WAY BACK INTO LOVE
Main Cast: Lee Donghae, Lee Hyukjae
Genre: Romance, Drama
WARNING!
BOYS LOVE
MAINSTREAM STORY
DON'T LIKE? DON'T READ PLEASE!
THE STORY IS MINE
Typo may applied, don't be silent reader please, NOT ALLOWED TO COPY PASTE WITHOUT MY PERMISSION ^^
TIDAK MENERIMA BASH DAN KAWAN-KAWANNYA. KRITIK DAN SARAN SANGAT DIBUTUHKAN.
THANKYOU ^^
.
.
All I wanna do is find a way back into love.
.
.
Kejadian seperti malam kemarin dimana Eunhyuk tiba-tiba berubah menjadi liar memang bukan yang pertama bagi Eunhyuk, tapi bukan berarti Eunhyuk bisa dengan mudah melupakan segalanya. Semuanya masih terekam dengan sangat jelas dalam ingatan Eunhyuk, ia malu sekali dan ingin mengubur dirinya dalam-dalam agar tidak bertemu lagi dengan laki-laki yang sudah ia paksa untuk tidur dengannya itu. Meskipun sama-sama menikmatinya, tapi Eunhyuk yang memulainya duluan dan itu memalukan! Sekarang, Eunhyuk kembali bertemu dengan laki-laki yang menidurinya semalam. Bahkan kini, mereka duduk berdua saling berhadapan di apartemen baru Yunho dan Donghae.
Eunhyuk memandangi Donghae dengan canggung, suasana yang sejak tadi hening membuatnya semakin gugup dan tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana.
"Jadi, namamu Lee Donghae?"
Donghae hanya tersenyum kemudian mengangguk canggung.
"Itu, yang semalam—aku—itu—minta maaf. Aku tidak sempat mengatakan apapun karena panik."
"Kau bertingkah seperti seorang bajingan semalam, pergi begitu saja setelah meniduri orang."
Donghae memutar bola matanya, lagi-lagi Eunhyuk mengucapkan kata-kata kasar.
"Semua terjadi karena kau yang memulainya duluan, kau yang bersemangat menggodaku dan kau juga yang memintanya terus-menerus. Ah, berhentilah berkata-kata kasar. Wajahmu manis sekali tapi ya Tuhan, kata-katamu tidak ada manis-manisnya!"
Mulut Eunhyuk menganga lebar mendengar penuturan bocah yang jauh lebih muda darinya itu. Setelah meminta maaf dengan wajah lugu dan mata yang sendu, bocah itu sekarang bicara dengan lantang dan membeberkan semua kejadian yang terjadi semalam.
"Apa katamu? Kau ingin mati?"
"Lihat, kau berbicara kasar lagi. Dengar ya, karena terlibat urusanmu aku mengalami sial yang berturut-turut! Tidak bisa cuti kuliah karena tidak mengikuti kuis dosen yang paling menyebalkan dan gajiku juga di potong karena tidak masuk kerja. Semua itu terjadi karena kau memaksaku untuk menidurimu!"
Eunhyuk bangkit dari duduknya dan menampar Donghae sekuat tenaga. Entah sengaja atau tidak, tapi kata-kata Donghae barusan melukai harga dirinya dan membuatnya terlihat sangat rendah. Eunhyuk memang suka berkata kasar dan tidak pernah basa-basi jika sedang memaki orang, tapi kata-kata Donghae barusan sungguh keterlaluan.
"Jaga bicaramu, anak kecil! Aku ini jauh lebih tua darimu!"
Setelah berkata begitu, Eunhyuk langsung pergi dan tidak lupa membanting pintu apartemen Donghae sekeras mungkin. Hatinya tiba-tiba berdenyut sakit mendengar kata-kata Donghae barusan dan untuk pertama kalinya, airmatanya tumpah karena kata-kata kasar orang lain padanya.
.
.
Donghae menatap pintu yang baru saja di banting Eunhyuk dengan tatapan tak acuh. Donghae memang berniat meminta maaf pada Eunhyuk karena perbuatannya semalam, tapi melihat cara bicara Eunhyuk yang kasar, Donghae jadi terpancing emosi dan tiba-tiba membalas kata-kata kasar Eunhyuk. Biasanya Donghae tidak begini, semarah apapun Donghae tidak pernah membalas kata-kata orang lain dengan kasar. Seperti yang kita tahu, Donghae selalu memegang prinsipnya untuk tidak menyakiti orang lain tapi sekarang Donghae justru melakukannya, satu lagi prinsip hidup yang sudah Donghae langgar. Donghae menghela napas panjang lalu merebahkan tubuhnya di sofa, rasa bersalah lagi-lagi muncul dan membuatnya gelisah. Baru kali ini Donghae bertemu dengan orang yang hobinya membuat orang lain merasa bersalah dan marah di saat yang bersamaan, baru kali ini juga Donghae bertemu dengan laki-laki yang berwajah manis tapi sikapnya tidak ada manis-manisnya sama sekali.
