"Haaah..."
Menghela nafas lelah. Itulah yang saat ini dirasakan Kuroko saat. Lihat saja, ia datang lebih pagi dari biasanya. Jangan remehkan kekuatan Kuroko (Alias Akashi) bila ia harus jalan kaki ke sekolah. Kecepatan ia berjalan hampir setara dengan kecepatan mobil.
Kelas masih sepi, lorong masih sepi, bahkan tak ada satupun murid yang datang. Yah setidaknya suasana ini cukup enak bagi Kuroko. Ia tak suka ramai-ramai. Baginya, sendirian lebih nyaman dan bebas.
Kuroko masih termenung memikirkan kejadian semalam. Kejadian ia makan dengan Kagami di Maji Burger. Kuroko terkekeh geli. Huh, sepertinya Kagami tak tahu kalau ia makan bareng dengan Akashi yang saat ini di dalam tubuh Kuroko.
"..."
Malas memikirkan kejadian semalam, Kuroko lebih memilih untuk tidur. Biasanya, Akashi tak akan tidur di kelas sekalipun ia berangkat pagi. Namun, toh saat ini Akashi berada di dalam tubuh Kuroko—jadi Akashi rasa itu tak masalah bila ia tidur menggunakan tubuh Kuroko.
Akashi=Kuroko ?!
Kuroko No Basuke (c) Tadotoshi Fujimaki
AkaKuro
Akashi x Kuroko
Warning: OOC, Yaoi, typo, absurd dll
Don't like don't read
"ko...Kuroko..."
Pemuda babyblue ini masih betah dengan acara tidurnya.
"Oi Kuroko!"
Arrgh, tidurnya mulai terusik karena seseorang mengguncangkan pundaknya.
"Apa sih?!" kata Kuroko sinis, "Kau menganggu ku."
Kagami yang tadi membangunkan Kuroko itu pun menatap Kuroko bingung, "Tumben kau tidur di kelas. Biasanya kau selalu datang 5 menit sebelum bel, kan?"
"Sesuka ku." jawab Kuroko singkat dan kembali tidur.
Si alis bercabang itu menghela nafas. Ada yang aneh dengan Kuroko. Tak biasanya Kuroko tertidur di kelas dan entah kenapa lebih berekspresi. Bukankah Kuroko itu pemuda babyblue yang memiliki ekspresi datar? Biasanya, kalau dibangunkan, Kuroko hanya membalas dengan anggukan. Namun, sekarang? Kuroko membalas dengan perkataan menusuk dan kilat matanya terlihat tajam. Seperti—
"Kuro—ah, bukan." Kagami menatap Kuroko tajam, "Akashi Seijuro."
—Akashi Seijuro.
DEG
Jantung Kuroko bergedup kencang. Apa? ia tak salah dengar kan?
"Akashi Seijuro." ulang Kagami sekali lagi.
Kuroko masih bersikap tenang, namun dibalik itu ia sangat panik. Bagaimana bisa Kagami mengetahui bahwa yang berada di tubuh Kuroko bukanlah 'Kuroko' yang sebenarnya?
"Mengapa kau memanggilku dengan sebutan itu?" tanya Kuroko.
Kagami menatap tajam, "Kau.. Akashi Seijuro, 'kan?" tanya Kagami dengan menambah kata 'kan' seolah ia yakin bahwa yang berada di tubuh Kuroko adalah Akashi.
DEG
Sial. Sial. Sial.
Bagaimana bisa si Alis bercabang ini tahu?! apa Akashi sudah bertindak di luar batas? Siapapun hentikan waktu!
KRIIING KRIIING
Mendengar suara ponsel yang berbunyi di saku Kuroko, Kuroko memutuskan untuk membuka ponsel itu. Manik babyblue nya menatap nama yang tertera di sana. Oh, dari Akashi.
