Sebuah Alasan
Story by Kim Jonghee
Jung Daehyun
Byun Baekhyun
Drama, Romance
Disclaimer:
Para Cast milik Tuhan, dirinya sendiri juga orang-orang yag menyayanginya. Plot membosankan milik yang buat cerita.
Summary:
'Ini hanya masalah waktu. Sampai semuanya telah menjadi lebih baik, aku pasti akan mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikku.'
Sebuah Alasan
Gemerisik dedaunan yang saling bergesek diterbangkan angin menjadi saksi bisu percakaan yang tidk bisa dibilang ringan. Kendatipun keduanya tak saling memandang satu sama lain, namun percakapan itu ada dan nyata. Bahkan untuk beberapa waktu ke depan, percakapan ini menjadi titik dari segala hal yang akan terjadi di depan sana.
"Mianhae ..., di saat seperti ini aku tak mampu berbuat banyak. Kau bahkan menerima penawaran tak masuk di akal yang aku tawarkan." Lelaki paruh baya itu terkekeh menertawakan serangkaian frasa yang ia rasa sudah seperti lelucon belaka. Lelaki lain yang duduk di sampingnya, tersenyum getir mendengar penuturan seseorang yang jauh dari kata sebaya dengannya. Ia melirik sekilas, lantas melontarkan asa penyembuh rasa. "Karena dia mengingatkanku padanya. Jadi ..., kurasa cukup adil bagiku."
Menggertakkan gigi-giginya kesal, lelaki paruh baya itu kemudian mendengus kasar. "Tidak." Geleng skeptis jadi penjeda kalimat yang sedari tadi menganggu pikirannya. "Semua ini tidaklah cukup adil bagimu. Seharusnya bukan kau yang menanggung semua dosa yang diperbuat seseorang yang bukanlah siapa-siapamu."
Si partner bicara menoleh dengan senyum hangat terusung, memberi fakta bahwa semua itu bukanlah apa-apa untuknya. "Anda ini bicara apa tuan Jung. Sejak pertama kau membantuku, mendukungku secara diam-diam, bahkan mempercayakan sesuatu hal besar padaku, aku sudah menganggapmu sebagai tuan yang harus selalu kupenuhi semua keinginannya. Bahkan untuk yang satu itu."
"Tidak Byun. Aku bukanlah tuanmu. Aku hanya pria tua yang meminta pertolonganmu untuk menjaga putra juga cucuku. Aku ..., tidak pernah bisa memberikan apa yang mereka harapkan. Aku bahkan tidak bisa melindungi mereka. Tapi aku tahu Byun, kau selalu bisa."
Hangat menelusup ke dalam rongga dadanya yang sesak akan kesakitan yang mendera. Menjalar ke tiap sel, dan terus bergerak secara konstan sampai ke wajahnya. Senyum itu, selalu senyum yang sama yang mampu meruntuhkan seluruh pertahanan yang susah payah dibangunnya. Senyum yang sama yang ia lihat di tiap paginya. Dan kali ini, Byun muda, merasa perasaannya menjadi lebih baik setelah melihat senyuman itu. Mengulas senyum yang tak kalah menawan, Byun mengangguk meyakinkan. Kemudian, usakkan sayang di kepalanya dari lelaki paruh baya yang di kenalnya sebagai ayah dari seseorang yang dikasihinya, mengingatkan Byun, bagaimana rasanya memiliki ayah.
Hari itu, cuaca memang tidak bersahabat. Seolah ikut berkomplot bersama takdir yang kini tengah bermain-main dengan jalan hidup Byun Baekhyun. Jangankan awan kelabu yang siap menumpahkan tetes air dari kantung-kantungnya yang tak kasat mata, kini kilat pun seperti ikut mengejeknya yang hanya mampu mengikuti alur takdir yang menyeretnya paksa. Dalam hati Baekhyun berteriak frustasi.
'Ini hanya masalah waktu. Sampai semuanya telah menjadi lebih baik, aku pasti akan mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikku.'
Sayang. Byun Baekhyun bukanlah tokoh cinderella yang akan tahan dengan situasi buruk yang merungkup. Baekhyun tak lebih dari seorang kutu buku dengan ketahanan fisik di bawah rata-rata. Sekuat apapun Baekhyun melawan, tubuh ringkihnya ikut berkhianat atas perjuangan mati-matiannya melawan dingin yang menerjang. Sekujur tubuhnya sudah basah diguyur hujan, hanya menunggu waktu sampai ia terkena hipotermia. Dan, di saat tubuhnya ambruk membentur akar timbul pohon yang senatiasa menaunginya beberapa saat, sebuah suara yang lindap di antara riuhnya gemericik air hujan memberinya asa untuknya bertaruh sekali dengan tadkir. Yang pasti untuk menang, bukan seperti saat ini.
"Hyung!"
'Ah, suara ini ... sudah berapa lama aku tidak mendengarnya? Baru satu hari. Dan aku sungguh sangat merindukannya. Bagaimana nanti saat aku tak mungkin mendengarnya untuk waktu yang cukup lama.'