"Bagaimana pembicaraanmu dengan Eunhyuk Hyung?"
Suara Yunho membuyarkan lamunan Donghae, ia bangkit dari sofa dan membiarkan Yunho duduk di sampingnya.
"Tempramennya buruk sekali."
Yunho membulatkan mata musangnya, "Kalian bertengkar?"
"Dia bahkan menamparku. Sudahlah, malam ini aku harus bekerja, kau jangan pergi ke bar lagi dan membuat keributan!
Jika Donghae sudah berbicara dengan nada yang lesu dan tidak bertenaga, itu artinya dia sedang benar-benar marah dan kesal. Yunho mendesah kecil, padahal hari ini ia sudah ada janji dengan teman-temannya akan merayakan ulang tahun seseorang di bar.
"Hari ini Kim Jaejoong ulang tahun, kami janjian akan merayakannya di bar. Aku janji hanya sekali ini saja aku pergi ke bar, setelah itu aku hanya akan fokus pada coffee shop yang aku kelola. Ah, Jaejoong juga ingin kau datang ke pestanya."
Yunho menyatukan kedua tangannya dan menaruhnya di dada, memohon pengertian dari sahabat terbaiknya itu.
"Jaejoong? Siapa lagi? Terakhir kau pergi ke bar merayakan ulang tahun Ahra, lalu Junsu, kemudian Yoochun dan sekarang Jaejoong? Setiap kau merayakan ulang tahun di bar kau akan berakhir membuat keributan dan setiap kali aku menegurmu kau akan kembali beralasan ini yang terakhir kalinya! Kau sudah gila? Aku tidak mau ke tempat bising seperti itu!"
"Kim Jaejoong teman SMA kita dulu, kali ini benar-benar yang terakhir. Kau tahu? Kim Jaejoong adalah laki-laki paling manis dan sexy yang pernah aku kenal!"
"Terakhir kali kau juga bilang seperti pada Junsu."
"Kali ini benar-benar terakhir, Kim Jaejoong yang paling sexy di antara yang lain."
Yunho berlutut pada Donghae dengan tangan yang masih menyatu, matanya berkedip-kedip lucu berharap hati Donghae yang keras itu akan luluh karena tatapannya.
"Hanya kali ini, kita datang ya? Kumohon."
Mata hazel Donghae menatap Yunho yang masih berlutut sambil menggosokan kedua telapak tangannya, tatapannya sama sekali tidak menunjukan ia sedang memohon bahkan terlihat menggelikan di mata Donghae. Tapi mau bagaimana lagi? Jika menolak keinginan Yunho, laki-laki tinggi dengan mata tajamnya itu akan terus merengek hingga Donghae mengiyakan keinginannya dan itu mengerikan! Bagaimana Yunho merengek padanya dengan wajah segarang itu.
"Terserah kau saja, tapi aku tidak akan lama di sana. Hanya datang, menyapa dan pergi. Okay?"
"Call!"
.
.
Seharusnya Donghae tahu, janji seorang Jung Yunho hanyalah bualan semata. Sebelumnya, Yunho berjanji tidak akan banyak tingkah dan hanya merayakan ulang tahun Jaejoong saja. Tapi lihat sekarang, dia mabuk berat dan kebiasaannya menggoda orang lain saat mabuk kembali terulang. Yunho meracau tidak karuan sambil merangkul Jaejoong—yang juga mabuk—tapi matanya jelalatan memandangi kaki mulus para gadis atau bokong padat para laki-laki manis. Rasanya, Donghae ingin sekali mencongkel mata sipit Yunho.
"Oh, Eunhyuk Hyung!"
Donghae menegang saat Yunho menyebutkan nama Eunhyuk. Donghae pikir Yunho hanya meracau tidak jelas karena mabuk, tapi saat matanya mencoba mengikuti arah pandang Yunho, ia mendapati Eunhyuk sedang minum-minum di meja bartender. Donghae memejamkan matanya sejenak sambil memijat pelan pelipisnya, dimana ada Eunhyuk disitu lah kesialan akan terjadi. Kenapa dimana-mana ada Eunhyuk? Eunhyuk bagaikan kutukan yang terus mengikutinya kemana pun Donghae pergi.
"Eunhyuk Hyung!"
Jemari Donghae langsung membekap mulut Yunho yang terus saja memanggil Eunhyuk dan menyuruhnya untuk bergabung dengan pesta nistanya ini. Jika di biarkan, Yunho akan benar-benar berteriak memanggil Eunhyuk dan keributan akan kembali terjadi.
"Diamlah! Jangan memanggilnya terus, kita berpesta masing-masing saja. Jangan buat keributan apapun, Jung Yunho!"
