Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Plot : 20th Century Fox Home Entertainment™ & nona fergie kennedy

WARNING: AU, OOC, Abstrak

A/N: Saya ngelakuin kesalahan di chap 1 seharusnya NaruSasu dipanggil pemuda bukan pria

Sakura & Hinata: 18 tahun

Sasuke & Naruto: 19 tahun

Selamat membaca ya...

.

#

.

Gadis berambut oranye menarik-narik kerah seragam sekolahnya, ia membuka loker memandang wajahnya yang penuh keringat pada cermin yang tertempel di pintu lokernya. "Haduh sudah musim panas ya? Aku benci musim panas karena membuatku banyak keringat."

"Itu bagus kan Moegi? Kata Sakura-senpai itu sehat kok." ucap temannya berambut cokelat.

Gadis bernama Moegi itu seketika tersenyum manis mengingat senior yang dikaguminya semenjak masuk sekolah. "Ya, ya. Ah, Sakura-senpai aku ingin menjadi sepertinya, gadis yang kuat, cantik, dan cerdas."

"Haha," temannya tertawa kecil melihat respon Moegi. "Aku dengar Sakura-senpai setelah lulus dia ingin jadi dokter. Bagaimana? Kau mau ikut juga dengannya?"

Senyum manis gadis itu lenyap seketika berganti mengerucutkan bibirnya sebal. "Aku tidak mau, aku tetap menggapai cita-citaku. Seperti yang Sakura-senpai bilang."

"Oh."

"Aku tidak mengerti kenapa Sakura-senpai memilih itu padahal akan lebih baik memilih jadi atlet karate," gumamnya berpikir keras, mungkin seniornya itu sudah lelah selalu dijuluki gadis berkekuatan monster. Tapi dikalangan para gadis, Sakura dijuluki senior yang manis dan ramah. Moegi tidak mengerti. Mata oranye-nya tanpa sadar menatap koridor, "Ah," yang dibicarakannya muncul, seniornya sedang berjalan santai di koridor. Moegi memamerkan senyum terbaiknya seraya berkata, "Sakura-senpai selamat pagi—!"

Duagh!

Semua tersentak kaget mendapati seniornya bukannya membalas sapaan mereka melainkan pukulan sebagai balasan. Wajah mereka pucat memandang tembok yang hancur membentuk lubang kecil tak beraturan.

'Siapa gadis ini? Seram!' ucap inner mereka bareng.

Sakura yang sepertinya belum sadar akan kehadiran junior-juniornya justru menggerutu tidak jelas. "Huh... aku kesal! Kenapa pirang mesum itu harus serumah denganku?" gerutunya seraya menjatuhkan tangannya. Serpihan-serpihan kecil tembok berjatuhan bersamaan dengan tangannya yang terkulai di sisi tubuhnya. Sakura menatap datar lubang yang dibuatnya. Terjadi hal ini lagi, sepertinya ia akan kena marah Mei lagi. Entah sudah berulang kali kepala sekolahnya itu memberi nasihat supaya tidak menghancurkan properti sekolah. Ah, sudahlah. Toh, Mei adalah adik ayahnya, sudah pasti ia akan di maafkan. Tinggal pasang cengiran tak berdosa dan semua selesai.

Percaya diri sekali Sakura.

"Em, Sakura-senpai kenapa?" Moegi bertanya takut-takut.

"Tidak ada apa-apa kok!" jawab Sakura berusaha menyembunyikan amarahnya dengan senyum yang justru membuat gadis lain semakin takut. Sebelum akhirnya melangkah pergi menuju kelasnya di lantai dua.

Duagh! Duagh! Duagh!

Bunyi sepatu Sakura berderap keras sebab gadis itu sengaja menghentak-hentakannya, hal tersebut membuat Moegi dan yang lain bergidik ngeri. Baru kali ini ia melihat Sakura semarah itu. Sangat menyeramkan.

"Rasanya Sakura-senpai berubah ya?"

"Iya,"

Meski sedang kesal, Sakura sedikit menangkap pembicaraan fan girl-nya, tapi memutuskan tidak peduli. Sekarang yang ada di otaknya adalah menyingkirkan pemuda pirang itu. Kedutan di dahi Sakura bermunculan mengingat Naruto, apa lagi kejadian kemarin malam...

Flashback on

"Sakura-chan memang pintar memilih dekorasi kamar." puji Naruto memandang seisi kamar gadis itu. Meskipun ia pernah sekali ke sini sih. Ini merupakan taktiknya yang pertama. Ya dengan pujian tentunya.

Sakura hanya menguap bosan. "Aku kan memang sempurna," sahutnya pede.

Naruto ber-'oh' ria seraya memandang gadis itu dari atas hingga bawah. Senti demi senti, lekukan demi lekukan. Oh, man... Naruto menggelengkan kepalanya mencoba untuk mengontrol emosinya. "Tapi bokongmu, dadamu, pahamu, semuanya tidak berkembang..."

Plak!

Sakura menampar tangan Naruto yang seenaknya meraba-raba tubuhnya. Sudah mengkritik, pegang-pegang lagi. "Mereka hanya belum berkembang baka," belanya dengan pipi bersemu merah.

Naruto nyengir lima jari. "Ya tak apa toh kau cantik. Porsinya pas kok denganku." ia mengacungkan jempolnya. Melancarkan aksinya lagi.

Pipi Sakura kian memerah. Malu dan marah bercampur jadi satu. "Dasar baka! Playboy!" bentaknya keras. "Aku tidak mengerti kenapa kalian mau menerima perjodohan ini, kau di suap berapa hah sama ayahku?" gadis berambut merah muda itu memang sejak bertemu ingin sekali bertanya begitu. Siapa yang mau menikah sama orang yang tidak dicintainya? Bayangan mantan pacarnya; Shi tiba-tiba muncul membuat Sakura sedikit tertunduk. "Kenapa... kenapa kalian tidak menolaknya?"

"Ck, ck, ck. Sakura-chan dengar ya? Kami sudah puas bermain sama para gadis, sudah saatnya serius."

Jadi begitu, tapi... "Kami?"

"Ya tentu aku dan Sasuke duh!"

Eh?

Mata emerald Sakura membulat tak percaya. Sasuke? Pemuda pendiam begitu playboy juga? What the—Sakura tidak bisa membayangkannya, melihat tingkah Naruto saja tangannya sudah gatal ingin meninjunya ke alam baka. Lah ini Sasuke? Sasuke?

Seringai Naruto muncul mendapati reaksi pucat gadis di depannya. "Sasuke lebih berbahaya dariku loh Sakura-chan."

Jleger...

