tittle : Bad Boy Good Boy
author : leetaisoo
cast : taohun, exo members
genre : romance, family, angst
rate : T
summary : Tao, seoorang bad boy yang berubah setelah kehadiran seorang namja baik-baik bernama Sehun. Tapi ada satu rahasia yang di sembunyikan Sehun.
desclaimer : semua cast bukan punya saya, mereka milik orang tua masing-masing. Tapi saya yakin cerita ini milik saya sendiri.
warning : YAOI/BL, OOC, cerita pasaran, membosankan, crack pair, typo(s), alur berantakan, alur kecepetan, tidak sesuai EYD, gak suka gak usah baca
...
happy reading
.
.
.
Dua orang namja keluar dari ruang olahraga dengan tangan salah satu namja menarik pergelangan tangan namja lainnya. Menarik atensi orang sekitar untuk memperhatikan kedua namja itu. Menjadi bahasan terbaru dan terhangat bagi para penggosip. Kedua namja itu—atau hanya salah satunya— terus berjalan menerobos beberapa gerombolan atau siswa tanpa peduli bahwa kelakuan mereka dijadikan buah bibir oleh kebanyakan orang disekitar sana.
Bahasan mereka dalam perbincangan ringan mengisi waktu istirahat itu semakin seru saat sesosok namja tampan memanggil salah satu dari kedua namja yang sedang mereka bicarakan. Menghampiri kedua namja itu yang malah membuat bisikan-bisikan disekitarnya semakin keras terdengar.
"Sehunie!" mendengar panggilan Moonkyu untuk namja dibelakangnya, Tao berhenti dan menyembunyikan tubuh kurus Sehun dibalik punggung lebarnya.
"Mau apa lagi kau?!" Tao menggeram dan menatap namja di depannya dengan tatapan tegas dan tajamnya. Moonkyu membalas tatapan itu tak kalah sengit. Lalu mengalihkan pandangannya ke arah namja manis di belakang Tao yang sedang menunduk.
"Sehunie~ ayo kuantar ke kelas." merubah tatapannya sambil berkata dengan lembut. Mencoba tak mengacuhkan tatapan—yang masih saja—tajam dari namja pemilik mata panda disampingnya.
"Jangan pernah dekati dia lagi!" tak ada jawaban dari Sehun, tetapi malah Tao yang menjawab dengan penekanan disetiap katanya. Moonkyu memutar bola matanya kesal.
"Aku tak ada urusan denganmu, panda!" memandang remeh pada Tao, Moonkyu membalas menekan setiap katanya.
"Taukah kau dia baru saja terluka. Dan itu semua karnamu!" Tao mulai emosi, dan membentak Moonkyu. Moonkyu tidak terima disalahkan seperti itu. Pasalnya, ia merasa tak pernah melukai Sehun.
"Apa maksudmu?!" bentakan dari Moonkyu semakin membuat orang-orang disekitarnya tertarik. Tao hendak membalas, tetapi tangan kurus menahan lengannya.
"Hyung, Sehun mohon jangan dekati Sehun lagi." ucapan Sehun dengan volume kecil itu membuat Moonkyu terbelalak kaget. Berbanding terbalik dengan Tao yang tersenyum penuh kemenangan.
"Kalau begitu Sehun pamit. Annyeong~" Sehun menarik Tao menjauh menuju kelasnya, setelah sebelumnya membungkuk sebentar ke arah Moonkyu. Moonkyu memandang punggung Sehun sedih dan kecewa.
.
.
.
Semenjak kejadian pelabrakan beberapa orang gadis terhadap Sehun, membuat ia menjadi takut untuk keluar kelas sendirian. Apalagi Luhan yang belum kembali dari urusan dispensasinya, menyebabkan Sehun terus mendekam di dalam kelas saat jam istirahat tiba.
Seperti saat ini, Sehun sedang duduk di bangkunya sambil menatap keluar jendela, lebih tepatnya lapangan bola dibawahnya. Terdapat beberapa siswa sedang berlarian mengejar benda bulat dengan bahan kulit melapisinya. Terik matahari menerpa kulit murid-murid tersebut. Menambah intensitas keluarnya ekskresi dalam bentuk keringat dari kulit mereka. Membuat mereka terlihat semakin basah. Terselip perasaan iri pada hati Sehun, melihat beberapa orang bisa tertawa dan menikmati sapuan hangat terik mentari pada tubuhnya tanpa takut akan merasakan sakit luar biasa.
