Dunia Yaoi chapter 4

Ok. Kita preview dulu chapter selanjutnya karena Authornya baru bisa lanjutin project fict ini. Di chapter 3 Sasuke dan Neji sedang CLBK dan pergi ke MSC milik Kakashi – lebih tepatnya mereka ada di lantai kedua yaitu bar atau tempat minum dan musik berdentum.

Naruto dan Gaara disibukkan dengan penyambutan Master yang akan mengunjungi mereka, mereka berada di tempat yang sama dengan Iruka, yaitu MSC – lantai tujuh atau lantai paling atas. Lantai ini adalah khusus untuk kantor Kakashi, jadi jangan heran kalau Iruka dan Gaara ada di sini.

Itachi bertemu kembali dengan sahabatnya, yaitu Kisame sekaligus mantan pacarnya, ada kemungkinan mereka akan CLBK juga. Kisame berkunjung ke kediaman Uchiha setelah Sasuke dan Neji keluar rumah. Saat itu Madara sedang keluar bersama supir pribadinya.

Yosh! Itu preview kita dari chapter sebelumnya, sekarang kita liat kelanjutannya.

Not bacot lama-lama dan gomenasai sedalam-dalamnya yang udah nunggu chapter ini, hiks… gomenasai… Authornya kelamaan nyemplung ke dunia game dan fandom Anime lainnya jadi jarang berkunjung ke FFN.

Dan selamat, ya! Naruto udah tamat, ya? XD akhirnya~

Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto

Fict ini milik saia aka Shinobi Girl Yaoi yang sekarang alih nama jadi Kaizen Katsumoto

Warning : masih sama seperti chapter-chapter sebelumnya, tapi mungkin kali ini rate M dihilangkan dulu, ya untuk kepentingan alur cerita.

Ingat, yang punya trauma atau benci dengan Yaoi atau BL diharapkan segera klik icon back dan yang mau melanjutkan membaca Fict ini dimohon untuk membaca di tempat yang memiliki cukup penerangan dan jaga jarak mata Anda dari layar HP, PC, maupun Laptop. Akhir kata, Happy Reading~ ^w^/

oooOOooo

Di sebuah ruangan.

Naruto dan Gaara memasuki sebuah ruangan mewah, lantai marmer, pencahayaan yang berbeda dari sebelumnya. Naruto masih sibuk mengamati isi ruangan yang dipenuhi lemari serta baju berserakan dimana-mana. Matanya berhenti pada Gaara yang sedang mengacak sebuah lemari, mengeluarkan sebuah kostum duapasang nekomimi dan neko tail. Gaara memberikan sepasang kepada Naruto dan sepasang lagi untuk dirinya sendiri.

Naruto menerimanya. Menautkan alis pada Gaara tanda tak mengerti.

Seolah tahu jalan pikiran Naruto, Gaara pun menjelaskan. "Itu untuk Naru-chan." Jelasnya singkat.

"Maksudmu aku harus memakai ini?" tanya Naruto meminta kepastian. Dibalas sebuah anggukan oleh Gaara.

"Oh, ya! Jangan lupa, lepas semua pakaianmu –"

" – tunggu! Apa maksudmu dengan melepas semua pakaian?"

"Yap! Karena kita akan memakai ini!" Gaara mengeluarkan neko paws dan memberikan pada Naruto, lalu mengambil neko necklace berbandul lonceng berwarna keemasan.

Lucu, sih, tapi untuk pliharaan. Bukan untuk dirinya. Pikir Naruto.

Ia hendak menolak ketika Gaara menyuruhnya mengenakan kostum neko-neko tersebut, namun Gaara sudah menariknya dan melucuti pakaiannya dan memaksa Naruto mengenakan kostum pemberiannya.

Kini, sosok Naruto dan Gaara sudah hilang. Yang tersisa hanya sepasang kucing berambut pirang dengan aksesoris neko berwarna putih dan kucing berambut merah dengan akssoris neko berwarna hitam.

"Miaw~" ucap Gaara membuat Naruto melongo.

Wajah pemuda bergaris di kedua pipinya itu merasa wajahnya terbakar, padahal dingin AC memenuhi ruangan.

"Gaara-chan, aku tak sanggup mengenakan ini."

Naruto memelas. Gaara memperhatikan sahabat barunya.

"Bukannya tadi kamu bilang mau mengambil benda kotakmu itu dan menghubungi Sasuke?" tanya Gaara polos.

Seketika Naruto tersadar. Benar juga apa yang Gaara katakan. Tapi – berkostum neko dengan tanpa sehelai benang menutupi tubuh itu lain halnya. Walaupun yang melihatnya saat ini hanya Gaara, tetap saja dia merasa malu setengah mati. Naruto menutupi wajahnya dengan kedua tangan yang tertutupi neko paw.

