Di ruang makan, terdapat wanita paruh baya dan dua orang pemuda. Pemuda itu tak lain bernama Kuroko dan Akashi. Ah, maksudnya tubuh mereka bernama itu, tapi jiwa mereka tidak. Kuroko adalah Akashi dan Akashi adalah Kuroko.

Suasana akward menjadi pemandangan di rumah Kuroko. Akward sekali karena hanya keheningan yang melanda di rumah Kuroko. Kuroko cenderung pendiam, begitu pula Akashi. Ibu Kuroko bagaimana? dia sedang mencuci piring, jadinya tidak ikut makan bersama Akashi dan Kuroko.

"Akashi-kun, tolong bertingkah seperti biasanya ya." bisik Akashi pelan—takut-takut kalau suaranya terdengar Ibu Kuroko.

Kuroko mengangguk paham kemudian melanjutkan makan malamnya.

"Okaa-san tidak makan?" tanya Kuroko—agak berteriak karena jaraknya dengan Ibunya jauh.

Ibu Kuroko membalas, "Nanti Okaa-san ke ruang makan."

Kuroko kembali melanjutkan makan malamnya.

"Akashi-kun."

Kuroko menoleh, "Hm?"

"Hanya perasaan ku atau kau makan cepat sekali." gumam Akashi datar (alias Kuroko).

Kuroko mendengus—ucapan yang sangat tidak penting, pikir Kuroko. "Kenapa memangnya?"

Akashi menggeleng sambil tersenyum tipis, "Oh iya, Akashi-kun kan suka tofu."

"Huh."

Kuroko melanjutkan makan malamnya.


Akashi=Kuroko ?!

Kuroko No Basuke (c) Tadotoshi Fujimaki

AkaKuro

Akashi x Kuroko

Warning: OOC, Yaoi, typo, absurd dll

Don't like don't read


"Tet-chan makannya lahap sekali." gumam Ibu Kuroko sambil membawa dua gelas vanilla dan kopi.

Kuroko menoleh, "Lagi lapar, Okaa-san."

Bohong. Padahal Tofu adalah makanan favorite Kuroko (Alias Akashi). Makanya nafsu makannya besar.

"Souka. Eh, Akashi-kun pendiam sekali, ya? Jangan malu-malu untuk makan." Ibu Kuroko memberi semangkuk tofu lagi, "Nih, masih banyak tofu nya."

Akashi hanya tersenyum, "Terima kasih."

Ibu Kuroko tersenyum, "Aih aih, Tet-Chan temanmu ini sangat sopan~"

Kuroko hanya menatap raut wajah Akashi, "Hmm."

"Jadi? kamu sudah punya pacar, Akashi-kun?" tanya Ibu Kuroko sambil tersenyum manis.

UHUK UHUK

"Tet-Chan?! kenapa keselek?!"

Akashi yang melihat itu juga sedikit panik, "Aka—Tetsuya kau tak apa-apa?"

Kuroko menggeleng sambil meminum air banyak-banyak.

Huh, pertanyaan singkat itu membuat Kuroko jadi absurd.

Ibu Kuroko tersenyum, "Nee, Akashi-kun sudah punya pacar?" tanyanya lagi.

Akashi tersenyum sangat hambar dengan background hitam mengelilinginya.

"..."

ERRR...

Kalau ditanya punya pacar, Akashi itu tidak punya. Kenapa? entahlah. Ia memang selalu dikejar-kejar oleh puluhan gadis, sayangnya tak ada yang Akashi sukai. Kalaupun ada, Akashi hanya menyukai sebatas teman. Tak lebih.

"Mmmh...etto..." Akashi tampak kehilangan kata-kata. Ia bingung bagaimana cara menjawab pertanyaan dari Ibu Kuroko.

Masa Akashi (Alias Kuroko) harus bilang bahwa dirinya jomblo?

Kuroko menatap Akashi datar. Setelah itu, ia melahap tofu nya, "Dia sudah punya pacar, Okaa-san." gumamnya.

Ibu Kuroko sedikit terbelalak kaget, "Eh?! Sia—"

"Dan pacarnya ada di depan Okaa-san." lanjut Kuroko lagi dengan raut wajah santai.

Mendengar itu, sontak Ibu Kuroko menatap orang yang duduk di depannya. Yang duduk di depan Ibu Kuroko adalah Kuroko Tetsuya—Anaknya sendiri.

Jadi dapat disimpulkan, maksud Kuroko adalah...

Akashi adalah pacar Kuroko.

EH?!

"APAAAAA?!" jerit Ibu Kuroko tak percaya.

Akashi mati-matian menahan semburat merah yang menjalar di kedua pipinya. Ia yakin, kini wajahnya seperti gurita rebus. Terasa panas dan menyesakan.

Dan Akashi (alias Kuroko) tak boleh menunjukan wajah malu. Kenapa? Itu bisa menghancurkan martabat Seijuro.

Kuroko tetap datar seperti biasa. Tak merasa aneh atas jawaban yang dilontarkannya. Huh, dasar tidak peka.

"Tetsuya iseng, ya?" balas Akashi sambil menstabilkan perasaannya dan hanya dibalas senyum iseng oleh Kuroko.

"Ahahah~" Ibu Kuroko mulai tersenyum aneh, "Kalau Tet-chan itu pacar Akashi-kun, itu tak masalah buat Okaa-san~ entah kenapa, kalian cocok-cocok saja."

