Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto.
Warning : Rate M, Hard Yaoi, Bl, Ooc, Au, Typo(s), bagi yang tidak suka, silahkan tekan icon back. Arigatou… ^^
Dunia Yaoi : HikariOzaki Present
Balasan review :
Tapi, sebelumnya arigatou sudah merelakan untuk mereview. Gomen updatenya telat sangat! Sembilan bulan baru update… m(_'_)m
Dako Chan : arigatou. Gomen gak bisa fast update… *nunduk 90 derajat* m(_'_)m
himawari Ichinomiya : iya. Hikari-chan juga boleh, ^^a ini bukan fic pertama, kok, gomen typo(s)nya banyak sangat, saya tidak ada computer/laptop, jadi gak sempet ngedit… #ngeles
Szhoka : yare-yare juga! XD itu apa artinya sih? =="a iya. Kalo nggak dipotong nanti jadi puanjaaaaang banget. Tapi, di chapter 2 ini gak saya potong semua, walau bukan SasuxNaru… gomen, ya… ^,^a
Micon : iya… :') saya suka kok sama SasuxNaru, tapi, mungkin karena saya ini dulu lebih sering buat fic humor, jadi gak PeDe buat fic yang rate M begitu… hehe
_ : banyak banget complain pair… waduw.. maap kalau crack pair… hehe, lain kali gak dipotong deh, ^^a ok! Ini udah update!
Uchiha-namikaze Yui : salam kenal yui-san… ^^ iya, saya usahakan lebih hot di chapter 2 ini. Hehe ^^a
M : arigatou… ^^ ini sudah update…
Ayyuhyuuga : iya. Gak papa. Lain kali log-in ya… #apaansih? Apah? O.O dikau membaca semua fic ku? *sujud2, sembah2 DJ* #plak. Sankyu! XD iya, aku usahain SasuxNaru yang hot. Tapi, gak sekarang…
k'sai : makasih, makasih… XD iya, ini juga lanjut kok… ^^a
yang lain, silahkan lihat di PM masing-masing… ^^ ok! mulai ceritanya!
Play On!
-oo0oo-
Di sebuah Toilet cowok sekolah.
On of Sasuke POV.
"Teme, nanti antar aku pulang, ya… aku takut dengan…"
"Ular brengsek itu?" tanyaku menebak. Naruto menunduk, kemudian mengangguk pelan. "Bakiklah, aku tak akan membiarkan ular brengsek itu mengganggumu," kataku dengan penuh keyakinan. Naruto tersenyum manis. Benar-benar membuat moodku bertambah bagus saja. "Dobe," panggilku dengan penuh gairah dan mendekati Naruto lagi, hendak menciumnya, tapi, tiba-tiba gerakanku dihentikan oleh lengan ramping Naruto.
"Ja-jangan, Teme… sakit…" rintihnya memelas hampir menangis.
Aku terdiam. Berusaha menahan keinginanku. "Baiklah, cepat pakai seragammu, anak-anak pasti sudah pulang." kataku tersenyum kecil. Naruto mengangguk, dan segera memakai seragamnya.
Yah, sejak tadi pagi sampai kelas usai, aku dan Naruto bermain nafsu di Toilet.
"Teme…" bisiknya tiba-tiba.
"Ya? Ada apa, Dobe?" tanyaku menatap lekat pada safir Naruto, kembali kurasakan moodku untuk menidurinya menggebu-gebu di dadaku.
"Sakit…" ucapnya memelas.
"Mananya yang sakit?" tanyaku perhatian. Naruto menunjukkan pantatnya yang memang sejak tadi pagi menjadi sasaran nafsuku. Aku tersenyum melihatnya. "Kenapa tersenyum, Teme? Sakit, tau!" katanya ngambek, menggembungkan pipi tembemnya. Kami-sama! Dia imut sekali…
"Iya. Baiklah, ayo naik," ucapku merendahkan tubuh dan dengan senang hati, Naruto pun naik ke punggungku.
"Gendong aku sampai rumah," pintanya tersenyum nakal.
"Baiklah, tapi setelah sampai rumah, biarkan aku menginap," tantangku dengan senyum omes yang mulai terkembang. Naruto menggembungkan kedua pipinya lagi.
"Teme mesum," ujarnya menggelitiki tubuhku. Tapi, percuma saja, aku tak merasa geli sedikitpun, karena setiap hari juga aku selalu menjadi sasaran gelitikannya.
