Sepasang Sayap

Story by Kim Jonghee

Jung Daehyun

Byun Baekhyun

Summary:

Tersesat di kejamnya kenyataan. Mencari sandaran di rapuhnya bayang orang yang kita sayang. Pilihan itu ada. Hanya kita yang perlu mempersiapkan segalanya.

Disclaimer:
Para cast milik Tuhan dirinya sendiri juga orang-orang yang mencintai mereka. Plot gsring milik yang buat cerita.

A/N: Ceritanya mau curhat. T.T
ini cerita udah selesai untuk chapter terbaru. Berhubung FFn susah banget diakses di laptop, jadi ketunda mulu. Untuk chapter selanjutnya semoga bisa lebih cepat. Sekali lagi maaf buat yang sudah nunggu. ^_^
dan terimakasih buat yang sudah mendukung FF abal ini.

Thank's to:

kimyori95, r , indah byunjungkim, chae121, HanDik, Han YuRi - MilkHunHan, juga Guest yang telah meramaikan FF abal saya. Sekali lagi Terimakasih~ ^_^

Sepasang Sayap

Dulu dan sekarang tak akan pernah sama. Setiap jam, menit juga detik yang berlalu, selalu membawa perubahan sekecil apapun itu. Tanpa perduli kau mampu untuk menerimanya atau tidak, semua perubahan itu selalu berujung pada hal yang akan kau sesali atau tidak. Tinggal bagaimana cara untukmu menyikapinya.

"Hyungie! Cepat bangun! Kalau tidak, kau bisa datang terlambat ke sekolah nanti!" teriakan lain di pagi hari Taehyung yang sudah dihafalnya. Dan untuk ke sekian kalinya, ia tidak pernah menyahuti panggilan itu sejak dua tahun lalu. Berjalan malas ke arah si penyeru, Taehyung menjatuhkan tubuhnya di meja makan.

Hendak menyerukan panggilan lainnya, Byun Baekhyun cukup terkejut dengan keberadaan sang anak semata wayang berada di belakangnya.

"Wo-woah! Sejak kapan kau berada di sana TaeTae honey."

Suara lembut nan hangat itu mendapat balasan yang sudah biasa diterimanya. Sejak kejadian hari itu.

"Berhenti memanggilku seperti itu." Datar juga dingin. Seakan ia sudah terlahir dengan keduanya sedari dulu. Begitu mudah terucap pada seseorang yang dulu begitu special di bagian dalam hatinya.

Berdebat hanya akan menyisakan sakit yang tak akan merubah segalanya, maka dari itu, Baekhyun lebih senang mengalah dan menuruti semua keinginan anak non biologis kesayangannya.

"Habiskan sarapanmu, Taehyungie. Aku tidak ingin kau jatuh sakit nantinya. Dan ini … aku sudah siapkan bekal makan siang. Lebih terjamin dari semua makanan yang dijual disekolahmu." Tanpa memperdulikan sakit hatinya beberapa saat lalu, Baekhyun mengusung senyum hangat peredam amarah. Setidaknya, begitu dulu Taehyung menyebutnya.

"Dan bisakah kau berhenti bersikap seperti ibuku. Karena kau memang bukan." Lagi … luka lain tergores kembali. Lebih dalam. Tapi Baekhyun tetap bisa bersabar.

"Taehyung … kita sudah bicarakan ini. Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana lagi. Kau tahu … bagiku selamanya kau tetaplah anakku—"

"Dan aku tidak pernah perduli semua tentangmu!" hardik Taehyung memotong pernyataan Baekhyun.

Alih-alih pamit dengan mengecup kedua pipi sang ibu—sekaligus ayahnya, Taehyung pergi begitu saja meninggalkan Baekhyun yang melipat dalam kepalanya.

Kejadian itu sudah lama terjadi. Tak bisa diukur dengan umur jagung yang baru berjalan beberapa bulan saja. Tepatnya, kejadian itu sudah berlalu dua tahun lamanya. Dan Taehyung belum bisa menerima semua. Semua … terlalu menyakitkan untuk seseorang berumur belasan seperti dirinya.

"Membolos yah?" seseorang mengejutkannya. Kalau ia tidak salah kira, orang itu kini tengah berdiri di sampingnya yang sedang duduk memeluk lutut. Cepat-cepat Taehyung menghapus cairan bening yang sedari tadi tak kunjung berhenti mengalir.

"Tidak apa-apa. Kau pergi kemari untuk 'itu' kan?"