Tiba-tiba Gaara menarik kedua tangan Naruto. Menatap safir Naruto hingga pemuda pirang itu tertegun oleh emerald Gaara.

Tanpa ia sadari sebuah bibir basah sudah menempel di bibirnya. Gaara menciumnya. Dan lagi dengan wajah datar. Polos tanpa dosa. Entah apa yang dipikirkan pemuda porselen itu. Namun kali ini tindakannya membuat Naruto berhenti memberontak.

"Ayo kita temui Master!" ajak Gaara setelah memberikan kecupan damai agar Naruto tidak memberontak lebih jauh. Naruto hanya diam ketika tangan Gaara meraih tangannya dan membimbingnya menuju pintu keluar.

Kembali. Keduanya menelusuri pintu-pintu seperti sebelumnya.

"Jadi ini adalah lantai tujuh?" tanya Naruto mengamati pintu-pintu di samping kanan dan kirinya. Gaara mengangguk.

"Yup! Lantai satu adalah toko mainan, lantai dua tempat bar, lantai tiga hotel, lantai empat penjualan obat, lantai lima tempat transaksi senjata, lantai enam... umm..." Gaara berpikir sejenak. "Kalau tidak salah lantai enam tempat penjualan pakaian wanita." jelas Gaara sembari mengingat-ingat apa yang Iruka-san jelaskan saat dia pertama kali tiba di tempat ini.

"Dan lantai tujuh?" tanya Naruto lagi.

"Dan lantai tujuh adalah Markas Rahasia Master~" jawab Gaara berseri-seri.

-Bruuukk

Wajah Gaara menabrak dada bidang seorang lelaki hingga tubuh mungil Gaara terhempas ke belakang sembari mengaduh. "Sa-sakit..."

"Gaara-chan! Kau baik-baik saja?" tangan tan Naruto meraih wajah Gaara hingga pemuda emerald itu beradu pandang dengan sapphire Naruto.

Tampaknya Gaara tak lecet sedikitpun, hanya saja hidungnya agak merah. Naruto membantu sahabat barunya itu untuk berdiri.

"Hmm, menarik sekali. Dua uke manis berkeliaran di tempat seperti ini memakai pakaian erotis... apa kalian gigolo atau semacam – "

-Duuaaakkk

Belum sempat lelaki bermata lavender itu menyelesaikan kalimatnya, kaki malangnya sudah beradu dengan injakan kaki Naruto terlebih dahulu.

Pemuda pirang berkulit tan itu segera menarik paksa lengan Gaara walaupun sepertinya si empunya malah tampak simpati pada lelaki lavender tersebut.

"Naru-chan kenapa kau injak kakinya?"

"Berisik! Ayo pergi tinggalkan pria hidung belang itu Gaara-chan!"

Setelah itu, keduanya berjalan melewati tikungan dan akhirnya menghilang dari pandangan lelaki bertitle 'mesum' di mata Naruto itu.

"Gaara... Nama yang sangat manis..." gumamnya pelan sembari menyeringai tanpa sadar.

"By my side…"

Pip

"Moshi moshi? Dengan Neji Hyuuga disini."

"BAKAAA NEJIII-!"

Neji buru-buru menyingkirkan handphone dari pendengarannya, lalu mengusap telinganya yang agak berdenging.

"I-iya, Nona," ucap Neji setelah pendengarannya dirasa telah kembali normal.

"Baka Hentai! Dimana kau sekarang? Ambilkan uang yang dikirim ayah di tempat Kakashi-san seperti biasa! sekarang! Aku belanja banyak barang di lantai enam! Cepat kemari, aku tak bisa menunggu terlalu la-"

Pip

Terpaksa Neji mematikan handphonenya. Menghela napas. Selalu saja begini kalau kembali ke Konoha City. Satu hal yang tak Neji sukai ketika kembali ke Kota kelahirannya adalah karena dia harus tinggal satu atap dengan adik sepupunya yang bernotabene cerewetnya minta ampun – Hinata Hyuuga.

"Lebih baik aku segera menemui Kakashi-san sebelum ditelpon untuk yang ketiga kalinya." bisik Neji bergidik ngeri. "Kemudian menemui Hinata, lalu kembali lagi ke pelukan Sasu-chan~ mungkin sekarang dia sudah rindu padaku~" gumam Neji kelewat Pe-De.

oooOOooo

In other side

Lantai enam MSC Toko Baju Wanita

Seorang gadis memakai gaun pendek selutut sedang sibuk memilih aksesoris untuk rambut indigo gelapnya. Perpaduan warna gothic hitam-putih pada pakaiannya membuatnya terlihat epic dibanding gadis-gadis yang juga berbelanja di sekitar situ, sebut saja dia Hinata Hyuuga – adik sepupu Neji Hyuuga .