Akashi berusaha menutup wajahnya dengan mangkuk tofu yang masih panas itu. Ia yakin sekali kalau wajahnya sudah sangat merah.

Uuuh.. meteor jatuhlah!

"Hee? jadi Okaa-san merestui hubungan ku dengan Akashi-kun?" tanya Kuroko sedikit menyeringai.

Manik heterochrome Akashi membulat kaget. Dengan cepat ia meletakan sup tofu itu.

"Eh? I—"

GREEP!

"?!"

"Terima kasih atas makanannya! Tetsuya ayo kita ke kamaaaaaaaaaaaaaaaaaar!" Akashi langsung menarik tangan Kuroko dan berlari cepat menuju kamar—meninggalkan Ibu Kuroko yang mematung melihat tingkah laku aneh Akashi.

"Eh?"

.

.

.

.

DRAP DRAP DRAP DRAP

BRAK! BLAM!

Setelah lari menuju kamar, Akashi dengan kasar langsung menutup pintu itu. Akashi langsung merebahkan tubuh di kasur empuk tersebut. Kuroko yang melihat tingkah Akashi itu hanya terkekeh geli.

"Berusaha menghindar dari Okaa-san?" sindir Kuroko pada Akashi, "Tetsuya tsundere sekali."

Kedut kesal tercetak jelas di wajah Akashi.

"Diam. Justru Akashi-kun yang seenaknya meminta persetujuan dari Ibu ku!" sanggah Akashi kesal dan hanya dibalas senyuman oleh Kuroko.

Kuroko ikut merebahkan tubuh mungilnya disamping Akashi, "Tetsuya."

"Hm?"

"Kalau bisa, aku tidak ingin kita kembali."

"?!"

BRUK!

Dengan tidak elitnya Akashi jatoh dari kasur.

"Astaga Tetsuya, kita belum balik tapi kau sudah menghancurkan tubuhku." ucap Kuroko sambil menatap Akashi yang terduduk di lantai.

Akashi menatap tajam, "Akashi-kun yang benar saja. Jangan bercanda deh. Aku ogah di tubuh Akashi-kun terus!"

Kuroko sedikit menggembungkan pipinya—pose lucu niatnya, "Kenapa?"

Akashi melanjutkan, "Akashi-kun itu pintar, dan aku itu bodoh."

"..."

Akashi mendengus sebal, "Dan yang paling menyebalkan, Akashi-kun ada ulangan matematika di Rakuzan. Aku harus belajar untuk nilai mu, gitu? nggak mau. Aku eneg dengan rumus-rumus yang merusak syaraf otak dan hati nurani ku." ucap Akashi sambil balik ke kasur lagi.

Kuroko tersenyum, "Menyerah?"

"Hmph. Iya aku tahu Akashi-kun itu pintar, tapi pikirkan siapa yang sekarang berada di dalam tubuhmu." ucap Akashi kesal.

"Hmm... Oh ya, dari pada itu, Tetsuya ada masalah dengan Pak Nishi?"

JDUK!

Dengan elit nya Akashi jatuh lagi.

"Akashi-kun tidak membunuh nya kan?" tanya Akashi curiga dan hanya dibalas senyuman oleh Kuroko.

"Nyaris. Tapi karena aku ingat Tetsuya, aku tidak membunuhnya." ucap Kuroko enteng.

UHUK UHUK

Kuroko, kau ngegombal atau ngegembel? /plak

Akashi menghela nafas. Ia berusaha naik (lagi) ke kasur.

"Jadi begini..." Akashi berdehem, "Karena akhir-akhir ini aku diteror (?) akan tinggal kelas, guru itu menyuruh ku untuk belajar matematika. Keesokan harinya ada ulangan matematika dan syukurnya nilai ku 0,5. Itu nilai paling rendah di seluruh angkatan ku. Beruntung karena aku tak jauh beda dengan hantu, tidak ada yang tahu kalau nilai ku sangat jeblok. Ah, Kagami-kun juga tidak tahu."

Kuroko hanya mengangguk saja.

"Lalu guru itu memarahi ku setiap hari karena nilai ku tak kunjung meningkat. Ah, pernah meningkat menjadi 0,6. Itu pun hasil nyontek hehe." lanjut Akashi nyengir.

"Astaga Tetsuya." Kuroko facepalm. Tak menyangka bahwa Akashi (alias Kuroko) akan melakukan tindakan hina itu.

Tindakan menyontek maksudnya.

Akashi kembali tiduran di kasur, "Apa boleh buat kan? terus sampai sekarang Pak Nishi menyuruhku mengikuti les,pelajaran tambahan, bimbel matematika. Tentu dengan senang hati aku menolak."

"Kalau tidak mau, kau bisa meminta tolong padaku, kan?" tawar Kuroko (Alias Akashi).

Akashi mengangguk, "Memang, tapi Akashi-kun kan jauh.."

Kuroko berbisik di telinga Akashi, "Kalau demi Tetsuya, aku bisa menjadi guru mu tiap hari.." hembusan nafas Kuroko menggelitik telinga Akashi, "Dan kita akan melewati hari-hari hanya 'berdua'..."

"..."

Dengan elitnya Akashi salah tangkep maksud dari ucapan Kuroko

BUM!

Akashi merasa ada ledakan di wajahnya dan itu membuat dirinya terlihat seperti strawberry yang amat merah.

JDUK JDUK JDUK

Akashi menjedukan kepalanya dengan bantal, "Akashi-kun hentikan. AKAHENTAI!"

