tittle : Bad Boy Good Boy

author : lee taisoo

cast : taohun, exo members

genre : romance, family, angst

rate : T

summary : Tao, seorang bad boy yang berubah setelah kehadiran seorang namja baik-baik bernama Sehun. Tapi ada satu rahasia yang di sembunyikan Sehun.

desclaimer : semua cast bukan punya saya, mereka milik orang tua masing-masing. Tapi saya yakin cerita ini milik saya sendiri.

warning : YAOI/BL, OOC, cerita pasaran, membosankan, crack pair, typo(s), alur berantakan, alur kecepetan, tidak sesuai EYD, gak suka gak usah baca

...

happy reading

.

.

.

Tao membuka matanya, mencoba mencari kesadarannya yang belum sepenuhnya kembali dari perjalannya ke alam mimpi. Ditegakkannya tubuhnya, melebarkan lengannya selebar-lebarnya—meregangkan tubuhnya. Ternyata tidur menelungkup diatas meja masih saja membuat tubuhnya pegal, padahal ia sudah sering melakukannya. Menyandarkan punggungnya pada sandaran bangku yang ia duduki, Tao menguap sepuasnya sambil menggaruk pipi kirinya. Menyeka sebuah cairan yang menempel pada pipinya, yang ia yakini sebagai air liurnya. Mungkin imej Tao sebagai namja dingin akan hancur jika ada seseorang yang melihat kelakuannya seperti itu. Beruntung kelas itu sudah sepi dan tak ada yang melihat.

Namja pemilik mata mirip panda itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dilihatnya ruang yang ia tempati sedikit gelap, dan terdapat bangku-bangku dan meja yang terjajar tidak terlalu rapi. Melihat itu barulah ia sadar jika ia masih berada di dalam kelas. Diliriknya jam dinding yang menggantung indah di atas papan tulis. Mungkin bel pulang sudah berdering sekitar satu jam lalu. Ditengokkannya kepalanya keluar jendela, awan hitam menggantung di sekitar bangunan sekolahnya. Umpatan keluar dari bibir kucingnya, yang ditujukan untuk teman-temannya. Ia mengumpati semua teman sekelasnya yang tega meninggalkannya sendiri, tanpa ada satupun yang membangunkannya. Segera diraihnya tas slempangan berwarna coklat yang menggantung disamping mejanya. Ia harus segera sampai di halte sebelum awan hitam itu melepaskan muatannya.

.
"Aishh... Kenapa turun secepat ini?!" sesosok namja tampan dengan tinggi sekitar 180 cm menggerutu kesal. Ia kesal karna langit yang sudah tak sabar menurunkan hujan tanpa menunggu dia sampai di halte dekat sekolah. Padahal jika langit bisa sabar sebentar saja, ia mungkin sudah sampai di halte—walau dengan berlari.

"Hah...! Sialnya." Moonkyu menghela nafas kasar. Diulurkan lengannya, hingga telapak tangannya dapat menyentuh air hujan yang turun melewati atap diatasnya. Ia tak berminat untuk menjauh dari tempatnya. Tak peduli air yang turun semakin deras dan petir yang mulai sibuk bersuara.

Moonkyu mengernyitkan alisnya heran melihat seorang namja sedang meringkuk di lantai koridor sebelah kanannya. Dihampirinya namja tersebut. Bahu namja itu bergetar kecil. 'apa dia menangis?' batin Moonkyu.

"Hei, kau tak apa?" tanyanya saat ia sudah sampai disamping namja tersebut. Tak ada jawaban.
DHUARRR!
Tiba-tiba petir menyambar dengan suara yang sangat besar dan menakutkan. Reflek namja di depannya menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya. Sepertinya tangisannya semakin kencang.

"T-takut..." namja itu bergumam lirih. Entah mendapat keberanian darimana, Moonkyu mulai merengkuh tubuh namja putih itu setelah mendengar lirihannya.

"Sssttt... Uljima, ada aku disini." ucap Moonkyu menenangkan. Dirasanya namja dipelukannya semakin merapatkan tubuhnya. Tubuhnya bergetar ketakutan karna petir masih terus bersaut-sautan. Moonkyu mengelus punggung namja itu mencoba menenangkan. Tak berapa lama namja itu mulai tenang, tapi masih ada isakan yang terdengar. Mereka betah dalam posisi itu hingga seorang ahjussi dengan wajah teduh menghampiri mereka.