Gadis itu sedang memakai sebuah bando senada dengan pakaiannya ke kepalanya. "Bagaimana dengan bando ini? Apa sekarang sudah cocok dengan dandananku?" tanyanya pada seorang gadis lain di sebelahnya.

"Umm... iya, Nona." jawab gadis berbaju maid gothic bercampur aksesoris pink sesuai dengan warna rambutnya – Sakura Haruno.

"Sakura, apa yang kau bawa itu?"

"Ini gaun yang Nona pesan untuk acara pernikahan Neji-san dan Sasuke-kun." jawab Sakura menunjukkan sebuah gaun.

"Tsk, benar juga. Mereka akan menikah, tapi bahkan waktunya belum ditentukan," Hinata mengambil alih gaun dari tangan maidnya. "Oh, iya! Ngomong-ngomong jangan panggil aku dengan dengan sebutan 'Nona', cukup 'Hinata' saja seperti biasa."

"Tapi Nona, ini 'kan tempat umum, tidak pantas kalau saya memanggil majikan saya menggunakan namanya langsung."

"Haaah..." Hinata menghela napas berat. "Baiklah-baiklah! Kau menang."

Gadis indigo itu pergi meninggalkan maidnya dengan tampang kusut.

ooooOOOoooo

In other side

Lantai dua Bar

Sasuke meneguk gelas jumbo berisi alkohol kelimanya. Wajahnya sudah mulai bersemu. Suhu tubuhnyapun mulai memanas. Sementara di ujung pintu masuk, tampak seorang pria berambut perak berbaju kimono motif tengkorak putih berjalan dari pintu masuk. Di belakangnya tampak seorang wanita cantik berkimono ungu motif bunga kamelia putih.

Sasuke POV

Ahh... pusing sekali rasanya disini. Musik begitu keras. Pandanganku juga mulai tak jelas, dan yang terpenting tak ada Dobe disini. Disisiku. Lalu dimana lagi si bocah Hyuuga itu? Dia mengajakku kesini tapi setelah menerima telpon dari seorang cewek dia langsung lenyap bagai ditelan bumi.

Sekarang bagaimana caraku untuk pulang? Aku sudah tidak napsu lagi untuk minum. Minum juga tak menghilangkan kecemasaku pada Dobe yang hilang.

Kupaksakan kakiku melangkah walaupun berat rasanya. Aku ingin segera keluar dari tempat ini! Sial! Sial! Si-

Bruuukkk

Akh! Aku menabrak sesuatu entah apa itu. Kakiku kehilangan keseimbangan, tapi sebuah tangan meraih kerah bajuku hingga membuatku kembali berdiri tegak.

Huft, kurasa aku harus berterima kas-

"Brengsek! Menyingkirlah, bocah!"

Mataku terbelalak kaget. Apa barusan aku berpikir untuk berterima kasih? Sepertinya akan kuurungkan niat baikku tersebut. Seorang pria beriris emerald menatap tajam kearahku. Akupun balas menatapnya tajam. Emerald meet onyx. Pandangannya benar-benar ingin mendominasi diantara kami berdua.

"Apa yang kau lihat, huh? Apa kau ingin menantangku, bocah Uchiha?" ujar pria itu.

Ia memperkuat cengkeramannya di kerah bajuku. Pria yang menjengkelkan! Ku hempaskan kedua tangannya yang sedang mencengkeram kerah bajuku. Tampak dia agak terkejut dengan sikapku barusan.

"Berani sekali kau menyebutku 'bocah'? kau pikir siapa dirimu bisa seenaknya begitu!" bentakku kesal.

Kulihat pria berkimono motif tengkorak itu memasukkan tangan kanannya ke dalam baju kimononya. Sepertinya dia ingin mengambil sesuatu. Tapi seorang wanita berkimono motif bunga kamelia menghentikan gerakan tangannya. Tampanya mereka bukan orang biasa.

"Sudahlah Kimimaro, kau ingat apa yang diperintahkan 'Master' 'kan? Kita harus segera mengamankan anak itu." ujar wanita itu menenangkan sembari tersenyum manis. Orang yang dipanggilnya Kimimaro akhirnya menurut.

Kali ini mereka berdua melewatiku begitu saja. Namun, saat melewatiku, Kimimaro memasang ibu jari nya secara terbalik kearahku. Cih, kuangkat kedua jari tengahku untuk membalasnya. Dia mengalihkan pandangan dariku.

End Sasuke POV

Kimimaro dan rekannya melewati Sasuke.

"Sebisa mungkin jangan membuat keributan disini, itu perintah 'Master' apa kau ingat?" tanya wanita berkimono bunga kamelia itu tenang.

