"Uhuk–uhuk!"

Hange menatap seseorang yang disebelahnya, khawatir.

"Eeehm, Rivaille–kamu gak sebaiknya pulang saja?"

Rivaille menggeleng, setelah meredakan batuknya, ia berujar dengan tenggorokan yang serak, "ah.. sebentar lagi juga jam pulang."

"Iya, sih, tapi–"

"Uhuk!"

"–nah, kan... gak sebaiknya pulang sekarang saja?"

Rivaille meminum air putih banyak-banyak. Akh, dia harap ini meredakan demamnya. Bukannya sembuh dari flu malah makin demam. Kampret.

"… oke–"

"Dr. Ackerman! Ah, ada pasien gawat di UGD!"

"… aku segera datang,"

Sepeninggalan temannya yang masuk ke Unit Gawat Darurat itu, Hange menghela napas.

"Tuhan senang memberimu cobaan,"

.

.

.

Attack on Titan © Isayama Hajime

Warning! Typo, OOC, bahasa tidak sesuai EYD, dan lain-lain

Genre : Romance, Drama

Character : Eren Yeager, Rivaille Ackerman

Note : Saya membuat fic ini atas pemikiran sendiri, kalau ada kesamaan dalam bentuk apapun, itu adalah ketidaksengajaan.

"Take Care of Him" – Andrea Sky

.

.

.

Chapter 2 : "Hard to Change"

.

.

.

Rivaille menutup pintu apartment, kemudian menghela napas, berat. Beruntung ia tidak meleng saat mengoperasi pasien tadi karena demamnya. Ah, kepalanya pusing sekali. Sekarang jam 7… mungkin Eren sudah pergi ke kelasnya. Ya sudahlah, Rivaille juga agak malas untuk memasak makan malam. Lebih baik ia segera pergi mandi dan tidur.

Seusai mandi, Rivaille benar-benar melakukan apa yang dipikirkannya tadi–tidur. Lalu Ia merebahkan dirinya di kasur, bernapas lega. Akhh, parah. Setahu Rivaille, tubuhnya sangat tahan banting.

Hmn...–ngantuk…

Rivaille mengantuk…

.

.

.

"Ren... Ren!"

Eren berjengit kaget, kemudian menoleh pada sampingnya, tersenyum.

"Ah... ya?"

Perempuan yang ada di sebelah sang pemuda brunette itu membentuk seringai tipis. "Yang kemarin," ucapnya, "pacarmu beneran?"

Eren menggeleng, terkekeh, "hm-mnn… memangnya… jawaban apa yang kamu inginkan?" jari telunjuk Eren memainkan rambut seseorang yang disebelahnya, sementara tangan Eren yang satu lagi digunakan melingkar di tubuh molek perempuan itu.

Terhalang oleh suara speaker di club tersebut, perempuan itu mendesah, ia berbicara dengan nada yang pura-pura kesal, "ayolah, jangan begitu. We are partner, right? A partner must work together, you know."

Eren terdiam sebentar. Ia memajukan tubuhnya, mengecup leher sang perempuan sensual.

"… Right, we're partner."

Perempuan itu terkikik kecil. Ia berjinjit, menempelkan bibirnya pada milik Eren.

"Wellyou wanna play some game, Ren?"

Eren terdiam.

"Jangan melakukan hal yang menurutmu tidak benar, ah–"

"Ren?"

"–kau bukan anak sekolah dasar yang belum mengerti apa-apa."

Ah… iya. Eren ingat, kemarin Rivaille ngomong begitu. Sambil hujan-hujanan, dan Eren mengingat kalau tadi pagi bahkan Rivaille batuk-batuk terus karenanya.

"Kalau kau memang butuh sesuatu, kau tinggal bilang padaku,"

"I will not be able to resist, right?"

Nee… kalau semisalnya Eren menjawab pertanyaan Rivaille kemarin,

ia membutuhkan sesuatu, akankah Rivaile memenuhinya?

.

.

.

