SAO: Takdir Pilihan
Chapter 2, Loki Appearance.
Part 1
"Pamaaaan.."
Aku tidak mau ditinggalkan keluargaku lagi, aku tidak mau kesepian lagi!
Kirito teringat pada kedua orang tuanya yang meninggalkannya. Walaupun orang orang menyatakan mereka telah meninggal karena tidak pernah kembali, Kirito percaya orang tuanya masih hidup. Mengapa orang tuanya meninggalkannya, mengapa mereka tidak mengucapkan apapun, itulah yang menjadi pertanyaan Kirito sejak lama.
Gerald adalah penopang hati Kirito yang hampir hancur ketika orang tuanya dinyatakan hilang. Dia menggantikan orang tuanya, mengajaknya bermain, membacakan cerita sebelum tidur, dan melatih Kirito hingga seperti sekarang ini. Namun, bahkan dengan kehadiran Gerald dalam kehidupan Kirito tidak dapat menghapus trauma yang dimilikinya. Kesedihan yang mendalam membuat luka yang tak dapat disembuhkan pada hatinya. Gerald lah yang membuat Kirito sedikit demi sedikit membuka kembali hatinya yang tertutup rapat, dan mulai menjalani latihan yang diberikan pamannya. Sehingga melihat pamannya saat ini yang terjatuh dengan bersimbah darah membuat Kirito terguncang.
Pikiran Kirito kini hanya tertuju pada pamannya tanpa khawatir akan serangan dari zombie dari belakang. Hanya sihir pelindung pamannya yang menjadi halangan bagi Kirito, pelindung yang kuat yang bahkan tidak rusak sedikitpun setelah terkena serangan sihir Kirito.
Aku tidak peduli berapa besar yang aku korbankan, aku harus menghancurkan sihir pelindung ini!
"Wahai api penghancur dunia, kupinjam kekuatanmu. Hancurkan seluruh penghalang didepanku! Fire tempest"
Api kecil berwarna hitam muncul menyala di depan Kirito. Fire tempest sebenarnya merupakan sihir berbahaya karena menyedot semua mana yang dimiliki pengendalinya dan mengubahnya menjadi api penghancur yang dapat memusnahkan sihir apapun. Namun sihir ini termasuk sihir yang dilarang karena akan menyedot mana penggunanya sampai habis, membuat penyihir yang mengeluarkan sihir ini menjadi tidak berdaya dan bisa beresiko kematian.
Setelah menyedot seluruh mana Kirito, api hitam perlahan membesar layaknya api yang dituangi bahan bakar. Mematuhi perintah Kirito, api hitam itu langsung menyebar ke seluruh tempat di dalam pelindung.
Mayat hidup yang berada di dalam pelindung lenyap tak berbekas setelah tersentuh api hitam milik Kirito. Hanya Kirito yang berada di pusat fire tempest yang tidak terpengaruh apapun. Sihir pelindung yang menghalangi Kirito pun lenyap bersama dengan api hitam yang telah menyelesaikan tugasnya.
Seolah tubuh tanpa tulang, Kirito terjatuh dan tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya. Hanya matanya yang tak berkedip memandang khawatir ke arah pamannya yang sedang sekarat, disaat itulah seseorang muncul secara tiba tiba dibelakang pamannya. Seorang pemuda yang berumur kira kira 20 tahun, berpakaian layaknya seorang bangsawan berjalan mendekati Gerald.
"Oh, semangat hidup yang luar biasa, dadamu hancur dan kau masih bisa bertahan? Mungkin aku terlalu meremehkanmu."
Orang inikah yang mencelakai pamanku? Kemarahan mulai menguasai pikiran Kirito dan kata kata seperti bunuh, aku akan membunuhmu, aku akan menyiksamu sampai mati karena telah mencelakai pamanku, terdengar lirih dari mulut Kirito. Hawa membunuh yang terasa kuat sekali muncul dari tubuh Kirito. Tampak aura berwarna hitam menyelubungi Kirito dan membuat tanah di sekitarnya bergetar.
"Oh, anak kecil, aku tak menyangka kau juga berbakat menjadi warrior. Aura yang kau keluarkan cukup kuat untuk ukuran anak penyihir yang berumur 10 tahun. Tapi diamlah disitu, aku akan mengurusmu nanti setelah pamanmu!"
Pemuda itu menjentikkan jarinya, lalu muncul beberapa rantai besi di sekitar Kirito dan mengikat erat tubuhnya. Kekuatannya yang sudah terkuras habis dan rantai yang mengikat erat tubuhnya, membuat Kirito tidak bisa melakukan apa apa. Hanya hawa membunuh dan aura gelap pekat pada Kirito yang menjadi semakin kuat.
Tanpa memperdulikan Kirito, pemuda itu memandang kembali kearah Gerald.
"Aku tidak sekeji yang kau bayangkan sampai membiarkan kau mati tanpa mengetahui siapa yang membunuhmu."
Dengan sikap seorang bangsawan, pemuda itu menundukkan kepala.
"Perkenalkan, namaku Loki sang dewa kenakalan. Alasanku membunuhmu adalah agar anak itu tidak menjadi semakin kuat dan melawanku, aku tahu bahwa dia adalah anak dari Gil dan Saleana. Aku tidak akan membiarkan orang yang berpotensi melawanku hidup tenang begitu saja, ya kan Gerald sang supporter?"