Sehun memang tidak menyukai langit mendung, karna jika langit mendung maka akan datang hujan dan itu akan membuatnya takut. Tapi setidak sukanya Sehun pada langit mendung, ia jauh lebih membenci langit cerah dengan matahari bersinar dengan terik. Langit cerah dengan matahari terik itu terlalu berbahaya untuk Sehun, membuat Sehun tidak pernah berada diluar ruangan saat matahari terik. Karena sinar matahari itu akan membakar kulit Sehun, dan membuat sekujur tubuhnya merasakan sakit akibat rasa nyeri pada sendi-sendinya.
Sehun mengidap penyakit Systemic Lupus Erythematosus. Sebuah penyakit dimana sistem kekebalan tubuh menjadi hiperaktif dan menyerang jaringan sehat dan normal pada tubuh. Penyakit yang membuat Sehun tidak pernah merasakan yang namanya bermain diluar saat matahari terik karna ia sudah menderitanya sejak kecil. Membuat kulitnya menjadi sangat putih hingga terlihat pucat. Sehun tidak menyukai itu, tapi setidaknya Sehun harus bersyukur karna masih diberi kesempatan untuk menghirup udara yang menyegarkan parunya yang akhir-akhir ini mulai merasakan sesak dan sedikit nyeri. Kembali terpaut senyum miris mengingat itu semua. Ia sangat ingin merasakan sentuhan sang surya pada kulitnya. Menambah jumlah pigmen yang sangat minim pada tubuhnya. Tapi ia sadar orang tuanya tak akan membiarkan ia merasakan sakit luar biasa akibat hal itu.
Sehun masih terus melamunkan hal terkait penyakit dan matahari, saat seseorang duduk di bangku milik Taemin—teman sekelasnya yang duduk tepat di depannya—dengan wajah datarnya. Memandang Sehun yang sedang asik dengan pikirannya. Sehun menggerakkan kepalanya, dan betapa terkejutnya ia melihat Tao sudah ada di depannya. Akhir-akhir ini namja dengan bibir kucing itu menjadi sangat aneh. Apalagi semenjak kejadian yang membuat Sehun terus berada di kelas saat jam istirahat.
"T-tao?"
.
.
Tao pov
Aku tiba di kantin bersama Chanyeol hyung. Tapi aku tak melihat keberadaan seseorang yang akhir-akhir menarik hampir seluruh perhatianku. Aku kembali teringat dengan kejadian beberapa gadis yang menarik tubuh kurus Sehun dan melakukan kekerasan padanya. Pasti hal itu membuat ia takut untuk keluar kelas sendirian. Apalagi Luhan yang belum kembali bersekolah, dan masih harus mengikuti beberapa pertandingan lagi bersama tim sepak bola sekolah. Apa aku harus menjemput Sehun? Tapi aku akui aku terlalu gengsi untuk terlalu peduli terhadap seseorang. Salahkan imej dinginku yang sudah dikenal siswa lain. Membuatku sulit berlaku ramah di depan umum.
"Sudah lakukan saja!" sepertinya Chanyeol hyung menyadari kaadaanku. Kembali aku teringat perkataan Chanyeol hyung padaku. 'Turunkan sedikit gengsimu jika tidak ingin Sehun dengan orang lain dan dekati dia.' Aku memandang Chanyeol hyung ragu. Sedangkan namja dengan gigi rapi itu mengangguk. Akhirnya aku beranjak dan meninggalkan meja kantin. Dan aku yakin pasti penghuni lain meja itu menatapku bingung. Tapi siapa peduli. Kulangkahkan kakiku menuju kelas yang berada diujung koridor yang sedang aku lewati.
