Naruto © Masashi Kishimoto.
Dunia Yaoi © Shinobi Girl Yaoi.
Warning : Rate M, Hard Yaoi, Bl, Ooc, Au, Typo(s), bagi yang tidak suka, silahkan tekan icon back. Arigatou… ^^
Gomenasai lagi-lagi saya telat update, kali ini alasannya karena ketikan di flash saya kehapus! Oh My Jashin… padahal udah hampir jadi, bayangin aja gwa yang gak punya lappy ato kompu mesti curi-curi waktu ngetik dari awal lagi di warnet… *kaga usah dibayangin, dink*
-oo000oo-
Seharian aku dan Sai berkeliling Konoha untuk mencari Naruto yang raib entah kemana, namun nihil! Dia tak ada di mana pun! Astaga, Dobe! Dimana kau? Pusingku.
"Sasuke, ini sudah hampir sore," ujar Sai sembari menepuk punggungku yang tengah sibuk mengendarai motor.
Aku mengangguk dan menghela napas panjang. Kupandangi langit mulai memerah kekuningan.
"Dobe..." desahku.
End of Sasuke POV.
Di sebuah ruangan gelap, tepatnya di sebuah gudang persenjataan karena banyak senjata yang terpapang di sana.
"Kami sudah mendapatkannya."
Satu suara memecah keheningan gudang remang-remang itu. Tampak di sudut ruangan itu beberapa tikus mencicit kesana-kemari.
"Sakon..." Lawan bicaranya mulai angkat suara. Sesosok pucat mendekat ke arah orang yang dipanggilnya sebagai 'Sakon' tadi. "Perlihatkan padaku." lanjutnya tenang.
"Apa kau tidak bisa mempercayai kami!" teriak suara lain dari belakang Sakon. Suara nyaring dari bibir seorang wanita berambut merah panjang sepinggang, Tayuya. Brown eyesnya berkilat menatap tajam pada sepasang emerald dingin di hadapannya.
"Hanya memastikan." ujar pemilik emerald itu tenang.
TREK
Sebuah senapan type x-76A teracung dengan berani tepat di hadapan kepala Sakon. "Perlihatkan!" perintahnya tegas.
"Kidoumaru, bawa dia kemari!" suruh Sakon pada seorang lelaki berpupil hitam malam yang sedari tadi berdiri di belakangnya.
"Tapi-!"
"Hentikan ocehanmu, Tayuya!" bentak Sakon memperlihatkan tatapan tajamnya, namun sesungguhnya dibalik ketajaman tatapannya itu tersirat ketakutan yang teramat sangat ketika ia harus berhadapan dengan pemilik emerald tersebut.
Dia merasakan hawa membunuh pekat bila bertatapan dengan pria pucat itu. Ketenangan yang dia tunjukkan tak menutup keselamatan Sakon dan teman-temannya. Jika dia berselera, mungkin saja mereka berlima langsung tewas hanya dengan sekali kedip. Dialah senjata tempur terhebat, terkuat, tak terkalahkan. Setidaknya itu yang ada di benak Sakon.
Kimimaro. Pria pucat itu mengamati secara seksama dan keseluruhan sesosok mungil yang tengah pingsan dalam gendongan Kidoumaru, hingga pria pemilik emerald itu mampu menghilangkan keraguannya pada sekelompok pecundang di hadapannya.
"Kali ini kalian benar,"
Kelima orang di depan Kimimaro menghela napas lega.
Ctak.
Kimimaro menjentikkan jari telunjuk dan ibu jarinya, kemudian muncul seorang wanita berambut keunguan. Guren. Wanita cantik pemakai kimono kamelia putih itu tersenyum licik, lalu mengambil alih sesosok pirang dari gendongan Kidoumaru.
"Baik, transaksi sukses, dan kami bisa dapatkan uangnya, kan?" seringai Sakon puas.
"Uang?"
Tampak Kimimaro menautkan alisnya dan kemudian membalikkan badannya, tak peduli dengan pertanyaan Sakon. Dia melangkah pergi meninggalkan kelima orang tadi.
"Hei! Kimi-!"
Dziing
DOOR!
Sebuah peluru melesat menembus dada pemuda berambut keunguan sebahu bernama Sakon tersebut, tepat di jantungnya.
BRUUKK!
Keempat temannya sekonyong-konyong menarik pelatuk ke tangan mereka masing-masing.
"Kimimaro! Beraninya kau menembak adik-!"
DOOR DOOR DOOR!
Lagi-lagi anak peluru melesat dengan cepat berasal dari belakang Kimimaro yang selalu waspada menembakkan senapannya. Guren. Begitu anggunnya mengarahkan pistol ramping nya ke arah Ukon yang cerewet. Kini sosoknya telah memiliki tiga lubang di dahi , dan kedua pipinya.
BRUUUKKKK
Sosoknya tak lagi terlihat kokoh. Guren menampakkan seringai puasnya seraya menjilat bibir kemerahannya.
Diam tercekat. Kidoumaru tak dapat menggerakkan tubuhnya karena terlalu syok melihat kejadian ini. Sekarang mata senapan Kimimaro teracung tegak ke arah pemuda bernama Kidoumaru itu. Mata emerald kosongnya, kini terlihat begitu liar memilih sasaran dari tubuh mangsanya. Kidoumaru hanya dapat terbelalak dan berusaha mengeluarkan sejuta rayuan agar ia tak harus bergesekan dengan peluru-peluru panas itu. Namun sayang, dia terlambat.
Tangan - DOOR! - "ARRGGGHHHH!".
Kaki - DOOR DOOR! - BRUUKKK.
Kidoumaru terjatuh tak bedaya. "To... Long..." suara serak paraunya memenuhi gudang remang itu. Bau amis darah mulai bercampur dengan udara sekitar.
Tayuya segera melayangkan peluru pistolnya ke arah pemuda bernama Kimimaro itu, namun pemuda pucat itu langsung menghindar tanpa mengalami kesulitan.