Mata musang Yunho membulat sempurna, ia kaget karena Donghae tiba-tiba membekapnya dan memelototinya seakan akan menelannya hidup-hidup, Yunho mengangguk pelan dan kembali meneguk minumannya bersama Jaejoong diiringi dengan kekehan yang tidak penting. Melihat Yunho yang kembali tenang, Donghae kembali mengalihkan pandangannya ke tempat Eunhyuk sedang duduk dan minum-minum. Meski ruangan itu minim cahaya, Donghae masih bisa melihat dengan jelas raut wajah Eunhyuk yang tampak menderita ketika ia meneguk minumannya, seperti tertekan dan menahan sakit yang teramat sangat. Donghae melirik Yunho dan Jaejoong yang sudah tidak karuan itu sekilas sebelum akhirnya ia beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Eunhyuk. Entah keberanian dari mana, Donghae dengan percaya diri menghampiri Eunhyuk yang sudah setengah mabuk itu. Mungkin hanya perasaan kasihan?
"Kenapa minum sendirian?"
Eunhyuk menatap Donghae dengan mata sayunya, "Oh, kau! Bocah brengsek! Bocah sialan! Kenapa mengikutiku? Mau menghinaku lagi? Pergi kau brengsek! Aku membencimu!"
Donghae berdecak, "Aku tidak mengikutimu! Temanku sedang merayakan pesta ulangtahunnya di sini. Kau selalu saja memakiku, kalau kau terus seperti ini, kau bisa-bisa jatuh cinta padaku!"
"Kau mau minum denganku?"
"Aku tidak minum alkohol."
"Sudah aku duga, kau hanya bocah ingusan. Kalau tidak mau minum, pergi sana!"
Lagi-lagi Donghae berdecak, ia tidak suka ketika orang lain meremehkannya, apa lagi menganggapnya sebagai bocah ingusan. Donghae menatap wajah sayu Eunhyuk sekilas, sebelum akhirnya merebut gelas yang ada di tangan Eunhyuk untuk kemudian ia teguk isinya.
"Ugh!"
Donghae memejamkan matanya saat sensasi minuman beralkohol itu melewati tenggorokannya dan berakhir di lambungnya. Rasanya sangat keras dan tidak enak! Donghae lebih suka susu strawberry yang biasa ia minum setiap paginya.
"Ah, kenapa kau menyukai minuman tidak enak ini?"
"Cih, setelah mencoba untuk kedua kali kau pasti menyukainya. Ini, coba lagi."
Donghae menerima tawaran Eunhyuk, ia kembali meneguk segelas minuman beralkohol yang di sodorkan Eunhyuk dan rasanya tetap sama. Pahit dan terlalu keras. Donghae hanya dua teguk tapi kepalanya sudah merasa pusing dan perutnya terasa mual, Donghae hanya bisa mengibaskan tangannya saat Eunhyuk menyuruhnya untuk minum seteguk lagi. Sungguh rasanya tidak enak sama sekali!
"Eunhyuk-ssi, cukup. Rasanya tidak enak dan membuatku pusing."
"Dasar anak kecil."
Donghae menggelengkan kepalanya mencoba mengembalikan kesadarannya. Donghae ingat, ia tidak boleh mabuk karena harus membawa mobil Yunho saat pulang nanti.
"Eunhyuk-ssi, kau pulang dengan siapa?"
"Aku akan memanggil supir pengganti."
Mendengar jawaban Eunhyuk, Donghae hanya mengangguk kemudian kembali ke tempat duduknya bersama Yunho sebelum Eunhyuk memaksanya untuk minum lagi. Donghae melirik jam tangannya, sudah pukul satu pagi, sudah saatnya Yunho mengakhiri pestanya dan pulang sebelum membuat keributan.
"Yunho, sudah saatnya pulang dan mengakhiri pesta."
Lengan Donghae sedang mencoba menarik tubuh tinggi Yunho, ketika suara berdebam cukup keras membuatnya berjengit kaget. Mata Donghae membulat sempurna saat melihat tubuh mungil Eunhyuk sudah tergeletak tidak berdaya di lantai, sepertinya Eunhyuk terlalu banyak minum hingga menghilangkan kesadarannya. Semua orang mengelilinginya, menanyakan apakah Eunhyuk baik-baik saja, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang mencoba membantu Eunhyuk bangun. Donghae mengusap wajahnya kasar, ia buru-buru mengambil ponselnya dan menelpon supir pengganti untuk Yunho. Setelah memastikan supir pengganti untuk Yunho akan datang, Donghae langsung menghampiri Eunhyuk, meraih tubuh ringkihnya untuk kemudian ia gendong dan menjauh dari kerumunan banyak orang.
Terulang lagi!
.
.