Huh? sebutan macam apa itu?

Kuroko terkekeh, "Iya iya. Ah, aku haus. Tetsuya boleh minta susu mu?"

Akashi terbelalak, "Eh?"

Susu?

Tunggu, kok rasanya ambigay ya.

Akashi (Alias Kuroko) menatap horror Kuroko (Alias Akashi) yang membuat gerakan-gerakan aneh di... tubuhnya.

"A-kashi-kun mau ngapain?" tanya Akashi curiga.

Menulikan pendengerannya, Kuroko mulai membuka bajunya sendiri.

"HUWAAAAAAAAAA!"

GREP!

Dengan cepat, Akashi langsung menghentikan aksi di luar akal sehat Kuroko. Ah, sepertinya Akashi (alias Kuroko) harus memperhatikan gerak gerik Kuroko (alias Akashi) agar tubuhnya tidak terancam di 'rape'.

Pemuda bersurai crimson itu berusaha mengunci pergerakan Kuroko. Untuk apa? tentu saja menyelamatkan tubuhnya!

"Auw auw. Ba-baik aku menyerah." ujar Kuroko sambil terkekeh, "Tubuh Tetsuya kecil sekali, aku tak bisa melawanmu."

Oh iya, kekuatan Akashi dan Kuroko saat ini berbeda.

"Hmph, kalau Akashi-kun bertindak di luar dugaan, aku akan membenci Akashi-kun!" ancam Akashi ngambek.

Kuroko langsung mencubit pipi Akashi yang menggemaskan itu.

"S-sakiiit!"

"Cih, sudah kubilang jangan pasang wajah imut kalau di tubuhku."

TOK TOK

Suara ketukan pintu menyita perhatian mereka berdua. Kuroko langsung menghampiri kenop pintu dan membukanya. Oh, Okaa-san rupanya.

"Tet-chan?" tanya ibu Kuroko.

"Ya?"

"Di kulkas ada kue kesukaanmu. Kamu boleh memakannya bersama temanmu yang tampan itu~ Silahkan makan-makan dengan mesra ya~" kata Ibu Kuroko tersenyum ramah. Kuroko hanya bergidik melihat senyuman itu.

Sepertinya ada udang dibalik bakwan.

Kuroko hanya mengangguk datar dan menoleh ke arah Akashi.

"Akashi-kun, ayo kita makan kue~" tanpa basa-basi lagi, Kuroko menarik tangan Akashi secara tiba-tiba—membuat Akashi jadi kewalahan sendiri.

Ibu Kuroko hanya tersenyum melihat tingkah mereka berdua. Sungguh, Ibu Kuroko ingin melihat lebih lama senyum yang merekah di wajah Kuroko.

"Seandainya kalian ada hubungan 'sesuatu', itu tak masalah buat Ibu kok, Tet-chan." kata Ibu Kuroko tersenyum—walaupun itu tak didengar oleh Kuroko langsung.

Ibu mana yang tidak senang kalau melihat anaknya tersenyum bahagia?

.

.

.

"Tetsuya, kue ini manis sekali." kata Kuroko sambil mencicip sedikit cake yang dibilang Ibu Kuroko tadi.

Bukannya menolak kue tersebut, tapi rasa manis tidak terlalu disukai Kuroko (alias Akashi).

Akashi mendengus, "Okaa-san membelikan ku vanilla cake. Kan aku suka vanilla cake."

"Manis nya.. aku tak sanggup memakan ini sendirian."

Akashi menatap kue yang dimakan Kuroko. Apa Kuroko belum memakan sedikit pun? dari tadi masih utuh.

"Jadi?" tanya Akashi.

"Sepertinya kau tahu apa yang kuminta, Tetsuya." Kuroko tersenyum kearah Akashi dan hanya dibalas dengusannya.

Sepertinya jiwa memerintah Akashi akan berpindah ke Kuroko.

"Sudah kuduga Akashi-kun tukang modus." sanggah Akashi, "Habiskan sendiri."

Uh, Akashi galak sekali.

Manik babyblue Kuroko menatap tidak suka ke arah Akashi. Yah, walaupun jiwa Akashi saat ini di dalam tubuh Kuroko, ia tetap tak suka kalau perintahnya ditentang begitu saja. Seringai usil nampak jelas di wajah Kuroko. Sepertinya sebuah ide melintas di pikirannya.

"Oh gitu..." tangan mungil Kuroko mulai melepas baju yang melekat di tubuhnya, "Berarti tak masalah kan kalau—"

"HUWAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

Dengan cepat Akashi menghentikan aksi Kuroko lagi. Sang babyblue hanya menampakan seringai khas Akashi Seijuro.

"Paham kan?" tanya Kuroko.

Oke, Akashi kalah pada babak debat kali ini. skor 1:0

Dengan enggan Akashi menyanggupi permintaan Kuroko. Permintaan apa? permintaan konyol yaitu membantu menghabiskan kue Kuroko.

Ingatkan Akashi untuk menghukum Kuroko.

"Tetsuya suapi aku~" kata Kuroko manja dan Akashi sweatdrop melihatnya.

Sungguh. Kuroko tak pernah melakukan hal nista tersebut. Hal nista yang disebut manja. Tapi apa daya kalau Akashi yang saat ini di tubuh Kuroko? semuanya sirna sudah.

"Iya iya." Akashi mulai menyuapi Kuroko, "Nih, aaa..."

Kuroko melahap kue tersebut. Uh, betapa manjanya Kuroko saat ini.

