Tangan Kuroko Tetsuya terkepal saat kedua kakinya melangkah keluar ruang sekre OSIS. Ekspresinya terlihat tengah menahan rasa sakit karena kedua alisnya berkerut. Ia melihat jam tangan di pergelangan tangan kirinya sebelum mulai berlari kecil menuruni tangga.

Saat ingin berbelok ke kiri, ia langsung berbalik menuju arah sebaliknya. Tangan kanan Kuroko tampak tersimpan di saku celana hitamnya lalu mengeluarkan sesuatu dari saku tersebut. Suara pintu kamar mandi yang dibuka secara perlahan terdengar dan mengundang perhatian seseorang yang tengah berdiri di ujung koridor lainnya. Kemudian langkah kaki Kuroko terhenti tepat di depan wastafel kamar mandi.

Sraaash.

Ia buka benda berbentuk tabung kecil berisi belasan kapsul warna merah.

Kuroko menghela napas pelan melihat benda itu. Jemarinya ia masukkan ke dalam sana lalu mengambil salah satu kapsul. Setelahnya ia gunakan tangan kiri untuk menampung air yang mengalir dari kran sementara tangan kanan menaruh kapsul ke dalam mulut. Tak butuh waktu lama untuk Kuroko menelan habis benda yang selama ini jadi penghilang rasa sakit dan nyeri pada bagian lambungnya.

Setelah rasa sakit itu benar-benar hilang, Kuroko kembali menjalankan tugasnya sebagai anggota Seksi Dekorasi yang saat ini sedang ditugaskan untuk membantu Seksi K3.

Tap, tap.

Baru dua langkah ia keluar dari kamar mandi, Akashi Seijuurou menyambut dirinya.

Dengan wajah datarnya Kuroko bertanya, "Akashi-kun sedang bebas?"

Tiba-tiba saja Akashi melempar sebuah sandwich babi Iberia yang terkenal dengan kelezatan serta harganya yang super mahal seantero SMA Teikou. Tidak tanggung-tanggung, harga mediumnya saja sampai 2.800 yen. Kuroko berhasil menangkap roti tersebut sebelum jatuh ke lantai.

"Akashi-kun?"

Laki-laki itu sempat tersenyum kecil. "Makanlah."

Saat Akashi berbalik, Kuroko baru tersadar dari rasa bingungnya. "Arigatou, Akashi-kun," ucapnya pelan, namun bisa terdengar sampai ke telinga sang Ketua Seksi Acara.


Kuroko no Basuke Disclaimer by Fujimaki Tadatoshi

CRUSH by Oto Ichiiyan

Rate : T

Genre : General, Romance, Friendship, School Life

Pairing : KurokoxAkashi [with all pairing]

Warning : OOC, Typos, dsb. Just for fun, minna-san! ._. Hope you enjoy it.


Kedua mata krimson milik Akashi memperhatikan keadaan sekitarnya. Hampir semua panitia sudah berkumpul kembali setelah mengambil tas di sekre OSIS. Rapat evaluasi pun sudah selesai sejak beberapa menit yang lalu. Ia memperhatikan keadaan di samping kanan panggung utama dan masih ada beberapa stand yang tengah membereskan barang-barangnya. Begitu juga di samping kiri panggung. Salah satu anggota Seksi Acara dan Bendahara juga masih nampak sibuk berbicara dengan penyewa panggung.

"Otsukaresama deshita, Akashicchi!" seru seseorang yang ia kenali bernama Kise Ryouta, salah satu anggota Seksi Pudok atau Seksi Publikasi dan Dokumentasi.

"Hm, otsukaresama," balas Akashi sambil mengangguk.

"Kurokocchi masih di sekre, ya?" tanya laki-laki enerjik itu.

"Sepertinya," jawabnya dengan singkat, padat, dan tidak jelas.

Kise menggangguk pelan kemudian menatap kamera SLR yang tergantung manis di lehernya. Entah sudah ke berapa kali ia tersenyum lebar saat melihat foto-foto yang sudah ia ambil seharian ini. Tapi dari ratusan foto yang tersimpan, hanya satu yang membuatnya harus mati-matian menahan tawa. "Akashicchi, mau lihat sesuatu yang lucu, tidak-ssu?" tawarnya dengan baik hati.

Akashi hanya melirik sekilas lalu kembali fokus merapihkan barang bawaannya yang ada di tas. "Tidak, terima kasih, Kise."

Bibir Kise tampak maju beberapa centi. "Akashicchi nggak asyik, ah!"

"Memang," sahutnya lagi dengan nada cuek.

Wajah cemberut laki-laki berambut pirang itu berubah dalam beberapa detik begitu melihat sosok Kuroko Tetsuya yang sedang keluar dari gedung utama Teikou dengan sang Ketuplak di sampingnya. "Kurokocchi! Ke sini-ssu!" seru Kise sambil melambaikan tangan kanan.