"Ya." Balas Kimimaro pelan. "Walaupun aku sangat membenci para Uchiha." bisiknya pelan. Guren hanya tertawa geli mendengarnya.

oooOOOooo

In other side

Lantai tujuh Kantor Kakashi serta Markas Rahasia Master

Kakashi sedang duduk sendirian di kursi kerjanya, tangannya meraih sebuah ponsel yang baru saja berdering. Di layarnya tertera jelas nama 'Master'.

"Kakashi, bagaimana keadaan Naru-chan?"

"Dia baik-baik saja, Master. Sekarang dia sedang bersama Gaara-chan"

"Hmm... anak yang kusuruhkau membelinya dari pelelangan Uchiha itu?"

"I-iya, maaf aku seenaknya mempertemukan mereka berdua. Tapi karena mereka berdua seumuran jadi kupikir mereka akan menjadi teman baik."

"Umpft, hahaha santai saja Kakashi, aku tak keberatan kok kalau mereka berteman, justru malah lebih bagus jika Gaara dan Naru-chan bisa berteman."

"Huf," Kakashi menghela napas lega.

"Oh, iya. Aku sudah menyuruh Kimimaro untuk menjaga Naru-chan. Kudengar para 'Tikus Uchiha' datang ke tempatmu untuk merebutnya dari kita."

"Eh? Jadi para Uchiha sudah datang berkunjung? Menarik sekali." Kakashi tersenyum.

"Ya, jangan lengah. Beberapa anak buahku saja hampir berkhianat jika saja tak ada Kimimaro. Dia adalah bawahan terpercayaku. Baiklah, aku tutup dulu telponnya, ada teman lama yang mengunjungiku,"

"Baiklah, Master. Terima kasih."

Pip

Kakashi menutup telponnya. Terdiam sejenak, lalu memandang pintu kantornya. "Hmm, masuklah, Neji. Kau tak perlu menguping disitu."

Hening sesaat.

Cklek

Pintu terbuka. Seorang pemuda berambut coklat panjang masuk sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Ehehe ketahuan, ya?" ujarnya basa-basi.

"Kemarilah, ini koper titipan pamanmu untuk Hinata."

Kakashi menunjuk koper hitam di atas meja kerjanya. Neji mengangguk.

"Oh, iya, Kakashi-san telpon tadi –"

" – Master," potong Kakashi cepat. "Dia menitipkan seorang anak bernama Naruto Uzumaki di sini sampai keadaan aman. Tapi tampaknya komplotan Uchiha sudah tahu kalau Naruto ada disini dan mereka sekarang sedang mengincarnya." sambung Kakashi.

Neji menautkan alis.

"Tapi tenang saja, Master sudah menyuruh Kimimaro kemari untuk mengamankan Naruto." lanjut pria berambut perak itu santai.

Neji berjalan menuju meja kerja Kakashi. 'Tapi sampai si penembak jitu itu diturunkan langsung oleh Master. Dia pasti serius ingin melindungi Naruto.'

"Oh, ya, ya~ semua jadi rumit ketika kau mencintai salah satu keluarga Uchiha." sahut Neji sembari mengambil koper hitam dari meja Kakashi, kemudian berbalik menuju pintu keluar.

Pria berambut perak itu berusaha mencerna ucapan Neji.

"Sebenarnya aku hanya ingin mencari informasi mengenai anak bernama 'Gaara' karena Kau menyebutnya tadi di telpon. Tapi, sepertinya pembicaraan tentang Naruto Uzumaki lebih menarik. Dia anak yang penting bagi Master, ya?" tanya Neji tersenyum kecil.

Kakashi menghela napas panjang. "Sejujurnya aku tak tahu pasti apa hubungan antara Master dan Naruto Uzumaki dan kenapa para Uchiha mengincarnya." ujar Kakashi. "Tapi bukankah kau sendiri juga bagian dari para Uchiha itu? Jadi kau pasti lebih tahu alasan kenapa para Uchiha mengincar Naruto."

"Entahlah. Aku memang menjadi bagian dari Uchiha, tapi itu terjadi beberapa tahun yang lalu saat aku masih bersama Sasu-chan. Sedangkan sekarang sepertinya Sasu-chan sudah berubah. Tak ada alasan lagi bagiku menjadi bagian dari Uchiha."

Kakashi nenatap Neji serius, lalu menghela napas untuk yang kedua kalinya. "Jadi kau ingin bilang bahwa sekarang kau netral dan tak ada hubungan apa-apa dengan Uchiha?" tanya Kakashi kemudian.

"Bingo!" Neji tersenyum kecil.

"Aku tak tahu apa yang sebenarnya kau rencanakan mengatakan semua ini padaku. Tapi akan kuberi Kau satu nasehat, jangan terlalu dalam mencampuri urusan orang lain, Neji. Kau bisa kena getahnya nanti." ujar Kakashi sebijak mungkin.

