WAY BACK INTO LOVE

Main Cast: Lee Donghae, Lee Hyukjae

Genre: Romance, Drama

WARNING!

BOYS LOVE

MAINSTREAM STORY

DON'T LIKE? DON'T READ PLEASE!

THE STORY IS MINE

Typo may applied, don't be silent reader please, NOT ALLOWED TO COPY PASTE WITHOUT MY PERMISSION ^^

TIDAK MENERIMA BASH DAN KAWAN-KAWANNYA. KRITIK DAN SARAN SANGAT DIBUTUHKAN.

THANKYOU ^^


.

.

All I wanna do is find a way back into love.

.

.


Sudah beberapa hari ini Donghae tidak melihat Eunhyuk, kadang Donghae hanya melihatnya sekilas saat Eunhyuk terburu-buru masuk ke dalam mobilnya di parkiran gedung apartemen mereka. Donghae bahkan tidak sempat menyapanya karena Eunhyuk selalu pergi dengan tergesa-gesa, kabar terakhir yang Donghae dengar adalah soal kesibukan Eunhyuk yang semakin padat karena perusahaannya memenangkan tender besar. Hampir seminggu Donghae tidak mendengar makian Eunhyuk padanya dan itu membuat pikiran Donghae sedikit terganggu. Aneh memang, jika dulu Donghae berharap bisa jauh-jauh dari Eunhyuk dan tidak pernah mau mendengar makiannya lagi, sekarang Donghae justru merindukan makian itu.

Pukul delapan pagi Donghae menyalakan intercomnya, ia mengamati pintu apartemen Eunhyuk dengan seksama. Sepuluh menit Donghae mengamati aktifitas intercomnya dan Eunhyuk tidak juga keluar dari apartemennya, seperti yang Donghae duga Eunhyuk sudah berangkat bahkan sebelum matahari menunjukan wujudnya. Sebenarnya, kenapa Donghae ingin sekali menemui Eunhyuk adalah karena Choi Siwon—yang namanya pernah di sebut-sebut Eunhyuk dalam tidurnya—menjadi dosen barunya di kampus. Donghae ingin bertanya dan membicarakan soal dosennya itu dengan Eunhyuk.

Jika di ingat-ingat lagi, kesan pertama Donghae pada Choi Siwon saat pertama kali mengajar adalah SEMPURNA! Tidak ada cacat sedikit pun dari cara bicaranya, gerak-geriknya menunjukan bahwa dia orang yang lugas dan caranya bicara menunjukan betapa pintarnya seorang Choi Siwon. Tak heran di usianya yang baru tigapuluh tiga tahun dia sudah mendapat gelar profesor. Jujur saja, Donghae sedikit cemburu melihat penampilan Siwon yang sepertinya tidak ada cacatnya itu. Di bandingkan dengan Donghae yang masih berstatus mahasiswa, Choi Siwon jauh beradi di atasnya! Tak heran jika Eunhyuk sangat mencintainya. Tampan, lugas, berwibawa dan pintar, siapa yang bisa menolak pesona seperti yang dimiliki Choi Siwon? Tapi siapa sangka di balik penampilannya yang sempurna itu, dia pernah menyakiti seseorang yang–mungkin—pernah di cintainya.

Pagi ini Donghae berangkat kuliah malas-malasan, jadwal pertama di pagi hari yang cerah itu adalah mata kuliah Choi Siwon. Donghae malas sekali melihat wajahnya yang—sok—tampan itu di pagi secerah ini. Entah Choi Siwon tahu atau tidak tapi dengan wajahnya yang tampan itu ia telah menyakiti seseorang dan membuatnya selalu menderita.

"Aku harap tugas essay yang aku berikan minggu lalu sudah terkumpul rapi di mejaku besok pagi. Hari ini aku akan membahas soal kode etik kedokteran."

Dan bla...bla...bla...

Choi Siwon terus berbicara ini dan itu tapi Donghae sama sekali tidak mendengarkannya, ia hanya memperhatikan wajah Choi Siwon dengan tatapan tidak suka.

"Jadi, sebagai dokter kalian harus memperlakukan pasien dengan sangat baik, mendengarkan keluh kesahnya dan selalu sabar menghadapi pasien dalam kondisi apapun."

Donghae berdecih, bagaimana laki-laki sok tampan itu mengatakan harus memperlakukan pasien dengan baik sementara dia tidak bisa memperlakukan kekasihnya dengan baik.

"Bagaimana bila seorang dokter menyakiti kekasihnya dan membuat kekasihnya menderita. Apakah dokter seperti itu masih bisa di katakan dokter yang baik? Maksudku, bagaimana bisa dokter itu memperlakukan pasien dengan baik jika memperlakukan kekasihnya dengan baik saja dia tidak bisa."

Choi Siwon berdeham sambil membenarkan letak kacamatanya. Lihat ekspresi sok tenangnya itu, semakin membuat Donghae tidak menyukainya dan tidak menaruh hormat sama sekali padanya

"Lee Donghae-ssi, pertanyaanmu out of topic."

"Oh, ya? Bukankah kau bilang cara mengajarmu santai dan bebas mengajukan pertanyaan apapun selama itu masih berkaitan dengan pelajaran yang kau ajarkan, profesor Choi?"

"Okay, begini...bagaimana pun urusan pribadi dan urusan pasien itu sama sekali berbeda, kau tidak bisa mencampur adukannya seperti itu. Orang yang tidak memperlakukan kekasihnya dengan tidak baik, belum tentu memperlakukan pasien dengan tidak baik juga."

"Oh, kau berkepribadian ganda ternyata."

"Maaf?"

"Oh tidak, hanya bergumam asal-asalan. Terima kasih jawabannya, profesor Choi."