Kedua laki-laki itu berhenti melangkah tepat di depan Kise.

"Semuanya sudah berkemas?" tanya Midorima pada para panitia dengan nada keras.

"Sudah!" seru panitia lainnya, termasuk Kise dan Kuroko.

"Kita jargon dulu sebelum pulang!"

Sesuai perintah Ketuplak, semua berkumpul membentuk lingkaran dengan tangan kanan terjulur ke depan. Kuroko melirik sebentar ke arah Akashi yang ikut jargon dari balik tubuh raksasa Murasakibara yang kini jadi penghalang di antara mereka. Midorima menarik napas sebelum mulai memberi aba-aba.

"TEIKOUSAI KELIMA!"

"SUKSEEES!"

Senyum bahagia bercampur rasa lega terlihat jelas di wajah para panitia.

"Semua panitia foto dulu!" Seseorang yang dikenali Kuroko yaitu Nijimura Shouzo berlari kecil menghampiri mereka. Mayuzumi serta dua anggota lainnya yang termasuk dalam band NEO BLUE juga terlihat mengekori sang Mantan Kapten Ketua Klub Basket Putera itu. "Kise, pinjam kameranya," pinta Nijimura.

"Ini-ssu! Yang bagus ya, senpai!" seru Kise.

"Sip!"

Tak butuh waktu lama untuk mereka berfoto ria sebagai panitia Teikousai kelima. Setelahnya satu demi satu panitia mulai berjalan keluar sekolah termasuk band NEO BLUE, tapi tidak dengan Midorima dan kawan-kawan. Kise menahan kepulangan mereka dengan ide yang datang di otaknya secara tiba-tiba. "Ne, ne. Besok kalian ada acara?" tanya laki-laki itu pada Akashi, Midorima, Kuroko dan Murasakibara.

"Sebenarnya ada-no da yo, kenapa?" sahut Midorima.

Murasakibara menggigit maiubo-nya yang baru ia buka. "Tidak ada, sepertinya."

"Memang ada apa, Kise-kun?" Kuroko pun ikut bertanya.

"Begini-ssu, aku ingin kita semua kumpul-kumpul di rumah Kurokocchi untuk sekalian main dan lihat-lihat hasil foto yang ada di kamera ini," jelas Kise sambil mengangkat sedikit kameranya yang sudah tergantung kembali di lehernya setelah dipakai Nijimura. "Bagaimana? Panitia yang lain juga boleh ikut, kalau mereka mau," tambahnya.

"Tapi kenapa harus di rumahku?" tanya Kuroko dengan nada keberatan dan datar.

Kise tersenyum lebar. "Habis, rumah Kurokocchi sejuk dan nyaman. Betah lama-lama di rumah Kurokocchi. Nee, Murasakicchi?" tanya laki-laki beriris mata warna madu itu pada sang titan ungu di sampingnya.

"Menurutku, rumah Aka-chin yang lebih nyaman karena rumahnya besar."

Akashi menaikkan sebelah alisnya. "Besok aku ada urusan."

Midorima menaikkan kacamatanya yang sempat turun. "Ini terlalu mendadak, Kise."

Lagi-lagi bibir itu maju beberapa centi karena diprotes oleh sang Ketuplak. "Maaf-ssu, idenya datang begitu saja beberapa menit yang lalu." Ia menengok ke samping kiri, tempat si phantom berdiri. "Kurokocchi keberatan juga, ya?" tanya Kise dengan nada putus asa. Jujur saja, ia tak ada kerjaan besok. Kise tidak terlalu suka menghabiskan waktu libur kerja dengan tidur seharian.

Kedua mata Kuroko menatap ke langit. Itu kebiasaan dirinya saat sedang berpikir. "Hmm, besok Okaa-san, Otou-san, dan Obaa-san juga tidak di rumah. Jadi, kurasa tidak masalah kalau kalian ingin datang ke rumahku," tutur laki-laki berambut biru muda itu.

"YEEEY! Arigatou, Kurokocchi!" Dengan spontan, Kise memeluk leher Kuroko.

"Kalau begitu, terpaksa kubatalkan rencana awalku buat besok-no da yo."

Murasakibara melirik ke arah Midorima. "Memang ada rencana apa?"

Iris hijaunya melirik sebentar pada sosok yang bertanya padanya tersebut. "Bukan urusanmu-no da yo," sahut Midorima dengan nada sarkastik. "Jadi, besok jam berapa?" tanyanya pada Kise, si pembuat acara.

"Kurokocchi maunya jam berapa?" tanya Kise pada Kuroko.

"Jam sepuluh, mau?"

