WAY BACK INTO LOVE
Main Cast: Lee Donghae, Lee Hyukjae
Genre: Romance, Drama
WARNING!
BOYS LOVE
MAINSTREAM STORY
DON'T LIKE? DON'T READ PLEASE!
THE STORY IS MINE
Typo may applied, don't be silent reader please, NOT ALLOWED TO COPY PASTE WITHOUT MY PERMISSION ^^
TIDAK MENERIMA BASH DAN KAWAN-KAWANNYA. KRITIK DAN SARAN SANGAT DIBUTUHKAN.
THANKYOU ^^
.
.
All I wanna do is find a way back into love.
.
.
.
"Kenapa kau datang lagi ke kantorku?"
Eunhyuk mulai merasa risih ketika melihat partnerone night stand-nya datang lagi ke kantornya. Kejadian itu telah berlalu sebulan yang lalu tapi laki-laki tampan dengan lesung pipi di kedua pipinya itu terus saja datang menemuinya. Semua terjadi memang karena kesalahan Eunhyuk yang mabuk dan tidak bisa mengontrol diri. Setelah berpesta dengan teman-teman kantornya di salah satu bar di Gangnam, Eunhyuk mabuk berat dan tanpa sadar mencium seseorang di toilet bar. Berawal dari sebuah ciuman dan berakhir di ranjang yang entah bagaimana ceritanya, Eunhyuk pun lupa. Yang Eunhyuk ingat hanyalah ia mabuk, ke toilet dan mencium orang tiba-tiba. Eunhyuk tidak tahu bagaimana proses mereka bisa sampai ke ranjang.
Akhirnya setelah kejadian yang cukup memalukan itu Eunhyuk jadi tidak pernah ke bar lagi ataupun mabuk meskipun teman-temannya sering memaksa. Eunhyuk takut, kejadian yang sama akan terulang lagi. Tapi yang membuat Eunhyuk tidak habis pikir adalah orang yang pernah menjadi partnerone night stand-nya itu terus datang ke kantornya. Entah itu mengantarkan makan siang, mengantarkan segelas Ice Choco kesukaannya atau hanya sekedar menyapa saja.
Saat sekali atau dua kali datang, Eunhyuk tidak terlalu ambil pusing. Tapi saat seminggu penuh dia datang terus, Eunhyuk mulai risih. Entah bagaimana caranya laki-laki tampan berlesung pipi itu mendapatkan alamat kantornya, yang Eunhyuk ingin lakukan sekarang hanyalah mengusirnya dari kantor karena mulai banyak orang yang membicarakan tentang mereka.
"Kau pergilah, jangan datang ke sini lagi. Aku memang salah malam itu, anggaplah kejadian itu tidak pernah ada."
"Sudah aku bilang, namaku Choi Siwon. Kau selalu memanggilku hei dan kau padahal aku sudah memberitahu namaku padamu."
"Baiklah, Choi Siwon-ssi. Sekarang silahkan pergi dan jangan pernah datang lagi kemari."
Laki-laki tampan bernama Choi Siwon itu tersenyum, menghiraukan perintah Eunhyuk dan malah menyeretnya untuk masuk ke mobilnya. Entah mau di bawa kemana, Eunhyuk hanya bisa merasa takut dan tidak bisa berbuat apa-apa saking takutnya.
"Mau membawaku kemana?"
"Makan malam."
"Kau tahu? Ini sudah melewati batas! Kau dan aku tidak saling kenal. Kau tidak berhak berlaku seperti ini padaku."
Lagi-lagi Siwon tersenyum, menunjukan kedua lesung pipinya sambil menatap Eunhyuk.
"Siapa bilang? Kau tahu namaku dan aku tahu namamu. Selain itu, kita juga pernah menghabiskan malam bersama. Kita sudah kenal bahkan sebelum kita berkenalan secara resmi."
"Choi Siwon-ssi!"
"Ya, Lee Hyukjae-ssi? Kau bilang usiamu duapuluh tiga tahun, 'kan? Kita seumuran, kita bicara dengan santai saja."
"Turunkan aku atau aku akan benar-benar memanggil polisi!"
"Aku akan menurunkanmu. Tapi setelah kita makan malam, okay?"
Eunhyuk mendengus pasrah, laki-laki di sampingnya ini tidak mudah menyerah rupanya.
"Waktu kau melakukannya denganku, itu yang pertama ya?"
"Jalankan saja mobilnya sebelum sepatuku mendarat di bibirmu."
"Itu yang aku suka darimu! Berbicara jujur tanpa tedeng aling-aling."
"Aku bilang, jalankan saja mobilnya dan jangan banyak bicara sebelum benar-benar sepatuku melayang ke bibirmu."
"Okay, prince."
Semua di awali dengan undangan makan malam, lalu makan siang dan lama kelamaan menjadi ajakan kencan ke tempat yang lebih terbuka. Satu, dua dan tiga kali kencan Eunhyuk masih tak bergeming. Tidak ada perasaan apapun meski Siwon selalu memperlakukannya secara spesial. Tapi mau bagaimana pun, Eunhyuk tetaplah manusia biasa. Ketika hatinya terus di ketuk dan di sentuh dengan lembut tentu lama kelamaan benteng yang selalu menghalangi Siwon untuk masuk itu runtuh juga.
Setelah kencan dan makan malam berkali-kali, akhirnya Siwon menyatakan cinta pada Eunhyuk. Bahkan bukan sekedar pernyataan cinta, Siwon juga ingin Eunhyuk menjadi pendamping hidupnya. Semua yang Siwon lakukan selalu membuat Eunhyuk merasa penting dan diinginkan, Siwon juga selalu memperlakukannya dengan baik dan tidak pernah membiarkannya terluka sedikit pun. Saat Eunhyuk ada pesta dengan teman-temannya, Siwon akan ikut mendampingi dan tidak membiarkan Eunhyuk mencium sembarang orang saat mabuk. Tidak salah bila Eunhyuk merasa menjadi laki-laki paling bahagia di dunia ini. Setelah lulus dari universitas ternama di usia muda, Eunhyuk langsung di terima bekerja sebagai staff marketing di perusahaan besar dan kebahagiaannya bertambah saat menemukan laki-laki seperti Choi Siwon.
Hanya Choi Siwon yang dapat membuat Eunhyuk tersenyum dan bahagia, hanya Choi Siwon yang mampu melengkapi Eunhyuk dan hanya Choi Siwon yang mampu mengisi kekosongan hati Eunhyuk selama ini.