Lihat ekspresi laki-laki sok tampan itu, dia masih bisa tersenyum dan berlagak sok tenang padahal di luar sana ada seorang laki-laki yang menangis setiap malam karenanya. Donghae menggelengkan kepalanya, ia tidak percaya di dunia ini ada laki-laki macam Choi Siwon.

Pecundang!

.

.


"Kepalamu terbentur sesuatu? Atau, otakmu tergilas kapal laut? Mulutmu itu! Kenapa menanyakan hal tidak penting pada profesor Choi?"

Changmin menoyor dan menendang bokong Donghae sesaat setelah pelajaran berakhir. Changmin hanya tidak menyangka, Donghae yang biasanya pendiam selama kuliah berlangsung, tadi mengajukan pertanyaan yang sedikit menyinggung dosen baru mereka.

"Kau percaya dia adalah orang yang baik?"

"Kau dasar gila! Kau tidak lihat penampilannya? Dia pintar, tampan dan suami yang baik tidak seharusnya kau mengajukan pertanyaan seperti tadi."

"Suami?"

"Ya, dia sudah menikah. Kau tidak melihat cincin di jari manis kirinya? Rumah tangga mereka terkenal sangat harmonis."

"Oho lihat dia, membuat orang lain menangis dan bahagia di atas penderitaan orang yang di sakitinya. Tidak tahu malu! Tapi, kau tahu dari mana?"

Changmin berdecih mendengar pertanyaan Donghae, seperti biasa bicara dengan Donghae hanya membuatnya lapar dan semakin lapar.

"Orang memanggilku mulut besar bukan tanpa alasan! Semua orang di kampus sering membicarakannya dan lagi, jika kau mengetik namanya di mesin pencari, kau akan mendapat banyak artikel tentang prestasinya. Tunggu, kenapa kau berbicara seolah-olah kau mengenalnya?"

"Apa dia sepenting itu?"

"Auh! Kau ini! Kenapa sinis sekali padanya? Kau menaruh dendam yang tidak aku ketahui padanya? Kenapa?"

Donghae menggeleng pelan sambil tersenyum, "Tidak ada apa-apa."

Mata Changmin memincing dan memandangi Donghae dengan penuh rasa ingin tahu. Perasaan Changmin tidak salah lagi, Donghae sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Changmin memang baru dua tahun kenal dengan Donghae, tapi Changmin tahu sahabatnya ini sedang menyembunyikan sesuatu.

"Kau menyembunyikan sesuatu, 'kan?"

"Hei, Shim Changmin berhentilah memincingkan mata dan menatapku seolah-olah aku ini makhluk asing."

"Ah, semenjak kau bolos kuliah waktu itu aku merasa sepertinya kau menyembunyikan sesuatu yang besar. Aku bahkan bisa mencium aroma tidak sedap, seperti aroma kebohongan!"

"Selanjutnya mata kuliah profesor Kim, bukan? Persiapkan mentalmu, hari ini akan ada kuis lagi!"

"Ah, kuis!"

.

.


Langit sudah mulai gelap dan berwarna hitam pekat saat Donghae baru saja menyelesaikan semua pekerjaannya di restoran cepat saji itu. Hari ini lebih sibuk dari biasanya karena ada anak-anak sekolah yang merayakan pesta ulang tahun di restoran tempatnya bekerja, mau tidak mau Donghae bekerja dua kali lipat dari biasanya. Sebelum pulang ke apartemennya, Donghae mampir ke super market yang terletak tidak jauh dari kawasan tempat tinggalnya. Donghae duduk sejenak di motornya sekedar menghilangkan penat, sambil menikmati susu strawberry yang baru ia beli.

Sementara Donghae menghabiskan susunya, pikirannya kembali memikirkan Eunhyuk secara tidak sadar. Sepertinya Donghae benar-benar merasa kehilangan saat telinganya tidak lagi mendengar makian Eunhyuk.

"Hei, handsome haksaeng!"

Donghae menolehkan kepalanya ke samping saat suara yang sangat familiar di telinganya memanggilnya dengan sebutan tampan. Sudut bibir Donghae tertarik otomatis membentuk sebuah senyuman paling bersemangat ketika mata cokelat hazelnya melihat Eunhyuk sedang melambaikan tangannya dengan lengan kemeja yang tergulung sampai ke siku dan dua kancing teratas kemejanya yang tidak terkancing. Sepertinya Eunhyuk baru menyelesaikan pekerjaannya.

"Sedang apa di sini? Sudah lama tidak melihatmu. Wah, sepertinya aku merindukanmu, dokter Lee."

Masih dengan senyum yang mengembang Eunhyuk menghampiri Donghae dan mengacak rambut cokelat Donghae dengan gemas.

Donghae tersenyum malu-malu mendengar Eunhyuk memanggilnya dengan sebutan dokter terlebih jemari halus itu kini mengacak rambutnya. Ternyata tidak bertemu selama seminggu membuat sikap Eunhyuk pada Donghae berubah banyak.

"Oh, aku baru saja pulang kerja dan beristirahat di sini sambil menikmati minuman dingin."

"Kau sendiri?"

Donghae turun dari motornya dan mengikuti Eunhyuk duduk di meja yang di sediakan oleh super market.

"Aku juga baru pulang dan ingin minum minuman dingin."

"Kau baru pulang selarut ini? Bukankah seharusnya pegawai kantoran sepertimu sudah pulang sejak sore tadi?"

Eunhyuk tersenyum menunjukan gusinya, senyum yang pertama kali baru Donghae lihat dari jarak sedekat ini.

"Aku sibuk karena perusahaan mendapat tender baru yang besar. Sebagai kepala marketing, tugasku semakin banyak karena pihak perusahaan juga berencana menambah cabang baru."