Image Sasuke sebagai pangeran menunggangi berkuda putih musnah berganti senyum devil pemuda berambut biru gelap itu.

"Kalau gerakan aku aktif, Sasuke itu pasif. Dia mendekati gadis lewat kelemahan mereka," jelasnya enteng penuh senyuman.

Tidak mungkin...

Sakura menampar dirinya sendiri dan balas tersenyum percaya diri. Ya tentu tidak mungkin, semenjak di rumah kan tidak ada tanda-tanda Sasuke akan mulai aksinya pada Hinata atau pun dirinya. Naruto pasti boho—

"Kalau tidak percaya ucapanku coba lihat saja ruang keluarga," ucap Naruto yang sepertinya tahu apa dipikirkan gadis bersurai merah jambu itu.

Benarkah? Penasaran, Sakura melangkah menuju pintu tanpa mengalihkan pandangannya dari Naruto. Siapa tahu itu cuma akal-akalan Naruto supaya bisa 'menerkamnya' dari belakang. Siapa yang tahu kan?

Naruto sih hanya menahan ketawa sambil menutup bibirnya melihat gerakan waspada calon istrinya itu. Lucu sekali. "Kau terlalu berlebihan, Sakura-chan. Aku tidak akan menyerangmu kok."

Oke, Sakura merasa bodoh sekarang. Sudahlah liat apa yang terjadi di—kontan emerald-nya melotot melihat pemandangan yang sangat langka di depannya; beberapa meter di depannya Hinata sedang dipeluk oleh Sasuke. "Apa yang sudah kau lakukan pada Hinata?" jeritnya menarik tangan Hinata agar menjauh dari Sasuke.

"Apa yang sudah kau lakukan pada Hinata? Huh! Justru itu yang harusnya kutanyakan padamu."

"Hah?" oke Sakura bingung sekarang. Kan yang 'menyerang' Hinata itu Sasuke kok malah dirinya yang disalahkan? Apa-apaan si bungsu Uchiha ini?

"Menyuruhnya untuk tidak menangis." lanjutnya dingin. "Kau bahkan tidak tahu dia sedang patah hati. Kakak macam apa kau?" setelah mengatakan semua itu Sasuke melangkah keluar untuk mencari angin segar.

"..."

Sakura merasa bersalah. Benar ia mengatakan hal itu tapi hanya agar membuat adiknya tidak terlihat lemah. Ternyata itu justru membuat Hinata tertekan. Lututnya lemas seketika itu juga.

Naruto melirik Sakura yang perlahan jatuh terduduk lemas sebelum melempar deathglare ke direksi Sasuke. "Teme kau keterlaluan!"

"Hn,"

Naruto mengumpat dalam hati, kata sialan itu muncul lagi. Adiknya itu memang kalau terkena masalah, ucapin aja kata 'hn', selesai lah sudah. "Sakura-chan ayo bangun." ia mengulurkan tangannya.

Sakura terdiam sebentar sebelum akhirnya menerima uluran tangan tersebut. "Maaf Hinata, aku tidak tahu sama sekali. Seharusnya sebagai kakak akulah yang paling pertama menyadari hal itu," sesalnya dengan wajah tertunduk.

Hinata diam beberapa saat, sebelum tersenyum akhirnya. "Tidak apa-apa Sakura-chan. Kita sama-sama lelah kan sehabis berlari ke rumah Ino-chan. Aku... sungguh ingin menceritakannya saat sudah pas,"

"Tapi Sasuke yang pertama menyadari itu."

"Tentu saja, Sasuke-kun kan..." Hinata tidak melanjutkan kata-katanya, pipinya bersemu merah. Tidak bisa, Hinata tidak bisa menceritakan pertemuan pertamanya dengan Sasuke yang unik itu. "...penuh rahasia. Aku mandi dulu ya?"

Sakura awalnya ingin bertanya lebih banyak namun ia putuskan nanti saja. "Ya sudah."

Sebelum ke kamar mandi, Hinata memberikan senyum terbaiknya.

Tinggalah Naruto dan Sakura berdua di ruang keluarga.

"Lihat? Kau percaya kan apa kataku?"

"Hm," Sakura masih memandang tempat Hinata pergi.

Merasa dicuekin, tangan mereka yang memang masih berkaitan, Naruto sedikit eratkan membuat perhatian iris emerald itu kembali padanya. Naruto nyengir, betap ia suka sekali mata itu; iris emerald yang hanya tertuju padanya. Meski kebencian terpancar, ia bakal mengubahnya penuh cinta. Pasti. "Ok, Sakura-chan. Kalau kau ingin sesuatu yang 'fun' datanglah padaku. Aku cuma berada di seberang kamarmu," jelasnya penuh menggoda.

Sakura memutar bola matanya. Sekarang ia sudah kembali lagi ke dunia anehnya bersama Naruto. "Dalam mimpimu," tolaknya sambil menjulurkan lidahnya.

"Hm," Naruto bergumam sesaat sebelum membalikan badan, sambil melambaikan tangan ia berkata. "Aku selalu 'free' kok kalau denganmu Sakura-chan."

Sakura memandang penuh tatapan tajam Naruto. "Aku tidak butuh itu."

"Kau akan membutuhkanku Sakura-chan. Cepat atau lambat. Kau akan."

Uchiha ini harus di singkirkan dari rumahnya. Itulah misi Sakura sekarang...

Flashback Off

"Earth to Sakura!"

Sakura tersadar dari lamunannya, mendapati Ino berdiri di hadapannya sambil melambaikan tangan. "Kau mengagetkanku, Ino!"

Ino terkikik kecil. "Saking bahagianya tinggal bersama suamimu sampai melamun begitu."

"Siapa yang bahagia hah?"

"Oh, tentu saja kau. Tinggal bersama pemuda tampan bernama Naruto. Uh, Naruto-kun kau sungguh seksi..." ucap Ino centil lalu melempar senyum mengejek ke Sakura. "Pasti begitukan?"

"Tidak! Dan tidak akan aku mengatakan hal bodoh begitu." bantah Sakura kencang. "Dia memang punya otot dada yang seksi tapi—!"

"Fufufu, barusan kau bilang tuh," celetuk Ino santai.

Sakura menutup mulutnya rapat-rapat, merutuki kebodohannya terpancing dengan mudahnya. Namun inner-nya tidak membantah bahwa Naruto memang punya tubuh yang bagus sebab kemarin tanpa sengaja Sakura melihatnya tengah mandi. Demi dewa jashin! Sakura tidak akan melupakan momen bahagia(?) itu; rambut pirang Naruto yang acak-acakan—kulit tan-nya yang berkilauan akibat guyuran air shower...

