tittle : Bad Boy Good Boy

author : leetaisoo

cast : taohun, exo members

genre : romance, family, angst

rate : T

summary : Tao, seoorang bad boy yang berubah setelah kehadiran seorang namja baik-baik bernama Sehun. Tapi ada satu rahasia yang di sembunyikan Sehun.

desclaimer : semua cast bukan punya saya, mereka milik orang tua masing-masing. Tapi saya yakin cerita ini milik saya sendiri.

warning : YAOI/BL, OOC, cerita pasaran, membosankan, crack pair, typo(s), alur berantakan, alur kecepetan, tidak sesuai EYD, gak suka gak usah baca

...

happy reading

.

.

.

Tao pov

Aku masih terus menghantamkan kepalan tanganku ke wajah namja dibawahku, walaupun ia tampak sudah menyerah, tapi aku tak peduli. Aku baru berhenti saat Kris ge menahanku untuk memukulnya lagi. Kulepaskan cengkramanku pada kerah seragam namja tersebut. Kuedarkan pandanganku ke sekeliling. Pemandangan yang sudah biasa, beberapa namja terkapar dan teman-temanku yang terengah-engah sambil menopang tubuhnya pada lututnya.

"Kajja kita kembali!" kuputuskan untuk kembali ke sekolah. Melewati beberapa gang kecil nan kumuh, untuk menghindari mata polisi hingga sampai pada sebuah dinding yang menjulang cukup tinggi. Dinding putih nan kokoh yang membatasiku dan teman-temanku dengan taman belakang sekolah.

Kumantapkan langkahku untuk berpijak pada batu bata yang sedikit menyembul dari tatanannya. Memijakkan lagi kakiku yang lain, hingga...
HAPP!
...aku sampai pada puncak dinding, disusul yang lain. Melompat turun, dan sampailah pada taman belakang sekolah. Dengan mengendap-endap, kami memutuskan menuju atap sekolah. Berjalan dengan menunduk agar tak terlihat oleh guru yang berada dalam kelas-kelas sambil berharap tak berpapasan dengan guru.

Kami bernafas lega setelah sampai di atap sekolah. Tapi kelegaan kami buyar saat kami menemukan Luhan, Suho hyung, Lay gege, dan Kyungsoo berdiri tegap menatap kami tajam di atap. Kulihat wajah Chen, Kai dan Baekhyun berubah pucat.
"Lu, ge!" berbeda dengan Xiumin hyung yang berteriak girang menemukan Luhan ada disana.
"Berhenti, bakpau!" ucapan Luhan menghentikan langkah Xiumin hyung yang hendak menghampiri Luhan.

"Berkelahi lagi, eoh?" tanya Suho hyung sarkartis.
"Mau jadi jagoan, eoh?" kali ini Lay gege yang bersuara.
"Sudah cukup pintar hingga tak perlu sekolah?" itu suara Luhan. Disampingnya kulihat Kyungsoo mengangguk-anggukan kepalanya membenarkan perkataan ketiga hyungnya.
"E-eh, kita bisa jelaskan chagi." dengan ragu Chen mencoba membuka suara.
"Tak ada yang perlu dijelaskan! Kalian ini—bla bla bla" sekitar 15 menit selanjutnya, hanya terdengar suara Suho hyung yang sedang menceramahi kami bertujuh. Setelahnya, keempat namja manis itu membuka kotak P3K yang mereka bawa dan mulai mengobati kami.

Kududukkan tubuhku bersandar pada dinding pembatas, mengamati teman-temanku yang sedang diobati.
"Aaww...! Appo, Lulu."
"Diamlah!" ketus Luhan tak mempedulikan ringisan Xiumin hyung. Ia menekan-nekan kapas yang sudah diberi alkohol pada luka lebam Xiumin hyung. Kulihat Chen meringis menahan sakit tapi tak berani mengeluarkan suara, karena aura Suho hyung—padahal biasanya ia sangat cerewet. Disisi lain, Lay hyung dengan telaten membersihkan luka Kai. Disampingnya, Kyungsoo dengan serius menutup luka robek pada sudut bibir Baekhyun dengan plester. Kami tahu, sesadis apapun para uke, mereka akan tetap mengkhawatirkan dan merawat kami.
"Akh!"
"Mian, ge." Chanyeol tampak menyesal.
"Gwaenchana, biar kuobati dulu lukamu." Kris ge menenangkan Chanyeol yang tampak menyesal mendengar ringisan Kris ge. Tapi Chanyeol menolak dan tetap mengobati luka Kris dahulu. Xiuhan semakin heboh berdebat diselingi pertengkaran. Dan itu begitu berisik, jadi kuputuskan untuk pergi ke ruang kesehatan saja. Kulangkahkan kakiku meninggalkan mereka.
"Kau mau kemana?" tanya Kris ge.
"Tidur." jawabku asal sebelum menghilang di balik pintu.