"Seharusnya kau tidak perlu menyelesaikannya sendiri, kau bisa minta tolong pada sekretarismu."

Mata sipit Eunhyuk menatap ke dalam mata hazel Donghae sedetik kemudian ia menepuk pundak Donghae lumayan keras.

"Itu dia masalahnya! Sekretarisku sudah berhenti sejak lama, sambil menunggu ada sekretaris yang baru aku sempat menyuruh Victoria untuk membantuku sebagai pekerja paruh waktu. Tapi karena sekarang dia hamil, dia pulang ke China dan tidak ada lagi yang membantuku."

"Oh."

Setelah obrolan soal kantor, suasana menjadi hening. Tidak ada lagi yang mengajukan pertanyaan, mereka hanya sibuk menyeruput minuman masing-masing dan kadang saling mencuri pandang ke arah satu sama lain. Oh, Donghae tiba-tiba teringat pada dosen barunya di kampus dan alasan kenapa Donghae mencari Eunhyuk terus menerus adalah karena ingin menanyakan soal Choi Siwon. Di suasana yang semendukung ini akhirnya Donghae mencoba memberanikan diri bertanya soal Choi Siwon yang selalu menganggu pikirannya itu.

"Ngomong-ngomong, Eunhyuk-ssi ada yang ingin aku tanyakan padamu. Tapi mungkin akan pribadi dan mingkin juga akan menyulut emosimu."

"Kita sudah mengenal cukup lama, kita bicara dengan nyaman saja. Panggil aku Hyung, seperti yang Yunho lakukan."

"Oh, Hyung."

Donghae menggaruk tengkuknya, bola matanya bergerak-gerak gelisah. Donghae bingung harus bertanya bagaimana agar emosi Eunhyuk tidak langsung tersulut.

"Bertanyalah, akhir-akhir ini suasana hatiku sedang baik. Aku janji, aku tidak akan langsung meledak."

"Apa kau mengenal Choi Siwon?"

Mata Eunhyuk terbelalak saat Donghae menyebutkan nama Choi Siwon, tangan Eunhyuk sedikit bergetar saat menaruh kaleng minuman sodanya di meja.

"Maaf, kalau kau tidak mau menjawab aku tidak akan memaksa."

"Dia mantan kekasihku."

"Ya?"

"Sudah malam, aku harus pulang dan cepat tidur karena besok pagi aku harus berangkan lebih awal. Terima kasih sudah mau menemaniku mengobrol."

Kenapa raut wajahmu begitu menderita saat aku menyebutkan namanya? Sebegitu besarkah rasa cintamu padanya?

.

.


ooODEOoo


Eunhyuk langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur tanpa melepas sepatunya terlebih dahulu. Hatinya masih berdebar-debar sejak pulang dari super market tadi, entah kenapa tiba-tiba saja ia berdebar dan tangannya terasa lemas saat Donghae menanyakan soal Choi Siwon. Eunhyuk tidak mengerti, dari mana Donghae tahu nama itu, padahal selama ini yang tahu soal kisah cintanya dengan Choi Siwon hanya Kyuhyun dan Sungmin.

Debaran itu terasa semakin menjadi saat Eunhyuk kembali mengingat wajah Donghae yang seolah dipenuhi tanda tanya saat menanyakan soal Choi Siwon padanya. Eunhyuk menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya dengan perlahan, begitu terus hingga debaran itu terasa sedikit berkurang.

Meski debaran itu sudah berkurang dan hampir tidak terasa lagi, tapi ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Choi Siwon, kenapa Donghae mengenal nama itu? Eunhyuk sangat penasaran hingga rasanya ingin meledak dan marah-marah pada siapa pun!

Jika terus begini, aku akan mati penasaran. Aku harus bertanya padanya langsung! Malam ini juga!

Eunhyuk melepaskan kemejanya terburu-buru dan menggantinya dengan pakaian santai dan langsung menuju apartemen Donghae kemudian menekan bel dengan tidak sabaran.

"Hyung, ada apa?"

"Dimana Donghae?

"Sedang belajar di kamarnya."

"Boleh aku masuk ke kamarnya?"

Suara Eunhyuk sedikit tersendat saat mengucapkan kata kamar, bukan karena ia memikirkan hal yang tidak lazim, tapi karena Yunho sedang menatapnya penuh curiga sekarang.

"Hei, Jung Yunho! Aku tidak mesum sepertimu, aku tidak akan berbuat apa-apa! Aku hanya perlu bicara dengannya. Penting!"

"Memangnya aku bilang sesuatu? Wah-wah lihat dirimu, Hyung. Biasanya di saat seperti ini kau akan berteriak dan memaki, tapi sekarang kenapa kau bicara dengan halus bahkan kata-kata kasarmu sudah menghilang entah kemana. Ada apa?"

"Kau mau mati di sini ku potong-potong atau aku dorong dari lantai 18 ini?"

"Aku memilih ke rumah Jaejoong. Permisi, Hyung."

Setelah mendengar ancaman Eunhyuk yang membuat bulu kuduknya merinding, Yunho langsung meraih kunci mobilnya dan berlari dari apartemennya sendiri. Ternyata ancaman Eunhyuk jauh lebih mengerikan dari pada kata-kata kasarnya.

"Donghae, boleh aku masuk?"

Eunhyuk mengetuk pelan pintu kamar Donghae. Tak lama, Donghae membukakan pintu dan menyuruhnya masuk tanpa bertanya ada apa Eunhyuk mendatangi apartemennya.

"Kau mau minum apa? Biar aku suruh Yunho mengambilkannya."

Eunhyuk menggeleng sambil mengibaskan tangannya, "Tidak usah kita langsung bicara saja, lagi pula Yunho tidak ada."