Tapi takdir Tuhan siapa yang tahu? Setelah melewati banyak kenangan manis bersama Siwon, hubungannya harus kandas begitu saja tanpa alasan yang jelas. Terakhir, Siwon meminta ijin pada Eunhyuk agar memperbolehkannya melanjutkan sekolah kedokteran di Kanada padahal pernikahan mereka akan dilaksanakan dalam hitungan bulan. Sebagai kekasih yang baik Eunhyuk sama sekali tidak menghalangi keinginan Siwon, Eunhyuk justru sangat mendukungnya. Hanya saja, Eunhyuk memberi pengertian pada Siwon agar berangkat setelah pernikahan dan tentu saja Siwon setuju.
Tiga bulan sebelum pernikahan, Siwon menghilang. Eunhyuk sudah berusaha mencarinya kemanapun. Ke rumah orangtuanya, rumah teman-temannya dan terakhir mencari ke kampusnya. Tapi Siwon tidak ada dimana pun, bahkan rumah orangtuanya juga kosong dan pihak kampus mengatakan bahwa Siwon telah mengajukan surat pindah dan akan melanjutkan sekolahnya di Kanada.
Eunhyuk tidak bisa berpikir dengan jernih saat itu, ia hanya bisa menangis dan terus mencoba menghubungi ponsel Siwon. Tapi hasilnya tetap sama, nihil. Tidak ada hasil apapun. Hingga saatnya sehari sebelum pernikahan, Eunhyuk menerima sebuah paket dari Kanada yang berisi sebuah surat dan cincin milik Siwon. Tidak banyak kalimat terulis di sana, Siwon hanya menulis bahwa dia tidak bisa menikah dengan Eunhyuk karena perasaannya telah berubah dan dia akan menikah dengan orang lain dan bahagia bersama orang yang akan di nikahinya. Tidak ada basa-basi ataupun kata maaf, semua yang di tulis Siwon hanya sebuah pemberitahuan.
Hati Eunhyuk bagaikan di tusuk-tusuk dan di cabik-cabik, bagaimana bisa laki-laki yang selalu ia cintai dan selalu menjadi andalannya meninggalkannya begitu saja tanpa alasan yang jelas. Sejak saat itu, Eunhyuk tidak percaya lagi pada cinta dan tidak mau lagi merasakan cinta yang akhirnya hanya akan membuatnya terluka dan merasakan sakit yang teramat sangat. Setelah di tinggalkan Siwon, Eunhyuk menjadi pribadi yang berbeda. Selain suka ke bar dan mabuk-mabukan, bicaranya juga menjadi sangat kasar dan tidak pernah bersikap ramah lagi seperti biasanya.
Setiap malam, Eunhyuk selalu menangis karena terus teringat pada semua kenangan yang pernah ia lalui bersama Siwon.
Sakit.
Hanya itu yang Eunhyuk rasakan, hatinya bagaikan mati rasa dan hanya bisa merasakan rasa sakit yang di tinggalkan Siwon. Luka di hatinya menganga lebar dan ruang hampa di hatinya membuat rasa sakitnya semakin bertambah.
.
Eunhyuk menangis di pinggiran sungai Han sambil terus membenturkan kepalanya ke setir mobilnya. Kenapa di saat luka yang di tinggalkan Choi Siwon perlahan mulai sembuh, dia justru kembali dan membuat luka di hati Eunhyuk kembali menganga. Eunhyuk bahkan tidak sanggup menahan airmatanya saat matanya bertatapan langsung dengan mata Siwon.
Tatapan yang sudah berubah. Dingin dan menusuk.
Laki-laki pecundang itu kembali setelah membuat Eunhyuk kacau dan hampir kehilangan dirinya sendiri, laki-laki brengsek itu kembali dan membuat lukanya susah kering. Seharusnya, Eunhyuk langsung memakinya dan melempar wajahnya yang sok tenang itu dengan buku kedokteran milik Donghae yang cukup tebal.
Kini luka Eunhyuk bertambah. Bukan hanya karena Choi Siwon yang telah kembali tanpa rasa bersalah, tapi karena orang yang perlahan menyembuhkan lukanya justru berbohong padanya. Eunhyuk tidak mengerti kenapa Donghae berbohong dengan mengatakan bahwa dia tidak kenal dengan Choi Siwon padahal jelas-jelas Choi Siwon menjadi dosen di kampus tempatnya menuntut ilmu.
Lihat, lagi-lagi cinta hanya membuatku terluka. Ketika aku mencoba membuka hati untuk seseorang dan mencoba mempercayainya, dia justru melukaiku.
Eunhyuk merasa dirinya sangat bodoh karena percaya begitu saja pada Donghae dan membiarkan Donghae masuk ke dalam hatinya. Sekarang terbukti bahwa Donghae tidak sebaik yang Eunhyuk kira dan untuk kedua kalinya, Eunhyuk terluka karena yang namanya cinta.
Rasanya bahkan lebih sakit dari pada saat Choi Siwon meninggalkanku...
.
.
Setelah menangis berjam-jam di pinggiran sungai Han, Eunhyuk memutuskan untuk pulang ke rumah Sungmin. Eunhyuk tidak mau pulang ke apartemennya dan bertemu dengan Donghae. Saat ini hanya Sungmin yang Eunhyuk butuhkan dan hanya Sungmin juga yang mampu memahami perasaannya.
"Kenapa wajahmu sembab? Kau menangis? Kenapa lagi?"
Sungmin langsung menuntun Eunhyuk ke ruang tamunya begitu melihat sahabatnya berdiri di depan pintu rumahnya dengan tatapan kosong dan mata yang luar biasa sembab.
"Kau sakit?"
Kali ini Kyuhyun ikut cemas karena wajah Eunhyuk sangat pucat dan tatapannya kosong.
Eunhyuk menggeleng dan langsung menghambur ke pelukan Sungmin, ia menangis tersedu-sedu membiarkan airmatanya membasahi kaos yang di pakai Sungmin. Eunhyuk tidak bisa berkata-kata dan hanya bisa menangis untuk membuat perasaannya sedikit lebih baik.
"Si bajingan itu kembali. Dia kembali bahkan tanpa rasa bersalah sedikit pun!"
Sungmin menepuk-nepuk punggung Sungmin lembut, "Siapa?"
"Choi Siwon, si bajingan itu!"
Kyuhyun dan Sungmin saling berpandangan tidak percaya.
Choi Siwon, kembali?
Baik Sungmin maupun Kyuhyun tidak ada yang berani buka suara, mereka hanya diam dan membiarkan Eunhyuk menangis sepuasnya hingga perasaannya lega.
Malam itu, Kyuhyun dan Sungmin hanya mampu terdiam saat mendengar cerita Eunhyuk. Keduanya tidak percaya, Choi Siwon yang sudah menghilang selama hampir sepuluh tahun, sekarang kembali dengan titel profesor dan dan bahkan tidak merasa bersalah sedikit pun saat dia bertemu dengan Eunhyuk. Bukan Eunhyuk saja yang kesal dan memaki Choi Siwon, malam itu Kyuhyun dan Sungmin pun ikut memakinya. Setidaknya, dengan begitu mereka bisa membuat perasaan Eunhyuk jauh lebih baik.