Benar dugaanku. Saat aku sampai, aku melihat namja manis itu sedang memandang keluar jendela, melamun. Kumasuki kelas yang tidak terlalu ramai itu. Mendudukkan tubuhku pada bangku yang ada tepat di depan bangkunya. Pergerakanku yang sedikit kasar itu tak mengalihkan perhatiaannya. Sedang berpikir apa dia? Kuamati wajahnya 'ahh... Ternyata dia benar-benar manis' batinku. Tiba-tiba ia menolehkan kepalanya, dan menatapku terkejut. Matanya yang sipit membulat lucu, membuat aku ingin sekali mencubit pipinya. 'Ihh.. Ada apa denganku?'.
"T-tao?" Huh, apa selalu kata itu yang ia ucapkan saat melihatku? Tapi tak apa, aku senang jika Sehun yang terus menyebutkan namaku. Cheesy. Sejak kapan aku menjadi menjijikkan seperti ini?
Kuangkat salah satu tanganku. Menghadapkan telapak tanganku ke arahnya—menyapa—masih dengan ekspresi datarku. "Biar kutemani." ucapku dengan nada—yang lagi-lagi—datar. Kulihat ia menganggukkan kepalanya polos. Dan apa itu? Warna merah pada pipinya. Hahaha. Sepertinya di sedang tersipu.
Aku menjalankan tugasku dengan baik. Menemaninya. Benar-benar hanya menemani. Karna kita tidak melakukan apapun selain diam dan dia yang bergerak sedikit kikuk. Hal itu terus terjadi hingga bel masuk berbunyi.
"Aku kembali kekelas dulu." Ah, nada yang kukeluarkan masih saja datar. Aku merutuki mulutku yang tidak bisa mengeluarkan nada selain nada datar. Ia mengangguk tapi kali ini bibir dan matanya ikut tersenyum. Tanpa ia dan orang-orang sadari aku tersenyum tipis sebelum mulai berjalan meninggalakan ruangan itu.
Tao pov end
.
.
.
Sehun mengerucutkan bibirnya kesal. Sudah hampir 30 menit ia menunggu appanya yang tidak datang-datang tanpa memberi kabar. Lee ahjussi sedang pulang ke Jeju karna istrinya sedang sakit. Sehingga tuan Oh yang menggantikan menjemputnya, karna memang nyonya Oh tidak bisa mengendarai mobil.
Diambilnya benda kotak persegi panjang berwarna silver dari tasnya. Mencoba memainkan beberapa game yang ada untuk membunuh waktu. Ia sungguh menyesal tidak membawa psp-nya ke sekolah.
Tak berapa lama ia memainkan ponselnya. Ia kembali memasukkan benda itu ke tasnya, karna tidak berhasil membuatnya terhibur. Bibir tipisnya kembali dikerucutkan. Ia bisa saja memanggil taxi untuk mengantarnya pulang. Tapi itu tidak terjadi karna eommanya pasti mengomel karna ia pulang sendiri walau dengan taxi. Sedikit menyesali keposesifan orang tuanya karna penyakitnya.
Bangku yang Sehun duduki sedikit bergerak. Memaksa Sehun menoleh ke sumber pergerakan untuk memastikan siapa yang sedang berada di sampingnya.
"Hai, Tao." Sehun menyapa orang itu dengan wajah yang sungguh imut. Membuat Tao menahan keinginannya mencubit pipi tirus orang di depannya.
"Mau kutemani?" tawar Tao yang membuat mata Sehun berbinar senang. Sehun menganggukkan kepalanya bersemangat. Tao tersenyum tipis. Sangat tipis.
Suasana hening tercipta diantara keduanya. Mereka saling diam. Mencoba menenangkan debaran jantung mereka masing-masing. Hingga Sehun yang tidak tahan dengan keheningan itu mulai angkat bicara.
"Kenapa Tao belum pulang?" menolehkan kepalanya ke arah Tao dan sedikit memiringkan kepalanya. Tao yang ditanya hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Pasalnya dia belum pulang karena melihat Sehun masih menunggu jemputannya, dan ia memutuskn menunggu Sehun dijemput di tempat yang sedikit jauh dari Sehun. Sehingga ia memutuskn menghampiri Sehun pada akhirnya.