"Tuan muda!" panggil ahjussi itu. Namja itu sedikit mengangkat wajah sembabnya. Ia kembali terisak. Ahjussi itu segera membimbing namja itu dan Moonkyu ke sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari tempat mereka. Moonkyu membantu namja itu memasuki mobil.

"Kanshamnida." ahjussi itu membungkuk berterima kasih ke arah Moonkyu sebelum memasuki pintu kemudi. Senyum manis merekaah dari bibir Moonkyu setelah mobil putih itu berlalu dari hadapannya.

"Namja itu manis juga."

.

.

Koridor sekolah sudah sangat sepi dan lumayan gelap. Hujan juga sudah turun disertai petir-petir menggelegar. Dilangkahkan kakinya dengan malas. Dari tempatnya sekarang, ia dapat melihat dua orang sedang berpelukan sambil berjongkok. Tao tampak tak peduli. Tapi tubuh kurus, kulit pucat, dan rambut blonde seseorang yang sedang dipeluk namja lainnya itu, membuatnya terhenti. Itu Sehun. Tao mengepalkan telapak tangannya erat, wajahnya merah menahan emosi. Entah mengapa ia tidak suka melihat Sehun dipeluk oleh namja lain. Perasaannya seperti tak rela ada yang menyentuh Sehun. Apalagi setelah ia sadar siapa yang sedang memeluk Sehun. Namja itu adalah Kim Moonkyu, namja konyol sok keren yang suka sekali membuat gara-gara dengannya.

Tao masih terus berdiri ditempatnya sambil menahan emosi. Menatap nyalang pada Moonkyu. Tak peduli lagi dengan hujan yang semakin deras mengguyur tanah yang awalnya kering. Ia tetap berdiri disana, hingga ia melihat seorang ahjussi menghampiri mereka dan membimbing keduanya menuju sebuah mobil. Tao semakin emosi saat dilihatnya Moonkyu tersenyum manis sesaat mobil yang membawa Sehun melaju meninggalkan halaman. Moonkyu mulai melangkah meninggalkan tempatnya, barulah Tao sadar dengan sikapnya yang aneh. Ia meninggalkan tempatnya setelah menggeleng heran dengan sikapnya.

.

.

.

.

"Hahhh! Akhirnya selesai juga." Luhan menutup buku tulisnya. Ia dan teman sekelasnya baru saja merangkum seperempat buku dengan tebal sekitar 5 cm. "Sehuna ayo ke kantin!" seru Luhan semangat.

"Ne." jawab Sehun singkat. Tapi saat ia hendak beranjak, seorang namja tampan dengan kulit putih—walau tak seputih dirinya—datang menghampiri mejanya. Terdengar bisik-bisik teman sekelasnya mengagumi namja tampan itu.

"Hei, apa kau mengingatku?" sapanya saat ia sampai di meja Sehun. Sehun hanya menatap bingung namja di depannya dengan polos. Ia memiringkan kepalanya sedikit, mencoba mengingat.

"Err, aku yang memelukmu kemarin sore." Luhan yang masih duduk di samping Sehun memelototkan matanya mendengar penuturan namja tersebut. Tak berbeda jauh dengan Sehun, ia juga memelototkan mata sipitnya—walau tak selebar Luhan. Semburat merah mewarnai pipi putih Sehun. Ia kembali teringat hal memalukan yang terjadi padanya kemarin. "Apa kau sudah mengingatku?"

"N-nde." Sehun menundukkan wajahnya.

"Ohya, kenalkan... Naneun Kim Moonkyu. Tingkat dua." namja yang mengaku bernama Moonkyu itu mengulurkan tangannya ke arah Sehun.

"Oh Sehun imnida." Sehun membalas jabatan itu dengan ragu.

"Apa kau mau pergi ke kantin bersamaku?" Sehun kembali melotot mendengar ucapan to the point Moonkyu. Sehun menoleh ke arah dimana Luhan duduk. Di tempatnya, Luhan tersenyum bodoh melihat Sehun dan sunbaenya.

"T-tapi... Aku dan Luhan a—"

"Tak apa Sehuna, aku akan pergi sendiri. Kau pergilah bersama Moonkyu sunbae. Kalau begitu aku dulan ya?! Pai!" belum sempat Sehun menyelesaikan kalimatnya, Luhan sudah memotongnya dan berlari begitu saja meninggalkan Sehun dan Moonkyu.