Begitu sempurna... Begitu menggairah—

Blush.

Sakura menggelengkan kepalanya menghilangkan pemikiran kotornya. Oh tuhan, ia merasa seperti Naruto sekarang. Mungkin akibat satu atap dengannya, virus mata keranjang Naruto tertular kepadanya.

'Padahal ini baru satu hari, aku bisa gila.'

"Memikirkan yang tidak-tidak ya?"

Pipi Sakura kian memerah. "Ti-tidak!"

"Benarkah? Benarkah?" pancing Ino tak percaya.

Sakura tidak bisa berkutik. Naluri Ino itu begitu kuat. Sakura tidak bisa menang, ia harus menghindar. "Su-sudahlah! Aku mau ke kantin saja! Aku lapar!"

Sakura mengambil langkah seribu begitu mengatakannya tapi emang dasar Ino yang masih penasaran mengekor di belakangnya. "Kenapa mengikutiku?"

"Tentu saja aku ikut bersamamu, aku juga belum sarapan pagi," terangnya penuh cinta tapi devil di dalamnya.

Sakura mengembuskan napas lelah. Yah beginilah kehidupannya, tidak di rumah, tidak di sekolah ada saja yang ingin menguji kesabarannya. Sudahlah, pasrah saj—

Deg!

Jantung Sakura berdetak lebih cepat dari sebelumnya saat melewati pintu kantin. Kata nenek moyangnya ini merupakan pertanda buruk, ah tapi perutnya sudah keroncongan dikarenakan Sakura sengaja berangkat sekolah pagi-pagi sekali untuk menghindari Naruto. Sakura melanjutkan langkahnya ke dalam—

"Ah, Sakura-chan selamat pagi!"

—dan membatu di tempat mendengar nada cempreng yang baru saja terbayang di otaknya.

Mungkin seharusnya ia mendengarkan kata nenek moyangnya yah.

Sebelum terlambat, Sakura berbalik hendak kabur namun dengan cepat pula sebuah tangan besar menangkap pergelangan tangannya. "Mau kemana sih Sakura-chan? Aku kangen padamu, dattebayo!"

Apa? Enggak salah denger tuh telinganya? Baru tidak ketemu pagi tadi sudah kangen lagi padanya? Yang benar saja!

Sakura yang hendak memukul kepala Naruto terhenti merasakan aura kebencian menusuk kulitnya. Merasa terganggu, ia menoleh dan mendapat jawaban bahwa pelakunya adalah para adik kelasnya yang menatap penuh kecemburuan padanya.

"Disentuh Naruto-kun..."

"Disentuh tuh disentuh..."

"Kenapa selalu Sakura-senpai..."

'Hii, serem.' Sakura merinding. Berurusan dengan fan girl saja melelahkan apa lagi bertengkar. "Naruto lepaskan aku!" perintah Sakura tak sabar.

"Baiklah." Sakura mengelus-elus pergelangan tangannya yang agak memerah. Kalau begini sih sebelum menikah bisa habis tubuhnya—

Blush.

Pipi Sakura memanas kembali. Tuh kan kepikiran yang tidak-tidak lagi. Naruto itu benar-benar...

Di sisi lain Naruto mulai terganggu sama fans barunya, kalau begini ia tidak bisa bermesraan bersama 'Sakura-chan-nya'. "Kalian semua tidak ingin ke kelas? Aku tidak suka loh gadis yang nakal." jelas Naruto nyengir yang membuat hati mereka meleleh.

"Tentu saja Naruto-kun."

"Apa pun aku lakukan demi Naruto-kun..."

Naruto melambaikan tangan riang pada fans-nya.

Para fans Naruto melangkah keluar, dan berhenti untuk memberikan deathglare ke arah Sakura. Ini belum selesai, begitulah yang terpancar di wajah mereka.

Sakura mulai mual. Mual karena ia hanyalah korban salah paham.

"Sakura-chan kau sakit? Pipimu merah sekali, dattebayo!" ujar Naruto dengan sengaja menempelkan keningnya di kening gadis itu.

Pipinya semakin memerah. Naruto ini benar-benar sudah membuatnya tidak bisa mengontrol dirinya sendiri lagi. Image-nya selalu hancur bila bersamanya. "A-aku tidak apa-apa!" Sakura mendorong kuat-kuat Naruto yang membuat pemuda itu mundur beberapa langkah.

"E-eh... kasar amat sih."

Sakura mengerucutkan bibirnya kesal, di lain sisi juga mencoba menenangkan degup jantungnya. Setelah dirasa sudah cukup tenang ia berkata. "Kenapa kau bisa di sini? Kau kan sudah lulus sekolah! Ditambah kenapa kau bisa tahu sekolahanku?"

Ya benar. Sakura dan Hinata sengaja tidak memberitahu tempat mereka sekolah, tak terkecuali kakeknya Jiraiya yang sukses mereka sogok dengan tiket pemandian air panas yang sudah lama diincar oleh kakeknya itu. Masa iya Naruto mendobrak paksa kamarnya dan Hinata untuk mencari buku sekolah mereka? Sakura rasa Naruto tidak mungkin selancang itu. Setidaknya Sasuke pasti akan menghentikannya.

Naruto tertawa. "Sakura-chan, Sakura-chan. Aku di sini karena sekarang bekerja di kedai ramen sekolahmu buat uang makan kita! Paman ramenmu enak sekali, dattebayo!" ia mengacungkan jempolnya pada lelaki paruh baya yang sedang memasak mie ramen.

Teuchi balas melambaikan tangan. "Terima kasih Naruto. Kau sangat membantu."

"Kau sebenarnya hanya ingin makan ramen gratis kan?" gumam Sakura sweatdrop; mengingat kemarin Naruto memberikannya satu lembar kertas super panjang. Sakura bertanya: itu isinya apa?

Dengan lantang Naruto menjawab. "Daftar makanan kesukaan dan tidak disukai sang suami tercinta, dattebayo!"

Tentu saja Sakura membuang kertas tak berguna itu ke tong sampah. Yah, setelah melihat isinya sih. Naruto sangat suka ramen, begitulah kesimpulannya.

"Dan kedua, aku memaafkanmu tidak membuat sarapan pagi untukku, tapi ternyata kau bermain kotor di belakangku, eh?" Naruto menyeringai yang entah kenapa terlihat seksi di mata emerald Sakura. "ck ck ck, kau pikir bisa menang dariku Sakura-chan hanya dengan tiket itu?"

Tidak mungkin.

"Jangan-jangan kau..."

"Ya, aku berhasil membuat kakek mesum itu membuka mulutnya."