To: Tetsuya
From: Akashi-kun
06:15
10/23/14
Akashi-kun, aku lupa memberitahu mu, aku memanggil Kagami dan para murid kelas 1 dengan suffix —kun. Tolong gunakan itu disetiap akhir nama mereka. Oh ya, bagaimana kau memanggil teman-teman mu? langsung nama kecil kah? dasar Akashi-kun tidak sopan. :P
"..."
CTAAAAAAAR
Kuroko (Alias Akashi) sangat tertusuk dengan perkataan Akashi (Alias Kuroko). Apa-apaan Akashi mengirim pesan kepada Kuroko dengan akhiran emoticons menjulurkan lidah?! Apa Kuroko diejek Akashi?!
'Sial, aku tak menyangka aku akan memanggil Taiga dengan suffix —kun' batin Kuroko.
"Ka.. Ka...ga..." Oh shit, Akashi tak sudi memanggil orang dengan sopan seperti itu, "Kagami-kun kau aneh." tapi mau tak mau, ia harus memanggil seperti itu, kan?
Kagami menatap Kuroko, "Huh?"
"Kagami-kun kau aneh." kata Kuroko datar.
Kagami yang melihat respon temannya itu pun, "Ehehe, bercanda kok~ tadi cuma iseng doang."
Kuroko hanya mengangguk datar.
"Yosh, mumpung masih pagi, temani aku ke gym dong! ayo latihan basket."
Kuroko tampak berpikir. Hm? latihan basket ya? kurasa tak masalah bila Kuroko ikut.
"Ya."
Ya sudahlah ikut saja.
To: Akashi-Kun
From: Tetsuya
06:17
10/23/14
Seharusnya kau tahu aku memanggil mereka seperti apa, begitu pula terhadapmu.
Ups, tak lupa Kuroko membalas pesan Akashi.
.
.
.
"Sei-Chan?"
Akashi yang merasa dipanggil itu pun menoleh, "Ah, ya?"
"Tumben sekali Sei-Chan baca buku di perpustakaan." kata Mibuchi Reo yang sejak tadi hanya memperhatikan wajah Akashi.
Akashi hanya menatap datar, "Apa aneh kalau aku baca buku?" tanyanya polos.
"Aagh~ Sei-Chan jangan menatapku polos seperti itu! Kau sangat lucu!" ucap Mibuchi yang mati-matian menahan darah di hidung nya.
"Kau sudah baikan? sepertinya latihan kemarin terlalu berat ya? kalian banjir keringat semua." kata Akashi, "Aku khawatir."
Reo langsung ngefly sebab Akashi mengkhawatirkan nya untuk pertama kali dalam setengah tahun.
Kau tak tahu ya bahwa di dalam tubuh Akashi bukanlah 'Akashi' yang sebenarnya, Mibuchi Reo?
Reo menggeleng pelan, "Uhm, tidak kok. Oh ya, Sei-Chan sudah belajar?"
EH?
Akashi sedikit membulatkan matanya, "Eh? untuk apa?"
Reo tersenyum, "Sei-Chan lupa ya? kau kan susulan ulang matematika!"
HAHA SHIT.
"Apa?!" Akashi sontak berdiri dari kursinya, "Aku sama sekali belum belajar! A-ah, aku pergi dulu ya!"
Tanpa ba bi bu lagi, Akashi langsung meninggalkan perpustakaan dan menuju kelasnya. Reo yang melihat itu hanya mematung. Apa? sejak kapan Akashi lupa belajar?
"S-Sei-Chan?"
Kalau Akashi membuat Kuroko menjadi seram di Seirin, mungkin Kuroko akan membuat Akashi bodoh di Rakuzan.
SREK SREK
Ah sial, Kuroko tak menyangka bahwa ia harus belajar matematika hanya demi 'Nilai Akashi'.
"HUWAAAAA! TAK ADA SATUPUN YANG KUMENGERTI DARI PELAJARAN INIIIIIIII!" teriak (?) Akashi kesal. Bahkan ia sampai double facepalm.
