.

.

.

FALL FOR DANCE

Story : Bbusan

Main Cast : Kim Jongin and Wu Yifan

Rate : T

.

.

.

.

CHAPTER 2

Keheningan turun selama beberapa detik. Keheningan berat yang ditimbulkan oleh kedua laki-laki yang saling berhadapan namun sama sekali tak melirik satu sama lain itu hanya ada suara dentingan sendok dan garpu. Mereka memakan soup rumput laut dengan sangat tenang. Sebelumnya, Jongin memilih untuk sedikit memaksakan dirinya memasak soup rumput laut instan daripada bubur yang dibawa Jonmyeon semalam. Lidahnya masih belum bisa menerima makanan lembut itu sejak beberapa tahun lalu. Selama Jongin memasak, Yifan hanya membaca koran di meja makan, menunggu makanan datang. Bukankah memasak adalah tugas istri? Jadi, Yifan tak harus ikut campur di dapur, bukan? Dapat dipastikan jika Yifan tak pernah membaca Outlander karya Diana Gabaldon atau sejenisnya untuk bersikap lebih baik pada istrinya.

"Meskipun kau sedang sibuk dengan persiapan pertunjukan dancemu, kau harus memperhatikan pola makanmu, Jongin-ssi." Kata Yifan kalem. "Lihatlah tulang pipimu semakin menonjol. Lingkaran bawah matamu semakin terlihat jelas dan tubuhmu semakin ringan." Jongin memperhatikan Yifan sejenak, "Ehn.. Maksudku, aku mengetahuinya ketika memindahkanmu ke kamar." Jongin mengangguk, kemudian menyendok soup rumput lautnya dengan pelan.

"Hari ini, Chen ingin menemuimu di gedung untuk bersama melakukan pelunasan sewa gedung dan membayar dekorasi. Untuk publikasi, apakah kau sudah tau jika pertunjukanmu mengalami kenaikan pembelian tiket yang signifikan?"

"Ne. Jeongmal gomawo, Yifan-ssi. Entahlah, seandainya kau menolak pengajuan sponsor waktu itu, mungkin pertunjukan ini akan berhenti dan diundur. Khamsahamida" Yifan tersenyum kemudian mengangguk.

"Jadi, jam berapa kau akan ke gedung? Aku akan memberitahu Chen."

"Hn… Mungkin siang ini setelah lunch? Sebelumnya, aku harus ke studio karena semalam tak kesana."

"Baiklah. Kalau begitu, jangan lupa minum obatmu. Semalam Jonmyeon sudah menyiapkannya di atas nakas meja kamar." Yifan beranjak setelah memunguti beberapa peralatan makan dan membawanya ke dapur. "Aku akan ke kantor sekarang." Kemudian laki-laki berambut hitam itu berjalan menuju kamarnya.

'Ya Tuhan, Jonmyeon lagi? Apa aku benar-benar harus melepaskannya?' Jongin mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Soup rumput laut jatahnya itu masih setengah mangkuk, namun ia sudah merasa kenyang.

.

.

Dua hari sebelum pertunjukkan, Jongin mengistirahatkan pikiran juga badannya sejenak di coffee shop dekat perusahaan Yifan. Ia baru saja menemui Chen untuk melaporkan sejauh mana perkembangannya. Chen adalah assistant pribadi Yifan, ia yang mengurus semua keperluan yang sudah tertera di lampiran sponsorship yang telah mereka sepakati. Tentunya karena mereka adalah sponsor utamanya. Ia duduk memandang lurus perkantoran yang ada didepannya. Mengamati bagaimana orang-orang diluar sana berjalan dengan cepat, mempunyai tujuan masing-masing, karena ini adalah kawasan perkantoran. Jarang ada anak muda yang sekedar bercengkrama di jalan seperti didaerah Myeongdong, Garo-sugil atau Gangnam-gu.

