Eren menguap. Ia merutuki dosen-dosennya dalam hati–beh, parah! Bukannya fokus pada buku tebal yang sekarang dibukanya, Eren masih saja memikirkan hal yang menentukan masa depannya–…. ah, terlalu berlebihan. Ini hanya UAS, kok.

Yah… Ulangan Akhir Semester untuk mahasiswa memang sekitar 10 bab untuk 1 mata pelajaran… jadi, wajar, 'kan, kalau Eren sepenat ini?

Sepasang manik lemon dan lime–gradasi mata Eren dengan hijau muda yang diatas lalu menjadi terang matahari dibawah–melirik jam digital yang ada di sudut meja belajar Eren. Bentuk digital clock itu adalah telur, dengan hiasan retak kecil di atasnya, seperti anak bebek yang akan keluar dari dalam cangkang, juga sepasang kaki bebek yang berselaput di bawahnya.

Wait, tunggu, itu gak penting. Dan kenapa digital clock-nya harus telur dan bebek?

Dan pemuda pemilik surai brunette itu makin putus asa saat sesuatu yang menghiasi jam digitalnya itu menunjukkan 4 buah angka dengan titik 2 ditengahnya. Ukh–apalagi 2 embel-embel huruf di belakang angka itu.

03 : 45 AM

Oh–Eren sangat ingin memberitahu, omong-omong. Besok kelasnya berubah jam–karena dosennya seenaknya mengatur schedule–dan berubahnya jadi jam 7 pagi. So fu-king great.

ARGH! Peduli setan, Eren amat–teramat mengantuk!

Ehh… tapi, gimana dong ujiannya besok?

Eren Yeager, 19 tahun, sedang dalam masa-masa galau karena Ulangan Akhir Semester.

.

.

.

Attack on Titan © Isayama Hajime

Warning! Typo, OOC, bahasa tidak sesuai EYD, dan lain-lain

Genre : Romance, Drama

Character : Eren Yeager, Rivaille Ackerman

Note : Saya membuat fic ini atas pemikiran sendiri, kalau ada kesamaan dalam bentuk apapun, itu adalah ketidaksengajaan.

"Take Care of Him" – Andrea Sky

.

.

.

Chapter 3 : "Someone New!"

.

.

.

Armin mengerjap, tidak, bukan hanya dia–bahkan hampir semua orang di kelas menatap Eren bingung. Mana Eren Yeager yang biasanya–yang suka nyari ribut sama Jean, yang gak bisa diem, yang biasanya ngelawan dosen pun berani… –oke, yang itu sangat kurang ajar tapi ya sudahlah, memang itu kan karakteristik seorang Eren.

Trus kenapa orang ini malah menelungkupkan kepalanya di meja, sambil merapal doa? Ah, Jean harap gak bakal ada badai setelah ini–please-lah, Eren Yeager, berdoa?!

"Ehm… Eren? Are you okay….?"

Gak, sih, sebenarnya Armin sendiri sudah tau jawabannya. Mungkin alasan dia bertanya seperti itu, karena ini seperti melihat hujan di tengah musim panas yang amat kering.

"Not at all…" Eren mengangkat wajahnya yang semula ia telungkupkan, menatap Armin dengan tatapan seperti anak anjing yang minta ditendang. "Kau tau, Pak Abelard–dan sesuai namanya, tegas, dia akan memanggil wali mahasiswa/i dengan pasti jika ada yang mendapat merah 5 kali berturut-turut di ujiannya, terutama, Ulangan Akhir Semester."

Nah, the point?

"Ehhh… l–lalu?"

"Itu dia, Armin! Ulangan-ku mendapat C- kebawah berturut-turut, 4 kali! Dan kalau Ulangan Akhir Semester ini aku mendapat nilai itu lagi, maka waliku akan dipanggil!" jelas Eren, agak senewen. Ia meremas rambutnya sendiri. Sementara, mahasiswa atau mahasiswi yang lain hanya mengangguk-angguk paham dengan wajah, 'oh–Eren sih gak heran…'

Wow, setia kawan sekali kalian semua. Lagian apa-apaan dengan wajah seorang pemuda berambut dirty blonde yang ber-grinning menghina itu di kursinya?

"Oh, jadi itu masalahnya… kenapa tidak pamanmu saja yang datang, atau orang yang menjagamu sekarang…?" Armin memberi saran, ragu. Masalahnya muka Eren sekarang lebih kasihan daripada anak kucing yang kehujanan dan gak dapat tempat berteduh, jadi ia takut kata-katanya akan menyinggung Eren dan… –kenapa dari tadi Eren di-diskripsikan dengan hewan terus, sih?

"Armin," Eren menghela napas. Iya, deh, yang jadi unggulan kampus... pasti mudah bagi Armin untuk belajar dan mendapat nilai bagus, kan? Makanya pemuda bersurai pirang itu tidak mengerti perasaan Eren. "bukan itu masalahnya," ucapnya lagi, melas madesu.

Trus apa dong problem-nya?! Armin agak kesal sekaligus makin linglung lama-lama dengan sikap teman sekelasnya ini. Efek begadang ternyata membuat Eren jadi agak kayak orang sakaw juga.

"Gini, nih," Eren memulai, sok serius, "aku tuh sekali-kali ingin show off. Aku ingin namaku menjadi urutan pertama di pemberitahuan ranking–"

"Urutan pertama dari bawah," Armin asal nyeplos. Eh, mana tadi penjelasan bahwa Armin ingin berhati-hati berkata-kata agar Eren tidak tersinggung?

