.

.

.

FALL FOR DANCE

Story : Bbusan

Main Cast : Kim Jongin and Wu Yifan

Rate : T

.

.

.

.

CHAPTER 4

"Maafkan aku, Chanyeol," ucap Tuan Park, ayah kandung Chanyeol. "Aku pikir memaksamu untuk menjadi penerus di perusahaan ini adalah keputusan yang benar, tapi ternyata salah." Dia menggeser sebuah koran harian Seoul edisi beberapa saat lalu, di salah satu kolomnya berisi tulisan tentang pertunjukkan tari tujuh belas hari yang lalu, kepada Chanyeol.

Duduk di tengah ruang kantor yang terang dan berada di pusat kota Seoul, Chanyeol berusaha tetap tenang. Tuan Park berada persis di hadapan Chanyeol, hanya terhalang sebuah meja persegi dengan permukaan kaca. Lelaki berumur 54 tahun itu mempunyai wibawa yang besar, matanya yang tajam berbeda dengan mata Chanyeol. Sebenarnya, emosi beberapa bulan belakangan ini ingin di luapkan saat ini. Namun, keinginannya itu tak dapat ia lakukan karena beberapa pertimbangan penting.

Seharusnya ia tak memenuhi permintaan kakaknya, Park Yoora, malam itu. Tapi, ia malah memutuskan datang dan mengambil sedikit resiko.

"Bukan masalah besar," Chanyeol berbicara tanpa mengubah sedikitpun ekspresi datarnya. "Tapi sebaiknya anda meminta maaf pada teman-teman saya secara pribadi," ia bahkan berbicara formal pada ayahnya.

Enam bulan belakangan, Chanyeol seolah menjaga jarak dengan ayahnya. Tuan Park, Nyonya Park juga Park Yoora tak mengetahui apa sebabnya, tapi Chanyeol berkata formal sejak dirinya dijodohkan oleh orang tuanya, lebih tepatnya, ayahnya.

"Untuk apa minta maaf?" wajah Tuan Park penuh dengan tanya. Keriput diwajahnya semakin terlihat ketika ia mengerutkan keningnya. Garis-garis tua begitu terlihat jelas.

"Apakah mengancam teman-temanku bukan suatu perbuatan kriminal?"

"Apa katamu?" Tuan Park semakin tak mengerti dengan arah pembicaraan anak laki-lakinya itu. Ia mencondongkan badannya ke arah Chanyeol, menatapnya dengan lekat.

"Orang suruhan anda telah merusak CDJ dan juga Controllerism."

"Jangan bicara sembarangan!" suara pemilik perusahaan perakit kapal itu meninggi.

"4.300.000 won. Anda harus membayarnya. Kami tidak mempunyai uang sebanyak itu untuk membelinya lagi," suara pemuda berkacamata besar itu penuh ketegasan, "Jangan harap saya akan kembali ke rumah jika anda tak melakukannya, Aboji."

Kalimat itu sangat mengejutkan Tuan Park, "Chanyeoool!" teriaknya ketika Chanyeol beranjak dan hendak berjalan keluar ruangannya bertingkah seolah tak mendengar teriakan orang yang lebih tua itu. "Ya! Park Chanyeol!"

"Dan tolong pertimbangkan tentang perjodohan saya dengan putra keluarga Byun itu. Sungguh tak masuk akal jika seorang ayah memaksa anaknya menjadi seorang gay," dan Chanyeol benar-benar hilang di balik pintu kokoh orang nomor satu di perusahaan tersebut.

.

.

Ada perasaan yang selalu Park Sooyoung miliki saat berada dekat Jongin, perasaan yang belum pernah ia temukan dengan orang lain. Rasa lengkap dan kebahagiaan yang meluap, bercampur kebebasan. Ada banyak orang yang ia cintai dalam hidupnya, tapi tak ada yang ia cintai seperti ini. Boleh dibilang jika gadis berusia 19 tahun ini sedang mengalami perasaan yang tak biasa pada lawan jenisnya yang baru ia temui beberapa kali ini. Ia bukanlah teman-temannya, yang selalu membicarakan lelaki yang berbeda-beda setiap minggunya.

Park Sooyoung merasakan debaran di dadanya yang tak lagi normal ketika melihat kebersamaan antara Jaehyun dengan Jongin dua minggu terakhir ini.

