.

.

.

FALL FOR DANCE

Story : Bbusan

Main Cast : Kim Jongin and Wu Yifan

Rate : T

.

.

.

.

CHAPTER 3

Begitu Yixing keluar dari kamar, lelaki itu langsung bertanya pada Jonmyeon yang sedang mengambil air putih dingin dari dalam lemari pendingin.

"Jonmyeon.. kau sudah memberitahu orang tua kalian kalau besok adalah malam pertunjukan dance Jongin?" Jonmyeon mengangguk ketika menegak isi dari gelas kaca tersebut dengan cepat.

"Mereka sedang mengurus perusahaan di Osaka yang sedang mengalami masalah, dan tak mungkin kembali ke Korea jika masalah perusahaan belum selesai." Yixing mengangguk pelan. Memahami situasi yang sering ia alami. Orang tua kekasihnya itu tak bisa terpisah sebentar saja. Kim Yoonah akan mengikuti kemanapun Kim Sungsoo pergi.

"Xiumin akan menikah 1 bulan lagi dengan kekasihnya" Yixing berkata dengan yakin sambil menatap Jonmyeon yang terbengong kaku seperti orang bodoh. Pandangannya terarah pada mata Jonmyeon yang membulat sempurna.

"Apa benar…?"

"Iya, benar." Yixing menjawab pertanyaan Jonmyeon yang tidak tuntas itu dengan sabar.

"Kenapa kau baru memberitahuku?" Yixing terkekeh melihat perubahan ekspresi enggan memberitahu Jonmyeon jauh hari karena Jonmyeon pasti mengira Yixing mendesak memperjelas hubungan mereka setelah mengatakan hal tersebut.

"Xiumin menghamili Soohe. Yah begitulah… Keluargaku takut jika itu akan menyebar. Mereka sepakat melaksanakan pernikahan itu." kata Yixing.

"Konyol sekali. Aku pikir Xiumin anak yang baik-baik." Balas Jonmyeon.

Yixing mengangguk, "Manusia itu tak mudah ditebak, bukan?"

"Apa itu alasannya kau kesini dan meninggalkan mama yang sedang sakit?" tutur Jonmyeon

"Salah satunya itu, tapi aku ingin menemui orang tua mu dan melihat Jongin. Terakhir melihatnya ketika pemberkatan di gereja, dan benar saja, anak itu melupakanku. Lagi pula Xiumin dan Soohe sedang berada di rumah menjaga mama." Mama dan papa Yixing memang tinggal terpisah. Mama Yixing berada di Changsa di Provinsi Hunan, sedangkan papa Yixing tinggal dengan keluarga barunya di Beijing. Mereka sudah bercerai saat Yixing menginjak umur 12 tahun, namun hubungan kedua orang tuanya memang baik. Setelah mengetahui mantan istrinya lumpuh, papa Yixing mulai mengajak Xiumin dan Yixing belajar bagaimana menjalankan beberapa perusahaan yang lambat laun akan menjadi milik mereka. Beruntung, istri baru papa nya tak mempermasalahkan itu, bahkan mama dan istri baru papa nya sering menghabiskan waktu bersama.

"Anak itu memang sedikit pelupa."

"Dia memang berbeda denganmu, Jonmyeon. Apa kau sudah memberitahu siapa dia sebenarnya?" Jonmyeon mengerutkan dahi, tersinggung dengan apa yang dikatakan Yixing mengenai Jongin.

"Aku tak akan pernah memberitahunya. Sampai kapanpun." Katanya Jonmyeon dengan lugas.

"Tapi kau tidak khawatir jika ia mengetahui semua dari orang lain?"

"Yifan tak akan memberitahunya. Lagi pula aku yakin ia tak berani memberitahu Jongin."

"Yah.. Kedua orang itu membuatku pusing. Bagaimana Yifan tak menyadari jika orang yang di cintai selama ini adalah adikmu." Yixing sedikit kesal, "Aku ingin memukul wajahnya jika dia berdekatan denganmu. Tersenyum menjijikkan, bertingkah aneh."

"Kau sedang cemburu, Yixing." Kata Jonmyeon lantas terkikik-kikik.

"Maka dari itu aku selalu mengganggunya waktu jam makan siang, aku takut jika tiba-tiba ia akan mendatangi kantormu dan merayu untuk makan di luar."

Jonmyeon mendaratkan ciuman di kening Yixing. Yixing memang baru beberapa minggu menginjakkan kakinya di Korea kembali setelah dua tahun belakangan berada di Changsa, mengurus mama nya yang lumpuh. Selama itu juga,Jonmyeon sering mengunjungi kekasihnya di Changsa atau bertemu dengan keluarga baru papa Yixing yang berada di Beijing disela kesibukakannya mengurus perusahaan appanya. Bagaimanapun, ia harus menjadi calon menantu yang baik walau keluarga calon istrinya tak lagi satu.