Walaupun saat ini Kuroko berada di tubuh Akashi yang nilai nya selalu sempurna, tetap saja Kuroko harus belajar!
BRAK BRAK
Bahkan saking kesalnya, Akashi menggebrak meja berkali-kali.
"Apa yang harus kulakukan? kalau Akashi-kun marah karena aku telah membuat nilai nya jelek bagaimana? kalau Akashi-kun akan remedial bagaimana? Aku bisa dimarahi habis-habisan Huwaaaa...!" Akashi mengacak surai merahnya frustasi, "Oh Tuhan kumohon tolong aku!"
Lelah dengan segala perbuatannya, Akashi tiduran di meja dengan tangan sebagai bantalnya. Buku matematika yang super tebal itu ia acuhkan begitu saja. Akashi, maafkan Kuroko jika separuh harga dirimu hancur karenanya.
"Akashi Seijuro?"
DEG
Akashi tersentak kaget saat seseorang memanggil namanya, "A-Ah, ya?!"
"Kau terlihat panik, eh?" orang itu mendekat, "Ayo susulan matematika."
"..."
Mampus kau Kuroko! kau belum belajar sama sekali untuk 'Nilai Akashi' !
Oke, Kuroko bisa memperkirakan bahwa pria paruh baya ini adalah guru matematika di kelas Akashi.
"..."
DAG DIG DUG
Jantung Akashi tak karuan. Bagaimana ini?! Bagaimana ini?! Apa ia akan berakhir dengan mendapatkan nilai 0?!
Tunggu, sebelum Kuroko mati dibunuh Akashi nanti (jika tubuh mereka sudah kembali), setidaknya Kuroko tulis surat wasiat dulu.
"Anu.. se-sekarang pak?" tanya Akashi sedikit gugup.
Guru itu memandang Akashi makin bingung, "Kau kenapa? tak enak badan? kau siap kan? kemarin kau tidak masuk karena kata Ayahmu, kau kelelahan."
Ugh.. Bukan itu masalah nya pak! Akashi (Alias Kuroko) belum belajar sama sekali!
Dengan segenap jiwa raga dan nyawa yang tinggal seperempat (?), Akashi memberanikan diri menatap guru itu dengan.. err sulit diartikan.
"Pak..." kata Akashi sedikit lesu.
"?"
Akashi menatap guru itu dengan puppyeyes dan mata sedikit berkaca-kaca, "Kumohon ditunda lagi pak.." Akashi menutup kedua wajahnya dengan.. malu? "A-aku belum.. belajar...hiks"
"..."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
1 detik
2 detik
3 detik
15 detik
"A-A-kashi...s-sei-juro?" guru di depan Akashi mematung.
Tiba-tiba darah keluar dari hidung guru itu.
BRUUUUUUUUUUUUUSH!
Tiba-tiba guru di depan Akashi langsung tewas karena melihat wajah Akashi yang sangat imut. Melihat itu Akashi langsung panik ngga ketulungan (?)
"Astaga?! Bapak kenapa?! bertahanlah pak! Jangan mati dulu! Akashi-kun yang asli belum susulan matematika!" kata Akashi panik.
PLAK
Akashi dengan jiwa gregetnya menampar guru yang nosblid itu.
"Pak! Pak! Pak! bangun pak! Jangan tinggalkan Akashi sendiri pak! TIDAAAAAAAAAAAK!" teriak Akashi (Alias Kuroko) sampai menggema di kelas itu. Kayak sinetron aja (?).
Namun nihil. Guru itu tewas bersimbah darah.
Melihat itu, Akashi mematung.
'Huwaaa! Bagaimana kalau keesokan harinya Akashi-kun dimuat di koran karena membunuh guru matematika?! HUWAAA!' panik Akashi (Alias Kuroko).
Akashi dengan cepat meninggalkan guru yang tewas itu (?).