Entah atas dorongan apa, orang itu ikut berjongkok di samping Taehyung, lalu kemudian dengan sayang mengusak rambut pemuda itu. Tangis Teahyung pecah seketika, suatu perasaan dari lubuk hati terdalamnya memerintahkan untuk bertingkah demikian. Seolah sebuah reflek alam bawah sadarnya, orang asing tadi menarik Taehyung ke dalam pelukannya. Menenggelamkan kepala pemuda yang lebih muda darinya itu dalam dada bidangnya.

"Kau tahu. Dulu … waktu aku seusiamu … aku pun mengalami hal yang sama. Dan, sampai sekarang,orang yang memelukku dengan hangat seperti ini, kuanggap sebagai malaikat penyelamat hidupku. Biarpun sekarang, aku tidak pernah tahu keberadaannya. Apakah ia masih hidup atau sudah mati? Kalau ia masih hidup, apa orang itu hidup dengan bahagia? Jika ia, akupun turut bahagia dengan semua pilihannya."

Tanpa sadar, orang asing itu menceritakan bagian terpenting dari hidupnya. Seraya tangan kekarnya mengusap sayang helaian rambut Taehyung, senyum miris terukir di wajah tampannya. Sudah lima tahun berlalu, dan ia masih belum bisa menemukan orang itu. Seseorang yang disebutnya sebagai malaikat, hilang begitu saja. Bak udara yang dihirupnya, hilang begitu saja setelah ia menghembuskannya.

Taehyung tidak ingin mengucapkannya semudah ia berkedip. Sang ibu tercinta sudah sangat sering mengingatkan agar tidak mudah memercayai orang asing. Apalagi yang baru pertama kali ditemuinya.

Ibu … ah, orang itu lagi. Siapa peduli dengan apa yang diucapkan dan diingatkannya. Bagian lain dari diri Taehyung menyalak.

"Kau … maukah kau menjadi malaikatku dan tidak pernah pergi dari sisiku?" tanya Taehyung yang suaranya tenggelam di antara dada bidang orang yang baru ditemuinya.

Orang itu terkekeh pelan. Anak laki-laki dalam dekapannya sungguh sangat menggemaskan. "Kau bisa dalam bahaya kalau mempercayai orang asing semudah itu." Orang itu mengingatkan.

Dalam dekapannya, Taehyung memukul pelan perut si orang asing. Kemudian ia mendesis, "cepat lepaskan aku ahjussi. Kau jadi terdengar seperti ibuku."

Orang itu tergelak seketika. "Tenang saja. Untungnya aku ini orang baik, jadi kau tidak usah khawatir."

"Bagaimana aku bisa percaya?" karena kesal, serta merta Taehyung mendorong kuat dada si orang asing. Raut wajahnya tampak tidak baik. Sisa air mata menjejak di mana-mana, ditambah ingus di kedua lubang hidungnya. Membuatnya terlihat sangat buruk … atau sebaliknya. Karena tiba-tiba saja orang asing itu malah tertawa terpingkal sembari mencubit gemas pipi Taehyung.

"Sudah kubilangkan, untungnya aku ini orang baik, jadi tidak mungkin aku berbuat yang macam-macam, apalagi pada anak semanis dirimu."

"Ah~ ahjussi … hentikan!"

Orang asing tadi menarik jemarinya dari pipi Taehyung dengan tawa terkulum. Pasalnya, kini Taehyung tengah memasang mode manja. Matanya menatap tajam dengan pipi ia kembungkan, jangan lewatkan bibirnya yang mengerucut.

"Aiyoh~ kau jadi terlihat semakin menggemaskan kalau seperti itu. Jadi … siapa namamu adik kecil?"

"Cih! Memangnya setelah tahu namaku kau mau apa ahjussi? Kau mau menculikku yah?"

Hey! Kemana sosok Taehyung yang tadi begitu antusias menginginkan orang asing di depannya jadi malaikat pelindungnya?

"Ya ampun! Kau keras kepala juga rupanya. Kuberi tahu kau, namaku Jung Daehyun, dan aku tidak akan menculikmu, melainkan menjadi malaikat pelindung bagimu adik kecil," ujar orang asing yang memperkenalkan dirinya sebagai Jung Daehyun. Senyum hangat ia sunggingkan guna member keyakinan pada anak laki-laki yang kini tengah memandangnya setengah … terkejut.

Sudah sejak lama rasanya Taehyung tidak pernah melihat senyum itu. Senyuman hangat dari orang yang baru pertama kali dilihatnya itu, seperti sudah sangat familiar. Tubuhnya merespon demikian sementara otaknya berkerja keras dimana ia pernah melihat senyum itu. Maka, dengan hati juga tubuh yang memenangkan perseteruan kasat mata dalam dirinya, Taehyung mengangguk perlahan bersematkan senyuman manis yang sudah lama tak diperlihatkannya.