"Oke-ssu!" Senyum lebar terlihat jelas di wajah salah satu model yang sering jadi objek foto di majalah Zunon Boy itu. "Jadi, besok langsung ke rumah Kurokocchi saja. Jam sepuluh harus sudah kumpul, ya! Oh, aku akan ajak Aominecchi juga-ssu!" Lagi-lagi, ia memutuskan secara sepihak untuk mengundang satu orang lagi. "Kalau begitu, sampai ketemu besok!" pamit Kise seraya menempelkan ponsel touch screen warna hitam lalu menyapa seseorang di ujung sana dengan suara super cemprengnya.

"Kasihan, Mine-chin. Mudah-mudahan telinganya nggak bermasalah," harap Murasakibara sambil membuka bungkus maibou-nya yang ketiga. "Mido-chin, pulang bareng, ya?" ajaknya.

"Karena rumahnya searah, terpaksa aku terima ajakanmu-no da yo."

"U~n." Kraus, kraus, kraus. Raksasa itu kembali memakan maiubo-nya.

Midorima menatap Akashi dan Kuroko. "Kalian tidak mau pulang?"

"Ini baru mau pulang kalau Kise tidak menghalangi jalanku tadi," sahut Akashi.

Mendadak ingatan sang maniak Oha-Asa tentang kejadian tadi siang kembali muncul di benaknya. Ia berdeham sebentar. Mungkin ini bisa membantu, walau secara tidak langsung-no da yo. Tapi bukan berarti aku peduli dengan mereka. Pertarungan batin pun selesai dalam waktu seperkian detik. "Akashi, kau antar Kuroko sampai rumah-no da yo," perintahnya tanpa pikir dua kali.

Mendengar perintah itu, tentu saja Akashi mendelik. "Kau memerintahku?"

"Bukannya anak buah dan teman sekelasmu yang buat Kuroko sampai tidak melanjutkan acara makan siangnya lagi sampai habis?" sahut Midorima.

"Anoo, sebenarnya aku bisa pulang sendiri, kok," kata Kuroko.

Akashi menatap sebentar laki-laki berambut hijau itu lalu menghela napas. "Baiklah."

"Tapi—"

"Kuroko, hari ini kau dapat peringkat terakhir menurut Oha-Asa. Supaya kau tidak kena sial, biar Akashi yang menemanimu sampai rumah-no da yo. Lagipula, lucky item-mu ada di Akashi," jelas Midorima panjang lebar untuk memotong kata penolakan dari Kuroko.

"Mido-chin, ayo pulang~," ajak Murasakibara yang kini sudah membuka bungkus es krim batangan rasa anggur.

Kedua laki-laki tertinggi di tim reguler itu pun pergi meninggalkan Kuroko yang masih bingung dengan arah pembicaraan Midorima tadi. Masih terdengar jelas suara mereka yang tengah berdebat tidak jelas di telinga Kuroko. Ia menengok ke samping kiri, Akashi juga masih betah memperhatikan keduanya yang tidak pernah akur jika bertemu. Sebenarnya hubungan antar anggota tim reguler juga tidak bisa dibilang akur sepenuhnya, minus Kuroko dengan Aomine dan Akashi.

"Kairo ka? [Ayo pulang?]" Laki-laki bermata krimson itu membalas tatapan Kuroko yang sedari tadi menatapnya.

Ia mengangguk kecil lalu berjalan beriringan dengan Akashi.

Mereka terus berjalan sampai stasiun Teikou sambil sesekali membicarakan sesuatu.

"Mm, aku mau mampir ke konbini dulu. Mungkin agak lama karena mau cari cemilan untuk besok, Akashi-kun," kata Kuroko meminta izin. Sebenarnya ia berharap laki-laki di hadapannya ini bisa pulang duluan dan tidak perlu mengantarnya sampai rumah.

"Kalau begitu, aku ikut ke dalam. Sekalian ingin beli sesuatu."

"Eh?" Mata bulat berwarna biru itu mengekori Akashi mulai melangkah ke depan.

"Kenapa? Ada yang salah?" tanyanya sambil menengok ke belakang.

Beberapa kali kepala laki-laki berambut biru muda itu menggeleng, pertanda tidak ada yang salah. Kuroko mengambil sebuah keranjang untuk mengangkut makanan dan minuman yang akan dibelinya nanti. Untung saja ia bawa sebagian uang simpanannya selama sebulan ini di dompet. Sekali-sekali matanya melirik ke arah Akashi yang terus saja mengekor di belakangnya.

Sepuluh menit kemudian, mereka keluar dari konbini dengan Kuroko yang membawa sekantong plastik belanjaan. Akashi hanya membeli satu majalah sport dan minuman kaleng. Mereka duduk di bangku kosong sampai kereta datang.

"Inter High sebentar lagi, ya?" tanya Kuroko memulai pembicaraan.

"Ya, dan aku merasa tim kita harus lebih serius lagi saat latihan."

Rasa tidak puas terdengar jelas di sana.

"Lalu, apa yang ingin Akashi-kun lakukan?" tanya laki-laki itu lagi.

Seringain kecil nampak di wajah tampannya. "Tentu saja, summer camp."