Lenguhan jadi melodi pembuka paginya yang ke sekian. Bila biasanya Baekhyun akan segara terbangun setelah melenguh, terduduk di atas ranjangnya, menarik kuat lengannya ke udara sembari meneriakan kalimat sapaan penuh semangat, maka hari ini sangatlah tidak mungkin melakukan semua hal itu. Sebuah langan kekar memenjara tubuh kacilnya, belum lagi dua helai selimut tebal yang membungkus tubuhnya begitu erat. Baekhyun yang terjaga sepenuhnya, menoleh ke arah si pemilik lengan.
Oh, siapa pun yang membiarkan pemuda itu tertidur di sampingnya dengan jarak sedekat ini, Bakehyun bersumpah akan memberikan apa saja yang diinginkannya.
Tuhan ... bagaimana bisa kau menciptakan makhluk luar biasa tampannya di dunia ini setelah Yusuf si pemuda mesir itu. Kalaulah memang ia seorang tokoh utama dalam cerita-cerita dongeng yang sering ia dengar, bolehkah ia meminta pada ibu peri untuk menghentikan waktu? Membiarkan moment langka ini ia miliki, hanya untuk dirinya sendiri? Baekhyun sungguh-sungguh menginginkan hal itu saat ini. Agar ia tak perlu melewati hari-hari berat yang tengah menantinya di depan sana. Agar ia bisa bahagia ... selamanya. Ia egois? Memang. Manusia mana yang tak menginginkan kebahagiaan abadi.
Sebelah lengannya yang terbebas, terjulur hendak menyentuh pahatan menakjubkan Tuhan di depannya saat ini. Helaian rambut acak-acakan khas seseorang yang tengah tertidur, mata terpejam dengan bulu mata tak begitu lentik namun cukup memberikan perasaan geli saat menyentuhnya—Baekhyun menahan diri untuk tidak terkekeh karenanya—hidung juga bibirnya yang tak akan pernah Baekhyun lupa.
Ngomong-ngomong soal hidung juga bibir, Baekhyun teringat akan seseorang. Siapa lagi jika bukan malaikat kecil yang akan dirawatnya nanti. Jung Taehyung. Ah, bukan Byun Taehyung. Aish, apa saja lah, Baekhyun bisa memikirkan nama yang pas untuknya nanti. Yah, nanti. Saat Byun Baekhyun mulai menata ulang kehidupannya yang baru saja diterpa badai.
Hah, harusnya ia tidak melihat Deahyun sedekat ini. Atau ... tidak seharusnya pemuda itu memeluknya begitu erat seperti ini. Itu ... hanya akan menyulitkan Baekhyun melepas pemuda itu. Itu ... hanya akan membuat dadanya kian sesak. Tidak. Tidak boleh seperti ini. Semua ini salah.
Kalau Baekhyun egois dan memilih hanya ingin seperti sekarang ini bersama Daehyun, bagaimana nasib Taehyung? Apa yang akan terjdi pada anak itu kalau seandainya ia dirawat dipanti asuhan tanpa tanpa tahu siapa orang tua kandungnya?
Itu tidak adil. Baekhyun pernah merakannya, dan ia tidak mungkin membiarkan orang lain merasakan yang sama seperti dirinya.
Sebuah lenguhan dari arah sampingnya, memerintahan Baekhyun untuk kembali memejamkan matanya.
Setidaknya, ia tidak ingin ketahuan sudah terbangun sejak tadi dan tengah menganggumi tiap detail dari pemuda di sampingnya.
"Selamat pagi Baekkie hyung," bisiknya tepat di telinga Byun Baekhyun. Sekuat tenaga Baekhyun tidak bergerak apalagi bullshing. Itu akan teramat sangat memalukan.
Chup!
Ugh! Entah apa yang tengah dipikirkan Jung Daehyun hingga berani mengecup keningnya cukup lama.
"Jangan buat aku khawatir lagi, ne?" bisiknya lagi. Beringsut begitu pelan dari atas tempat tidur sempit yang ia gunakan bersama Baekhyun, Daehyun bergegas pergi ke dapur sederhana mereka. Manyiapkan sesuatu yang akan dimakan oleh hyung tersayangnya.
Di rasa cukup aman untuk membuka mata, Baekhyun menatap nanar ke arah perginya Jung Daehyun.
"Dae ... kumohon jangan seperti ini," lirihnya putus asa.
Kegiatan sekolah masihlah berlangsung sebagaimana mestinya. Semua siswa berada di dalam kelas mengikuti jam pelajaran dengan khidmat. Jadi wajar saja jika koridor asrama saat itu begitu sepi. Suara gesekan sekecil apapun jadi terdengar sangat jelas di suasana sesunyi ini. Berdiri mematung lebih dari berpuluh-puluh menit, akhirnya Byun Baekhyun menarik lesu koper berisi pakaiannya. Sementara barang-barang yang lainnya sudah lebih dulu diangkut ke dalam mobil yang siap membawanya pergi dari sana sekarang juga.