Ia menarik nafas dalam-dalam kemudian membuangnya. Memperhatikan uap yang keluar dari cup putih caffe Americano-nya tanpa berniat untuk menyeruput minuman tersebut.

"Jongin-ah?" seseorang menyapa indera pendengarannya. Jopngin tersentak kemudian memalingkan wajahnya pada orang yang baru saja menyapanya. Yixing tersenyum menampakkan lesung pipi juga giginya yang putih. "Aku tidak tau kau ada disini. Jadi, bolehkah kami bergabung denganmu?"

"Kami?" Jongin mengernyit.

"Jonmyeon dan Yifan." Ujar Yixing.

"Oh…" Jongin menganggukan kepala kecil berkali-kali, "Silahkan.."

Yixing melambaikan tangannya ketika melihat Jonmyeon yang membawa nampan berisi beberapa menu dessert yang sedang kebingungan mencarinya.

"Disini!" Yixing seperti anak kecil yang polos, pikir Jongin. Ia terlihat selalu bahagia.

Jonmyeon sedikit terkejut mendapati adiknya duduk bersebelahan dengan Yixing, "Kau juga disini, Jongin?"

Jongin mengangguk, "Tunggu, Yifan akan kesini, ia sedang memarkirkan mobilnya" Jonmyeon berucap seraya meletakkan nampan di meja dan duduk dihadapan Yixing. Tak berapa lama kemudian, Yifan sudah berdiri didepan meja tersebut dengan senyum hangatnya. Jongin jarang melihat senyuman ini, sungguh. Ia tersenyum pada Jonmyeon yang sedang menepuk kursi sebelahnya untuk Yifan duduki. Oh, untuk Jonmyeon rupanya.

"Kau tidak makan, Jongin-ssi?" Yifan hanya melihat satu cup berukuran grande berisi caffe americano didepan Jongin tanpa sandwich atau dessert beberapa croissant dan bagel seperti yang Jonmyeon pesan. Sudah beberapa hari ia jarang bertemu dengan Jongin. Laki-laki yang menyandang status sebagai istrinya itu lebih memilih untuk tidur di studio dancenya. Yifan tak suka ketika ia pulang tak menemukan Jongin dan memasakkan sesuatu untuknya, perhatian Jongin terus tertuju pada pertunjukan itu daripada mengurusnya. Bukankah itu sudah menjadi kewajiban Jongin? Anggaplah jika Jongin sedang melalaikan kewajiban tersebut. "Anniyo. Aku sudah memakan ramen sebelum kesini." Jawab Jongin.

"Kau memakan ramen? Dimana?" Yixing bertanya dengan antusias.

"Di dekat studioku, waeyo?" Jongin belum terbiasa dengan orang baru rupanya. Nadanya masih terdengar dingin.

"Antarkan aku kesana! Aku ingin mencoba ramen di Seoul akhir-akhir ini."

"Tapi mungkin anda tak menyukai tempatnya. Bukan restoran, tapi kedai kecil, Yixing-ssi"

"Ya! Kau ini jangan berbicara formal pada Yixing. Telingaku sakit mendengarnya. Dia ini sahabat kami." Jonmyeon berkata dengan menepuk pelan kepala Jongin.

"Baiklah." Yifan terkekeh melihat Jongin yang meringis kesakitan juga Yixing yang terus memukul kepala Jonmyeon karena ia tak suka Jonmyeon memukul Jongin seenaknya.

Drrrttt… drrrtttt… Jongin segera merogoh ponsel di saku jacketnya, ia terdiam beberapa saat sebelum ia menjawab, ia meminta ijin tiga laki-laki yang sedang duduk dengannya untuk mengangkat telponnya. Jongin berdiri sedikit membungkuk, menaik dirinya sebelum berbalik dan berjalan keluar dari ruangan tersebut. Yifan bisa melihat bagaimana ekspresi diwajah Jongin, matanya sedikit melotot dan rahangnya mengeras. Seperti menahan sesuatu. Tak berapa lama kemudian, Jongin memutuskan panggilan, kini ia menempelkan kembali ponsel di daun telinganya kemudian berbicara kembali untuk sambungan yang kedua kalinya.