.

.

Setelah pertemuannya dengan Wu Yifan, Jongin menjadi tidak yakin tentang dua hal. Pertama, Yifan dan Jonmyeon akan menjadi masalah besar di minggu-minggu mendatang. Dan yang kedua, saat ini, ia harus memikirkan hidupnya kedepan untuk tidak terlalu 'bergantung' pada Yifan.

Jongin mendapat firasat yang tak enak tentang masalahnya kini. Meskipun bukan perkataan yang berat, pilihan yang ia katakan pada Yifan tadi membuat dirinya sulit. Sikapnya pada diri sendiri ini tidak adil. Tak semua orang dapat terlepas dari kehidupan 'orang lain' secara mudah dan memilih untuk mencari kebahagiannya sendiri. Tak semua orang memilikinya, dan ia bersyukur walau ia mempunyai hak atas itu.

Jongin melakukan rutinitasnya ketika tengah malam telah lewat untuk memeriksa studionya, memastikan bahwa tak ada kelompoknya yang berada di dalam ruangan tersebut. Ia segera menyuruh kembali ke rumah untuk istirahat dan mempersiapkan untuk pertunjukan esok malam ketika ia bertemu GiKwang salah seorang dari kelompoknya yang masih berusaha untuk mengulang gerakannya di salah satu ruangan di studio miliknya.

Setelah memastikan jika semuanya sudah tak berada dibeberapa titik di studionya lagi, ia melangkahkan kaki ke dalam ruangan yang pintunya tertempel beberapa sticker urban dan membuka pintu dengan perlahan kemudian menutupnya. Ruangan favoritnya. Cat krem itu menyala ketika Jongin menyalakan sakelar utama yang berada di dekat pintu. Menghidupkan beberapa sorot lampu yang terpasang empat baris di langit-langit. Ia berjalan ke depan ruangan dan menghidupkan sebuah tape kecil berwarna metallic yang terhubung ke speaker yang berada di setiap sudut ruangan.

Jongin mengambil yogurt pisang dari mesin pendingin kecil yang berada di sudut ruang dance tersebut dan memutuskan menjadikannya makan malam yang disantapnya sambil mendengarkan alunan music dari speaker yang sedang memutar detik ke 00.45 dari lagu Fade, milik Heinali. Jongin menjatuhkan diri ke salah satu kursi kayu yang berada di sisi kanan ruangan dan menenggelamkan dirinya pada lantunan instrumental tersebut, ia memiliki dunianya sendiri ketika mendengar lagu tersebut. Ia teringat ketika hidupnya bergantung pada Theatre yang melejitkan namanya pada pemeran pendukung yang dieluhkan beberapa penonton setelah mereka melihat performance Jongin secara langsung. Mereka bilang, mereka dapat menerima pesan dari gerakan tari Jongin yang melakukan classic ballet yang ia tunjukkan ketika setiap jumat dan minggu malam. Ia benar-benar senang waktu itu, artinya ia dapat menyampaikan sesuatu lewat tariannya.

Beberapa saat kemudian, ketika jarum jam menunjukkan angka 1 lebih 10 menit dan yogurt itu telah habis, ia beranjak dari kursi tersebut kemudian berjalan ketengah ruangan. ia sedikit merapikan rambut hitamnya kemudian melakukan stretching selama beberapa menit. Ia melihat pantulan dari dirinya pada cermin didepannya, menampakkan air wajah yang sama, ia sedang tak bisa berekspresi secara berlebihan seperti ketika ia berada di atas panggung, masih memikirkan Yifan, rupanya. Kemudian ia menggerakan tubuhnya saat mendengar music berganti Christmas Day milik EXO yang kini memutar memenuhi udara di ruangan. Ia tak mempersalahkan berapa kali ia melakukan gerakan tersebut, ia akan tetap berlatih untuk lagu yang akan dibawakan untuk pertunjukan malam ini. Mengulangi setiap gerakan tari tersebut untuk mempertajam setiap detail agar sempurna satu demi satu. Ia melihat cermin ketika gerakan tangannya terasa aneh, ia akan segera memperbaikinya. Mengorganisir gerakan dalam hatinya.

.

.