"Guahh" Loki menendang Gerald tepat pada luka di dadanya. Sakit yang luar biasa kembali dirasakan Gerald, hanya suara rintihan lirih yang dapat dikeluarkannya. Walaupun begitu, pandangan Gerald tetap tertuju pada Kirito, mulutnya terbuka dan menutup seakan ingin mengatakan sesuatu.
"Sudah waktunya aku pergi, Kirito. Jaga dirimu baik baik" kata kata pamannya terngiang di telinga Kirito, wajahnya tersenyum memandang Kirito namun matanya yang merah tampak mengeluarkan air mata. Perlahan, Gerald menutup mata "selamat tinggal Kirito", kata kata itulah yang menjadi pertanda akhir hidupnya.
Air mata mengucur deras melewati pipi Kirito, keputus asaan menguasai hati Kirito. Aku akan sendirian, tidak akan ada yang menemaniku, tidak ada yang membantuku bangkit, tidak ada yang menyemangatiku, tidak ada yang menyayangiku, pikiran pikiran itu berkecamuk di hati Kirito.
"Hmm, akhirnya mati juga kau! Sekarang hanya tinggal satu masalah yang belum terselesaikan."
Loki berjalan mendekati Kirito, wajahnya gembira karena satu lalat kecil pengganggu telah mati.
"Aku tidak akan membunuhmu, karena membunuhmu hanya akan merepotkanku lebih jauh. Aku akan menyegel kekuatanmu, membuatmu menjadi orang biasa tanpa kekuatan apapun. Hanya dengan begitu aku akan tenang."
Loki memegang kepala Kirito, sambil mengucapkan mantra aneh.
"I who rule over both power and weakness...
Pandangan Kirito menjadi buram,
"Your power shall be limited by my command, "soul bind"
Kesadaran Kirito menghilang setelah mantra itu selesai.
Chapter bonus...
The legend
Part 1
Di dalam hutan lebat dengan pohon pohon besar yang menjulang tinggi, begitu lebatnya hingga hanya sedikit cahaya matahari yang dapat menembusnya. Monster berkeliaran dimana mana menguasai seluruh bagian hutan dan tidak akan membiarkan penyusup masuk melewati wilayah mereka. Suara suara yang keluar dari monster monster itu sangat menakutkan dan sangat jarang ada orang yang berani masuk jauh kedalam hutan ini.
Suara langkah kaki seseorang yang menginjak ranting dan rumput kering terdengar dari kedalaman hutan.
"Odin sialan, dia sengaja membuangku ke tengah hutan seperti ini. Jika aku masih memiliki kekuatanku, aku pasti akan segera kembali ke Asgard dan mengacak acak tempat itu." Dendam karena telah diasingkan ke dunia ini, marah karena dia dibuat menjadi seperti manusia lemah di dunia ini. Bukannya membuat sifat Loki membaik, tapi malah menjadikan pikirannya dipenuhi berbagai pikiran negatif.
Ksaahh... Tiba tiba muncul serigala hitam dari dalam semak di dekat Loki.
Grrrr... Serigala itu melompat dengan cepat ke arah Loki, memposisikan kaki depannya agar dapat menerkam dan merobek tubuh Loki dengan gigi gigi tajamnya.
"Jangan meremehkan aku, serigala bodoh!" Loki membanting tubuhnya ke samping, bergerak mundur memperjauh jarak antara dia dengan monster itu sampai menabrak sebuah pohon besar. Rasa sakit tak dihiraukannya dan segera kembali melihat monster yang baru saja menyerangnya.
Graaaaawwwrrr... Mengetahui sasarannya bergerak menjauh, serigala hitam itu berlari dengan cepat ke arah Loki. Mulutnya yang terbuka lebar dengan air liur yang menetes ingin segera merasakan daging segar seorang manusia yang belum pernah dia makan.
Loki juga tidak tinggal diam, dia mengarahkan tangan kanannya ke depan.
"Lightning bolt!"
Muncul bola petir seukuran genggaman tangan dan Loki segera mengarahkannya ke serigala hitam yang berlari kearahnya. Kilatan petir terjadi seketika, serigala hitam itu berhenti karena terkena kejutan listrik. Namun setelah beberapa saat, serigala itu mulai berlari kembali lebih cepat dari yang sebelumnya.
Tch.. Tidak ada pengaruh rupanya... Loki bergumam setelah mengetahui sihirnya terlalu lemah untuk membunuh monster itu.
"Lightning bolt, lightning bolt, lightning bolt, lightning bolt, lightning bolt, lightning bolt!"
Serangan bertubi tubi dikeluarkan oleh Loki, serigala itu tidak dapat menghindar karena bola petir yang dikeluarkan Loki bergerak sangat cepat.
Bam, bam, bam. Seluruh serangan loki tepat mengenai tubuh serigala itu.
Tubuh monster itu mendapat luka serius setelah terkena serangan Loki, mulut robek dan luka bakar yang parah membuatnya kesakitan dan mati.
Setelah yakin serigala itu benar benar mati, Loki mulai berjalan lagi. Kemarahan tampak sangat jelas dari wajahnya yang memerah.
"Hinaan macam apa ini! Selemah inikah aku, hingga serigala bodoh macam ini baru bisa mati setelah terkena 7 kali sihirku! Aku bahkan kehabisan mana setelah mengeluarkan sihir selemah itu. Jika aku masih memiliki kekuatanku, aku bahkan dapat membunuh monster itu dengan mudah.
Aaaarrggghh... Aku ingin segera menjadi kuat. Aku ingin segera menghancurkan para dewa yang membuatku begini.