Sebagian dirinya ingin menjelaskan ini kepada Jongin, ingin membaginya, tapi tak sekarang. Kelak, mungkin.

Ia mengusir pikirannya itu dan duduk di atas lantai kayu dekat meja yang diatasnya terdapat beberapa snack dan beberapa jenis minuman. Dengan kedua tangannya yang bertumpu kebelakang tepatnya di dinding, ia menengadah, dan melihat dengan kedua matanya saat Jongin sedang meliukkan badannya, melakukan beberapa gerakan, diikuti dengan Jaehyun yang berada di belakang laki-laki itu.

Sesekali mereka Jongin tertawa karena Jaehyun yang menari dengan tarian aneh ketika anak kecil itu sedikit frustasi dengan gerakan rumit yang ia ajarkan.

"Ya! Jaehyun-ah! Sudah waktunya makan malam. Sebaiknya kita pulang sekarang," Park Sooyoung berteriak ke arah tengah ruangan tersebut. Jaehyun dan Jongin menoleh serempak.

"Sebentar lagi, noona." Anak laki-laki berumur 9 tahun itu melanjutkan gerakan terakhir yang Jongin ajarkan padanya. Park Sooyoung menghela nafas pendek.

.

.

Waktu menunjukkan pukul 8 malam ketika Chanyeol duduk di depan sebuah tempat bisa dibilang coffee shop dengan sebuah toko kecil di dalamnya yang menjual aksesoris yang sedang menjamur pada saat ini. Sinchon, salah satu distrik untuk mahasiswa itu ramai pada jam-jam di luar kegiatan belajar mengajar. Lampu penerang sepanjang jalan, dihidupkan, seolah menyerukan jika malam tak membatasi untuk beraktifitas. Hawa dingin menyeruak, walau saat ini masih berada dalam kungkungan musim panas. Di hadapannya, seorang laki-laki bertubuh lebih kecil dari dirinya sedang menundukkan kepala dalam. Kedua tangannya masih memainkan jari-jari di bawah meja bundar itu.

"Sudah 10 menit. Aku tak punya waktu yang banyak," Park Chanyeol membuka suaranya. "Cepat katakan apa yang ingin kau katakan, Byun."

Laki-laki itu sedikit melirik ke arah Chanyeol dengan ragu-ragu. Namun, nyalinya kembali menciut ketika mendapati wajah Chanyeol yang memandangnya dengan tajam dan dingin, "Ehnn… Paman bilang…"

"Apa?" Chanyeol memotong kata-kata lawan bicaranya itu.

"Paman bilang, kau harus pergi ke butik denganku," Chanyeol sedikit tak mengerti dengan perkataan pelan laki-laki itu, "Kita akan memilih pakaian untuk acara pertunangan kita, Chanyeol."

Kedua bola mata Chanyeol membesar, ia geram dan berdiri dengan cepat, membuat kursi dari kayu pilihan yang sebelumnya ia duduki bergeser kebelakang beberapa centi. Chanyeol melepas kacamata yang berbingkai hitam dan menekan-nekan matanya yang kering.

"Aku tak akan melakukannya." Jawab Chanyeol dengan nada tinggi, membuat beberapa orang yang akan memasuki coffee shop di dekatnya itu sejenak menoleh ke arahnya.

"Perjodohan… Pertunangan… Itu menjijikkan." Chanyeol berusaha untuk menghindari kata-kata yang taboo di tempat umum itu. "Kau laki-laki, Baekhyun. Begitu juga denganku. Kau tidak bodoh bukan?"

"Apa perempuan itu Kim Yejin? Yang kau cintai sampai kapanpun dan cintamu itu itu tak akan berubah sampai kapanpun?" tembak Baekhyun, yang langsung membuat Chanyeol tersedak air liurnya sendiri.

Pertanyaan Baekhyun baru saja seperti panah dengan tepat meluncur mengenai ulu hatinya. Kenapa Baekhyun bisa tahu tentang Yejin? Chanyeol tak merasa pernah bercerita pada siapapun, Sehun dan Jongin sekalipun. Ia menyimpannya rapat-rapat. Bahkan dengan keluarganya.

"Bicara apa kau?" berdiri mematung, Chanyeol menatap Baekhyun dengan serius.

"Bicara tentang Kim Yejin. Perempuan yang sama sekali tak melihat keberadaanmu," jawab Baekhyun dengan mantap.