Lima belas menit kemudian, Jongin kembali masuk kedalam ruangan dengan wajah datarnya.
Yifan jadi penasaran, siapa penelpon tersebut?

"Jongin, setelah ini kita akan ke perusahaan Yifan, apa kau ingin ikut?" Tanya Yixing ketika Jongin kembali duduk di kursinya. Jongin menggeleng cepat, "Tidak, aku akan menyiapkan beberapa hal untuk pertunjukan lusa." Kemudian tangannya merogoh dalam kantong luar tas coklat nya dan mengeluarkan beberapa kertas tebal.

"Ini, undangan untuk kalian. Aku harap kalian akan hadir" Laki-laki berkulit tan itu menyerahkan tiga buah undangan bertuliskan nama mereka masing-masing diatas undangan berarti putih itu.

"Aku pasti akan datang Jongin-ah" Yixing menjawab dengan pancaran wajah yang bersinar. Jonmyeon menganggukkan jawaban Yixing. Tentu saja ia akan hadir bersama kedua orang tuanya di pertunjukan tersebut. Entahlah dengan Yifan yang masih enggan mengeluarkan suaranya. Satu tahun belakangan, sudah 3 kali Jongin mengadakan pertunjukan setiap 3 bulan sekali, namun Yifan tak pernah hadir karena sibuk…. Mungkin? Atau bisakan Jongin berandai-andai jika Yifan diam-diam menontonnya dari kursi penonton yang paling atas? Entahlah… hanya Yifan yang tau kenapa ia tak hadir. Beberapa saat setelah Jongin menyesap caffe Americano-nya, dia beranjak dari tempatnya dan mencangklongkan tas backpacknya lalu membungkuk.

"Aku pergi dulu, hyung."

.

.

Jonmyeon berdiri di dekat jendela, membayangkan beberapa isi kepalanya. Ia berada di ruangan Yifan sekarang dengan Yixing yang sedang merebahkan dirinya di sofa.

"Aku pikir mereka tidak semakin membaik, Yixing-ah." Jonmyeon menjadi gelisah, mempersatukan Yifan dan Jongin tak semudah yang ia pikirkan. Yixing beranjak dari tempatnya kemudian berjalan mendekati Jonmyeon. Tangan yang lebih putih dari Jonmyeon itu menelusup diantara badan dan kedua tangan Jonmyeon. Ia mengeratkan pelukannya dan menyandarkan dagunya pada bahu Jonmyeon. Mereka sama-sama melihat pemandangan gedung-gedung tinggi yang menjulang dari balik kaca tersebut.

"Aku juga berpikiran seperti itu. Diam-diam Jongin mencari informasiku pada pegawaiku saat aku dan Yifan pergi dari coffee shopku. Aku selalu membuatnya cemburu dengan kedekatan kami, aku yang bodoh atau dia yang bodoh tak sama sekali tampak wajah cemburunya." Ucap Yixing sembari mengendus leher Jonmyeon, parfum vanilla tercium dari tubuh Jonmyeon. "Kau bilang, Jongin selalu melakukan laundry pakaian Yifan, tapi kenapa dia tak sadar? Padahal diam-diam aku sudah memberi Yifan parfumku tanpa sepengetahuannya. Sungguh menyebalkan"

Jonmyeon mengeratkan genggaman tangannya pada Yixing kemudian berbalik menghadap laki-laki bermarga Zhang yang sedang menampakkan bibir cemberutnya. Jonmyeon mencium bibir itu sekilas.