Rivaille menguap, menimbulkan setitik air di sudut matanya.

Untunglah ini hari Minggu, Rivaille jadi bisa beristiharat. Lelaki pemilik surai obsidian itu bangkit dari kasurnya, berjalan kearah dapur. Sebaiknya ia mengisi perutnya, mengingat semalam ia tidak makan sama sekali, dan malah ketiduran sampai pagi.

"Yeager?" ah, Rivaille baru ingat anak ini. Mengetuk pelan pintu kamar pemuda tanggung itu, Rivaille bertanya–dengan suara yang agak serak, "sudah bangun? Kau mau sarapan?"

"Ehmn–mau… aku segera bangun…"

Rivaille mengehela napas lega. Kali ini Eren tidak pergi bekerja, kan?

Jadi, masak apa? Dan hal pertama yang Rivaille lihat di kulkas adalah telur.

… oke.

Eren setengah ngelantur, dan saat hidungnya mencium aroma familiar yang menyenangkan, Eren membuka kelopak matanya, perlahan-lahan. Wangi bawang bombay yang khas tercium, bersamaan dengan suara gesekan antara spatula dan panci.

Eren mulai turun dari ranjang, membuka pintu kamarnya, ia menguap lebar. Tangan satunya lagi ia gunakan untuk mengucek sebelah matanya yang masih belum terbuka penuh.

"… omelet…"

"Ah," Rivaille menyiapkan sarapan diatas piring, "duduk sana," ucap Rivaille. Eren mengangguk, ia menguap lagi. Rivaille mengangkat sebelah alisnya, anak ini terlihat sangat ngantuk.

"Nah–"

Rivaille membelalak. Sesuatu menelusup masuk ke dalam dadanya, ah–… kesal. Rivaille jadi sangat kesal sekarang. Itu…

kiss mark.

Di leher Eren. Ada 2 atau 3 jumlahnya, dan mungkin bisa lebih di bagian tubuh yang tertutupi pakaian sang brunette.

Argh, terserahlah.

"Eren, semalam kau pergi kemana?"

"Eh?" Eren menyuap omelet kedalam mulutnya, "tidak… kemana-mana."

"Oh," Rivaille menyahut singkat, tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini lagi. Harus bagaimana ia menghadapi bocah ini… sangat teramat merepotkan.

(Kenapa dia harus sekesal ini?)

Seusai sarapan, Eren kembali kedalam kamarnya, dan Rivaille sendiri bingung mau melakukan apa.

Padahal baru jam 9, tapi sinar matahari yang masuk melalui jendela lumayan membuat ruangan agak panas.

"Aku ingin beres-beres saja…"

Kemudian dengan masker putihnya, Rivaille mulai menyapu seluruh ruangan, hingga ke tempat-tempat seperti belakang meja sekalipun. Ah, ya, kamarnya juga harus disapu–

Klek!

Eren keluar dari kamarnya, agak menganga bingung melihat Rivaille

"…."

"…."

"… ngapain?"

"… Yeager, sana, bersihkan tempat-tempat berdebu," perintah Rivaille. "Ehh?!" Eren mengerucutkan bibirnya, "malas.."

Dan remot televisi sukses mengenai kepala dengan rambut cokelat.

"Aw!"

Rivaille memberinya kain, "nih."

Eren masih manyun. Kemudian, ia menghela napas. Tapi pada akhirnya Eren juga tetap mengikuti ucapan Rivaille untuk membersihkan rumah. Hari itu, meski air conditioner menyala, ruangan masih agak panas. Tapi anehnya, Eren tetap membersihkannya tanpa mengeluh ataupun merasa keberatan.

Sebuah gambaran terlintas di kepala Eren. Gambaran anak kecil dengan seorang perempuan yang sangat manis dan lembut, dan mereka berdua sedang membereskan rumah bersama. Dan Meski anak kecil itu beberapa kali melakukan kesalahan hingga sang perempuan harus membereskannya lagi, tapi perempuan itu tetap tersenyum, dan menuntun anak kecil itu untuk membereskan rumah bersama lagi dengan benar.