DOOR! DOOR! DOOR!
Kalap. Tayuya menembak membabi buta ke segala arah tanpa ada yang mengenai sasaran hingga anak pelurunya habis. Ia tetap tak dapat menghentikan malaikat kematian yang tengah mengacungkan senapannya ke arah kepala Kidoumaru.
"Ki... Kimi... Kimima-"
DOOR!
BRUUKKK!
Tiga orang tewas seketika itu juga. Tayuya bergetar.
BRUUUKKK
Kakinya gemetaran dan akhirnya tidak mampu lagi untuk menopang tubuhnya. Kimimaro berjalan dengan tenang saraya membersihkan wajahnya dari bercak darah milik almarhum Kidoumaru. Matanya sekali lagi berkilat binal ke arah wanita berambut merah tak berdaya itu. Ia berjongkok tepat di hadapan Tayuya, sekilas seringainya terlihat tidak senang melihat wanita tak berdaya di hadapannya. Ingin dia menguliti kulit putih mulus wanita itu, kemudian membuat sebuah souvenir untuk kematian ketiga temannya.
"Sayang sekali, teman-teman busukmu harus mengotori markas kami, tapi itu hukuman yang pantas bagi mereka yang sudah berani menentang perintah Master..."
Perlahan, tangan dingin pemuda itu merayap, dan akhirnya mencengkeram kuat kedua tangan Tayuya.
"Jemari yang indah..." ujarnya meneliti jemari ramping Tayuya dengan seksama. "Aku dengar kau suka memainkan seruling untuk kekasihmu di Suna, ya?"
Tayuya tercekat. Suaranya tak dapat lagi keluar. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga rasanya ingin meloncat ke luar dari dadanya.
"Kapan terakhir kali kau memainkan seruling untuk kekasihmu itu?"
Masih terdiam. Tayuya hanya bisa melihat kegelapan merayap di sekujur tubuh dan suara detak jantungnya yang semakin buas. Semua terlihat begitu mengejutkan bagi Tayuya.
"Kimimaro, aku pergi dulu," potong Guren tersenyum imut, kemudian wanita itu pergi keluar gudang melalui pintu belakang.
Kimimaro tetap tidak merespon. Matanya makin binal memandang sosok Tayuya yang kini tak berdaya.
"Aku punya hadiah untukmu, manis..." ujarnya membelai lembut uraian merah panjang wanita Oto tersebut.
Tiba-tiba saja perasaan Tayuya tak enak. Sudah amat lama ia tak merasakan feelling seperti ini. Apa gerangan yang akan terjadi padanya? Akankah ia mati di tempat seperti ini? Paling tidak, dia bahkan belum mengucapkan selamat tinggal pada kekasihnya, Temari. Padahal, dia sudah berjanji akan menikahinya setelah misi ini sukses. Namun sayangnya, takdir harus berkata lain. Hubungan mereka sungguh tak akan dapat ia pertahankan lagi.
Ketika Tayuya tengah kalut dalam spekulasi buruk di otaknya, lagi, tiba-tiba sesuatu yang besar, entah apapun itu, yang jelas ukurannya begitu jumbo. Besarnya nyaris setinggi gudang remang tempat mereka berada. Suatu kotak bening turun dari langit-langit gudang lalu langsung terbuka. Menurunkan benda itu tepat di hadapan Kimimaro dan gadis bernama Tayuya itu. Melindas ketiga mayat teman-teman mereka hingga remuk dan hanya menyisakan aliran darah berwarna merah gelap di bawah benda tersebut. Tayuya membelalakkan matanya setelah melihat benda kotak itu tersorot oleh empat buah lampu putih dari masing-masing sudut atas gudang kumuh itu. Menampakkan sesosok wanita tak berdaya, sepertinya pingsan tergantung di atas benda kotak bening itu.
"TEMARIIIII!" jerit gadis berambut merahpanjang ketika sadar bahwa kekasihnya tengah diikat di atas benda kotak itu. Ia segera berdiri dan memacu larinya untuk dapat mencapai benda tersebut.
Terlalu besar! Dan tinggi! Bahkan panjangnya bisa mencapai 17 x 15 meter. Tayuya memukul benda bening terbuat dari kaca itu menggunakan kedua tangannya. Benda itu langsung bergetar. Sesuatu mulai keluar, seekor makhluk bergigi runcing dan tajam, nampak seperti gergaji bergerigi ganda memperlihatkan sosoknya di hadapan Tayuya. Gadis itu mundur beberapa langkah karena syok sekaligus takut.
Beberapa saat kemudian, Tayuya tersadar, setengah dari dalam benda kotak berbentuk seperti akuarium bening itu berisikan air, sedangkan di dalamnya, terlihat beberapa makhluk mengerikan yang biasa kita kenal dengan sebutan 'HIU' yang siap mencabik-cabik daging mangsanya, entah sesama ikan, atau pun tubuh manusia sekali pun. Kembali feeling Tayuya bertambah buruk. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Kimimaro. Pemuda pucat itu kini sudah berada tepat di belakangnya.
"Kimimaro! Cepat lepaskan Temari dari atas sana!" jeritnya tanpa kontrol emosi.
Pemuda berambut silver sebahu itu tersenyum lembut. Sungguh manis di mata Tayuya, tapi tidak sekarang. Baginya senyum Kimimaro terlihat seperti senyum iblis! Pertanda buruk! Bahkan sangat buruk! Kimimaro mengambil sebuah remote dari dalam baju yukata hitam berhias gambar tengkorak putihnya, lalu menekan sebuah tombol merah dari remote itu. Dengan cepat, rantai-rantai yang membelenggu tubuh Temari terlepas sedikit demi sedikit, dan akhirnya...
BYUUURRR!
