Pemuda bersurai crimson ini duduk tenang di depan ayahnya, "Ayah, mungkin ini mendadak. Tapi ini urusan penting."
Ayah Akashi menatap Akashi dengan bingung, "Urusan apa?"
"Ini urusan sekolah dan aku harus pergi ke Tokyo. Umm.. hanya sebentar saja." jelas Akashi.
Ayah Akashi mengangguk. Ia tak perlu ikut campur tentang urusan sekolah Akashi, "Baik-baik. Aku mengizinkan mu."
Seketika itu juga Akashi langsung tersenyum sangat senang sambil memeluk ayahnya, "Waa~ makasih, ayah! Sei sangat sayang sama ayah~"
BRRRUSSSSSSH
Lagi-lagi ayah Akashi harus kehabisan darah karena pesona anaknya yang kelewat manis.
Aduh...
Akashi=Kuroko ?!
Kuroko No Basuke (c) Tadotoshi Fujimaki
AkaKuro
Akashi x Kuroko
Warning: OOC, Yaoi, typo, absurd dll
Don't like don't read
Pemuda bersurai babyblue ini masih betah dengan novel yang dibacanya. Semakin dibaca, semakin membuatnya penasaran. Ke sekolah membaca, ke kelas membaca, ke ruang guru membaca, bahkan di toilet juga membaca.
Saat ini, Kuroko sedang di perpustakaan bersama novelnya. Ia duduk di kolong meja (?) supaya tidak ada yang mengetahuinya. Oh Kuroko, nista sekali tempatmu. Manik babyblue nya masih terpaku pada deretan kanji jepang yang tertera di kertas itu. Novel Life upside down yang membuat pemuda ini ketagihan untuk membaca.
'Huwa.. aku dengan cerita ini senasib' batin Kuroko, masih membaca novel tersebut tentunya.
Pada pukul 21:00, Lily yang saat ini berada di tubuh Kine tampak menangis. Ia menangis tersedu-sedu dengan kedua jemari mungilnya menutup kedua manik indahnya. Kine yang saat ini berada di tubuh Lily hanya menatapnya cemas. Mengapa Lily menangis?
"Kine..." Kine (Alias Lily) menangis semakin keras, "Apa yang harus kulakukan? tubuh ku tak kembali.."
Ternyata Kine menangis karena ia tak kembali ke tubuhnya. Padahal Kine dan Lily baru saja ciuman. Seharusnya ciuman tadi sudah mengembalikan tubuh Kine dan Lily. Apa nenek sihir itu membohongi mereka?
Selain berciuman, ada satu cara yang sadis. Tentunya memakan korban jiwa.
Lily (Alias Kine) menatap nanar, "Entahlah.. mungkin.. sebentar lagi akan kembali."
Kine mulai pasrah, "Kine... Mungkin benar kata nenek sihir itu." Perlahan, Kine menuju ke arah meja belajarnya sambil mengambil sebuah benda yang berkilat tajam, "Kita harus membunuh salah satu diantara kita agar kembali ke tubuh semula."
Manik madu Lily membulat, "Hentikan itu, Lily! kau tak mungkin mem—"
CRIK
Manik madu Lily (Alias Kine) berkilat panik. Ia panik begitu melihat Kine (Alias Lily) mengarahkan pisau kearahnya.
"Kine..." Kine tersenyum kecut, "Aku akan membunuh tubuh yang kau tinggali itu."
Manik Lily membulat, "Kalau kau membunuh ku, sama saja kau membunuh tubuh mu sendiri kan?!"
Kine masih tersenyum—sedikit dipaksakan, "Asalkan Kine bisa hidup, itu tak masalah buatku." Ia bersiap menusuk tubuh Lily, "Aku akan membunuh 'diriku' sendiri!"
BRAK!
Lily berhasil menghindari pisau itu. Ia menatap Kine tajam, "Jangan! Kalau kau membunuh tubuh ini, kau tak akan hidup!"
"Itu tak masalah." Kine tertawa, "Bila harapanku menjadi istrimu tak terwujud, itu tak masalah buatku!"
Kuroko semakin semangat membaca halaman ini. Manik babyblue nya semakin mendekat ke halaman ini. Wuaah! ini adegan yang seru! batin Kuroko.
"K-kau tak boleh menyerah, Lily!" cegah Lily yang saat ini melihat Kine mengarahkan pisau kearahnya.