"Hahaha!" tawaku nista. "Cepat, pegangan yang erat," kataku dengan bosan. Dan Naruto pun langsung memelukku dengan sangat erat. Astaga! Aku nyaris tak bias bernafas dibuatnya…
Kugendong dia keluar Toilet, melewati lorong-lorong kelas yang sudah sepi sampai di depan gerbang sekolah. Kulihat sebuah mobil Nissan Juke hitam melegam menungguku. Aku tahu siapa yang ada di dalam sana. Aku segera menghampiri mobil tersebut, sebelum sebuah suara jelek memanggil namaku yang agung.
"SASUKE~!" panggilnya. Aku menoleh ke belakang. Kulihat seorang anak sebaya denganku. Mata violetnya menerawang ke arahku. Suaranya yang cempreng membuatku muak mendengarnya.
"Sasuke~!" panggilnya lagi, makin mendekat menghampiriku.
"Apa?" tanyaku dengan ketus.
"Aku mau ikut pulang. Boleh, ya? Ya? Ya?" pintanya dengan bling bling memenuhi ruang wajahnya.
HOEK
Aku benar-benar ingin muntah.
"Ogah!" tolakku cuek dan kembali berjalan.
"Tapi, hari ini Itachi-san memanggilku…" ucapnya lagi dengan memelas. Aku menghela nafas panjang.
"Baiklah," kataku dengan bosan yang akhirnya mengijinkannya, itu karena dia bilang kakakku, Itachi Uchiha yang memintanya. Dia langsung mengekor di belakangku.
"Oe? Naru-chan? Kenapa digendong begitu?" tanyanya heran mengangkat sebelah alisnya.
"A-aku sa-" Naruto gelagapan.
"Bukan urusanmu!" tukasku cepat.
"Aih~ aih~ Sasuke galak sekali~" ucapnya dengan nada genit yang dibuat-buat. Aku makin muak mendengarnya.
Kubuka pintu mobil depan. "Aniki, apa kau ada uruan dengan anak ini?" tanyaku mengintrogasi kakakku sambil menoleh kearah anak yang sedang berdiri di sampingku.
"Itachi-saaaaaaan~!" teriak anak itu tiba-tiba langsung nyolot mendorongku, hampir saja aku menjatuhkan tubuh Naruto yang tengah aku gendong. Sialan! Umpatku dalam hati.
Saat kulihat, kakakku nampak tersenyum ketika bertemu pandang dengan anak tadi.
"Hai, Sui-chan," ucapnya tenang.
Aku cemberut melihatnya.
Kenapa, sih? Kakakku mau sama anak bergigi tajam ini? Apa karena mengingatkannya pada Kisame-senpai? Benar-benar sangat menyebalkan.
Aku segera membuka pintu pintu mobil depan lebih lebar, maksud hati ingin mendorong si Gigi tajam ini masuk kedalam. Namun, gerakanku terhenti oleh suara kakakku.
"Tidak, Sasuke," ucapnya tiba-tiba. "Sasuke, biarkan Sui-chan duduk di belakang, bersamaku." lanjutnya.
"Hah?" aku cengang mendengarnya. " Lalu, siapa yang nyetir?" tanyaku mulai panik disertai kaget. Nampaknya Naruto pun cekikikan mendengar ekspresi kagetku, dasar, Dobe.
"Kau. Kau menyetir di depan bersama dengan Naru-chan," jawabnya seenteng mengangkat jari. Dia pun langsung keluar dari mobil dan menarik Suigetsu masuk ke kursi belakang.
Aku kembali menghela nafas panjang. Naruto terdiam memelukku dari belakang. "Te-Teme…" bisiknya pelan nan lembut, mengalun indah di telingaku. Aku tahu kalau dia mencemaskanku yang hampir ngamuk, karena aku dan dia tidak bisa bersama-sama duduk di belakang. Yah, kalian pasti tau kan enaknya duduk di belakang, bisa melalukan segala sesuatu dengan lebih leluasa, itu maksudku.
Aku bersumpah, suatu saat akan menggantung si Gigi tajam itu ke tiang gantungan. Okey, jangan anggap serius kata-kataku tadi, tapi, mungkin saja itu benar-benar terjadi jika ada kesempatan tentunya.