.

.

Kubuka pintu ruang kesehatan dengan sedikit kasar. Tak kulihat ada yang menjaga di ruangan itu. Aku menuju ranjang yang tersedia disana untuk tidur. Tapi aku terhenti melihat seseorang yang sedang mencoba mendudukkan tubuhnya. Dia Sehun dengan wajah yang tampak sangat pucat. Sepertinya aku baru saja membangunkannya.

"Apa aku mengganggumu?" tanyaku datar. Kulihat ia menggelengkan kepalanya lemah. Aku merasa bersalah sudah membuat ia terbangun.

"Kau tampaknya butuh istirahat. Kalau begitu aku keluar saja." aku memutuskan meninggalkan ruang kesehatan, dan membiarkan Sehun beristirahat. Kubalikkan badanku dan hendak beranjak, saat sebuah tangan menahanku. Membuatku terhenti.
"Biar kuobati lukamu." ucap Sehun dengan lemah. Aku terdiam.
"Tak perlu. Kau istirahatlah." ucapku setelah cukup lama terdiam tanpa berbalik.
"Aku memaksa!" lanjutnya lagi memaksaku. Akhirnya aku pasrah dan berbalik. "Kajja! Duduklah disini!" kududukkan tubuhku diatas ranjang yang ia tempati. Kulihat ia hendak beranjak, sepertinya mengambil obat-obatan.
"Biar aku yang mengambilnya." tahanku sebelum ia benar-benar beranjak. Kuambil kotak P3K yang tersedia, dan kembali duduk dihadapannya.

Ia membuka kotak itu dan mulai mengambil kapas untuk membersihkan lukaku. Setelah itu memberi alkohol pada kapas lalu menekan dengan lembut pada lukaku. Seketika rasa menyengat kurasakan pada lukaku. Aku sedikit meringis, dan ia berhenti dengan wajah cemas. Aku memberi isyarat agar ia melanjutkan. Ia memberi obat merah pada luka robekku, lalu menutupnya dengan plester. Kuamati wajah seriusnya yang sedang mengobatiku. Ternyata ia sangat manis dilihat dari dekat. 'Eh, apa yang kupikirkan?!' Segera kutepis pikiranku. Wajahnya terlihat sangat pucat, dan... tangannya terasa dingin saat menyentuh wajahku. Sesekali ia meringis, sepertinya menahan sakit. Aku jadi tidak tega.

"Nah, sudah selesai." ia tersenyum saat menyelesaikan pekerjaannya.
"Sekarang kau istirahatlah!" kulihat ia hendak mengelak, tapi segera kupotong. "Aku memaksa!". Ia mengerucutkan bibir tipisnya, dan menuruti perintahku. Perlu kalian tau, ia sangat imut saat mengerucutkan bibirnya, aku jadi ingin melihatnya lagi. 'Eh, apa-apaan aku ini?' Aku merutuki pikiran ngawurku. Kubereskan peralatan yang tadi digunakan untuk mengobatiku, dan mengembalikannya. Kulihat ia sudah memejamkan matanya saat aku selesai dengan pekerjaanku.
"Gomawo."

Tao pov end

.

.

.

.

Bel pulang sekolah berdering sangat nyaring, membuat Sehun terbangun dari tidurnya. Ia mencoba mendudukkan tubuhnya, tetapi rasa sakit yang menyerang kepalanya membuat ia kembali terbaring. Ia kembali mencoba duduk, tak menghiraukan rasa sakit yang menyerang kepalanya. Menoleh pada sisi kiri ranjang yang ia tempati. Tersenyum kecil melihat seseorang yang tengah tertidur, meletakkan kepalanya pada keduaa lengan yang ia lipat. Wajah itu sangat polos saat tertidur, berbeda dengan saat ia terbangun, terlalu dingin dan datar.