Kine tertawa. Kine seakan-akan menulikan pendengarannya. Ia hanya tertawa—tawa keputusasaan,"Aku sangat menyukai Kine... Aku tak peduli bila aku harus mati karena mu.." Kine mulai mengayunkan pisau kepada Lily, "Ketika aku mati, aku akan terus mengejarmu!"
JRAAASH!
Akh! Lily tak bisa menghindari pisau itu!
"AAKH!"
Lily meringis kesakitan. Kine tersenyum pasrah melihat keadaan Lily. Hanya ini cara terakhir untuk mengembalikan tubuh mereka yang tertukar.
"... eh?"
Namun, tubuh mereka belum kembali. Kine (Alias Lily) menatap Lily (alias Kine) dengan panik. Ia sangat panik bahwa tubuh mereka tidak kembali. Melihat Lily yang terbaring lemah—seakan-akan melihat Kine kesakitan.
"APAAAAA?! TAK KEMBALIIIIIII!? WAT THE HELL! TERUS GIMANA BALIKNYA COEG!? ANZEEEENG (?) SEKALI NI NOVEL!" teriak Kuroko di kelasnya sangat keras dan sukses mengagetkan 1 kelas Kuroko.
Akashi jangan bertindak OOC mentang-mentang kau di tubuh Kuroko. -_-)
Kine memeluk Lily yang hampir kehilangan nyawanya, "Tidak! Tidak! Kineeeee!" Kine menyesali perbuatannya, "Jangan mati! TIDAAAAK!"
CUP
Lily (Alias Kine) langsung mencium bibir Kine (alias Lily) secara tiba-tiba. Manik brownie Kine membulat kaget. Tanpa sadar, air mata mengalir dari mata Lily. Lily memejamkan matanya—seolah menyalurkan semua perasaan sayangnya terharap Kine. Kine yang melihat itu juga perlahan memejamkan matanya. Lily menahan luka di perutnya. Darah semakin membanjiri pakaian Lily. Lantai pun juga mulai ternodai warna merah. Kine yang merasakan cairan merah itu pun berusaha menghentikan ciuman itu namun Lily bersikeras mencegahnya.
Walau begitu, mereka tetap meneruskan ciuman mereka.
Kumohon. Kumohon perasaan ini tersampaikan padamu. Kumohon.
Mereka berdua menyalurkan semua perasaan suka pada mereka.
Kembalikan tubuh kami seperti semula. Itulah harapan Lily dan Kine di sela-sela ciuman itu.
PLOOOP!
Tiba-tiba tubuh mereka kembali seperti semula.
.
.
KRIIIIIIIIIIIIIIIING!
'!?'
BRAAK!
JDUK!
Mendengar suara bel sekolah yang berdering tiba-tiba itu membuat Kuroko kejedot (?) meja. Suaranya 'jduk' gitu. Pokoknya keras banget dan asli, itu sakit bukan main.
"Arrrgh.." Kuroko mengelus kepalanya yang benjol (?) karena kejedot, "Sialan bel itu!"
Lho? Kuroko? kok bel nya yang disalahin?
Kuroko (alias Akashi) membuka novel itu kembali. Ia menandai novel itu agar ia bisa membaca nya nanti saat jam istirahat. Dasar Kuroko, berani sekali kau membaca novel disaat pelajaran berlangsung. Padahal itu jam guru killer mu alias jam matematika Pak Nishi.
'Mumpung aku di tubuh Tetsuya, aku mau jadi anak bandel. Toh tak ada yang tahu kalau sebenarnya aku Akashi Seijuro.' batin Kuroko.
SYUUUUUUUUUT
CTAK!
"Akkkh!" Kuroko merasa ada yang melempari dahinya dengan... kapur?
Karena serangan kapur dadakan itu, Kuroko terjungkal dari bangku nya. Alhasil, ia jatuh dengan tidak elit nya. Kuroko yang terjatuh itu pun menjadi bahan tertawaan kelas. Kagami—pemuda garang yang duduk di depan Kuroko juga ikut tertawa. Kuroko bangkit berdiri untuk mencoba menahan rasa malu. Gimana tak malu kalau ia jadi bahan tertawaan begini? seandainya pemerintah menghapus undang-undang pembunuhan, pasti Kuroko sudah membunuh banyak orang di sini.
"Kuroko Tetsuya! saya tahu kau pasti tidak memperhatikan pelajaran saya sejak tadi, kan?!" ternyata Pak Nishi yang melempari Kuroko kapur, "Nilai mu jelek-jelek tapi kau tak memperhatikan bapak! kalau kau tak naik kelas gimana, hah!?" duh, Pak Nishi makin membentak Kuroko.
