Manik obsidian miliknya memandang Eren tajam. Tidak suka. Bukannya tidak suka pada lawan bicaranya, tapi pada sikapnya. Pada prilakunya, pada segala perbuatannya. Rivaille bersandar di pintu kamar Eren, melipat lengannya didepan dada, ia mendecak.

"Kenapa pagi ini baru pulang?" tanyanya, menuntut jawaban. Sebenarnya Rivaille sudah tau. Dan Eren tidak berniat menjawab. Ia mengacuhkan Rivaille, pura-pura sibuk dengan skripsi dan tugasnya. Cukup. Habis sudah kesabaran Rivaille. Sedari tadi, ia sudah cukup bersabar menghadapi bocah ini. Rivaille berjalan kearah Eren dengan cepat, menarik kursi yang diduduki Eren, membuat pemuda dengan surai hazel itu menjauh dari meja dan laptopnya.

Tatapan marah diberikannya pada laki-laki yang lebih tua.

"Apa, sih?!"

"Aku bertanya padamu. Setidaknya jawab, jangan mengacuhkanku."

Obsidiannya lagi-lagi memandang tajam. Eren menepis tangan Rivaille yang mencengkram kursinya, "kau tidak perlu tau." Alis Eren menukik kebawah. kenapa orang disekelilingnya harus ikut campur urusannya? Tau begini, Eren jauh lebih baik tinggal bersama sekawanan pelacur yang dikenalnya di club daripada bersama dokter ini. Kalau bukan karena Rivaille mengawasinya dengan ketat, Eren sudah jauh-jauh pergi dari sini.

(Hei, bahkan nomor handphone Eren pun sudah dibobol oleh Rivaille)

"Aku perlu tau. Kau tinggal dirumahku sekarang, bocah. Aku juga sudah bilang untukmu agar jam 10 sudah segera pulang, kelas malam kuliah-mu selesai jam 9, kemana kau hingga pagi begini baru pulang?"

Sungguh, Hange baru saja menelepon tadi ada pasien yang gawat dan meminta Rivaille datang as soon as possible. Tapi jadi tertunda karena ia menunggu Eren pulang, dan bocah brengsek itu baru pulang aja 7 pagi.

Eren sendiri bukan orang yang sabar. Ia menggebrak meja, "berisik! Tidak bisakah kau diam?! Kalau kau tidak suka, maka biarkan aku pergi!"

Dan ia keluar dari ruangan apartment Rivaille. Sang dokter menghela napas, berat. Baru 5 hari Eren disini dan tembok antara dia dengan Eren semakin tinggi. Bagaimana baiknya menghadapi bocah semacam itu?

Nah, Rivaille membatin, aku harus berangkat ke rumah sakit sekarang.

Akar permasalahan dimulai sekarang.

.

.

.

Attack on Titan © Isayama Hajime

Warning! Typo, OOC, bahasa tidak sesuai EYD, dan lain-lain

Genre : Romance, Drama

Character : Eren Yeager, Rivaille Ackerman

Note : Saya membuat fic ini atas pemikiran sendiri, kalau ada kesamaan dalam bentuk apapun, itu adalah ketidaksengajaan.

"Take Care of Him" – Andrea Sky

.

.

.

Chapter 1 : "New Life"

.

.

.

Rivaille memijit pelipisnya. Ia melirik kearah jam, ah–jam 5 kurang. Sebentar lagi ia bisa pulang seharusnya. Seseorang menepuk pundaknya, mau tau mau membuat Rivaille menoleh. Oh–Erwin. Sang pemilik surai pirang tersenyum tipis, "bagaimana Eren?"

"Brengsek," tanggap Rivaille sekenanya.

"Oh ya, sudah kuduga," Erwin tertawa kecil. "Maaf menyusahkanmu, ya. Kau juga tau, orang tua-nya tidak mau mengurusnya lagi. Aku tidak bisa mengurusnya, bahkan dalam seminggu hanya 2 kali aku pulang kerumah."