"Jadi bagaimana?"

"B-baiklah."

.

.

Disalah satu meja kantin, Luhan sedang makan sambil bercerita dengan heboh—selalu. Suho mendengarkan sambil melahap pesanannya. Disampingnya Lay sedang sibuk bergumam sendiri mengomentari bekal yang ia bawa dari rumah, tak mendengarkan Luhan. Sedangkan disamping Luhan, Kyungsoo dengan anteng mendengarkan Luhan. Sesekali matanya membulat lucu—antusias—bahkan ia melupakan salad buah dan susu strawberrynya.

"Halo, chagi." tiba-tiba Baekhyun datang membuat Luhan terhenti. Duduk menyela diantara Kyungsoo dan Luhan, setelah sebelum mengecup sekilas pipi tembam milik Kyungsoo. Luhan menatap tajam Baekhyun, yang ditatap tampak tak peduli. Ia malah melahap salad buah dan menyeruput susu strawberry milik Kyungsoo yang sempat terlupakan.

"Baekie hyung~" panggil Kyungsoo.

"Wae, chagi?" jawab Baekhyun dengan tampang tak berdosa masih menyeruput susu milik Kyungsoo.

"Itu susuku." rajuk Kyungsoo cemberut. Uups! Baekhyun lupa jika kekasihnya paling tidak suka susu strawberry nya dihabiskan orang lain walaupun itu Baekhyun.

"Mian, chagi. Aku kubelikan lagi yang lebih banyak. Jangan marah, ne?!" Baekhyun segera berlari menuju stand yang menjual susu strawberry. Ia kembali dengan tiga kotak susu strawberry, membuat Kyungsoo tersenyum cerah.

"Gomawo, hyung~"

"Hai, baby soo." Chen datang sambil berlari, langsung duduk dan memeluk Kyungsoo dari samping.

"Lu, ge!" disusul Xiumin, Tao, dan Kai. Seperti biasa Xiumin heboh jika bertemu Luhan.

"Diam, Xiu!" dan seperti biasanya pula, Luhan menyuruh Xiumin diam. Xiumin menuruti Luhan.

"Yak kardus TV! Lepaskan tanganmu itu!" Baekhyun yang melihat Chen memeluk Kyungsoo langsung marah.

"Andwae!" melihat itu, Chen semakin semangat mengerjai Baekhyun. Ia semakin mempererat pelukannya pada Kyungsoo. Melihat itu, yang lain hanya memutar bola matanya jengah.

"Ngomong-ngomong, kemana Kris dan Chanyeol?" tanya Suho setelah tak melihat dua namja tiang itu.

"Entahlah. Beberapa hari ini mereka tampak aneh." jawab Kai.

"Mungkin mereka sedang ada masalah." kali ini Lay bersuara, meninggalkan bekalnya.

"Padahal mereka pasangan yang jarang ada masalah." timpal Suho. Mereka mulai menikmati pesanan masing-masing, meninggalkan baekchen yang masih asik bertengkar.

"Bukankah itu, Sehun?" celetuk Kai, membuat semua orang yang ada di meja itu menoleh kearah yang dimaksud Kai. Tampak dua orang namja sedang berbincang di meja pojok kantin.

"Dan yang bersamanya itu si Moonkyu?" kali ini Xiumin menanggapi dengan bertanya.

"Sejak kapan Sehun dekat dengan monyet sialan itu?" Baekhyun ikut menanggapi. Tanpa mereka sadari, salah satu dari mereka tengah mengepalkan tangannya erat.

"Entah, tapi kata Moonkyu hyung ia memeluk Sehun kemarin sore." Luhan menyaut pembicaraan itu. "Bukankah mereka serasi?"
SREKK!
Suara gesekan kasar kursi dengan lantai membuat delapan orang lainnya menatap Tao—pelaku penggeseran kursi—bingung. Wajah Tao memerah seperti menahan emosi. Tanpa salam ia meninggalkan meja dan teman-temannya.

"Mau kemana kau? Jangan bilang membolos dan tidur diatap lagi?!" pertanyaan Suho tak dihiraukan Tao, ia tetap melangkah meninggalkan kantin. "Kenapa lagi dia?" yang lain hanya menganggak pundaknya tak mengerti. "Aneh."