Tayuya terkejut. Ia menengokkan lagi kepalanya kembali ke arah kekasihnya. Tubuh lemah wanita itu terjatuh ke dalam air. Tayuya melihat, tubuh ramping wanita yang selalu disentuhnya itu kini sudah lebam penuh luka bekas pukulan dan goresan benda tajam. Ditambah lagi keadaanya tanpa mengenakan seutas benang melilit di tubuhnya. Ia seperti daging steak untuk makan malam bagi makhluk-makhluk buas di dalam sana. Belum ada lima menit berlalu, darah segar sudah tergenang di permukaan air dalam akuarium raksasa itu. Menampakkan beberapa hiu yang sudah selesai mengoyak daging wanita pujaan hati Tayuya.
"TIDAAAAAAAKKKKKK!" jerit Tayuya kalap.
Matanya terpejam erat, berharap semua ini hanyalah mimpi! Ya, mimpi buruk, bahkan terburuk dalam masa hidupnya. Ketika tersadar, air matanya terus mengalir deras melewati pipinya, membanjiri relung hari terdalamnya. Ia serasa sudah tidak sanggup lagi berada di dunia kejam ini tanpa kehadiran berusaha berdiri, menyambar pistolnya yang tergeletak di lantai tempatnya berdiri. Tayuya mengarahkan mata senapan ke kepalanya, lalu menarik pelatuknya cepat.
Trek trek trek...
Baru ia sadari bahwa senjata satu-satunya itu sudah kehabisan peluru beberapa saat yang lalu. Ia melirik tajam ke arah Kimimaro. Tangan terampilnya sekali lagi menyambar senapan. Kali ini senapan Kimimaro telah raib berpindah tangan ke tangan lembut Tayuya.
"Hahaha... Temari-Chan... Aku akan segera menyusulmu di sana..." tawa renyahnya kian menjadi.
Ia mengacungkan senapan kimimaro ke kepalanya, lalu menarik pelatuknya. Tayuya sudah siap memejamkan matanya untuk pergi ke alam sana.
TREK.
Hening...
Tak ada perubahan.
Sekali lagi, Tayuya menarik pelatuk senapan kelam itu.
Trek trek trek!
Masih tetap tidak terjadi apa-apa. Kimimaro terkekeh geli melihatnya.
"Kau buta, ya?" celetuk Kimimaro disela tawanya.
Saat itu baru Tayuya sadari kalau pelatuk milik pemuda pucat itu sudah raib pelurunya.
"ARRGGGHHHH!" jeritnya frustasi.
Gadis cantik berambut merah sepunggung itu depresi berat dan akhirnya mengalami gangguan pada otaknya. Tawa garing wanita Oto itu memenuhi gudang remang tersebut, ditemani dengan suara kecipak air yang diciptakan oleh hewan-hewan buas di dalam akuarium jumbo itu. Kimimaro berbalik, meninggalkannya.
"Sudah kubilang, kan? Lebih baik kau jadi simpananku dari pada bersama si jalang Suna itu," gumamnya.
Langkah kaki pemuda pemilik nama Kaguya itu berhenti tepat di hadapan seorang lelaki gempal berambut orens kabrik, Jiroubo. Ia menjulurkan tangannya, memberikan sebuah koper hitam besar pada Jiroubo yang sebenarnya sudah ketakutan setengah mati. Bahkan celana jeansnya sekarang sudah basah kuyup karena saking takutnya melihat seringaian pemuda emerald itu. Wajahnya langsung berseri saat melihat tangan Kimimaro terjulur kearahnya.
"I… ini…" pria berlemak itu tak sanggup melanjutkan kalimatnya karena terlalu bahagia.
Jadi, yang berhasil menyelesaikan tugas dari 'Master' hanya dia seorang?
Kimimaro berbalik, berjalan meninggalkan Jiroubou yang kini asik tertawa girang, kemudian menyusul Guren yang sudah menaiki helly di luar gudang.
"Kimimaro, lama sekali kau…"
Kimimaro mendesah pelan. Ia memasuki helly dan duduk di samping Guren yang sudah siap untuk meluncur terbang.
"Dasar orang-orang tak punya otak,"
"Hey, hey, tak biasanya kau jadi sekesal itu, Kimimaro."
"Tentu saja. Berani-beraninya mereka menghianati kepercayaan 'Master'. Mereka seperti sampah, tapi…"
"Hmm? Tapi? Tapi apa?"
Wanita cantik itu menautkan alis, menunggu kalimat Kimimaro yang tergantung.
Dalam Gudang
"HAHAHA…" tawa renyah Jiroubo menggema. "Akhirnya.. akhirnya… hanya akulah pemilik uang ini!"
Ia mendelik kearah Tayuya yang ikut tertawa hambar mengikutinya.
"Diam kau wanita jalang!" bentaknya keras.
Wanita berambut merah itu tercengang, lalu tiba-tiba menangis seraya memanggili nama kekasihnya.
"Itu salah kalian sendiri! Salah kalian yang tidak mendengarkan setiap peringatanku! Sekarang rasakan akibatnya! HAHAHA!" Jiroubo memeluk koper hitam jumbo pemberian Kimimaro erat-erat.
Tik tik tik tik tik
Tiba-tiba telinganya menangkap satu suara yang aneh. Ia sedikit bingung. Kemudian, mulai mencermati dan menemukan bahwa asal suara tersebut dari dalam koper yang dibawanya.
"I… ini… ja… jangan- jangan…"
Jiroubo mulai mencerna apa yang sedang terjadi sekarang. Secepat kilat dia membuka koper tersebut dan mendapati sebuah kotak merah dengan sebuah penunjuk waktu . angka sudah menunjukkan empat detik.
"Tiga… dua… satu…"
BLAAAAAARRRR
Kimimaro tersenyum. Ia melihat gudang markasnya sudah ternakar dan hancur lebur dengan bara api serta asap mengepul tebal.
"Kimimaro, kau kejam sekali…" Guren berusaha mencairkan suasana.