Begitu sampai di depan gerbang sekolah tempatnya menuntut ilmu sekaligus bernaung dalam waktu yang bersamaan, Baekhyun disambut hangat seorang lelaki berpakaian formal .
"Tuan Byun, Taehyung sudah menunggu anda." Begitu ucapnya. Mau tak mau, Byun Bekhyun menarik kedua sudut bibirnya. Taehyung sudah seperti tujuan utama di kehidupan keduanya.
Setelah mendapat anggukan juga senyum persetujuan, lelaki berpakaian formal tadi membukaan pintu mobil serta mempersilahkan Baekhyun untuk memasukinya. Membungkuk berterimakasih, Baekhyun memposisikan dirinya dengan nyaman di dalam mobil itu. Ia menghembuskan napas kasar begitu dilihatnya siluet bangunan megah nan mewah di depan sana. Sekolah kebanggaan Baekhyun yang selama ini diidam-idamkannya. Namun sayang, sekarang Baekhyun harus merelakannya begitu saja.
"Kita berangkat," pintanya ramah. Mobil itu pun melaju dari kecepatan rendah ke kecepatan normal sesuai peraturan.
Susah payah ditahannya air mata yang sedari tadi sudah mengenang. Namun pada akhirnya jatuh juga. Merelakan begitu saja sesuatu yang sudah jadi impian bertahun-tahun, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.
"Mianhae, Dae."
Dan yang paling penting, Baekhyun tak memberikan salam perpisahan pada sang roommate tercinta secara langsung. Baekhyun teramat pecundang untuk sekedar mengucapkan selamat tinggal di depan pemuda yang satu tahun lebih muda darinya itu. Baekhyun hanya takut. Ia takut tak sanggup melihat raut kekecewaan Daehyun terhadapnya.
Ingin hati tak ingin mengecewakan, dan sudah dapat dipastikan Daehyun pasti akan kena semprot sang roommate yang cerewetnya minta ampun—apalagi Baekhyun tahu Daehyun menyelinap di jam pelajaran—pemuda itu tidak akan segan-segan memarahi Daehyun. Ck! Sudah seperti orang tuanya saja. Tapi kan Daehyun hanya mengkawatirkan pemuda itu dan berniat membawakan makan siang untuknya. Jadi, apa salahnya.
Begitu pintu kamarnya terbuka, pemandangan yang tak pernah terlintas di benaknya tersuguh di depan mata. Hening menyambut, hembus angin berselimutkan bau debu menerpa wajahnya. Kamarnya sunyi, nyaris sesepi kuburan. Tak ada ocehan panjang yang menyambutnya, ataupun sapa parau seseorang yang terbaring di atas tempat tidur sebelah kanan. Tak ada.
Tak ada yang tersisa dari Byun Baekhyun.
Diserang panik, Daehyun menghampiri lemari Baekhyunn, kemudian meja belajar di samping tempat tidur pemuda cerewet itu, di bawah tempat tidurnya. Tak ada hal-hal yang berkaitan dengan Byun Baekhyun.
Bahkan saat Daehyun memeriksa setiap sudut yang di tempati Baekhyun, jejaknya benar-benar terhapuskan. Seolah pemuda itu tak pernah ada di dunia ini. Ia bagai tertelan bumi.
Daehyun mengerang frustasi. Menjambak rambutnya lantas berteriak tak karuan, Daehyun menyesali keputusannya untuk meninggalkan pemuda manis itu sendiri saja tadi pagi. Harusnya ia tidak perlu pergi ke sekolah. Harusnya ia di sana saja menemani Baekhyun yang tengah di serang demam ringan. Dan saat semuanya terlambat, Daehyun tak mampu berbuat apa-apa.
Ia hanya mampu terdiam membeku. Sampai waktu membawanya pada kenyataan yang tertutupi kabut tipis bernama kepalsuan.
TBC
Hai! ^^
Sebelumnya terimakasih banyakk untuk semua dukungan kalian. Reader, silent reader, reviewer, follower bahkan favoriter(?), Saya sungguh-sungguh terharu :')
Serius!
Karenanya, cerita ini mau saya buat kelanjutannya. Seperti apa atau sebanyak apa. Saya sendiri kurang tahu. Hahaha. Bukannya tidak berkonsep, hanya saja, cerita ini ingin saya buat mengalir saja. Tidak berpacu pada target apapun. Selama para reader merasa terhibur, sebisa mungkin saya akan terus melanjutkan cerita ini. Untuk update, saya tidak janji bisa cepat. Hehe. Karena satu dan hal lainnya..
Untuk sekarang itu dulu saja. Cerita yang kali ini saya buat sedikit panjang. Untuk yang selanjutnya, saya gak janji lagi, hehe
For the last, give me a review please~ ^^
Kritik juga saran lebih baik lagi. Danke~~~ :D