Biasanya Kuroko yang asli hanya diam dengan muka super datarnya, namun kalau Kuroko yang kerasukan Akashi, beda lagi soalnya.
Kuroko menatap Pak Nishi tajam, "Know your place, btch. Saya pintar dan tak mungkin tidak naik kelas."
Seluruh murid di kelas itu menganga (?) kaget. Mereka tak percaya bahwa Kuroko—pemuda super manis dan datar itu berani melawan Pak Nishi si guru killer.
Pak Nishi semakin ngamuk, "Dasar anak tak sopan! Buktikan ucapanmu dengan mengerjakan soal ini!"
Kuroko tersenyum remeh, "Baik. Saya terima tantanganmu, Pak Nishi."
Pak Nishi langsung menyerahkan soal matematika. Kuroko menatap soal itu dengan seksama. Tunggu, ini soal kelas 3 SMA kan? kenapa Kuroko mendapatkan soal ini? Apa Pak Nishi mau menguji dirinya dengan soal senpai nya?
Kuroko mencoba bertanya dengan sinis, "Hei, ini soal kelas 3!"
Pak Nishi membalas dengan amukan, "Kerjain! tak ada bedanya dengan yang saya ajarkan! cepat!"
fck.
Guru ini coeg sekali.
Amburegul sangat.
Hajar dia.
Gerakan 1000 balsem untuk Pak Nishi.
Aduh.. Kuroko ingin melempari Pak Nishi ke UKS (Uni Kampret Sekolah).
Kuroko tersenyum. Ia hanya membalas omelan guru itu dengan senyum. Senyum yang amat mengerikan dan orang-orang bisa bergidik ngeri karenanya. Tangan mungil Kuroko mulai mengambil kapur dan mengerjakan soal itu. Biasanya, Kuroko yang asli hanya akan diam mematung di depan papan tulis sambil berkata 'Saya tidak bisa, pak'. Namun, lain soal kalau Kuroko yang kerasukan Akashi.
Manik babyblue nya menatap tajam. Huh? soal ini tidak sesulit yang Kuroko kira.
'Aku sudah mempelajari materi ini lebih dulu di Rakuzan. Oh, ternyata sekolah Tetsuya baru mempelajari materi ini ya?' batin Kuroko. Ia mulai mengerjakan soal yang diperika Pak Nishi. 'Ya~ keuntungan juga buatku.' lanjutnya.
Selama Kuroko mengerjakan, Pak Nishi hanya menatap bingung. Tumben sekali anak ini bisa mengerjakan soal!
"Saya sudah selesai, pak." kata Kuroko santai.
Pak Nishi masih menatap Kuroko (Alias Akashi) dengan sangar. Sangar banget kaya semut yang menatap bakteri (tolong jangan bayangkan).
"Huh, tumben kau bisa mengerjakannya! sini saya periksa!" seperti biasa, Pak Nishi galak sekali terhadap Kuroko.
Semua murid-murid di kelas itu cengo lagi. Sejak kapan Kuroko jadi err... pintar matematika?
Pak Nishi terdiam menatap pekerjaan Kuroko. Manik coklatnya menatap tidak percaya pada papan tulis hitam itu, "Eh? lho? benar semua?" kata Pak Nishi cengo.
Murid-murid di kelas itu juga cengo. Tak ada yang membuka suara. Lain Pak Nishi, lain pula Kuroko. Kuroko hanya membalas dengan seringai kejam.
"Sorry, i'm not stupid." kata Kuroko angkuh, "Yap~ silahkan lanjutkan pelajaran anda Pak Nishi."
Pak Nishi ambruk (?) di tempat. Manik coklatnya masih tidak percaya begitu mendapati Kuroko jadi pinter (?). Melihat itu, Kuroko hanya menyeringai melihat guru itu ambruk di depannya—seakan-akan guru itu bersujud terhadapnya. Layaknya pelayan meminta ampun dari raja.
"Heh? bersujud ya?"
Kuroko, kau menghayal terlalu tinggi.
Salah. Maksudku Kuroko yang kerasukan Akashi, kau menghayal terlalu tinggi.
Setelah itu, pelajaran matematika kembali berlangsung. Kuroko seperti biasa membaca novel—seolah ia tak kapok pada hukuman yang diberikan Pak Nishi. Pak Nishi yang melihat itu kembali marah-marah pada Kuroko. Lagi-lagi Kuroko disuruh mengerjakan soal dan itu soal untuk kuliah. Bagi otak anak kelas 1 yang normal, pasti tak akan bisa mengerjakan soal itu. Namun bagi otak anak kelas 1 yang abnormal, PASTI bisa mengerjakan soal itu.