"Tao-ya." panggilnya pada orang tersebut. Tak ada respon, ia mengguncang kecil tubuh kekar itu. Tampaknya berpengaruh. Tao mengerjabkan matanya mencari kesadaran.
"Sudah waktunya pulang." Sehun mengingatkan. Tao hanya menguap sambil meregangkan tubuhnya.
"Aku pergi duluan." Tao berpamitan pada Sehun, kembali dengan nada datar.
"Eum, gomawo sudah menemaniku." ucap Sehun sebelum Tao hendak keluar ruangan. Tao hanya berdehem menanggapi tanpa menolehkan wajahnya lalu segera menghilang.

Sehun berusaha untuk beranjak dari ranjang ruang kesehatan. Ia harus mengambil barang-barangnya di kelas dan pulang. Sehun mencoba berdiri tegak dengan berpegangan pada dinding. Sebelum ia sempat keluar dari ruang kesehatan, tiba-tiba Luhan datang menghambur ke arahnya dengan membawa tas Sehun.
"Aigoo... Sehuna, kau tak apa?" Luhan bertanya dengam cemas.
"Nan gwaenchana." Sehun menenangkan, tetapi Luhan tampak tak terpengaruh.
"Wajahmu sangat pucat Sehuna. Biar kuantar kau pulang." Luhan sangat cemas melihat wajah pucat Sehun.
"Nan gwaenchana, Lu. Sepertinya aku sudah dijemput." kembali Sehun mencoba menenangkan.
"Oke oke, kalau begitu biar kutemani sampai depan." tawar Luhan. Luhan memapah Sehun, membantu Sehun berjalan.

"Gomawo, Lu." ucap Sehun saat mereka sudah sampai depan. Alphard putih datang mendekat ke arah mereka. Dari pintu pengemudi, keluar namja paruh baya dengan tatapan mata teduh menghampiri Sehun dan Luhan.
"Apa kau mau kuantar pulang?" tawar Sehun sebelum ia memasuki mobil.
"Ah, tak perlu. Aku masih ada latihan sepak bola sore ini. Kau pulanglah dahulu dan istirahat. Cepatlah sembuh!?" Luhan menolak dengan halus tawaran Sehun, dan tersenyum lembut ke arah Sehun. Sehun mengangguk dan memasuki mobil dengan dipapah oleh Lee ahjussi.
"Annyeong, Lu." Sehun melambaikan tangannya ke arah Luhan, dibalas lambaian tangan dan senyuman hangat dari Luhan.

.

.

"Aigoo... Kau kenapa, nak?!" tampak jelas wajah khawatir nyonya Oh melihat Sehun pulang dengan wajah pucat dan tubuh lemas yang dipapah Lee ahjussi.
"Kepala Sehun sangat sakit, eomma." jawab Sehun lemah.
"Biar eomma panggilkan Shim uisa, nde?"
"Tak perlu, eomma. Sehun hanya butuh istirahat." Sehun menahan saat nyonya Oh hendak menghubungi dokter yang merawatnya. Setelah itu Lee ahjussi kembali memapah Sehun untuk memasuki kamarnya diikuti nyonya Oh dibelakangnya.

Dibaringkannya tubuh lemas Sehun diatas kasur queen sizenya. Lalu Lee ahjussi berpamitan keluar. Nyonya Oh mengambil pakaian ganti untuk anaknya, dan dengan telaten mengganti pakaian Sehun. Nyonya Oh sekuat tenaga menahan bulir bening yang siap menetes dari kelopak indahnya.

"kau sudah makan, chagi?" Sehun menggeleng. "Eomma buatkan bubur dulu nde? Kau istirahat saja dulu. Kau tidak lupa meminum obatmu kan?" kembali Sehun menggeleng, tapi kali ini disertai senyum. Nyonya Oh meninggalkan Sehun untuk membuat bubur setelah sebelumnya manaikkan selimut Sehun hingga batas dada. Tak lama nyonya Oh keluar, Sehun mulai terlelap.

.

.

.

.

Esok paginya Sehun terbangun oleh rasa teramat sakit yang menyerang sekujur tubuhnya. "Eomma~" panggil Sehun pelan. Tak ada jawaban dari eommanya, karena memang suara Sehun sangat pelan. Setetes liquid bening mengalir dari netra indahnya disusul tetesan-tetesan lainnya. Sehun menangis karna tidak kuat menahan rasa sakitnya.