"Diamlah jika kau tak mengetahui dan mengerti apapun." ujar Chanyeol dengan nada meninggi, "Dan aku tak menyangka seorang anak menteri sepertimu berbicara tak sopan pada lawan bicaranya." lanjutnya.

Chanyeol berlalu dengan cepat menampakkan wajah marahnya dan meninggalkan laki-laki dengan dua cangkir kopi yang saling berhadapan.

Beberapa saat kemudian, Baekhyun memutuskan untuk pergi kesuatu tempat. Setelah keluar dari area coffee shop itu, Baekhyun berjalan keluyuran sambil berpikir tak karuan. Kemudian dia membulatkan tekad dan menuju ke taman bermain anak-anak, tempat dia pertama kali melihat Chanyeol.

Seperti waktu itu, aku terdorong dan terjatuh hingga kepalaku mengenai satu sisi besi di ayunan. Dan Chanyeol datang memberi pertolongan. Apa mungkin Chanyeol akan melakukan itu lagi?

Malam itu tidak ada orang lain di taman bermain anak-anak. Cahaya lampu merkuri tampak lebih putih, lebih dingin, begitu dengan angin yang berembus di sela-sela reranting beberapa pohon yang mengelilingi taman itu. Baekhyun duduk di atas ayunan berwarna hijau dengan sesekali mengayunkannya dengan kedua kakinya. Catnya sudah diganti sejak ia terakhir datang kesini.

Baekhyun duduk di ayunan itu selama 20 menit. Tak mungkin melakukan lebih lama. Ia melirik arlojinya. Sebentar lagi pukul 10 malam. Sesekali pejalan kaki melintas di jalan di depan taman. Baekhyun bergegas untuk mengambil ponsel yang berada di saku celananya. Benar seperti apa yang ia duga. Beberapa panggilan masuk tak terjawab juga pesan yang belum tersentuh. Ia menghela nafas pelan.

Tak lama kemudian, seseorang lelaki paruh baya mengenakan setelan jas hitam berlari ke arah Baekhyun. Ia menggenggam sebuah ponsel berteknologi tinggi. Radar GPS nya menyala dan menyambung pada radar GPS yang terpasang di ponsel keluaran terbaru milik Baekhyun.

"Tuan Muda, tak seharusnya Tuan Muda menyalahgunakan kepercayaan saya." Tutur lelaki itu setelah membungkuk dihadapannya. "Saya hampir kehilangan jejak anda."

Itu karena Baekhyun tadi menyuruh Kim Ahjussi ini memarkirkan mobil mewahnya beberapa meter menjauhi coffee shop.

"Maaf, Ahjussi. Aku sedang ingin berjalan di sekitar sini." Baekhyun melakukan pembelaan, "Lagi pula, aku sudah hafal daerah ini," lanjutnya.

"Tetapi bahaya jika Tuan Muda melakukannya malam hari. Apalagi ditempat sepi seperti ini. Tuan Muda kan-"

Baekhyun segera mengalihkan topik. "Apa ahjussi lapar?" tanya Baekhyun dengan senyum lebarnya.

"Tidak, Tuan Muda. Saya tidak lapar."

"Kau bahkan menungguku 3 jam dan tidak memakan apapun."

Matanya berbinar ketika mendapatkan satu ide, "Aku tau penjual miyeok guk yang enak di daerah dekat sini. Kajja!"

Baekhyun tersenyum dengan bibir melengkung indah bagaikan bulan sabit musim dinin. Senyum yang sulit diterka kedalamannya.

.

.

Begitu bangun, Yifan menyadari jika dirinya sedang tertidur tengkurap di atas kasurnya dengan masih mengenakan pakaian untuk bekerja lengkap. Waktu telah berlalu beberapa lama. Ia menarik tangannya di depan mata, melirik dengan mata yang masih terbuka setengah, angka yang ditunjukkan oleh kedua jarum jam itu. Sepertinya hari telah beranjak malam. Memorinya mengingat ketika ia memilih untuk pulang saat jam makan siang karena ia merasakan sakit pada tenggorokannya. Kini, ia mencoba membuka mulut, dan ia merasakan sakit pada bagian dalam mulut hingga kerongkongannya. Matanya berair dan panas, hidungnya tersumbat, dan kini, kepalanya benar-benar pening seperti ditekan benda berat dan memutar. Belum lagi, setelah sampai di kantor, ia mual, mengeluarkan muntah air. Ia berguling satu putaran untuk masuk kedalam selimut tebal. Tapi meskipun selimut tebal itu telah melapisi dirinya, ia merasa masih dingin.