Aku harus mencari cara agar tubuh ini dapat menjadi kuat lagi. Si Odin tua bangka itu hanya menghilangkan kekuatanku, tapi dia tidak bisa menghilangkan pengetahuanku. Aku masih bisa menjadi kuat lagi jika aku melatih tubuh ini."
Didalam pikirannya hanya ada satu ambisi, yaitu menghancurkan dunia yang telah membuatnya menjadi lemah seperti ini. Hanya dengan menghancurkan Aeria, jalan yang menghubungkan ke Asgard akan bisa dilewati oleh Loki.
"Tunggu saja pembalasanku, jika kalian semua begitu menginginkan Ragnarok terjadi, aku akan dengan senang hati mempercepatnya!"
Dengan menggunakan segala cara yang ada di benaknya, Loki mulai mencari ide jahat yang pada masa depan akan membuat banyak kekacauan di dunia ini.
Part 2
100 tahun berlalu setelah Loki dikirim ke dunia ini.
Di sebuah dataran yang sangat luas, matahari sedang memancarkan cahaya terpanasnya pada siang hari. Namun puluhan ribu orang yang berada di dataran itu tidak menghiraukan panasnya matahari, yang ada di pikiran mereka adalah musuh didepannya.
Kerajaan Dorudia melawan pasukan sihir raja maou.
Setiap orang yang berada di kerajaan Dorudia memiliki kepercayaan bahwa mereka adalah pelindung dunia ini. Mereka dianugerahi bermacam macam kekuatan spesial, dan secara turun temurun mewariskan kekuatan itu kepada anak cucu mereka.
Hari ini, mereka semua bersiap di medan pertempuran ini, mempertahankan kerajaan mereka dari serangan maou yang terkenal memiliki pasukan sihir yang tak tertandingi.
Pasukan maou terdiri dari bermacam macam monster yang dihipnotis dan dibuat menjadi sangat ganas. Menghancurkan dan membunuh musuh yang ada di depannya, hanya itulah yang ada di pikiran mereka setelah dihipnotis.
Beberapa kerajaan di timur telah musnah akibat serangan maou hanya dalam kurun waktu 3 bulan. Tidak ada yang tersisa dari kerajaan yang diserang, sebagian besar penduduk dibunuh tanpa memperdulikan wanita ataupun anak anak dan hanya sedikit yang dapat meloloskan diri.
Kerajaan Dorudia tidak tinggal diam, mereka mengirimkan permintaan bantuan kepada kerajaan sekitar untuk bersama sama menghentikan tirani sang maou. Hasilnya, pasukan gabungan dari lima kerajaan ditambah pasukan dari kerajaan Dorudia mencapai jumlah 350.000 pasukan.
100.000 pasukan paladin yang memiliki pertahanan kuat, menjadi barisan depan formasi perang. Diikuti dengan knight yang menaiki kuda berjumlah 100.000 pasukan, sedangkan sisanya adalah archer, priest dan mage yang masing masing berjumlah 50.000 pasukan.
Suara gemuruh dari langkah kaki pasukan monster menandakan awal dari peperangan ini. Puluhan ribu pasukan monster berlari menyerang dengan cepat ke barisan pertahanan kerajaan Dorudia.
"Archer siapkan panah dan mage keluarkan sihir terkuat kalian, tunggu aba abaku!"
Salah satu panglima perang yang memimpin pasukan pemanah dan penyihir mengucapkan itu sambil mengamati pasukan monster yang maju menyerang. Menunggu dengan sabar hingga mereka memasuki jarak tembak.
"Seraaang!" Panglima perang itu mengangkat pedangnya tinggi tinggi lalu mengarahkan ke musuh sebagai tanda dimulainya serangan.
"Fire arrow" "lightning arrow" "death arrow" "wind arrow"
Pasukan archer melepaskan panahnya kelangit, jarak 300 meter antara mereka dengan pasukan monster adalah jarak serangan terjauh dari panah sihir. Jika melebihi dari jarak itu, panah sihir yang mereka keluarkan tidak akan mampu menembus kulit monster yang sangat keras.
Panah yang dimantrai sihir elemen melaju dengan cepat kearah pasukan monster.
Langit menghitam akibat panah yang dilepaskan oleh 50.000 pasukan archer secara bersamaan. Hujan panah jatuh tepat pada pasukan monster yang menyerang, dan karena monster monster itu dihipnotis dan direbut kebebasannya, mereka tidak bisa bereaksi menghindar ataupun bertahan dari serangan panah. Ribuan monster yang memiliki pertahanan yang lemah langsung mati akibat panah yang menembus bagian vitalnya.
Monster yang terkena panah yang dimantrai sihir elemen langsung mati, tidak peduli bagian tubuh mana yang terkena. Terbakar oleh panah api, hangus oleh panah petir, dan lubang yang cukup besar di dada dan kepala akibat panah yang menembusnya. Tanah tertutupi darah dan mayat monster yang mati, hampir 2000 monster mati akibat serangan ini.
Monster yang masih dapat bertahan dari serangan itu hanyalah yang mempunyai vitality atau defense yang tinggi. Hydra dapat meregenerasi bagian tubuhnya yang hancur, Dragon dapat bertahan karena sisiknya yang sangat keras dan tebal, Cyclops menggunakan sihir iron skin untuk bertahan, dan beberapa jenis monster lainnya yang memiliki pertahanan kuat.