Kembali kuturunkan Naruto perlahan masuk ke dalam mobil. Kututup pintu mobil, dan aku pun segera menyusul masuk lewat pintu yang satunya.
-oo0oo-
Beberapa menit berlalu…
"Ahh… I-Itachi-san… enh… hmhh… Itachi-san… pelan-pelan…" desah Suigetsu memenuhi ruangan mobil. Aku berusaha tak menghiraukannya dan tetap menyetir dengan tenang.
"Hah… enhhh… nhh… jangan di situ Itachi-san…" erangnya makin keras. Aku mulai bosan mendengarnya. Naruto pun juga menjadi enggan untuk menoleh ke arahku.
"Akh! Itachi-saaan! I-Itaaaiii~!"
"Woy! Bisa diam ga sih!" bentakku tiba-tiba menoleh ke belakang, memberikan mereka yang duduk di belakang sebuah tatapan tajam. Tampak olehku, Suigetsu dan kakakku cengang mematung.
"TE-TEMEEE! AWAAASSS! ADA MOBIIILL!" jerit Naruto tiba-tiba menarik bajuku, aku langsung kembali fokus ke depan, dan kembali mengemudi. Tadi nyaris bertabrakan dengan sebuah Bus. Pasti si sopir bus sekarang sedang mencak-mencak.
Dan, benarlah, saat kutengokkan kepalaku keluar jendela mobil. Nampak seorang pria dengan semangat muda yang menggelora bersama dengan muridnya yang manis, namun juga norak, melempari mobilku dengan buah jeruk. Satu, hampir mengenai wajah gantengku, untung meleset beberapa inci. Aku terkekeh melihat mereka.
"Itachi-san, aku berisik, ya…" ucap Suigetsu lirih sambil menundukkan kepala. Kakakku hanya tersenyum simpul memandangnya. Aku dapat dengan jelas melihat ekspresi mereka berdua lewat kaca mobil yang ada di depanku, begitu pula Naruto, namun, dia terlalu enggan untuk menyaksikannya.
"Tidak, kok. Sui-chan tidak berisik, ataupun mengganggu, Sasuke memang terkadang sensi jika melihat orang lain bermesraan." balas Kakakku dengan senyuman tipis.
Aku tersinggung mendengar ucapannya. "Heh, kalau hanya potong kuku, tidak perlu sampai berteriak-teriak begitu, tau! Lebay!" tukasku kesal.
Bisa kalian bayangkan sendiri, kan? Masa hanya memotong kuku saja sampai berteriak histeris begitu? Benar-benar bikin esmosi, gerutuku kesal.
"Sasuke? Kenapa belok di sini?" tanya Kakakku berusaha mengalihkan perhatian.
"Aku mau antar Naruto dulu," jawabku ketus, sebenarnya dia sudah tau kenapa aku belok, dasar…
"Hmm…" Itachi tampak mengangguk pelan, seolah dia baru tahu dimana letak rumah Naruto.
"Te-teme…" ucap Naruto pelan. Wajahnya terlihat sangat manis dan lembut di mataku, membuat gairahku mulai menderu-deru lagi. Tapi, aku harus menahannya, mana mungkin seorang Sasuke Uchiha melakukan hal seperti itu didepan orang lain, apalagi Kakakku dan si Gigi tajam ini.
Beberapa menit kemudian, kuhentikan laju mobil.
"Sudah sampai?" tanya Suigetsu pelan. Aku tak menghiraukannya. Naruto segera membuka pintu mobil dan berlari ke rumahnya yang tak begitu besar, sederhana menurutku.
"Ah, Dobe!" panggilku tiba-tiba. Naruto berhenti berlari dan menoleh kearahku.
"Ada apa Teme?" tanyanya bingung.
"Jangan lupa makan dan mandi," ucapku staycool.
"I-iya, Teme," balas Naruto tersenyum manis.
"Lalu…" kataku lagi. Naruto terdiam.
"Lalu apa Teme?" tanyanya lagi tampak tak mengerti.
"Lalu jangan lupa SMS aku nanti malam," lanjutku kemudian.
"I-iya!" balasnya dengan senyuman lucu dan sedikit rona merah di kedua pipi tan-nya. Kemudian dia mulai berlari masuk ke dalam rumahnya. Aku pun segera melanjukan kembali mobilku.