Sehun menjatuhkan gelas yang berada diatas meja nakas disampingnya. Mencoba menarik perhatian eommanya dengan suara pecahan kaca tersebut. Ia sungguh tidak kuat untuk memanggil eommanya. Dan berhasil. Eomma dan appanya datang tergopoh-gopoh.
"Apa yang terjadi, Sehu— astaga, Sehun!" nyonya Oh segera menghampiri sisi ranjang Sehun yang terbebas dari pecahan kaca.
"Appa, ambilkan air mineral!" tuan Oh tersadar dari keterkejutannya segera berlari ke dapur, mengambil segelas air mineral dan kembali secepat mungkin. Nyonya Oh mengambil obat Sehun dan memakankannya pada Sehun. Air mata mengalir deras dari kedua netranya melihat buat hati semata wayangnya merasa kesakitan.

Tampaknya obat itu tak berpengaruh banyak terhadap rasa sakit Sehun, karna Sehun masih tetap meringis kesakitan. Dan tiba-tiba kegelapan merengkuh Sehun, ia tak sadarkan diri. Menyadari itu, tuan Oh mengangkat Sehun ke mobilnya, diikuti nyonya Oh. Pajero hitam itu melaju membelah jalanan kota Seoul yang masih sepi—karna memang masih sangat pagi.

"Yeoboseyo." sapa seseorang dari seberang sambungan telepon tuan Oh.
"Yeoboseyo, Shim uisa. Tiba-tiba Sehun tak sadarkan diri. Kami sedang perjalanan ke rumah sakit." ucap tuan Oh panik. Sambil tetap fokus menyetir.
"Baiklah, saya akan segera kesana." setelahnya sambungan terputus.

.

.

Changmin baru saja selesai dengan pekerjaannya. Saat ini Sehun masih belum sadarkan diri. Changmin duduk dikursinya menghadap tuan dan nyonya Oh yang sangat cemas dengan keadaan buah hati mereka.
"Sehun tak sadarkan diri karena rasa sakitnya. Sebaiknya ia dirawat untuk beberapa hari." Changmin membuka percakapan.
"Baiklah, lakukan apapun uisanim." ucap tuan Oh. Nyonya Oh masih terus terisak di pundak suaminya.
"Sepertinya ia terlalu kelelahan." ujar Changmin kemudian.
"Apa kami perlu menghentikan ia bersekolah? Tapi kami tidak tega, ia tampak sangat bahagia." tuan Oh tampak bingung.
"Tak perlu, jangan biarkan ia memiliki pikiran yang berat, itu akan berdampak pada kesehatannya." tuan Oh mengangguk menanggapi perkataan Changmin. "Kalau begitu Sehun akan kami pindahkan ke ruang rawat inap."
"Baik."

.

.

.

.

Setelah empat hari Sehun dirawat, akhirnya ia diperbolehkan untuk pulang. Siang ini ia pulang, karna ia terus merengek meminta pulang. Akhirnya dokter memperbolehkannya dirawat dirumah. Meski begitu, Sehun masih belum boleh berangkat sekolah.

Lee ahjussi mengangkat Sehun menuju kamarnya. Awalnya Sehun menolak digendong. Ia memaksa berjalan sendiri, tapi ancaman dari nyonya Oh membuat ia menurut. Sehun pulang hanya bersama nyonya Oh dan Lee ahjussi, karna memang tuan Oh sedang bekerja.

Didudukkannya tubuh Sehun diatas ranjangnya. Ditengoknya jam dinding yang berdetak. Pukul 13.52. Sehun meraih ponselnya yang ia tinggal selama ia dirawat. Terdapat 52 pesan masuk, dan 17 panggilan tak terjawab. Sebagian besar berasal dari Luhan. Sehun hendak membalas pesan Luhan, tetapi tiba-tiba ponselnya berbunyi. Panggilan masuk dari Luhan. Segera ia menjawabnya.

"Yeobose—" belum selesai Sehun menyapa, sudah dipotong oleh Luhan.
"Sehuna, bagaimana keadaanmu? Kau baik-baik saja kan? Mengapa tak menjawab telfonku? Kau kemana saja tak masuk?" pertanyaan Luhan memberondong Sehun, membuat ia terkekeh diseberang.
"Aku baik-baik saja, Luhan. Hanya perlu istirahat dan sedikit ketenangan." jawab Sehun setelah Luhan menghentikan pertanyaan beruntunnya.
"Saat ini kau dimana?" jawaban tenang dari Sehun membuat ia sedikit lega.
"Aku? Di rumah."
"Baiklah, sepulang sekolah aku akan mampir ke rumahmu."
"Eh, tak perlu."
"Aku memaksa!" kalimat perintah dari Luhan membuat Sehun akhirnya menyetujui keinginan Luhan. Setelahnya sambungan diputus.