"Kau sudah melakukan yang terbaik, Yixing. Aku pikir membiarkan mereka dengan perasaan bodoh mereka akan terlihat lebih menantang, bukan?" ia mendekap erat tubuh Yixing dan mendorongnya perlahan kediding terdekatnya. Ciuman percaya diri seorang lelaki yang telah mendapat cinta orang yang bertahun-tahun dicintainya itu ternyata jauh lebih hati-hati dan lembut. Yixing yang menikmati ciuman Jonmyeon, mengalungkan kedua tangannya ke leher Jonmyeon dan mendorong kepala Jonmyeon agar lebih memperdalam ciumannya. Sinar mata Jonmyeon yang terlihat sangat mendambakan Yixing dan ingin segera memilikinya seolah tak terelak yixing yang polos pun menyadarinya. Mereka sama-sama mempunyai perasaan yang berbalas dan besar.

"Aku akan segera menikahimu setelah kakakmu menikah, Yixing-ah. Aku janji"

Sebelum Yixing sempat berbicara sepatah katapun, ciuman Jonmyeon berubah menjadi lumatan-lumatan kecil. Sentuhan Jonmyeon terasa didadanya yang datar. Sentuhan kecil itu menjadi seperti remasan. Pengan perlahan, Jonmyeon mengecupi leher Yixing dengan berkali-kali. Ia tak ingin meninggalkan bekas merah di leher Yixing. Suhu tubuhnya yang terasa diseluruh tubuh mereka membuat kulit keduanya seolah bersemu merah. Jonmyeon tidak menghentikan gerakan bibir dan tangannya sampai Yixing rasanya tak bisa menahan erangannya.

"Ernnnn…" erangan kecil dari bibir Yixing yang mulai membengkak itu keluar. Ia menyukai setiap sentuhan Jonmyeon. Kecupan Jonmyeon berhenti pada kening Yixing. Sebelah tangannya mencoba menelusup di balik celana jeans Yixing.

"Aku akan melakukannya cepat. Sebelum Yifan kembali" dengan kecupan sekilas, lutut Jonmyeon menyentuh lantai dan mencoba membuka sabuk Yixing.

"Ya benar, lakukan dengan cepat sebelum aku kembali" suara dingin itu menginterupsi kegiatan mereka. Yixing dengan wajah memerahnya juga Jonmyeon yang terkejut segera menoleh kearah suara. Mereka menemukan Yifan yang sedang duduk santai di sofa sambil meminum sekaleng colanya dengan tenang.

"Cepat lakukan. Sebelum aku kembali!" suara itu meninggi membuat Yixing dan Jonmyeon bergidik ngeri mendengarnya. Dengan gerakan cepat, mereka berdua merapikan pakaian mereka yang ternyata sudah sedikit berantakan.

"Untung tak ada sperma yang menetes. Jika ada, kalian harus membayar mahal karpet di ruangan ini." Yifan tetap sarkastik.

"Maaf, kau tau kan? Terkadang nafsu itu tak bisa dikontrol." Jonmyeon membela diri kemudian melompat duduk disebelah Yifan. Yifan segera meyodorkan sapu tangannya diwajah Jonmyeon, "Menjijikkan. Bersihkan salivamu itu dulu baru berbicara denganku." Yxing masih tak percaya apa yang baru saja ia alami. Mereka tak pernah kepergok sedang melakukan sesuatu yang intim. Bahkan jika berjalan di kawasan Seoul yang penuh anak muda berkumpul, tak sedikit yang melakukan hubungan intim yang ringan bahkan ditengah ribuan orang sekalipun. Mereka sangat biasa mengumbar kemesraan. Tetapi sepertinya ketahuan oleh seorang Wu adalah hal yang sangat memalukan.

"Maaf, Yifan. Kami tak akan mengulanginya lagi" Yixing mendekat kearah Yifan dengan hati-hati.

"Lagi pula kita tidak tau kau kapan masuk" sanggah Jonmyeon dengan wajah kesalnya.