"Pasukan mage, lepaskan sihir terkuat kalian!"
Melihat monster monster besar yang tidak terluka sedikitpun dari serangan pasukan archer, sang panglima perang memerintahkan pasukan mage untuk menyerang.
"Nature bind" sihir untuk menghentikan gerakan dilepaskan, ribuan monster yang menyerang terdiam di tempat, tidak bisa bergerak seperti ada ribuan pengekang yang menghambat mereka.
"Wahai api yang perkasa, tunjukkan kekuatanmu! Berikan hukuman langit kepada musuh didepanku! Meteor rain!" Sihir tingkat tinggi dikeluarkan oleh pasukan mage.
Memerlukan 6 mage yang menggabungkan mana, agar kekuatan asli dari sihir ini dapat dikeluarkan.
Awan di langit menjadi kemerahan layaknya matahari senja, batu berpijar yang sangat besar jatuh dari langit tepat kearah monster yang terkena belenggu sihir. Satu, dua, tiga meteor, dan hingga akhirnya mencapai jumlah ratusan meteor yang jatuh.
BOOOOOOOOOOOOOMMMMM...
Getaran yang sangat kuat menyertai ledakan meteor itu. Awan panas yang bercampur debu terbang menyebar ke segala arah. Monster yang berada di luar jangkauan serangan meteor diterbangkan akibat gelombang kejut dari ledakan itu dan mati terkena pecahan batu meteor yang menyebar.
Hydra yang memiliki kemampuan regenerasi dan Dragon yang memiliki pertahanan yang kuat, menjadi sasaran utama meteor rain. Monster monster itu hancur tak berbekas, hanya kawah yang sangat besar yang tercipta dari benturan meteor itu menunjukkan kekuatan destruktif dari sihir meteor rain.
Melihat keadaan pasukan musuh yang berantakan, sang panglima perang lalu memerintahkan kepada seluruh pasukannya.
"Pasukan Paladin, maju ke arah musuh dengan perlahan! Kokohkan pertahanan kalian, jangan sampai musuh menembusnya!
Pasukan Knight, keluar dari barisan dan bentuk squad masing masing 200 pasukan! Kalian bertugas mengacaukan barisan musuh!
Pasukan archer, persiapkan senjata kalian! Hancurkan musuh yang berada di jarak serang! Support pasukan Paladin yang berada dalam bahaya!
Pasukan mage, keluarkan semua sihir terkuat kalian!
Pasukan priest, support seluruh pasukan dengan buff yang kalian miliki!
Saatnya kita menyerang balik dan menang!"
"OOOOOOO..." Ratusan ribu pasukan kerajaan serentak maju menyerang.
Part 3
Telah hampir sebulan lamanya perang ini berlangsung. Pasukan Dorudia memenangkan pertempuran dan menghancurkan seluruh barisan pasukan monster, namun saat mereka maju menyerang ke kastil tempat sang maou berada, mereka dihadang oleh pasukan utama yang berjumlah sekitar 1000 prajurit.
Pertahanan mereka sangat kuat, bahkan tidak bergeming setelah terkena serangan jarak jauh dari pasukan mage dan archer. Baju zirah yang sangat tebal menutupi seluruh tubuh, dari lubang di penutup kepala mereka terlihat mata merah yang menakutkan.
Langit berubah hitam seperti malam hari, sesak dan perasaan seperti tertekan oleh beban berat dirasakan oleh pasukan manusia, bahkan ada yang muntah mengeluarkan seluruh isi perutnya karena tidak tahan dengan aura menjijikkan yang dirasakan. Sosok orang bertubuh besar yang memakai jubah hitam terlihat melayang di udara tepat diatas prajurit maou. Dia adalah sang maou, pusat dari kekacauan yang telah menghancurkan beberapa kerajaan di timur.
"Cobalah lawan makhluk buatanku "Chimera". Aku membuat mereka dari arwah orang orang yang dibunuh oleh pasukanku. Arwah yang tak terhitung banyaknya menjadi medium penggerak makhluk ini.
Tapi jangan khawatir, Chimera bisa dibunuh tapi itu akan membuat arwah yang terperangkap di baju zirah itu hancur. Jika kalian tidak memperdulikan nasib roh roh malang yang terperangkap, maka bantai saja pasukanku sesuka kalian.
Hahahahaha..."
Setelah mengatakan itu, sang maou menghilang.
Langit berubah menjadi normal kembali, aura menakutkan itupun menghilang.
"AAAAAAAAAAAAAAAAAA..."
Suara menakutkan terdengar dari pasukan Chimera, seperti teriakan ribuan orang yang menderita, ketakutan, dan putus asa bercampur menjadi satu, mungkin seluruh roh yang terbelenggu di dalam baju perang yang tebal itu masih memiliki kesadaran.
Pasukan Chimera maju menyerbu, pasukan manusia menjadi bingung. Apa yang harus dilakukan, haruskah menghabisi monster ini yang akan membuat roh didalamnya ikut hancur? Ataukah ada cara lain?
Pasukan Chimera semakin mendekat, sang panglima yang menyadari pasukan manusia dalam kondisi yang tidak menguntungkan, segera memerintahkan kepada pasukannya,
"Seluruh pasukan, hentikan serangan. Mulai sekarang membebaskan roh saudara kita yang terperangkap adalah prioritas utama.
Priest gunakan kekuatan kalian untuk membebaskan roh mereka, pasukan Paladin perkuat pertahanan kalian, pasukan mage dan archer bantu pertahanan garis depan."