Dengan sedikit kesusahan, Yifan beranjak dari kasurnya dan berjalan menuju dapur. Ia berjalan terseok bahkan merangkak karena beberapa saat setelah mencapai ambang pintu yang terbuka, perutnya terasa sangat sakit. Apartement itu gelap tak diterangi lampu di dalamnya, hanya bias-bias cahaya dari penerangan gedung-gedung yang menjulang tinggi disekitarnya melalui dinding kaca yang terbuka yang membatasi ruang tengah dengan udara bebas di luar sana. Setelah menghidupkan beberapa lampu, ia menegak air putih hangat dari dispenser. Selama menegak segelas tinggi penuh air putihnya dan bersandar pada bar kecil yang memisahkan dapur dengan ruang tengahnya, ia mengamati keadaan dapur yang berantakan. Peralatan dapur yang kotor menumpuk di atas kitchen sink , kabinet lemari dapur yang beberapa pintunya terbuka kecil, tumpukan kardus makanan cepat saji yang berada di bawah sudut dapur membuat bau tak sedap memasuki indera penciumannya. Ia baru teringat jika lima belas hari yang lalu, setibanya di Korea ia tak sama sekali membersihkan beberapa ruangan di apartement tersebut.

Ia melepaskan nafas panjang ketika melirik ruangan tengah yang tak kalah berantakan dari dapurnya. Bungkus snack, lembaran kertas putih, sisa-sisa makanan, hingga beberapa potong pakaian berserakan di ruang itu. Terlebih putung rokok yang beberapa batang tercecer di atas karpet. Asbak nyaris tak digunakan sesuai fungsinya. Abu rokok tercecer di atas karpet mahalnya. Belum lagi beberapa bekas nyala rokok yang membakar sedikit karpet bulu itu.

Jongin benar-benar serius dengan ucapannya, pikirnya. Itu karena Jongin belum kembali.

Tampaknya, Yifan harus menyuruh seorang cleaning service di gedung apartementnya untuk membersihkan apartementnya yang benar-benar kacau.

Beberapa saat kemudian setelah ia tertatih berjalan menuju ruang tengah dan meraih telepon rumahnya, ia menelpon petugas gedung apartementnya bahwa ia memerlukan seorang cleaning service saat ini, dan beruntunglah ia hanya harus menunggu 15 menit kemudian.

"Arghhh!" ia menjerit kesakitan setelah air putih yang ia tegak masuk ke dalam lambungnya. Yifan terjatuh dan meringkuk, memeluk kedua kakinya. Ia mencoba meraba-raba dalam kulkas, tempat ia menyimpan obat maag-nya, namun tangannya seolah lebih pendek dari biasanya. Ia tak mempunyai tenaga untuk melakukan sesuatu.

.

.

Di balik selimut kantong tidurnya, Chanyeol mengamati Jongin yang sedang tepekur di kantong tidur dalam salah satu ruangan di studio dancenya. Park Chanyeol sedikitpun belum terjatuh dalam alam mimpinya walau ia tengah dalam pengaruh alcohol. Beberapa hari ini Chanyeol menginap di studio Jongin. Ia tak pulang ke apartement sewa ataupun rumah kedua orang tuanya. Perut Chanyeol mual setelah dua jam lalu meminum soju, membuat ia masih terjaga. Jongin berbalik berkali-kali, ke kiri dan ke kanan, memeluk gulingnya erat-erat, mengulangnya lagi selama beberapa kali, membuat Chanyeol sedikit terganggu. Sampai kantong tidur itu sedikit lecek, temannya itu belum berhasil menemukan posisi yang nyaman. Chanyeol menghela napas ketika Jongin dengan tiba-tiba terduduk.

"Ada apa Jongin?" dari balik selimut, Chanyeol bertanya.

"Udara disini sedikit panas,"

"Kau bercanda? Ini sudah suhu terkecil di ruangan ini." Kata Chanyeol meyakinkan. Ia mendudukkan dirinya diatas kantong tidur ketika melihat Jongin berdiri hendak keluar dari ruangan itu,

"Mau kemana?" tanya Chanyeol heran.