"Kau tidak sadar ada orang membuka pintu saat melumat bibir Yixing, Jonmyeon." Ia mengeluarkan ejekannya. Kemudian beranjak dari duduknya, dan melangkah keluar, "Pastikan kalian tak akan melakukan hal yang berlebihan selama aku meeting. Aku tau, kejantanan kalian pasti sedang menahan sesuatu sekarang"

"YAAAAH! Bahkan aku pernah mencium bau spermamu dengan Jongin beberapa hari lalu, Yifan! Jangan mengejek kami!" Yixing benar-benar merona sedangkan Jonmyeon sedang berteriak ketika pintu itu tertutup kencang oleh Yifan. Jonmyeon segera menggandeng tangan Yixing kemudian bangkit,

"Mau kemana?"

"Kau tidak merasakan sesuatu yang mengganjal? Ayo ke rumahku. Orang tuaku sedang ke Jepang untuk beberapa minggu."

Dan Yixing benar-benar merona menahan malu, ia benar-benar ingin menenggelamkan wajahnya didasar muka bumi untuk saat ini.

.

.

Setelah meeting usai, Yifan tak menemukan sepasang kekasih itu di ruangannya. Ia bergegas untuk melajukan Ferrari F430 merahnya menuju kesuatu tempat. Sebelumnya, ia membeli beberapa box berisi paket makanan cepat saji dan memasukkannya kedalam bagasinya.

Bangunan yang tertimpa graffiti itu kelihatan tenang. Bangunan tersebut menjorok ke dalam, tidak luas tapi menarik karena desainnya yang apik. Beberapa sepeda, juga motor terlihat terparkir didepannya, salah satunya motor MV Agusta F4CC milik Jongin . Tidak ada kegiatan signifikan dari penghungi bangunan tersebuh. Hanya ada beberapa orang yang terlihat melintasi jalan disekitarnya. Maklum, ini adalah daerah sepi di salah satu gang di Sinchon. Walaupun tiga universtitas berada tak jauh dari gang ini. ia melepas seat beltnya kemudian mencabut kunci mobilnya. Ia keluar dari mobil merahnya kemudian mengambil beberapa kardus berisi box makanan. Dengan lihainya, ia menutup bagasi dengan satu tangannya kemudian mengunci mobil tersebut dengan tombol merah pada kunci tersebut.

Jongin sedang menari ballet dengan beberapa orang ditengah ruangan. Sedangkan beberapa orang lainnya sedang memutari mereka dan duduk ditepian cermin besar yang mengitari ruangan tersebut. Yifan hanya bisa melihat mereka dari balik pintu yang memiliki kotak kaca berukuran kecil. Ia melihat Jongin yang tertawa lebar ketika ia selesai melakukan gerakan terakhirnya. Yifan tertegun melihat ekspresi Jongin yang belum pernah ia lihat langsung. Terkadang, ia bersyukur mempunyai pendamping hidup yang tampak sempurna seperti Jongin. Jongin berbeda. Walau keluarganya masuk dalam jajaran konglomerat, ia jarang menyobongkan dirinya dengan statusnya. Bahkan Jongin selalu menolak jika diberi uang belanja bulanan untuk memenuhi kebutuhan pribadinya. Jongin akan menggunakan uang itu untuk berbelanja keperluan bulanan dan mengisi lemari pendingin mereka. Jongin bukan tipe orang yang akan memohon untuk meminta sesuatu yang bernilai materi. Maka dari itu, Yifan agak terkejut ketika Jongin mengantar surat sponsor pada dirinya secara langsung tetapi ia tau, mengapa Jongin melakukan itu karena Jongin sudah tak punya pegangan lagi. Dalam buku rekening yang tak sengaja ia lihat di laci meja mereka, Jongin hanya memiliki 1000.000 won. Sungguh memilukan, mengingat siapa Jongin sebenarnya.

"Apakah Ferrari merah yang menawan didepan itu milikmu, Bung?" seseorang mengagetkan dengan suara besarnya. Yifan menoleh dan mendapati laki-laki berkacamata sedang tersenyum padanya. "Oh… Apakah kau Wu Yifan? Suami Jongin?"