… kenapa membereskan rumah bisa semenyenangkan itu…?

"Yeager–! Ini masih banyak debu, payah sekali!"

Eren tersentak, kemudian menoleh pada Rivaille, "masa, sih?! Aku sudah–"

Tluk–

Bruk–

Cpyash–!

Singkat kata, back sound diatas adalah saat Eren hendak berjalan kearah Rivaille lalu kakinya tersandung ember berisi air dan membuat air itu tumpah plus sedikit membasahi baju Eren.

"Adududuh…" Eren mengusap kepalanya yang terantuk lantai. Ukh, sakit juga…

"Pft–"

Eh?

"Hah–hmph.."

Apa Rivaille… menahan tawanya? Ah… ya. Kalau orang biasa, mungkin akan terlihat biasa. Tapi ini Rivaille. Ini seorang Rivaille yang menahan tawanya. Walau sebentar, tinggal dengan Rivaille membuat Eren mengerti, bahwa pria ini bukan orang yang sebenarnya bisa mengumbar tawa dengan mudah. Rivaille membuka masker putihnya.

"Apa, sih, yang kau lakukan?" Rivaille mendengus, menahan tawanya.

Apa, sih… yang kau lakukan… Eren mengulang pertanyaan itu dalam hatinya.

"Haha! Apa sih yang kamu lakukan, Eren? Tuh, berantakan loh!"

(Dan Eren tidak tau kalau wajah Rivaille saat tersenyum itu sebegini menenangkannya)

"Hei–! Sakit, nih! Jangan tertawa saja, dong!"

"Nah, siapa suruh kepleset gitu?" Rivaille mengulurkan tangannya. Eren menatap uluran tangan itu, sesaat. Kemudian memegang tangan Rivaille, menjadikannya tumpuan untuk berdiri dengan normal lagi.

Besar, ya. Tangan Rivaille itu… besar.

"Karena kau yang menyebabkan ini, bocah… jadi, bereskanlah."

"Hah?!"

"Masih protes?" Rivaille menyeringai kecil.

"… Huh…"

Dan Eren membereskan itu, pada akhirnya.

Rivaille lanjut membersihkan yang lain, hingga waktu menunjukkan pukul 12 siang, ia dan Eren selesai membereskan ruangan apartment itu. Yah, meski pada awalnya sudah bersih dan beres, sih, karena Rivaille itu kan orang yang gila kebersihan.

"Kau mau makan keluar?"

"Yaaa…. aku ingin mandi dulu," dan Eren berlenggang pergi ke kamar mandi. Ponsel Rivaille mendadak berdering kecil, menandakan pesan masuk disana. Jadi, Rivaille membuka ponselnya, men-check siapa yang mengiriminya pesan atau e-mail

"… harus banget?" Rivaille menutup ponselnya cepat, mendengus. 10 menit kemudian, Eren keluar dari kamar mandi, dengan pinggang yang terbalut dengan handuk berwarna hijau tosca miliknya. Selepas Eren, kini giliran Rivaille yang membasuh tubuhnya.

"Sudah,"

Rivaille berjalan mendekati Eren, membuat Eren kaget. Rivaille mengangkat tangannya, Eren reflek menutup mata. Apakah aku akan dipu–

Rivaille menyentuh salah satu sudut leher Eren menggunakan jari telunjuk dan tengahnya, mengusapnya pelan, kemudian berucap, "jangan berbohong, lagi… ya?"

"Eh? Ah–…" Eren mengusap lehernya, mengangguk pelan, "… iya…"

Dia tidak memarahiku..? Dia tidak memukulku..? Eh, kenapa…? Aku, 'kan, melakukan kesalahan… a –aku tidak mengikuti perkataannya…

"Eren?"

Sekali lagi, Eren dibuat kaget oleh Rivaille. Eren mengangguk, "ah.. ya, ayo, pergi…" ucapnya.