"Sebenarnya aku mencampuri urusan orang lain bukan tanpa alasan." balas Neji. "Aku berbicara seperti ini juga karena aku menginginkan 'sesuatu' darimu."

Kakashi mengangkat sebelah alisnya. "Jadi apa maumu?" tanya Kakashi mulai kesal.

"Gaara."

Kakashi menghela napas untuk yang kesekian kalinya. Jadi sedari tadi dia ngomong cuma menginginkan anak itu?

"Bagaimana kalau kuberikan Gaara padamu dengan syarat kau tak usah ikut campur atau memberi informasi apapun pada para Uchiha tentang Naruto dan Master." tawar Kakashi. Senyum terkembang di bibir Neji.

"Lagi pula aku membeli Gaara menggunakan uang Master, jadi anggap saja itu 'hadiah' dari Master untukmu."

"Okey! Deal!" potong Neji sembari berjalan menuju pintu keluar.

"Tapi, Neji, berjanjilah padaku kalau kau akan melindungi Gaara apapun yang terjadi."

"Tenang saja. Tanpa berjanjipun aku akan melindungi si manis itu walau apapun yang terjadi. Jaa."

Cklek

Seorang pria pemilik luka vertikal di hidungnya membuka pintu kantor Kakashi, bertepatan saat Neji menyentuh kenop pintu.

"Eh? Neji?"

Pria berambut coklat panjang berkuncir kuda itu agak terkejut ketika melihat Neji di Kantor Kakashi-nya.

"Oh? Hai, Iruka-san! Lama tak jumpa. Aku baru saja mau keluar." ucap Neji segera keluar ruangan setelah sebelumnya menarik ikat rambut Iruka hingga membuat pria itu berambut coklat itu kelabakan dibuatnya.

Hal yang sama terjadi pada Kakashi yang juga kelabakan menahan 'sesuatu' ketika melihat penampilan kekasihnya yang agak berbeda.

"Baiklah, selamat bersenang-senang." ujar Neji terakhir kalinya.

Setelahnya pintu ruang kerja Kakashi ditutup diikuti suara debaman kecil. Beberapa menit berikutnya terdengar suara desahan serta erangan mencurigakan dari dalam. Neji hanya tersenyum kecil.

oooOOOooo

Lantai enam- Penjualan Pakaian Wanita

"Huft, kemana bocah itu pergi?"

Seorang pemuda berambut coklat panjang celingukan diantara rak pakaian wanita yang ada di sekitarnya.

"Konbanwa Neji-san."

Sebuah suara berasal dari belakang Neji membuatnya terlonjak kaget. Pemuda beriris lavender itu menengok dan mendapati seorang maid bersurai pink tersenyum ke arahnya.

"Oh, Sakura-chan. Apa kau tahu dimana Hinata berada?"

"Aku disini! Kenapa Kau lama sekali! Aku sampai bosan menunggumu!" celoteh seorang gadis yang muncul tiba-tiba dari belakang Sakura.

Gadis beraksesoris gothic itu maju selangkah demi selangkah hingga berhadapan tepat di depan Neji. Lavendernya menyipit mengintimidasi kakak sepupunya tersebut. Membuat Neji agak berkeringat dingin.

"A-ada apa melihatku begitu?" tanya Neji gugup.

"Kau pasti habis ketemu Sasu-chan?" tebak Hinata lebih tepat seperti sedang mengintrogasi pencuri.

"Hee? Tentu saja. Dia ada di lantai dua, kok."

"Yang bener? Kalau gitu bantu aku dan Sakura bawa belanjaan. Lalu kita segera ke bawah untuk menemui Sasu-chan!"

Hinata langsung menarik lengan kakak sepupunya untuk berkeliling mengambili barang belanjaannya.

"Haah…" Neji hanya dapat menghela napas berat.

oooOOOooo

Lantai tujuh- Naruto dan Gaara menuju tempat kerja Kakashi untuk bertemu Master

Dua orang pemuda berjalan melewati lorong-lorong serta berbagai pintu di kanan dan kiri mereka.

"Ehem... Gaara-chan, boleh aku bertanya satu hal?"

Seorang pemuda berambut merah darah menengokkan kepalanya kebelakang untuk melihat lawan bicaranya.

"Iya? Ada apa, Naru-chan?"

"Begini, aku penasaran kenapa kau bisa berada di tempat seperti ini?" tanya Naruto ragu.

Tapi, tetap ia memberanikan diri untuk bertanya. Dia merasa agak aneh kenapa pemuda polos seperti Gaara bisa berada di tempat yang menurutnya berbahaya seperti ini? Apalagi tadi ada lelaki hidung belang yang mengatai mereka dengan sebutan 'gigolo' walaupun pakaian yang mereka gunakan sangat sesuai dengan sebutan itu, menurut Naruto sebutan itu terlalu kasar dan lelaki hidung belang tadi meengatakannya dengan begitu santai.