"Aku tahu ini akan sulit untukmu, tapi kau berhak tahu alasan di balik kenapa Choi brengsek itu meninggalkanmu. Kau harus bertanya padanya karena itu hakmu."
Eunhyuk diam dan memikirkannya sejenak.
Benar, itu adalah hakku untuk tahu. Tapi, bagaimana bisa aku menghadapi seseorang yang sudah membuatku terluka?
.
.
ooODEOoo
Donghae hampir gila dan kehilangan akal saat tidak dapat menemukan Eunhyuk dimanapun. Donghae sudah mencari Eunhyuk di apartemennya dan bahkan ke bar yang biasa Eunhyuk kunjungi, namun Donghae tetap tidak dapat menemukannya. Donghae tidak tahu siapa saja teman Eunhyuk, itu sebabnya ia merasa terbatas saat mencari keberadaan Eunhyuk. Donghae takut terjadi sesuatu pada Eunhyuk, bahkan Donghae mulai berpikir yang tidak-tidak karena kejadian hari ini mungkin saja membuat Eunhyuk sangat terguncang.
Sudah pukul sepuluh malam dan Eunhyuk belum juga pulang. Entah sudah berapa jam Donghae menunggu Eunhyuk di depan pintu apartemennya. Sebelumnya, Donghae tidak pernah setakut ini saat kehilangan seseorang. Bahkan saat ia meninggalkan keluarganya di kampung halaman dan memutuskan untuk pergi ke Seoul, perasaan Donghae tidak setakut hari ini.
"Kau sedang apa? Ini sudah malam sebaiknya masuk."
"Yunho, aku pinjam mobilmu. Aku akan mencari Eunhyuk Hyung kemana pun."
"Dia masih tidak menjawab teleponnya?"
"Itu sebabnya aku semakin cemas!"
"Pakailah. Tapi ingat, keselamatanmu tetap yang utama. Jangan panik dan jangan sampai melakukan hal bodoh yang membahayakan dirimu."
Donghae hanya mengangguk kecil sebelum menyambar kunci mobil Yunho dan berlari seperti di kejar setan menuju parkiran. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah Eunhyuk dan Eunhyuk. Rasa takut dan cemasnya semakin bertambah ketika Donghae kembali mengingat raut wajah Eunhyuk yang penuh dengan kesedihan saat bertatapan langsung dengan Choi Siwon.
Sudah hampir sejam Donghae berkeliling dan tidak menemukan apapun. Donghae sudah mencoba menanyakan keberadaanya pada resepsionis di kantor Eunhyuk, tapi mereka bilang Eunhyuk tidak masuk hari ini. Jelas saja Donghae semakin panik dan tidak berniat pulang sebelum menemukan Eunhyuk. Tapi apa mau di kata? Donghae memang tidak tahu harus kemana, meskipun sudah berjam-jam mengelilingi Seoul, Donghae tetap tidak bisa menemukan Eunhyuk. Karena hari semakin larut dan Donghae masih harus mengikuti ujian esok pagi, akhirnya Donghae memutuskan untuk pulang meski dengan perasaan gelisah dan takut.
Jangan bertindak bodoh, aku mohon. Pulanglah...
.
.
Pagi-pagi sekali Donghae sudah bangun dan bersiap-siap berangkat ke kampus. Hari ini, kondisinya tidak fit sama sekali, Donghae kurang tidur dan tidak sempat menghafal materi apapun karena pikirannya terlalu sibuk memikirkan Eunhyuk yang entah ada dimana dan sedang apa.
"Tadi pagi aku melihat Eunhyuk Hyung, tapi sepertinya dia terburu-buru pergi ke kantor. Bahkan saat aku menyapanya dia seperti tidak mau melihatku. Kalian bertengkar?"
"Jadi dia sudah pulang?"
Donghae mendesah lega setelah mendengar kabar soal Eunhyuk, setidaknya Eunhyuk baik-baik saja.
"Kau belum menjawab pertanyaanku. Apa kalian bertengkar?"
"Aku sendiri tidak mengerti, dia tiba-tiba menghilang setelah bertemu dengan mantan pacarnya di kampusku. Mungkin dia marah karena aku membohonginya, aku tidak bilang bahwa mantan pacarnya sekarang mengajar di kampusku."
Mulut Yunho menganga lebar, ia tidak menyangka kisah cinta temannya ini begitu rumit dan sulit di mengerti. Laki-laki malang bernama Lee Donghae itu, jatuh cinta pada laki-laki yang lebih tua darinya dan mantan pacar dari calon kekasihnya adalah dosen yang mengajar di kampusnya.
"Aku kasihan padamu, kau tidak pernah jatuh cinta sebelumnya dan sekalinya jatuh cinta malah terlibat dalam hubungan yang rumit."
"Sudahlah, aku harus berangkat sekarang sebelum kesiangan."
Donghae berangkat ke kampus dengan hati yang kalut. Pikirannya melayang entah kemana, hari ini Donghae hanya bisa pasrah jika tidak bisa mengerjakan soal ujiannya. Salah siapa semalam tidak belajar dan malah berkeliaran malam-malam demi mencari ahjussi yang suka memaki itu. Tapi setidaknya, Donghae masih bisa bernapas dengan lega sekarang karena ternyata Eunhyuk baik-baik saja dan dia pergi bekerja dengan rajin seperti biasanya.
"Pagi, Lee Donghae-ssi."
Rasanya Donghae ingin terjun dari ketinggian begitu mendengar suara menyebalkan milik Choi Siwon. Pagi ini sudah cukup buruk bagi Donghae karena ia sedang dalam keadaan yang tidak fit dan sekarang, paginya semakin buruk lagi saat suara Choi Siwon menyapanya.
Si brengsek ini kenapa selalu ada dimana-mana!
"Pagi, profesor."
Donghae bahkan sudah lelah mengutuk dan memakinya dalam hati, bisa-bisa Donghae terjangkit penyakit hati karena terus mengutuk dan memaki Choi Siwon dengan kata-kata kasar dalam hati.
"Hari ini kurang bersemangat, kau bertengkar dengan kekasihmu itu?"
Brengsek. Sialan. Bajingan. Bedebah.
"Aku hanya kurang tidur karena belajar. Tolong berhenti mencampuri urusan mahasiswamu, profesor Choi. Aku rasa apapun yang terjadi dengan hubunganku dan kekasihku itu bukan urusanmu!"
Lagi-lagi Choi Siwon hanya tersenyum menanggapi kata-kata Donghae dan lagi-lagi Donghae merasa muak melihat senyumnya itu.
Dasar pecundang yang tidak punya perasaan.
.
.