Akhirnya Donghae kembali lagi ke tempat dimana pertama kali ia menghabiskan malam yang cukup panas bersama Eunhyuk. Ternyata, laki-laki pirang yang galak itu belum juga mengganti password pintunya sehingga memudahkan Donghae untuk masuk. Kali ini Donghae langsung membawa Eunhyuk ke kamarnya dan segera menjauh setelah membaringkan Eunhyuk di ranjangnya, hanya jaga-jaga siapa tahu Eunhyuk kembali menyerangnya. Namun tidak ada reaksi apapun dari Eunhyuk, Eunhyuk hanya tergolek lemah di atas ranjangnya dan hanya melenguh kecil seperti menahan sesuatu. Donghae kembali mendekat dan menempelkan punggung tangannya di dahi Eunhyuk. Seperti yang sudah Donghae duga, Eunhyuk demam tinggi. Suhu tubuhnya sangat tinggi, keringat mengucur deras dari seluruh tubuhnya dan tubuh mungil itu menggigil seperti kedinginan. Donghae melepaskan jaketnya dan mencoba mengelilingi apartemen Eunhyuk untuk mencari kotak obat, tapi setelah menemukan kotak itu Donghae hanya bisa geleng-geleng kepala. Pasalnya, dalam kotak itu hanya ada termometer dan tidak ada obat-obatan sama sekali. Mau tidak mau Donghae harus kembali ke apartemennya yang terletak tepat di depan apartemen Eunhyuk untuk mengambil obat-obatan yang ada di apartemennya.
Menyusahkan!
Donghae mengambil kotak obat dengan tergesa-gesa, sebelumnya ia menyempatkan diri melihat keadaan Yunho yang sudah sampai terlebih dahulu sebelum Donghae dan Eunhyuk sampai. Beruang Jung itu sedang terlelap tidur dengan mulut yang terbuka dan sepatu yang masih terpakai di kakinya. Donghae tidak berniat membantu Yunho untuk melepaskan sepatunya, karena sekarang tetangganya yang galak itu sedang sakit dan membutuhkan pertolongannya.
Dengan cekatan Donghae langsung mengukur suhu tubuh Eunhyuk dengan termometer dan mengompres kening Eunhyuk dengan handuk basah. Setelah memastikan suhu tubuh Eunhyuk dan membuat posisi tidur Eunhyuk nyaman, Donghae menghancurkan obat yang berbentuk tablet itu agar mudah di telan oleh Eunhyuk yang tidak sadarkan diri. Karena Eunhyuk kehilangan kesadarannya, Donghae harus menopang punggungnya agar Eunhyuk tidak tersedak ketika menelan obatnya. Donghae mendesah pelan melihat keadaan Eunhyuk yang terlihat tidak berdaya itu, tanpa sadar jemarinya mengusap peluh yang terus mengalir dari dahi Eunhyuk.
Donghae berbisik pelan sambil terus mengusap wajah berpeluh Eunhyuk, "Seharusnya kau membagi bebanmu pada teman-temanmu bukan memikulnya sendiri dan mabuk, menyiksa diri."
"Jangan pergi..."
Eunhyuk tiba-tiba menarik lengan Donghae dan membuat tubuh Donghae condong ke arah Eunhyuk. Karena tidak ingin kejadian tempo hari terulang lagi, Donghae buru-buru melepaskan cengkraman lengan Eunhyuk tapi kemudian Eunhyuk menangis dengan mata terpejam sambil terus menggumamkan kata 'Jangan pergi'.
"Aku mohon, jangan pergi."
Gumaman Eunhyuk begitu lirih dan sarat akan kesedihan yang mendalam, membuat Donghae terdiam sambil terus memperhatikan wajah yang layu itu. Tak lama, jemari Eunhyuk kembali menarik lengan Donghae agar mendekat ke arahnya, bahkan kali ini Eunhyuk langsung memeluk tengkuk Donghae dengan erat. Donghae diam saja dan tidak berusaha memberontak, ia diam dan membiarkan Eunhyuk menangis sambil memeluknya. Donghae tidak tahu harus berbuat apa agar Eunhyuk berhenti menangis dan berhenti menggumamkan kata-kata yang tidak jelas, yang bisa dilakukan Donghae sekarang adalah berbaring di samping Eunhyuk, memeluknya erat sambil menepuk-nepuk punggungnya untuk menenangkan tubuh ringkih yang sekarang sedang terisak di dadanya.
"Jangan menangis, aku tidak akan pergi."
"Choi Siwon..."
Choi Siwon?
.
.
ooODEOoo
Eunhyuk menggeliat tak nyaman saat suara kicau burung mengetuk gendang telinganya. Matanya terbuka dengan perlahan karena kepalanya terasa sedikit pusing saat Eunhyuk berusaha membuka matanya dengan sempurna. Eunhyuk mengedipkan matanya beberapa kali sambil mengumpulkan seluruh kesadaran, ia merasa sedikit aneh karena saat pertama kali membuka mata ia melihat dada seseorang.
Dada seseorang?
Mata Eunhyuk masih berkedip-kedip dan sedetik kemudian ia langsung membelalakan matanya, bagaimana tidak? Eunhyuk mendapati Donghae tidur di sampingnya dalam keadaan memeluk tubuhnya! Begitu kesadarannya terkumpul, Eunhyuk langsung menjauhkan diri dari Donghae yang kini sedang berusaha membuka matanya. Eunhyuk terdiam sambil memandangi wajah Donghae, horror.