"Hmm, apa Naru-chan benar-benar ingin mengetahuinya?" tanya balik pemuda emerald itu menatap lurus ke arah Naruto.

Pemuda blonde itu mengangguk mantap. Diikuti helaan napas Gaara ditambah sebuah senyum simpel dari bibir mungilnya. Membuat Naruto tertegun sesaat.

"Baiklah, kalau begitu kita mulai dari dari tempat Sirkus Keliling!" ujar Gaara riang sembari mengedipkan sebelah matanya. Membuat Naruto harus bercengo-ria.

Flash back

Delapan tahun yang lalu, saat Gaara berusia tujuh tahun. Dia bekerja di sebuah Sirkus Keliling. Gaara adalah tontonan yang paling diminati dalam sirkus tersebut dan dikenal dengan sebutan 'emerald'. Itu karena keindahan iris mata yang membuatnya banyak diminati penonton. Tak hanya itu, keindahan tubuhnya yang tanpa cacat juga tak luput sebagai bagian dari tontonan para pengunjung sirkus.

Sampai pada suatu ketika, Sirkus Keliling milik majikan Gaara singgah di Konoha City. Saat itu Itachi, Sasuke, dan Madara tak sengaja menonton pertunjukan sirkus. Disana untuk pertama kalinya Itachi bertemu Gaara. Itachipun memutuskan untuk membeli Gaara tanpa sepengetahuan Sasuke.

Beberapa tahun kemudian, Gaara tinggal di sebuah apartement bersama Itachi. Gaara amat menyayangi Itachi, begitu pula sebaliknya. Namun, lama kelamaan Itachi mulai jarang mengunjungi apartement dan Gaarapun tinggal sendirian. Mengetahui hal itu Madara kemudian mulai berkunjung untuk mendekati Gaara yang tinggal sendirian di apartementnya. Tak hanya berkunjung, kadang Madara malah menyiksa Gaara agar melupakan Itachi.

Selain itu, Madarapun berusaha membujuk Itachi agar menjual Gaara di pelelangan ilegal milik keluarga Uchiha karena Gaara merupakan objek yang jarang sekali ada serta memiliki harga jual tinggi. Itachipun menyetujui hal itu tanpa sepengetahuan Gaara.

"Itachi sudah tak membutuhkanmu lagi."

Itulah kata terakhir yang Gaara dengar dari Madara sebelum dia dibawa paksa menuju pelelangan illegal milik Uchiha. Tentunya Gaara tak mau percaya kata-kata Madara, meskipun Itachi sendiri tak mengatakan langsung pada Gaara alasan mengapa ia menjualnya. Gaara tetap yakin bahwa pasti ada alasan tertentu kenapa Itachi melakukannya. Mana mungkin pria sebaik Itachi setuju untuk menjualnya.

Pelelangan terjadi dan Kakashi berhasil membeli Gaara atas perintah Master. Itachi berharap itu menajadi jalan terbaik untuk Gaaara, walaupun mereka mungkin tak akan bertemu lagi. Tapi, dengan begitu Gaara jadi terlepas dari cengkraman Madara.

Selanjutnya Gaara dibawa ke Mangekyou Sharingan Corporation agar tetap aman di tempat Kakashi.

End Flash back

Keheningan terjadi setelah Gaara menceritakan masa lalunya. Gaara terdiam, tak tahu lagi apa yang akan ia bicarakan. Begitu pula Naruto. Keduanya hanyut dalam pikiran masing-masing.

Disaat yang sama terdengar suara langkah kaki mendekat kearah mereka bedua.

"Oi! Kakuzu! Aku yang menemukannya terlebih dulu, jadi nanti kau harus tepati janjimu!"

"Kita menemukannya bersamaan, jadi kita seri, Hidan."

"Apah?! Ka-kau curang sekali!"

Seorang pria berambut perak cepak memukuli tubuh pria lain yang berada di sampingnya, walaupun yang mendapatkan pukulan sama sekali tak bergeming.

"Ayo tangkap mereka!" seru si rambut perak semangat.

"Bodoh. Kita hanya mendapat perintah untuk menangkap yang rambut pirang. Selain itu, biarkan saja."

"Cih, merepotkan saja!" gerutu si perak agak kesal.

Gaara melihat mereka, matanya membulat seketika. 'Mereka adalah orang-orang dari pelelangan Uchiha! Sedang apa mereka ada di sini?' batin Gaara agak terkejut. Ia segera menarik lengan Naruto untuk kabur. Gaara merasa akan terjadi hal buruk jika sampai mereka tertangkap. Tidak. Yang mereka incar adalah Naruto. Jadi dia harus melindungi Naruto. Hal itu sama seperti yang Kakashi perintahkan kemarin sebelum Naruto datang. Bahwa dia tak boleh membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada pemuda pirang tersebut.