"Sudah larut begini dia pergi kemana? Ah, jangan-jangan ke bar lagi!"

"Tidak! Dia bilang, dia akan ke rumah Jae...Jaejoong?"

"Oh, kekasih barunya. Jadi kau mau membicarakan apa?"

Sebelum Eunhyuk melanjutkan pembicaraannya, Eunhyuk mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar Donghae. Eunhyuk bingung apa harus bicara sambil berdiri atau duduk? Jika bicara sambil berdiri, itu membuatnya pegal karena mungkin saja obrolan mereka akan panjang. jika bicara sambil duduk, Eunhyuk tidak tahu harus duduk dimana karena kamar Donghae sangat berantakan dipenuhi buku-buku kedokteran yang sedang dia pelajari. Satu-satunya tempat kosong yang bisa di pakai duduk adalah tempat tidur Donghae. Eunhyuk menggaruk keningnya yang tidak gatal, apakah ia harus duduk di sana?

"Kamarku berantakan, duduk saja di tempat tidur sementara kita bicara. Kau tidak keberatan?"

"Oh, ya. Sebelumnya, maaf tadi aku pergi begitu saja tanpa menjelaskan apapun."

"Tentu, itu bukan salahmu. Aku yang sudah kurang ajar menanyakan hal pribadi, kau tidak marah saja itu sudah membuatku lega, tidak perlu minta maaf lagi."

Eunhyuk berdeham sebelum memulai kalimatnya, ia membenahi cara duduknya dan mencoba berhadapan dengan Donghae.

"Jadi, bagaimana kau bisa tahu soal Choi Siwon. Kau mengenalnya?"

Sejak awal melihat Eunhyuk berdiri di depan pintu kamarnya, Donghae sudah tahu Eunhyuk akan membahas soal ini, maka dari itu ia mempersilahkan Eunhyuk masuk tanpa bertanya ada apa karena Donghae sudah dapat menduga jawaban yang akan di berikan Eunhyuk padanya. Donghae diam tidak tahu harus menjawab apa.

Apakah harus jujur atau bohong saja?

"Kenapa kau putus dengannya?"

Eunhyuk menghela napas, sepertinya Eunhyuk harus menjelaskan dulu duduk perkaranya baru Donghae mau memberikannya jawaban.

"Dia meninggalkanku beberapa bulan sebelum pernikahan dan sehari sebelum pernikahan dia mengembalikan cincinnya. Dia bilang, dia akan menikah dan bahagia bersama orang lain. Setelah itu aku tidak tahu kabar apapun tentangnya."

"Maaf, apa kau begitu mencintainya hingga tidak bisa melupakannya sampai sekarang?"

"Dia pergi dengan membawa seluruh hatiku bersamanya, aku sudah menyerahkan segalanya pada dia dan dia pergi begitu saja meninggalkan ruang hampa di hatiku. Itu sebabnya aku sering datang ke bar, selain untuk bersenang-senang aku juga mencoba melupakan sosok brengsek itu."

Eunhyuk menundukan kepalanya, menghindari tatapan Donghae. Selalu begini, tiap ia membicarakan soal Choi Siwon pasti berakhir dengan airmatanya yang tidak berhenti mengalir.

"Ternyata kau sangat mencintainya."

"Sudah hampir sepuluh tahun dan aku masih tidak bisa melupakannya, aku harus bagaimana? Luka yang ditinggalkannya terus menganga dan terasa sangat sakit tiap kali aku mengingat semua kenangan yang pernah kami alami. Rasanya sakit sekali hingga membuatku sesak."

Melihat airmata Eunhyuk yang mengalir di kedua pipi putihnya membuat Donghae terenyuh, ia tidak sanggup lagi melihat airmata Eunhyuk yang terus mengalir bercucuran seakan tidak akan berhenti. Dengan perasaan yang kalut, Donghae menarik tubuh Eunhyuk ke dalam dekapannya, memberikannya rasa hangat dan nyaman. Menyalurkan seluruh simpatinya lewat sebuah dekapan erat.

"Jangan menangis, laki-laki seperti itu tidak pantas kau tangisi."

Eunhyuk melepaskan dekapan Donghae, ia menatap mata Donghae dengan mata yang masih bercucuran airmata.

"Lalu aku harus bagaimana? Aku hanya bisa menangis dan tidak tahu harus berbuat apa!"

Tidak tahan dengan wajah tersiksa Eunhyuk, Donghae menarik dagu Eunhyuk lalu memagut bibirnya dengan kasar. Cukup sudah Eunhyuk manangis karena laki-laki pengecut seperti Choi Siwon. Eunhyuk tidak pantas menderita dan menangis karena laki-laki seperti Choi Siwon.

"Aku bilang, jangan menangisinya!"

Donghae kembali mendekap Eunhyuk setelah melepaskan pagutannya. Entah kenapa, ada rasa tidak suka ketika Eunhyuk menangis sambil menyebut namanya.

Jangan menangis, bila tidak ingin melihatku gila karena airmatamu...

Sudah hampir duapuluh menit Donghae dan Eunhyuk saling berpelukan keduanya masih diam dan saling merasakan detak jantung masing-masing. Setelah ciuman Donghae yang tiba-tiba jantung Eunhyuk tidak bisa berdetak dengan tanang lagi.

Selama beberapa puluh menit tidak ada yang berinisiatif melepaskan pelukan hangat itu, keduanya sibuk dengan pemikiran masing-masing dan detak jantung masing-masing yang tidak karuan.

"Kau belum menjawab pertanyaanku, bagaimana kau tahu soal Choi Siwon?"