.

.

.

.

Sepulang sekolah Luhan segera pergi ke rumah Sehun. Sekitar pukul 15.30 ia sampai di rumah mewah bercat putih dengan halaman yang luas. Diketuknya pintu kayu mahoni dengan beberapa ukiran rumit menghiasinya. Sesosok yeoja paruh baya—tapi masih terlihat cantik, muncul membukakan pintu.
"Eumh... Annyeonghaseyo~ Kami teman sekolah Sehun. Apa Sehun ada?" membungkuk sebentar, Luhan mengulum bibirnya, dan bertanya sopan pada yeoja di depannya.
"Oh teman Sehunnie. Kajja masuklah! Sehun sedang istirahat di kamarnya. Kalian naiklah! Kamar Sehun sebelah kiri tangga, dan pintunya berwarna putih. Ahjumma akan membuatkan kalian minum." ucap nyonya Oh sebelum meninggalkan Luhan dan temannya menuju dapur.

Mereka menaiki tangga dan mengikuti arah yang ditunjukkan nyonya Oh. Diketuknya pintu putih itu. Setelah Sehun menyuruh masuk baru Luhan membukanya. Tampak Sehun sedang membaca novel diatas tempat tidurnya.

"Sehuna!" pekik Luhan dan menghambur memeluk Sehun. Lama mereka berpelukan hingga mereka merasa sesak, baru mereka melepaskan pelukannya.
"Kau datang sendiri?" tanya Sehun melihat hanya ada Luhan.

"Aniyo." Luhan menolehkan kepalanya, dan memanggil seseorang. "Masuklah, Tao-ya! Lupakanlah gengsimu! Aku tau kau mencemaskan Sehun." Tao muncul dengan mendeath glare Luhan. Luhan hanya terkekeh dan menarik tangan Tao untuk masuk. Tao yang ditarik hanya menurut sambil mengalihkan pandangannya, menghindari Sehun. "Ayolah! Aku tau kau empat hari ini cemas tak melihat Sehun." Tao hanya memerah, karena ketahuan—beruntung kulitnya sedikit coklat, jadi tak begitu terlihat. Ia menggaruk tengkuknya yang Sehun yakin tidak gatal sama sekali. Jujur, Tao memang sangat kawatir Sehun tidak masuk setelah ia meninggalkannya di ruang kesehatan dengan wajah pucatnya. Tapi ia lega melihat sekarang Sehun sudah lebih baik walaupun wajahnya masih pucat.

"H-hai!" sapa Tao datar. Sehun hanya tersenyum melihat itu. "Bagaimana kabarmu?" Luhan mendengus mendengar nada datar yang dikeluarkan Tao.

"Ayolah, Tao! Ubah sedikit nadamu, jangan terlalu datar dan dingin!" celetuk Luhan jengah.

"Ugh! Kau ini!" Tao menggeram ke arah Luhan.

"Wae?" tantang Luhan.

"Sudahlah, kalian jangan bertengkar." ucap Sehun menengahi, sebelum pertengkaran itu semakin menjadi. Nyonya Oh masuk dengan membawa dua gelas sirup dan dua toples camilan untuk Luhan dan Tao. Tao ijin untuk pergi ke kamar mandi.

"Eum, Lu. Bagaimana bisa ia mau menjengukku?" bisik Sehun agar Tao tak mendengar pertanyaannya.
"Oh itu, aku memaksanya." Luhan berkata sambil meringis. "Karna dia yang tidak sibuk, jadi aku memaksanya. Kulihat empat hari ini dia seperti terus mencarimu. Dia akan melewati kelas kita, dan sedikit mengintip ke dalam kelas. Awalnya dia menolak dengan keras, tapi aku terus memaksanya. Pada akhirnya dia mau kuajak menjengukmu—walau wajahnya masam. Ya kan, Tao-ya?!" tiba-tiba Luhan menceletuk. Tao yang baru kembali dari kamar mandi, dan tidak mengerti apa-apa hanya menaikkan sebelah alisnya bingung. Sehun dan Luhan terkekeh melihat wajah bingung Tao.

Sehun sangat senang saat tadi melihat Tao muncul di pintu kamarnya. Entah mengapa, empat hari tak melihat Tao, ia jadi sangat merindukan namja pemilik mata seperti panda itu. Perasaannya menghangat mengetahui beberapa hari ini namja dingin itu mencarinya. Sehun tau, sebenarnya Tao adalah namja yang baik dan perhatian, tapi dia selalu menutupi dengan wajah dinginnya.