"Aku ingin mengisi perutku." Jawab Jongin sembari meraih jacket hitam berhodie dan mengenakannya. "Apa kau mau ikut?"

Chanyeol menggeleng, ia sedikit memanyunkan bibirnya, "Sebenarnya aku ingin ikut, tapi sepertinya perutku masih sedikit mual karena soju tadi," ia menyambung, "Kau tak keberatan kan jika kau pergi sendiri?"

"Hahaha! Tentu tidak, Park." Tawa Jongin membuat kedua pipinya terangkat, "Aku akan membawakan susu putih untuk menetralkan perutmu, Yeol."

.

.

Beruntunglah pada jam 3 pagi ini salah satu kedai di kawasan Sinchon masih buka dan melayani pembeli. Jongin menikmati dua porsi samgyupalnya dengan sesekali meminum colanya. Suasana di balik dinding kaca depan kedai tersebut cukup sepi dari aktifitas malam di distrik itu. Hawa yang dingin menusuk hingga ke permukaan kulitnya. Padahal, Jongin mengenakan kaos di tutupi oleh jacket hangat, sneakers merk Air Jordan, celana training longgar merk adidas, tapi sepertinya itu tak berarti apapun, walau sekarang adalah musim panas.

Ponsel putih miliknya yang diletakkan di atas meja di hadapannya itu bergetar. Memunculkan nomor yang belum terdaftar di kontak ponselnya. Ia meletakkan kedua sumpitnya di atas piring bundar keramik berwarna putih.

"Yoboseyo?" Jongin mengawali panggilan tersebut.

"Ne. Benar, saya Kim Jongin." Laki-laki berkulit tan itu menegaskan pada pembicara diseberang sana.

"MWO? Benarkah?" mata Jongin membesar dan melotot ketika mendengarkan perkataan dari lawan bicaranya. Tangannya kirinya meremas gelas kaca di depannya.

"Baik. Aku akan segera kesana, tolong berikan penanganan yang terbaik, suster."

Setelah menyerahkan beberapa lembar uang won pada pemilik kedai, ia berlari keluar kedai, menyisakan samgyupal yang belum ada setengahnya ia makan.

.

.

"Gangnam Songmo byongwon ga joosae-yo" ujar Jongin tepat setelah ia membuka pintu taksi yang berhenti dihadapannya. Supir taksi itu menganggukkan kepala, kemudian mensetting GPS menuju ke Gangnam St. Mary's Hospital setelah itu mulai berjalan.

Lima belas menit lebih, taksi yang membawa Jongin berhenti tepat di depan gedung Rumah Sakit yang terletak di sisi selatan dari Banpo Brigde, tepat di samping Express Bus Terminal. Setelah membayar sesuai dengan jumlah argonya, ia berlari masuk ke dalam gedung kemudian bertanya pada suster yang menjaga meja di tengah ruang masuk dimana letak ruang inap nomor 40-4.

Jongin menghela nafas dalam-dalam setelah langkahnya berhenti di depan ruangan yang ia tuju. Ia membuka pintu ruangan tersebut dengan hati-hati. Perlahan-lahan, Jongin mendekati tempat tidur, lalu dari jarak sekitar 1 meter, ia mengamati sosok pasien di hadapannya. Tak ingin membangunkan pasien tersebut yang terbaring di atas ranjang kamar VIP itu, ia berdiri di samping sang pasien dalam diam.

Tubuh pasien itu terbaring lemah di atas tempat tidur dengan kedua kelopak mata terkatup rapat. Mulutnya terbuka sedikit. Nafasnya terhembus dengan teratur dan tenang, berbeda dengan Jongin yang masih sedikit tersenggal karena berlari beberapa saat lalu. Di dekat kepala pasien tersebut terpasang peralatan infus, dan cairan infus dialirkan dari kantung plastik ke pembuluh darah melalui selang kecil.

Pintu terbuka, Jongin menoleh, mendapati seorang suster setengah baya berjalan mendekati tempat tidur pasien dengan hati-hati.

"Apa anda Kim Jongin?"

Jongin mengangguk, menjawab pertanyaan suster tersebut. Ia menyambung, "Apakah dia baik-baik saja?"

Suster itu mencatat angka-angka pada papan tulis kecil dengan bolpoin dan menyiapkan suntikan yang ia bawa.