Part 4
Pasukan manusia terdesak mundur akibat serangan monster Chimera. Korban berjatuhan di pihak pasukan manusia, 150.000 pasukan kehilangan nyawa pada perang ini. Pasukan Chimera tidak hanya kuat, mereka dapat berubah menjadi sosok manusia yang rohnya sedang terbelenggu didalam tubuh mereka dan membuat pasukan manusia menjadi gentar untuk balik menyerang.
"Apa kau akan membunuhku lagi?"
"Aku tidak ingin mati!"
"Tolonglah aku!"
Kata kata itu seringkali terdengar, membuat para prajurit kehilangan semangat bertarung dan mudah dikalahkan. Pasukan Priest telah berjuang sekuat tenaga hingga akhirnya mereka dapat membebaskan 200 Chimera, membuat roh yang terkurung didalamnya terbebas dan dapat beristirahat dengan tenang kembali. Namun pasukan manusia juga berkurang hingga hanya tersisa 20.000 pasukan.
Tempat ini bernama Warden Plains, sebuah bukit yang sangat strategis sebagai tempat pertahanan. Berada di perbatasan wilayah timur kerajaan Dorudia, benteng yang besar dan kokoh telah dibangun, dan tempat ini adalah pertahanan terakhir pasukan kerajaan Dorudia.
Pasukan gabungan dari 6 kerajaan hanya tersisa 20.000 pasukan, bertahan di dalam benteng. 6 kerajaan terbesar di benua ini telah menggabungkan kekuatan untuk menghadapi sang maou dengan mengirimkan sebagian besar pasukan elit-nya. Jika pasukan ini kalah, maka bisa dipastikan seluruh kerajaan di benua Aurupenia ini akan musnah.
Bertahan di benteng ini terus menerus sangat tidak mungkin, pasukan musuh pasti memiliki cara untuk menghancurkan benteng ini. Sang panglima perang hanya bisa berharap keajaiban terjadi dan menolong mereka dari maut yang akan segera datang.
Part 5
Di kastil milik maou.
"Raja maou, kekacauan yang kau lakukan akan berakhir di sini. Demi pengorbanan dari teman temanku, aku akan menghabisimu di tempat ini!"
Seorang adventurer masuk ke ruangan tempat sang maou berada, dengan memasang kuda kuda siap bertarung dan menghunus pedang sihir berwarna hitam yang diberi nama "lapis".
"Hoo, aku memuji keberanianmu masuk ke tempat ini. Jangan kau kira dengan mengalahkan 72 pasukan sihirku, kau bisa dengan mudah membunuhku.
Baiklah, aku akan meladenimu sebagai pengusir kebosanan. Jangan mati terlalu cepat!"
Sang maou, yang duduk santai di singgasananya tersenyum kecil melihat seorang penyusup yang hanya datang sendirian berani menantangnya. Aura kegelapan di sekitarnya bertambah kuat, membuat seluruh ruangan dipenuhi suasana mencekam, gelap, dan menakutkan.
300 adventurer melaksanakan misi rahasia untuk membunuh sang maou, seseorang yang menjadi penyebab semua kekacauan dan peperangan ini terjadi. Dinamakan misi suicide squad karena misi mereka yang menyerang kastil dan membunuh sang maou yang dijaga oleh 72 pasukan sihir dirasa mustahil, dan jika berhasil pasti akan banyak korban berjatuhan.
Adventurer seperjuangannya mengorbankan nyawa mereka menghadapi pasukan sihir yang menghadang, memberikan jalan pada rekannya untuk segera menuju ke tempat sang maou dan mengalahkannya.
"Hiaaa.."
Adventurer itu melompat menyerang ke arah maou, kecepatan dan tinggi lompatannya sangat luar biasa. Tidak dapat dipercaya bahwa manusia yang dikenal lebih lemah dari ras yang lain bisa memiliki kecepatan seperti itu, hanya dengan sihir body strengthening tingkat master-lah yang dapat membuat manusia sekuat ini. Namun untuk mendapatkan sihir ini diharuskan untuk melatih tubuh mulai dari masa kecil, jika tubuh tidak dilatih maka sihir ini malah akan menghancurkan tubuh penggunanya.
Sang maou hanya diam di singgasananya, bahkan saat pedang hitam hampir menebas tubuhnya, dia malah tersenyum.
Traangg..
Suara logam yang beradu menggema ke seluruh ruangan.
Adventurer yang bernama Gil, menyadari serangannya telah ditangkis segera mengelak ke samping sambil merendahkan tubuhnya ke lantai kerena merasakan serangan balasan akan datang.
Benar saja, sebuah pedang menebas tempat dimana leher Gil barusan berada. Jika Gil tidak memiliki sihir future prediction yang selalu aktif pada saat bahaya, dia sudah pasti dibunuh dalam sekejap. Sihir ini sesuai dengan namanya dapat memprediksi bahaya yang akan datang, namun sihir ini tidak akan berguna jika manusia yang menggunakannya memiliki reflex dan mindset lambat.
Gil langsung mengambil jarak dari sang maou, mengatur pernapasan dan mengamati celah yang dapat dimanfaatkan untuk serangan.