Dua minggu berlalu dan ujian sudah berakhir sejak minggu lalu. Untuk tiga bulan ke depan Donghae akan menikmati libur musim dinginnya. Biasanya, liburan akan menjadi hal yang paling menyenangkan untuk sebagian orang, tapi tidak dengan Donghae. Donghae tidak bisa berhenti memikirkan Eunhyuk yang entah bagaimana kabarnya karena sudah dua minggu tidak saling bertegur sapa. Donghae benar-benar frustasi dan tidak tahu lagi harus berbuat apa. Semua cara sudah ia lakukan untuk meminta maaf pada Eunhyuk dan tidak ada satupun yang berhasil. Bahkan kini, Eunhyuk mengganti password pintunya dan membuat Donghae semakin kesulitan menghubungi Eunhyuk.
"Ah, Lee Eunhyuk itu sungguh membuatku frustasi! Dan semua ini karena si brengsek Choi Siwon itu!"
Donghae berguling-guling di lantai sambil mengacak-acak rambutnya sendiri dan tidak mempedulikan Yunho yang sedang menatapnya risih dari sofa ruang tamu.
"Lee, berhentilah bersikap seperti ikan kekurangan air sebelum aku memanggil relawan ikan dan mengirimkanmu ke tengah laut."
"Eunhyuk membuatku frustasi!"
Kali ini Donghae bangkit dari lantai dan menerjang Yunho, ia bahkan menjambak rambut hitam Yunho dengan brutal. Yunho meringis semakin kesakitan karena sekarang laki-laki bertampang bocah itu menggigit kepalanya juga.
"Auh! Kau brengsek! Berhenti merengek dan gunakan kemampuan kerja paruh waktumu! Jika tidak bisa menemuinya di rumah, maka temui dia di kantornya! Bukankah kau bilang dia membutuhkan seorang sekretaris? Kau bisa melamar ke sana. Ini kesempatan yang baik untukmu."
"Ah, kenapa aku tidak berpikir sampai ke sana?"
"Itu karena kau bodoh! Kuliah di kedokteran ternyata tidak membuatmu pintar dalam urusan cinta! Payah! Dan Berhentilah menggigit kepalaku saat kau sedang frustasi! Sialan!"
Tanpa menghiraukan ocehan Yunho lagi, Donghae langsung melesat ke kamarnya dan membuka laptopnya untuk membuat CV juga keperluan lainnya untuk melamar kerja ke tempat Eunhyuk.
I got you, Eunhyuk!
.
.
ooODEOoo
Eunhyuk tidak tahu harus berbuat apa saat melihat Donghae dengan setelan jas lengkapnya sedang berdiri di hadapannya dan tersenyum lebar sekali. Eunhyuk ingat pernah mengatakan ke bagian personalia bahwa ia membutuhkan seorang sekretaris, tidak peduli dia berpengalaman atau tidak, Eunhyuk hanya butuh seseorang untuk mengatur jadwalnya dan membantu pekerjaannya.
Tapi Eunhyuk sama sekali tidak menyangka bagian personalia akan merekrut Donghae sebagai sekretaris sementara untuknya. Eunhyuk menarik napas dan menghembuskannya berulang kali ketika melihat wajah Donghae yang berseri-seri.
"Kau tidak bisa menghindariku lagi, Eunhyuk-ssi."
Rasanya bagai di sambar petir di siang hari saat Donghae memanggil namanya dengan senyum yang berbahaya. Usahanya untuk menghindari bocah menyebalkan yang telah membohonginya itu ternyata sia-sia.
"Meski hanya di kontrak selama tiga bulan, tugasmu sama dengan karyawan lainnya. Terlebih kau sekretaris pribadiku, ada banyak hal yang perlu kau ketahui. Aku—"
"Ya?"
Eunhyuk melangkah mundur saat Donghae terus melangkah maju ke arahnya dengan tatapan berbahaya. Hingga akhirnya, pinggang Eunhyuk terbentur meja kerjanya sendiri, itu artinya tidak ada ruang lagi untuk mundur. Eunhyuk hanya mampu mengalihkan wajahnya ketika wajah Donghae hanya berjarak beberapa sentimeter saja dari wajahnya.
"M—mundur sedikit!"
"Tanpa kau beritahu, aku sudah tahu semua kebiasaanmu dan jadwalmu. Semua sudah ku catat saat di ruang personalia tadi. Pagi-pagi menyediakan Ice Choco untukmu, karena kau tidak suka yang pahit-pahit. Siang hari, kau hanya ingin makan Taco dan jika lembur sampai malam kau ingin di sediakan teh hangat. Ada yang kurang?"
"T—t—Tidak! Sekarang minggir! Posisimu akan membuat orang salah paham!"
"Kenapa? Ruanganmu tertutup dan tidak akan ada yang mengintip."
"Kau—"
"Sebentar lagi kita harus bersiap-siap ke kantor cabang untuk memeriksa laporan bulanan."
Eunhyuk sudah dalam keadaan bersiap-siap memaki Donghae saat Donghae tiba-tiba mengingatkan jadwalnya. Akhirnya Eunhyuk menelan kembali kata-kata yang sudah siap ia semburkan itu.
Bocah sialan! Bikin kaget saja!
"Siapkan mobil, sekarang!"
Sepanjang perjalanan menuju kantor cabang di Dongdaemun, Eunhyuk tidak bisa duduk tenang di kursi belakang karena Donghae terus saja memperhatikannya dari kaca spion sambil senyum-senyum tidak jelas.
"Perhatian jalannya, Sekretaris Lee!"
"Jalan akan baik-baik saja meski tidak aku perhatikan, tapi seseorang yang duduk di kursi belakang tidak akan baik-baik saja jika tidak ku perhatikan sedetik saja."
"Berhenti merayu! Aku atasanmu di sini!"
"Memangnya aku sedang merayu? Mana buktinya?"
Eunhyuk benar-benar kehabisan kata-kata dan tidak bisa membalas kata-kata Donghae. Semakin hari, bocah itu semakin menyebalkan.
"Jalankan saja mobilnya sebelum sepatu mahalku mendarat di kepalamu!"
Mendengar kata-kata pedas Eunhyuk, Donghae malah tertawa dan tidak menunjukan rasa takutnya sama sekali. Bahkan sekarang, matanya kembali melihat ke kaca spion dan memperhatikan wajah Eunhyuk. Baiklah, tidak Eunhyuk pungkiri bahwa dirinya juga merindukan sosok di depannya ini, tapi bukan berarti ia memaafkannya! Eunhyuk akan tetap marah sampai Donghae mau menjelaskan yang sebenarnya.
"Kau marah karena aku berbohong, 'kan?"
"Jangan campur adukan urusan pribadi dan pekerjaan, Lee Donghae."
"Aku tidak mau tahu, setelah selesai dengan urusan di Dongdaemun kau harus mau aku ajak bicara."