Dan benar saja. Kuroko bisa mengerjakan soal itu dengan mudahnya. Pak Nishi garuk tembok (?) di tempat.
Sepertinya Kuroko jadi pintar di Seirin.
Tunggu? bagaimana dengan Akashi di Rakuzan?
Mungkin jadi Bakashi.
Ups.
.—.—.
Bel pulang sekolah. Pukul 12:00 tepat, para murid di Seirin sudah berhamburan untuk pulang. Pulang cepat adalah impian setiap siswa, tak lebih Kuroko. Kuroko juga ingin pulang cepat dan tidur. Melepas penat dari guru matematika ada baiknya kan?
Pemuda babyblue ini berjalan ke arah mesin otomatis. Ia membeli sebuah minuman soda kaleng. Jujur saja, Akashi tak pernah membeli minuman di tempat seperti itu karena menurutnya kurang sehat. Namun kalau Akashi lagi di tubuh Kuroko... jahil juga tak apalah.
Kuroko mencoba mengecek ponsel nya. Oh, ada pesan masuk.
To: Tetsuya
From: Akashi-kun
12:05
10/24/14
Akashi-kun, apa kau populer? gadis-gadis mengepung ku. Banyak yang minta foto bareng ya sudah aku ladeni saja. Kasihan.
NB: aku sudah sampai di Seirin.
Seketika itu juga Kuroko tersedak minumannya sendiri.
"Astaga, Tetsuya?! kenapa kau meladeni cewek-cewek itu?! AAARGH! aku bisa dikira playboy sama seluruh murid Rakuzan!" kata Kuroko frustasi. Ia langsung menelepon Akashi. Ah, diangkat!
"Tetsuya? apa kau masih dikepung?"
Akashi tampak kalem, "Tidak sih. Tapi sekarang aku berada di gym."
Kuroko menghabiskan minumannya, "Hah?"
"Kau tahu kantoku kan? Aida riko. Saat aku dikepung, dia menolongku. Sekarang, aku dibawa ke gym bersamanya. Akashi-kun cepatlah ke sini—Ah! Kantoku sudah datang! Akashi-kun sudah dulu ya! cepatlah ke sini." kata Akashi cepat.
"Oi Tu—"
Terlambat. Akashi sudah memutuskan sambungan telepon. Kuroko mendengus sebal. Kenapa pelatih seirin itu menyeret Akashi? Yah, walau bukan Akashi yang sebenarnya yang diseret.
Dengan cepat, Kuroko berlari ke arah gym. Benar saja, saat ini ada Akashi di gym. Sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu yang penting. Eh? tapi kenapa muka Akashi kaya panik gitu?
"Jadi gimana Akashi-kun? kau mau menerima tawaranku?" tanya Riko sekali lagi dengan senyum semangat, "Ayolah-ayolah!"
Akashi mati gaya, "Eh.. ng.. gi-gimana ya.. ah! Aka—Tetsuya!" teriak Akashi dari kejauhan begitu melihat Kuroko. Kuroko yang dipanggil itu berjalan ke arah Riko dan Akashi.
Kuroko pura-pura polos, "Eh? Tetsu— Akashi-kun sedang apa di sini?"
Akashi tersenyum hambar, "Ng.. berlindung mungkin? Aka—Tetsuya sendiri belum pulang?"
Kuroko menggeleng, "Ng. Males pulang hehe."
Percakapan sangat singkat dan penuh kepanikan.
Gadis surai coklat ini masih menatap bingung dua orang di depannya. Eh, ada yang ganjal.
Riko menatap kedua orang di depannya itu. Sejenak, Riko sempat mendengar keduanya salah bicara. Tadi Akashi nyaris menyebut diri Kuroko dengan sebutan Akashi kan? seakan-akan Akashi berbicara pada dirinya sendiri. Kuroko juga! tadi nyaris menyebut Akashi dengan sebutan Tetsu.. Tetsuya?
Eh? Eh? Eh?
Jangan-jangan...
"A-ano.. Kuroko-kun dan Akashi-kun bisa one on one sebentar?"
BRUUUUH!
Lagi-lagi Kuroko menyemburkan minumannya.
"Eh?!" Akashi panik dengan muka datarnya.