Donghae menghela napas panjang, ia pikir Eunhyuk sudah lupa dengan pertanyaan itu. Karena tidak ingin Eunhyuk tahu soal Choi Siwon yang sudah kembali ke Korea, akhirnya Donghae terpaksa menutupi keberadaan Choi Siwon yang sekarang menjadi dosennya. Niatnya yang ingin bertanya lebih banyak soal Choi Siwon ia urungkan setelah melihat airmata Eunhyuk.

"Saat kau sakit kau menyebutkan namanya dengan lirih."

"Oh, berarti kau tidak mengenalnya?"

"Tidak. Untuk apa aku mengenal laki-laki pengecut macam dia."

"Kau tahu? Dia tampan juga pintar, caranya berbicara membuat semua orang terkagum-kagum padanya."

Mendengar Eunhyuk yang tiba-tiba memuji mantan pacarnya itu, Donghae langsung melepaskan dekapannya. Lagi-lagi rasa tidak nyaman di hatinya muncul dan membuatnya merasa terganggu.

"Sudahlah, ini sudah malam. Aku akan mengantarmu sampai depan pintu."

Eunhyuk mengerutkan dahinya, bingung. Ia mengikuti langkah Donghae yang sudah berjalan terlebih dahulu di depannya.

"Selamat malam, Hyung. Semoga tidurmu nyenyak."

Setelah berkata demikian, Donghae langsung menutup pintu apartemennya tanpa menunggu jawaban dari Eunhyuk. Entah kenapa suasana hatinya jadi sedikit kacau setelah Eunhyuk memuji mantan kekasihnya seperti tadi, terlebih Eunhyuk melakukannya saat suasana sedang hangat-hangatnya dan mereka sedang berpelukan.

Tampan katanya, apa hebatnya laki-laki berparfum menyengat itu? Saat aku berumur tiga puluh tahun, aku akan jauh lebih tampan dan berkharisma.

.

.


Pagi-pagi sekali, Yunho sudah kasak-kusuk sibuk sendiri. ia sibuk bolak-balik ke kamarnya dan berganti-ganti pakaian, semua pakaian yang sudah ia coba di tinggalkan begitu saja di ruang tamu membuat tempat itu seperti baru terjadi huru-hara. Kemeja, jas, celana bahkan dalaman ada di sana, meramaikan suasana ruang tamu pagi itu.

"Jung Yunho! Kau sudah gila? Kenapa membuat rumah berantakan seperti ini?"

"Lee Donghae! kau benar, aku sudah gila! Aku tidak waras!"

Donghae memunguti pakaian yang di lempar oleh Yunho ke seluruh penjuru ruang tamu. Hari minggu pagi begini, Donghae sudah harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga karena sahabatnya yang tidak bisa ia andalkan itu membuat kacau seluruh isi rumah.

"Ada apa denganmu?"

"Kim Jaejoong! Kim Jaejoong membuatku gila!"

Donghae tidak bisa mendengar Yunho dengan jelas dan kepalanya mendadak pusing karena Yunho terus berjalan ke sana kemari mengelilingi ruang tamunya dengan hanya menggunakan bokser dan dasi yang melilit di lehernya. Setelah semua baju yang di hamburkan Yunho terkumpul, Donghae menarik dasi yang melingkar di leher kokoh itu dan mengarahkannya ke sofa.

"Duduk dan ceritakan dengan benar, apa yang sedang terjadi."

"Dua hari yang lalu saat Eunhyuk Hyung kemari malam-malam, aku di usir olehnya! Jadi aku terpaksa pergi ke rumah Jaejoong untuk menginap. Entah ada setan apa yang merasuki aku dan Jaejoong, karena malam itu kami berakhir di ranjang dan yang lebih parah, saat pagi-pagi aku sedang melakukannya lagi dengan Jaejoong, orang tuanya datang dan memergoki kami di kamar sedang—kau tahu—morning 'something'."

"Oh, itu sebabnya kau tidak pulang dan baru pulang kemarin malam? Lalu?"

"LALU ORANG TUANYA KIM JAEJOONG MEMINTAKU UNTUK SEGERA MENIKAHINYA!"

Donghae mengedipkan matanya beberapa kali.

Menikah? Jung Yunho?

Apa dunia ini sedang bercanda?

Apa dunia akan kiamat?

"Lee Donghae! Hari ini, hari minggu yang cerah ini, aku harus datang ke rumah orang tua Jaejoong dan memberi kepastian untuk tanggal pernikahan kami."

"Ayahmu sudah tahu?"

"Dia sudah ada di sana sejak tadi dan sejak tadi pula ayahku tidak berhenti meneleponku!"

"Kalau begitu cepat pakai setelanmu dan temui mereka. Tidak sopan membuat orang tua menunggu. Kenapa? Kau tidak mau menikahi Jaejoong? Kau hanya main-main dengannya?"

"Bukan begitu! Aku mencintainya dengan seluruh jiwa dan raga, tapi menikah? Aku baru berusia duapuluh tahun, begitu pun dia. Aku masih merintis usahaku sendiri dan dia masih duduk di bangku kuliah. Pernikahan bukan urusan main-main, aku tidak mau membuatnya menderita saat hidup bersamaku."

"Jika dua orang sudah saling mencintai, apa lagi yang perlu di takutkan? Menikah tidak harus saat kau sukses dan mapan, asalkan kalian berdua selalu saling mencintai dan saling percaya maka kesulitan apapun bisa dilewati."

Donghae mengambil kemeja berwarna biru muda yang tadi di lempar Yunho ke sudut ruangan, ia juga mengambilkan jas hitam dan dasi biru tua untuk dipakai Yunho.

"Orang tuamu dan orang tua Jaejoong pasti sedang cemas menunggumu, sebaiknya kau cepat pergi dan jangan membuat Jaejoong khawatir."