Yifan memasukkan pakaian ganti dan perlengkapan mandi ke dalam koper hitam. Juga beberapa pena dan sebuah MacBook Pro. Seperti biasa, ia akan dijemput Chen jam 4 pagi untuk melakukan perjalanan bisnis ke China. Setelah meeting tadi siang, ia memutuskan untuk mengikuti pertemuan bisnis dari beberapa Negara di Eropa dan Asia tanpa pikir dua kali. Perusahaannya diundang dalam acara akbar tersebut. Setelah merapikan semua, dan menaruh koper di dekat pintu apartemennya, Yifan segera mengambil dompetnya di meja tengah dan keluar dari apartemen tersebut.

Ia melangkah keluar dari lift dan berjalan menuju sebuah minimarket yang berada persis di lobby apartementnya, minimarket tersebut buka dua puluh empat jam dan kebanyakan dari kasir minimarket tersebut adalah laki-laki yang masih muda, mungkin mereka melakukan part time untuk memenuhi uang kuliah? Ia mengambil keranjang yang berada didekat pintu dan mulai mengintari ruangan yang terang itu dari sudut ke sudut.

Suasana di balik kaca minimarket itu menarik sedikit perhatian Yifan.

Bagaimana lewat tengah malam masih banyak anak muda yang berada di luar rumah. Beberapa anak muda tengah bercengkrama di jejeran kursi dan meja yang memang disediakan minimarket itu untuk para pelanggannya. Tak jarang, gelak tawa mereka terdengar dari balik kaca dan Yifan terlihat risih. Mereka adalah muda-mudi yang menghabiskan dini hari mereka untuk bermain, pikirnya. Mereka pasti seusia Jongin. Ia berdiri di depan kasir dan menyerahkan keranjang belanjaannya. Kasir yang bernama tag Taeyong itu sejenak memperhatikan Yifan yang sedang memandang keluar kaca supermarket.

"Mereka memang seperti itu, membeli soju, kemudian mabuk didepan sana." Yifan memicingkan mata, mengatupkan bibirnya rapat-rapat, menatap kasir yang sedang sibuk mengscan belanjaannya cukup lama, setelah membayar belanjaannya, ia meninggalkan supermarket tersebut dengan teriakan terimakasih dari Taeyong karena ia baru saja mendapat 10.000 won dari pembelinya itu. Yifan tersenyum simpul, ia teringat oleh Jongin yang pasti sedang bekerja keras di studionya saat ini.

.

.

Jongin pulang ke apartemennya sambil menenteng tas tenteng merk adidas berwarna hitam. Ia masih mengenakan pakaian yang sama berlatih di studionya. Tubuhnya lelah, mengingat saat ini sudah jam 02.30 a.m. Ia ingin segera mandi air hangat dan mengemasi beberapa pakaiannya untuk tinggal selama beberapa saat di studionya karena ia telah mengambil keputusan untuk tidak bertemu dengan Yifan selama beberapa waktu. ia membuka pintu apartement tersebut dan sedikit terkejut dengan koper yang berada di dekat pintu, koper Yifan.

"Apa dia akan melakukan perjalanan bisnis hari ini?"

Itu artinya Yifan kembali tidak hadir di pertunjukkannya.

Ia berjalan menuju kamarnya, tak ingin membangunkan Yifan, ia membukanya dengan pelan. Melihat Yifan sedang tertidur dengan posisi miring di atas sofa kamar tersebut. ia menghela nafas ketika melihat beberapa berkas kantor Yifan berserakan dibawahnya.

Setelah memunguti berkas tersebut, Jongin berjalan menuju kamar mandinya, berendam selama 10 menit akan membuat dirinya lebih baik. Tak ada suara selain jarum jam yang masuk dalam indera pendengarannya.

Beberapa menit kemudian, Jongin telah berganti pakaiaan dengan celana training dan juga kaos Hood by Air hitam. Ia memasukkan beberapa bajunya kedalam tas backpack Herschel yang berwarna merah miliknya kemudian menggendongnya dipunggung. Melihat Yifan masih dalam posisi tidur yang sama sejak ia datang, Jongin meraih selimut putih tebal yang berada di tengah kasur kemudian menyelimuti Yifan, menutupi kaki hingga lehernya. Ia tersenyum melihat wajah Yifan yang yang tampak pulas tertidur. Setelah mengecup kening suaminya, Jongin meninggalkan ruangan tersebut dan menutupnya dengan pelan. Ia membawa tas tenteng adidas hitamnya yang sebelumnya ia taruh di atas sofa ruang tengah kemudian melesat, meninggalkan apartemen tersebut.

.

.

Yifan terbangun saat mendengar bunyi ponsel miliknya, mata remang nya menangkap layar ponsel yang menampilkan Chen sedang menelponnya. Ia mengangkat telpon tersebut tanpa berniat untuk memulai percakapan,

"Director, aku sudah berada di depan pintu apartemenmu, bisakah kau membukakan pintu untukku?"