"Sasuke-"
"Aku tahu," potongku. Kakakku hanya tersenyum. Aku tahu kalau dia tadi mau bilang untuk jangan lupa mengantar Suigetsu pulang dulu. Cih, menyebalkan.
Kulajukan mobil perlahan. Sementara, di belakang sana, Kakakku mulai bermain lidah dengan si Gigi tajam. Desahannya benar-benar membuatku terganggu.
Tak beberapa lama, tiba-tiba kuhentikan laju mobil dengan sangat keras. Kakakku dan Suigetsu nyaris tersungkur karena terlalu sibuk dengan permainan mereka. Dalam hati aku tertawa puas.
"A… aduh, Sasuke, bisakah-"
"Udah sampai," potongku kesal.
Kulihat Suigetsu menengokkan kepalanya ke luar jendela mobil. Yah, itu rumahnya. Dia tersenyum.
"Itachi-san, aku pulang dulu, yah," ucap Suigetsu seraya turun dari mobil. Itachi menarik tangannya sebelum Suigetsu menjauh. Ia menarik Suigetsu ke dalam pelukannya. Menghimpit tubuh mungil Suigetsu dengan kedua kakinya, kemudian meluncurkan sebuah ciuman panas. Tangannya pun juga masuk ke dalam celana Suigetsu. Aku nyaris muntah melihatnya. Kakak! Kenapa kau begitu bernafsu dengan makhluk nista ini? Geramku dalam hati.
"Ahh… aa… haahh…" Suigetsu tampak kepayahan dengan Kakakku, dan sepertinya Kakakku juga merasa kasihan pada Suigetsu. Ia melepas pelukannya dari si Gigi tajam itu.
"Bye, Sui-chan…" ucap Kakakku dengan genit. Ia melambai-lambaikan tangannya pada Suigetsu yang mulai jauh.
SINTING! Batinku kesal.
Kembali melanjutkan perjalanan.
Beberapa menit kemudian, kuhentikan laju mobil di sebuah rumah mewah. Yah, itu adalah rumahku. Aku tinggal di sana bersama Kakakku dan seorang laki-laki sinting. Ingin tahu? Silahkan masuk saja bersamaku
Aku menyalakan klakson mobil dan seorang penjaga gerbang bernama Obito membukakan pintu gerbang. Segera kubawa mobil ke dalam dengan sembarangan, lalu aku pun keluar.
"Bawakan mobilnya!" perintahku melemparkan kunci mobil ke arah Obito.
"Baiklah, Tuan Muda," jawabnya dengan sopan.
Kakakku pun keluar mobil dengan ekspresi tenang. Fuh, berbeda sekali saat ia bersama Suigetsu, ck.
"Aku pulaaang!" ucapku membuka pintu rumah. Seseorang pria tiba-tiba bertepuk tangan untuk menyambut kedatanganku.
"Selamat datang, Sasu-chan!" teriaknya genit. "Mana Itachi-ku?" tanyanya melihat ke belakangku. Saat dia melihat Kakakku, dia langsung memeluk Kakakku, mengendus tubuh kakakku dari atas sampai bawah.
"Bau Itachi-ku wangi…" ujarnya sambil terus menciumi leher Kakakku.
"Benarkah?" tanya Kakakku tak percaya, tetap dengan ekspresi datar.
"Iya." jawab lelaki itu manis.
Tiba-tiba Kakakku membuka baju pria itu, yang dibuka hanya menurut dengan parah. Setelah itu, Kakakku memasukkan salah satu kakinya di antara selakangan pria itu dan menggosoknya perlahan.
"Aaahh…hahhh…" desahnya menikmati gerakan Kakakku.
Sementara, tangan Kakakku mulai meraba tubuh serta memilin nipple kecil kemerahan di dada pria tersebut.
"Erghhmm… arghhh…" erangnya makin menjadi hingga memenuhi rumah.
"MADARA HENTIKAN!" teriakku kesal. Pria tadi memandangku dengan tatapan sayu. Terlihat kalau dia hampir menangis. Tapi, percuma saja. Tatapannya tak akan berguna di hadapanku.
"Madara, ke kamar saja, yuk!" pinta Kakakku sambil memainkan rambut panjang Madara. Madara mengalihkan pandangannya dariku dan berganti menatap Kakakku dengan gairah menggoda.