Riko tersenyum, "Ayolah! nih basketnya!" Dengan paksa, Riko menyerahkan basket itu pada tangan Kuroko. Kuroko yang melihat itu langsung panik bukan kepalang. Saat ini, Kuroko berasa kalang kabut! Astaga! Bagaimana ini?!
Akashi juga tak kalah panik. Keringat mengalir di pelipisnya walu sedikit. Takut ketahuan bahwa kalian saat ini tertukar tubuhnya?
Kuroko menatap panik Riko, "Ng.. ke-kenapa kantoku?! k-kalau soal one on one sudah jelas aku— maksudku Akashi-kun yang menang!"
Ng? Kuroko salah berbicara lagi?
"Aku sekedar mengetesmu." sanggah Riko dan sukses membuat Akashi ataupun panik.
Akashi membuka suara, "Maaf, aku tak punya waktu untuk itu."
Mendengar itu, sontak Riko dan Kuroko menoleh, "Eh?"
Akashi masih bersikap biasa, "Aku ada urusan penting. Aku kesini bukan untuk one on one."
Riko kecewa, "Eh? Kenapa?"
Akashi masih betah dengan sikap datarnya, "Aku ada urusan penting dengan Tetsuya. Itu urusan penting yang menyangkut masa depan kita. Bila itu tak diselesaikan, baik Seirin ataupun Rakuzan akan hancur! Kenapa? karena mungkin saja Kuroko Tetsuya di cap sebagai pembunuh kejam dan pintar. Mungkin saja Akashi yang sempurna menjadi Akashi yang bodoh dan imut." jelas Akashi datar.
Kuroko facepalm. Riko hanya menatap bingung.
"Hah?"
"Lagi pula, kalian tak mau kan kalau Kuroko tak memiliki hawa keberadaan tipis lagi? makanya urusan ini sangat penting."
Kuroko mengangguk setuju. Entah kenapa, kalau Kuroko kerasuka Akashi (?) hasilnya bukan Kuroko yang memiliki hawa keberadaan tipis lagi. Malah berubah menjadi Kuroko absolute, sempurna, pembunuh, tegas, menyeramkan dan sebagainya.
"I-iya! sudah ya Kantoku! DAAAA!" Kuroko langsung menarik tangan Akashi dan lari ke luar gym. Riko hanya menatap mereka bingung.
Oh Riko, otak mu lola sekali.
.
.
.
"Hah.. Hah.."
Baik pemuda babyblue dan crimson, mereka sangat kelelahan. Habis berlari dari gym dan berakhir di taman belakang sekolah Seirin. Tentu yang larinya cepat adalah Kuroko. Ia takut kalau Riko kembali menyuruh Akashi dan Kuroko one on one. Akashi? dia tidak lari karena ia tidak merasa panik. Bahkan ia hanya berjalan santai.
"Hah.. Hah.."
Akashi melihat keadaan Kuroko yang kelelahan. Akashi membeli minuman di mesin otomatis dan memberikannya pada Kuroko. Kuroko langsung meminumnya dengan rakus. Tak menyisakan apapun untuk Akashi. Eh? tidak-tidak. Akashi tidak kehausan kok. Tak masalah bila Kuroko menghabiskan minumannya.
'Ternyata wajah ku yang kelelahan seperti itu ya..' batin Akashi melihat wajah Kuroko yang kelelahan.
Kuroko menatap Akashi, "Apa?" uh, jengah juga kalau ditatap seperti itu.
"Akashi-kun bagaimana caranya agar kita kembali?" tanya Akashi pada Kuroko yang saat ini masih ngos-ngos san.
"Entah. Aku tak tahu. Aku ingin ini segera berakhir."
Akashi tampak mengangguk, "Mh."
"Kau kenapa? kok kayaknya lesu sekali?"
Akashi menggeleng pelan. Angin yang berhembus sedikit menggoyangkan surai crimson nya. Manik heterochrome nya bersembunyi di balik surai-surai itu. Ia sedikit menunduk—menyembunyikan jati diri. Angin yang cukup sejuk bagi Akashi dan Kuroko. Kuroko hanya menatap awan. Ah, memandang awan memang menyenangkan, pikirnya.
Akashi masih menunduk, "Akashi-kun membenci ku?"
Pertanyaan aneh.
Kuroko mengerjap matanya, "Apa maksudmu?"