Mata Sakura memicing mendengar kata 'mesum' padahal Naruto sendiri mesum. Dan hebat juga Naruto berhasil membuat kakeknya buka mulut, padahal ia sudah memberikan harta karun(?) sekaligus ancaman yang tak pantas pada kakeknya itu. Gadis itu tak bisa menahan rasa penasarannya. "Bagaimana bisa kau?"

"Begini..."

Flashback On

"Apa? Kenapa tidak boleh tahu, dattebayo?"

Jiraiya menguap lebar sebelum menatap lelah pada kedua pemuda Uchiha itu. Seenaknya saja pagi-pagi dibangunkan hanya untuk menanyakan hal yang tidak penting. Apalagi pintu kamar tempatnya menginap hancur oleh tendangan combo Naruto dan Sasuke yang tidak sabaran ingin dibukakan pintu. Alhasil, ia habis kena omelan manajer hotel, dan menuntut minta ganti rugi.

Sial sekali dia.

"Sakura dan Hinata tidak mengizinkannya. Katanya kalau kalian ke sekolah hanya mengganggu konsentrasi mereka saja."

"Siapa sih yang mengganggu, dattebayo?"

'Itu kau baka.' seru batin Jiraiya dan Sasuke bersamaan.

Naruto yang ditatap penuh intimidasi oleh Jiraiya dan Sasuke, menghela napas mengalah. "Aku janji deh tidak akan mengganggu Sakura-chan saat pelajaran." belanya mengibarkan bendera putih, mengaku kalah.

"Bagaimana kakek? Naruto sudah janji begitu." Sasuke membuka suara.

"Tapi..."

"?" Sasuke menatap bingung Naruto. Mungkin kakaknya ingin lebih meyakinkan Jirai—

"Tapi aku tidak janji kalau jam istirahat, dattebayo!" lanjut Naruto lantang.

"Tidak boleh!" Jiraiya berseru kencang sambil tangannya membentuk huruf x. Padahal meskipun hanya satu detik, ia sempat ingin ngasih tahu alamat sekolah calon mereka tanpa peduli amukan Sakura nanti, nyatanya Naruto tetap saja... selalu membuatnya menarik semua pemikirannya.

"..." Sasuke menghela napas lelah. Lelah oleh tingkah bodoh kakaknya. Rasanya kalau bukan karena Naruto adalah kakaknya, mungkin bibirnya sudah mengeluarkan sumpah serapah.

'Justru itu yang ditakutkan Sakura.' batin Jiraiya dan Sasuke lagi-lagi berpikiran sama.

"Sudahlah kalian ini, cari tempat kerja lain sana! Di rumah kan bertemu, masa di sekolah juga bertemu? Tidak bosan kenapa?" tanya Jiraiya berlagak sok bijak padahal mengulangi perkataan Sakura tadi malam.

"Kakek di bayar berapa sama Sakura-chan hah?"

"Yang jelas itu berharga bagiku. Kau terlambat membeli perkataanku, Naruto."

Terlambat, eh? "Meskipun terlambat untuk ini?" pemuda pirang itu memamerkan sebuah foto di ponselnya. Di layar tertera seorang wanita dewasa berambut pirang panjang sedang memakai bikini merah super seksi apalagi ditambah posenya yang memegang kedua buah dada yang besar itu, membuat laki-laki mana pun ngiler melihatnya—

—termasuk Jiraiya yang kini melotot dengan hidung kembang-kemping menatap wanita di layar ponsel Naruto yang tak lain adalah Tsunade. Imannya mulai goyah nih. "Huwa... dari mana kau bisa mendapatkannya?" tanyanya.

"Aku ini punya bakat hebat soal 'itu'," sahut Naruto pede menepuk-nepuk dadanya bangga.

Sasuke mengerutkan alisnya. Punya bakat 'itu' kok bangga? Benar-benar aneh kembarannya ini.

Jiraiya mencubit pipinya sendir—imengontrol detak jantungnya. Sabar, sabar. Di pemandian air panas nanti akan jauh lebih hot dari ini. Ya, Jiraiya kembali percaya diri akan harga dirinya yang sempat jatuh. "Tetap ti—"

"Aku punya lebih 'hot' loh. Video lagi."

Croot!

Seketika darah menyembur dari hidung Jiraiya mendengar hal itu. Tidak salah dengar tuh telinganya? Lebih hot? Video dia bilang? Mendapat foto Tsunade saja susahnya minta ampun, ini video? Naruto dapat dari mana lagi semua itu?

"Bagaimana?" Naruto menyeringai lebar. "Apa aku harus memperlihatkannya juga?"

'Masuklah ke dalam perangkapku, dattebayo!'

"..." Jiraiya bimbang sekarang. Sulit memutuskan; keduanya menggiurkan. Kalau diterima ia akan habis-habisan di amuk Sakura tapi bisa menonton video itu, kalau ditolak itu sungguh sangat merugikan baginya meskipun senang bisa kepemandian air panas umum.

"Baiklah aku tunjukan sa—"

"Cukup Naruto! Sini berikan padaku!"

Sudahlah, habis-habislah dia sama Sakura, yang penting adalah kesenangannya dulu. Masalah nanti ya, dipikirin nanti. Begitulah pemikiran Jiraiya yang mesum.

Naruto menyerahkan handycam miliknya yang disambut tawa mesum Jiraiya, dan Naruto pun ikutan tertawa, "Bagian ini loh yang hot."

Sasuke yang sejak tadi memerhatikan dalam diam tingkah laku kedua laki-laki jabrik mesum itu sweatdop menutupi wajahnya memakai telapak tangan kanannya.

'Ampun deh, kenapa aku bisa punya kembaran begitu? Ibu ngidam apa sih?' batin Sasuke bertanya-tanya.

Di sela nonton video, Naruto bertanya. "Jadi di mana alamat sekolahnya?"

Tanpa mengalihkan matanya dari handycam, Jiraiya membalas. "Konoha high school. Tanya saja sama taksi yang akan kalian tumpangi."

Flashback Off

Sakura dan Ino sweatdrop mendengar cerita panjang kali lebar Naruto. Dan di otak mereka berdua tersimpul satu kalimat.

Kakek Jiraiya kalau ada yang seger dikit. Sikat saja!

Padahal Sakura sampai memakai uang tabungannya buat beli tiket super mahal itu tapi ternyata tetap gagal. Sejak dulu memang Jiraiya suka Tsunade tidak heran Naruto yang memenangi pertaruhan ini.

"Agh!" Sakura menjerit frustasi. Merasa kalah oleh calon suaminya. "Sudahlah aku mau makan ramen saja! Ramen tiga porsi paman!"

"Sip!"