.
Disebuah meja yang terletak dipojok kantin XOXO High School dua orang namja sedang berbincang-bincang—ah tidak, apakah masih bisa disebut berbincang? Jika hanya satu pihak yang terus berceloteh, dan pihak lainnya yang hanya mengangguk sesekali menjawab singkat. Moonkyu masih terus berceloteh apapun yang ia inginkan. Sesekali ia bertanya yang hanya dibalas singkat oleh Sehun. Namja tampan itu tidak menyadari keresahan yang Sehun rasakan. Sejak tadi murid-murid lain memandang Sehun dengan berbagai ekspresi melihat ia duduk berdua bersama Moonkyu. Dan itu membuat Sehun risih.

"Eum... mianhae sunbae, apakah aku bisa kembali ke kelas?" tanya Sehun saat Moonkyu jeda berceloteh.

"Wae, eoh?" Moonkyu menaikkan alisnya heran. Sehun nampak berpikir keras. "Baiklah. Ayo kuantar kau ke kelas." Sehun tak kunjung menjawab membuat Moonkyu segera menyetujuinya.

"Ehm, tak usah sunbae. Aku bisa sendiri." tolak Sehun, ia hanya tak ingin lebih banyak siswa yang menatapnya. "Kalau begitu aku pergi dulu. Annyeong, Moonkyu sunbae." Sehun beranjak dari duduknya, membungkuk sedikit lalu segera berlalu meninggalkan Moonkyu.

.

.

.

.

"Sial!" umpat Tao geram sambil membuka pintu atap dengan kasar. Hening sejenak sebelum ia mulai mengacak-acak rambutnya kasar. "Sialan kau, Moonkyu!" Tao bingung dengan perasaan marah yang selalu muncul saat melihat kedekatan Sehun dengan Moonkyu. Ini aneh, karena ini bukan gaya Tao, mudah tersulut emosi hanya karna hal sepele. Atau mungkin Tao cemburu?

Tao menolehkan kepalanya kesisi bagian kanan atap. Sesosok namja dengan rambut hitam meringkuk menenggelamkan wajahnya di lututnya. Isakan kecil terdengar dari arah namja tersebut, punggung namja tersebut tampak bergetar. Sepertinya namja itu sedang menangis.

"Chanyeol hyung?!" Tao mengenali sosok dengan postur tubuh tinggi itu. Segera dihampiri namja yang sudah ia anggap kakak kandung, dan sangat dekat dengannya. Namja itu mendongakkan kepalanya. Mata sembab yang memang sudah lebar itu, semakin melebar.

"T-tao?!" tenggorokannya tercekat. Ia sangat terkejut ada seseorang yang memergokinya menangis.

"Kau kenapa, hyung?" tanya Tao kawatir. Bukannya menjawab, Chanyeol malah memeluk tubuh Tao. Membuat Tao sedikit terkejut.

"Sssttt... Uljimayo, hyung. Ada apa?" Tao membalas pelukan itu, mengelus punggung hyungnya yang masih terisak itu sambil mengucapkan kata penenang. Sedingin-dinginnya Tao, ia masih sayang dan perhatian dengan orang terdekatnya, terlebih Chanyeol.

"Kris, ge." ucap Chanyeol lirih sambil masih terisak.

"Ada apa dengan Kris gege?" Chanyeol malah semakin terisak. Tao terus mencoba menenangkan Chanyeol. Hingga beberapa menit kemudian, Chanyeol tampak mulai tenang—walau masih sesenggukkan. Chanyeol melepaskan pelukannya, menghapus air matanya yang tersisa. Menarik nafas, mencoba lebih menenangkan diri sendiri.

"Bisa hyung jelaskan mengapa hyung menangis? Dan ada apa dengan Kris gege?" tanya Tao lembut saat Chanyeol nampak sudah tenang. Chanyeol menggeleng. Dugaan Tao salah, ternyata Chanyeol belum benar-benar tenang. Ia mendongakkan kealanya mencoba menahan air mata yang akan keluar lagi. Mendengar pertanyaan Tao dan nama kekasihnya, membuat Chanyeol ingin menangis kembali.

"Sudah, tak perlu hyung jelaskan sekarang." Tao menepuk-nepuk punggung Chanyeol, sampai ia mulai tenang kembali.

"Hyung." Chanyeol menolehkan kepalanya ke samping. Menaikkan alisnya—bertanya. "Kau tau?" lanjut Tao yang hanya dijawab gelengan polos dari Chanyeol. "Kau sangat jelek jika menangis." Chanyeol memelototkan matanya mendengar perkataan Tao. "Tidak mengis saja sudah jelek, apalagi menangis." lanjut Tao tanpa ekspresi.