Lagi-lagi Akashi menggeleng. Melihat itu, Kuroko jadi kesal. Kesal dengan Akashi yang tidak berkata apapun padanya. Stop. Kesabaran Kuroko (alias Akashi) sudah habis. Kuroko langsung mendorong tubuh Akashi hingga Akashi terlentang di rerumputan itu. Melihat aksi Kuroko sontak kedua iris heterochrome Akashi membulat. Kaget tentunya.
"Akashi-kun?"
Kuroko mendecakan lidahnya, "Cih. Melihat 'diriku' yang terlentang seperti itu rasanya sebal juga. Seolah-olah aku dikalahkan olehmu, Tetsuya."
Akashi yang terlentang itu hanya menatap datar, "Terus? dalam rangka apa kau membuat ku seperti ini?"
Kuroko semakin mendengus sebal.
"Kau kenapa hah?" tanya Kuroko to the point.
Akashi menggeleng.
Argh. Jawaban yang sangat dibenci Kuroko (Alias Akashi).
"Jangan menggeleng mulu, Tetsuya."
Akashi membuka suara, "Terus?"
"Aku akan menciumu sekarang."
UHUK UHUK
Akashi langsung terbatuk-batuk, "Apa?! dadakan sekali! A-aku belum siap, bodoh!"
Pertama kali dalam seumur hidup, Jiwa Kuroko mengatakan Akashi bodoh.
Kuroko (Alias Akashi) seolah menulikan pendengarannya. Kedua tangannya sudah membingkai wajah Akashi. Cih. melihat itu, jiwa Akashi seolah mencium dirinya sendiri.
"Akashi-kun hentikan." Akashi menggembungkan pipinya. Menahan malu? mungkin.
Melihat wajah Akashi, sontak Kuroko langsung merinding.
"Tetsuyaaaaaaa! jangan pasang wajah imutmu itu di muka ku! bikin merinding saja!" kata Kuroko mengomel.
Eh?
"Lho? Akashi-kun tak suka?" Akashi menatap Kuroko polos.
Sial, itu kekuatan terimut Kuroko. Menatap orang dengan polosnya.
Namun, kekuatan itu sekarang berada di tubuh Akashi.
"HUWAAAAA! Tetsuya hentikan! GELIIIIII!" Kuroko mencubit pipi Akashi. Si empunya pipi hanya terkekeh.
"Maaf."
"Jangan-jangan selama di Rakuzan, kau menggunakan sihir imut mu itu ke wajah ku?!" tanya Kuroko panik dan Akashi hanya mengangguk polos.
Selamat tinggal jiwa mengerikan Akashi. Kau akan dikenal banyak orang sebagai pemuda imut berwajah manis.
"Aaarghh.." Kuroko facepalm. Masih dalam keadaan menindih Akashi. Sampai kapan kalian bertahan pada posisi ambigu itu?
Akashi tersenyum, "Aku tak bisa menghancurkan martabat Akashi Seijuro lebih lama lagi. Pasti kau tak terima bila aku berada di tubuh mu, kan?" tanya Akashi dan hanya dihadiahi tatapan bingung dari Kuroko.
Akashi (Alias Kuroko) masih tersenyum. Senyum yang sangat dipaksakan.
Kuroko (Alias Akashi) merasakan tanda-tanda aneh.
"Aku dan kau itu berbeda derajat, Akashi-kun. Aku itu bodoh, kau itu pintar. Aku itu payah, Kau itu sempurna. Aku itu lemah, Kau itu kuat. Perbedaan itu sudah cukup membedakan antara aku dengan Akashi-kun." jelas Akashi.
"Nah, bagaimana bila jiwa kita berdua bertukar? Aku berada di tubuh Akashi-kun dan Akashi-kun berada di tubuh ku. Bukankah itu kesalahan yang sangat fatal?" Akashi menekankan kata 'sangat' pada kata fatal. Seolah-olah 'Kuroko' tidak boleh menghancurkan martabat 'Akashi' sedikit pun.
Surai merah Akashi kembali menutupi iris heterochrome nya. Jika diteliti baik-baik, pemuda ini tak mau siapapun melihat wajahnya yang sedikit.. sedih?
"Tetsuya? Kau menangis?" Kuroko menyibakan surai merah Akashi—agar wajah pemuda itu lebih terlihat.
Hanya tatapan keputusasaan dan senyuman kecut yang tergambar di wajah Akashi.
"Tetsuya?"
"Aku tak mungkin menangis dengan menggunakan wajahmu, Akashi-kun." jelas Akashi, "Aku tak bisa membayangkan kalau 'Akashi Seijuro' menangis."