TAP TAP
Akashi berlari ke arah perpustakaan. Pepustakaan Rakuzan masih sepi seperti biasa. Manik heterochrome nya mencari sosok temannya—Reo. Pemuda bersurai crimson ini sedikit memperlambat langkah kakinya. Tiba-tiba ia menunduk hingga surai merahnya menutup kedua matanya.
HI HI HI
Tunggu, suara apa itu?
"Hihihi." Akashi tertawa pelan—atau nyengir?
"Syukurlah guru itu berhasil kukelabui." kata Akashi tersenyum setan, "Tak sudi aku belajar matematika lagi."
Astaga, Kuroko kau jahil sekali. Setidaknya kalau ingin jahil, gunakan tubuh mu sendiri! jangan menggunakan tubuh Akashi.
Akashi kembali melanjutkan acara membaca buku nya. Banyak mata-mata yang melihat Akashi. Huh? tumben sekali Akashi berada di perpustakaan.
"Akashi! pagi!" sapa orang bertubuh besar yang bernama Nebuya Ekichi.
"Uhm." Akashi hanya membalas anggukan singkat.
Nebuya duduk di samping Akashi, "Oi, sejak kapan kau jadi kutu buku, hah?"
Akashi tetap fokus pada bukunya, "Tak masalah kan? aku baca buku karena aku suka."
Nebuya mendengus. Ia bangkit berdiri, "Bagaimana susulan matematika nya? ahaha, pasti mudah sekali bagimu—"
"HUWAAA!"
Seketika itu juga Akashi jatoh dari kursi (?)
"O-oi!" Nebuya membantu Akashi berdiri, "Kau baik-baik saja?!"
Akashi menggeleng, "I-iya."
Uh, sepertinya Kuroko merasakan kutukan dari jiwa Akashi yang sebenarnya karena sudah mempermainkan tubuhnya.
Nebuya terkekeh, "Huh, untung perpustakaan sepi! bisa gawat 'kan kalau kejadian memalukan ini dilihat banyak orang?"
Oh iya, benar juga.
"Uhm. Iya." kata Akashi singkat.
.—.—.
Waktu menunjukan pukul 13:05. Saat ini, tim basket Seirin sedang melaksanakan latihan basket seperti biasa. Kuroko menatap sekelilingnya dengan bosan. Ia bosan latihan basket yang sama sekali tidak menyenangkan. Entahlah, mungkin karena kekuatan Kuroko (Alias Akashi) sudah terlalu hebat sehingga tak perlu mengikuti latihan basket yang membosankan ini.
PRRRRIT!
"Yak! Istirahat 15 menit!" kata gadis surai coklat itu. Kuroko langsung duduk di bench dan mengambil air mineralnya. Minumnya tidak banyak sebab ia tidak terlalu menghabiskan banyak tenaga untuk latihan ini.
"Kuroko-kun bisa kesini sebentar?" tanya Riko saat latihan basket.
Kuroko menghampiri gadis bersurai coklat itu, "Ada apa?"
"Ini strategi untuk melawan Rakuzan saat winter cup nanti."
BRUUUH
"Kuroko-kun?! kenapa kau menyemburkan minuman mu?!" panik Riko.
Kuroko terbatuk-batuk, "Uhuk, tak apa-apa."
Dalam hati, Akashi tertawa geli. Apa maksudnya Seirin mau membocorkan strategi mereka pada Akashi?
Uph, kalau begini, Akashi bisa melawan Seirin dengan mudah sebab Akashi sudah tahu strategi mereka!
Ya, sedikit-sedikit main curang juga tak masalah kan?
"Pastikan kau memahami skill skill mu ya. Timing nya juga harus kau pahami!" kata Riko tegas.
"Mengapa kau memberitahu ku? kau mau kalah?" tanya Kuroko.
"Hah?"
'Oh iya, saat ini aku berada di dalam tubuh Tetsuya!' batin Kuroko panik.
"Ah tidak, aku hanya bercanda."