"Ayo!" katanya. Detik berikutnya, senyuman sudah terkembang di sudut bibirnya dan langsung menarik lengan Kakakku ke kamarnya. Sementara aku ngeloyor ke dapur untuk mengambil makanan. Ini sudah hampir sore, dan perutku sudah seperti balon yang kehabisan udara.
Aku mengambil steak di meja makan yang memang disediakan untukku. Kuambil handphone dari saku, tampak dua pesan masuk. Dari Dobe rupanya. Aku tersenyum saat membaca pesannya.
From : Ramen-Kuning.
Teme, hruzkah aq mmakai 'benda' ini lg? =.="
Aku terkekeh membacanya.
To : Ramen-Kuning.
Tidak usah.
Kembali balasan datang.
From : Ramen-Kuning.
Dattebayo! ^,^/
Aku kembali terkekek sambil menikmati makananku.
-oo0oo-
End of Sasuke POV.
Sementara di kamar Madara.
Itachi menidurkan Madara di kasur dan mulai mendekati bibir Madara. Namun, jari telunjuk Madara menghentikannya.
"Itachi, siapa yang seme?" tanyanya innocent. Itachi tersenyum.
"Tentu saja kamu," jawabnya. Dan saat itu pula, Madara mendorong tubuh Itachi ke belakang. Menyebabkan posisi mereka berbalik.
Madara menurunkan celana Itachi dan langsung memasukkan miliknya.
"Sssshhh… aaahhh…" desahan Itachi mulai mengalun di telinga Madara dengan merdu. Sementara Madara meng-in-out, tangannya mulai menjamah milik Itachi yang biasa masuk dalam mulut Gaara.
"Errgghh…" erang Itachi sekeras mungkin.
Brak!
On of Sasuke POV.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" aku tiba-tiba membuka pintu.
Kulihat Kakakku sudah dimainkan oleh Madara. Ck, decakku kesal. "Bisakah kalian tidak berisik?" tanyaku cuek. Madara mengarahkan telunjuknya kearahku dan menyuruhku untuk mendekatinya. Alisku bertaut tak mengerti. Tapi, aku turuti saja. Aku mendekatinya perlahan. Kulirik Kakakku mendesah heboh. Wajahnya memerah dan kejantanannya menantang.
Glek.
Pertama kali kulihat kakakku dalam kondisi dan pose se-hot itu.
"Buka celanamu Sasu-chan…" ujar Madara sambil menunjuk kearah celanaku.
Akupun menurut. Entah terkena segel apa sampai aku jadi jinak begini. Kulepas celanaku.
"Bekap mulut Itachi-ku agar tidak berisik!" perintahnya member instruksi. Aku pun memposisikan berada di atas kakakku, kusodorkan milikku pada mulutnya.
Perlahan dia mengulum milikku dengan lincah dan gesit. Pintar sekali Kakakku. Batinku terkejut. Hanya dalam hitungan menit, aku nyaris cum karena kocokannya yang kuat. Tapi, langsung kukeluarkan kejantananku, karena milikku hanya untuk Dobe seorang. Kembali kudekati bibir Kakakku dan merasakan lidahnya dalam mulutku. Benar-benar sense yang berbeda dengan Naru-chanku. Ini lebih dewasa dan lebih gesit. Aku nyaris kehilangan kesadaranku sendiri karena terlalu nikmat. Tapi, sebelum kesadaranku hilang sepenuhnya, langsung kulepas ciumanku dan aku pun memakai kembali celanaku.
"Mau kemana Sasu-chan?" tanya Madara.
"Aku hanya milik Naru-chan." jawabku meninggalkan mereka dengan pintu terbanting.
End of Sasuke POV.
Itachi kembali mengerang, merasakan milik Madara yang terus menusuk dalam dirinya makin dalam. Tapi, erangan Itachi tak bertahan lama, karena sekarang bibirnya langsung ganti ditawan oleh ciuman panas dari Madara. Lidah mereka saling bertaut di dalam sana, saliva saling bercampur untuk mengecap rasa nikmat antara satu dengan yang lainnya.
"Ehhmmph… haahh…" Itachi hampir kehilangan kesadarannya dan tanpa sengaja mengeluarkan semennya di tangan Madara.
"Itachi jangan tidur dulu…" bisik Madara mengangkat tubuh Itachi berada di pangkuannya.