"Naru-chan! Masuk lift!" seru Gaara menarik lengan Naruto agar memasuki lift.

"Hahh... Ada apa ini sebenarnya Gaara-chan?" tanya Naruto tak mengerti.

"Mereka orang-orang dari pelelangan. Dan mereka mengincarmu!" jawab Gaara sembari mengambil napas.

"Tapi kenapa aku?"

"Entahlah. Yang jelas kita ke lantai enam saja. Disana banyak orang karena disitu pusat perbelanjaan. Selain itu, kita harus ganti baju agar tak terlalu mencolok." jelas Gaara sembari menunjuk penampilan mereka berdua yang terlihat terlalu mencolok dan terbuka.

Naruto nyaris lupa dengan penampilan memalukannya karena Gaara sendiri tampak biasa-biasa saja mengenakan kostum seperti itu.

.

.

.

"Sialan! Mereka kabur!"

Seorang pria cepak menendang sebuah lift yang sudah tertutup rapat. Ia mendecak kesal lalu melirik rekannya yang dia sebut curang tadi malah pergi menjauhi lift.

"Oi!? Mau kemana kau Kakuzu?"

"Lewat tangga. Mereka pasti ke lantai enam karena di situ tempat yang paling ramai."

"He? Begitukah? Kupikir mereka akan langsung ke lantai bawah dan kabur..." Hidan berusaha berpikir.

"Mereka tak akan bisa keluar dari MSC ini, lagi pula di bawah juga sudah ada Zetsu yang mengawasi. Yang lainnya akan kusuruh langsung ke lantai dua untuk menangkap mereka. Ayo cepat!"

"O-oe tunggu aku Kakuzu!"

Kedua orang itupun menuruni tangga untuk mencapai lantai enam.

oooOOOooo

Lantai enam Pusat Perbelanjaan Pakaian Wanita

Seorang lelaki berambut coklat panjang membawa segunung belanjaan milik adik sepupunya.

"Neji! Kau lama sekali!" gerutu seorang gadis gothic beriris lavender.

Seorang cowok yang merasa bernama Neji hanya dapat berjalan tanpa suara mengikuti kedua gadis yang berjalan di depannya.

"Kurasa anda sedikit keterlaluan, Nona." tegur seorang maid yang berjalan di samping Hinata.

"Biarkan saja. Salah sendiri dia membuatku menunggu lama tadi." gadis indigo itu manyun.

Mereka bertiga berjalan menuju lift. Ketika ketiganya sudah sampai tepat di depan pintu lift, tepat saat Naruto dan Gaara keluar dari dalam lift. Melihat penampilan dua orang yang berpakaian terbuka membuat Hinata dan Sakura terkejut serta menutup kedua mata mereka. Walau Hinata sebenarnya ingin mengintip, tapi darah keluarga baik-baik yang dimilikinya membuatnya harus terpaksa menutup mata.

"Oi kalian berdua yang tadi 'kan?" tanya Neji menunjuk kedua pemuda di hadapannya.

"Pria hidung belang!" seru Naruto agak terkejut. Begitu pula Gaara, namun bedanya Gaara tidak berteriak seheboh Naruto.

"Naru-chan! Ayo kita segera pergi!"

Gaara langsung menarik lengan Naruto agar segera berlari ke tempat yang aman. Banyak orang di sini, pasti akan sulit ditemukan.

"Hoi! Tunggu, Gaara!" panggil Neji membuangi barang belanjaan yang ia bawa dan berlari mengejar kedua pemuda setengah naked tadi.

Setelah kepergian ketiga pemuda tadi, kini hanya menyisakan Hinata dan Sakura sendirian.

"Nona, bagaimana ini?"

"Grrrr..." tampak aura gelap menyelimuti tubuh Hinata. Sakura nyaris bergidik ngeri dibuatnya.

"Ahh~ bagaimana kalau kita membeli kue di lantai bawah sambil menunggu Neji-san kembali?" hibur Sakura agak merinding.

"Eh? Baiklah kalau begitu~ ayo kita beli kue dulu Sakura-chan~" sebuah senyum terkembang di bibir mungil gadis gothic itu.

Mereka berduapun menuju lantai dua karena disana satu-satunya tempat yang menyediakan makanan.

.

.

.

Kembali melihat keadaan Naruto dan Gaara. Keduanya kini sedang mencoba beberapa pakaian yang pas dengan mereka. Gaara mengambil sebuah kaos oblong hitam dan sebuah hotpants di atas lutut, sedangkan Naruto lebih memilih memakai jaket orange dan celana selutut. Kini penampilan mereka sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.