"Aku tertidur di kelas." dusta Tao. Bahkan akhir-akhir ini Tao jauh lebih jarang tertidur di kelas. Tak tertidur bukan berarti memperhatikan pelajaran. Sehun mengangguk-anggukan kepalanya paham
"Kenapa belum pulang?" semenjak kedatangan Sehun, Tao menjadi lebih suka berbicara. Berbeda dengan sebelumnya, Tao akan menanggapi seseorang hanya dengan gumaman atau kalimat pendek.
"Sepertinya appa terlambat karena ada rapat dadakan." kembali bibir tipis itu mengerucut mengingat hal yang sudah membuatnya menunggu lumayan lama. Hal yang sudah biasa terjadi pada appanya. Melihat bibir Sehun yang mengerucut lucu, Tao sedikit tersenyum.
"Woahhh... Kau tersenyum." senyuman Tao tak luput dari penglihatan Sehun, membuat namja manis itu bersorak senang, sambil menepukkan kedua tangganya.
"Eoh?" Tao menggaruk kepalanya salah tingkah.
"Ternyata kau sangat tampan jika tersenyum." ucap Sehun tulus dengan senyum manis nan tulus tersemat di bibir tipisnya. Tao terkesima melihat pemandangan dihadapannya. Wajah cantik itu tersenyum sangat cantik ke arahnya.
"Sehunnie..." seorang namja paruh baya—tetapi masih terlihat tampan—berjalan kearah dua namja yang masih terdiam ditempatnya.
"Appa!" Sehun berlari menghambur ke pelukan ayahnya, meninggalkan Tao yang baru tersadar dari tatapan terkesimanya. "Huh! Appa membuat Sehunnie menunggu lama." Melepaskan pelukannya, Sehun membuang muka dengan wajah yang terlihat sebal. Melupakan reaksi awalnya saat ia melihat sang ayah.
"Uhh... Mianhae, chagi." memohon pada anaknya, melupakan imej berwibawanya. Oh Donghae akan menjadi lembut dan kekanakan saat berhadapan dengan anak tunggalnya.
"Aniyo!" Sehun memajukan bibirnya, masih dengan membuang muka manisnya.
"Kalau begitu, kita beli bubble tea?!" bujukan Tuan Oh, yang sudah pasti akan diterima oleh anaknya.
"Jjinja?" Menolehkan wajahnya kembali ke arah tuan Oh. Sehun tersenyum senang membuat kedua mata sipitnya melengkung membentuk senyuman dengan wajah yang berbinar. "Kajja!" Sehun langsung menarik tangan appanya. Melupakan seseorang yang masih menatap pasangan ayah dan anak itu dengan heran dan sedikit takjub dengan kelakuan mereka.
Setelah beberapa langkah. Tiba-tiba Sehun menghentikan langkahnya. Berbalik dengan wajah menyesal menghadap Tao. "Ups, Sehun lupa. Tao-ya, Sehun pulang dulu nde? Gomawo sudah menemani Sehun. Annyeong~" Sehun berteriak kearah Tao, lalu segera kembali menarik tangan ayahnya meninggalkan koridor sekolah, menuju mobil appanya.
"Ckckck. Dia benar-benar masih seperti anak kecil." Tao menggeleng melihat kelakuan Sehun saat berpamitan padanya. Sambil tersenyum mengantarkan tubuh Sehun menghilang di belokan. Tao beranjak dan ikut meninggalkan tempatnya menemani Sehun menunggu dan menuju ruang matrial art.
.
.
.
.
Seorang yeoja dengan balutan apron berwarna coklat pastel tampak sedang membolak-balikkan masakan dalam wajan di hadapannya. "Eomma~" rengek anaknya saat buah hatinya sudah berada disampingnya.
"Nde, chagiya?" menjawab rengekan anaknya masih dengan memperhatikan masakannya yang sudah akan matang.
"Jantung Sehun rasanya aneh." ucapan polos Sehun membuat nyonya Oh menghentikan kegiatannya seketika. Ia menatap Sehun takut.
"Apa kau merasakan sakit?" tanya nyonya Oh ragu-ragu. Ia takut terjadi sesuatu yang lebih parah pada anaknya. Sehun menggeleng. "Lalu?" ketakutan masih belum luntur pada wajahnya.