"Aku mengerti," ya, Rivaille sudah tau. Erwin pasti merasa bersalah. Erwin menepuk pelan pundak Rivaille, lagi. "Pulanglah. Ini sudah sore,"

"Hm-mmn," Rivaille mengangguk, melepas jas dokternya, "tentu." Ia berdiri dari kursi yang didudukinya, meraih kunci mobilnya, lalu bersiap pulang.

.

Rivaille membuka pintu, menimbulkan bunyi berderit pelan.

"Yeager?"

Rivaille berjalan kekamar Eren, melongokkan kepalanya kedalam. Ah, ada. Dia sedang tertidur. Rivaille berjalan pelan kearah kasur Eren, duduk di sisi kasurnya. Ia ada kelas jam 6 hari ini, sebaiknya Rivaille bangunkan atau tidak? Tapi Eren memang terlihat–

"Mnhh… je suis désolé–Rivaille…"

–lelah. Apa anak ini mengigau? Ah, lagipula, bahasa apa itu–kenapa ada namanya dalam igauan Eren, mimpi apa sih dia?

(Oh–haruskah Rivaille penasaran?)

Rivaille menghela napas, tangannya terulur, untuk mengusap surai brunette Eren. Gerakannya kaku, dan berhati-hati. Rivaille akui, ia tidak pernah berlaku selembut ini pada siapapun. Tapi melihatnya, mungkin simpati yang membuat dokter itu bersikap begini.

Yah, sudahlah. Biarkan saja ia tidur, bolos sehari dari kelasnya tidak berefek banyak. Rivaille bangkit dari kasur Eren, dia berjalan keluar kamar.

"Ah, aku akan memasak makan malam sekarang…"

Sementara itu, Eren perlahan membuka kelopak matanya. Ia mendekap bantalnya semakin erat. Ia sudah bangun dari tadi, sebenarnya. Ia hanya berpura-pura tertidur agar Rivaille tidak mencerewetinya lagi.

Dan yang terjadi adalah ia berkata 'aku minta maaf–Rivaille', dalam bahasa Perancis. Eren tidak berniat meminta maaf, sebenarnya. Ia reflek mengucapkan itu karena mengingat bahwa ya–tadi pagi, ia memang sangat kelewatan.

Eren menutup matanya. Kenapa pamannya harus menaruhnya disini–ia hanya akan menyusahkan semua orang. Eren cukup tahu diri. Biarlah dia menjalani kehidupanya sendiri, rutinitasnya sendiri, mencari uang sendiri. Ia tidak mau melibatkan orang lain, siapapun itu.

Eren meremas surainya sendiri. Kenapa… Rivaille mau menjaganya…?

"Yeager, bangun."

Eren tersentak. Ia menoleh kearah pintu, "y–ya?"

"Makan malam sudah siap."

"… aku akan makan diluar," Eren berucap, buru-buru bangkit dari kasurnya, ia mengambil tas-nya, memasukkan buku pelajaran. Rivaille yang melihat itu menghela napas.

"Baiklah, sana cepat ke kampus. Kurasa kau sudah telat dan–"

Rivaille menepuk punggung Eren, pelan. "berjanjilah kau akan makan malam. Jangan pulang terlalu malam,"

"A–ah, ya –…" Eren mengangguk, ia tergesa-gesa keluar dari ruang apart Rivaille. Rivaille, sekali lagi–dan yang entah untuk keberapa kalinya hari ini–menghela napas.

"Anak itu memang tidak bisa diikat,"

Dan Rivaille akhirnya makan malam sendiri–hanya seperti biasanya. Seperti malam-malam sebelumnya.

.

"Eren!"

Eren menoleh kearah sumber suara, kemudian ia tersenyum lebar. Ia melambai-lambaikan tangannya, "Armin!"

Armin datang menghampirinya, "bagaimana hari-harimu?"