Yifan memutus panggilan begitu saja tanpa menjawab permintaan bawahannya menyibak selimutnya,

Tunggu, sejak kapan aku memakai selimut? Pikir Yifan setelah melihat selimut yang ia singkirkan tersebut jatuh ke lantai kayu.

Setelah lelaki tinggi itu keluar dari ruangan, ia segera melihat layar kecil di dekat pintu masuk yang menyambungkan dengan intercom di luar pintu apartementnya. Ketika melihat senyum Chen yang mengurutnya menggelikan, ia segera membukakan pintu dan menyuruh Chen masuk.

"Kita akan berangkat tiga puluh menit, Director, aku sarankan jika anda membersihkan diri anda sebelum kita terlambat." Ujar Chen setelah menahan sedikit tawa nya melihat atasannya menguap tak henti-hentinya. Yifan hanya mengangguk dan berjalan memasuki kamarnya.

Setelah membersihkan dirinya, ia memakai setelan celana coklat selutut, dengan kaos Fred Perry putih yang berkerah dan sepatu vans putih. Ia tak nampak seperti Direktur besar, bukan? Wu memasukkan beberapa gadgetnya dalam Manhattan Portage Keith Haring Stuyvesant Backpack hitam miliknya. Ia juga memasukkan berkas yang tersusun rapi di atas meja kecil samping kasurnya. Otak Yifan berputar cepat. Bunyi putarannya dapat didengar jika orang menajamkan telinga.

"Apa mungkin Jongin yang melakukannya?" gumam Yifan. ia membisu sekali lagi.

"Kau sudah menghabiskan waktu 20 menit, Director. Kita akan benar terlambat jika kau …" teriakan Chen dari ruang tengah itu terhenti ketika melihat kamar Yifan terbuka. Menampakkan Yifan dengan wajah kesalnya,

"Aku sedang tak ingin mendengar ocehanmu, Chen."

Kim Jongdae menyindir, "Director, apakah anda ingin pergi berlibur?" membuat ia mendapatkan lemparan kacamata hitam marc by marc jacobs milik atasannya.

.

.

Ia melangkah mendekati panggung, melihat banyaknya penonton yang ingin menyaksikan pertunjukan kelompoknya itu antusias, ia tak ingin mengecewakan siapapun. Ia kembali mengingat bagaimana Sehun dan Chanyeol yang beberapa waktu lalu menyemangatinya dari ruang ganti, begitu dengan kelompoknya.

Meskipun sedikit berkeringat dingin, ia melangkahkan kakinya ketika performance Sehun dan Zelo selesai. Ia segera memposisikan dirinya berada ditengah panggung ketika lampu sorot mati. Setelah memberi sedikit jeda untuk ia membuang nafas, lampu sorot tersebut menyala, seolah menyinari Jongin yang mengenakan shirt putih yang dimasukkan kedalam celana kain hitam pas tubuhnya, ia tak menggunakan sneakers seperti kelompoknya, namun men ballroom shoes membalut kakinya dengan indah malam ini.

Sorakan juga tepukan tangan seakan mendesak Jongin untuk segera menampilkan sesuatu yang sudah mereka tunggu. Jongin tampak bersinar dengan rambut platinumnya yang ia sengaja dapat 10 jam sebelum pertunjukan dimulai. Ia sengaja mengubah warna rambutnya untuk pertunjukan tersebut. Cahaya lampu menenuhi panggung yang luas dan datar dan memberi cahaya pada kulitnya yang berwarna tan. Rambutnya memiliki tatanan blow wave belah tengah pada rambutnya yang berkilau dimulai dari sudut tegas keningnya, pipi yang menonjol dan dagunya yang berbentuk tegas. Jongin mengangkat kepalanya, dan seketika gedung tersebut menjadi sedikit riuh. Jongin mempertajam langkah ke kanannya dan menampakkan wajah sendunya, sorot lampu tersebut terhenti ketika Jongin menghampiri seorang wanita yang tak kalah sendu dari pandangannya yang sedang membelakangi Jongin, Hoang Yen.