"Sadisnya Sakura pagi ini, lebih baik aku tidak mencari masalah hari ini," gumamnya ngeri menatap sahabatnya yang duduk dipenuhi aura gelap di sekeliling tubuhnya. Namun sweatdrop beralih ke Naruto yang memandang Sakura penuh cinta. "Cowok ini tidak peka sama sekali lagi." lanjutnya suram. "Aku satu juga ya paman!"

"Oke,"

Ino merasa seperti obat nyamuk duduk di samping kedua pasangan 'unik' itu. Rasanya ia iri, sebab tinggal dirinya sendiri yang belum punya kekasih. Merasa bosan, akhirnya ia bertanya. "Eh, ngomong-ngomong Naruto kau kan kerja di sini, tapi kok calon Hinata tidak kelihatan sih?" tanyanya menyapu sekeliling kantin mencari pemuda berambut biru ber-style pantat ayam yang diceritakan Sakura padanya.

"Katanya pekerjaan ini tidak cocok buatnya," Naruto mengangkat bahu. Padahal kerja sambilan di kedai ramen menguntungkan namun tetapi dijelasin begitu Sasuke tidak tertarik sama sekali. "makanya dia nyari pekerjaan yang cocok lewat bakatnya."

"Bakat?"

Naruto hanya nyengir.

.

.x.

.

"Tampan..."

"Emo..."

"Buntut ayam...?"

Suasana kelas jadi gaduh kedapatan seorang pemuda yang menurut mereka masih seumuran itu masuk ke dalam kelas seorang diri. Mungkin murid baru tapi pemuda itu tidak ditemani guru mana pun.

"Perkenalkan aku Uchiha Sasuke guru olahraga baru kalian."

"!" Semua kaget mendengarnya.

"Masa? Kau terlihat masih seumuran kami." celetuk Kiba.

"Aku lompat kelas makanya lulus terlebih dahulu dari kalian," jawab Sasuke.

"Kyaa..." semua gadis berseru histeris selain tampan ternyata guru baru mereka juga pintar. Jelas toh, kalau tidak pintar mana mungkin Sasuke berdiri di sini.

Dari sekian banyak gadis ada seorang gadis berambut indigo yang tidak tergoda oleh pesona Uchiha melainkan malah terbelalak tidak percaya apa yang dilihat iris matanya."Kenapa? Kenapa Sasuke-kun bisa ada di sini?" gumam Hinata pelan.

"Sasuke-kun?" perkataan Hinata rupanya terdengar oleh teman sebangkunya, Tenten. "Psst... Hinata-chan berarti dia calon suamimu dong?"

Hinata mengerjap-ngerjapkan matanya. Dan mengangguk kecil sebagai jawaban.

"Huwa..." mata cokelat Tenten beralih ke sosok Sasuke. Memandang tubuh pemuda itu dari atas sampai bawah. "Tampan sih," simpulnya. "tapi kenapa bawa-bawa kayu segala? Buat apa?"

Ya, buat apa coba? Masa iya Sasuke bakal menghukum para murid dengan benda itu. Masih jaman pakai begituan? Tidak sama sekali!

"Aku juga tidak tahu Tenten-chan." ya, sungguh Hinata tidak tahu.

"Sensei! Sensei! Aku mau tanya! Apa sensei sudah punya kekasih?"

"Belum,"

"Kyaa..." Semua para gadis menjerit histeris mendengar jawaban sang Uchiha muda yang mendeklarasikan dirinya seorang single.

"Kriteria gadis yang sensei sukai seperti apa?"

"Bisakah pertanyaannya lebih penting lagi?"

"Itu penting kok sensei,"

"Iya penting..."

Sasuke mengembuskan napas pelan sebelum menatap kembali para murid-muridnya ini datar. "Aku tidak tertarik pada gadis lain selain Hyuuga Hinata,"

Sing...

Sepi...

Semua gadis menoleh tajam bebarengan ke Hinata yang blushing berat.

"Hyuuga... kau siapanya Sasuke-sensei?"

"..."

"Apa harus dijelaskan juga?" suara Sasuke kembali menarik perhatian para gadis.

"Eh?"

"Aku dan Hinata sepasang—"

Buagh!

Bruk

Sing...

Kelas kembali sunyi melihat adegan naas guru baru mereka. Dimana Sasuke terkapar tidak berdaya akibat timpukan super sebuah sepatu sneaker putih.

Sasuke bangkit berdiri memegangi wajah mulusnya yang kini kotor, "Siapa yang berani melempar sepatu ke arahku?" tanyanya meringis kesakitan.

Ya, siapa yang berani menimpuk guru idola baru mereka?

Semua murid menoleh slow motion, dan terkaget-kaget mendapati sang putri Hyuuga lah yang menjadi pelakunya.

Pipi Hinata memerah dipandangi begitu. "A-anu..." ia memberi jeda, bingung ingin memberi penjelasan apa. Mana mungkin Hinata bilang ia tidak ingin Sasuke seenaknya memberitahu bahwa mereka akan menikah. Ah, "a-ada lalat di hidung sensei jadi aku ingin mengusir lalat itu."

Semua sweatdrop mendengarnya.

Sementara Sasuke mengumpat dalam hati. Hal sepele begitu tidak perlu memukulnya segala kali. Tinggal bilang apa susahnya coba? Dan Sasuke sangat-sangat berterima kasih bila Hinata bilang padanya langsung, bukan sepatunya yang langsung.

Mungkin setelah menikah nanti Sasuke bakal ikut grup ISSTI alias ikatan suami-suami takut istri bersama kakak kembarnya Naruto. Bagaimana tidak? Cuma ingin mendeklarasikan hubungannya, Hinata seenak jidatnya memukulnya pakai sepatu, jika lebih dari ini mungkin bukan sepatu melainkan kursi yang jadi sasaran wajahnya berikutnya.

Sasuke masih pengin tampan kok walau tampan itu menyusahkan. "Baiklah, di sini siapa yang bernama Inuzuka Kiba?"

Kiba—yang tengah asyik mengorek telingannya, berdiri malas. "Aku sensei,"

Jadi ini orangnya.

"Maju ke sini." Kiba ogah-ogahan melangkah maju. Lagi enak-enak malah disuruh ke depan, guru barunya ini benar-benar tak mengerti situasi.

Sasuke memandang intens pemuda berambut cokelat tersebut; dari atas sampai bawah sebelum kemudian tersenyum penuh arti yang membuat Kiba merinding disko.

'Masa sih dia... Gay?'

"Sekarang kau lari keliling lapangan sepuluh putaran."

EH?

Seisi kelas kaget. Hinata pun ikutan kaget.

"APA? Sensei aku salah apa disuruh lari?" seru Kiba tak terima.