"Cepat kau pelajari."
"Baik." kata Kuroko. Ia mengambil kertas yang di berikan Riko. Kuroko benar-benar tersenyum sendiri. Senyum kemenangan tentunya.
'Khukhu, formasi mereka benar-benar mudah. Ups, akan sangat mudah melawan mereka.' batin Kuroko.
Kuroko kembali menatap jam dinding. Oh, winter cup cepatlah datang.
'Bersiaplah hancur saat Winter Cup nanti, Tetsuya~" batin Kuroko sambil menyeringai dan sukses membuat seluruh pemain Seirin bergidik.
Akashi, walaupun lawan mu Kuroko (orang yang sangat kau sayangi) tetap saja kau tak memberi ampun. -.-)
.
.
.
.
"Sei-Chan ini strategi kita untuk melawan Seirin~"
UHUK UHUK
Akashi langsung terbatuk-batuk saat latihan basket berlangsung.
"Hmm, bagus juga." puji Mayuzumi.
Nebuya menyeringai, "Ahaha! Seirin pasti kalah telak!"
"Eh? kenapa aku kebagian yang bertahan? aku mau menyeraaang! Reo-Nee ubah posisi ku!" rengek Hayama.
Akashi menyeka keringat yang sedikit mengalir di pelipisnya, "B-boleh kulihat?"
Reo menyerahkan kertas strategi itu pada Akashi.
Manik heterochrome Akashi melihat kertas itu secara teliti. Awalnya Akashi masih bersikap tenang namun lama kelamaan ia mulai tersenyum tak jelas.
'Hihi, formasi ini hampir sama dengan Seirin! Ah, yang ini? aku pernah mempelajari nya di internet. Apa Akashi-kun akan menggunakannya saat timing ini? atau ini? ah! ini gaya bermain yang kupakai waktu di Teiko dulu! Hahaha!' batin Kuroko tertawa senang.
Melihat Akashi yang tersenyum itu, Reo, Nebuya, Hayama dan Mayuzumi nosblid. Gimana tak nosblid? Melihat Akashi yang terlihat senang dengan bibir yang lucu itu sangat bikin.. HNNNGH! minta dipeluk!
'Akashi-kun, akan kubuat kau merasakan yang namanya 'kekalahan' batin Akashi tersenyum nista.
Kuroko.. kau... kerasukan apa, hah?
Aduh, sepertinya Akashi dan Kuroko mendapat bocoran strategi bermain basket dari Seirin dan Rakuzan. Aduh...
Winter Cup cepatlah datang.
KRIIING KRIIING
Tiba-tiba ponsel Akashi berbunyi. Akashi mengambil ponsel itu dan membuka panggilan masuk itu sambil berjalan keluar gym. Masih senyum nista, Akashi mengangkat panggilan itu. Dari Kuroko rupanya.
"Halo~" kata Akashi.
Kuroko yang mendengar nada bicara Akashi yang terlihat 'senang' itu pun langsung tersenyum, "Sedang gembira, eh?"
Akashi mengangguk walau Kuroko tak melihatnya, "Aku ingin Winter Cup cepat datang, Akashi-kun." Akashi tersenyum nista, "Aku ingin cepat-cepat membuat mu merasakan kekalahan."
Kuroko menyeringai, "Aku pun juga begitu, Tetsuya. Tak akan kubiarkan Seirin mencetak angka selama quarter berlangsung."
"Eit~ justru aku yang harusnya berkata seperti itu, AKashi-kun. Mungkin kau akan menarik kata-kata mu setelah winter cup nanti."
"Hihi, tak mungkin. Aku selalu menang karena memang seharusnya." kata Kuroko.
"Angkuh sekali kau, Akashi-kun. Hihihi lihat saja nanti." balas Akashi.
Seringai Kuroko semakin melebar, "Bertandinglah dengan sportif, Tetsuya."
Akashi tersenyum remeh, "Kau juga, Akashi-kun."