"Sepertinya masa kecil Akashi-kun kurang bahagia. Kau tak pernah disuapi ya? Pffft." kata Akashi sambil menatap datar Kuroko yang senyam senyum sendiri layaknya anak yang mendapatkan mainan baru.

"Aku hanya ingin bermanja dengan Tetsuya." Kuroko memicingkan matanya, "Tapi aku merasa aku disuapi diriku sendiri."

"Memangnya kau Aomine-kun?" tanya Akashi datar.

"Serupa tapi tak sama."

Kuroko apa maksudmu, hah?

Tanpa sadar, Ibu Kuroko sudah memperhatikan Akashi dan Kuroko sejak tadi. Senyum terus tercetak jelas di wajah tirus si Ibu. Ah, menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Ibu Kuroko bila melihat puteranya tersenyum seperti itu.

Apa itu semua karena Akashi Seijuro?

"Tet-chan, ini sudah jam malam. Kau harus tidur." kata Ibu Kuroko ramah. Kuroko hanya mengangguk.

"Iya."

Kuroko hanya tersenyum menanggapinya. Manik babybluenya menatap sekeliling sudut kediaman Kuroko Tetsuya. Kalau dipikir-pikir, rumah Kuroko sangat nyaman baginya. Perabotnya sedikit dan yah, ia tidak sendiri.

Berbeda dengan Akashi Seijuro yang sendirian.

Ayahnya hanya sibuk dengan tumpukan kerjaan. Tak mempedulikan Akashi.

Jujur saja, Akashi iri dengan Kuroko yang masih memiliki seorang ibu.

Ibu yang takan pernah mengabaikan anaknya.

"Akashi-kun?" bisik Akashi pelan.

"A-ah, ya?"

"Ayo kita istirahat. Okaa-san bisa marah kalau aku melewatkan jam malam." bisik Akashi lagi. Si babyblue hanya mengangguk tanda mengerti.

.—.—.

"Nee, Tetsuya."

Akashi menatap Kuroko, "Hng?"

"Rasanya aku tak ingin kita kembali." kata Kuroko tersenyum paksa.

Akashi menatap Kuroko datar, "Kenapa?"

Kuroko menggeleng pelan dan melanjutkan tidurnya.

Ada yang ganjal pada Kuroko (Alias Akashi). Tak biasanya ia bangun tengah malam dan berkata seperti itu. Bukankah Kurokolah yang ingin cepat-cepat kembali?

Manik heterochrome Akashi menatap Kuroko intens. Apa pemuda babyblue itu sudah terlelap? Akashi tak tahu sebab Kuroko membelakanginya. Bisa dikatakan, mereka tidur satu ranjang. Wajar saja, rumah Kuroko tak seluas rumah Akashi.

Akashi (alias Kuroko) sedang membaca buku. Wajar saja bila ia belum tidur. Salahkan dirinya juga yang belum selesai membaca novel life upside down.

Novel yang memiliki kejadian sama—seperti yang dialaminya.

"Akashi-kun."

Tak ada respon.

"Akashi-kun."

Pemuda babyblue itu tak berbalik. Oke, bisa dipastika ia sudah terlelap. Akashi segera membereskan novel tersebut dan ikut tertidur di samping Kuroko yang membelakanginya.

Sebenarnya apa yang terjadi?

"Akashi-kun kenapa tak mau kembali?" tanya Akashi. Pemuda itu tahu bahwa Kuroko tak mungkin menjawab.

Senyum kecut terpartir di wajah tampannya, "Bukankah Akashi-kun tak suka berada di tubuh orang bawahan?"

Kuroko masih tak merespon.

"Akashi-kun itu kaya, berwibawa, absolut dan terpandang." Akashi menghela nafas, "Tak mungkin Akashi-kun tak mau kembali ke tubuh asal."

Kenapa kau membandingkan aku dengan mu, Tetsuya?

"Kenapa? apa yang terjadi?" tanya Akashi lagi.

Itu karena...

"Mustahil bagi seorang Seijuro beranggapan seperti itu."

Karena...

"Apa Akashi-kun—"

"Aku kesepian." potong Kuroko cepat.

HUH?

Akashi menatap Kuroko bingung. Akashi Seijuro kesepian? rasanya mustahil. Tak mungkin Akashi kesepian.

"Omong kosong." kata Akashi tersenyum tipis.

Kuroko membalikan tubuhnya mengarah Akashi—ternyata memang belum tidur, "Terserah."

"Akashi-kun kesepian? terus apa gunanya aku?" tanya Akashi lagi. "Aku kan teman Akashi-kun."

Kuroko hanya tersenyum, "Iya, Tetsuya memang temanku. Tapi..."

"Tapi?"

"Kau jauh dariku." lanjut Kuroko.

DEG

Akashi merasa salah bicara. Ia baru sadar bahwa ia dan Kuroko sangatlah jauh.

Jauh dalam tempat tinggal dan sekolah.

Bagaimana ia bisa menemani Akashi?

Dirinya saja tak bisa menjangkau keberadaan Akashi.

"A.."

Kuroko menoleh, "Hm?"

"Akashi-kun tidak kesepian. Di-di sini ada.. Kuroko Tetsuya." kata Akashi.

Manik babyblue Kuroko sedikit membulat. Ah, sepertinya Akashi berusaha menghibur dirinya.

"Ada Kise-kun, Aomine-kun, Momoi-san, Midorima-kun, Murasakibara-kun... dan.. aku." lanjut Akashi, "Tak kesepian kan? kami menerima mu kapan saja."