"Tapi itu hukuman yang pantas bagi para penghianat Master, cih,"
=0ooo0=
Sasuke POV
"Tsutae nikita yo kizu-pip"
"Moshi-moshi?"
"Sasu-Chan... Naru belum pulang juga, un. Bagaimana ini, un, hiks..."
"Aku akan segera mencarinya..."
"Sungguh, un? Tolong cari dia, Sasu-Chan... hiks..."
"Iya..."
"Baiklah, un.. hiks..."
"Hn..."
"Pip"
Kuhela napas berat, kemudian merebahkan diri di Kasurku. Sial! Dimana kau, Dobe? Batinku frustasi. Sangat gak biasa Dobe berani keluar selama ini tanpaku. Bahkan menghubungi pun, tidak.
"Sasuke, makan malam sudah siap!"
Anikiku yang sewot itu menggedor-gedor pintu kamarku. Apa dia tak punya otak? Dobe hilang begitu saja, mana bisa aku makan disaat seperti ini?
"Aku tak lapar," sahutku cuek, tidur membelakangi kakakku yang sudah berdiri tegak di depan kasurku.
Terdiam sejenak.
"Ah, ada anak yang mencarimu di bawah." ujarnya kemudian. Aku segera terbangun dan menatapnya antusias.
"Siapa? Dobe?"
"Entahlah, lihat saja sendiri."
Secepat kilat aku langsung berdiri menerjangnya hingga keluar kamar. Kemudian menuruni tangga, aku berharap itu Dobe-Chan-ku. Kuharap dia baik-baik saja tanpa luka sedkit pun. Langkah kakiku memelan begitu mendapati orang yang kakakku maksud.
Seorang pemuda berambut panjang, hampir sebaya denganku. Mata lavendernya terlihat begitu binal saat melihat sosokku yang mendekat ke arahnya. SHIT! Kenapa orang brengsek ini yang datang? Batinku kesal. Kenalkan, ini...
"Sasu-Chaaaan! Senang sekali aku bisa melihatmu lagi~ rasanya sudah hampir lima tahun tidak melihatmu seperti kehilangan cahaya hidupku..."
pemuda keturunan Hyuuga itu langsung memelukku tak segan-segan hingga membuatku hampir kehilangan napas. Kenalkan, ini adalah Neji Hyuuga, dia lebih tua satu tahun dariku. Lima tahun yang lalu dia pindah keluar negeri untuk ikut pamannya karena ayahnya meninggal. Aku sangat senang dia bisa hilang dari kehidupanku karena setelah dia pergi, Naruto hadir dalam hidupku. Entah kenapa dia bisa muncul lagi, apalagi di rumahku? SHIT FUCK HELL! Sebenernya dia lumayan jadi idola cewek-cewek di sekolah dulu, hanya satu yang tak kusuka darinya.
Dia...
"Sasu-Chan~! Malam ini aku melamarmu!" ujarya membuatku syook setengah mati.
"Heh, gila, ya! Kau gak punya otak? Mana mung-"
"Aku sudah siapkan pulau untuk bulan madu pertama kita, ups! Maksudku bulan madu kedua kita."
"HAH?" aku makin kehilangan kata-kataku.
"Aku juga sudah siapkan paspor untukmu. Kalau kau mau, kau bisa mengajak Nii-San dan-"
Kubekap mulut Neji yang sepertinya tak bisa ditutup itu. Dia melihatku dengan tatapan kaget. Mata lavendernya makin dekat denganku. Kurasakan tubuh jangkungnya yang memang lebih tinggi dariku beberapa centi mencondong ke arahku.
WTH? Langsung kutendang perutnya hingga mundur beberapa langkah ke belakang. Tubuhnya terantuk sofa dan dia pun terjatuh sambil mengaduh.
"Argghh.. Sasu-Chan... Kau berubah drastis..." desisnya mulai bangun seraya memegangi perutnya.
Aku hanya mendecak kesal sambil memutar bola mataku.
"Lima tahun yang lalu mungkin aku lemah, tapi sekarang ak-"
"Ayo kita ke Clubbing. Ini malam Minggu, lho..."
"A-ap-?"
Tanpa mendengar penjelasanku, cowok menyebalkan ini langsung menyeret tanganku keluar rumah. Disana sudah terpapang motor besar yang sudah dimodifikasi sana sini berwarna keunguan, warna faforit Neji. NORAK!
"Ayo naik." ujarnya seraya menaiki motor kesayangannya.
"Hn,"
Kuambil helm hitam yang ia sodorkan padaku. Huh!
Mendengus. Aku pun membonceng di belakangnya. Agak menjaga jarak dengannya, aku pun duduk agak mundur. Dan rupanya cowok sialan ini menyadari gelagat anehku. Dengan cepat dia menarik tangan kiriku menggunakan tangan kirinya hingga melingkar di perutnya.
"Shit!" decakku kesal.
Kutarik lagi tanganku paksa, namun tangan Neji amat kokoh mencengkeram lenganku. Akibatnya terjadi adu tarik-menarik diantara kami, bahkan motor yang kami kendarai nyaris oleng.
"Neji!" terakku kesal.
Bukanya menurut, bocah Hyuuga itu malah menarik tanganku masuk ke dalam celananya. Tanpa kusadari tiba-tiba tanganku sudah menyentuh sesuatu yang hangat dan mengeras di dalam sana. Sedikit menelan ludah, aku memekik pelan ketika tangannya menggerakkan tanganku dalam posisi menyentuh miliknya naik-turun. Neji mendesah makin keras seiring berjalannya waktu, dan aku mulai muak mendengarnya. Tangan kananku yang sudah gregetan menjambak keras uraian rambut panjangnya. Dia terdongak ke belakang dan mengerang.
"Lepaskan," geramku.
Sekarang Neji menurut, lalu melepaskan cengkraman lenganku. Kutarik cepat tanganku yang bersarang di dalam celananya.