"Madara aku ingin mandi," ujar Itachi manja kembali memainkan rambut panjang Madara dengan nakal.
"Baiklah," balas Madara mengangkat tubuh Itachi. Mengeluarkan miliknya dan menggendongnya ke kamar mandi. Madara menurunkan Itachi dalam bak mandi yang sudah terisi air sebelumnya dan menyalakan shower yang ada di atas bak. Air shower perlahan membasahi tubuh mereka berdua yang entah sejak kapan sudah tanpa busana.
Madara kembali menyentuh bibir Itachi dengan lidahnya. Masuk ke dalam dan melumatnya, sementara Itachi mulai menggerakkan tangannya. Menelusuri setiap inci tubuh Madara, merasakan setiap tonjolan yang dimiliki semenya.
Madara melepaskan ciumannya, tangannya yang bebas meraih sebuah botol shampoo dan membuka tutup segelnya. Ia menuangkan semua shampoo pada rambut Itachi. Satu botol shampoo! Kemudian menggosok rambut hitam Itachi hingga busa memenuhi kepala Itachi.
Kembali Madara menciumi dada, terus ke atas hingga mencapai bibir Itachi. Kemudian mengangkat tubuhnya hingga posisi Itachi di atasnya. Ia membelai bagian bawah Itachi, menggunakan kakinya untuk membuka selakangan Itachi lebih lebar. Menjamah kembali rektum Itachi dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya mengambil sebuah benda yang tak asing dia gunakan untuk bermain-main dengan Itachi. Sebuah vibrator panjang yang memang sudah ia taruh dalam bak mandi sebelumnya. Ia membuka paksa rektum Itachi dan langsung memasukkan alat tersebut . Madara kembali meraih sebuah remote control untuk mengendalikan getaran alat tersebut.
"Arrgghh.. akkhh… nhh…" terdengar erangan Itachi menggema di seluruh ruangan. Membuat Sasuke merinding malam itu.
-oo0oo-
Pagi pukul 06.30 Naruto sudah berdiri di depan rumahnya. Hari ini Sasuke akan datang seperti biasa dengan motornya, dia akan menjemput Naruto untuk berangkat sekolah bersama, dan di saat seperti inilah yang dinantikan oleh Naruto. Karena dia bisa dengan erat memeluk tubuh jangkung Sasuke yang hangat dan nyaman. Ia tak sabar menantikan kedatangan Sasuke, bahkan kadang tersenyum-senyum sendirian.
Bruuuum
Tiba-tiba sebuah mobil hitam berkilau menghampiri Naruto. Tak biasanya menjemput dengan mobil? Pikir Naruto heran.
Seorang cowok keluar dari mobil itu, berbaju hitam, berlengan dan celana pendek, memakai topi yang menutup setengah matanya. Dari gayanya terlihat seperti anak punk. Tapi, agak mencurigakan. Cowok tadi berdiri di hadapan Naruto.
"Kau itu denganku." ucapnya singkat dan langsung menarik paksa lengan Naruto. Naruto berusaha mengelak.
"Si-siapa kau? Lepaskan aku!" teriaknya meronta. Namun, cowok tadi malah menarik makin kuat dan langsung menyeret Naruto ke dalam mobil di kursi belakang. Dia kemudian juga masuk.
"Yo! Kita sudah dapatkan dia! Cepat tancap gas!" teriakknya memerintah.
"Kau cerewet sekali!" bentak seorang cewek berambut pink panjang yang menyetir mobil. Ia kemudian langsung tancap gas.
"Pelan-pelan Tayuya, kau ini perempuan, ingat itu," nasehat Jiroubo yang duduk di sebelah Tayuya.
"Cih," decaknya kesal.
Sementara dibelakang duduk tiga orang cowok ditambah dengan Naruto yang desak-desakan.
"Wah, jadi ini anak yang diminta Master?" ucap seorang cowok lain mencengkeram dagu Naruto.
"Siapa kalian!" teriak Naruto mengelak.
"Tak usah banyak bacot, bocah!" bentak cowok tadi tak terima dan menjambak rambut Naruto.
"Hey, Sakon, hati-hati, dia sudah dipesan Master, lho! Lecet sedikit, kau hanya tinggal nama," sela seorang cowok berpakaian hitam tadi.