Saat langit mulai berubah menjadi lebih gelap, barulah Luhan berhenti bercerita—tak mempedulikan wajah Tao yang tertekuk, dan mereka berpamitan pulang. Nyonya Oh terus berterima kasih, saat wanita itu mengantar kepulangan Luhan dan Tao, karena mereka mau menjenguk Sehun. Yeoja itu tak menyangka, teman baru Sehun sangat peduli pada anaknya.

.

.

.

.

Sehun berdiri dengan resah menunggu jemputan di salah satu koridor sekolahnya. Sekolah sudah mulai sepi karna bel pulang sekolah sudah berdering sekitar satu jam yang lalu. Dan Lee ahjussi masih belum juga datang. Lee ahjussi bilang ia masih terjebak macet karena ada sebuah kecelakaan. Luhan juga sudah pulang karna dia ada les sore ini, hingga tidak bisa menemani Sehun sampai jemputannya datang.

Awan tebal menggantung diatas atap sekolah, bersiap melepaskan muatannya. Sebentar lagi hujan pasti akan turun. Langit mendung semakin membuat Sehun resah. Pasalnya ia tidak pernah berada diluar rumah saat hujan turun.

Benar seperti dugaan Sehun, beberapa menit setelahnya, awan benar-benar melepaskan muatannya. Membiarkan berjuta-juta bulir air terjatuh, menghantam bumi dengan keras. Udara dingin menyengat kulit pucat Sehun. Sehun berjongkok memeluk tubuh kurusnya, mencoba menghalau rasa dingin yang menyengat—ia tidak memakai pakaian hangat. Ia ketakutan dan menenggelamkan kepalanya ke dalam lengannya—semakin meringkuk, saat petir mulai bersaut-sautan. Biasanya, saat hujan disertai petir datang, ia akan memasuki kamar orang tuanya, meminta eomma atau appanya memeluknya, sambil melapisi tubuhnya dengan selimut—bersembunyi didalamnya. Tapi kini ia sendirian di koridor sekolahnya yang sepi. Air mata tidak bisa ia tahan lagi, ia benar-benar ketakutan. Sehun terisak semakin keras, saat sebuah suara menginterupsinya.
"Hei, kau tak apa?"

.

.

.

TBC

Hehehe, tebak noh sapa yang dateng. Wkwkwk. Aku seneng buangetzzz ternyata banyak yang suka ff ini. /nyiahaha/ /sombong abaikan/. Mian buat yang berharap bakal ada adegan romantis, aku gatau itu rumantis apa kagak /nunjuk atas/ mian kalo ga romantis, aku gabisa romantis u,u

Buat umur aku disini random ya? Kadang ada yang gak sesuai kenyataan. Kelamaan update aku jadi lupa sendiri sama tatanan umur para chara. Hehe mian.

Aku bener-bener kena WB /ceileh/, jadi ceritanya terlalu membosankan. Aku pingin cepet update, tapi lagi gaada ide. Nah lo?! Jadi maaf kalau chapter ini mengecewakan. Sekian, gomawo yang sudah menyempatkan waktu membaca, dan meriview /cipok atu-atu/.

nin nina: iya, kesian yak? /benernye ga tega/. Penyakitnya akan diketahui pada waktunya. Wkwk. Haha. Terus ikutin ya?! Gomawo reviewnya~

eun. soo. cha: Aaa~ terima kasih pujiannya /blushing/ terima kasih juga reviewnya. Ini udah cepet kan? Hehe.

krispandataozi: iya, Sehun kesian u,u Keknya enggak, diliat aja nanti wkwk /sedikit menyesal semua member udah ada pasangannya/. Nado gomawo udah review.

Arcan'sGirl: ini sudah lanjut :)

ayp: hehe. Diliat aja nanti. Wkwk. Gomawo sudah riview~

EganimEXO: hehe. Diliat aja sendiri :p

adilia. taruni. 7: gatau ya, itu udah romantis apa belum. Aku gatau kadar romantis/? Ini sudah cepet, nde? Gomawo reviewnya~

YoungChanBiased: iya benernya XP Diliat aja bakal jadi sad ending apa nggak :p haha. Aku juga bayangin pasti gemesin /eh/. Gomawo sudah review~

Minta reviewnya dong /bbuing-bbuing/ /muntah/ hehehe