Sasuke menutup telinganya. Ternyata mulut pemuda itu sama dengan Naruto. Sial lagi ia harus berurusan sama pemuda yang bermulut besar. Sepertinya Hinata memiliki selera yang aneh. "Cepat kerjakan atau kau ingin ditambah dua puluh putaran?"

'Glek, ternyata dia sadis ya?' seru inner para murid ngeri.

"Tapi sensei jelaskan dulu apa kesalahanku!" ucap Kiba membandel.

"Baiklah dua puluh putaran."

"Sensei—!"

Brak!

Kiba menutup mulutnya tak kala Sasuke memukul kayu yang dibawanya ke meja. "Dengar Inuzuka, cepat lari sebelum aku kehilangan kesabaranku."

"Ha'i," Kiba mengangguk kaku.

.

.x.

.

Tenten memandang bosan Kiba yang tengah berlari. Bosan sebab sebelum pemuda itu menyelesaikan larinya, para murid lain belum boleh olah raga. Mata cokelatnya menatap Sasuke yang begitu tajam memerhatikan langkah Kiba.

"Lebih cepat lagi. Kau itu larinya seperti perempuan." ujar Sasuke dingin.

"Ha'i."

"Kasihan Kiba," gumam Tenten iba. "Calonmu benar-benar sadis ya Hinata-chan? Menyuruh Kiba lari tanpa pemanasan. Pasti tubuhnya bakal keram setelahnya."

"..."

"Hinata-chan?"

Hinata tersadar akan lamunannya. "Eh? Ada apa Tenten-chan?"

Tenten cemberut, jadi sejak tadi ucapannya yang panjang lebar tidak didengarkan. "Tidak ada apa-apa,"

Hinata tersenyum bersalah. "Maaf, ya." ujarnya menyesal, mengikuti arah pandang Tenten lalu terdiam lagi. "Aku rasa Sasuke-kun hanya kesal."

"Hm?" Tenten mengerjap tak tertarik.

"Ma-maksudku, Sasuke-kun melakukan semua ini mungkin untukku."

"Hah?" Tenten tertarik sekarang.

"Aku cerita soal masalahku soal Kiba-kun dan Sasuke-kun kesal,"

"Ceritakan padaku Hinata-chan!"

Blush.

"A-aku rasa i-ini memalukan."

"Ayolah." Tenten merajuk. Melihat rona di pipi Hinata membuatnya semakin antusias ingin mengetahui curhatan sahabatnya.

"B-baiklah..."

Flashback On

"Baiklah ayo kita berbicara," Sakura berdecak pinggang menutupi televisi, menatap jengkel pemuda Uchiha yang juga memandangnya jengkel sudah mengganggu acara nonton bola mereka.

"Bicaranya bisa nanti Sakura-chan? Aku lagi nonton bola dattebayo!"

"Tidak bisa! Kalau ingin tinggal di sini kalian harus mengikuti peraturan rumah ini!"

'Sial.'

Sakura tersenyum akhirnya pemuda Uchiha itu diam. "Oke, karena sekarang kita tinggal berempat. Soal bersih-bersih dan memasak kita bagi jadi dua. Kita saling bergantian setiap minggu. Aku rasa kalian tidak bisa memasak atau pun bersih-bersih jadi kita—"

"Itu sih gampang. Aku denganmu, Sasuke sama Hinata, selesaikan? Nah aku boleh menonton bola lagi?"

Sakura murka sekarang. Mana mau ia bersama Naruto... akhirnya menghela napas lelah. Hatinya sedang ruwet membuat mood-nya malas. "Please? Aku dan Hinata sudah sepakat buat hom pim pa menentukan pasangannya."

"Hmpft," Naruto menutup bibirnya berusaha agar tawanya tidak meledak. Hari gini masih menentukan pakai hal kekanak-kanakan begitu.

Pipi Sakura memanas, ia tahu Naruto menertawai idenya. "Jangan ketawa baka."

"Aduh Sakura-chan kau ini lucu sekali. Kau pikir kami masih SD, dattebayo."

"Sudah lakukan saja!"

Naruto tertawa kecil. "Iya deh tapi diundi seperti apa pun aku pasti berakhir bersamamu kok."

"Jangan mimpi!"

"Kapan mulainya?" Sasuke membuka suara. Lelah oleh pertengkaran keduanya.

Sakura mendesah entah sudah ke berapa kalinya melakukan hal ini hari ini. Ia menumpuk tangannya di atas tangan Naruto, Sasuke dan Hinata.

Sambil menahan malu, mereka berseru bersamaan. "Hom pim pa,"

Naruto menyeringai sedangkan Sakura menggerutu tidak jelas. "Tuh kan apa kubilang?"

Perkataan Naruto memang benar. Mereka berpasangan. Ia dan Sakura memilih telapak tangan sedangkan Sasuke dan Hinata punggung tangan.

"Ulangi lagi!" Sakura tak menerima kekalahannya. Setidaknya berpasangan dengan Sasuke yang pendiam jauh lebih baik daripada bersama Naruto yang setiap kali menatapnya penuh puppy eyes love no jutsu.

"Iya deh."

"Hom pim pa."

Tetap sama.

"Ulangi lagi!"

"Hom pim pa..."

Masih tetap sama.

"Hom pim pa..."

Enggak berubah-ubah.

"Hom pim pa!"

Ngimpi ya bisa berubah?

"Nah Hinata kau mau masak apa buat makan malam?" tanya Sasuke yang lelah meladeni permainan Sakura.

"Ng?"

Sementara Sakura pundung dipojokan memandangi telapak tangannya. "Lima kali berturut-turut dapat Naruto..." gumamnya suram.

Naruto tertawa terbahak-bahak di sofa menertawai kesialan Sakura. Beginilah bila berusaha melawan kenyataan. Sambil mengusap air matanya, ia berseru. "Dari pada terus menggerutu lebih baik kau antar aku keliling rumah saja Sakura-chan."

Nonton bolanya? Naruto sudah tak tertarik, lebih senang bermain bersama 'gadis'nya.

"Tidak mau!"

"Bagaimana kalau kita suit?"

Sakura termenung cukup lama. "Baiklah tapi jika aku menang kau jangan ganggu aku selama satu minggu."

Ah, gadis ini mau main aman dengannya? Ck, ck, ck. "Ok,"

"Baiklah," Sakura bangkit berdiri, kobaran api jadi background-nya kali ini. Ia mengepalkan tinju di depan dada. "Aku pasti menang kali ini, cha!"

Lagi, Naruto tertawa.

"Suit! Kertas, gunting, batu!"