"..!?" Gil terkejut melihat situasi gawat di depannya. Puluhan pedang yang beraneka ragam bentuknya melayang keluar dari kegelapan dibalik singgasana raja maou, sebuah pedang yang tadi hampir menebas leher Gil tampak melayang di depan raja maou seolah melindunginya. Puluhan pedang itu memiliki kesamaan yang mengerikan, semuanya mengarah tepat ke dada Gil. Tidak, lebih tepatnya pedang pedang itu mengarah tepat ke jantungnya.
"Aku sudah mengira situasi ini akan terjadi, maka aku mengumpulkan artefak sihir dan membuat semuanya menjadi senjata pribadiku. Kalian manusia hanya bisa menggunakan maksimal 3 buah relic sihir, namun aku bisa menggunakan relic sihir sebanyak yang aku mau. Kekuatan kalian sangat jauh dibawahku! Hahahaha!"
Aku tidak akan selamat! Ribuan cara untuk melarikan diri berputar putar di kepalanya seolah menyuruhnya untuk lari saja. Keringat dingin keluar, jantungnya berdegup kencang, Gil tahu bahwa setiap pedang yang melayang di udara adalah relic tingkat tinggi yang dapat memotong baja sekalipun dengan mudah. Bahkan Gil tidak menyadari ada yang mendekatinya dari belakang.
"Hei, Gil! Tenangkanlah dirimu. Kami telah sampai, ayo hajar maou sialan itu dengan segenap kekuatan kita!"
Alfred berteriak dari kejauhan dan bergegas menuju Gil bersama 3 rekan yang lain. Mereka menepuk pundak Gil, memberikan semangat kepada teman karibnya itu tanpa memperdulikan puluhan pedang yang siap menyerang mereka.
"Ya, jangan takut. Jika kita ditakdirkan mati, matilah dengan bangga karena telah berusaha menegakkan keadilan. Lagipula maou itu tidak seseram Silphie ketika sedang marah!"
Oscar juga membantu menenangkan Gil, memberikan kepastian bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan di dunia ini.
"Hei! Apa maksudmu bicara begitu! Hmph..!
Gil, kau adalah pemimpin kami! Jadilah layaknya seorang pemimpin dan segera habisi maou itu!" Silphie juga memberikan dukungannya kepada Gil.
"Hm hm.." Irina yang jarang berbicara pun ikut mendukung Gil.
Gil yang mendengar itu tersenyum. (Aku tidak sendiri, aku masih memiliki teman.
Ya! Teman temanku adalah hal yang paling penting dalam hidupku! Bersama mereka aku tertawa, menangis, berbagi, dan saling membutuhkan satu sama lain. Aku harus mengakhiri peperangan ini dan berkumpul bersama mereka lagi). Merasakan kehangatan dari dadanya, Gil menguatkan tekadnya Maou harus dikalahkan agar dunia ini kembali diselimuti kehangatan dari kasih sayang, agar semua orang kembali merasakan kedamaian.
"Apa sudah selesai bicaranya? Aku mulai bosan mendengarkan ocehan kalian, bertambah menjadi 5 pengganggu tidak akan merubah apapun. Kalian akan tetap kalah, itu sudah menjadi takdir kalian!" sang maou bersiap menyerang, 2 pedang melayang mendekat dan dipegang oleh kedua tangannya.
"Dual blade: infinite hollow" kedua pedang itu menyatu dengan aura sang maou.
"Kalian semua, terima kasih! Baiklah, ayo kita akhiri ini!"
"Yooooshh..."
Name: Gil
Class: berserker
Title: swords hunter
Level: 173
Health: 12050
Mana: 6800
Attribute:
Strength: 728 (B)
Agility: 967 (B+)
Vitality: 934 (B+)
Magic: 346 (C)
Wisdom: 278 (C)
Skill/keahlian:
-future prediction
-mana control
-berserk mode
-unseal limiter
-body strengthening
-body strengthening maximal
-aura explode
-burn stamina
-secret art single sword technique
-secret art dual swords technique
Part 6
"Siiiiiiillphieee..."
Aku Gil, segera menuju ke arah Silph yang sekarat akibat terkena serangan sihir mematikan yang mengarah kepadaku. Dia melindungiku dengan tubuhnya sendiri, aku bahkan tak bisa berkata kata, air mataku mulai mengalir tidak terkontrol. Rasa kehilangan yang sangat kuat mulai muncul di pikiranku.
Tak menghiraukan luka tubuhku yang juga parah, aku menggotongnya sejauh mungkin dari sang maou dan membaringkannya di pangkuanku. Aku mengeluarkan sihir penyembuh untuk mengobati lukanya, namun tangan kecil yang penuh luka menghentikanku.
"Jangan menyia-nyiakan mana yang kau punya. Sang maou masih belum dikalahkan.. Uhukh... Hadapilah maou, gunakanlah pedang "windfarl" milikku. Aku akan memunggumu disini.."
Suaranya sangat lemah, keluar darah dari mulutnya. Aku tahu keadaan Silph sangat parah, tapi aku tidak bisa menolak anjurannya. Sang maou harus dikalahkan agar tidak ada yang menderita lagi.
"Tenanglah di sini Silph aku akan segera kembali setelah mengalahkan maou. Minumlah potion ini, agak kau bisa bertahan hingga aku kembali."
Silph hanya bisa mengangguk pelah sebagai respon, kulitnya yang putih tampak pucat.
Silph menjadi seperti ini karena maou, Silph menderita karena maou. Hal itu membuatku marah, otot di seluruh tubuhku menegang, jantung berdegup kencang, mataku menjadi panas dan yang terlihat oleh mata ini hanyalah sang maou jauh didepanku.