Akhirnya hati Yunho luluh karena kata-kata bijak Donghae barusan, ia keluar dari kamarnya dengan setelan yang sudah melekat rapi di tubuh tegapnya. Meskipun terkadang Donghae tampak kekanak-kanakan, sebenarnya dia sahabat yang baik dan selalu membantu Yunho mencari jalan keluar dalam setiap masalahnya.

"Sebelum aku pergi, ada yang harus aku tanyakan padamu. Jumat malam kemarin, apa yang kau lakukan dengan Eunhyuk Hyung di kamar?"

"Jangan berpikiran mesum, Jung. Cepat pergi sebelum aku mematahkan kaki panjangmu itu!"

"Ah, kau orang pendek selalu saja iri dengan kaki semampaiku."

"Mati kau, Jung!"

"Aku mau menikah, Lee. Bukan mati!"

Sialan!

.

.


Entah sudah berapa lama sejak Yunho pergi ke rumah Jaejoong dan entah sudah berapa lama juga Donghae duduk di meja belajarnya. Di hari minggu yang cerah ini Donghae tidak ada kegiatan sama sekali—selain belajar—, jika biasanya Donghae akan sangat sibuk di hari libur maka tidak dengan hari ini. Donghae sudah mengajukan permohonan pengunduran diri pada manager di restoran tempatnya bekerja. Selain karena jadwal kuliahnya yang semakin sibuk, ujian akhir sester juga sudah di depan mata dan ada banyak materi kuliah yang harus Donghae hapal. Maka dari itu, untuk sementara waktu sampai ujiannya selesai Donghae tidak akan mencari pekerjaan paruh waktu dan hanya fokus belajar.

Langit biru sudah berganti warna menjadi jingga, menunjukan waktu yang sudah sore menjelang malam. Donghae ingat, ia belum makan apapun dari pagi karena sibuk menghapal dan mempelajari beberapa materi dari buku yang baru ia beli. Merasa cacing di perutnya berontak, Donghae pergi ke dapur untuk mengambil beberapa makanan kecil. Namun, ketika Donghae baru membuka pintu kulkas, apartemennya mendadak gelap gulita. Donghae menghela napas panjang, ia baru ingat tadi pagi pihak keamanan apartemen bilang akan terjadi pemadaman sementara karena harus memperbaiki sambungan listrik di lantai dasar. Donghae buru-buru menyalakan ponselnya karena jujur saja, Donghae benci gelap dan cenderung takut. Terlebih Yunho pernah menakut-nakutinya soal hantu yang mendadak muncul di tengah pemadaman listrik. Mengingat cerita itu membuat Donghae bergidik ngeri dan buru-buru lari ke kamarnya.

Donghae kembali membaca buku-bukunya yang berserakan dengan mengandalkan lampu ponsel sebagai penerangannya. Dalam keadaan apapun Donghae harus tetap belajar karena ujian besok adalah hidup dan matinya. Namun, ketika Donghae baru selesai membaca beberapa kalimat, ponselnya berdering nyaring membuat Donghae tersentak kaget.

Ah, sialan!

"Oh, Hyung ada apa?"

"Kau di rumah? Tiba-tiba saja lampu mati, aku—aku takut, bisakah kau mampir ke apartemenku sebentar?"

Donghae berpikir sejenak, ia juga sendiri di rumah dan takut pada gelap, tidak ada salahnya menemani Eunhyuk sampai lampu menyala. Tapi, donghae juga harus tetap belajar karena ujian kali ini sangat penting.

"Okay, aku akan ke sana. Tunggu sebentar."

Tanpa berpikir lebih lama lagi, Donghae memutuskan untuk menemani Eunhyuk dan membawa buku-bukunya ke apartemen Eunhyuk. Sama saja bukan? Belajar dimana saja yang penting Donghae bisa berkonsentrasi.

Donghae masuk ke apartemen Eunhyuk tanpa menekan bel, ia masuk begitu saja karena Eunhyuk belum juga mengganti password pintunya. Masih dengan mengandalkan lampu ponsel sebagai penerangannya Donghae mencari keberadaan Eunhyuk yang entah dimana.

"Hyung, kau dimana?"

"Aku di kamar! Aku tidak bisa keluar, takut"

Setelah mendengar suara Eunhyuk yang agak bergetar Donghae langsung melesat ke kamar Eunhyuk tanpa mempedulikan kakinya yang sempat terantuk sudut meja. Begitu melihat Eunhyuk yang sedang meringkuk di kasurnya Donghae langsung menghampiri Eunhyuk, memastikan apakah laki-laki manis itu baik-baik saja atau tidak.

"Kau baik-baik saja?"

"Sangat baik, aku hanya benci gelap. Maaf merepotkanmu."

"Oh, bukan masalah! Jujur saja, aku juga takut di apartemen sendirian."

Donghae tersenyum canggung sambil menggaruk keningnya yang tak gatal.

"Yunho kemana?"

"Yunho sedang ada pertemuan keluarga dengan keluarganya Kim Jaejoong. Sepertinya dia akan menikah dalam waktu dekat ini."

"Wah, laki-laki seperti dia juga bisa menikah?"

Donghae mengangguk kemudian terkekeh, "Aku juga tidak percaya."

Pelan-pelan, Donghae mulai beringsut dan ikut duduk di samping Eunhyuk, bersandar pada headboards.

"Kau sedang belajar?"

"Ya, begitulah. Senin aku ada ujian dan aku harus menghapal banyak materi."

"Kalau begitu lanjutkan, aku akan memegangi ponselmu."