Aku pasti sudah gila, sudah sangat gila! Bagaimana bisa aku melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang? Bodoh!
"Kau sudah bangun? Bagaimana suhu tubuhmu?"
Eunhyuk beringsut menjauhi Donghae yang berusaha meraih keningnya, ia menunduk dan langsung menepis gerakan tangan Donghae.
"Kenapa?"
"Apa semalam kita melakukannya lagi?"
"Menurutmu?"
Kepala Eunhyuk berdenyut semakin sakit saat berusa mengingat apa yang terjadi, Eunhyuk semakin menunduk lalu menutup wajahnya dan mengerang frustasi, sepertinya Eunhyuk benar-benar tidak waras karena membiarkan laki-laki di hadapannya ini melakukan kesalahan yang sama dengannya. Rasanya malu dan seperti tidak punya harga diri lagi.
"Aku pasti sudah gila!"
"Lihat dirimu, apa kau telanjang? Apa aku telanjang? Apa hidungmu mencium sesuatu yang menyengat? Tidak, 'kan? Kau tidak gila, semalam kita tidak melakukan apapun. Kau hanya sakit dan pingsan di bar, jadi aku membawamu pulang dan merawatmu. Sekarang bagaimana? Aku perlu mengecek suhu tubuhmu."
Wajah Eunhyuk merona merah, ia menurunkan kedua telapak tangannya dan mencoba menatap Donghae untuk memastikan bocah itu tidak berbohong padanya. Eunhyuk menelisik tubuhnya sendiri dan benar, mereka tidak telanjang dan tidak ada bau-bau aneh.
"Maaf."
Eunhyuk kembali menundukan kepalanya, ia malu karena telah menuduh Donghae yang tidak-tidak.
"Sudah turun sepertinya. Hm, kalau begitu aku akan pulang, aku meninggalkan beberapa obat untuk kau minum. Hari ini istirahat saja dan jangan bekerja. Semoga cepat sembuh, Eunhyuk-ssi."
Eunhyuk hanya diam saja saat Donghae berusaha meraih keningnya, ada perasaan aneh saat telapak tangan Donghae menyentuh keningnya dari jarak sedekat ini. Eunhyuk bahkan tidak sanggup menyembunyikan detak jantungnya yang tiba-tiba berdegup lebih kencang.
Debaran ini, kenapa terjadi lagi?
.
.
Akhir-akhir ini selain mudah marah, Eunhyuk juga mudah sekali menangis. Emosinya meluap-luap dan hormonmya tiba-tiba seperti wanita hamil yang tidak stabil. Eunhyuk mengalami naik turun emosi yang tidak terkontrol, kadang marah sampai meledak-ledak dan kadang menangis tersedu-sedu tanpa alasan yang jelas. Seperti sekarang, tiba-tiba Eunhyuk ingin sekali menemui Sungmin dan menangis sekeras mungkin di pelukan Sungmin. Eunhyuk tahu, Donghae sudah melarangnya untuk pergi kemana pun dan menyuruhnya untuk istirahat di rumah, tapi bagaimana lagi? Eunhyuk ingin sekali menangis dan butuh Sungmin untuk memeluknya. Entah apa yang membuat Eunhyuk ingin menangis, tapi setiap kali ia mengingat kenyataan bahwa dirinya demam dan di rawat oleh orang yang telah menidurinya membuat perasaannya tidak karuan. Begitu sampai di rumah Sungmin, Eunhyuk langsung memeluknya dan menangis seperti habis di pukuli orang, membuat Sungmin geleng-geleng bingung.
"Setiap kau begini pasti mendatangi istriku dan menangis seperti gadis yang baru saja ditiduri preman. Sebenarnya ada apa denganmu? Tetanggamu sudah baik karena mau merawat ahjussi galak sepertimu, apa yang perlu kau tangisi?"
"Diam kau bedebah! Aku tidak mau bicara denganmu bahkan melihatmu pun aku tidak sudi!"
"Hei, ini rumahku! Ya Tuhan bicaramu itu! Tidak bisakah kau menghilangkan kebiasaanmu mencaci maki orang dengan kata-kata kasar? Kalau sikapmu terus seperti itu, kau tidak akan pernah dapat pendamping hidup! Semua akan lari tunggang langgang karena cara bicaramu yang mengerikan itu!"
Eunhyuk tidak bisa membalas kata-kata Kyuhyun, apa yang di katakan Kyuhyun barusan adalah kenyataan yang harus Eunhyuk terima. Eunhyuk hanya bisa memeluk Sungmin semakin erat untuk menyembunyikan airmatanya yang semakin deras mengalir.
"Menangisnya dalam hati saja bisa tidak? Kau berisik!"
Sungmin mendelik memelototi Kyuhyun, "Cho Kyuhyun!"