Kenapa aku terbawa lagi tentang saat itu, sih…? Eren menutup matanya sesaat, kemudian menarik dan membuang napas, pelan. Tapi kemudian ia tersenyum kecil. Dia tidak memarahiku. Rivaille mengangkat alisnya. Ada apa dengan anak ini? Tadi menghela napas, lalu sekarang senyam-senyum begitu. Hah, aneh, deh.

Dan mereka keluar makan dengan menggunakan mobil Rivaille. Hari sudah siang, matahari bahkan sudah tepat diatas kepala. Kota Berlin terlihat sangat ramai hari ini–ah, tentu saja, ini hari Minggu. Hari dimana sebagian besar orang libur dari kegiatan yang biasanya dilakukan seperti sekolah maupun bekerja.

"Kita akan makan kemana?" tanya Eren, sambil memperhatikan hiruk pikuk kota.

"Ke sesuatu tempat," Rivaille menjawab cuek, memperhatikan jalan. Dan waktu dihabiskan dengan keheningan yang ada. Mendadak, Eren berkata pelan, "Sir Rivaille…"

"… 'Sir'?"

Eren mengangguk, "ah… tidak apa-apa, kan?"

"Tidak. Sama sekali tidak… apa-apa."

Kenapa harus 'sir'?

Rivaille maupun Eren, keduanya sama-sama memikirkan hal itu.

Drrtt–!

Ponsel Rivaille berdering panjang. Tanpa melihat, Rivaille mengambil ponselnya yang terletak di atas setir.

"Ya, ha–"

"RIVAILLE~! Kamu dimana?! Semua sudah disini, loh!"

Wow… dahsyat. Bahkan Eren saja sampai bisa mendengar suara itu. By the way… itu siapa, ya? Terlihat Rivaille mengernyit sebal, "berisik. Ini juga on the way kesana, sabar, mata empat sial. Suaramu toa,"

"Uhh, aku tak sabar melihat keponakkannya Erwin, tau!"

Keponakkan Erwin–maksudnya, Eren?

Dan apa lagi itu toa?

"Tsk, brisik–ah, lampu merah."

"Maju saja, Rivaille!"

"Kau baru saja menyuruhku melanggar lampu lalu lintas?!"

Sepertinya, perempuan di seberang telpon itu sangat dekat ya dengan Rivaille… Eren jadi terkekeh kecil, entah bagaimana, Rivaille jadi terlihat lebih hidup.

"Kenapa tertawa…?"

"Eh?" Eren menoleh pada Rivaille. Sejak kapan ia sudah memutuskan sambungannya? "tidak ada apa-apa… sir,"

Hei, Eren Yeager, 'tidak ada apa-apa' dengan senyuman seperti itu–Rivaille tidak percaya, deh. Oh, tapi yasudahlah. Sepertinya hari ini mood Eren sedang baik. Terbukti waktu ia tadi ikut membereskan ruangan apart, bahkan tidak hanya yang Rivaille minta saja, namun terus membersihkan semuanya.

Beberapa saat kemudian, mereka sampai di sebuah tempat. Ah, itu sebuah café.

Klining–!

Suara lonceng kecil terdengar saat Rivaille membuka pintu, dan masuk kedalamnya, diikuti oleh Eren. Café ini cukup kecil dan minimalis. Tapi nyaman, dengan interior dan desain yang simple dan rapih. Lukisan-lukisan abstrak kecil terpaut di dinding yang ber-wallpaper papan kayu.

"Itu dia! Rivaille~!" seseorang perempuan dengan kacamata dan rambutnya yang diikat 1 melambaikan tangannya semangat kearah mereka. Mata Eren langsung tertuju pada seseorang yang tidak asing baginya, Erwin. Saat mereka sempat bertukar pandang, Erwin tersenyum kecil.

"Untuk apa kesini, sih?" Rivaille menarik kursi, kemudian duduk. Ia menjetikkan jarinya untuk meminta menu pada pelayan.