Eunhyuk berdecih, "Seperti biasanya, kau memang bocah pemaksa!"
Lagi-lagi Donghae tersenyum sambil memperhatikan Eunhyuk dari kaca spion.
"Entah kenapa, aku bahagia sekali mendengar makianmu pagi ini. Ah, aku seperti menemukan semangatku lagi!"
Diam-diam, Eunhyuk menyembunyikan senyumnya. Eunhyuk merasa Donghae sangat polos dan kekanakan, dia mengatakan perasaannya dengan sangat jujur. Saat dia senang maka dia akan menunjukannya dan saat dia sedih dia juga akan menunjukan perasaan sedihnya. Tapi kadang kala, sosok kekanakan itu bisa menjadi sosok yang lebih dewasa bagi Eunhyuk. Bagaimana Donghae memperhatikan dan menjaga Eunhyuk saat ia sakit dan bagaimana cemasnya Donghae saat Eunhyuk pulang telat dari kantornya.
"Kalau ingin bicara padaku, belikan aku makanan enak! Aku tidak mau hanya bicara saja!"
"Okay, Call!"
.
.
Ternyata, selain pintar Donghae juga sangat cekatan. Pekerjaan Eunhyuk menjadi lebih ringan karena Donghae sangat membantunya. Urusan di Dongdaemun yang biasanya menghabiskan waktu hampir seharian, kini hanya menghabiskan waktu beberapa jam saja. Untuk alasan yang satu itu, Eunhyuk sangat kagum dan memuji kecerdasan Donghae yang cepat mempelajari sesuatu dalam sekejap.
"Semua hanya perlu kau tanda tangani dan untuk yang satu ini sebaiknya kau baca dulu."
Eunhyuk menerima lembaran dokumen yang di serahkan Donghae sambil tersenyum.
"Thank you."
Donghae balas tersenyum kemudian berbisik di telinga Eunhyuk, "Ingat dengan janjimu."
"A—aku—aku tahu!"
Setelah semua urusan di Dongdaemun selesai, Donghae dan Eunhyuk langsung kembali ke kantor pusat untuk melaporkan kembali pada Presiden Direktur. Sebenarnya, Eunhyuk sudah lelah dan ingin segera pulang lalu tidur. Tapi Eunhyuk sudah terlanjur berjanji pada Donghae, jadi mau tidak mau ia harus menahan rasa lelahnya sampai Donghae selesai bicara nanti.
"Aku hanya bisa membawamu kemari. Uangku belum cukup kalau harus membawamu ke restoran mahal."
Eunhyuk terkekeh melihat wajah Donghae yang memberengut. Bagi Eunhyuk, tidak masalah mau makan di restoran mahal atau restoran kecil seperti ini asal Donghae benar-benar menjelaskan alasan kenapa di berbohong.
"Aku tidak bermaksud berbohong padamu."
"Aku tahu."
Eunhyuk terus saja mengabaikan semua penjelasan Donghae yang menurutnya tidak memuaskan itu. Baginya, sekecil apapun itu berbohong ya tetap berbohong.
"Aku melihatmu menangis dan menderita karena si pecun—maksudku karena profesor Choi itu. Kau mabuk sampai sakit dan menyebut-nyebut namanya sambil berlinangan airmata. Aku hanya tidak ingin menambah kesedihanmu dengan mengatakan bahwa si bod—maksudku profesor Choi menjadi dosenku."
"Alasanmu tidak membuatku puas. Kalau tidak ada lagi yang mau kau katakan, antarkan aku pulang. Aku lelah dan ingin istirahat."
Eunhyuk beranjak dari mejanya dan bergegas pergi dan tiba-tiba saja Donghae menarik lengannya hingga wajahnya berhadapan langsung dengan wajah Donghae.
"Karena aku—aku tahu bahwa dia bermuka dua dan aku tidak ingin kau kembali mengejarnya! Dia laki-laki yang sudah punya pendamping seharusnya kau tahu itu!"
Ini adalah pertama kalinya Donghae berkata tegas pada Eunhyuk, bahkan di setiap kata yang di ucapkannya penuh dengan penekanan. Eunhyuk hanya mempu terdiam saat melihat mata sendu Donghae yang berkilat marah. Aneh, kenapa harus marah? Dia kan bisa mengatakannya baik-baik tidak usah sambil mencengkram lengan Eunhyuk seperti ini.
"Sudah malam, ayo kita pulang."
Donghae melepaskan cengkramannya dan berjalan mendahului Eunhyuk yang masih mengerjapkan matanya, bingung dan kaget.
Kenapa jadi tiba-tiba dia yang marah?
.
.
ooODEOoo
Sesampainya di rumah Donghae langsung melepaskan setelan jasnya dan menggerutu tidak jelas sambil mengunyah makananya. Hatinya tiba-tiba kesal mengingat wajah Choi Siwon yang begitu di cintai Eunhyuk. Yang lebih membuat Donghae kesal adalah kenyataan bahwa Eunhyuk marah karena ia berbohong soal keberadaan Choi Siwon. Memangnya kalau dia tahu Choi Siwon ada di Korea dan mengajar di kampusnya Eunhyuk mau apa? Kembali mengejarnya? Menanyakan apa Choi Siwon masih mencintainya atau tidak? Donghae tidak habis pikir, kenapa di dunia ini ada laki-laki senaif Eunhyuk?
Menurut Donghae, kalau sudah di campakan ya sudah lupakan saja! Untuk apa hidup terus di masa lalu dan menyiksa diri dengan semua kenangan pahit yang pernah di torehkan oleh orang yang meninggalkannya. Apa susahnya membuka hati dan menerima orang lain yang ingin membahagiakannya? Apa semua laki-laki berusia tigapuluh tahunan semua berpikir seperti Eunhyuk? Menggelikan!
"Apa hebatnya laki-laki tua macam Choi Siwon itu? Aku yang lebih muda bahkan jauh lebih tampan, jauh lebih sexy dan jauh lebih bergairah!"
"Ya Tuhan, percaya diri sekali! Dengar ya, Lee Donghae. Biasanya laki-laki yang sudah berumur itu lebih berpengalaman dan memuaskan."
Donghae mengerutkan keningnya, "Dalam hal apa?"
"Jangan pura-pura bodoh! Aku tahu kau mengerti maksudku! Tentu saja dalam urusan ranjang. Laki-laki seperti Eunhyuk Hyung butuh seseorang yang berpengalaman dan lebih mendominasi!"
"Ya Tuhan! Dia bahkan meminta lebih dan lebih padaku saat kami melakukannya! Sudah jelas aku lebih hebat dari si tua itu! Lagi pula, memangnya cinta itu hanya tentang seks? Cinta itu tentang bagaimana dua orang saling melengkapi dan mencoba melebur jadi satu. Kau dasar Jung mesum!"