Dan semangat membara Sakura berpindah ke Naruto yang kembali memenangkan taruhan.

Dengan lesu Sakura berjalan membimbing Naruto mengelilingi rumahnya.

'Aku mimpi apa hari ini sial sekali!' jerit Sakura dalam hati.

Sasuke mengembuskan napas lega, akhirnya mereka pergi juga. "Hina—hah?" alisnya menyatu mendapati Hinata duduk manis di sofa menyesapi secangkir teh. "Kau ngapain?"

Hinata balas memandang polos. "Sasuke-kun bisa lihat sendiri kan aku sedang apa?"

"Maksudku kenapa kita tidak mulai memasak?"

"Oh, itu," Hinata mengerti. "aku dan Sakura-chan sudah membeli makanan sehabis dari rumah Ino-chan."

"Kau," Sasuke hendak mengajukan pertanyaan lagi tapi ia memutuskan tak usah saja. Toh, ini menguntungkan baginya karena tak perlu berkotor ria. Ia kembali duduk ke tempatnya tadi, lalu mengumpat dalam hati nengetahui pertandingan pertama telah usai. Sasuke mengunyah kue kering di meja agar hatinya tenang.

'Kan masih ada babak kedua.'

"Anu... apa menonton bola menyenangkan Sasuke-kun?" tanya Hinata canggung. Sebab untuk pertama kalinya mereka berduaan lagi setelah kejadian di hotel.

Sasuke, bagaimanapun menyatukan alisnya bingung Hinata masih setia duduk di sampingnya. Biasanya seorang gadis kan tidak suka bola, biasanya. "Hn," jawabnya sebelum kembali konsentrasi ke depan.

"Oh..."

Sasuke melirik sedikit melalui sudut matanya; di sampingnya Hinata menatap kosong ke depan. "Kiba itu kekasihmu?"

Hinata tanpa sadar mencengkeram roknya mendengar kata 'Kiba'. "Ng?" gumamnya setenang mungkin.

"Jangan begitu. Kau mengigau namanya saat tidur di hotel." Sasuke tersenyum tipis. Teringat saat memerhatikan Hinata yang tidur begitu lucu. Apalagi dia terus menggeliat tak tentu arah sambil memeluk guling. Sasuke tentu tak bisa menahan tawa kecilnya ketika memerhatikan itu.

"Oh," Hinata tertunduk dalam.

"Ada masalah?"

"Ti-tidak ada apa-apa kok,"

Sasuke menatapnya tak percaya. Mata lavendernya jelas-jelas bilang ada apa-apa soal pemuda bernama Kiba itu. "Dengar Hinata kau—" ia terhenti mendapati iris di seberangnya menitikan air mata. "menangis?"

"Eh?" Hinata ikutan kaget, menyentuh pipinya sendiri. "Ti-tidak Sasuke-kun, aku ti-tidak menangis." ia mengusap-usap cairan bening tersebut berharap agar berhenti namun semakin dihapus justru sebaliknya semakin banyak air matanya mengalir. "Jangan... a-aku tidak boleh menangis," ujarnya menyemangati dirinya. Merasa kalah oleh perasaannya Hinata menutupi wajahnya memakai jemarinya.

"..."

"Hiks..."

"Kau boleh meminjam bahuku."

"Eh?" Hinata menghapus bulir air matanya lalu memasang senyumnya. "Aku tidak apa-apa kok Sasuke-kun. Lihat a-aku tersenyum kan?"

Senyum palsu, begitulah kesimpulan Sasuke.

"Lagi pula Sakura-chan bilang menangis memperlihatkan kami le-lemah."

Sasuke kesal sekarang. "Dia bilang begitu?"

Hinata mengangguk. "Aku tidak mengerti kenapa kakakmu mengatakan hal bodoh begitu." ujar Sasuke dingin.

Hinata bangkit berdiri, kini wajahnya berganti sebal. Hal yang paling tak disukainya bila ada seseorang yang menghina kakaknya. "A-aku tidak suka pembicaraan ini Sasuke-san..."

San? Dia marah rupanya.

Sasuke ikut berdiri. "Maaf, aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu," bisiknya tepat di telinganya. "maksudku, kenapa tidak? Aku tidak akan menilaimu lemah Hinata."

Sapuan lembut di bahu Hinata membuat kakinya seketika lemas. Namun ia tak mendorong atau pun menampar Sasuke yang kini dagunya bersandar di bahunya. "Atau kau ingin aku menghajar pemuda bernama Kiba itu?" tanyanya pelan. "Hinata..."

Pipi Hinata muncul semburat merah. Setiap kali Sasuke mengucapkan namanya begitu pelan dan seksi di telinganya, membuat dadanya berdebar-debar. Oh, tuhan. Apa yang terjadi padanya? Pertahanannya luntur hanya oleh bisikan seksi seorang Uchiha muda? Padahal karena Sasuke lah ia bertengkar dengan Kiba.

Kiba, pemuda yang dicintainya lenyap begitu saja. Hinata berbalik, diam sebentar memandang dada Sasuke yang terlihat sebab pemuda itu sengaja melepas dua kancing kemeja birunya. "Da-dadamu..."

"Hn?"

Hinata menutup matanya sambil berseru. "Bo-boleh aku meminjamnya?"

"Hmpft." Sasuke menutup bibirnya. Lucu sekali melihat wajah Hinata yang polos itu. Belum pernah dalam hidupnya ada gadis yang meminta izin darinya untuk dipeluk. Biasanya mereka langsung menyerangnya tanpa basa-basi. Mungkin pengalaman gadis itu masih dangkal dibanding dirinya.

Barusan Hinata mendengar suara tawa tertahan Sasuke merutuk kebodohannya sudah mengatakan hal tersebut.

"Boleh Hinata, untukmu selalu free." ujar Sasuke.

"..."

Namun meskipun sudah diberi persetujuan gadis itu tak kunjung memeluknya malah tetap berdiri penuh rona merah di pipinya. Sasuke menghela napas, gadis satu ini benar-benar polos. Dengan gerakan cepat Sasuke memeluk Hinata, menyandarkan kepala gadis itu di dada bidangnya. "Menangislah.

Hinata tidak bisa. Sungguh tidak bisa, apalagi dengan detak jantung yang berdebar-debar berdentum di telinganya. Entah yang ditangkapnya suara jantung siapa. Sasuke atau dirinya sendiri... namun Hinata menyukainya...

"Apa yang kau lakukan pada Hinata?"

Flashback Off

"Jadi sekarang kau jatuh cinta sama Sasuke-sensei?" Tenten menyeringai mendapati rona merah menghiasi pipi Hinata.

"Ti-tidak," bantahnya pelan.