"Yak! Kurang ajar kau Hwang Zitao.". Chanyeol mumukul kepala Tao. Membuat Tao meringis kesakitan. "Rasakan itu!" Chanyeol tertawa senang melihat dongsaengnya kesakitan.

"Ngomong-ngomong, apa kau selalu membanting pintu atap dengan keras?" tanya Chanyeol setelah tawanya mereda.

"Aniyo, hyung." jawab Tao.

"Tapi tadi kau membantingnya dengan keras, membuatku sedikit kaget."

"Aku sedang kesal." Chanyeol mengernyitkan keningnya. "Aku melihat Moonkyu sangat dekat dengan Sehun." Chanyeol tertawa.

"Kau cemburu?"

"Aniyo hyung. Aku hanya kesal." tawa Chanyeol meledak mendengar nada merajuk Tao. Lama Chanyeol tertawa, akhirnya ia berhenti. Menyeka air mata yang munculnya disudut matanya. "Aigoo... Uri Zitao sedang jatuh cinta."

"Mwo?!" Tao memelototkan matanya mendengar perkataan Chanyeol.

.

.

Tao memejamkan matanya, mencoba untuk tertidur. Tapi matanya kembali terbuka, ia teringat perkataan Chanyeol di atap. Tao mengacak-acak rambutnya asal.

"Apa benar aku sedang jatuh cinta?"

Flashback

"Aigoo... Uri Zitao sedang jatuh cinta." ucap Chanyeol sambil menyeka air matanya, akibat tertawa.

"Mwo?!" Tao memelototkan matanya mendengar kalimat Chayeol. Melihat itu, Chanyeol mengangguk mantap.

"Apa kau senang saat berada di dekat Sehun?" Chanyeol mulai mengintrogasi namja panda tersebut.

"Molla." Tao menggedikkan pundaknya.

"Apa kau berdebar saat di dekat Sehun?" namja yang lebih tua melanjutkan pertanyaannya.

"Sedikit." Tao memandang langit, mencoba mengingat sebelum menjawab.

"Apa kau tidak suka jika Sehun dekat dengan orang lain?"

"Entahlah." Tao menjawab ragu. "Tapi tidak dengan Luhan." Chanyeol mengangguk-anggukan kepalanya.

"Apa kau juga pernah merasakan hal itu pada orang lain?" Tao menggeleng. Chanyeol tersenyum lebar.

"Kau jatuh cinta kepada namja manis itu, Zitao." Chanyeol mengangguk mantap menutarakan hipotesanya. Bagaimana Chanyeol bisa sangat yakin dengan perasaan Tao, sedangkan Tao sendiri tidak paham perasaannya sendiri.

Flashback end

"Aish... Sial sial sial!" Tao kembali mengacak rambutnya. Lalu menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya. Mencoba untuk tidur agar ia bisa melupakan ucapan Chanyeol dan... Sehun?

.

.

Akhir-akhir ini Moonkyu dan Sehun semakin dekat. Moonkyu akan selalu menempel dimanapun Sehun berada. Setiap hari mereka akan pergi ke kantin berdua. Sehun juga jarang berkumpul dengan yang lainnya. Dan itu membuat seorang namja uring-uringan.

Tapi hari ini berbeda. Tak ada Moonkyu di sekitar Sehun, karna namja tampan itu sedang diberi tugas oleh gurunya. Sehun berjalan sendirian—Luhan sedang dispen untuk petandingan sepak bola—di koridor kelas yang ramai. Ia menundukkan kepalanya saat melihat beberapa tatapan tak bersahabat dari siswa lain.

Sehun baru saja keluar dari toilet, saat beberapa gadis menariknya ke dalam ruang olahraga yang terletak tidak jauh dari toilet. Tubuh Sehun dihempaskan dengan kasar ke arah peralatan olahraga. Sehun meringis kecil merasakan nyeri pada punggungnya.

"Dasar namja tak tau diri!" PLAKK! Sebuah tamparan mampir di sebelah kiri pipi Sehun. Membuat pipi tirus yang berwarna pucat itu berubah menjadi merah.

"Berani-beraninya kau mendekati Moonkyu sunbae!" bentak salah satu gadis.