Lantunan music dari Pink yang berjudul Just Give Me A Reason itu mulai mengalun indah memenuhi gedung tersebut. tangan kiri Jongin berada di depan Hoang Yen dengan perlahan tangan Jongin membuat gerakan memutar beberapa centi di depan dada kiri Hoang Yen, tepat didekitar jantung terletak kemudian, ia mendorong pelan bahu wanita tersebut secara pelan ke belakang, Penari asal Vietnam itu terjatuh dalam rengkuhan Jongin, detik kemudian, Jongin melempar tubuh Hoang Yen kedepan, seakan-akan wanita itu akan terjatuh. Detik berikutnya, kedua tangannya menggenggam telapak tangan Hoang Yen lalu melepas tangan kanannya sehingga wanita asal Vietnam itu menghadap kehadapannya dengan tubuh menyamping. Kaki mereka bertumpu satu sama lain. Kemudian, Jongin berada dalam posisi plie dan Hoang Yen berputar dan memeluknya dari belakang dengan kaki yang terangkat 180 derajat. Dengan gerakan halus, Jongin memegang paha kaki kiri wanita tersebut dan mengangkatnya, seakan Hoang Yen akan terjatuh di belakangnya. Hoang Yen merangkak kemudian bergulung ke belakang diikuti oleh pegangan tangan Jongin pada telapak kaki kanannya yang sebagai tumpuan. Sudah empat putaran, Jongin mengangkat wanita tersebut kemudian mendekatkan wajah mereka hingga hidung bersentuhan. Jongin melepas genggaman tangan Hoang Yen kemudian mereka melakukan gerakan fouetté. Tak ada suara yang memenuhi gedung tersebut kecuali lantunan lagu yang mengiringi mereka juga decak kagum penonton. Mereka memperhatikan setiap gerak yang dilakukan oleh kedua penari di atas panggung tersebut. 9 menit setelahnya, mereka bertepuk tangan ketika mereka mengakhiri performance kontemporer ballet dengan Jongin yang mendekap erat Hoang Yen. Seketika, lampu sorot mati, sedangkan music berganti dengan instrument Sway, Sway milik Heinali.

Sorot lampu panggung kembali menyala dengan perlahan, mengarah pada Jongin yang sedang memejamkan mata. Ia menunggu alunan music mencapai di bawah kulitnya. Dan Jongin merasakan seperti sambaran petir satu menit dan penuh hujan di detik berikutnya, ia ingin melayang seperti daun. Jongin mulai perlahan-lahan, kepalanya bergerak dari sisi kanan ke sisi kiri. Lengannya bergerak membuka sedikit demi sedikit, tangan kanannya ke sisi sedangkan tangan kirinya kedepan. Ia bersiap dalam posisi grand plie. Music masuk dalam nadinya ketika ia menghembuskan nafasnya sedang perlahan. Jongin membiarkan dirinya hanyut ke dalam alunan music tersebut, merasa dirinya terangkat kemudian mengambang, dan ia berputar. Jongin melakukan pirouette hingga sepuluh gerakan dalam satu waktu. Sejurus kemudian, ia berdiri dengan satu kaki datar pada posisi demi-plie dan menekuknya secara perlahan. Detik berikutnya, ia menarik sebelah kakinya dan menekuknya ke lutut dan memutar kaki yang berdiri dalam satu tumpuan tersebut dan melakukannya untuk yang ketiga kali.

Alunan music dari Heinali benar-benar membuatnya terhanyut dalam gerakan ballet kontemporer. Jongin merasakan sesuatu yang berlebihan, ia terisak ketika melakukan sissione dengan lompatan tingginya. Jongin mengikuti lantunan tersebut dengan menumpahkan semua isi hatinya. Ia tetap bergerak mengikuti lantunan music yang mulai melambat dan kemudian berhenti. Jongin berhenti dengan tenang. Nafasnya sedikit tak terkontrol. Ia membuka mata, menghadap ke penonton dan meloloskan air matanya dengan senyuman Jongin tersebut mengakhiri pertunjukan malam itu dengan penuh kekaguman dari wajah penonton yang mengisi penuh kursi dalam gedung tersebut.

Di waktu yang sama, Jonmyeon mengeratkan genggaman tangannya pada Yixing yang berada di sampingnya. Ia melihat adiknya dari kursi VIP, mereka menggunakan undangan yang Jongin berikan tempo hari. Yixing hanya bisa menenangkan Jonmyeon yang mulai mengeluarkan tetesan air matanya tanpa terisak dengan elusan tangannya pada punggung tangan Jonmyeon yang sedang menggenggamnya.

Malam itu, mereka melihat bagaimana street dance berujung pada panggung besar dan mereka berpikir dua kali untuk menganggap remeh para street dancer yang sering mereka temui dipinggiran jalan.

Mereka merasakan bagaimana ballet menjadi sebuah tontonan yang tak membosankan karena mengubahnya menjadi ballet kontemporer dengan sisipan lagu jazz. Dan kekaguman mereka dengan sosok yang namanya ada di salah satu jajaran penari ballet kontemporer dari Juilliard tak diragukan lagi, Kim Jongin terlihat bersinar malam ini.