Yifan mengerutkan keningnya kemudian memasang wajah bertanyanya,

"Oh maaf… Itu rahasia ya? Aku baru ingat! Hahahaha! Jongin memberitahuku dan Sehun agar tidak memberitahu siapa-siapa kalau namanya sudah menjadi Wu Jongin." Yifan semakin risih dengan perkataan laki-laki didepannya. Dapat dipastikan bahwa ia bernama Chanyeol. Beberapa kali Jongin bercerita tentang laki-laki tersebut dan sahabatnya, Sehun. Entahlah, Yifan belum pernah bertemu sebelumnya. Mengunjungi studio dance Jongin saja baru 3 kali dan itu karena Jonmyeon menyuruhnya.

Jonmyeon lagi? Hidupmu memang tak bisa jauh darinya ya, Yifan?

Chanyeol menyadari keteridaman Yifan, ia segera merebut kardus besar dari tangan Yifan, "Kau pasti keberatan membawa ini sendiri. Kau mau masuk?" Yifan tetap diam dengan menunjukkan pandangan yang menusuk pada Chanyeol sehingga laki-laki berkacamata itu begidik ngeri. Dengan cepat ia membuka pintu dihadapan mereka dan mempersilahkan Yifan masuk. Yifan melangkahkan kakinya dengan angkuh, ia memasukki ruangan tersebut. Seluruh mata yang berada diruangan tersebut menoleh padanya dan merasakan charisma Yifan yang sangat tajam.

"Director Wu sudah datang. Ayo berterimakasih padanya, berkat dia, pertunjukan ini bisa berlanjut." Kata Chanyeol setelah menaruh kardus tersebut di tepi ruangan.

"Jadi, dia Director Wu?" bisik seseorang yang mengenakan celana training biru pada laki-laki disebelahnya, Zelo. Zelo mengangguk mendengar pertanyaan Daehyun.

Sehun bangkit dari tempatnya kemudian membungkuk pada Yifan, diikuti beberapa orang hingga seluruh ruangan tersebut membungkuk padanya, tak terkecuali Jongin yang sedang tertegun melihat Yifan sedang berdiri didepan pintu dengan pandangan tak biasanya.

"Terimakasih, Director Wu." Mereka berkata dengan serempak.

Jongin segera menghampiri Yifan dengan langkah beratnya, "Bisakah kita bicara diluar, sebentar?" tanyanya yang dijawab dengan anggukan Yifan.

"Yifan-ssi. Apakah box makanan itu untuk kami?" Tanya Chanyeol yang menghentikan langkah Yifan dan Jongin. Yifan mengangguk dan tersenyum kaku, "Ne. Itu untuk kalian."

"Ye! Kita tak perlu mengeluarkan uang lagi, malam ini" teriak Chanyeol dengan gembira disambut berapa sorakan dari orang-orang yang berada didalam ruangan. Jongin tersenyum lebar dengan lepas.

Yifan menyadari senyum Jongin, Ia kehilangan kata selama beberapa saat. Ia melihat secara dekat senyum Jongin yang merekah, tak ia sadari bibirnya ikut tersenyum.

.

.

Jongin membawa dua kaleng cola yang ia dapatkan di mesin minuman beberapa meter didepan studio dancenya, kemudian memberikan salah satunya pada Yifan yang sedang duduk diatas jok motornya yang terparkir didepan studio tersebut. Yifan menerima kaleng tersenyum kemudian membuka dan menegaknya. Jongin tersenyum kecil melihat itu. Entah mengapa, lelah yang ia dapat, sedikit berkurang. Yifan terheran ketika Jongin membungkukkan badan sejenak dan berkata, "Terimakasih banyak, Yifan-ssi." Lalu ia membuka penutup kaleng tersebut dan menegaknya.

Yifan tidak mengatakan apapun. Ia hanya mengedipkan mata beberapa kali dengan tenang.