"Belum cukup kau mendekati Tao sunbae dan teman-temannya, sekarang kau mendekati Moonkyu sunbae?!" bentakan lagi dari gadis lainnya. Sehun hanya menundukkan wajahnya, tidak berani menatap gadis-gadis sadis tersebut. Ini pertama kalinya ia bergaul dengan orang lain, sehingga ia tdak tau apa yang harus ia lakukan saat diperlakukan seperti ini.

"Kau dengar tidak?! Tatap kami!" salah satu gadis tampak kesal melihat Sehun tak merespon apa-apa. Ia menarik rambut Sehun hingga mendongak. Tapi kemudian semua diam saat gadis itu mendapati lumayan banyak helaian rambut blonde Sehun ditangannya. Sehun tersenyum miris melihat itu.

"Hei, apa yang kalian lakukan?!" seorang namja datang dan berteriak kepada gerombolan gadis tersebut. Segera gadis-gadis itu berlari kabur.

"Sehun, kau tak apa?" tanya namja itu, memastikan keadaan Sehun. Sehun mendongak. Namja itu tertegun melihat mata Sehun yang menyorotkan tatapan terluka.

"Nan gwaenchana. Kalau begitu aku pergi dulu. Gomawo, Tao-ya." Sehun membungkuk sedikit sebelum mulai beranjak meninggalkan ruang olahraga.

"Tunggu, Sehun!" Tao mencengkram tangan Sehun yang hendak pergi. "Biar kuantar ke kelas." Sehun hendak menolak dan melepaskan cengkraman Tao sebelum Tao memotong.

"Aku memaksa!" setelahnya Tao menarik tangan Sehun menyuruh namja albino itu mengikuti. Tanpa mereka sadari, masing-masing menyunggingkan senyum tipis.

.

.

.

TBC

Aaa~ mampet mapet mampet! Aduh, otakku lagi mampet. Cuma bisa bikin kayak gini. Mian, kalo mengecewakan. Akhir-akhir ini otakku kurang produktif dan sering kehilangan ide. Ini ceritanya juga mulai maksa *hufettt* Mian, udah update lama, pendek, jelek, gaje lagi. Mian gak sempat ngedit dan baca ulang /udah malem/. Udah dulu ya, makasih yang sudah membaca dan mereview.

izz. sweetcity: ikutin aja ya? Mungkin chapter depan udah aku jelasin Sehun sakit apa. Ini sudah dijawab siapa yg datang. Gomawo sudah review dan mengikuti ff ini.

deerbaozi: doain aja semoga cepet bersatu. kkk~ ini sudah update. Gomawo reviewnya.

hyona21: mian ngebosenin. Aku juga sedang berusaha untuk comeback to my sense. Ini sudah update. Gomawo review dan sarannya.

nin nina: malu-malu mau. Wkwk. Luhan pemaksa biar cepet bersatu :p nih udah kejawab. kkk~ gomawo udah ngikutin dan review.

adilia. taruni. 7: hahaha. Iya. Semoga aja ya? Gomao support dan reviewnya.

Arcan'sGirl: ikutin terus ya? Mungkin chapter depan akan diketahui /semoga/ Gomawo sudah review.

shin. hy.39: iyakah? Seneng deh dengernya ditunggu aja. Ehehe. Gomawo support and reviewnya.

Tabifangirl: kkk~ ini gantung emang? Ini sudah update. Gomawo semangat dan reviewnya.

Lhea winds: seneng deh kalo suka aduh, tapi maaf buat pemanjangan, ini udah mentoknya :p aku usahain lagi ya. Gomawo juga udah review dan setia nunggu ff ini update. Gomawo juga sarannya.

GBBB: hahaha. Mau minta lebih sedih? Entar aku bikin lebih sedih /ga yakin/. Gomawo sudah review.

park in: annyeong~ ikutin terus lajutannya. Hehe. Entah akan membuat taohun menderita apa nggak ^^v ini udah aku kasih moment couple. Tapi masih couple favoritku ^w^ gomawo saran dan reviewnya.

exoarmy94: ini sudah update gomawo sudah review.

cuyy: yakin bener kkk~ gomawo sudah review

Edita: terus ikutin ya? Ini sudah lanjut. gomawo sudah review

krispandataozi: berdoa aja ya? Biar sehun gak kenapa-napa /amin/ tao sendirikan udah uke. Masa uke sama uke /Eh/ gomawo sudah review

Minta reviewnya dong /bbuing-bbuing/ /muntah/ hehehe