Kuroko hanya tersenyum sangat tipis.

"Terima kasih, Tetsuya. Ya, setidaknya masih ada kalian."

Akashi mengangguk tanda mengerti.

"Jadi?"

"? kenapa, Akashi-kun?"

"Kapan kau menciumku, Tetsuya sayang?"

UHUK UHUK

Saat itu juga Akashi langsung terbatuk-batuk.

"H-harus ciuman?" tanya Akashi bodoh.

Kuroko tersenyum, "Jadi kau mau membunuhku?"

Eerrr...

Jelas itu tak mungkin dilakukan bagi Akashi (Alias Kuroko). Apa Akashi rela membunuh Kuroko hanya demi kembali ke tubuh asal? well, sepertinya ia terpaksa mencium Kuroko.

Terpaksa? bukannya kau senang, Akashi?

"Rasanya aneh kalau aku yang berada di dalam tubuh Tetsuya mencium mu duluan. Baik, Tetsuya duluan." kata Kuroko.

Semburat merah menjalar ke seluruh wajah Akashi, "A-apa?! Kenapa—"

"Kalau aku duluan, artinya aku turun pangkat jadi uke." kata Kuroko datar.

"Eeng.. ta-tapi a-aku.."

Kuroko tersenyum, "Kalau bukan sekarang, kapan lagi?"

Oke. Akashi skakmat oleh Kuroko.

"Akashi-kun seharusnya sadar diri. Aku kan bukan pemberani seperti kau." sanggah Akashi, "Jujur saja, aku tak yakin kita bisa kembali dengan cara se-simple itu."

Kuroko memicingkan matanya tidak suka, "Simple?" Kuroko tersenyum—atau menyeringai? "Oh, jadi Tetsuya mau lebih? Agresif sekali."

Lagi-lagi wajah Akashi terasa panas, "Bu-bukan begitu maksudku!"

Kuroko hanya tersenyum menanggapinya. Aduh, Akashi merasa melihat dirinya versi uke. Salahkan Kuroko yang mengendalikan tubuh Akashi sehingga ia turun pangkat jadi uke. Mungkin sementara ini, Kuroko lah yang jadi semenya?

Akashi menahan semburat merah yang tak kunjung mengilang, "S-sebenarnya i-Ini pertama kalinya a—"

"Baiklah biar aku duluan." potong Kuroko dengan angkuhnya dan hanya dibalas tatapan tidak suka dari Akashi.

Dibalik itu, Jiwa Akashi tersenyum senang. Kenapa? sepertinya ciuman pertama Kuroko akan berakhir pada bibir Akashi~

Auh.

Manik heterochrome itu menatap tajam Kuroko yang mulai berjalan kearahnya. Cih, pasti ada udang dibalik bakwan. Akashi hanya menanggapinya dengan datar tanpa ekspresi.

Eh tunggu.

Perlahan tangan Kuroko membingkai wajah Akashi.

Tunggu...

EH?!

"A-akashi-kun?" tanya Akashi masih berekspresi datar.

"Sssh..."

Kalau Tuhan memperbolehkan Akashi mati, maka Akashi ingin mati sekarang. Kenapa? Akashi panik. Lihat saja, Kuroko mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Akashi—bersiap memberikan 'kissu' ke bibir Akashi.

Dan Jiwa Kuroko merinding sendiri melihat tubuhnya mendekat dengan muka err... mesum?

Dasar Akashi-kun hentai!

"A—"

CUP!

Dengan cepat, Kuroko langsung mencuri ciuman pertama Akashi. Dirasa cukup, Kuroko menjauhkan dirinya dari Akashi. Ditatapnya pemuda bersurai crimson itu dengan tatapan meremehkan, mungkin?

"Cih, Tetsuya harusnya melawan." kata Kuroko, "Tuh kan aku seperti uke."

Akashi menatap jengkel pemuda di hadapannya, "Plis deh Akashi-kun. Kau tidak membuatku seperti seme. Kau justru membuatku seperti Hentai!" protes Akashi.

JLEB

satu panah menusuk hati Kuroko (alias Akashi).

"Ng?"

Kuroko mendelik, "Kenapa?"

Manik heterochrome Akashi membulat horror, "Akashi-kun kita tidak kembali."

"..."

"Aku baru sadar kalau kita belum kembali." kata Kuroko datar.

Akashi menatap datar Kuroko, "Jadi?"

"Cara ciuman tidak berhasil."

"..."

"Ahahha Akashi-kun bisa aja."

"Tetsuya bisa aja."

"Ahahahaha... ha?"

.

.

.

"APAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA?!" Teriak Akashi dan Kuroko barengan. Keduanya memandang horror satu sama lain.

Demi pak Nishi, Akashi ingin garuk guru itu.

Sumpah, ia ingin mengulang waktu.

Tak masalah bila ia akan dimarahi oleh guru sialan itu setiap hari. Asalkan ia kembali ke tubuhnya, ia strong kok.

"A-apa yang harus kita lakukan Akashi-kun?!" teriak Akashi frustasi.

"Aku tak tahu." kata Kuroko pasrah, "Ini buruk sekali."

Akashi menjambak surai merahnya sendiri. Sial, ia tak bisa berpikir tenang.

Ciuman pertama diambil. Sialnya, cara ciuman tidak mempan.