Kuroko menatap Akashi tajam. Ada yang aneh dengan pemuda ini.
"Kau benar. Jika kau ingin menangis, nanti saja kalau sudah kembali. Seumur hidup aku tak mau melihat wajahku yang menangis. Itu menjijikan." jelas Kuroko sambil beranjak dari tempatnya—berhenti menindih tubuh Akashi.
"Bangun." pinta Kuroko. Akashi hanya mengangguk sambil berusaha bangun.
Pemuda bersurai crimson ini menepuk-nepuk pakaian nya yang sedikit ternoda debu. Ia menatap Kuroko lekat-lekat.
'Apa itu diriku yang tidak suka keputusasaan?' batin Akashi bertanya. 'Aku tak pernah melihatnya...'
Kuroko seolah-olah melihat wajahnya sendiri. Wajah yang berbeda dari biasanya.
"Akashi-kun."
Kuroko menoleh.
"Ng.. aku menginap di rumah mu, ya?" kata Akashi.
Kuroko mengangguk, "Itu rumahmu, Tetsuya. Bukan rumah ku."
"Tapi kau di dalam tubuh ku, jadi itu rumahmu." Akashi menggembungkan pipinya. Kuroko yang melihat itu langsung mencubit pipi Akashi.
"Aaw..." ringis Akashi.
Kuroko mengomel, "Jangan pasang wajah imutmu itu di wajahku!"
Akashi ngambek, "Hmph. Maaf."
"AAARGH! Tetsuya sudah kubilang jangan pasang wajah imutmu di wajahkuuuu!" Kuroko mencubit pipi Akashi lagi.
Aah.. benar-benar deh kalian berdua ini.
Pasangan yang sama sekali tidak kompak.
.—.—.
Waktu sudah menunjukan pukul 19:05. Sejak tadi Akashi dan Kuroko berkeliling untuk.. ya sekedar refreshing. Mereka jalan-jalan ke toko buku, taman hiburan dan sebagainya. Yah, pokoknya menyenangkan deh.
Kuroko melangkahkan kakinya di kediamannya. Ia melepas sepatu dan membantu Akashi meletakan barang-barang. Ibu Kuroko yang melihat Kuroko membawa Akashi itu pun bertanya, "Tet-Chan? siapa dia?"
Akashi menatap Ibu Kuroko dengan sedikit.. sedih? "Okaa-san...A-ku kangen..."
Kuroko (Alias Akashi) yang mendengar Akashi (Alias Kuroko) memanggil Ibu Kuroko dengan sebutan 'Okaa-san' langsung panik.
"AAH! Ibu, ini temanku namanya Akashi Seijuro. Dia bakal menginap di sini untuk beberapa hari." jelas Kuroko.
Ibu Kuroko menatap Akashi dengan intens, "Hoo. Kenapa?"
Akashi membungkuk badan, "Ada urusan penting. Maaf menganggu."
Ibu Kuroko hanya mengangguk mengiya kan.
"Akashi, kau lumayan ganteng ya!" Ibu Kuroko memeluk Akashi, "Aah~ andaikan aku masih muda, pasti aku akan menikahi mu~"
Kuroko langsung bergidik melihat 'tubuh'nya dipeluk seperti itu.
Err..
"Akashi ayo ke kamarku! Okaa-san siapkan makan malam ya!" Kuroko langsung menarik lengan Akashi—membawanya ke kamar.
Sungguh. Kalau mereka bertukar badan seperti ini, sangat sulit untuk berkomunikasi.
Kuroko langsung merebahkan tubuh mungilnya di kasur itu, "Tetsuya kau kangen sama Ibu mu ya? sampai-sampai kau kebablasan menyebut 'Okaa-san' dengan tubuhku." kata Kuroko.
Akashi hanya mengangguk pelan, "Maaf."
Kuroko mengabaikan Akashi. Masih sibuk dengan acara tidur-tidurnya. Akashi menatap kamar 'nya' dengan seksama. Hmm, tidak ada yang berubah. Masih rapih seperti biasa.
"Akashi-kun, kau tak macam-macam di kamarku kan?" tanya Akashi memecah keheningan.
Kuroko tersenyum, "Tadinya mau sih."
Akashi langsung panik. Dafuq!
"Jangan macam-macam ya!" Akashi mengomel Kuroko dan hanya dibalas dengusan yang super tak jelas.
Kuroko (Alias Akashi) hanya tertawa pelan. Ah, apa sih yang disembunyikan Tetsuya sampai-sampai tak mau menunjukannya padaku? batin Kuroko bertanya.