"Berserk mode, unseal limiter, body strengthening maximal, aura explode, burn stamina"
Aku mengeluarkan semua jurus sihir terlarang yang aku pelajari, aku tidak peduli resiko apapun. Aku harus segera mengalahkan maou itu.
Dashh...
Lompatan secepat kilat, aku dengan cepat sampai ke tempat kedua temanku yang bertahan dari serangan sang maou. Mereka juga telah mengeluarkan sihir terlarang tanpa pikir panjang tentang resikonya, sepertinya maou ini sangat kuat sehingga kami bisa sampai dipermainkan seperti ini.
Kami ber 3 menghadapi sang maou dengan segenap kekuatan.
Aku menjadi ujung tombak formasi serang, Alfred membantu menyerang dari arah samping, dan Irina mensupport kami dengan sihirnya.
"Hoo, aku memuji ketangguhan kalian karena bisa menghadapiku cukup lama. Tapi sepertinya kalian sudah kehabisan stamina?"
"Kami masih bisa bertarung, kami tidak akan menyerah!"
Suasana berubah, ekspresi sang maou berubah menjadi serius.
"Aku paling benci orang yang tidak mengetahui batasan dirinya sendiri. Sudah cukup, aku akan mulai serius!"
Dashh...
Dalam sekejap, maou berpindah tempat tepat di depan Albert. Kedua pedangnya telah bergerak menebas dari kiri dan kanan bersamaan.
"Ughh.."
Reaksi Albert sedikit terlambat saat menghindar, di leher dan dadanya mengucur darah dari luka sabetan pedang. Aku berlari menghadang maou yang ingin menyerang Albert, memberikan serangan bertubi tubi kepadanya untuk memberikan waktu kepada Albert meminum potion healing.
"Heal" terdengar suara halus bagaikan bel, Irina berusaha menghilangkan luka yang dialami Albert.
Trang, trang trang... Gil menangkis semua pedang yang meluncur ke arahnya.
(Aku sungguh berterima kasih pada Irina, walaupun tidak memiliki sihir serangan tapi dia sangat membantu kami dalam hal support). Gil tersenyum kecil, hatinya yamg dipenuhi kekhawatiran sudah lenyap. Kini hanya ada tekad kuat yang tidak akan goyah.
(Kalau kuingat ingat, Silph pernah mengatakan kalau dia menyukai sifatku yang pemberani dan pantang menyerah. Apa aku memang seperti itu? Bukankah tadi aku ketakutan karena sendirian menghadapi maou? Bukankah itu berarti aku bukanlah pemberani namun seorang pengecut?)
Gil hanya bisa tersenyum saat mengingatnya, (jika memang seperti itu, aku hanya perlu menunjukkan kalau aku adalah seorang pemberani!).
Kuda kuda Gil berubah, kedua kaki agak ditekuk dengan kaki kiri berada di depan dan kedua pedang "lapis" dan "windfarl" diposisikan menyilang ke depan. Dengan mengumpulkan semua mana yang tersisa ke pedangnya, dan memperkuat aura-nya sebagai pelindung tubuh, Gil menyentakkan kakinya sekuat mungkin dan berlari dengan cepat kearah maou.
(Ingat ingatlah seluruh gerakan maou, pelajari dan cari kelemahannya!
Aku akui dia sangat kuat karena bisa mengendalikan relic sihir sebanyak itu. Tapi setelah sekian lama dia menggunakannya, aku tidak merasakan pengurangan kapasitas mana ataupun kelelahan. Tidak mungkin ada orang di dunia ini yang sanggup mengendalikan 72 relic tanpa kelelahan, sekuat apapun orang itu!
Pasti ada trik khusus! Aku harus mengetahui itu, dan menghancurkannya!)
"Lagi lagi serangan langsung, apa kau tidak punya kemampuan lain selain mengayunkan pedang tumpulmu itu?"
Raja maou segera mengendalikan puluhan pedangnya, menyerang dari segala arah untuk menghalangi Gil.
"Secret art: wind pressure"
Sambil terus berlari, Gil menebas kedua pedangnya kearah puluhan pedang yang menyerangnya. Tebasan yang sangat cepat menghantam setiap pedang yang menyerang Gil.
Trang, trang, trang trang...
Namun, relic tentu saja sangat kuat. Walaupun Gil telah mengeluarkan jurus andalannya yang bahkan bisa membelah rumah dengan mudah, tapi relic yang terkena serangannya hampir tidak terpengaruh.
(Cih, aku hanya bisa mengubah sedikit arah serangannya agar tidak melukaiku. Kalau begini lama kelamaan aku akan terdesak. Aku harus menerobosnya!)
Disaat Gil dikepung oleh puluhan relic pedang, muncul bantuan dari Alfred dan Irina.
"Gil, kalahkan raja maou. Biarkan kami berdua yang mengurus semua relic yang mengejarmu!"
Gil mengangguk,
"Lightning step"
Mengumpulkan mana di kaki, Gil melangkah zing zag dengan sangat cepat hingga relic pedang yang mengejar tidak sanggup mengikuti gerakannya. Hanya dalam sekejap dia telah sampai di hadapan maou.
Kilatan hitam secara tiba tiba muncul kearah Gil.
Menyadari bahaya didepannya, Gil berusaha mengelak ke samping. Namun..
"Gahhk..."
Kilatan hitam itu ternyata adalah salah satu pedang yang dipakai maou, menebas kaki kanan Gil dengan luka yang cukup dalam.