"Aku tebak, kau melakukannya atas permintaan Jonmyeon-hyung, bukan?"

Yifan hendak mengatakan sesuatu, namun kata-katanya tidak muncul. 'Jongin, kau salah. Bahkan aku sekarang tidak ingin mendengar nama Jonmyeon karena apa yang ia perbuat di ruanganku.' Ucap Yifan dalam hati.

"Aku sangat berterimakasih padamu, telah membantu banyak. Tapi… tidak bisakah sekali saja kau melakukan sesuatu tanpa Jonmyeon sebagai alasannya?" Lagi-lagi Yifan membisu saja. Jongin merasa dirinya sudah mengajukan pertanyaan yang amat bodoh. Ia mengangkat kaleng cola dinginnya dan meneguk isinya. Sungguh, ia ingin lenyap sekejap saja saat ini ketika melihat pandangan tajam Yifan dari kedua matanya. Yifan mengangguk tanpa kata. Kemudian, ia bangkit dari tempatnya dan menjatuhkan kaleng colanya. Seolah ia tak memberi pilihan apa-apa pada Jongin, ia menarik tubuh Jongin untuk mendekat kearahnya. Bibirnya mencium bibir Jongin dengan sedikit nafsu. Tangannya tak terkendali ketika merasakan lumatan kasar Yifan. ia menjatuhkan kaleng cola karena tangannya kini sudah tak bertenaga, lemas begitu saja. Napas mereka semakin cepat dan tangan Yifan pun semakin sibuk mendorong kepala dan meremas rambut Jongin dengan perlahan.

Lebih dalam. Lebih dekat.

Menyadari seolah Yifan menyampakan sesuatu melalui ciumannya tersebut, Jongin terisak. Ia tak membalas ciuman Yifan. Krystal transparan meluncur begitu saja dari sebelah matanya. Ia menangis dalam diam, membiarkan Yifan menyalurkan perasaannya malam itu. Di tengah musim panas yang akan berakhir beberapa minggu lagi.

Jongin menarik dirinya, dan Yifan melepaskan tubuh itu.

"Aku rasa, aku tau perasaanmu padaku, Yifan-ssi. Aku sudah memikirkannya dengan matang, aku ingin kita tidak bertemu dahulu sebelum yakin akan perasaan kita masing-masing. Terlebih kau, Yifan-ssi. Sepertinya, kali ini aku akan melepasmu. Kau tak sekalipun pernah melihatku, sepertinya." Jongin berkata dengan jujur kepada Yifan yang berada 40 centi meter didepannya. Yifan tertegun, baru kali ini Jongin mengatakan sesuatu yang membuatnya terkejut. Jongin tak pernah mengatakan sesuatu yang menyakitkan seperti ini sebelumnya. Jongin yang ia kenal adalah pribadi yang penurut dan tidak banyak menuntut. Ia tak pernah melihat Jongin mengeluarkan air mata kepedihannya karena dirinya.

Benarkah aku sudah melakukan sesuatu yang salah? Kenapa rasanya sedikit sakit disini? Apa ini karena Jonmyeon dan Yixing berciuman didepanku? Atau perkataan Jongin baru saja? Yifan memegang dada kirinya. Ketika Jongin berjalan mejauh darinya dan memasuki studio dancenya.

.

.

.

.

TO BE CONTINUED

A/N:

Saya berterimakasih kalian sudah membaca fanfiction ini dan terkejut tentang respon dari kalian yang belum pernah saya dapatkan dari beberapa fanfiction saya sebelumnya.

Fanfiction yang lain belum bisa update karena kendala ide..

Big Thanks to :

cho kyuly, chotaein816, laxyovrds, jongkwang, huang zi lien, ayumkim, kamong jjong, mizukami sakura-chan, pikaachuu, zeekai, reeeee, moetrinie, jongin48, boobearsarang

Terimakasih yang sudah membaca, review, follow dan favorite.