Summer camp... Pikiran Kuroko kembali mengingat kejadian tahun lalu. Beberapa detik kemudian, mimik wajahnya berubah drastis. Aura suram terbaca jelas di sana. Baginya dan para anggota klub basket lain, summer camp itu bagaikan latihan di neraka. Memang terlalu berlebihan tapi jujur saja, Kuroko tidak terlalu suka latihan gila-gilaan di suhu yang cukup panas seperti tahun lalu.

Ia melirik ke samping kanan dengan takut-takut. "Kau tidak... mengajak kami latihan di pantai seperti yang dilakukan Nijimura-senpai, kan?"

"Kenapa memangnya? Bukannya latihan di pantai lebih menyenangkan?"

Kuroko bersumpah, baru saja sosok iblis Akashi menampakkan jati dirinya.

"...pfft..." Buru-buru laki-laki berambut merah itu memalingkan wajah.

"Kenapa tertawa?" tanya Kuroko bingung.

Akashi menutupi bibirnya dengan punggung tangan kiri sambil menoleh ke arahnya. "Ekspresi di wajahmu bisa kubaca dengan mudah sekarang, Kuroko." Gumaman tak jelas terdengar dari lawan bicaranya. Walau tak bisa melihat ekspresi laki-laki yang sebenarnya masih dibilang lugu itu dengan jelas, Akashi tahu kalau ia berusaha menyembunyikan wajah malunya.

Ia terlihat imut, bukan?

Tubuh Akashi nampak menegang untuk beberapa detik.

Apa yang kukatakan... tadi?

"Sepertinya Akashi-kun tidak perlu mengantarku sampai rumah. Kau pasti kelelahan," kata Kuroko sambil menatapnya sebentar.

Kedua tangan Akashi terlipat di depan dada. "Tidak. Aku akan mengantarmu sampai rumah sebagai rasa maaf dan terima kasih karena sudah membantu anggota Seksi Acara juga stand kelasku, Kuroko," katanya dengan nada seolah tak ingin dibantah. Melihat laki-laki berambut biru muda itu ingin bicara, ia langsung menyelak.

"Aku tidak terima bantahan."

Itu adalah perintah mutlak dari seorang Akashi Seijuurou.

Menghela napas pasrah, hanya itu yang dilakukan Kuroko.

"Oh iya, hampir lupa."

Alis sebelah kanan Kuroko terangkat sedikit begitu melihat Akashi yang membuka resleting tas dan mencari sesuatu di dalamnya. "Apa ada yang tertinggal?" tanya laki-laki itu, namun dijawab gelengan kepala oleh Akashi. Tiba-tiba saja sesuatu yang dicari tersebut sudah berada tepat di depan mata Kuroko. Sebuah gantungan tas berbentuk miniatur karakter favoritnya, yaitu Hatsune Miku terlihat masih terbungkus dengan rapi di dalam plastik bening. Entah kenapa detak jantungnya berpacu dengan cepat seketika.

Ia menelengkan kepalanya ke kiri. "Kau membelinya untuk siapa, Akashi-kun?"

"Tentu saja, untukmu," jawabnya singkat, padat, dan jelas.

"Huh?" Sepertinya ada yang salah dengan indera pendengaran Kuroko.

"Aku membelikan gantungan ini untukmu, Kuroko. Untukmu." Oke, terdengar jelas dari nadanya kalau Akashi mulai gemas dengan tingkat kelolaan sang phantom di saat-saat seperti ini. Tingkat kelolaannya bisa melebihi Aomine Daiki, menurut Akashi. "Masih perlu kuulangi sekali lagi?" tawarnya sambil tersenyum manis.

"Tapi kenapa tiba-tiba...?" tanya Kuroko yang masih setengah kaget.

Gantungan tersebut kini sudah berada di tangan pemain keenam Kisedai.

Senyum tipis masih bertengger di wajah tampan Akashi. "Tak apa, hanya ingin menyenangkanmu saja. Keberatan dengan itu?" tanyanya balik. Spontan, dijawab gelengan kepala berulang kali oleh Kuroko. "Syukurlah, kalau kau suka. Lumayan susah mencarinya, lho." Mendengar hal itu, tentu ia jadi tak enak hati walau ekspresinya masih terlihat datar seperti biasa.

"Terima kasih, Akashi-kun. Aku... suka."

Suka. Laki-laki berambut merah itu mendengarnya dengan jelas.

Kuroko menyukai benda pemberiannya.

Senyum Akashi makin melebar. "Hmm."


"Tak apa, hanya ingin menyenangkanmu saja. Keberatan dengan itu?"

—Akashi Seijuurou


Sesuai perjanjian di awal, mereka sampai di rumah si pemain bayangan Teikou sebelum jam 10 siang, minus Aomine Daiki yang terdengar baru bangun tidur saat Kise menelponnya. Misuh-misuh tidak jelas, itu yang dilakukan sang model sekarang. "Aominecchi, menyebalkan! Jam segini masih tidur? Yang benar saja-ssu!" kesalnya.