Namun, apakah penonton merasakan apa yang penari rasakan? Mereka mengeluarkan ekspresi paling sederhana dari hidup yang telah mereka jalani. Salah satu jalan positif yang dapat memberikan ketenangan hati dan mental.

.

.

Setelah menerima permintaan untuk berfoto lobby gedung pertunjukan, kelompok tersebut satu per satu meninggalkan lobby menuju ke backstage. Namun tidak untuk Sehun yang sedang meladeni beberapa penggemarnya pun sedikit kualahan. Sebelumnya, banyak nitizen yang penasaran dimana menghilangnya salah satu ulzzang Korea tersebut, dan mereka menemukannya di gedung pertunjukan tari seperti ini. Beberapa penggemar Sehun, tentu ingin menyaksikan bagaimana Sehun beraksi di atas panggung. Pertanyaan yang dilontarkan beberapa penggemarnya tentang bagaimana ia bisa menghilang bagai ditelan bumi, hingga bertanya alasan mengapa ia tak menghadiri pertemuan setiap minggu yang biasanya ia datangi oleh beberapa teman ulzzangnya untuk melakukan pemotretan ulung atau hanya berjalan di kawasan Garosugil yang terkenal dengan salah satu kawasan dengan brand ternama.

Chanyeol yang sedari tadi berdiri menyandarkan tubuh ditembok di salah satu sudut tersebut terkejut ketika mendapati sebuah bucket bunga yang tiba-tiba berada dihadapannya. ia menoleh, Park Yoora sedang tersenyum lebar menatapnya. Kedua tangannya menggenggam erat bucket bunga tersebut dan menggerak-gerakkannya, untuk menyadarkan Chanyeol dari keterkejutannya.

"Selamat! Walau kau orang dibalik layar, pertunjukan ini sukses. Aku yakin, semua juga karena campur tanganmu." Ucap Yoora ketika Chanyeol masih terdiam dan tampak berpikir,

"Appa dan Eomma menunggumu di rumah. Bisakah malam ini kau kembali ke rumah?" Chanyeol kembali terdiam,

"Appa menyuruh orang suruhannya untuk merekam videomu saat perform dua bulan lalu, ia menyesal mengusirmu dari rumah." Kata Park Yoora kemudian ia meraih tangan Chanyeol memberikan bucket bunga pada adiknya.

"Dan kau kesini karena suruhan appa, Yoora-noona?" Yoora menggeleng,

"Tidak. Aku diberi tau Sehun jika ia dan kelompoknya akan melakukan pertunjukan besar. Dan ia menyuruhku datang jika ingin melihatmu."

"…"

"Kau tau? Sungguh sulit mencarimu beberapa bulan ini. Setelah kau meninggalkan rumah, eomma beberapa kali masuk rumah sakit."

"Eomma?"

"Iya. Ia bahkan tak pernah mau berbicara dengan appa sejak malam itu kau diusir. Eomma mengagumi kemampuanmu walaupun hanya dalam lingkup underground."

Chanyeol segera memeluk erat kakaknya, menangis dalam pelukan kakaknya bukan suatu yang salah, kan?

Jongin tersenyum lebar ketika seorang anak kecil laki-laki berlari kearahnya, setelah Victoria pamit pulang karena ia yang mewakili perusahaan Yifan untuk datang ke pertunjukan Jongin sebagai sponsor utama. Anak kecil laki-laki itu berkata sebelumnya ia adalah murid dari salah satu sekolah ballet di Seoul dan guru tari nya merekomendasikan untuk melihat pertunjukan Jongin. Setelah itu, anak kecil laki-laki tersebut mencium pipi Jongin di sertai dengan bentakan kakak perempuannya yang mengatakan pemintaan maaf atas tindakan tiba-tiba adiknya karena mencium pipi Jongin tanpa sepengetahuannya. Jongin hanya berkata jika ia senang karena anak kecil laki-laki itu menyukai performance nya.

"Bisakah kita bertemu lagi, Jongin-hyung? Aku ingin belajar banyak dari hyung." Kata anak kecil laki-laki sambil tersenyum lembut.

Jongin mengangguk, "Tentu saja. Kau boleh datang ke studio tempatku berlatih jika kau mau." Ia berjongkok didepan anak kecil laki-laki yang terus menyunggingkan senyumnya

"Aku besok akan bercerita pada teman-temanku. Jika aku boleh mengunjungi studio Jongin-hyung. Pasti mereka iri."