"Kalau begitu, kau harus menunjukan padanya bahwa kau adalah laki-laki yang lebih layak untuknya. Tunjukan padanya kalau kau bisa memberinya masa depan. Bukan hanya cemburu dan terus memaki mantan pacarnya."
"Memangnya aku cemburu? Hah! Untuk apa aku cemburu pada laki-laki tua miskin ekspresi itu!"
"Dia miskin ekspresi dan kau miskin uang. Sudahlah kalian sama saja!"
Donghae membelalakan matanya, ia tidak percaya sahabat yang begitu ia kasihi tidak mendukungnya sama sekali.
"Sekali lagi berkomentar, akan aku hancurkan kepalamu, Jung!"
"Memangnya tangan pendekmu bisa mencapai kepalaku, Lee?"
Jika sudah membahas soal tinggi badan, Donghae tidak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya Donghae hanya mendengus kesal di meja makan sambil memikirkan semua kata-kata Yunho barusan.
Menjadi laki-laki yang layak untuk Eunhyuk?
Sejujurnya Donghae kurang paham dengan maksud kata-kata Yunho tapi setelah di cerna dengan baik oleh otak cerdasnya, Donghae paham maksud perkataan Yunho. Mungkin maksudnya adalah membuktikan pada Eunhyuk bahwa Donghae adalah laki-laki yang berbeda dari Choi Siwon. Meskipun Donghae tidak sekaya dan sepintar Choi Siwon, Donghae bisa menjamin bahwa dirinya tidak akan berkhianat dan tidak akan pernah meninggalkan orang yang di cintainya.
Apa aku bisa menjadi laki-laki yang layak untukmu?
.
.
"Pagi, sekretaris Lee."
"Pagi."
Donghae membukakan pintu mobil untuk Eunhyuk dengan wajah yang di tekuk lesu. Pembicaraannya dengan Yunho semalam membuatnya tidak bisa tidur dan terus berpikir bagaimana caranya menjadi laki-laki yang layak untuk Eunhyuk.
"Jadwalku hari ini?"
"Rapat kecil dengan tim marketing, selebihnya jadwalmu kosong."
"Thank you!"
Tidak ada pembicaraan selama perjalanan menuju kantor. Donghae diam seribu Bahasa dan Eunhyuk terus bertanya-tanya dalam hati, apa dia marah? Eunhyuk bingung harus memulai pembicaraan dari mana, begitu pun Donghae yang tidak tahu mau bicara apa. Jadi mereka sama-sama bungkam bahkan setelah mereka sampai di kantor.
Biasanya, Donghae akan membawakan tas Eunhyuk sampai ke ruangannya dan kemudian sedikit menggodanya sebelum keluar dari ruangan. Tapi kali ini, Donghae hanya mengantarkannya sampai depan pintu kemudian Donghae menundukan kepalanya dan langsung ke meja kerjanya. Donghae sebenarnya tidak punya alasan untuk marah pada Eunhyuk, Donghae hanya tidak tahu harus bersikap bagaimana setelah perdebatan kemarin.
"Ada yang ingin bertemu dengan Boojang-nim di lantai dasar."
Eunhyuk memandang Donghae dengan tatapan bertanya saat seorang resepsionis datang ke ruangannya.
"Kita ada janji dengan klien?"
Donghae menggeleng, ia kembali memeriksa Ipadnya dan memastikan jadwal hari ini benar-benar hanya rapat kecil dengan tim marketing.
"Tidak ada."
"Namanya Choi Siwon, dia bilang teman lama anda."
Donghae hanya mampu terdiam saat resepsionis itu menyebutkan nama yang membuat darah Donghae mendidih itu. Bahkan sekarang Choi sialan itu bukan hanya menganggunya di kampus tapi di tempatnya bekerja juga. Donghae menatap Eunhyuk dengan tatapan memohon agar Eunhyuk tidak menemuinya, tapi Eunhyuk malah menghindari tatapannya dan mengikuti langkah resepsionis yang menyampaikan berita duka itu.
"Antar aku menemuinya."
Tidak ada keinginan sedikit pun dalam hati Donghae untuk melihat interaksi Eunhyuk dengan mantan kekasihnya itu. Hanya saja, ia merasa tidak tenang dan penasaran dengan apa yang akan mereka bicarakan. Bagaimana pun Donghae tidak dapat memungkiri rasa yang mulai tumbuh di hatinya itu.
Rasa yang entah kapan mulai bersemi dan merubah pola pikirnya soal cinta.
Jangan kembali padanya, aku mohon.
.
.
Meskipun Eunhyuk tahu Donghae sedang berusaha menghentikannya untuk menemui Choi Siwon, tapi Eunhyuk tidak bisa mengikuti perintah Donghae yang satu itu. Saat ini yang Eunhyuk butuhkan hanyalah sebuah jawaban. Jawaban dari pertanyaan yang selalu menghantuinya selama sepuluh tahun.
Bagaimana bisa Choi Siwon meninggalkannya?
Kenapa Choi Siwon mengembalikan cincinnya?
Apa yang Choi Siwon lakukan selama meninggalkannya?
Hanya itu, setelah mendapatkan jawaban dari semua pertanyaannya maka Eunhyuk akan berhenti berharap pada Choi Siwon dan memulai semuanya dari awal bersama orang yang baru.
Jantung Eunhyuk berdegup kencang ketika melihat punggung tegap milik orang yang pernah sangat ia cintai itu. Secara fisik, tidak ada perubahan yang berarti. Choi Siwon hanya terlihat lebih tegap dari sebelumnya dan rambutnya tertata sangat rapi, berbeda dengan saat pertama kali Eunhyuk melihatnya. Saat itu Choi Siwon membiarkan poninya jatuh menjuntai menutupi sebagian keningnya, tapi sekarang dia menyisir dan menata rambutnya dengan sangat rapi.
"Ada perlu apa kau kemari?"
Eunhyuk langsung bertanya tanpa basa-basi, baginya basa-basi adalah hal yang paling tidak penting.
"Seperti biasanya, tanpa tedeng aling-aling dan langsung ke point."
Masih sama seperti dulu, Choi Siwon selalu bertutur kata dengan lembut dan sangat berwibawa, dia bahkan tersenyum lembut pada Eunhyuk yang terus saja memasang wajah masamnya.
"Aku tidak punya banyak waktu. Jika ada yang ingin kau bicarakan sebaiknya langsung saja. Aku orang yang sangat sibuk sekarang."
Lagi-lagi Choi Siwon tersenyum dan mengintruksi Eunhyuk agar duduk terlebih dahulu dengan gerakan tangannya yang khas. Menunjukan bahwa dia adalah orang yang berpendidikan tinggi.
"Bagaimana kabarmu?"