Murasakibara mengambil keripik kentang dari piring di depannya. "Mine-chin memang begitu. Jadi nggak heran lagi."

"Hmph, Aomine itu 'kan kebo-no da yo," sahut Midorima tajam.

Kuroko masuk ke dalam ruang tamu sambil membawa empat gelas jus jeruk di atas nampan. "Mungkin Aomine-kun bergadang lagi semalam." Ucapan laki-laki yang kini memakai pakaian rumahan itu membuat semua pasang mata tertuju padanya.

"Dia 'kan sering bergadang dengan Momoi-san," tambah Kuroko.

Karena masih menjadi sasaran perhatian ketiga temannya itu, ia mulai risih. "Apa?"

"Heeeh, ternyata Kuro-chin tahu banyak tentang Mine-chin," jujur Murasakibara.

"Wajar 'kan, mereka partner-no da yo," sahut Midorima seraya meminum jus jeruk yang baru saja dibawa oleh sang tuan rumah. Ia melepas sweater hijau lengan panjangnya sehingga hanya memakai kaos putih dengan lengan pendek. Celana panjang hitamnya sengaja dilipat kurang lebih 3 cm dari mata kaki. "Kuroko, bisa kirim email ke Akashi untuk ikut kumpul?" pintanya.

Ekspresi bingung tercetak di wajah datar Kuroko. "Kenapa tidak Midorima-kun saja yang kirim email?"

Laki-laki yang kini membawa lucky item kamera digital warna silver itu menaikkan sedikit kacamatanya yang sempat turun. "Tadi pagi aku sudah kirim email, tapi tak ada balasan dari Akashi. Mungkin dia akan membalasnya jika itu darimu," sahut Midorima seraya meminum jus jeruk di hadapannya.

Ia pun menuruti permintaan si three pointer tersebut.

Akashi-kun benar-benar tidak bisa ikut kumpul?

Begitulah isi email yang Kuroko kirimkan untuk Akashi.

"Kurokocchi, aku sudah cetak foto kita berdua, lho~!" seru Kise Ryouta sambil menunjukkan foto mereka saat Kuroko memakai kostum pelayan di stand kelasnya. "Aku cetak dua untuk foto ini-ssu. Satu untukku, satunya lagi untuk Kurokocchi." Ia berikan satu fotonya pada laki-laki berambut biru muda itu saat sosoknya sudah duduk di samping kiri Kise, meninggalkan ponsel berwarna senada dengan rambutnya di atas lemari khusus pajangan yang tingginya sekitar satu meter.

Terdengar suara seseorang menahan tawa, dan itu datang dari arah Midorima.

"Ada apa, Midorimacchi?" tanya sang model yang duduk di samping kanannya.

"Hmph, bukan apa-apa." Walau begitu, ia terlihat masih menahan tawa sambil menatap sebuah foto di mana seorang Takao Kazunari tengah memakai kostum maid. Di foto tersebut juga ada beberapa teman sekelasnya yang sedang ber-cosplay dengan berbagai macam karakter anime di stand kelas 2-4.

Mata beriris madu Kise menangkap isi foto itu dan tertawa pelan. "Teman-temanmu benar-benar heboh, lho. Tapi kasihan Takaocchi harus pakai maid karena kalah taruhan."

"Hmph, salahnya sendiri mau ikut main taruhan," sahutnya.

"Waktu itu aku juga sempat melihat Takao-kun. Kostumnya cocok," timpal Kuroko.

"Takao-chin manis kalau pakai baju maid. Rasanya aku ingin makan Takao-chin bulat-bulat," kata Murasakibara seraya mengambil keripik kentang untuk yang kesekian kalinya. Perkataan dari si titan ungu itu langsung dihadiahi tatapan bosan dari Kise dan Midorima.

"Nggak boleh, Takao-kun bukan makanan," kata Kuroko setengah menceramahi.

"Tapi dia manis, Kuro-chin juga manis."

Tatapan horor tertuju dari sang tuan rumah. "Aku tidak manis, aku laki-laki."

Kise melipat kaos lengan panjang warna biru muda hingga sikut lalu menuangkan beberapa foto lainnya yang semalam sudah ia cetak ke atas meja yang masih kosong. "Kurokocchi memang manis, kok. Bishounen mitai [Seperti bishounen]," pujinya tanpa berkaca pada diri sendiri kalau dirinya termasuk dalam kriteria bishounen atau laki-laki berparas cantik dan manis. Ia mengambil salah satu foto lalu menunjukkannya lagi pada Kuroko. "Coba perhatikan dua foto ini-ssu," katanya.

Sesuai perkataan Kise, ia pun mendekatkan kedua foto tersebut di mana dirinya tengah melayani pengunjung pada foto yang ia pegang di tangan kanannya. "Apa yang salah?" tanya Kuroko bingung.