"Ini alamat studioku, kau bisa mengantarkan adikmu jika ia ingin mengunjungi studio. Aku berada disana setiap hari kecuali hari minggu pagi pada saat pelayanan ibadah." Jongin memberikan kartu nama berwarna hijau pada kakak perempuan anak kecil laki-laki tersebut. Lalu, jongin menjelaskan ciri-ciri luar bangunan studionya. "Namaku Kim Jongin, kau bisa memanggilku, Jongin." Jongin mengulurkan tangan ke kakak perempuan anak kecil laki-laki tersebut.

"Park Sooyoung. Dan adikku bernama Park Jaehyun."

Jonmyeon dan Yixing menghampiri Jongin beriringan beberapa saat setelah seorang perempuan juga seorang anak kecil laki-laki berbincang dengan Jongin. Jonmyeon menggenggam bucket bunga dengan erat.

"Jongin-ah" ia memeluk Jongin tanpa aba-aba. Jongin sedikit terkejut, namun keterkejutannya hilang ketika melihat siapa yang memeluknya, Kim Jonmyeon. Dibelakangnya, Yixing tersenyum simpul melihat kakak adik itu berpelukan.

"Hyungmu memang berlebihan. Bahkan tadi ketika melihat performance mu dia menangis." Seru suara yang berasal dari mulut Yixing. Jonmyeon tersenyum lalu melepas pelukannya. Jongin menerima uluran bucket bunga dari Jonmyeon,

"Kau begitu bersinar malam ini.. seandainya appa dan eomma datang, pasti mereka akan berdecak kagum padamu." Kata Jonmyeon dengan nada penyesalan.

Jongin diam sejenak. "Sebelum perform, appa dan eomma menelponku. Memberitahu kenapa mereka tak datang."

"Yifan tidak datang?" Tanya Yixing pada laki-laki dihadapannya.

"Entahlah. Aku tidak menemukannya malam ini. Aku hanya melihat sekertarisnya di parkiran tadi." ucap Jonmyeon

Jongin memberitahukan mengapa Yifan tak datang malam ini sesuai apa yang Victoria katakan padanya.

"Tidak seharusnya ia begitu. Dia bahkan belum pernah melihat performance mu, Jongin"

Jongin bungkam. Jonmyeon mengela napas. "Kau terlalu baik, Jongin. Bersikaplah tegas padanya."

Jongin menggeleng, "Ia akan menuruti kata-katamu, hyung. Bukan aku." Ujar Jongin. Suaranya kering.

Hening lagi sesaat. Yixing dan Jonmyeon tidak tahu apa yang dipikirkan Jongin dalam keheningan itu, tetapi mereka tahu bahwa Jongin tidak suka mereka membicarakan Yifan, setidaknya untuk saat ini.

'Yifan-hyung sedang melakukan perjalanan bisnis, aku tak mungkin egois untuk membujuk dia agar datang malam ini'

.

.

Yifan berendam di bathup putih yang dipenuhi air hangat dan segelas Chateau Latour di samping bathup tersebut. Setelah seharian penuh ia mengunjungi beberapa saudara yang berada di China, ia mengistirahatkan badan juga pikirannya untuk esok hari, mendatangi pertemuan penting yang juga menjadi tujuan utama ia datang kembali ke Beijing. Sambil menghangatkan badan, ia memikirkan perkataan Jongin malam itu. Dibayangkannya bagaimana kelak hari-harinya jika tanpa Jongin di apartemennya. Siapa yang akan mencuci pakaiannya? Siapa yang akan membersihkan apartemennya yang kadang berantakan akibat ulahnya kesal dengan pekerjaan di kantor? Bagaimana jika ia tak mendapat asupan penting dari masakan Jongin yang selalu ia rasakan setahun belakangan ini? Bukan ia tidak tau, jika Jongin selalu mengumpulkan beberapa print out kertas resep makanan.

Ia pria, dan rela melakukan itu demi aku?

Lagi pula, tidak mudah mengambil resiko menikah dengan sesama pria apalagi di usia Jongin yang baru menginjak 24 tahun saat menikah dengannya. Ia tau, Jongin masih memiliki perjalanan karir yang panjang, apalagi ia adalah lulusan dari Juilliard. Ia hanya mampu untuk menyembunyikan pernikahan mereka, untuk karir Jongin, juga kepentingan dirinya. Pasti para pegawai juga rekan bisnisnya sulit menerima jika pemimpin perusahaan besar seperti dirinya adalah seorang homoseksual.