Tatapan galak Sungmin membuat Kyuhyun memutar bola matanya, "Baiklah, maaf."
"Jadi kenapa kau menangis? Bukankah baik jika tetanggamu itu merawatmu saat kau sakit? Lagi pula kau pernah bilang, dia mahasiswa kedokteran, benarkan?"
"Aku malu, aku selalu berkata kasar padanya tapi dia masih mau merawatku dan kenyataan aku pernah tidur dengannya membuat perasaanku semakin kacau dan tidak karuan."
"Kalau malu kau hanya perlu minta maaf, tidak perlu menangis berlebihan seperti ini."
"Debaran itu terjadi lagi."
Sungmin melirik Kyuhyun sejenak, ia bingung akan kemana arah pembicaraan mereka ini.
"Debaran?"
"Debaran yang sama saat aku pertama kali bertemu dengan Choi Siwon."
Sungmin berdecak kesal, ia melepaskan pelukannya dan menatap Eunhyuk lekat-lekat.
"Lupakan si bajingan itu! Mulailah hidup yang baru tanpa bayang-bayang Choi Siwon."
Bagaimana jika aku tidak bisa? Bagaimana jika aku terus dibayangi oleh kenangan tentangnya?
.
.
Eunhyuk baru saja pulang dari rumah Sungmin sekitar pukul sembilan malam, perasaannya sedikit lebih baik setelah menangis tadi. Meskipun masih sedikit kesal karena Kyuhyun yang tidak berhenti mengomel seperti ibu-ibu, tapi setidaknya ia sudah mencurahkan isi hatinya pada Sungmin dan itu membuat perasaannya sedikit lebih baik dan jauh lebih ringan.
"Kau dari mana?"
Eunhyuk terkesiap melihat Donghae sedang berdiri di depan pintu apartemennya dengan kantong kresek di tangannya.
"Aku dari rumah teman. Kau sedang apa?"
"Aku mau memastikan keadaanmu, tapi saat aku memencet bel berkali-kali kau tidak juga keluar. Bukankah aku sudah bilang padamu agar istirahat di rumah saja? Kenapa keluar sampai selarut ini? Masuklah, aku membawakan beberapa buah segar untukmu. Kau pasti sedang tidak enak makan, bukan?"
Kepala Eunhyuk mengangguk tanpa sadar, diam-diam Eunhyuk merasa lega dan senang di perhatikan seperti ini oleh Donghae, meskipun mungkin perhatian itu tidak ada artinya untuk Donghae, tapi itu membuat Eunhyuk merasa hangat.
"Terima kasih."
"Oh, kenapa kau belum mengganti passwordmu? Sudah aku bilang itu terlalu mudah."
"Aku tidak bisa mengingatnya jika terlalu rumit."
"0404, tanggal lahirmu?"
Eunhyuk mengangguk pelan sambil menyodorkan piring dan pisau buah pada Donghae.
"Sudah aku duga."
"Itu—Hm, maaf aku selalu bicara kasar padamu."
Tiba-tiba saja Eunhyuk merasa wajahnya panas dan ia mendadak tidak bisa menatap mata Donghae dengan benar, ia hanya bisa menunduk dan memainkan ujung kemejanya.
"Lihat, kau manis sekali saat bicaramu selembut itu. Ah, aku bahkan tidak percaya kau berbeda tigabelas tahun dariku. Wajahmu terlalu manis untuk seusiamu. Aku juga minta maaf, karena sudah bicara tidak sopan padamu waktu itu."
Eunhyuk semakin menundukan kepalanya dan tidak bisa berkata apa-apa saat Donghae tersenyum ke arahnya sambil menyerahkan piring yang terisi dengan buah-buah yang sudah Donghae potong kecil-kecil.
"Habiskan, setelah itu minum obatmu dan tidur. Jika besok kau masih merasa tidak enak badan, jangan memaksakan diri untuk bekerja. Besok siang sepulang kuliah dan sebelum aku berangkat kerja, aku akan kembali mengecek suhu tubuhmu. Selamat malam, Eunhyuk-ssi."
Tidak salah lagi, debaran yang Eunhyuk rasakan sekarang adalah debaran yang sama seperti saat ia pertama kali bertemu dengan Siwon dulu. Rasa senang yang membuncah hingga mendorongnya untuk terus tersenyum dan terkikik geli karena perhatian-perhatian kecil yang di berikan Donghae padanya. Eunhyuk menggelengkan pelan kepalanya sambil memegangi dadanya, Eunhyuk tidak mau merasakan jatuh cinta lagi. Cinta hanya memberikannya rasa sakit, cinta hanya meninggalkan luka menganga di hatinya. Eunhyuk tidak mau merasakan cinta yang membuatnya sakit dan terluka.
Cinta hanya akan membuatku terluka, jangan biarkan aku jatuh cinta padamu...aku mohon.
.