Donghae kembali membuka bukunya dan melanjutkan apa yang sudah ia baca barusan dengan Eunhyuk yang mengarahkan lampu ponselnya ke buku yang sedang Donghae baca. Selama hampir satu jam tidak ada obrolan berarti di antara mereka. Donghae sibuk dengan buku bacaannya dan Eunhyuk sibuk menahan rasa kantuk yang mulai menyerang. Donghae jadi tidak fokus membaca karena lampu ponselnya bergerak tak tentu arah, ternyata setelah Donghae menolehkan kepalanya ke samping, ia melihat Eunhyuk sudah jatuh terlelap di bahunya.

Melihat Eunhyuk yang sepertinya sudah sangat nyenyak, Donghae tidak berani banyak bergerak. Donghae bahkan sangat berhati-hati ketika mengambil ponselnya yang masih di genggam Eunhyuk. Sebisa mungkin, Donghae tidak melakukan pergerakan apapun agar Eunhyuk tidak merasa terganggu.

Jam baru menunjukan pukul sembilan, tapi mata Donghae terasa mulai berat. Sepertinya karena suasana yang gelap dan membaca buku seperti ini membuat Donghae menjadi cepat ngantuk. Donghae tidak sanggup lagi menahan kantuknya, ia menutup bukunya dan memutuskan untuk tidur sekejap sampai lampu menyala kembali nanti.

Tidur sebentar saja, setelah itu aku akan pulang...

.

.


Bunyi alarm yang Eunhyuk pasang membuat Donghae terkejut dan langsung membuka matanya lebar-lebar. Donghae melirik ke arah jendela dan betapa terkejutnya Donghae saat melihat langit sudah mulai cerah. Itu artinya ini hari senin.

Hari senin? Jam delapan? UJIANKU!

Donghae bangun dari ranjang Eunhyuk dengan tergesa-gesa, kebiasaannya ketika sedang panik terulang lagi. Donghae pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun pada Eunhyuk, ia langsung masuk ke apartemennya dan berganti pakaian, tidak ada waktu untuk mandi bahkan gosok gigi pun Donghae lakukan dengan tergesa-gesa.

Sementara itu, setelah Donghae meninggalkan apartemennya beberapa menit yang lalu, barulah Eunhyuk bangun. Eunhyuk menggeliat dan mendapasti Donghae sudah tidak ada di sampingnya. Eunhyuk ingat, Donghae bilang hari ini ada ujian jadi mungkin Donghae tergesa-gesa pergi tanpa pamitan karena takut kesiangan. Eunhyuk menurunkan kaki putihnya dari ranjang hendak pergi ke kamar mandi untuk menggosok gigi tapi langkahnya terhenti saat melihat buku yang Donghae baca semalam tertinggal di meja nakasnya.

"Ah, bocah itu ceroboh sekali! Bukankah dia bilang semua materinya ada di buku itu?"

Eunhyuk berdecak sambil memandangi buku yang semalam di baca Donghae. Akhirnya karena takut Donghae gagal dalam ujiannya, Eunhyuk dengan baik hati pergi ke kampus Donghae, berniat mengantarkan buku yang penting itu untuk Donghae.

Jalanan kota Seoul hari ini lumayan padat, karena hari senin jalanan yang biasanya macet itu semakin macet. Eunhyuk mengerang frustasi sambil terus melirik jam tangannya. Setengah jam lagi ujian Donghae akan di mulai.

Ayolah! Donghae tidak boleh gagal dalam ujiannya!

Setelah entah berapa lama Eunhyuk bersumpah serapah karena mobil yang ada di depannya sangat lamban. Mobil yang di kendarai Eunhyuk bisa melaju lagi dengan mulus, tersisa limabelas menit sebelum ujian di mulai. Begitu sampai di kampus Donghae, Eunhyuk memarkirkan mobilnya asal dan berlari ke gedung utama kampus.

Langkah Eunhyuk terhenti saat melihat lift yang terbuka di hadapannya.

Tunggu. Dimana kelasnya? Lantai berapa?

Eunhyuk memukul pelan kepalanya dan mengeluarkan ponselnya dari saku, mencoba menghubungi ponsel Donghae.

.

.


Limabelas menit lagi ujian di mulai dan Donghae tidak dapat menemukan bukunya. Ada beberapa materi yang belum sempat Donghae baca dan akan sangat gawat jika materi yang tidak sempat ia baca itu muncul di soal nanti. Saat sedang sibuk mengosongkan isi tasnya, ponsel Donghae bergetar.

Eunhyuk Hyung?

"Ya, Hyung ada apa?"

"Kau dimana? Aku ada di lantai dasar, semalam kau meninggalkan bukumu di rumahku. Bisa kau kemari sebentar?"

Donghae membulatkan matanya. Bagaimana bisa Eunhyuk ada di kampusnya di saat seperti ini? Hatinya mendadak tidak tenang saat membayangkan, bagaimana jika Eunhyuk bertemu dengan Choi Siwon.

"Kau tunggu di situ dan jangan kemana-mana, aku akan turun. Jangan kemana-mana, okay? Kau harus tetap di situ."

Setelah mengakhiri pembicaraannya dengan Eunhyuk di telepon, Donghae segera turun untuk menemui Eunhyuk dan kalau bisa segera mengusir Eunhyuk dari kampusnya sebelum Choi Siwon sialan itu menunjukan batang hidungnya.

Dan terlambat.

Saat Donghae sudah sampai di bawah, Choi Siwon laki-laki yang sudah membuat Eunhyuk menderita itu kini sudah berdiri di sana sambil memandangi Eunhyuk dengan wajah tenangnya.

Donghae menyesal dan mengutuk kebodohannya yang menyuruh Eunhyuk untuk menunggunya di lantai dasar, seharusnya ia menyuruh Eunhyuk naik saja. Sialnya, ketika lift sudah sampai di lantai dasar, Donghae baru ingat letak ruang dosen ada di lantai dasar, beberapa meter dari tempat Eunhyuk berdiri sekarang.