"Kau tidak bisa melihatnya? Aku sangat baik-baik saja dan sangat sibuk!"
"Bisa kau turunkan nada bicaramu sedikit? Meskipun kau tampak manis saat ketus dan marah. Tapi kau lebih manis lagi saat berbicara lebih lembut."
Eunhyuk mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya dan benar saja, semua orang sedang menatap ke arah mereka. Mau tidak mau Eunhyuk mengikuti saran Choi Siwon untuk duduk dan berbicara dengan nada yang lebih tenang dari sebelumnya.
"Aku tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana, yang jelas aku menyesal meninggalkanmu begitu saja tanpa penjelasan apapun. Sekarang, aku di sini akan menjelaskan semuanya dan berharap kesalahpahaman kita berakhir sampai di sini."
"Jadi benar kau sudah menikah?"
Choi Siwon mengangguk sambil menunjukan cincin pernikahannya.
"Bagaimana kehidupan pernikahanmu?"
"Sangat bahagia. Kibum seorang istri dan ibu yang baik. Semua yang dia lakukan selalu mendahulukan kepentinganku juga anak kami."
Rasanya hati Eunhyuk yang terluka itu seperti di siram dengan cuka dan garam sekaligus. Perih dan sangat sakit. Choi Siwon bahkan tersenyum bahagia saat menceritakan bagaimana pernikahannya berjalan selama ini. Tidakkah dia memikirkan perasaan Eunhyuk sekarang?
"Anak?"
"Ya, setelah setahun menikah kami memutuskan untuk mengadopsi anak laki-laki. Choi Kiwon. Dia tampan dan sangat manis, seperti Kibum. Hm, usianya sudah sekitar delapan tahun"
"Kau datang kemari hanya untuk menceritakan bagaimana bahagianya kehidupan rumah tanggamu?"
"Maaf, karena kau bertanya aku jadi terbawa suasana. Tujuanku kemari adalah untuk meluruskan semuanya. Aku tidak akan berbasa-basi dan berbelit-belit karena aku tahu kau tidak suka penjelasan seperti itu."
Choi Siwon menarik napasnya, lalu menghembuskannya perlahan sebelum melanjutkan kembali kata-katanya.
"Kenapa aku meninggalkanmu begitu saja? Ada sesuatu yang mendesak saat itu, aku tidak bisa menunda kepergianku ke Kanada karena aku tidak akan mendapatkan beasiswa jika aku menundanya. Aku tidak bisa kehilangan kesempatan yang datang sekali itu hanya karena sebuah pernikahan. Jadi, aku memutuskan untuk pergi dan berencana memberitahumu begitu sampai di Kanada. Tapi sayangnya, aku langsung sibuk mengurus ini dan itu saat sampai di Kanada. Aku tidak sempat dan tidak ada waktu untuk menghubungimu karena jadwal kuliahku langsung padat. Di saat seperti itu aku bertemu dengan Kim Kibum, teman sekamarku di asrama. Saat melihatnya, aku langsung berdebar dan kapan pun Kibum ada di sekitarku aku tidak bisa tenang. Akhirnya aku menyadari sesuatu, aku jatuh cinta padanya. Aku memikirkanmu yang mungkin mencemaskan keberadaanku, aku juga khawatir padamu yang mungkin tidak bisa berhenti memikirkan aku. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, hatiku berubah. Aku memutuskan untuk mencintai Kibum dan itu sebabnya juga aku mengirimkan cincin pertunangan kita padamu. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita karena hatiku sudah sepenuhnya berubah."
"Bajingan."
Hanya satu kata itu yang bisa di katakan oleh Eunhyuk. Hatinya terlalu sakit dan lidahnya kelu saat mendengar penjelasan Choi Siwon. Laki-laki brengsek di hadapannya ini menjelaskan semuanya tanpa raut wajah menyesal dan tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Keputusan yang aku buat sudah aku pikirkan selama tiga bulan penuh dan hatiku tetap memilih Kibum. Aku minta maaf."
"Aku tidak mau menemuimu lagi, aku bahkan tidak sudi melihat wajahmu lagi! Sekarang, pergi dari hadapanku!"
Eunhyuk berdiri, mencoba beranjak dari tempat itu sambil menahan airmatanya yang berdesakan di pelupuk matanya. Tapi kemudian Choi Siwon menahan lengannya dan menariknya kembali agar tetap duduk.
"Tidak bisakah kau melupakan segalanya dan memaafkan aku? Sudah hampir sepuluh tahun, kenapa kau masih mempermasalahkannya?"
"Memaafkanmu? Kenapa aku harus memaafkan pecundang yang sudah menyakitiku selama sepuluh tahun? Kenapa aku harus memaafkan bajingan yang pergi begitu saja meninggalkan aku dengan semua luka dan keterpurukan yang dia torehkan? Kenapa aku harus memaafkan laki-laki brengsek sepertimu? Kenapa!"
"Tenanglah, kita bicarakan ini baik-baik."
"Luka yang kau torehkan di hatiku mungkin akan sembuh seiring dengan berjalannya waktu, tapi kenangan soal luka yang kau torehkan itu tidak akan hilang begitu saja."
Eunhyuk menghempaskan tangan Choi Siwon yang masih menahan pergelangan tangannya dengan kasar dan segera beranjak dari tempat itu sambil memegangi dadanya yang terasa sangat sakit. Eunhyuk bahkan merasa kesulitan bernapas karena menahan tangisnya yang hampir saja pecah. Choi Siwon bahkan meminta Eunhyuk untuk memaafkannya tanpa menunjukan rasa bersalah sedikit pun, untuk apa memaafkan orang yang tidak merasa bersalah? Untuk apa memaafkan orang yang bahkan menganggap cinta hanya sebagai penghalang karirnya?
"Hyukjae, tunggu!"
Eunhyuk mematung saat Choi Siwon memanggil nama lahirnya. Sudah lama sekali ia tidak mendengar nama lahirnya di sebut.
"Kau berpacaran dengan salah satu mahasiswaku, apa itu benar?"
Jemari Eunhyuk bergerak menghapus jejak airmata yang turun membasahi kedua pipinya sebelum kembali berbalik untuk menatap Choi Siwon.
"Apa sekarang urusan pribadiku menjadi urusanmu juga? Benar atau tidak, sama sekali bukan urusanmu. Oh, dan jangan pernah memanggilku dengan nama itu lagi. Sejak kau meninggalkanku, aku tidak sudi mendengar nama itu di sebut lagi!"
Tidak cukupkah luka yang sudah kau torehkan selama ini? Kenapa kau kembali hanya untuk menambahkan luka yang bahkan belum sepenuhnya sembuh?
.
