukkan pada Sehun sebelum mengirimnya pada Suho dan Lay.
To: Suho hyung; Lay ge
Mereka akan berkelahi lagi. Kali ini dengan SMA Cheongsan.
"Mereka? Nuguya?" Sehun masih belum mengerti situasi itu.
"Berandal-berandal itu." kali ini Luhan menjawab dengan suara sedikit keras. Sehun masih juga belum mengerti siapa yang Luhan maksud. Saat ia hendak bertanya lagi, suara Bang songsaenim menginterupsi.
"Luhan-sii apa yang kau lakukan? Daritadi saya melihat kamu memainkan ponselmu. Jika kau tidak membutuhkan pelajaran saya, silahkan keluar!" tegas Bang songsaenim membuat seluruh kelas diam.
"Mianhae, songsaenim." cicit Luhan sebelum menuruti perintah Bang songsaenim. Aku hanya menatap cemas kepergian Luhan.
"Sehun-sii. Kau juga ingin keluar?" tanya Bang songsaenim membuat Sehun ketakutan. Ia hanya menggeleng lalu memperhatikan Bang songsaenim yang mulai mengajar kembali.
.
.
.
.
Setelah diusir oleh Bang songsaenim, Luhan tak kunjung kembali. Sehun sangat cemas, karena tadi Luhan keluar kelas dengan keadaan emosi. Kepala Sehun terasa sangat berat dan matanya berkunang-kunang, ia juga merasa sangat lemas. Jadi ia memutuskan ijin untuk ke istirahat diruang kesehatan.
"Ya, ada yang bisa saya bantu Sehun-sii." tanya Kim songsaenim ramah, setelah melihat Sehun mengangkat tangannya.
"Bolehkah saya ijin untuk istirahat di ruang kesehatan?" Sehun balik bertanya. Guru cantik itu mengangguk memperbolehkan melihat wajah Sehun yang pucat.
"Apa perlu diantar?" tanya guru muda itu cemas melihat Sehun sedikit linglung saat berdiri,
"Tidak perlu, saem. Kanshamnida." Sehun berjalan lemah menuju ruang kesehatan yang berada di ujung lorong lumayan jauh dari kelas Sehun. Sesampainya, Sehun membaringkan tubuhnya di kasur yang tersedia, saat tak melihat ada yang menjaga. Ia memejamkan matanya mencoba tidur. Siapa tahu sakit kepalanya akan hilang. Baru beberapa menit Sehun berhasil tertidur, seseorang memasuki ruangan membuat Sehun terbangun. Sehun kaget melihat Tao yang memandangnya kaget dengan wajah babak belur.
"Apa aku mengganggumu?" tanyanya datar, yang hanya dijawab gelengan kepala oleh Sehun.
"Kau tampaknya butuh istirahat. Kalau begitu aku keluar saja." lanjut Tao mulai beranjak akan meninggalkan ruangan. Tanpa diduga Sehun menahan tangannya, membuat ia terhenti.
"Biar kuobati lukamu."
.
.
.
TBC
Yeyeye~ Nih, aku paksain update cepet, dan idenya aku pakasain. Jadinya ancur gini. Hehe. Mian.
Gaapa ya? Lagi pingin update terus :p
Ini udah termasuk update cepet gak sih? Maklum, liburan banyak kegiatan. Wkwk. Mumpung belom puasa, dipuas-puasin main keluar. Trus aku juga sempet kena WB. Hehe. Jadi semakin lama saja updatenya.
Oya. Kan udah masuk bulan Ramadhan, aku mau minta maaf kalo punya salah. Hehe. Gomawo yang udah mau baca.
EganimEXO: ini sudah lanjut ini termasuk masih terlalu lama nggak? Aku masih mengusahakan memperbanyak moment taohun nya. Wkwkwk. Sabar ya?! Gomawo sudah review
krispandataozi: aku juga suka crack couple /eh/. Aku usahain buat kalo ada ide ya? Wkwk. Gomawo sudah review
Arcan'sGirl: ini syuudah lanjut
nin nina: mereka bocah-bocah bandel /eh/. Hhaha iya kali, dilihat aja. Hehe. Gomawo reviewnya~
: ini sudah lanjut
Lhea winds: gomawo sudahh mau menunggu. Ini sudah dilanjutkan. Ini sudah termasuk cepet belom?
Tabifangirl: lama banget yah? Mian. Gomawo masukannya. Mian, aku selalu bermasalah dengan spasi, tapi aku usahain selanjutnya nggak gitu lagi. Gomawo~