"Hyung."

Suara Donghae begitu lirih ketika memanggil Eunhyuk yang masih mematung, donghae tidak dapat menutupi rasa takut dan gugupnya saat ini. Donghae menepuk bahu Eunhyuk dan memanggilnya sekali lagi karena Eunhyuk hanya diam mematung, pikirannya seperti tidak menyatu dengan tubuhnya.

"Hyung!"

Kali ini Donghae menempatkan dirinya di hadapan Eunhyuk agar menghalagi pandangan Eunhyuk yang tertuju pada sosok sempurna di belakangnya.

"Oh, ya. Ini bukumu, aku akan segera pulang. Semoga beruntung, Lee Donghae."

Eunhyuk pergi setelah menyerahkan buku milik Donghae. Sebelum Eunhyuk pergi dari tempat itu, dapat Donghae saksikan dengan jelas bulir-bulir airmata itu berkumpul di pelupuk matanya dan siap membasahi kedua pipi putih Eunhyuk. Lagi-lagi hati Donghae berdenyut ketika menyaksikan bagaimana raut wajah Eunhyuk berubah menjadi penuh kesedihan dan begitu menderita.

"Sedang apa? Cepat masuk ke kelasmu, Lee Donghae-ssi. Ujian akan di mulai sebentar lagi."

Mata hazel Donghae memandang Choi Siwon dengan tatapan benci. Bagaimana tidak? Dia tetap memasang wajah berwibawanya bahkan tidak ada raut rasa bersalah di wajahnya yang tampan itu. Dia bertemu dengan mantan kekasih yang telah dia sakiti dan dia tinggalkan tanpa alasan yang jelas tapi tidak ada ekspresi apapun di wajahnya itu. Sikap Choi Siwon yang tenang dan terkesan tidak ada rasa bersalah itu membuat Donghae semakin muak dan ingin sekali melemparkan buku tebal yang ada di genggamannya sekarang ke wajah sok tampan itu.

"Aku tahu meskipun kau tidak mengingatkanku, profesor Choi!"

Bajingan! Pecundang sepertimu tidak pantas di tangisi oleh Eunhyuk!

.

.


"Lee Donghae-ssi dari jurusan kedokteran, silahkan menemui profesor Choi di ruang dosen. Terimakasih"

Donghae menghembuskan napasnya. Pecundang itu sekarang pasti sedang penasaran apa hubungannya dengan Eunhyuk.

"Kau melakukan kesalahan? Kau menyebarkan rumor? Kau bersikap kasar padanya? Kenapa? Ada apa?"

Donghae tersenyum pada Changmin, agar sahabatnya itu tidak panik.

"Tidak ada apa-apa, mungkin dia mau menyakan sesuatu padaku. Kau tidak usah cemas, jika ada apa-apa kau orang pertama yang akan aku beritahu."

Meskipun gugup dan terus bertanya-tanya apa yang akan Choi Siwon lakukan padanya, Donghae tetap memenuhi panggilan itu. Donghae melangkah dengan santai menuju lantai dasar dan mengetuk pintu sopan sebelum masuk ke ruangan tersebut.

"Masuklah, Lee Donghae-ssi."

"Hari ini aku harus pulang cepat, seseorang membutuhkan aku. Harap katakan dengan cepat apa keperluanmu."

"Wah, kau dingin sekali."

Kau bahkan lebih dingin dari ini, pecundang!

"Harap katakan dengan jelas, apa tujuan profesor memanggilku."

"Di koridor tadi, aku melihatmu dan seseorang. Kalian saling mengenal? Sepertinya kau memanggilnya dengan sebutan Hyung."

Donghae berdecih, "Apa sekarang kau ingin mencampuri urusan mahasiswamu? Aku rasa seseorang pernah mengatakan padaku agar bisa membedakan urusan pekerjaan dan urusan pribadi."

"Ya, kau benar. Aku hanya penasaran saja, karena kau adalah mahasiswa yang cukup pintar di kelas, aku hanya penasaran tentang dirimu. Boleh aku tahu dia siapa?"

"Dia—"

Calon

"—kekasihku"

Mata Donghae bisa menangkap raut terkejut Choi Siwon yang berusaha ia tutupi dengan cara membenarkan letak kacamatanya. Melihat wajahnya yang sok tenang itu membuat Donghae mendidih dan ingin sekali menerjangnya dan menghajarnya saat itu juga. Sayangnya, Donghae adalah seorang calon dokter yang tahu etika dan tahu batas-batas sopan santun. Jika saja Choi Siwon tidak lebih tua darinya, sudah bisa Donghae pastikan, wajah tampan itu akan babak belur detik ini juga.

"Wah, sepertinya dia lebih tua darimu."

"Bukan urusanmu—"

Bajingan!

"—Profesor Choi."

.

.

TBC


Okay, mulai dari sini mungkin akan lumayan agak lama updatenya. kerjaan saya gak bisa di tinggal ^^

ngeliat review kalian, bikin saya semangat ngetik fanfict ini, meskipun capek dan di hantui sama kerjaan yang numpuk tapi krn review kalian saya jadi semangat ngepost cepet ^^ salam kenal buat reviwers baru ^^ semoga betah baca fanfict saya !^^

gak bosen2nya saya minta maaf kl ada typo...

pertanyaan di jawab di chap sebelumnya yah ^^ dan pertanyaan yang baru di jawab di chapter depan...

sekali lagi makasih dan review terus ya ^^ makin banyak review makin saya semangat ngetik dan ngepost cepet ^^

semoga chapter ini gak membosankan ^^

love you all and always thanyou ^^

.

.

With Love,

Milkyta Lee