"Kita mau kemana sekarang?" tanya Naruto menatap kearah Gaara.

"Kita ke lantai bawah lalu keluar dari sini," jawab Gaara agak ragu. "Tapi aku tidak tahu apa kita akan berhasil melewati para orang-orang pelelangan itu."

Naruto menepuk pundak Gaara pelan. "Tenang saja. Kita pasti bisa melakukannya." ujarnya tersenyum kecil. Gaara menatapnya, lalu ikut tersenyum.

"Iya! Ayo kita pergi." ajak Gaara setelah mengambil sebuah topi hitam dan dipakaianya. Narutopun mengenakan tudung pada jaketnya sehingga wajah mereka tak begitu terlihat.

Mereka berjalan senormal mungkin dan berbaur dengan orang-orang yang berbelanja di sana.

"Oi! Kakuzu! Tunggu aku!" teriak seorang pria berambut cepak mengejar pria lain yang berpakaian tertutup.

"Kau lama." komentar Kakuzu santai.

Keduanya berjalan menelusuri jalan pusat perbelanjaan sembari mengamati sekitar. Sementara di arah berlawanan Gaara menarik lengan Naruto agar berhenti sejenak.

"Naru-chan, kita pergi menuju lift. Kita pergi ke lantai paling bawah, lalu kabur." bisik Gaara pelan. Naruto mengangguk. Mereka bedua berjalan menuju lift, tapi tiba-tiba kedua orang bernama Kakuzu dan Hidan sudah menghadang mereka bedua di depan lift.

"Me-mereka... sejak kapan menemukan kita?" tanya Naruto heran.

"Hahaha! Walau penampilan kalian berbeda tapi karena kalian laki-laki jadi mudah untuk dilihat. Apalagi ini pusat perbelanjaan wanita yang isinya wanita semua." jelas Hidan bangga.

"Sudahlah, tak usah menjelaskan hal yang tidak penting begitu." potong Kakuzu. "Langsung tangkap yang rambut pirang."

"Memerintahku seenaknya begitu, dasar!"

"Naru-chan, cepat pergi! Biar aku yang menghadang mereka berdua!" seru Gaara dari depan Naruto.

"Eh? Tapi..."

"Mereka mengincarmu, kalau Kau sampai tertangkap mungkin kau tak akan bisa bertemu Sasuke yang kau ceritakan tadi." ujar Gaara serius. Selain itu aku harus mengikuti apa yang Kakashi-san katakan, bahwa aku harus melindungi Naru-chan. Demi 'Master'

"Eh? Baiklah kalau begitu!"

Naruto langsung berlari meninggalkan sahabatnya. 'Maafkan aku Gaara-chan...'

TBC

oooOOOooo

Omake :

Scen ketika Gaara menabrak Neji tanpa sengaja

"Hmm, menarik sekali. Dua uke manis berkeliaran di tempat seperti ini memakai pakaian erotis... apa kalian gigolo atau semacam-"

"Naru-chan, gigolo itu apa?" tanya Gaara polos.

Naruto sweaatdrop. "Tunggu, jangan Kau suruh aku menjelaskan hal seperti itu..." ucap Naruto nyaris pasrah.

"Ayo jelaskan, Naru-chan! Jelaskan!" pinta Gaara merengek.

"Jadi gigolo itu-blablabla..." jelas Naruto sekenanya.

"Tunggu, dulu... kenapa aku malah dikacangin!?"

Nejipun pundung di pojokan.

oooOOOooo

Masih di scen yang sama

"Jadi begitulah artinya gigolo. Bagaimana? Kau sudah paham?" tanya Naruto bangga karena dapat menjelaskan panjang lebar. Diikuti gelengan kepala merah milik Gaara serta mata polosnya.

Narutopun ber-gubrak-ria.

"Tunggu! Aku tidak terima dari tadi dikacangin!" seru Neji membuat duo uke menoleh ke arahnya. "Dengar, kalau Kau ingin tahu artinya gigolo…" ia menghentikan kalimatnya. Gaara tampak serius dan mengangguk mantap.

"Ayo kita pesan kamar!"

BUAAAGHH

Dalam hitungan detik wajah tampan nan mesum Neji sudah membiru terkena pukulan telak dari Naruto.

000ooo000

Hanya maaf yang dapat saya sampaikan pada seluruh pembaca fict ini…

Hontou ni gomenasai…

Bocoran chapter selanjutnya adalah hint NejixGaara, tak lupa SasukexNaruto yang kembali dipertemukan!

Ada dipihak siapakah Kimimaro dan Guren?

Maaf, tapi 'Master' bukan Orochimaru, karena Orochimaru tetap jadi sensei, dan perannya adalah sensei mesum. Titik. XDD