Eren mengeluarkan buku dari dalam tasnya, "hm-mnnn," dia memikirkan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan keadaannya sekarang dengan Rivaille. Wew, keadaannya sekarang bisa dibilang hubungan anjing-kucing dengan Rivaille, sebenarnya.

"Biasa saja. Tapi orang yang menjagaku sekarang terlalu mengekangku. Aku bahkan tidak dibiarkan bekerja,"

Ah… Armin benci topik ini. Meski ia bilang berkali-kali pada sahabatnya itu, bahwa bekerja sebagai pelacur tidak baik, itu percuma saja–Eren tidak akan pernah mau mendengarkannya. Eren terlalu lelah untuk mendengar nasehat orang lain. Armin sangat berharap orang yang menjaganya sekarang, orang yang Eren ceritakan bisa menjaganya dan mengubah Eren sendiri.

"Oh… tapi ia bermaksud baik, kan.."

"Aku tau," Eren mendesah jengah, "tapi aku butuh pelarian–"

Armin mengerti–kalau ada hal yang tidak ia mengerti adalah, bagaimana ia bisa menjadi teman dekat Eren sejak kecil.

"–pelarian dari duniaku yang waktu itu,"

Hingga perjalanan sampai Eren sudah duduk didalam kelas, ia terus berpikir…

kenapa Rivaille ingin menjaganya?

Eren sudah tidak bisa diubah, meski pemuda itu tau bahwa Rivaille memang diminta pamannya untuk merubahnya.

Sudah tidak ada jalan untuk kembali.

Sekali kau memasuki labirin yang amat gelap, maka tidak akan pernah menemukan cahaya lagi, barang sekecil pun.

Ia tidak ingin tinggal dengan Rivaille. Alasannya jelas, ia akan menyusahkan Rivaille, dan juga Eren sudah tidak mungkin berubah.

Harusnya Rivaille bisa saja menolak permintaan pamannya untuk mengurusnya. Lalu kenapa Rivaille menerimanya? Kalaupun itu karena terpaksa, Rivaille tidak perlu repot-repot mengurusi hal-hal remeh semacam makan malam ataupun kelas kuliah Eren.

Heh. Eren mendenguskan tawa meremehkan. Rivaille tidak pernah sepertinya, pria itu tidak mengerti.

Lalu kenapa–Rivaille masih bersikap baik padanya?

Eren sangat tidak mengerti.

.

Rivaille mengacak rambutnya frustasi. Matanya beralih kearah jam lagi. Pukul 11 malam. Tuhan–Eren bahkan mematikan ponselnya! Rivaille tidak akan bisa meneleponnya kalau begini! Eren pasti bekerja lagi. Padahal Rivaille sudah mengingatkannya–ah, iya, sih, Eren bukan tipe orang yang akan nurut kalau cuman berdasar kata-kata.

Rivaille meraih handphone-nya lagi, mencari kontak bernama 'Eren Yeager' didalamnya, kemudian menekan tombol 'call'.

"–pelanggan yang anda hubungi sedang sibuk mohon tunggu–tuts"

GAH. Lebih baik Rivaille segera tidur. Ia mengantuk dan lelah sekali hari ini.

Drrt–

Rivaille mengangkat panggilan masuk, "halo–ya, Erwin?"

"Rivaille, apa ponsel Eren bisa terhubungi?"

Rivaille menggeleng–meski Erwin tidak bisa melihatnya, "tidak. Kemana anak itu?"

"Tadi aku bertanya pada temannya, Armin. Katanya Eren tidak pergi ke club malam seperti biasanya. Bahkan Armin tidak bisa menghubungi Eren,"

Oh–lalu? Bukankah itu bagus, kenapa nada bicara Erwin panik begini?

"Ya bagus, kan, artinya dia tidak–"

"Itulah masalahnya, Rivaille! Kalau dia disana, aku bisa langsung menjemputnya dan membawanya ketempatmu. Armin sendiri sama sekali tidak tau dimana Eren,"

Bocah sialan, Rivaille merutuk kesal. "Aku mengerti. Aku akan mencarinya,"

"Tunggu, diluar–"

Apa hanya Erwin saja atau setiap kali Rivaille telponan dengan orang, ia yang akan selalu memutus sambungan?