"Jantung Sehun selalu berdebar kencang saat dekat dengan Tao." seketika nyonya Oh bernafas lega. Ia tersenyum dan mengusap rambut Sehun dengan sayang. Beberapa helai menempel pada telapak tangannya. Itu sudah biasa terjadi.
"Aigoo... Anak eomma sudah besar ternyata." nyonya Oh sedikit terkekeh. Tetapi Sehun hanya memandang eommanya bingung.
"Apa Sehunie malu jika menatap mata Tao?" Sehun lagi-lagi mengangguk.
"Apa Sehunie suka jika ada Tao?" untuk kesekian kalinya Sehun mengangguk. Nyonya Oh kembali terkekeh melihat kepolosan anaknya. Hampir saja ia menangis saat Sehun mengeluhkan keanehan pada kerja jantungnya.
"Sehunie sedang jatuh cinta dengan Tao."
"Apa iya?" nyonya Oh mengangguk dan tersenyum yakin kepada Sehun. Sehun tampak berpikir keras.
"Ehm, eomma. Apa masakan eommaa gosong?" kembali pertanyaan polos dari Sehun. Nyonya Oh menggeleng.
"Ani— astaga masakanku." teriak nyonya Oh melihat masakannya yang sudah berubah warna. Ia menyesali perbuatannya melupakan masakannya. Sepertinya nyonya Oh harus memesan makanan untuk makan malam.
.
.
.
.
Ulangan dadakan, hal yang biasa terjadi pada masa sekolah. Meskipun sudah biasa, hal itu tetap membuat beberapa murid mengumpati guru yang seenaknya melakukan hal itu. Beberapa murid yang sudah memahami materinya hanya duduk tenang menunggu kertas soal dibagikan. Seperti Sehun, ia sedang duduk tenang di bangkunya sambil mengamati beberapa teman sekelasnya yang kebanyakan sedang kebingungan.
"Astaga, saem tua ini sungguh menjengkelkan." umpatan yang sepertinya berasal dari Luhan membuat Sehun menolehkan kepalanya kearah teman sebangkunya duduk. Luhan tampak kesal dan bingung. Ia baru saja kembali masuk sekolah dan tidak mengikuti pelajaran sekitar satu minggu. Tapi ia malah disuguhi ulangan dadakan.
"Wae—" belum sempat satu kata selesai terucap, songsaenim tua yang disebut Luhan itu sampai di meja mereka. Meletakkan kertas soal sambil melotot.
"Diam dan kerjakan!" Sehun dan Luhan terdiam, menuruti perintah si saem tua. Sekian menit membaca semua soal, Luhan mengacak rambutnya frustasi. Dari 10 soal yang ada, tak ada satupun yang ia mengerti jawabannya. Disampingnya, Sehun sedang serius menjawab soal. Luhan melirik sedikit kearah kertas jawaban Sehun. Sepertinya Sehun sedang mengerjakan soal terakhir. Ditengoknya jam dinding yang menempel di dinding bagian belakang kelas. Waktunya tinggal sedikit. Luhan menjatuhkan kepalanya di atas meja, ingin menangis.
.
.
Selesai. 10 soal sudah berhasil Sehun kerjakan. Ia menoleh ke bangku disampingnya. Luhan menelungkupkan kepalanya diatas meja. Sehun pikir Luhan sudah menyelesaikan soal-soal juga. Tapi pikiran itu ia buang jauh-jauh saat melihat kertas jawaban Luhan masih kosong. Hanya berisi nama Luhan.
Apa ia harus memberikan jawaban? Tapi ia pernah melihat di drama yang sering diputar di tv. Kegiatan mencontek itu biasanya berakhir dengan hukuman oleh pelakunya. Setelah berpikir yang menghabiskan beberapa menit penting untuk Luhan, Sehun menepuk pundak Luhan. Luhan mengangkat kepalanya. Penampilannya sungguh berantakan. Rambut acak-acakan dan mata mengembun.
Luhan menaikkan alisnya, bertanya. Sehun menggeser kertas jawabannya. Luhan menatap Sehun sumringah. Diambilnya kertas itu, lalu menyalinnya setelah sebelumnya mengusap rambut Sehun—berterima kasih.