Murasakibara yang penasaran ikut melihat foto itu. "Eh? Ini 'kan..."

"Kau mengenalnya, Murasakicchi?" tanya Kise.

Tanpa meminta izin, laki-laki berambut ungu tersebut langsung mengambil foto yang dipegang pemain keenam Kisedai dari tangan kirinya. Ia mengernyit, seperti ia pernah bertemu dengan si objek foto. "Dia 'kan... adiknya Muro-chin," kata Murasakibara setelah mengingat-ingat kejadian beberapa bulan yang lalu.

"Muro-chin? Siapa itu?" tanya Kise penasaran. Jarang sekali sosok Libra berdarah O satu ini bicara tentang seseorang yang dikenalnya.

"Teman SMP-ku," jawab Murasakibara.

Dengan polosnya ia tunjukkan wallpaper dirinya dengan sosok Muro-chin.

"Kok, nggak mirip-ssu?"

"Bukan adik kandung. Mm, lebih ke hubungan teman masa kecil," jelasnya.

Kedua mata Kuroko tak pernah lepas dari sosok yang tengah tersenyum lembut ke arah kamera. Murasakibara terlihat biasa saja sambil memeluk leher laki-laki berambut klimis warna hitam pekat tersebut. Senyumnya... mirip dengan Akashi-kun, pikir Kuroko. Diam-diam ternyata Midorima Shintarou, orang ter-tsundere di Kisedai memperhatikan perubahan sikap dan pandangan Kuroko.

Tersenyum setipis benang.

Midorima tersenyum melihat Kuroko yang tengah memandangi foto itu.

"Ne, ne, ne. Aku juga punya foto Midorimacchi dengan Akashicchi!"

Seketika pandangan keduanya tertuju pada Kise yang sedang berusaha mencari foto yang dimaksud. Murasakibara menemukan foto itu dan memberikannya pada Kise. "Yang ini, bukan?"

"Iya-ssu!" Dengan cepat ia ambil foto tersebut lalu menunjukkannya pada Midorima.

Suasana di sekitar laki-laki berambut hijau itu berubah jadi agak gelap. Fotonya dengan Akashi saat ia diminta tolong untuk menemani sang Kapten Teikou membelikan sebuah hadiah yang ingin diberikan kepada Kuroko. Di situ mereka terlihat tengah membicarakan sesuatu sehingga keduanya saling memandang satu sama lain dengan Akashi sedikit mendongakkan kepalanya ke atas untuk melihat sosok Midorima. Salahkan tinggi badan mereka yang berbeda 22 cm.

"Seperti di drama-drama, ya? Lensanya difokuskan ke arah Mido-chin dan Aka-chin," komentar Murasakibara seraya menyeruput jus jeruk miliknya. "Kuro-chin, boleh kuminta jus jeruknya lagi? Atau air minum apa saja?"

"Tunggu sebentar." Kuroko undur diri dari ruang tamu sebentar.

Kise terlihat tenang-tenang saja karena tak bisa membaca atmosfer di sekitar.

Begitu juga dengan Murasakibara, walau ia sering memperhatikan Midorima sejak tadi. Terdengar suara Aomine memanggil sang tuan rumah, bermaksud untuk minta izin masuk. Laki-laki bertubuh paling mungil di antara mereka, berbalik arah saat keluar dari pintu ruang tamu, bermaksud untuk membukakan pintu. Tapi Kise dengan senang hati akan membukanya untuk Aomine Daiki, si tukang tidur dan suka telat itu.

Sekilas Midorima melihat ekspresinya yang sedikit murung. Entah sejak kapan ia mulai lihai membaca ekspresi wajah seseorang. Mungkin efek dari membaca buku psikologi yang dipinjamkan oleh ayahnya tiga hari yang lalu?

"Mido-chin, apa yang kalian lakukan di foto itu? Kalian terlihat dekat sekali."

Dan entah sejak kapan, Murasakibara jadi orang yang penasaran dengan privasi orang lain seperti sekarang? Ia memalingkan wajah dan melihat-lihat lagi. "Bukan urusanmu-no da yo," sahutnya dingin.

Kraus, kraus, kraus.

"Kuro-chin kelihatan kaget tadi."

Ucapan Murasakibara sukses menyita perhatian laki-laki tersebut.

Pura-pura tidak melihat reaksi dari satu-satunya sang lawan bicaranya sekarang, ia memilih untuk mengambil foto lain secara acak. Tak ada pembicaraan lain setelahnya, hanya terdengar suara ribut kecil antara Kise dan Aomine yang sedang berjalan ke ruang tamu. "Mine-chin, lama~," sapa Murasakibara dengan nada mengeluh plus logat malasnya terdengar ketika sosok berkulit dim itu masuk ke ruangan.