"Tenang saja Kidoumaru, aku tak melakukan hal diluar batas, kok, " elak Sakon membela diri.
"Melakukan diluar batas juga boleh, kok," potong seorang cowok yang lain. "Nah, kalo sama kak Ukon baru kau boleh bicara begitu," timpal Sakon semangat.
"Kalau dilihat, anak ini lumayan juga, lho, pantes Master tertarik padanya." Ukon mulai mengamati tubuh ramping Naruto dengan seksama. Dia menarik celana Naruto dan melepasnya perlahan dengan penuh perasaan.
"Oeh? Kak Ukon! Apa yang kau lakukan?" Sakon mulai protes.
"Aku hanya melepas celananya saja…" Ukon membela diri dengan polosnya.
"LEPASKAN AKUU!" teriak Naruto tak mau ketinggalan, dia meronta-ronta bagai Bison terbang (?).
"Hey, Nak! Bisakah kalian bertiga menyumpal mulut bocah itu!" Tayuya mulai badmood. Ia menyetir sembarangan sampai hampir menyerempet nenek-nenek yang naik vespa. Belakangan ini diketahui, bahwa nenek tersebut bernama Tsunade.
"Baiklah, Tayuya, jika itu perintahmu." Sakon tersenyum omes dan membuka celananya sendiri. Terlihat miliknya yang panjang nan menawan dihadapan wajah Naruto. Ia cuma bisa cengang serta syok karena hanya milik Sasuke yang selalu ada dipandangannya selama ini.
Benda itu langsung di sodorkan pada mulut Naruto untuk mendapatkan hisapan nikmat. Tapi, tak semudah itu untuk menaklukkan bocah kyuubi, ia tentu saja mengelak. Namun, sayangnya perlawanan Naruto gagal karena dibawah sana Kidoumaru menelusupkan tangannya ke dalam celana Naruto, memilin pelan milik Naruto. Mengakibatkan bocah blonde itu mengerang pelan dan 'barang' Sakon langsung masuk menerobos bibir merah Naruto.
(Nb : agak membingungkan, tp semoga saja bisa diterima reader).
"Ahh.." Sakon mulai mendesah nikmat.
"Wah, wah, jangan main-main Kidoumaru, cepat lepas celananya dalamnya!" perintah Ukon sok jadi bos seraya melepaskan celananya sendiri.
"Hmm… punya Ukon lebih kecil dari milik Sakon." ucap Kidoumaru mengamati dan PLAK.
Pipi kanan Kidoumaru langsung bengkak.
"Kak Ukon tega sekali…" isak Kidoumaru yang mewek mendadak.
"CEREWET!" tukas Ukon mulai kesal.
"Iya, iya." Kidoumaru langsung jinak dan dan melepas celana Naruto yang bergambar teddybear. "Kenapa aku merasa anak ini feminim sekali, ya?" ucap Kidoumaru terheran-heran.
"Peduli amat! Mau feminim, kek, tomboy, kek, bencong, kek, yang penting aseek!" teriak Ukon segera memasukkan miliknya dalam lubang Naruto.
"Nhhh… hhh…" Naruto mendesah dan mengulum kejantanan Sakon yang ada di mulutnya makin dalam.
Di bawah sana, tampak Ukon mulai memaju-mundurkan gerakkannya
"Ahh… Nikmat sekali…" desahnya mendalami.
"Makhluk-makhluk menjijikkan yang suka sesame jenis, cih!" Tayuya mendecak kesal.
"Lalu bagaimana dengan hubunganmu dengan si cewek Suna itu?" tanya Jirobou. Spontan Tayuya langsung menendang kaki Jirobou hingga mengaduh kesakitan.
"Brengsek!" Tayuya misuh-misuh karena disangkut-pautkan dengan Temari yang merupakan kekasihnya.
"Hei, jalang, lakukan dengan lebih serius…" ucap Sakon kurang puas. Ia menjambak rambut pirang Naruto dan memaju mundurkan kepala mungil Naruto yang mengulum kejantanannya dengan cepat.
"Uhmm… mmpphh…" Naruto kehabisan napas.
Sementara Ukon dan Kidoumaru juga tak ketinggalan. Ukon memainkan miliknya dalam lubang Naruto.