Rivaille lekas mengambil kunci mobilnya. Ia turun menggunakan lift ke basement, kemudian mengendarai mobilnya keluar dari parkiran.

Ah–… hujan.

Tidak butuh waktu lama bagi Rivaille untuk segera menjalankan mobilnya ke tengah hiruk pikuk kota Berlin. Meski ini sudah lumayan malam, kendaraan bermotor masih sibuk berlalu-lalang di jalanan. Dimana tempat Eren biasanya uhm–menarik pelanggan?

Mata Rivaille menjelajah seluruh jalanan, fokus mencari bocah tanggung dengan rambut cokelat yang khas.

Kemana anak itu?

Bocah dengan rambut brunette

Ah–!

Sesaat, manik obsidian Rivaille melebar. Kaki kirinya menekan pedal rem dengan cepat. Jangan katakan ia salah–apa itu Eren yang sedang masuk kedalam sebuah hotel, bersama dengan seorang perempuan? Persetan dengan hujan, Rivaille turun dari mobilnya. Berlari kearah seberang jalan, dimana ia tadi melihat Eren.

"EREN!"

Tubuh Eren limbung lantaran merasakan dirinya tertarik kebelakang. Sesuatu yang hangat menembus pergelangan tangannya, kemudian, punggungnya serasa bertubrukan dengan sesuatu yang –… basah?!

Eren berbalik kebelakang, "Rivaille?!" ia membelalak–ya ampun, kenapa Rivaille basah-basahan seperti ini? Apa dia lari menembus hujan?

"Ren, ini siapa?" seorang perempuan yang tadi menggandeng Eren bertanya kesal, mungkin terganggu dengan kehadiran Rivaille.

"Ah, ini–"

"Pacarnya. Nah, Eren, ayo pulang."

"Ya–APA?!"

Perempuan itu poker face. Singkatnya ia baru saja menyewa seseorang yang orientasi seksualnya belok?!

Rivaille menyisir rambutnya yang basah kebelakang dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya masih menggenggam erat pergelangan tangan Eren, menyeretnya keluar dari lantai dasar hotel tersebut.

"Pakai tudung jaketmu–" Rivaille menarik tudung jaket Eren hingga menutupi penuh kepala sang surai brunette, ia berlari secepatnya, membawa Eren ke mobilnya, Rivaille memasukkan Eren kedalamnya. Dan Rivaille sendiri duduk di kursi kemudi, mulai menjalankan mobilnya.

"Kenapa kau memaksaku pulang?! Bayaran yang tadi diberikannya tinggi, tau–"

"Tidak. Aku tidak tau," suara Rivaille merendah. Lebih berbahaya–jauh lebih berbahaya dari yang pernah Eren dengar. Kali ini lebih mengancam. "Aku tidak tau. Yang kutau adalah, Erwin memintaku menjagamu dari apapun juga,"

Eren menggertakan giginya. Ia sudah berniat membentak lagi kalau saja Rivaille tidak dengan sengajanya mengerem mendadak saat laju mobil yang bisa terbilang cepat, dan Eren hampir terantuk dashboard mobil.

Napas Rivaille tidak teratur. Bulir-bulir air masih bertengger di rambutnya, dan seluruh bajunya basah hingga membuat kursi kemudi menjadi ikutan basah. Aroma maskulin hadir di indera penciuman Eren, otaknya memberi respon bahwa aroma yang terendusnya itu–

…–menenangkan.

"Dengar," Rivaille menarik napas, meraih dagu Eren dengan telunjuk dan ibu jarinya, membuat sepasang hazel bertemu obsidian. Eren menahan napasnya, sementara napas Rivaille yang berubah-ubah dalam ritme tidak tetap menyapu wajah Eren.