"Sasu-Chan..."
"Hn,"
"Tak bisakah kau bersikap lembut seperti dulu?"
Neji makin menarik gas hingga menyalip sebuah truk di depan kami. Aku pun sampai harus berpegangan jaket kulit hitamnya dan menyandarkan tubuh di punggungnya. Sejenak, aku merasakan hangat. Membuatku teringat ketika dulu Neji mengajakku keliling kota dengan motornya ini. Bau wanginya tak berubah, sifatnya yang ekstrim juga tak berbah.
Huft..
Aku hanya menggeleng pelan di punggungnya. Mana bisa aku bersikap manis saat ini, sementara diluar sana mungkin saja Dobe terjebak di suatu tempat tanpa ada seorang pun yang dapat menyelamatkannya.
Shit!
Lagi-lagi aku merasa kacau. Pemuda Hyuuga itu tiba-tiba memelankan laju motornya. Membuatku tersadar dari kegalauan sesaatku. Kupikir kami sudah tiba di Clubbing, tapi nyatanya Neji malah memutar arah.
"Nej-"
"Kau yakin memilih anak berambut pirang itu ketimbang aku?" tanyanya memotong protes yang mau kuajukan.
Tapi, pertanyaan macam apa itu? Maksudku, aku sama sekali tak pernah cerita apa pun mengenai Dobe, hanya Anikiku yang tahu. Itu berarti...
"Madara yang memberitahuku tadi." ujarnya seolah tahu jalan pikiranku.
"Hah?"
Aku terperajat kaget. Madara? Ukh? Kenapa dia bisa tahu? Aku memang pernah menyebut nama Dobe pada orang sinting itu, tapi kenapa...
"Sasu-Chan... Aku sangat mencintaimu..." ungkap pemuda bermata lavender itu membuatku merinding disko.
Ditambah lagi Neji mempercepat gas motornya, kontan, mau tak mau aku harus berpegangan lagi pada pinggangnya. Oh, shit!
"Aku rindu dirimu Sasu-Chan... rindu akan sentuhan manismu..." lirihnya pelan. Namun, aku cukup jelas mendengarnya .
Meluap. Seperti ada sesuatu yang membakar tubuhku. Panas! Tanpa kusadari, tanganku meremas kuat jaket hitamnya. Sepertinya dia menyadari gerakanku, Neji langsung mempercepat lagi laju motornya. Hembusan angin malam menyapa kami dengan dingin. Beberapa kendaraan lain beroda empat bahkan disalipnya. Kecepatan maximum motornya benar-benar membuatku agak merinding dan takut.
TAKUT?
Hn,
hallow~? Aku masih manusia di Fict ini.
Tak beberapa lama, rem motornya berderak nyaring di telingaku. Tubuhku pun tanpa kontrol menabrak punggung Neji yang ada di hadapanku.
"Kita sudah sampai," ujarnya.
Hanya diam. Suaraku hampir tak dapat keluar dibuatnya. Agak tergetar, kupaksakan kakiku untuk bergerak turun dari motornya. Kubuka helm di kepalaku, lalu kuserahkan pada pemiliknya yang juga sedang menuruni motornya. Pemuda Hyuuga itu tersenyum lembut ketika mata kami saling beradu pandang. Apa? Memang ada yang lucu? Batinku.
Tiba-tiba tangan kekar pemuda Hyuuga itu menyentuh dadaku, dan baru kusadari sedang naik-turun. Suara detakannya begitu keras dan kencang. Apa mungkin karena mentalku kurang kuat sampai terengah tanpa kusadari. Bahkan baru kuketahui di pipiku sudah berlinang tetesan bening ketika Neji menghapusnya menggunakan sapu tangan kremnya.
"Kau takut?" godanya seraya mencolek daguku seenak jidat.
Takut? Memang kenapa?
Kuputar onyx di sepasang mataku. Aku lebih memilih diam, menanggapinya hanya akan menghasilkan kelelahan, ditambah lagi...
KRUUYYUUUUUKKK~
Tanpa tahu adat, perut kebanggaanku bergemuruh. Aku sweatdrop sendiri dibuatnya. Neji tampak menahan tawanya yang hampir meledak. Shit! Ini sangat memalukan! Harusnya aku menurut kata-kata anikiku tadi.
"Jadi, mari tuan Uchiha... Kita masuk-umpfh..." ujarnya memberikan sebelah tangan untuk minta gandenganku dengan wajah masih menahan tawanya.
"Gak usah sok ditahan, sakit perut, tau rasa lu!" gumamku sedikit menggeram.
Aku lebih memilih tak menghiraukannya ketika ia hampir memprotes gumamanku. Kubalik badanku dan melihat sebuah bangunan berlantai tujuh dengan nuansa hitam kelam. Tapi, asal kalian tahu, tempat ini adalah tempat paling populer dan bergengsi di Konohagakure City, Mangekyoushi Sharingan Corporation.
Tempat pabrik sebuah boneka anak-anak. Memang namanya tidak sesuai, namun akan jadi sesuai jika kalian sudah masuk ke dalamnya. Tempat ini adalah tempat para pesolek malam berkeliaran. Tempat musik berdentum kencang, tempat orang-orang stress menghilangkan beban pikiran mereka, tempat minuman beralkohol tersebar bebas bahkan untuk anak balita sekalipun, dan yang paling tak diragukan lagi. Ini adalah tempat obat-obatan bahkan senjata ilegal tersebar luas.
Yah, toko boneka hanya kamungflase, sementara di malam hari tempat ini begitu berbanding terbalik. Pertama kali aku kesini saat berusia sepuluh tahun, ketika Neji mengajakku bersenang-senang dan melewati malam pertama kami. Ekh? Lupakan yang tadi.
Satu hal yang paling mengesankan dari tempat ini, sebuah motto bahwa : "Jika kau senang, maka ambillah sesukamu!"