"Semppitt…" bisiknya agak kepayahan, sedangkan Kidoumaru memilin perlahan nipple kecil di dada Naruto hingga mengeras. Membuat pemiliknya begitu cepat merasakan nikmatnya surga dunia terlarang ini. Beralih ke bagian bawah, ia juga memijat dan meremas milik Naruto.
Mereka terus mempermainkan tubuh mungil Naruto. Entah apa yang akan mereka alami jika sampai 'Master' mereka mengetahui hal tersebut.
-oo0oo-
On of Sasuke POV
TOK TOK TOK
"Permisi," ucapku mengetuk sebuah pintu rumah Naruto. "Hallow! Naru-chan! Aku datang menjemputmu, nih!" lanjutku lagi.
Ckleeek
Terdengar pintu dibuka dari dalam. Seseorang berambut blonde panjang terlihat keluar dengan tampang kusam. Sepertinya baru bangun tidur.
"Naru, kan sudah berangkat tadi pagi," ucapnya mengucek-ucek mata safirnya, lalu menatap ke arahku setelah matanya benar-benar terbuka.
"Sasu-chaaaan!" teriaknya kesurupan, langsung memelukku dengan sangat erat.
Kalian pasti bingung, dia ini kakaknya Naruto agak mirip, sih, tapi yang ini rambutnya panjang. Namanya-
"Dei? Kenapa kau teriak-teriak begitu? Siapa di luar?" tiba-tiba muncul seorang cowok yang sepertinya baru pertama kulihat. Rambutnya merah dan tatapannya tajam. Tubuhnya mungil, hampir semungil Naruto tapi, dia lebih tinggi sedikit dan lebih cute dari Dobe.
"Danna?" Deidara menoleh ke arah cowok tadi. "Perkenalkan, ini Sasuke, pacar Naru yang aku ceritakan tadi," jelas Deidara memamerkanku ke arah cowok tadi sambil memelukku.
"Hn. Kenalin, gua Sasori. Pacarnya Dei." ujar cowok tadi sembari menarik Deidara yang memelukku. Dia menatap tajam ke arahku. Cih, padahal kan Dei sendiri yang memelukku, malah aku yang dibegitukan!
"Salam kenal juga Sasori-san," ucapku sok manis.
"Yah, seperti yang kau ketahui, Naruto-chan sudah berangkat sejak tadi. Memang kau tidak bersamanya?" tanya Sasori heran sambil menarik kepala Deidara ke dada bidangnya.
"Danna? A-ada Sasuke-chan…" protes Deidara dengan rona merah yang mulai terkembang di pipinya. Tanpa banyak bicara, Sasori langsung membekap bibir Deidara dengan ciumannya. Di depanku? Yang benar saja! Dasar!
Aku bergegas meninggalkan mereka setelah mengucapkan 'Arigatou'.
Perasaan cemas mulai menyelimutiku, kunaiki motorku dan melaju menuju sekolah. Kebetulan aku bertemu dengan Sai di luar gerbang sedang ngobrol dengan err… si gigi tajam Suigetsu.
"Sai!" panggilku dari kejauhan.
Tampak Sai menolehkearahku. "Sasuke?" katanya heran. "Kau tak bersama Naruto?" tanyanya. Sekarang giliranku yang heran.
"Memangnya Naru belum sampai?" tanyaku balik.
"Belum," jawab Sai singkat. Sedikit semburat kecemasan terpapang di muka pucatnnya.
Kembali kunyalakan motorku, Sai menepuk pundakku.
"Aku ikut." ucapnya dengan penuh keyakinan. Aku tersenyum.
"Naiklah." kataku menoleh kebelakang. Tanpa buang waktu langsung kutancap gas motorku dan kami pun melesat. Terdengar samar teriakan Suigetsu yang ditinggal sendirian.
"Sai! Bagaimana dengan lanjutan trigonometrinya!" teriaknya menggema.
Aku dan Sai mulai mencari Naruto di tempat pak Teuchi, penjual ramen kesukaan Dobe. Tidak ada! Pemandian air panas. Tidak ada! Rumah Jiraiya-sama. Tidak ada! Game center. Tidak ada! Warnet, toko buku, taman, semuanya! Tapi, tetap tidak ada!
Kemana kau Dobe? Tanyaku dalam hati.
TBC
wanna be review? Saya tunggu di kotak review, karena itu adalah penyemangat hidup saya untuk melanjurkan di chapter selanjutnya. Jaa… ^^