.
ooODEOoo
Donghae memperhatikan Yunho yang sedang menikmati sarapannya dengan seksama. Menurut kesimpulan Donghae selama ini, sepertinya Yunho mengenal Eunhyuk dengan sangat baik, meskipun mereka tidak pernah terlihat akur. Sebenarnya, ada yang perlu Donghae tanyakan pada sahabatnya itu. Ada sesuatu yang sedikit menganggu pikirannya dan Donghae memerlukan jawaban Yunho agar pikirannya tidak merasa terganggu lagi.
"Ada apa? Kenapa memperhatikan aku terus? Aku tidak akan berulah lagi! Pagi ini aku akan menjemput Jaejoong dan setelah itu ke coffee shop."
"Memangnya aku bilang sesuatu?"
Yunho berdecih, ia melemparkan roti yang sudah ia gigit ke hadapan Donghae.
"Dasar brengsek! Lalu kenapa melihatku seperti itu?"
"Kau tahu Choi Siwon?"
"Oh, tidak tahu. Kenapa?"
"Di dunia ini apa ada yang kau ketahui selain berganti-ganti pacar, Jung Yunho?"
"Dasar kau bajingan kecil! Sudahlah, pagi-pagi begini berdebat denganmu hanya membuatku mual. Auh, lihat wajahmu itu! Malam ini aku akan menginap di rumah Jaejoong, kau tidak usah mencemaskan aku."
"Jangan berulah dan jangan membuat repot orang lain."
"Kau terdengar seperti ibu-ibu."
Donghae tersenyum kecil mendengar gerutuan Yunho sebelum membersihkan meja makan dan bersiap-siap berangkat ke kampus. Pikiran Donghae melayang-layang entah kemana sementara tangannya mencuci semua piring kotor yang di tinggalkan Yunho. Donghae memikirkan hal yang random, mulai dari pertemuan pertamanya dengan Eunhyuk, bertengkar dengannya dan terakhir saat Donghae memeluk Eunhyuk yang tengah sakit dan menggumamkan nama orang lain. Donghae menggelengkan kepalanya, sepertinya ia terlalu sering bertemu dengan Eunhyuk hingga membuatnya terus memikirkan hal yang tidak penting.
"Aku penasaran, apa si Choi Siwon itu yang membuat Eunhyuk-ssi menangis dan menderita? Ah, bajingan macam apa yang membuat pasangannya menangis."
Setelah selesai dengan semua piring kotornya, Donghae mengambil jaket dan kunci motornya. Belakangan ini, jadwal kuliahnya semakin padat padahal ia baru mahasiswa tingkat awal. Tidak ada lagi waktu untuk bermain game dengan Changmin karena ada banyak materi yang harus di hapalkan dan lagi Donghae harus pergi bekerja setelah selesai kuliah. Jika bukan karena kakak dan ibunya yang selalu menaruh harapan padanya, Donghae ingin sekali menyerah pada sekolah kedokteran dan memilih bekerja mencari uang sebanyak mungkin.
"Mau kuliah?"
Donghae mengangguk canggung saat melihat Eunhyuk yang baru keluar dari apartemennya.
"Kau sudah sehat?"
"Aku rasa begitu, jadi aku harus kembali bekerja."
"Sudah jam delapan lewat, kau tidak kesiangan? Jalanan sudah macet jam segini, kau akan benar-benar kesiangan jika naik mobil sekarang."
Eunhyuk terkekeh, "Lalu aku harus bagaimana? Berjalan kaki?"
"Ikut denganku naik motor, lebih menghemat waktu."
"Naik motor? Dengan anak kecil sepertimu? Lupakan."
"Oho, lihat dirimu, lagi-lagi berlagak sok tua. Kau bangga menjadi orang tua?"
"Hei bocah! Kau—"
Karena jam sudah menunjukan pukul delapan lewat dan Donghae malas berdebat dengan Eunhyuk, Donghae langsung menarik pergelangan tangan Eunhyuk dan menyeretnya masuk ke dalam lift. Percuma, berdebat dengan Eunhyuk hanya membuatnya lelah, tidak akan ada ujungnya. Apa gunanya membahas usia di jaman semodern ini? Semakin di bahas semakin tidak ada ujungnya.
"Pakai ini."
Donghae menyerahkan sebuah helm pada Eunhyuk dan mengundang wajah memberengut Eunhyuk yang sangat manis di mata Donghae.
"Aku tidak mau!"
"Jam delapan lewat tigapuluh menit dan kau akan benar-benar kesiangan!"
"Kau bocah pemaksa!"
"Mau naik tidak?"
"Naik! Sialan!"
Donghae tersenyum penuh kemenangan melihat wajah Eunhyuk yang kusut dan terpaksa.
Kenapa semakin hari kau semakin manis?
.
.