Perlahan, kakiku menapaki jalan menuju bangunan sepi dan kelihatan tua itu. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu benda hangat menjalar di sebelah tanganku. Saat kutengok, seorang pemuda bermata lavender sudah tegap berada di sebelah kananku. Tangan kirinya menggenggam lembut pada tangan kananku yang mungkin terasa agak dingin karena udara malam.
"Mari bersenang-senang, Sasu-Chan..." bisiknya hampir mendekati telingaku.
End Of Sasuke POV
=OooooOO=
Naruto tersadar, tubuh mungilnya menggeliat pelan. Mata sapphirenya terbuka.
"Hmm... Dimana ini?" tanyanya seraya memegangi kepalanya.
Tiba-tiba ia melihat sesosok anak yang hampir sebaya terkejut dan berangsur mundur dari duduknya. Ia buru-buru menarik selimut di tempat tidur berukuran king size yang dia tempati untuk menutupi tubuhnya.
"Si-siapa kau?"
"Hai! Salam kenal." sapa anak berambut merah bermata emerald tersenyum ramah. Dia menaiki kasur dan duduk bersimpuh di samping Naruto. "Aku Gaara. Kamu siapa?" tanyanya.
Matanya membulat, terfokus pada sosok Naruto yang baru pertama kali ia lihat dan tampak begitu menarik. Kedua tangannya menggenggam lembut sprei yang dia duduki. Kulit putih porselennya terekspos jelas di mata sapphire Naruto ketika pemuda berambut merah itu hanya mengenakan sebuah kaos singlet tipis berwarna hitam dan celana pendek di atas lutut. Memperlihatkan pula sepasang kaki jenjang sewarna dengan kulit di tengan dan lehernya. Sungguh karya sempurna hidup tanpa cacat sedikitpun.
"Na... Naruto."
"Naruto?" Gaara memiringkan sedikit kepalanya.
"NARUTO-CHAN~!"
Sosok lain mengagetkan mereka berdua yang sedang asik berkenalan. Sosok anak seusia mereka juga, rambut sebahu agak keperakan. Pemuda bermata violet itu mendekat, dan ikut duduk di atas ranjang berselimut pink keputihan tersebut. Naruto tampak terkejut menyaksikan sosok yang begitu familiar di kehidupannya, mulutnya ternganga.
"Ka... Kau... Suigetsu?" Naruto agak tergagap menyebutkan nama anak bergigi tajam tersebut. "Kenapa kau..."
"Kalian sudah saling kenal, ya?" tanya Gaara menyela disertai tampang polos alaminya, matanya menatap lurus ke arah Naruto, lalu beralih ke Suigetsu.
Suigetsu tampak cuek, memandang rendah pada anak berambut merah sebaya dengannya.
"Bukan urusanmu, tau!" bentak Sui kesal. Gaara tertunduk.
"Ma-maaf..."
Naruto menautkan alisnya bingung.
"Sui-Chan! Sudah waktunya pulang!"
Seorang pria berteriak-teriak seperti kesurupan memasuki ruangan mereka. Rambut keperakannya begitu identik seperti uraian perak Suigetsu.
"Iya, aniki-Chan~" Suigetsu berjalan malas ke arah pria paruh baya tersebut. Sebelum dia benar-benar keluar, dia menengok kembali sejenak ke arah Naruto yang terlihat masih bingung dengan situasinya.
"Naru-Chan~ Sasuke mencarimu, lho~" ujarnya tersenyum riang, lalu keluar dari ruangan dengan sebuah debam pelan.
"Hah?" Naruto terbelalak kaget. "Te-teme? Aduh? Gimana, nih? Teme gak ada! Ga-gawat! Dia pasti marah besar!" Naruto gelagapan. "Pulang! Aku harus pulang! Tapi gimana caranya? Hape! Iya! Dimana hapeku?" bocah pirang itu kini kelabakan meraba seragamnya.
Berusaha menemukan ponsel pemberian Teme satu-satunya. Beberapa menit dia kebingungan, baru dia sadari kalau sedari tadi Gaara terus tercengang memperhatikannya.
"Eh, Ga-gara! Bantu aku cari ponselku, donk," pinta Naruto agak panik.
Dia tak mau mendapat hukuman dari Temenya yang super sadis karena tidak memberikan kabar padanya.
"Na-Naruto?"
Gaara tak beranjak dari duduk bersimpuhnya, alih-alih dia malah menunduk lesu.
"Iya?" Naruto berusaha meredam rasa paniknya.
"Ponsel itu-"
Naruto makin memperhatikan Gaara, sangat bagus kalau dia tahu diamana ponselnya berada, kan?
"Ponsel itu apa?" lanjut Gaara dengan jari telunjuk di bibirnya.
-Krik krik-
"A... Ahh~ kau tidak tahu, ya? Itu, lho... Yang bentuknya kecil, lalu bla-bla-bla..."
Naruto menjelaskan panjang lebar kali tinggi untuk pertanyaan 'aneh' Gaara. Hampir satu jam utuh Naruto menjadi guru dadakan dan makin kelabakan menanggapi pertanyaan Gaara yang super di luar nalar, tapi tetap dia paksa untuk menjawabnya, akibatnya dia malah pusing sendiri.
"Gaara-Chan?"
Seseorang lagi, masuk ke dalam ruangan mereka berdua. Seorang pria dengan sebuah luka gores di bagian tengah hidungnya. Seorang pria berambut kecoklatan panjang sepunggung. Di tenangnya dia membawa nampan berisi dua gelas susu putih.
"Iruka-San!"
Pemuda berambut merah bernama Gaara itu terlonjak kaget ketika mendapati sosok bernama Iruka sudah berada di ambang pintu.
"Aku bawakan susu untukmu dan temanmu..." ujarnya seraya melangkahkan kaki menuju meja dekat tempat tidur berukuran king size yang ditempati Naruto dan Gaara.