Baik pemain Rakuzan atau Seirin, mereka bergidik melihat Kuroko dan Akashi senyum senyum sendiri saat bertelepon.
Aduh... Sepertinya Seirin dan Rakuzan bisa mendapatkan skor seri.
Apa kalian mendapatkan keuntungan dari tubuh kalian yang tertukar itu,heh?
.—.—.
Setelah selesai latihan, para pemain basket Seirin langsung pulang ke rumah masing-masing. Seharusnya Kuroko menemani Kagami makan di Maji Burger, namun Kuroko membuat alasan bahwa dia memiliki urusan penting. Mau tak mau, Kagami tak bisa mengajak Kuroko. Ah, sebenarnya Kuroko (Alias Akashi) tak suka kalau dirinya dekat dengan Kagami. Bila saat ini Akashi akrab dengan Kagami, sama saja Kuroko akrab dengan Kagami kan?
Hell, Akashi cemburu. Ia tak mau membuat pemuda mungil yang sangat disayangi nya itu diembat oleh pemuda garang menyebalkan itu.
Sesampainya di rumah, Kuroko langsung berlari ke kamar. Kebetulan Ibu Kuroko yang sedang memasak itu mengajak Kuroko untuk makan bersama.
"Tet-Chan! ayo makan! Ibu membuat sup tofu kesukaan mu lho!"
Mendengar kata 'Tofu' sontak Kuroko menoleh cepat, "Benarkah?"
Ibu Kuroko mengangguk, "Cepat ganti baju dan makan. Mumpung masih hangat."
Kuroko mengangguk, kalau dilihat lebih jelas, manik babyblue Kuroko sedikit bersinar. Senang? entahlah.
Yang jelas, Tofu adalah makanan favorite Akashi.
Sementara Kuroko sedang makan bersama ibu nya, lain lagi dengan Akashi yang kini menghabiskan waktu 24 jam hanya membaca buku. Sebenarnya keseharian Akashi yang sebenarnya sangat padat. Salahkan Kuroko yang membolos semua kegiatan Akashi. Mulai dari mengikuti susulan matematika, mengikuti rapat, bahkan membantu perusahaan Akashi.
Salahkan juga wajah Akashi yang berubah jadi imut sehingga menyihir mata yang melihatnya.
"Sei, Bisa bantu ayah menyelesaikan pro—"
"Otou-san capek ya? mau Sei buatkan teh?" tawar Akashi sambil tersenyum sangat lucu dengan kedua tangan yang mengatup seperti pose kucing, "Sei sayang ayah~"
BRUUUUUUUUUUSH
Dalam sehari, ayah Akashi bisa mengeluarkan 98% darah dari hidungnya.
"I-iya." jawab ayah Akashi yang nosblid itu.
Akashi langsung pergi ke dapur untuk membuatkan teh—Dengan cengar cengir tak jelas tentunya.
Seperti yang dibilang kan? Salahkan Kuroko yang membolos banyak kegiatan Akashi. Sebenarnya, tadi Kuroko mengecoh ayah Akashi agar Kuroko tak perlu mengerjakan proyek-proyek perusahaan Akashi. Jelas kan? Kuroko tak mengerti apapun!
Setelah membuat teh, Akashi menyerahkan teh itu pada Ayahnya. Seperti biasa, Akashi memberikan senyuman yang menyihir orang. Senyuman super manis yang seumur hidup tak akan 'Akashi' tunjukan.
Selesai dengan tugas ringannya, pemuda bersurai crimson ini kembali duduk di kursi megah untuk melanjutkan acara membacanya. Sedari tadi, Akashi hanya membaca novel life upside down. Kebetulan Akashi (Alias Kuroko) belum menghabiskan membacanya. Siapa tahu, Akashi menemukan solusi lain selain berciuman dengan Kuroko (alias Akashi).
"..."