Setelah mengantar Eunhyuk ke kantornya, Donghae tidak bisa berhenti tersenyum seperti ada sesuatu yang menarik sudut bibirnya. Bahkan sesampainya di kampus, Donghae mengabaikan sapaan Changmin karena terlalu sibuk memikirkan setiap perubahan ekspresi Eunhyuk yang bermacam-macam. Entah mantra apa yang di berikan Eunhyuk pada Donghae hingga mampu membuat Donghae terus memikirkannya dan tidak bisa melupakan setiap ekspresi wajahnya.
"Profesor Jang di pecat dan kita dapat dosen baru!"
Changmin menepuk-nepuk pundak Donghae dengan brutal karena tidak mendapatkan respon apa-apa ketika ia berbicara panjang lebar pada Donghae.
"Kenapa?"
"Tuduhan pelecehan seksual pada mashasiswinya terbukti benar, dia di pecat secara tidak hormat dari kampus dan kita akan mendapatkan dosen yang baru."
"Oh, baguslah kalau begitu."
Changmin mengerutkan keningnya, "Bagus? Aku pikir kau tidak tertarik dengan masalah ini."
"Oh itu karena orang di hamili oleh profesor Jang adalah temannya temanku, jadi bagus jika dia sudah ketahuan."
"Teman? Seingatku kau tidak punya teman selain aku dan Yunho yang tinggal bersamamu itu."
"Oh, itu karena aku tidak sempat memberitahumu. Dia tetangga baruku."
"Benarkah?"
Ekspresi wajah Changmin tidak menunjukan bahwa ia puas dengan jawaban yang di berikan Donghae, ia memincingkan matanya sambil terus memandangi Donghae dengan penuh curiga. Sepertinya Changmin mulai merasa ada yang aneh dengan Donghae semenjak Donghae bolos kuliah dan meninggalkan motornya begitu saja di kampus.
"Kenapa melihatku terus? Lihat, dosen baru datang!"
Changmin kembali ke tempat duduknya begitu sosok tinggi dan cukup tampan memasuki ruang kelas mereka. Aura maskulin langsung menguar ke seluruh penjuru kelas begitu dosen baru itu memasuki ruangan kelas. Donghae memandangi dosen barunya dari atas hingga ke bawah dengan tatapan yang sulit di artikan, dosennya kali ini tampak masih muda dan auranya sangat kuat dengan penampilan yang rapi dan parfum yang menguar dari tubuhnya membuat sosok yang sekarang sedang tersenyum menunjukan lesung pipinya itu terlihat sempurna. Menurut Donghae, penampilannya yang begitu sempurna itu lebih cocok duduk di kursi direktur utama, bukannya mengajar seperti sekarang.
"Aku di sini menggantikan posisi profesor Jang, sebelumnya aku mengajar di Kanada dan baru pulang ke Korea sekitar sebulan yang lalu. Namaku Choi Siwon, senang bertemu dengan kalian semua."
Choi...Siwon?
.
.
TBC
Ada typo? pasti!
maaf ya, saya sibuk kerja dan susah banget dapet waktu untuk ngedit, bahkan ngepost ini aja nyuri2 waktunya ^^
terimakasih atas respon dan dukungan yang selalu kalian berikan di kotak review !^^
oh mau jawab pertanyaan dulu, maaf gak bisa di sebutin namanya satu2..
.
.
Q: apa usianya Eunhyuk gak ketuaan?
A: ketuaan sebenernya =_= kkkkkkk tapi memang dari awal saya mikirin konsep fanfict dimana Hyuk jauh lebih tua dari Donghae, semacem bikin kisah cinta raffi-yuni shara gitu yah? *di sepak* ngga deng heheh saya emang lagi pengen bikin konsep fanfict yang gini aja ^^
.
Q: Eunhyuk pernah punya masa lalu yg kelam? berarti dia gak bakal percaya dong sama Donghae?
A: jawabannya akan ada kalau ngikutin fanfict ini terus sampe tamat heheh ^^
.
Q: MPREG gak nih?
A: em, saya pikirin dulu ya...saya rada awkward soalnya kl bikin mpreg kkkk ^^
.
Q: Kok Eunhyuk biasa aja sih di tidurin Donghae?
A: kl di baca lebih detail ada tuh penjelasannya, Eunhyuk gak bereaksi berlebihan karena dulu pernah gitu juga sama cinta pertamanya. hihi ^^
.
Q: ini rated M kah? kenapa NC nya di skip?
A: ini rated T, masih aman tapi gak bagus buat anak 13 tahun kebawah krn ada banyak kata2 kasar ^^ soal NC, saya gemeter kl nulis NC detail...bisa-bisa keburu ayan duluan di depan laptop hahahahah biarlah author yg lebih profesional yg nulis NC kkkk
.
.
Okay, semua sudah saya jawab...semoga chapter ini gak aneh dan gak bikin kalian bosen yah ^^ sekali lagi saya sangat sangat berterimakasih sama yang selalu meninggalkan review dan nyemangatin saya ^^ *peluk satu2*
see ya next chapter ^^ review lagi ya ^^
.
.
With Love,
Milkyta Lee