Tak lama kemudian, Kuroko datang sambil membaca sebuah teko berisi jus jeruk dan satu gelas kosong untuk tamu yang baru saja datang. Ia duduk di tengah-tengah Murasakibara dan Kise seperti sebelumnya lalu menuangkan jus ke gelas Aomine serta Murasakibara yang sudah kosong.

"Kalau kurang, ambil sendiri, ya," katanya seraya mengambil dua foto yang sempat disuruh lihat oleh Kise tadi.

Ia terlihat biasa saja, tapi dari kedua mata bulat itu jelas masih diselimuti rasa kaget.

Bahkan Kuroko tidak sadar kalau foto dirinya kebalik sampai Kise yang memberitahu.

"Aominecchi, jangan suka telat begitu, dong! Kau 'kan sudah dewasa-ssu."

Yang diceramahi hanya mengorek telinga kirinya yang sebenarnya tidak gatal.

Melihat sikap Aomine itu, tentu saja Kise kesal. Tarik napas lalu membuangnya lewat mulut. Berusaha menurunkan emosi yang selalu memuncak ketika ada sosok ace Teikou di sekitarnya. Tapi tiap kali rasa emosi itu muncul, rasa senang yang Kise sendiri masih bingung untuk menafsirkannya secara jelas juga ia rasakan. Dirinya ragu dan masih tak percaya dengan segala kemungkinan yang ada. Tidak, laki-laki itu tak mau terlalu percaya diri yang kelak akan membuatnya dirundung rasa kecewa.

Bersikap biasa, Kise melupakan sikap Aomine tadi.

"Ne, ne, ne. Aku sudah cetak foto Aominecchi yang itu, lho~," pancing Kise.

"Foto yang mana?" Laki-laki dengan pakaian serba hitam kasual itu menengok.

Tanpa memberikan izin untuk memegang foto yang tengah dipegangnya, Kise tunjukkan foto Aomine dengan ekspresi ketakutan terlihat di wajah dim-nya. Bahkan ia sampai berjongkok di depan pintu stand obake yashiki yang menjadi background foto tersebut. Kise tak bisa menahan tawa saat melihatnya lagi untuk yang kesekian kalinya. Ekspresi Aomine sungguh di luar dugaan.

Reaksi kaget Aomine terlihat jelas di wajahnya. "Oi! Sudah kubilang untuk menghapusnya 'kan, Kise!?" kesalnya tidak terima dengan tingkah laki-laki itu.

Kise hanya memajukan kedua bibir. "Aku 'kan nggak janji-ssu."

"Sini foto—oi!"

Foto tersebut kini sudah berpindah tangan.

Alis laki-laki berambut biru gelap itu berkedut. "Kembalikan padaku, Midorima."

"Ekspresimu aneh-no da yo," komentar si pengambil foto.

"Urusai! Kemarikan fotonya, Midori—Tetsu!" Hampir saja Aomine berhasil mengambilnya, kalau tidak kedahuluan Kuroko. Sumpah serapah terdengar kemudian yang ditujukan pada si pemain bayangan Teikou. "Kise, kalau foto itu tersebar ke sekolah, kau harus terima sanksinya dariku!" ancam Aomine pada akhirnya.

"Eeeh!? Kenapa hanya aku yang kena sanksi-ssu!? Curaaang!" seru Kise tidak terima.

"Tapi tak apa, kan? Sebagai foto kenang-kenangan selama SMA?"

Atmosfer berubah dalam sekejap.

"Kenapa jadi suram begitu?" tanya Kuroko dengan ketidakpekaannya.

"Kata-katamu itu seolah kita sudah kelas tiga yang sebentar lagi lulus sekolah-no da yo," sahut Midorima menjelaskan apa yang terjadi menurut kacamata berbingkai hitamnya.

"Memang sebentar lagi kita akan lulus, kan?"

Ekspresi Kise perlahan berubah seolah ingin menangis. "Kurokocchi, hidoi-ssu!"

"Kok, kejam?" sahutnya dengan balik bertanya.

"Kuro-chin nggak peka~," keluh Murasakibara seraya memakan maibou yang dibelinya di konbini dekat halte bis Takuto. Sesaat ia berhenti mengunyah lalu menelan cemilan tersebut sebelum bersuara kembali. "Ne, minna-chin. Bagaimana kalau kita berlibur di kampung halamanku, Kyoto?" usulnya dengan ekspresi yang tak ada rasa gembiranya sama sekali. Walau bibirnya melengkung lebih ke bawah dari biasanya.

"Kyoto? Ide bagus-ssu! Ayo, ayo liburan ke sana!" seru Kise antusias.

Terlihat Aomine menyeringai. "Boleh juga, sekalian cuci mata."

Perkataan laki-laki penyuka biru gelap itu tentu saja mengandung unsur 18 ke atas, sehingga ia sukses mendapat ciuman mesra dari topi Kise yang dilemparkan oleh sang pemilik topi. "Ahominecchi hentai!" seru laki-laki berambut kuning cerah tersebut.