"Tujuan utamaku, sih, melihat anak iniiii~" Hange mencubit pipi Eren, gemas, "Eren, kan? Aku Hange Zoe!" Eren mengangguk, "aku Eren…"

"Erwin, keponakanmu manis sekali," seorang gadis tertawa kecil, gadis dengan rambut jingga-nya yang pendek. "Kalian pesan lah makanan," kata Erwin. Saat pelayan datang, Eren dan Rivaille memesan pesanannya masing-masing.

"…no have point we gathering here..."

"Hang out sekali-kali lah…"

Levi mendecih, "hang out apanya, Petra…"

Eren diam saja, melihat mereka semua berbicara dengan akrab. Saat minuman pesanannya datang pun, Eren hanya menyeruputnya dalam diam. Suasana ini menyenangkan, yah–kalau dia bukan orang luar.

"Eren, diam saja?" seorang perempuan dengan helaian matahari terbenam itu tersenyum lembut kearah Eren, "Eren sekolah dimana?"

"Eh? Ah–aku sudah kuliah… di Universitas Maria,"

"Oh, disana…"

Eren mengangguk, mengiyakan. Lalu, mereka semua kembali berbincang kembali. Berbicara satu sama lain, dan bahkan Rivaille sempat melihat kalau Eren tersenyum lebar karena Hange. Ah… baguslah. Setidaknya, mereka bisa membuat Eren nyaman disini. Oh, dan Eren sendiri pun merasa nyaman disini.

Seusai makan dan membayar, Rivaille menarik keluar Erwin dari dalam café. Meski yang lain terlihat bingung, tapi mereka membiarkannya.

"Jadi, kenapa?" tanya Erwin, heran.

"Yah… aku ingin tanya tentang bocah itu," kata Rivaille, menunjuk Eren, "dia benar-benar sulit dihadapi, kautau. Jadi, setidaknya, beritahu aku tentang masa lalunya. Oh dan, apa dia pernah ke negara lain atau mempelajari suatu bahasa? Tempo hari kudengar ia berbicara dengan bahasa asing," jelas Rivaille.

"Oh, mengenai itu, ya…" Erwin mengangguk paham. "Tunggu, sebelum itu, aku ingin bertanya juga. Hari ini Eren kenapa, ia terlihat senang sekali?" Erwin menyeringai–ah, Rivaille berpikir, seringaian om-om ini biasanya selalu didasarkan pikiran yang bejat.

"… Mana kutahu…"

"Benarkah?" Erwin terkikik kecil, membuat Rivaille mendengus. "Oh, kalau begitu, bagaimana Eren?"

"Tidak banyak berubah, sampai semalam dia masih bekerja..." terang Rivaille, "pokoknya, dia orang yang sulit dirubah. Maka itu aku bertanya padamu tentangnya,"

"Hem… baiklah, kumulai darimana, ya?"

.

.

.

TBC

.

.

.


Banzai! To be continued Lagi! XD /didepak/

Oh, ya, ini jawaban untuk guest yang tidak saya balas lewat msg~ maaf baru sekarang ya, karena satu hal dan hal lainnya :"v

Nine : Well.. XD kira-kira sih seperti itu, tunggu aja deh next chap-nya, haha… ya, memang ceritanya Eren butuh pelampiasan… oh, dan, makasih sudah mau baca dan review ya~! Ini udah lanjut XD

Guest : Aww, makasiihh.. bahkan ada yang minta Eren dibuat lebih bitch lagi XD wkkwkw, ini udah update. Terima kasih udah ngikutin yaa~

Wizald : Jual diri disini dimaksud menjadi pekerja seks begitu :) yah, maka dari itu saya bilang saya bikin fic yang gak bener lagi untuk kesekian kalinya :"v

Sekali lagi, terima kasih untuk semua yang sudah read, favorite, follow, review, dan silent readers! Yeah, keluarkan semua isi kepalamu di kotak review, guys ~

Thank you~!