"Sebentar lagi 'Master' akan datang, kalian berdua bersiap-siaplah."
Iruka berjalan keluar setelah menaruh dua gelas susu itu di meja. Sosoknya kemudian hilang bersamaan dengan pintu berdebam pelan.
Naruto mengangkat sebelah alisnya; heran. "Master?"
Gaara mengangguk pelan. Dia menatap Naruto menggunakan mata berbinar. "Master... Dia datang..." ujar Gaara tersenyum lembut.
"Siapa Master?" kali ini Naruto berbalik bertanya pada pemuda berambut merah tersebut.
"Dia orang hebat!" Gaara berteriak kagum. "Dia adalah orang yang sudah menyelamatkanku dari 'kegelapan'! Ayo kita sambut dia!"
Gaara menarik lengan tan Naruto.
Pemuda pirang itu tak bergeming. "Tidak mau!" bentaknya sedikit berteriak.
Membuat Gaara melepaskan gandengannya. Pemuda bermata emerald itu mundur beberapa langkah ketika menyaksikan bulir-bulir bening mulai berjatuhan dari sepasang sapphire Naruto.
"Ke-kenapa?" tanya Gaara melemparkan pandangan sayu.
Naruto menggeleng berkali-kali. "Tidak! Aku tidak mau! Aku benci dia!" suara melengking Naruto memenuhi ruangan mereka. "Sangat benci," desisnya.
Tiba-tiba atmosfer ruangan menjadi panas, walau sudah terpasang dua buah AC, namun hal itu tak berefek dingin sekarang. Kedua insan itu hanya diam, saling beradu pandangan dalam-dalam.
"Dia sudah menyelamatkanmu, kenapa kau membencinya?" pertanyaan itu mengalir dari bibir kemerahan pemuda emerald tersebut.
Sepasang saphire membelalak kaget. "Menyelamatkan?" desisnya.
Terakhir kali Naruto tahu kata Master terucap di mulut makhluk kejam yang sudah berani menelanjanginya dan melakukan hal senonoh pada tubuhnya secara ramai-ramai. Mana mungkin dia bisa menyebut hal tersebut sebagai 'menyelamatkan' dirinya? Sungguh tidak masuk akal!
Walau nilai sekolah Naruto tak membanggakan seperti halnya Sasuke, namun dia tetap masih memiliki otak jenius keturunan Namikaze dari ayahnya yang sudah membuangnya ketika dia masih kecil. Hanya keluarga Deidara-keluarga adik dari ayahnya- yang dengan senang hati menampungnya. Di dalam keluarga sederhana Deidara - yang sekarang sudah yatim piatu- dia tinggal dan dibesarkan tanpa mengharapkan harta ayahnya yang bahkan lebih banyak ratusan kali lipat dari keluarga Sasuke, mungkin.
Pemuda pirang itu mendorong tubuh ramping Gaara, lalu berlari menuju pintu yang beberapa waktu lalu dilewati oleh seorang pria bernama Iruka-San. Setidaknya, begitulah Gaara menyebut nama orang itu.
Sebelum sempat Naruto meraih knop pintu, tangan Gaara sudah terlebih dahulu menarik lengannya. Pemuda pirang itu berpaling menatap kesal pada lawannya.
"Jangan pergi! Master akan meng'hukum'mu jika kau berbuat begitu!" teriak pemuda berambut merah maron itu berusaha menghalangi sosok Naruto pergi.
"Lepaskan aku!"
"Tak akan!"
Naruto terdiam ketika melihat bola mata emerald milik Gaara tiba-tiba berkaca-kaca. Pemuda yang memiliki tiga garis di kedua pipi tembemnya itu menghela napas panjang. "Beri aku alasan bagus kenapa aku harus berada di tempat ini dan kenapa juga aku harus ikut-ikutan menyambut 'Master' kebanggaanmu?"
Gaara mengangguk, tangannya mulai melepas lengan Naruto.
"Pertama, Master adalah orang yang menguasai tempat ini, tanpa persetujuannya kau tak akan bisa berkutik." terang pemuda merah itu tenang.
Sejenak, Naruto ingin mengajukan protes, tapi langsung dipotong oleh Gaara. "Itu berarti tanpa persetujuannya, kau tak akan bisa mendapatkan Hp-mu. Tapi, Master akan memenuhi segala permintaanmu asal kau selalu bersikap baik dan sopan padanya.
"Intinya?"
"Jika kau mau mendapatkan benda kotak itu, kau harus menyambut Master dengan baik..." Gaara tersenyum riang.
Pemuda pirang itu menghela napas panjang. "Baiklah, tapi hanya karena kau dan agar ponselku kembali,"
Detik berikutnya, Gaara sudah langsung memeluk Naruto bahagia.
Gaara memandu Naruto menyusuri sebuah lorong, banyak pintu-pintu yang mereka lalui.
"Mau kemana kita?" tanya Naruto agak merinding dengan atmosfer di tempat mereka berpijak sekarang.
"Kita akan menyambut Master, jadi harus berpenamplan bagus," ujar Gaara tanpa menoleh ke arah Naruto.
Akhirnya, mereka berhenti di depan sebuah pintu berukuran lebih besar dari pintu-pintu yang mereka lalui sebelumnya.
"Ini dia tempatnya..." Gaara membuka perlahan knop pintu, Naruto makin berdebar-debar.
"Te-tempat apa ini?" batinnya ketika memasuki ruangan tersebut.
=OooooOO=
"Aniki~!"
Seorang bocah berusia sepuluh tahun menengok ke arah anak kecil berusia sekitar enam tahunan.
"Ada apa, Sasuke?" tanya sang kakak lembut.
"Aku tidak bisa membuat pesawat kertas." keluh adiknya seraya mengacungkan selembar kertas yang sudah agak kumal.