Di dalam air hangat, ia menyentuh perutnya yang rata, bahkan tak berbentuk. Mengelus permukaan rata yang terdapat sebuah bekas jahitan melintang sepuluh centi diatas pusarnya. Bekas jahitan tersebut perlahan memudar seiring pertumbuhannya. Kemudian ia sadar, ia tersenyum karena teringat Jonmyeon.

Yifan naik ke ranjang dan membaca beberapa pesan dari Jonmyeon dan Yixing yang masuk dalam kotak pesan ponselnya selama ia berendam tadi. Dalam pesannya, bermacam umpatan ia dapat dari pesan Jonmyeon. Sedangkan Yixing hanya memperingatkan dirinya jika tak seharusnya ia tak menghadiri pertunjukan Jongin.

Yifan tau, Jongin mempunyai perasaan yang lebih terhadapnya, bahkan sebelum mereka menikah, ketika mereka beberapa kali bertemu di rumah Jonmyeon, karena Yifan sering mengunjungi rumah Jonmyeon untuk menginap atau bermain game.

dan juga..

Yifan akan berpikir seribu kali untuk melupakan perasaannya terhadap Jonmyeon, cinta pertama juga malaikat untuk dirinya beberapa tahun lalu.

setidaknya itu yang dipikirkan Yifan.

Dengan pipi menindih bantal, ia berpikir bagaimana ekspresi Jongin saat tak menemukan dirinya. Ia tak begitu yakin, karena ia jarang melihat ekspresi Jongin berubah-ubah secara sering. Bahkan, ia tak pernah melihat Jongin menangis secara terang-terangan setelah menikah dengannya, kecuali malam itu di studio dance ketika Jongin mengatakan jika ia tak ingin melihat Yifan terlebih dahulu untuk memastikan perasaan masing-masing. Laki-laki itu pandai menyembunyikan sesuatu darinya, tak seperti Kim Jonmyeon, kakak Jongin. Yah, walau Yifan tau jika Jongin bukanlah anak kandung dari orang tua Jonmyeon.

Akhirnya, seakan-akan diiringi irama monoton tanpa henti oleh jarum jam, selimut tidur berwarna putih menyelimuti Yifan.

.

.

.

.

TO BE CONTINUED

A/N:

Sungguh, saya tidak menyangka reviewnya sebanyak ini, saya sangat berterimakasih pada kalian, review, follow, dan favoritenya.

Yang penasaran dengan performance Jongin, buka youtube dan cari "Quang Dang and Hoang Yen – Just Give Me A Reason". Teman saya merekomendasikan untuk melihat perform mereka untuk mendapat inspirasi lebih. Rambut platinum blonde dan kostum Jongin, bisa lihat di The Celebrity

Untuk yang menginginkan NC, saya belum bisa menulis adegan secara detail. Saya ngetik adegan ranjang chapter sebelumnya sudah gemeter. Mungkin akan ada satu adegan lagi untuk keperluan cerita, bukan KrisKai/ SuLay, tapi..

Beberapa yang ada yang minta KrisHo moment, untuk chapter ini belum ada. Saya focus pada dance Jongin.

Jonmyeon sudah jadi orang ketiga, dan sepertinya di next chapter akan ada orang keempat di hubungan mereka, tapi yang berharap itu Sehun atau Chanyeol, sepertinya bukan mereka, sudah ada di chapter ini, siapa yang akan menyukai Jongin.

Jika kalian merasa Fanfiction ini mulai membosankan, dan nggak ada feelnya, katakan di kolom review atau PM ya ^^

Sampai jumpa di next chapter ya!

Maaf saya belum sempat balas review, saya akan balas chapter depan, mungkin belum bisa fast update karena sedang sibuk mengerjakan sesuatu. Hehehe

Terimakasih banyak!

BIG THANKS TO:

Cute, Kim Hyun Soo, Kihae Forever, Jongin's Wife, Junkie, Eviaquariusgirl, Bapexo, Hyemi Kim, Nadiaa , Dew90, Guest1, Guest 2, Hyunhyun,Kaysaiko, Nadia, Guest 3,Guest 4,Cute,Chokailate,Hyemi Kim,C,Kihae Forever, Gaemcloud347,Jongin's Wife, Boobearsarang, Miyuk, Kaisoo,Ayumkim,Kamong Jjong, Reeeee, Anjarw, Chotaein816, Jung Eunhee, , Jongkwang, Laxyovrds, Cho Kyuly, Askasufa, Oracle88, Novisaputri09, Huang Zi Lien, Narayuuki11, Mole13, Mizukami Sakura-Chan, Moetrinie, Zeekai, .7, Pikaachuu, Sayakanoicinoe, Cute, Jongin48, Melizwufan, Kimchi, Lucyen