"Sakit, Kise! Uuugh," ringis Aomine sambil mengucek-ucek mata kirinya.

Kuroko hanya bisa tertawa tertahan melihat mereka. "Ide bagus, Murasakibara-kun."

"Ajak Aka-chin dan lainnya juga. Mungkin banyak yang tak punya rencana di liburan musim panas nanti," usul Murasakibara lagi yang tengah bersiap untuk menyeruput jus jeruk dari gelasnya.

"Hmm, menurutmu kapan kita berangkat ke Kyoto, Murasakicchi?" tanya Kise.

"Tiga hari dari sekarang?"

"Besok saja. Toh, kita sudah libur ini."

"Ih, terlalu mendadak kalau berangkatnya besok, Aominecchi!"

"Ya sudah, tiga hari dari sekarang saja seperti usulan Murasakibara-kun?"

Midorima berdeham dengan cukup keras supaya pembicaraan mereka berempat terhenti. "Tak ada liburan-no da yo! Kita harus latihan untuk Inter High bulan depan dan Winter Cup kita yang terakhir!" serunya. Perlahan namun pasti, ia bisa melihat ekspresi keempat teman setimnya berubah jadi masam. Terutama sosok paling ekspresif, yaitu Kise. "Apa ada yang salah dengan kata-kataku?" tanya Midorima dengan nada dingin.

"Terakhir..., ya?" gumamnya.

Tuk.

Tiba-tiba saja Aomine menjitak kepala Kise yang duduk sedikit jauh dari tempatnya duduk. "Walau terakhir, bukan berarti kita nggak bisa main basket bareng lagi, kan?" tanya Aomine seraya menatap yang lain lalu kembali pada laki-laki childish yang kini menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

"Aominecchi..."

"Benar kata Mine-chin, kita masih bisa main bareng, kok," setuju Murasakibara.

"Aku juga tak masalah kalau diajak main basket bareng lagi," timpal Midorima.

Senyum tipis terbingkai di wajah manis Kuroko. "Untuk sekarang, jangan terlalu memikirkan hal yang tidak pasti seperti itu. Kita fokuskan saja dulu ke kejuaraan Inter High dan Winter Cup. Jadi, liburan ke Kyoto-nya kita tunda saja sampai liburan akhir semester empat nanti, bagaimana?" tanya laki-laki itu meminta persetujuan dari lainnya dan dijawab anggukan oleh mereka berempat.

Ia mendongakkan kepalanya sedikit ke atas. "Kira-kira, kita latihan di mana, ya?"

Seketika tak ada pergerakan berarti dari lawan bicaranya.

Ctak! Kacamata Midorima sepertinya pecah lagi.

To Be Continued

#GigitBantal Words-nya lebih banyak dari chapter sebelumnya dan alur masih terlihat monoton banget. Ahahaha, sekedar catatan aja, untuk chapter depan mungkin akan monoton lagi dan masih belum kelihatan adegan yang cukup sweet dari beberapa pairing. :)

Lalu untuk pembagian pairing di tiap chapter mungkin sedikit kurang adil. Kadang pair utama—AkaKuro—hilang atau nyempil sedikit. Tapi saya usahain untuk tetap adil dalam pembagian pairing-nya.

Kritik, saran dan flame akan saya terima dengan senaaang hati! :D

Saya suka dikritik dan diberi saran soal cara penulisan saya atau sekedar kasih info tentang typo yang readers temukan saat membaca fanfic ini. :)

Oh iya, saya berusaha untuk menghindari AllxKuroko di fanfic ini, tapi mungkin nyempil sedikit gak masalah. Ahahaha, itu karena mereka care~ aja sama Kuroko. :D Dan saya adalah Author moody yang buat fanfic saat senggang dan pas lagi mau aja. -_- *Egois banget, sumpah... XD

BIG THANKS for: KyraAkaKuroLover, Thalia Tetsuna, jessy. jasmine. 7, Katsukatsu, talithabalqis, dan silent readers! Buat yang nge-follow dan nge-fave fanfic saya juga, terima kasih, ya! :) #Bow

Saya minta maaf kalau saya ngaret untuk urusan meng-update fanfic. Utang fanfic saya banyak banget. Mau saya cicil satu per satu sekarang. :D Tapi saya akui, saya mengutamakan fanfic CRUSH ini untuk di-update, minimal sebulan sekalilah... :) Hitung-hitung sekalian nulis diari.

Oke, saya gak mau banyak omong soal hal lain selain tentang fanfic ini. :D Saya berharap para readers baik reviewers atau silent readers masih menyempatkan waktu untuk membaca fanfic saya. :)

Sorry juga kalau sering buat readers kecewa. #Bow

Saya—Oto Ichiiyan—pamit undur diri~

See You Next CRUSH!

CHAU!