"Apakah kau tahu? Aku tidak akan kalah dari siapapun dalam hal kecepatan!"
Serangan kilat yang bertubi tubi dikeluarkan maou.
Slash, zret, zret...
Gil hanya bisa bertahan ditempatnya sambil menahan rasa sakit di kakinya, luka akibat serangan dari maou mulai bertambah seiring serangannya.
(Pasti ada kelemahannya, aku harus mencarinya!)
Bertahan dari serangan maou, Gil terus mencari kelemahan sang maou.
Dari balik jubah yang dikenakan maou, terlihat sedikit cahaya yang menembus.
(Apa mungkin benda itu?)
"Lightning slash"
Menarik kesimpulan dalam sekejap, Gil mengeluarkan serangan tercepatnya dan berharap sang maou lengah.
Serangan secepat kilat mengarah tepat ke benda di balik jubah maou.
Sang maou terkejut karena Gil menyerang tiba tiba dan dia tidak menghiraukan pedang yang sedang mengarah ke arah tubuhnya.
(Apa dia gila? Atau... !?)
Maou terlambat menyadari incaran Gil yang sesungguhnya.
Krakkk.. Krakk.. Suara benda yang retak dan hancur terdengar hampir bersamaan.
Gil tersenyum karena telah mengenai sasaran, lalu mundur mengambil jarak 10 meter dari maou.
Keheningan sesaat, Gil memperkuat kuda kudanya mengantisipasi serangan balik dari maou.
"Huaahahahahahahahahahahahahahhaha..."
Maou yang dari tadi menundukkan kepalanya, tiba tiba tertawa keras.
"Aku tidak menyangka kau bisa menyudutkanku hingga seperti ini. Seumur hidupku, hanya ayahku yang bisa mengalahkanku.
Kau cukup hebat karena bisa membuatku begini."
Alfred dan Irina yang sibuk menghadapi puluhan relic pedang kemudian bergabung bersama Gil untuk menghadapi maou.
"Oh, rupanya dia memiliki dragon crystal, pantas saja energi yang dimilikinya tidak terbatas.
Sekarang, ayo kita kalahkan dia!
Formasi segitiga!"
Gil menginstruksi kedua rekannya. Mereka bersiap menyerang maou.
"Jangan kalian kira dengan menghancurkan dragon crystal akan membuatku menjadi lemah, akan kubunuh kalian dan kujadikan prajurit yang patuh dan tunduk kepadaku!"
"Thunder rain!"
Sihir yang dikeluarkan maou menjadi awal pertempuran hidup dan mati ini.
...
Part 7
Sylphie yang menyandarkan tubuhnya di dinding kastil, masih dapat mendengar suara samar samar dari pertempuran yang terjadi di kejauhan. Tubuhnya yang terluka serius sudah tidak bisa disembuhkan bahkan oleh high health potion.
(Gil, Alfred, Irina. Aku harap kalian bisa mengalahkan maou dan mengembalikan keceriaan semua orang di dunia ini. Maaf, aku tidak bisa bersama kalian lagi.)
Sylphie hanya bisa mengedipkan matanya yang kini mulai mengeluarkan tetes demi tetes mutiara bening yang meluncur melalui pipi-nya dan jatuh ke lantai yang dingin.
(Gil, maafkan aku karena meninggalkanmu terlebih dahulu. Padahal aku sudah berjanji akan bertahan hingga kau kembali.)
Tubuh Sylphie tidak dapat digerakkan seolah ini bukan lagi tubuhnya. Hanya keinginan kuat untuk terus bertahan, yang membuat dia hidup hingga sekarang. Darah yang keluar dari lukanya masih terasa hangat, tapi tubuh Sylphie merasa sangat kedinginan.
(Hanya ada satu penyesalan dalam hidupku,
aku masih belum menyatakan perasaanku kepada Gil.
Aku yang memendam rasa cinta saat aku diselamatkan olehnya 10 tahun lalu. Mengikuti jejaknya menjadi seorang adventurer karena ingin bertemu dan berpetualang menjelajah dunia yang luas ini.
Terus menempel padanya agar dia sadar bahwa aku menyukainya. Memaksanya memanggilku dengan panggilan "Sylph", yang hanya orang tuaku yang memanggiku dengan nama itu sebagai tanda bahwa aku menyukainya. Memberikan tatapan yang menakutkan kepada setiap wanita yang ingin mendekati Gil-ku. Mungkin aku bisa disebut yandere.)
Kesadaran Sylphie semakin lemah. Matanya yang selalu memancarkan semangat tinggi kini menjadi hampa, kelopak matanya hampir menutup sempurna.
(Aku hanya memberikan tanda tanda bahwa aku menyukainya. Aku takut menyatakan cinta, aku sangat sangat takut jika jawabannya tidak sesuai dengan yang kuharapkan...
Aaahh... sepertinya aku akan mati...
Sebelum aku mati... aku ingin berharap kepada dewa pencipta. Agar aku dapat hidup kembali dan bertemu kembali dengan Gil di masa depan...).
Catatan:
halo reader SAO Takdir Pilihan!
Setelah berbagai kesibukan, akhirnya ada kesempatan untuk menyempurnakan ff ku.
Chapter bonus diatas adalah chapter utama yang aku buat sebagai pokok untuk menulis chapter selanjutnya. Jadi jika sempat, silahkan membaca chapter bonus ini agar tidak kebingungan waktu membaca chapter selanjutnya...