Lagi-lagu sang kakak tersenyum, jemarinya terjulur mengambil kertas itu dari tangan adiknya. Dia mulai melipat kertas kucel tadi, dengan penuh kesabaran pula dia mengajari adiknya hingga akhirnya tercipta sebuah pesawat kertas yang cantik. Sang adik bertepuk tangan kagum.
"Wah! Keren sekali, aniki!" riangnya seakan ingin melompat, membuat kakaknya kembali tersenyum kecil.
Melihat senyuman kakaknya, membuat Sasuke kecil sedikit menampakkan rona merah di kedua pipinya- menunduk malu. Keheningan terjadi beberapa saat.
"A-aniki..." panggil Sasuke kecil.
"Iya?"
Sasuke kembali terdiam. "A-anu... Bolehkah suatu hari nanti aku... Menikah dengan aniki?"
Pertanyaan Sasuke kontan membuat kakaknya tersentak kaget. "Menikah?" tanyanya memastikan diikuti anggukan semangat Sasuke.
Itachi kembali tersenyum sambil membayangkan dirinya dan Sasuke sedang berada di pelaminan. Amazing...
"Sasuke! Itachi!"
Tiba-tiba terdengar panggilan dari seorang lelaki paruh baya dan seorang wanita cantik berambut hitam panjang sepinggang. Mereka berdua berlari ke arah Sasuke dan Itachi. Mereka berlari kian mendekat. Itachi menggandeng tangan Sasuke menuju kedua orang tersebut.
"Kaa-San! Tou-San!" Sasuke berteriak riang, sementara Itachi tetap mempertahankan senyuman kecilnya .
BWHOOOOSSSHHHH...
Namun, tiba-tiba kobaran api menyala, membakar kedua orang tua Itachi dan Sasuke hingga hancur lembur; tak tersisa.
"Hiks... Kaa-San... Hiks... Tou-San..." Sasuke kecil terisak.
Itachi terdiam di samping adik mungilnya, kedua bola matanya menerawang kosong; tak ada tanda kehidupan di sana.
"Halo Itachi... Sasuke... Mulai sekarang aku yang akan merawat kalian," ujar seorang pria berambut hitam panjang sepinggang, bola matanya merah menyala. "Panggil saja aku- Madara..."
Ia menampakkan seringainya. Membuat Sasuke kecil bergidik ngeri dan gemetaran- tak bisa bergerak. Namun, dengan cepat Itachi memeluknya, menuntunnya ke sebuah rumah mewah dan halaman serta taman bunga yang luas.
=OOoooOO=
"Ahh- hahhh- ughhh... Ma... Dara... Nhhhh-"
Desahan pemuda berambut hitam kecoklatan itu memenuhi ruangan. Ia merasakan sakit begitu besar ketika pria bernama Madara memasuki tubuhnya yang sempit.
"Diamlah… atau kau lebih suka melihat Sasuke kecil menggantikanmu, Itachi-Chan?" bisik pria beriris merah menyala itu.
Dia membuat pola maju- mundur, menerobos lebih dalam hingga membuat perasaan sakit, nyeri, perih, serta nikmat bercampur menjadi satu, tubuh Itachi menegang serta menggelinjang heboh. Jemari rampingnya begitu gemas meremas-remas sprei, napasnya semakin tak terkendali.
"Madara... Tunggu- aku... Arrrgggghhhh!"
=OOoooOO=
Itachi membuka kedua matanya, onyxnya menyapu seluruh sudut ruangan. Keringat dingin mengalir melewati pelepisnya. Napasnya masih terus memburu, begitu cepat dan tak teratur; dia terengah.
"Kau bermimpi buruk, Itachi-Chan?"
Satu suara mengagetkan pemuda Uchiha itu. Onyxnya membelalak kaget ketika beradu pandang dengan seorang seorang pria yang begitu familiar baginya. Mata itu- begitu tajam... Kulit birunya berbalut sebuah kemeja santai namun rapi dan sopan. Senyuman pria itu membuat kenangan Itachi kembali berputar di benaknya. Kenangan satu tahun silam, ketika mereka masih bersama, menikmati indahnya malam dan berbagai kehangatan serta sentuhan berdua. Hanya berdua.
"Ki... Kisame..." lirih Itachi.
=Ooo ~TBC~ ooOO=
Omake
Penjelasan rape di mobil Tayuya itu :
Sakon, Kidoumaru, dan Ukon duduk di kursi belakang, sementara Naruto berada di depan mereka dalam keadaan dipangkulah, kirai-kira. Lalu, pada bagian rape, Sakon yang berada pada tempat paling kanan, di kirinya ada Kidoumaru, sementara di paling kiri ada Ukon. Posisi Naruto saat ini tidur (baca : dipaksa) di pangkuan mereka bertiga dengan kepala di pangkuan Sakon. Jadi, Sakon membuka celananya dan menyuruh (baca : memaksa) Naruto melakukan blowjob pada kejantanannya.
Kidoumaru yang di sebelah kiri Sakon atau di tengah, membuka celana Naruto dan memanjakan 'milik' Naruto. Sedangkan, Ukon di ujung kiri membuka celananya kemudian memasukkan kejantanannya di dalam diri Naruto. Yap! Itu posisi mereka, untuk gerakannya silahkan bayangkan sendiri dengan otak bejad kalian dengan perpindahan gaya dan berbagai poisisi. *digebuki reader*
Naruto : "Tidak! Aku dirape banyak orang! . Hika ja-at! *siap rasenshuriken*
Sasuke : *glares ke author ngeluarin kusanagi + chidori*
Naru lovers : *ngacung pistol ke author*
SasuNaru FC: *siapin gantungan*
Author : *glek*
Sekian chapter tiga…
Untuk review di chapter dua belum sempet bales, gomenasai… akan Hika bales di chapter depan, semoga cepat juga updatenya. Hehe
Jaa mina-san…
Mohon, R-e-v-i-e-w.
Arigatou gozaimasu… ^^