"Benar yang dikatakan Tetsuya. Kita tak bisa kembali dengan cara simple seperti tadi." kata Kuroko melipat kedua tangan di dada. Pemuda crimson itu hanya membalas dengan tatapan datar.

"?"

"Baik, ayo kita melakukan sesuatu yang lebih dari ciuman." kata Kuroko.

BUK!

Akashi melempar buku matematika ke muka mesum Kuroko.

"Akashi-kun hentikan bersikap hentai dengan tubuhku. Kalau mau hentai, nanti saja kalau kau kembali." kata Akashi kesal. Wajah imutnya berubah jadi wajah Hentai deh.

Eh? marah ya, Akashi? hihi.

Akashi hanya duduk merenung. Diraihnya novel life upside down milik Kuroko. Manik heterochrome itu cekatan membaca tiap baris di lembar-lembar novel itu. Sungguh, Akashi harus mencari cara lain. Hanya mengikuti novel yang menjadi cara agar mereka bisa kembali. Ciuman telah gagal, artinya ia tak bisa mengulang cara yang sama. Tangan mungil Akashi terus membalik lembaran-lembaran novel dengan cepat hingga membuat kertas tersebut sedikit lecak.

"Cih."

Decakan lidah keluar dari mulut Akashi. Bisa dipastikan, ia tak menemukan cara lain selain berciuman dan membunuh.

Apa... apa.. Akashi tak punya pilihan lain?

Apa ia harus membunuh tubuhnya sendiri alias tubuh Kuroko?

"Kh..."

Semakin dipikirkan, membuat otak jenius Akashi jadi pusing. Lupakan soal jenius dan sebagainya. Saat ini bukanlah jiwa Akashi yang ada di tubuh Akashi.

Sungguh, Akashi bisa gila sekarang. Ya, katakanlah dia orang stress!

Terus? bagaimana agar Akashi dan Kuroko kembali?

Mereka harus pergi kemana? apa mereka harus ke dokter?

Dan berkata bahwa mereka tertukar roh, gitu?

Mustahil.

Lalu? mereka harus pergi kemana?

Ke jonggol?

wakwaw.

Stop. Balik ke cerita.

"Sepertinya tak ada pilihan lain selain membunuh..." kata Kuroko tenang, "Baiklah, aku akan membunuhmu Tetsuya~" lanjutnya nyengir setan—siapapun yang melihat senyuman itu akan bergidik ngeri karenanya.

DEG!

Yang benar saja kau Kuroko! Apa kau gila?

"A-akashi-kun tega membunuhku?! Jahat!" kata Akashi nangis air mancur. Kuroko yang melihat itu langsung tersentak kaget melihat 'tubuhnya' menangis layaknya anak kecil tak dibelikan mainan.

"A-aku cuma bercanda Tetsuya! J-jangan membuat tubuhku jadi cengeng!"

Akashi mengelap air matanya, "Jadi gimana cara agar kita kembali? Aku bisa gila kalau begini terus.."

Kuroko memejamkan matanya—berpikir maksudnya.

KRIIIING! KRIIIIING!

Suara ponsel menyita perhatian mereka. Ah, berasal dari ponsel babyblue milik Kuroko. Manik babybluenya berkilat tajam. Huh? siapa yang mengirim pesan jam malam begini? sekarang pukul 23:05 tahu!

"Huh? si Taiga mengirimu pesan apa, hah?" tanya Kuroko tak suka. "Kuhapus ya."

Akashi tersentak kaget, "J-jangan!" dan dengan kasar, ia menyambar ponsel Kuroko dari si empunya.

Kedut kesal tercetak jelas di wajah mungil Kuroko.

"Cih, aku tak suka melihatmu akrab dengan Taiga."

Pemuda bersurai crimson itu membalikan tubuhnya dari Kuroko. Tangannya dengan cepat mengetik sebuah pesan singkat dan langsung membalas pesan yang katanya dari Kagami. Selesai mengirim, Akashi langsung menghela nafas lega.

"Eh?"

Aura hitam menguar di tubuh Kuroko. Kesal? pasti. Marah? sangat.

"Tetsuya~ cepat jelaskan semua ini." kata Kuroko kesal.

Akashi membalikan tubuhnya—menghadap Kuroko.

Akashi, sepertinya kau melakukan kesalahan fatal. Lihat, Kuroko jadi kesal kan?

"Kagami-kun hanya menanyakan keadaanku saja, Akashi-kun. Dia hanya khawatir." kata Akashi.

"Aku tak suka."

"Ya udah jangan suka."

Kedut kesal Kuroko semakin banyak. Eeer... Akashi menyebalkan!

"Itu tak penting Akashi-kun. Lebih baik kita pikirkan cara selanjutnya agar kita bisa kembali." kata Akashi mengalih topik.

Kuroko mengangguk tanda mengerti.

Tapi.. memangnya mereka tahu cara agar mereka kembali?

.—.—.

Waktu sudah menunjukan pukul 23:45. Bukan waktu yang singkat bagi Akashi ataupun Kuroko untuk memikirkan cara agar mereka kembali. Semua tenaga sudah dikerahkan. Mulai dari yang normal hingga yang konyol. Semua usaha sudah dikeluarkan namun nihil. Akashi dan Kuroko tampak lelah. Mereka lelah atas permainan gila ini.

Permainan tubuh yang tertukar.

Padahal mereka bukan pemain sinetron.

Manik heterochrome itu memandang novel itu dengan sedikit melotot. Pandangannya kosong akan novel itu.