Sehun tersenyum melihat temannya sangat bersemangat menyalin jawabannya dengan cepat. Bel berbunyi tepat saat Luhan selesai menyalin jawabannya. Luhan tersenyum puas.
"istirahat nanti kalian berdua, temui saya di kantor." ucap saem tua menakutkan saat mengumpulkan jawaban milik muridnya. Luhan dan Sehun hanya menggigit bibirnya gelisah.
.
.
.
"Oh astaga, Sehun. Maafkan aku." ini sudah kesekian kalinya Luhan terus mengucapkan kata maaf yang dibalas Sehun dengan kata-kata yang menyatakan ia baik-baik saja. Jam pelajaran terakhir yang seharusnya mereka nikmati karena kosong. Harus mereka isi dengan melakukan hukuman dari saem tua, karena mereka ketahuan bekerja sama saat ulangan.
Memasuki ruangan besar dengan jutaan buku memenuhi semua rak yang tertata rapi. Luhan membungkuk dan meminta izin kepada petugas untuk membantu merapikan perpustakaan. Petugas perpustakaan mengarahkan apa saja yang harus mereka lakukan sebelum mereka mulai bekerja.
.
.
Sudah satu jam Sehun dan Luhan menata buku-buku pada rak, mengangkat buku-buku tebal, dan membersihkan beberapa sudut perpustakaan. Mereka menyelesaikannya 15 menit sebelum bel pulang berdering. Keringat mengalir deras membasahi tubuh Sehun. Kepalanya sudah sangat pusing. Wajahnya juga sudah terlihat sangat pucat.
"Ah... Akhirnya selesai. Kajja kita kembali." Luhan menepukkan kedua tangannya melihat perkerjaan mereka. Ia sangat senang hukuman itu selesai sebelum jam pulang sekolah. "Sehunie, gwaenchanayo?" tanya Luhan cemas melihat wajah Sehun yang pucat dan keringat yang mengalir deras.
"Nan gwaenchanayo." bohong Sehun menenangkan. Mereka mulai meninggalkan ruangan besar itu. Tapi Luhan izin untuk pergi ke toilet dan meminta Sehun untuk kembali duluan ke kelas.
Sehun berjalan tertatih dengan merambat pada dinding koridor sekolah. Kepala sangat pusing, dan kini semakin pusing. Nafasnya pendek-pendek. Dadanya mulai sesak. Dan tubuhnya sungguh lemas. Ia terjatuh di lantai koridor yang dingin saat tubuhnya sudah tidak kuat untuk hanya sekedar berdiri. Membiarkan siapapun menemukannya dalam keadaan lemah seperti ini.
.
.
Sehun pov
Kurasakan kepalaku yng semakin berdenyut dan pusing. Keringat dingin terus merembes dari kulitku. Membuat tubuh dengan wajah pucatku menjadi dingin. Aku mulai tersengal merasakan sesak yang amat sangat menghimpit tubuhku. Kucoba melangkahkan kakiku agar sampai ke kelas lebih cepat. Tapi ia malah berhianat. Tubuhku sangat lemas, dan aku terjatuh di lantai koridor. Mencoba mempertahankan kesadaran hingga seseorang menemukan keberadaanku.
Tak menunggu lama hingga suara langkah terburu menghampiriku. Membalik tubuhku yang lemah seperti tak ada tenaga sedikitpun.
"Sehun!" pekikan nyaring itu bukan berasal dari seseorang yang menemukanku. Aku yakin itu suara Luhan. Ia juga terdengar melangkah terburu ke arahku. Setelahnya, tubuhku serasa terbang. Seseorang itu mengangkat tubuhku. Membawa tubuhku entah kemana. Aku bisa merasakan langkahnya, tapi tak bisa melihatnya, karna gelap mulai memeluknya dengan kesadaranku.
Sehun pov end
.
.
Seorang namja terus mengumpat sepanjang perjalanannya ke perpustakaan sekolah. Ia harus menerima hukuman mengembalikan buku-buku tebal berisi sejarah negara yang ia tinggali, karna selalu tertidur saat saem muda dan cantik menerangkan berbagai hal tentang sejarah negaranya itu. Ia menghela nafas memandangi buku di tangannya.