"Bisakah kau tidak membuatku khawatir lagi–bahkan seseorang bernama Armin tidak bisa meneleponmu kata Erwin. Aku sudah cukup lelah hari ini, bocah."

"–!"

"Aku tidak menerima protes. Kalau kau memang butuh sesuatu, kau tinggal bilang padaku. Jangan melakukan hal yang menurutmu tidak benar, ah–kau bukan anak sekolah dasar yang belum mengerti apa-apa," Rivaille menyentil dahi Eren, cukup keras, karena pemuda tanggung itu mengeluh sakit.

"… berisik," kenapa semua orang harus ikut campur?

(Kenapa jauh di lubuk hati Eren, dia kesal dengan kenyataan bahwa Rivaille mencarinya karena permintaan pamannya? Seandainya itu bukan pamannya–

–akankah Rivaille tetap mencarinya juga?)

.

"Hatchi–!"

Ahhh, sial. Rivaille benar-benar tidak bisa tidur. I'm totally an idiot, Rivaille memijit pelipisnya yang terasa pusing. Yah, dia memang bodoh, hujan-hujanan pada jam 11 malam. Gelap. Jam berapa sekarang? Rivaille meraba-raba meja yang ada disebelah kasurnya, kemudian saat menemukan ponselnya, ia membuka flip ponsel itu, melihat jam yang tertera di layar ponsel. Baru jam 2…

Rivaille memutuskan bangkit dari ranjang, keluar dari kamarnya, kemudian menyalakan lampu kecil yang terletak di dekat meja makan. Lalu ia mencari gelas, dan mengeluarkan sekotak susu dari kulkas.

"Ne, ne, Rivaille! Kau tau, kalau kau tidak bisa tidur, minumlah segelas susu hangat! Itu membantumu, lho, karena aku juga begitu!"

Ucapannya terngiang lagi. Meskipun Rivaille tau, ia tidak bisa tidur bukan karena apa, tapi karena terkena hujan di waktu yang sudah cukup malam… tapi, ia tetap menghangatkan segelas susu vanilla, kemudian meneguknya hingga habis.

Setelah itu, Rivaille beralih pada kotak P3K, mencari obat flu. Obat flu, obat flu, obat–ah itu dia. Rivaille mengambil gelas yang tadinya ia buat untuk meminum susu putih, kemudian diisinya dengan air putih. Ia menelan pil obat yang tadi diambilnya, disusul dengan tegukan air putih.

"Hiks–hik… –arrêt... mal, ne pas jeter le livre à moi... ne me frappe pas..."

Rivaille mengerutkan dahinya saat mendengar suara dari dalam kamar Eren. Lagi-lagi anak itu mengigau dengan bahasa yang tidak Rivaille ketahui.

Tadi–… apa?

Rivaille berjalan kearah pintu kamar Eren, mengetuknya pelan.

"Yeager?"

"N–ne touchez pas! N'approchez pas, ne pas s'approcher! Aller!"

Rivaille tersentak saat Eren tiba-tiba membentak seperti itu. Jadi, Rivaille membuka pintu kamar Eren, mendekat kearah pemuda itu.

Ah… dia menangis.

Anak ini bermimpi buruk?

"Yeager? Yeager–"

Mendadak, mata Eren terbuka, ia menepis tangan Rivaille yang tadinya hendak digunakan sang dokter untuk mengguncangkan tubuhnya–untuk membangunkannya.

"ALLER–…"

Napas Eren memburu dalam ritme tidak tetap. Beberapa detik kedepan, sang pemuda baru sadar kini ia tidak lagi di tempat dan dalam kejadian seperti mimpinya. Merasa Eren sudah cukup tenang, Rivaille menghela napas, berucap, "kembalilah tidur."

"Ah… ya."

Rivaille harus bertanya pada Erwin besok.

.

.

.

TBC

.

.

.


Daaan! Inilah chapter 1-nya. Ya, saya tau, ini amat absurd jadi maaf saja yah :"v

Well, Review?