Akashi naik ke ranjang tidur Kuroko. Diambilnya sebuah benda yang ia letakan di bawah bantal. Apa yang akan ia lakukan?

"Akashi-kun kalau aku membunuhmu, apa itu tak masalah?" tanya Akashi dengan pandangan kosong. Sangat.

Satu alis Kuroko terangkat, "Kau akan membunuhku?"

"Jawab pertanyaanku dulu, Akashi-kun." Akashi turun dari tempat tidur sambil memegang benda yang nampaknya berbahaya. Benda itu berkilat tajam. Kuroko yang melihat itu langsung menatap horror, "Baru kau boleh balik bertanya." lanjut Akashi.

Kuroko mencoba tenang, "Itu tak masalah. Kalaupun diantara kita harus ada yang mati, aku rela kau membunuh diriku, Tetsuya."

Akashi tersenyum, "Terima kasih Akashi-kun." Akashi tampak berjalan ke arah Kuroko sambil membawa pisau, "Tapi... aku lebih rela bila aku yang mati."

SYAAAT!

Sungguh, bila Kuroko terlambat sedikit saja, bisa dipastikan ia akan mati. Beruntung tadi ia menghindar dari serangan Akashi tiba-tiba. Mungkin Kuroko dianugerahi refleks yang bagus.

Bukan, mungkin saat ini beruntung yang ada di tubuh Kuroko adalah Akashi.

"Tetsuya?!"

Akashi tersenyum, "Kalau aku membunuh tubuhku sendiri, otomatis Akashi-kun bisa kembali." pisau itu terus mengayun memangsa Kuroko. Kuroko menatap Akashi tak suka, "Terus kau akan membiarkanku hidup tanpamu?!" kata Kuroko.

Sejenak, pemuda crimson itu menghentikan kegiatannya, "Aku akan selalu bersama Akashi-kun." Akashi kembali mengayunkan pisaunya, "Saat aku matipun, Aku akan terus mengejar Akashi-kun!"

"T-Tetsuya hentikan ini!"

SYAAASH!

"Kh!"

Satu sayatan berhasil melukai tangan mungil Kuroko.

"T-tetsu...ya..." ringis Kuroko. Walaupun jiwa Kuroko melukai tubuhnya sendiri, tetap saja Jiwa Akashi yang merasa sakit.

Manik babyblue Kuroko menatap sekeliling. Akashi tampak berjalan mengarahnya. Apa ini akhirnya?

Bukan, bukan ini yang diinginkan Kuroko. Baik Akashi dan Kuroko, mereka ingin kembali tanpa harus ada yang mati.

'Apa.. apa yang harus kulakukan?' batin Kuroko bertanya.

Sejenak, manik babybluenya menatap novel life upside down yang tergeletak begitu saja. Ia kembali mengingat apa isi novel itu.

Mereka...

'Tunggu! rasanya aku ingat sesuatu!'

Mereka...

'Ayo ingat! Aku adalah Akashi Seijuro!'

Mereka...

'?!'

'Mereka menyalurkan perasaan mereka sehingga mereka bisa kembali'

DEG!

Manik babybluenya terbuka. Ia tahu apa yang harus ia lakukan.

"A..Aku tahu!" kata Kuroko

Dan saat itulah Kuroko menemukan jalan keluarnya. Tanpa sadar, sebuah pisau sudah didepan mata. Dengan cekatan, Kuroko langsung menahan kedua tangan Akashi. Kuroko memang lemah, tapi lain soal kalau Akashi yang saat ini di tubuh Kuroko.

"Tetsuya salurkan perasaanmu padaku! Salurkan semua rasa sukamu padaku! Pikirkan tentang diriku!" kata Kuroko.

"Eh?!"

"Percayalah cara ini akan berhasil!" lanjut Kuroko lagi.

"?! Apa maksudmu, Aka—"

Kata-kata itu akan selesai bila tak ada bibir yang membungkam mulut Akashi.

"?!"

Salurkan perasaanmu padaku

Salurkan semua rasa sukamu padaku

Pikirkan tentang diriku

Percayalah cara ini akan berhasil

Akashi menuruti apa yang dikatakan Kuroko. Ia mencoba menyalurkan perasaannya pada Kuroko—begitupula sebaliknya. Bahkan tanpa sadar, Akashi mencoba menutup mata untuk memikirkan hanya Kuroko seorang.

Akashi memang menyukai Kuroko, begitupula Kuroko terhadapnya. Mereka tak bisa seenaknya mengutarakan rasa suka mereka.

Jujur saja, mereka takut hubungan mereka tak berjalan lancar.

Lebih baik begini dari pada hancur kan?

Tuhan.. Kumohon...

Kembalikan kami.

Kembalikan kami seperti semula.

Mungkin Kuroko memang bodoh, tapi ia tak bermaksud begini.

Bolehkah.. Bolehkah kami kembali?

Kumohon..

PLOP! BUM!

Huh? suara apa itu?

BRUK!

Karena tak bisa menjaga kesimbangan, Kuroko malah menubruk Akashi sehingga ia dan Akashi malah terjatuh. Posisinya Kuroko yang menindih Akashi. Merasa ada yang aneh, Kuroko mencoba membuka matanya.

"Eh?"

Surai babyblue nya.

Manik babybluenya.

Tubuh mungilnya.

Kembali!

"EEEEH!" teriak Kuroko terkejut. Ia terkejut dirinya telah kembali!

Kembali menjadi Kuroko Tetsuya.