"Pasien dalam keadaan baik-baik saja sekarang. Ia ditemukan pingsan oleh seorang cleaning service di apartementnya dan ambulance yang membawanya kesini." Suster itu mengambil sudut infus dan menyuntikan cairan bening kedalam selang yang menancap di punggung tangan laki-laki yang di kenalnya.

"Pasien hanya perlu istirahat. Sudah dua hari perutnya kosong dan ia hanya makan makanan instan dan soju. Pasien terkena maag dan beliau punya riwayat typus, dokter khawatir jika itu adalah salah satu gejala typus," Suster itu bertutur, "Maaf untuk sekarang anda belum bisa menemui doktor yang menangani pasien ini. Karena beberapa saat sebelum anda datang, beliau pulang dan digantikan oleh doktor penjaga, anda tak keberatan?"

Jongin menggeleng. Suasana hening sejenak. Hanya ada suara jam yang berdetik.

"Jadi, kapan dia diperbolehkan pulang?" tanya Jongin pelan.

"Jika keadaannya sudah membaik, pasien diperbolehkan pulang." Ujar suster dengan tersenyum ramah pada Jongin. Setelah menyelesaikan beberapa perawatan pada pasiennya, suster itu ijin keluar ruangan. Saat suster hampir berada di ambang pintu, Jongin menyusulnya.

"Terimakasih. Selamat pagi," ucap Jongin.

"Suster.." suster itu menghentikan langkah dan menoleh dengan senyum yang terpatri di bibir tipisnya, "Bisakah anda menolong saya satu kali ini?"

Jongin menoleh ke belakang, ke arah tempat tidur pasien yang pada label namanya tertulis "Wu Yi Fan"

.

.

Setelah menghabiskan waktu sekitar 3 jam, dan berakhir dirinya tertidur di kantin, setelah mengisi perutnya, Jongin berjalan kembali ke ruang inap Yifan. Suasana Rumah Sakit yang mulai aktif kembali pada jam-jam kerja sangat nampak. Jongin menghentikan langkah di ambang pintu, dan sebelum melangkahkan kakinya ke dalam ruangan, ia mengintip dari kaca ditengah pintu sambil memegang gagang pintu. Yifan sudah bangun. Laki-laki itu tampak sesekali berbincang dengan suster yang membersihkan tubuhnya. Ia mengurungkan niatnya untuk masuk dan sekedar merapikan selimutnya. Ia berbalik, berjalan menuju taman di ujung Rumah Sakit tersebut. Penampilannya masih sama sejak ia datang ke Rumah Sakit ini. Sedikit berantakan dan lusuh. Ia belum beranjak keluar gedung rumah sakit walau hanya untuk mencari makan selain menu yang disediakan kantin Rumah Sakit yang terbatas. Lingkaran hitam miliknya sedikit demi sedikit muncul, matanya berubah menjadi sedikit sayu. Pagi ini Jongin tampak seperti mayat hidup.

.

.

Selepas tengah hari, Jonmyeon berkunjung ke ruang inap Yifan, duduk di samping tempat tidurnya dan menghujani pasien yang tengah memakan makanan yang di sediakan Rumah Sakit itu dengan omelan khawatirnya. Beberapa saat lalu, suster datang untuk menganti kantung plastik cairan infus.

"Darimana kau tau aku di sini?" tanya Yifan setelah memasukkan sesendok penuh bubur, itu sendok ke empatnya. Setelah itu, ia menyendok kuah sup taoge dan tahu yang bening. Rasanya tidak pedas ataupun asin, hambar. Makanan Rumah Sakit memang membuatnya seakan kehilangan selera makannya.

"Pihak Rumah Sakit menelponku jam 8 pagi tadi." Jawab Jonmyeon sambil menggigit buah apel yang tersedia di atas meja kecil samping tempat tidur, "Kau membuatku khawatir saja."

Yifan tersenyum simpul, "Yixing?"

"Dua hari lalu ia kembali ke Changsa, membantu mengurus pernikahan Xiumin dengan Soohe."

Yifan mengangguk kecil, setelah itu menegak minumnya dengan cepat.

"Dimana Jongin?" tanya Jonmyeon dengan kepala menoleh ke segara arah, mencari dimana adiknya.

Sedangkan lawan bicaranya hanya terdiam, ia tak tau harus mengatakan apa.

"Entahlah. Aku tak melihatnya." Mulut Yifan berbicara jujur, membuat Jonmyeon sedikit kebingungan.