Semakin dibaca, semakin parah cara mengembalikan ke wujud semula. Bahkan di novel itu, cara mengembalikan ke tubuh semula harus melakukan ritual di goa (?) lalu membunuh salah satu dari mereka, lalu jatuh ke jurang dengan mata tertutup dan sebagainya. Pokoknya semakin aneh dan Akashi tak sudi melakukan itu semua.
"Huwaaa! bagaimana ini?" kata Akashi frustasi. Kesal karena tak punya cara lain selain berciuman.
Akashi menutup kedua mukanya dengan mata berkaca-kaca, "A-aku.. belum pernah ciuman.." katanya. Tidak, tidak. Ini bukan perasaan yang ia buat-buat seperti tadi. Ini murni perasaanya. Perasaan takut, bingung, gelisah bercampur menjadi satu.
Seumur hidup, Jiwa Kuroko Tetsuya belum pernah merasakan ciuman.
Memangnya... ia pantas mendapat ciuman dari pemuda sempurna seperti Akashi Seijuro?
Semakin dipikir, semakin membuat jiwa Kuroko pusing.
KRIIING KRIIIING!
Suara ponsel menyita perhatian Akashi untuk membukanya. Panggilan masuk dari Kuroko. Entah, sudah berapa email dan berapa panggilan dari mereka secara bergantian. Mungkin sudah puluhan lebih.
"Tetsuya?"
Akashi sedikit merubah posisi duduknya, "A-ah, Malam Akashi-kun."
Kuroko mengernyit, "Kau kenapa?"
Akashi menggeleng, "Tidak apa-apa. Ayahmu sangat baik." sangkal Kuroko dan jelas sekali itu bohong.
Kuroko menghela nafas, "Jangan membohongiku, Tetsuya."
"Aku tak membohongi mu, Akashi-kun."
Kuroko terdiam sejenak. Ah, melawan Akashi (Alias Kuroko) yang keras kepala memang sulit. Akashi dan Kuroko sama-sama keras kepala.
"Ya sudah, Aku mau membahas tentang cara kita kembali." kata Kuroko.
Uh, Akashi langsung malu bukan kepalang, "B-besok saja."
"Tak ada waktu."
Pemaksa, Arogan, Absolute.
3 kata yang menggambarkan jiwa Akashi.
Akashi menghela nafas, "Baik-baik. menurutku, kita harus ciuman."
Kuroko merubah posisi duduknya menjadi tengkurap, "Kau membaca novel yang sama, Tetsuya?"
Akashi mengangguk, "Ya begitulah."
Kuroko dengan santainya memutuskan, "Besok kau ke Tokyo."
HUH?
Akashi terbelalak, "Hah? dadakan sekali Akashi-kun."
"Hm. Masalah?"
"T-tidak."
"Kau bilang saja ke ayahku bahwa kau besok pergi ke Tokyo karena urusan sekolah." kata Kuroko, "Ayah pasti mengizinkan mu."
Akashi hanya meng-iya-kan.
"Lagi pula..." Kuroko tersenyum, "Aku tak sabar mencium mu, Tetsuya."
kedua manik Akashi membulat, "EEEEEEEEEEEEEEEEEH?!"
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Halo halo halo~ bagaimana ceritanya? makin bagus? makin aneh? =w= ya sudahlah.
semoga suka chap ini hehe.. maap klo kurang puas :"(
oh ya saya bingung, kira2 chap selanjutnya seperti apa ya? bagi reader yang mau memberi masukan bisa review~ terima kasih banyak.
Review onegai? arigatou :3
Terima kasih bagi kalian yang sudah membaca FF ini :3
Special Thanks to:
| Eqa Skylight | Uchiha Ryuuki | Miyucchi | AulChan12 | Kuro Kid | Myadorabletetsuya | Kuhaku | Keys13th | ShizukiArista | KakaknyaKurokoTetsuya | Flow . L | shota nogami | Guest |
.
.
.
Dan silent reader juga~ :3