Mendengar teriakan Kuroko yang cukup keras (?), membuat Akashi terbangun dari acara berbaringnya. Agak susah karena Kuroko menindih dirinya. Manik heterochromenya sedikit terbuka. Kuroko Tetsuya—itulah pemandangan yang dilihat Akashi saat ini.

Eh?! Kuroko Tetsuya!

"Hah?!" Akashi berusaha bangkit dari lantai dingin itu. Ia menatap Kuroko di depannya dengan muka cengo. Bila ia bisa melihat Kuroko berarti... dirinya sudah kembali menjadi Akashi Seijuro!

"..."

"..."

Akashi dan Kuroko menatap satu sama lain dengan cengo.

"A-Akashi-kun..."

"T-Tetsuya..."

"HOREEEEE! KITA BERHASIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIILLLLLLL!" teriak Akashi dan Kuroko barengan. Saking senengnya mereka sampe pelukan layaknya murid yang lulus masuk SMA favorit.

"Tak kusangka yang dikatakan Akashi-kun itu benar!" kata Kuroko memuji, "Terima kasih!"

Akashi hanya tersenyum, "Syukurlah kita berhasil kembali Tetsuya." Manik heterochromenya menatap lengan Kuroko khawatir, "Oh ya kau tak apa-apa? lu-lukamu.."

"Iya tak apa. Tak terlalu sakit. Toh ini karena ulahku sendiri." ujar Kuroko.

"M-maaf..."

Kuroko bangkit berdiri, "Kok minta maaf? aku yang salah, Akashi-kun." Pemuda babyblue itu menatap jam dinding di kamarnya, "Masih jam 00:00."

Akashi mengangguk, "Ayo tidur. Mungkin Ibumu akan memarahimu karena tengah malam teriak-teriak."

Kuroko cemberut, "Huh. Kan salah Akashi-kun ju—Huwaaa!"

Dengan cepat, Akashi menarik lengan Kuroko sehingga Kuroko menubruk Akashi. Tenang saja, kali ini bukan di lantai melainkan di kasur. Saat ini posisinya adalah Akashi memeluk Kuroko dari belakang. Kuroko mati-matian menahan semburat merah yang dipastikan sudah menjalar ke seluruh wajahnya. Astaga!

"A-Akashi-kun—"

"Sssh... tidurlah." potong Akashi cepat. Ia berbisik di telinga Kuroko sehingga si empunya merasa geli, "Kalau tidak kau akan melewari malam yang menggairah denganku."

Manik babyblue Kuroko membulat horror, "H-hah?"

"Tidur or i will rape you." kata Akashi absurd (ngomong dengan 2 bahasa).

"Iyaaa." kata Kuroko seperti anak ngambek. Lucu sekali.

Akashi yang melihat respon Kuroko itu langsung tersenyum.

"Uke yang nurut.." kata Akashi senang. Kemudian ia mencium telinga Kuroko dengan mesra, "Selamat tidur, Tetsuya sayang~"

Skakmat. Wajah Kuroko sudah merah semerah tomat. Telinga merupakan bagian sensitif Kuroko atau lebih tepatnya kelemahan Kuroko.

Dan saat ini Akashi menciumnya di telinga Kuroko yang merupakan kelemahannya.

"AKASHI-KUN BAKAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!" teriak Kuroko keras sekali.

Akashi? ia hanya tertawa menanggapinya.

Ternyata memang lebih enak menggunakan tubuh sendiri dari pada menggunakan tubuh orang kelewat pintar—batin Kuroko.

Ah.. mimpi indah hei Akashi, Kuroko.

Kuroko berusaha menstabilkan emosinya, "A-Akashi-kun.."

"Hm?"

"O-oyasumi." kata Kuroko malu-malu (?).

Manik heterochrome itu sedikit membulat. Senyum tipis terukir di paras tampan Akashi. Kelopak matanya perlahan tertutup—menyembunyikan iris heterochromenya yang begitu menawan. Ya, malam ini akan damai bagi kalian berdua.

'Syukurlah kami bisa kembali' batin Akashi.

.

.

.

.

.

.

.

END


"Maaf, anda siapa ya?"

HUWAAAAA! MAAFKAN RIKKA! MAAFKAN RIKKA! SUMIMASEN SUMIMASEN SUMIMASEN!

Iya, Rikka ngaku saya author nyebelin tingkat akut. QAQ

Maaf bagi kalian yang sudah nunggu berbulan-bulan demi apdetnya FF nista ini.. aduh Rikka merasa bersalah QAQ *gigit sepatu*

Mohon salahkan tugas sekolah yang luar binasa minta digunting. Salahkan UAS juga! /bilangajaauthornggamaudisalahin.

Oke-oke intinya saya minta maaf. maaf kalau FF ini juga kurang memuaskan. QwQ

Akhir kata,

Review pls? onegai~ :"3

Saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya pada kalian yang sudah menyempatkan diri membaca FF ini. Baik silentreaders atau pun readers yang sudah membaca FF ini.

Terima kasih banyak~ Rikka sayang semua :D

Special Thanks to:

KakaknyaKurokoTetsuya | KUROUJI | shota nogami | Kuhaku | Keys13th | AulChan12 | Yuzuki Yanmushiro | Eqa Skylight | Uchiha Ryuuki | | Miyucchi | Koyuki Tooki | Indrikyuu88 | Flow. L | ShizukiArista | Kazusaki Kuga | Shizuki Miyuki |

AND YOU~!