"Jongin yang mengantarmu?"

Yifan menggeleng, ia meletakkan nampan yang berisi menu makanannya di meja kecil sebelahnya.

"Kata suster, seorang cleaning service apartement yang menelpon ambulance. Aku bahkan tak melihatnya sejak pulang dari China." Jawab Yifan jujur.

Jonmyeon mengerutkan dahinya menandakan dia kurang senang.

"Apa yang kau lakukan lagi, Wu Yi Fan?" suara Jonmyeon melemah, seakan tak percaya apa yang dikatakan Yifan baru saja.

Yifan membisu sebentar. Jonmyeon tidak tau apakah Yifan memahami pertanyaannya atau tidak.

"Jongin memutuskan untuk berpisah sementara waktu, yah.. begitulah.." Jonmyeon yang tadi mengghela nafas dalam-dalam tiba-tiba membelalakkan mata sambil menggeram ke arah Yifan.

"Dan kau menyetujuinya?"

"Iya," jawab Yifan beberapa saat kemudian sambil mengangguk-angguk. "Apa ada alasan untuk aku menolaknya?" Lalu setelah berpikir sejenak, ia menambahkan.

Jonmyeon menahan rasa kesalnya, ia meraih rambutnya dan menjambaknya dengan keras.

"Kau sadar, apa yang telah kau lakukan?" ucap Jonmyeon. Ia memincingkan mata, mengatupkan bibirnya rapat-rapat, menatap Yifan lurus-lurus cukup lama.

"Jonmyeon, apa aku terlihat seperti orang mabuk selama ini?" kedua tangan Yifan melebarkan kedua matanya dan menunjukkan pada Jonmyeon. Seketika itu, laki-laki yang lebih pendek darinya itu menampar kepala Yifan ke belakang.

"Hentikan sikap bodohmu itu."

"Seharusnya kau tak perlu terus-terusan mengalah dengan adik yang bukan adik kandungmu itu." Ujar Yifan dengan nada serius, tidak seperti biasanya.

Plak!

Jonmyeon menampar kepala Yifan kedua kalinya, kali ini lebih keras.

"Diam! Dan jangan katakan itu lagi atau aku akan benar-benar tak mengenalmu!" kata Jonmyeon. Nada bicaranya sudah kembali seperti sedia kala. Lancar, sedikit berpura-pura, dan sulit dipahami maksud yang sesungguhnya.

.

.

"Jadi… aku bukan adik kandungmu, hyung?" lirih seseorang penuh makna yang beberapa saat lalu tak sengaja mendengar percakapan mereka dari balik pintu ruang inap.

.

.

.

A/N :

Beberapa minggu kena writer's block, jadi baru selesaiin kemarin sebenarnya.

Saya selipin cast lain ya biar ceritanya nggak terlalu pokok sama main cast.

Gimana? Kurang greget ya?

Boleh kritik dan saran di kolom review atau PM.

Rate di setiap Chapter saya ganti ya sesuai isi ceritanya.

Terimakasih untuk kalian, yang sudah baca, review, favorite dan follow.

BIG THANKS TO:

Novisaputri09 – Kim Hyun Soo – Junkie – Bapexo – Nadiaa – Dew90 – Guest 1 – Guest 2 – Hyunhyun – Nadia – Guest 3 – Guest 4 – Miyuk – Kaisoo – Ayumkim – Reeeee – Cho Kyuly – Oracle88 – Moetrinie Mole 13 – Sayakanoicinoe – Kimchi - Kamong Jjong - Chotaein816 - Jongkwang - Narayuuki11 -Pikaachuu - Huang Zi Lien - Jung Eunhee – Aldi . Lovey Dovey - Kaysaiko- Eviaquariusgirl - Ayp - Boobearsarang - Anjarw - Gaemcloud347 – Suho . Kim . 5011 - Adilia . Taruni . 7 - Laxyovrds - Shinyeonchal - Lingling Pandabear – Melizwufan Askasufa - Jongin48 – Fanleona - Cute - Flappyixing – Chokailate - Jongin's Wife - Hyemi Kim – Safira - Kihae Forever - Yuki Edogawa - Lucyen – C – Aqua – 1004baekie - Thedolphinduck – Kasuki – Yupijongjong – Zeekai – Leona838 – Sognatorel - Keepbeef Chiken Chubu