"Jadi … siapa namamu adik manis?" goda Deahyun seraya kembali mengusak sayang helaian rambut Taehyung.

"Taehyung," sahut Taehyung tanpa menyertakan nama keluarganya.

"Taehyung? Hanya itu?" tuntut Daehyun sangsi.

Taehyung menunduk lemas lalu menghela napas lelah. Kalau boleh jujur, namun egonya menentang itu semua dengan dalih ia tak pantas dianggap sebagai ibu maupun ayah baginya.

"Tidak apa-apa kalau kau tidak mau memberitahukannya." Daehyun berucap mafhum.

"Byun. Byun Taehyung." Terdengar lirih namun cukup terdengar jelas dengan posisi Daehyun yang begitu dekat dengan Taehyung.

"Namaku Byun Taehyung, salam kenal." Dengan sangat berani Taehyung memperkenalkan diri dengan lantang kemudian membungkuk hormat pada seseorang yang lebih tua di hadapannya. Seperti yang sudah sering diajarkan ibunya tercinta, untuk memberi hormat pada siapa saja yang lebih tua yang ditemuinya. Termasuk orang asing tanpa menanggalkan kewaspadaan namun tanpa harus memperlihatkannya.

Sesaat Daehyun terkejut dengan marga yang diucapkan Taehyung. Byun? Apakah Byun yang itu? Byun yang terus dicarinya selama lima tahun ini? Apakah … Byun yang dicarinya sudah menemukan seseorang yang membuatnya bahagia lalu mendapatkan Taehyung sebagai pelengkap dari kebahagiaan itu? Dari Taehyung yang menyebutkan kata ibu dengan segenap hati, orang itu pastilah lebih baik darinya.

Menghentaskan keterkejutan yang merungkupinya secara tiba-tiba, Daehyun bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Bisa saja Byun yang dimaksud Taehyung bukan Byun yang itu, bisa jadi Byun yang lain. Dan bisa saja, Byun pengganti Byunnya yang dulu. Daehyun meretas senyum hangat seperti senyuman pertamanya.

"Nah, Byun Taehyung. Ayo pulang! Aku akan mengantarmu," ajak Daenhyun sungguh-sungguh. Namun, ajakan itu bersambut gelengan cepat dari Taehyung, menimbulkan kerut di dahi Daehyun. "Wae?" tanyanya tanpa nada menuntut. Bisa-bisa Taehyung lari dengan dirinya yang tiba-tiba menjadi penuntut. Sepertinya terjadi sesuatu antara Taehyung dengan ibu atau ayahnya, makanya dia tidak pergi ke sekolah dan memilih pergi ke tempat ini.

"Aku baru saja bertengkar dengan ibu. Aku … tidak ingin menemuinya sekarang," cicit Taehyung yang kembali menunduk.

Benarkan.

Daehyun terus saja mengulas senyum hangat yang seakan tidak ada habisnya untuk anak laki-laki yang dianggapnya manis di depannya ini. "Baiklah. Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang? Kurasa ... pergi ke sekolah pun rasanya percuma. Pelajaran pasti sudah berjalan setengah hari, kau pasti akan mendapat teguran keras dari saenim."

Bukannya mau mengikuti ajakan Daehyun yang jauh dari kata baik, tapi, apa kata Daehyun benar adanya. Jadi … apa yang akan dilakukannya? Taehyung menggigit bibirnya lantas melempar pandangannya ke sembarang arah.

"Ikut aku!"

Taehyung tersentak dengan tarikan kuat lengan Daehyun, belum lagi ia memutar keras otaknya dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. "Kau mau menculikku?" jadilah pertanyaan konyol yang berhasil keluar dari dua membran moluska tipis miliknya.

Daehyun terkekeh geli. "Tentu saja bukan, bodoh."

Taehyung mendengus mendengar kata terakhir Jung Daehyun yang baru beberapa menit dikenalnya. Anak laki-laki Byun itu membuat gesture manja dan itu yang disukai Daehyun setelah beberapa menit mengenal anak itu.

"Ayo …."

FIN

A/N (Lagi):

Chapter 4 segitu dulu, sisanya nyusul XD /waks?!/

Becanda. Ini bingung mau diapain lagi sebenernya. ^_^

Kalo gak ada halangan semoga gak lama update, hoho~

Tengseuuu~~~