Apa di kamar Kuroko tersimpan foto Akashi hasil stalker? apa di kamar Kuroko tersimpan rekaman suara Akashi? Apa Kuroko tergila-gila pada Akashi?
Entahlah. Misteri itu yang tak pernah terungkap.
Ah, mikir itu nanti saja. Sekarang pikirkan cara kembali ke tubuh asal.
"Nah, Tetsuya. Kalau menurut novel, cara Lily dan Kine kembali itu dengan ciuman dan menyalurkan perasaan." kata Kuroko dan sedikit membuat wajah Akashi memanas.
"Ng.. aku juga baca." balas Akashi.
"Terus perasaan harus benar-benar tersampaikan saat berciuman. Harus memohon agar tubuhnya kembali. Dengan cekatan dan lincah." kata Kuroko.
Eh, kok kata terakhir ambigu?
"Ng... hah?" Akashi (Alias Kuroko) mulai bingung.
"Harus menggairah, panas dan memabukan. Ciuman itu juga harus lincah dengan pertarungan li—" Akashi langsung melempar wajah Kuroko dengan bantal.
"Akashi-kun hentai. Kalau kau mau hentai, gunakan wajahmu sendiri! jangan gunakan di wajahku, dong! Geli aku melihat wajahku seperti om om mesum!" omel Akashi lagi.
Kuroko hanya terkekeh, "Maklum. Pikiranku reflek, Tetsuya."
Alasan yang sungguh tak masuk akal.
"AAh.. aku pengen grepe-grepe tubuhku sendiri..." Kuroko (Alias Akashi) mulai membuat gerakan aneh-aneh.
Akashi langsung mengehentikan aksi Kuroko, "Heeeei! itu tubuhku! Jangan macam-macaaaam!"
Kuroko hanya terkekeh. Arrrgh! dasar Akashi-kun hentaaai!
"Tapi Akashi-kun," Akashi menghela nafas, "Sebelumnya, Kine dan Lily sudah ciuman kan? terus mereka tak kembali kan? lalu dicerita itu, Lily berusaha membunuh tubuhnya sendiri agar Kine bisa kembali."
Kuroko mengangguk, "Terus?"
Akashi menatap Kuroko datar, "Kalau kita tak kembali bagaimana?"
"Kita bunuh-bunuhan." jawab Kuroko enteng.
"APAAAAAAAAAAAAAAA?!" Akashi jerit (?).
Kuroko terkekeh, "Tidak-tidak. Bercanda, Tetsuya. Aku yakin ada cara yang bisa membuat tubuh kita kembali. Tak mungkin gembok bisa dibuka tanpa kunci. "
Uh, kata-katamu bijak sekali, Akashi.
Akashi menangguk kaku, "Ha'i."
"Tet-Chan~ Sei-Chan~ makan malam sudah siaaap!" teriak Ibu Kuroko di bawah. Akashi dan Kuroko tentu mendengar suara itu.
Kuroko turun dari kasurnya, "Ayo makan, Tetsuya."
Akashi hanya mengangguk. Kuroko lebih dulu jalan di depannya. Sejenak, Akashi menatap laci meja belajar. Ia berjalan pelan dan membuka laci itu.
CRIK
Di dalam laci itu, tersimpan benda-benda tajam yang tak diketahui Kuroko (alias Akashi). Akashi mengambil sebuah benda tajam dan kecil itu. Ia tersenyum kecut dan menatapnya dengan pandangan sulit diartikan.
"Bila kami tidak kembali, aku akan membunuh tubuhku sendiri seperti kejadian yang ada di novel itu. Dengan begitu, Akashi-kun bisa kembali." kata Akashi kemudian menyembunyikan benda itu dibawah bantal.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Holaaaa~ ketemu lagi dengan saya. Uh, saya libur seminggu dan ini hari minggu.. besok masuk sekolah -_- menyebalkan
Ya sudahlah~ apa yang sudah terjadi terjadilah. (?) Saya tak banyak bicara lagi karena bingung mau bicara apa XD
Review onegai? Arigatou :3
Special thank to:
Shayaku Shiina 'Shi-Chan | AulChan12 | ShizukiArista | Kuhaku | Uchiha Ryuuki | Keys13th | LadyCiella | shota nogami | Eqa Skylight | Bona nano | Koyuki Tooki | Kuro Kid | jasmine DaisynoYuki | Guest |
.
.
.
And silent reader too~ :3