"Tapi Hinata-chan dari apa yang semua aku dengar tak ada Kiba, malah bagiku itu acara mesraan pertama kalian."

"Te-tenten-chan," Hinata memegangi pipinya yang memerah. Benarkah ia jatuh cinta pada Sasuke? Pertanyaan itu muncul di otaknya. Kemudian beralih menatap Sasuke yang masih setia memerhatikan Kiba dengan wajah sadisnya.

'Tidak,' Apa yang akan dibilang Sakura nanti bila tahu hal ini? Kakaknya pasti akan sedih. Lagi-lagi mereka tak sejalan. Hinata tidak bisa, tidak bisa mencintai Sasuke. Hinata hanya perlu menyingkirkan perasaan anehnya ini.

.

#

.

"Sakura-chan kenapa murung terus? Kau beneran sakit ya?" tanya Naruto cemas. Pura-pura tidak peka oleh serangan pandangan membunuh dari gadis itu. "Sakura-chan..." panggilnya.

'Jangan pedulikan Sakura,' inner-nya berbisik.

"Sakura-chan..."

'Nanti dia juga bosan sendiri.'

Pemikiran Sakura salah malah membuat Naruto pantang menyerah, dan mengambil inisiatif nakal. "Sakura-chan... fyuuh," bisiknya tepat di telinga Sakura sekaligus memberi kesan menggelitik dengan napasnya.

Cukup! "Apa yang kau lakukan baka?" jerit Sakura mundur memegangi telinganya yang menjadi korban 'kenakalan' Naruto. Benar-benar si Naruto ini sukses membuatnya merona. Padahal istirahat kali ini ia sengaja datang ke ruang kesehatan agar menghindar dari Naruto tapi ternyata dia mencarinya. Dan Sakura merutuk kesal pada Ino yang memberitahu tempat persembunyiannya.

Naruto nyengir akhirnya mendapat perhatian Sakura. "Kau kenapa murung terus sejak tadi? Kau sakit ya?"

"Bisakah kau diam? "

Tangan Naruto membentuk huruf x yang berarti no.

'Uchiha satu ini benar-benar...'

Sakura hendak melayangkan tinjunya namun terpotong suara Sasuke.

"Di sini kalian rupanya."

Naruto dan Sakura menoleh. Dilihat Sasuke berjalan santai ke arah mereka dengan Hinata mengekor di belakangnya.

Mata shappire Naruto memicing tak suka. "Ngapain kau ke sini? Mengganggu kencanku dan Sakura-chan saja."

"Kita tidak kencan baka! Dan takkan pernah, huh!" bantah Sakura keras melipat tangannya di depan dada seraya membuang mukanya.

Sementara Naruto tertunduk suram. "Sakura-chan jahat..."

Sasuke sedikit terhibur melihat kakaknya menderita begitu sebelum teringat oleh sesuatu. "Kakek Jiraiya bilang kapan kalian melihat gedung pernikahannya?"

"Hah?"

"Tadi dia menelepon begitu."

"Aku dan Sasuke-kun hari minggu melihatnya." ujar Hinata kalem.

Oh. Sakura mulai berpikir. Bukankah kakeknya yang bakal mengatur semuanya setelah kesalahan undangan sialan itu? Ah, Sakura teringat sesuatu yang membuatnya menepuk keningnya pelan.

'Kan aku sudah memberinya tiket pemandian air panas,'

Tentu saja kakeknya itu pasti langsung ngacir ke sana buat ngintipin gadis-gadis berendam di onsen. Ditambah dapat video hot dari Naruto semakin betah di sana. Sungguh surga bagi Jiraiya tapi neraka bagi Sakura.

"Ng?" lamunan Sakura buyar ketika tangannya digenggam oleh Naruto.

Pemuda itu nyengir. "Kita sekarang saja yuk?"

Sakura menautkan alis. Sekarang kan lagi istirahat, mana boleh keluar.

"Sakura? Hinata?"

"Eh?" kedua gadis itu menoleh mendengar nama mereka dipanggil—dan membulat tak percaya apa yang mereka lihat: dua orang gadis berambut pirang dan merah berdiri membatu di pintu ruang kesehatan.

"Karin? Shion?"

Sedang apa mereka di sini? Tidak tepatnya di konoha. Semenjak Sakura dan Hinata memutuskan untuk ke konoha mencari ilmu, mereka sudah tidak bertemu dengan teman sepermainannya itu. Dan lagi ketemunya di sekolah. Ada apa ini?

"A-aku rindu kau..." ucap Karin dan Shion bersamaan berlari menuju Sakura dan Hinata.

Oh, terjawab sudah kenapa mereka ada di sini. Tapi kenapa sekolah? Tidak di rumah saja?

Sakura tersenyum saja lah sambil melebarkan tangannya. "Aku juga kangen kali—"

"Aku rindu kau Sasuke!"

"Aku kangen kau Naruto-kun!"

Ya, rindu dan kangen Sasuke dan Naruto-ku—eh?

Sakura membuka matanya dan terbelalak melihat calon suaminya dipeluk erat oleh Shion, dan parahnya membenamkan kepala Naruto di buah dadanya.

Hinata sendiri juga sama terkejutnya Sasuke dipeluk oleh Karin membuatnya sedikit sedih melihatnya.

"Ti-dak bisa ber-napas." ucap Naruto sesak.

Shion melepas pelukannya. "Maaf hehe..."

Naruto menggerutu tak jelas. Gadis itu sama sekali tidak berubah dari dulu. "Apa yang kalian lakukan di sini?" tanyanya.

Karin dan Shion saling bertukar pandang.

"Tentu saja pindah ke sini!" jawab Shion riang kembali menenggelamkan Naruto di buah dadanya tanpa peduli sepasang mata emerald menatap penuh membunuh padanya.

"Apa yang sedang terjadi di sini sih?"

...

Bersambung...

...

Oke, rasa sakit hati saya sedikit hilang setelah baca beberapa fic fluff NaruSaku. Sense nulis saya perlahan juga mulai stabil

Di chap depan Hinata bakal marah karna Sasuke. Of course soal perhatiannya

Buat yang nagih fic ini. Jangan tagih lagi ya? Saya kan udah aktif lagi jadi author. Tapi saya seneng loh kalian PM saya bahkan beberapa kali. Itu tandanya fic ini begitu dirindukan#nangisbombay

Tercapai juga saya buat fic dimana NaruSasu playboy :) Sasu udah cukup devil belom ya?*smirk* klo Naru sih kayaknya udah deh

Buat yang nagih Mysterious Girl, saya sedang tahap pengerjaan nih. Sabar ya.

Ciao! :) Riview minna? :3