.
ooODEOoo
Perasaan Donghae gelisah karena sudah hampir tigapuluh menit, Eunhyuk belum juga kembali ke ruangannya. Donghae ingin sekali ke lantai dasar dan mengetahui apa yang terjadi pada mereka, tapi Donghae tidak bisa meninggalkan ruangannya karena ada setumpuk pekerjaan yang harus ia selesaikan malam ini juga agar Eunhyuk tidak terus bekerja lembur.
Setelah tigapuluh menit berlalu, akhirnya Eunhyuk kembali dengan wajah yang merah dan mata yang sembab. Tanpa bertanya ada apa pun, Donghae sudah tahu kenapa Eunhyuk menangis sampai seperti itu. Donghae mengabaikan semua pekerjaannya dan menarik pergelangan tangan Eunhyuk tanpa berkata sepatah katapun.
Eunhyuk yang masih bingung dengan situasinya sekarang hanya diam dan membiarkan Donghae menarik tangannya lalu mengarahkannya masuk ke mobil tanpa berkata apapun.
"Kita mau kemana? Pekerjaan kita masih banyak."
"Kita akan bersenang-senang."
Donghae mulai menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Meskipun begitu, tidak ada satu katapun yang terlontar dari mulut Eunhyuk.
Entah apa yang membuat Donghae begitu marah hingga melampiaskannya pada jalanan yang tidak berdosa. Jujur saja, Donghae merasa sakit hati saat melihat wajah Eunhyuk yang merah karena menahan tangis. Laki-laki pecundang itu pasti menyakitinya lagi.
"Ini jalan menuju apartemen kita? Bukankah kau bilang mau mengajakku bersenang-senang?"
"Jalan-jalan menggunakan mobil sama sekali tidak menyenangkan. Kita naik motorku saja dan berkeliling kota."
"Oh."
"Sudah aku bilang agar tidak menemuinya kenapa kau keras kepala sekali?"
"Setidaknya dengan begitu aku jadi tahu alasan kenapa dia meninggalkanku."
Sorot mata Donghae semakin sendu saat bertatapan langsung dengan manik kelam milik Eunhyuk. Sorot matanya redup dan sama sekali tidak ada pancaran kebahagiaan di sana. Jelas sudah, luka yang di torehkan oleh Choi Siwon sangatlah dalam.
"Pakai ini."
Donghae langsung memakaikan helm ke kepala Eunhyuk sesaat setelah mereka turun dari mobil. Motor itu memang selalu ada di sana, terparkir berdampingan dengan mobil mewah Eunhyuk.
"Terima kasih."
"Sekarang, kita berkeliling dan kita lampiaskan kemarahanmu pada apapun, okay?"
Jangan pernah menangis lagi, jangan pernah menunjukan sorot mata itu lagi. Berbahagialah...
.
.
Mengelilingi jalanan kota sambil merasakan angin yang berhembus membuat perasaan Eunhyuk sedikit lebih baik. Bahkan Donghae juga mengajaknya berteriak-teriak di pinggiran sungai Han setelah puas mengelilingi kota di malam hari. Donghae menyuruh Eunhyuk berteriak dan melampiaskan semua kemarahannya dengan cara memaki orang yang sudah menyakitinya. Donghae bilang, cara itu lebih ampuh dari pada mabuk-mabukan.
"Ikuti aku sekali lagi ya, CHOI SIWON PECUNDANG!"
"Choi Siwon pecundang!"
"Kenapa di saat seperti ini kau lembek sekali? Biasanya 'kan kau memaki dengan lantang."
"Choi Siwon pecundang! Brengsek! Tidak tahu malu! Pengecut! Bajingan dan—"
Eunhyuk menghentikan makiannya, napasnya terengah-engah dan airmata kembali berkumpul di pelupuk matanya. Lagi-lagi rasa sakit itu kembali.
"—dan aku sangat membencimu!"
Tangis Eunhyuk pecah begitu kalimat terakhirnya keluar dengan lantang dari mulutnya. Di saat seperti ini Donghae hanya mampu memeluknya dan membiarkan Eunhyuk menangis tersedu-sedu di dadanya.
"Aku heran, kenapa penglihatanmu buruk sekali? Kenapa kau jatuh cinta pada laki-laki miskin ekspresi itu? Hari ini aku mengijinkanmu untuk menangis sepuasnya. Tapi setelah hari ini berakhir, tangisanmu juga harus berakhir. Kau hanya boleh tersenyum dan bahagia."
Donghae melepaskan pelukannya dan menghapus jejak airmata yang membasahi pipi kemerahan Eunhyuk.
"Lihat dirimu, berantakan sekali. Dengar, mulai besok berhetilah menangisi laki-laki yang salah dan datanglah kepadaku. Aku tidak akan pernah mengkhianatimu, aku akan selalu berada di sisimu untuk melindungimu dan memberikanmu kebahagiaan."
Hening.
Tidak ada yang berbicara lagi setelah itu. Mereka hanya diam sambil saling menatap ke mata masing-masing.
Apakah ini sebuah pernyataan cinta?
"Jangan pernah terluka lagi."
Entah sudah berapa kali mereka berakhir dalam situasi seperti ini. Kapanpun Eunhyuk menangis, Donghae akan selalu memeluknya dan berakhir dengan sebuah pagutan lembut di bibirnya. Ciuman yang hangat dan menenangkan. Ciuman yang mampu menghentikan tangisan Eunhyuk. Ciuman yang mampu menyembuhkan luka hati Eunhyuk.
Mulai sekarang, kau hanya perlu melihat ke arahku dan aku akan memberikan kebahagiaan yang tidak pernah kau dapatkan sebelumnya.
.
.
TBC
Semoga gak bosen yah sama jalan ceritanya ^^
Semoga gak ada typo juga ^^
gimana nih? end sampai di sini atau masih penasaran sama kisah selanjutnya? kkkk ^^
okay, jawab pertanyaan dulu yah. ^^
.
.
Q: sebenarnya perasaan Siwon ke Eunhyuk sekarang bagaimana?
A: chapter ini udah di jelasin yah gimana perasaan Siwon ke Eunhyuk, di chapter depan mungkin bakal di lanjutkan lagi penjelasan soal perasaan Siwon ^^ di tunggu yaaaa~~~ ^^
.
Q: ada NC lagi gak nih?
A: ada, tapi gak detail...saya gak kuat dan gak bisa...takut ayan di tengah2 wkwkwkwk
.
Q: ini ada tanda2 mpreg kah?
A: kayanya gak ada ^^
.
oke segitu aja dulu...
sekali lagi nih, mau di end sampe sini aja apa lanjut lagi?
hahahah
gimana chapter ini? membosankan? seru? penasaran?
review lagi ya~ !^^ silahkan tuangkan curhatan kalian di kotak review...selalu saya baca kok ^^ makasih semuanya atas apresiasinya ^^
.
.
With Love,
Milkyta Lee