Langkahnya terhenti saat melihat tubuh kurus terkapar di lantai koridor yang sedang ia lewati. Ia menghampiri tubuh lemah itu. Meletakkan buku-buku tebal tentang sejarah, disampingnya. Membalik tubuh kurus yang ia temukan, dan mendapati seseorang dengan wajah pucat dan nafas tersengal.
"Sehun!"
.
.
.
TBC
Lalala~ akhirnya update juga. Senangnyaaaa... Mian sekali kalo apdet lama banget. What the hell dengan speedy yang memblokir akun ffn, sehingga aku kehilangan mood untuk ngelanjutin ch 6, padahal udah setengah jadi u,u Ditambah beberapa bulan sibuk ngurus DBL (˘̶ِ̀ ˘̶́") jadi semakin meninggalkan ff ini. Dan untuk chapter berikutnya mungkin kalian harus menunggu lama lagi, dikarenakan aku sudah kelas tingkat akhir, jadi banyak kegiatan les yang menyita waktu menulisku. Hehehe. Kalaupun ada waktu, belum tentu mood aku ada buat nulis. Jadi mian sekali jika aku harus menelantarkan ff ini (lagi). Aku masih belum yakin akan hiatus apa nggak. Hehe.
Mohon maaf juga jika chapter ini sangat mengecewakan. Aku mulai kehilangan ide awal cerita ini, jadi susah untuk membuat sesuatu yang masuk akal dan tidak membosankan. Aku juga merasa salah waktu menjelaskan sesuatu /apalah/. Dan mungkin masih belum bisa mengabulkan permintaan untuk menambah moment bagi pair lain. Jadi aku benar-benar meminta maaf untuk segala kesalahan yang telah aku perbuat. Aku juga sangaaaattttttttt berterima kasih kepada para readers yang setia menanti dan mereview ff amatir ini. We are one. We are EXO-L. lovyasomach….
hyona21: gomawo sudah review
Arcan'sGirl: ini dilanjut gomawo sudah mau review
mirarose86: ikutin aja terus. Hehe. Ini sudah dilanjut. Gomawo.
YoungChanBiased: tuh, udah aku beritau sehunnya sakit apa. Hehe. Gomawo.
krispandataozi: idih, seneng banget chanyeol dibikin nangis sama kris. Ah, lain kali aku beritau. Hehe. Gomawo sudah review.
adilia. taruni. 7: hahaha iyatuh, tapi masih pada gengsi :p ini udah aku buka rahasia sehun. Wkwkwk. Gomawo.
Tabifangirl: ah, ini sudah update. Yoyo~! Semangat nih /jogging di kamar/. Gomawo reviewnya
shin. hy. 39: hahaha. Moonkyu udah go away tuh :p d.o sama aku aja /eh/. Chanyeol nangis ditinggal yifan balik ke galaxy. Wkwk. Untuk pertanyaan terakhir sudah aku jelaskan disini gomawo sudah review
incen. marinchen: ternyata moonkyu yang dateng bung! Wkwkwk, nih aku jejelin moment taohun. Masih kurang? Mian deh :p iya, aku juga ngerasa gitu. Kadang sih mulai sadar alur aneh setelah di post. Hehehe. Jadi maapin ye?! Fyi, krisyeol juga salah satu pair fav ku /ra penting/. Thanks udah review woy.
nin nina: iya, yg nolong bukan tao hehe. Sehun dibully nya bentaran doing kok :p Gomawo reviewnya
izz. sweetcity: ahh~ terima kasih udah setia nunggu. Eheheh.
Shouraichi Rein: gomawo untuk reviewnya
Lhea winds: tetep ikutin ff ini biar pertanyaanmu terjawab. Hehehe. Makasih sudah review
Tingtong bukapintu: ahh, ini sedih ya?! /sok gatau/ gomawo sudah review.
park in: krisyeolnya kapan-kapan ya? Hehe. Gomawo sudah review.
InfinitelyLove: iya gapapaaaa…. Gomawo sudah suka. Gomawo sudah review.
HilmaExotics: anyyeong… selamat bergabung. Hehe. Ini lanjutannya gomawo sudah review.
Guest: ini sudah update
So, give me a review. Thank You