"Oi!" Eren meninju perut Armin, main-main, pura-pura kesal. Armin tersenyum sendiri, "oke deh, maaf," ucapnya, meski dengan nada dan gestur yang tidak terlihat menyesal sama sekali. "Oke, lanjut. Sampai mana tadi? Oh, ya, sampai ranking–"

"Ranking 101 dari 100 siswa," sekarang malah Jean yang asbun–asal bunyi. Eren menyambit pemuda tanggung yang seumuran dengannya itu dengan pulpen tinta, tapi Jean bisa menghindar dan malah memeletkan lidahnya pada Eren, membuat Eren jadi kesal sendiri.

"Jadi, singkatnya. Aku ingin dapat nilai bagus sekali-kali di mata pelajaran Ekonomi ini," jelas Eren, pada akhirnya.

"Bagus, bagus," Jean berkomentar, mengusap-usap dagunya dengan tangan kanan dan tangan kirinya digunakan untuk menopang sikut lengan kanan–dan posenya persis seperti ayah yang melihat bangga anaknya, seolah anak itu baru saja mengalami hal menakjubkan, seperti ulat yang berubah menjadi kupu-kupu.

Makin lebay aja dah.

"Kamu harus membanggakan orang tuamu, nak," Jean menyeringai. Eren mencubit pinggang Jean, membuat si pirang meringis kesakitan–daripada tadi Eren yang pura-pura meninju perut Armin, kini tenaga ia lebihkan pada cubitannya di lengan Jean.

"Jean kayak bapak-bapak aja!"

"Yaudah, belajar lah lebih rajin. Masih ada 30 menit sebelum kelas benar-benar dimulai, sana baca-baca lagi," saran Armin sambil tertawa kecil. Eren menguap, "hmn-mnn… ya juga, sih…" dan jadilah Eren membuka bukunya, membaca-baca isinya. Armin dan Jean sendiri kembali ke tempat duduk mereka, bertempat di agak belakang namun bukan paling belakang, dekat dinding.

"Eren jadi kelihatan lebih 'hidup'," ucap Jean, menopang dagunya dengan tangan. Armin yang mendengar itu mengukir senyum tipis di bibirnya, melihat kearah Eren sebentar yang sedang membaca bukunya dengan khusyuk, dan sekali-kali, bibirnya bergerak–mungkin berusaha menghapal isi buku itu.

"Yah… memang benar. Ia jadi benar-benar terlihat bahagia sekarang,"

Jean mendengus, "baguslah… selama ini meski dia berpura-pura suka cari ribut dan terlihat gak bisa diam, sebenarnya dia gak terlihat begitu menikmati hidupnya yang sekarang…"

Armin terperangah, melihat kearah Jean dengan seksama. Tau diperhatikan begitu, Jean menatap Armin balik dengan alis yang bertaut–bingung, "apa?" tanyanya, singkat, menuntut. Armin menggeleng pelan, "tidak… tidak kusangka Jean sangat memperhatikan Eren, ya…" ucap Armin, membuat Jean memasang tampang sebego-begonya.

"Bego," Jean memalingkan mukanya, membuat wajah bosan seperti tadi, "aku tidak memperhatikannya. Hanya orang yang benar-benar bego yang tidak bisa menyadarinya. For example, si botak tuh…" jelasnya. Sekalian menjelaskan, botak disini tuh maksudnya Connie Springer. Untung yang dihina belum datang.

"Masa, sih?" Armin memasang senyumnya lagi. Jean diam-diam berpikir dalam hati, bahwa Armin adalah seseorang yang diciptakan Tuhan untuk selalu tersenyum. Dan sejujurnya, itu manis sekali. "Tidak banyak loh yang menyadarinya," Armin memberikan analisanya sekali lagi, "mungkin hanya orang-orang yang peduli padanya yang bisa sadar,"

"…" Jean mati kutu.

"By the way, sejak kapan dia begitu ya?" Jean berusaha mengalihkan pembicaraan. Dan Armin dengan polosnya menjawab pertanyaan itu, "mungkin sejak 2-3 bulan yang lalu."

Ya, karena sejak itulah Eren mulai tinggal bersama dokter spesialis kanker tersebut. "Ohh…" gumam Jean tidak jelas. Armin yang penasaran, bertanya lagi, "jadi… Jean memang peduli padanya, kan?"

"…."

"…."

"Fine," Jean menghela napas, berucap kalah, "aku memang peduli padanya. Dia orang yang unik. Dan sebagai orang yang bisa berakting tersenyum, lebih baik dia benar-benar tersenyum, gak salah, kan?"

Wow. Tumben Jean bisa ngomong begini. Tadi Eren yang aneh, sekarang Jean. Ah–jangan sampai ada matahari yang terbit di barat deh, besok.

"Oh…" Armin mengangguk, "gak salah lah…" ia tersenyum tipis, "tapi gak salah juga kan kalau aku agak... –cemburu?" dan kalimat terakhir itu benar-benar bisikan, membuat Jean tidak bisa mendengarnya. Dan bahkan walau Jean meminta Armin mengulang kalimatnya, Armin menolak, tentu saja.

Ah, lalu… mari kita balik ke tokoh utama.

.

.

.

"Oh–Eren. Bisa kau datang ke-rumah sakit sekarang? Ada yang ingin kukenalkan padamu,"

(Sejak kapan ya Rivaille memanggil nama depan Eren? Ah, Eren lupa, dan ia juga tidak terlalu memperdulikan itu, kok…)

Oh, ya… memang sudah banyak yang berubah kok sejak Eren tinggal disini. Setidaknya sekarang, Eren tidak melakukan pekerjaan seperti menjual dirinya lagi. Eren akui, tinggal disini membuat hidupnya banyak berubah. Ah, tapi tetap saja… ada 1 hal yang tidak bisa kau rubah meski terkikis waktu.

Memori.

Eren kadang berharap, memori tentang waktu itu bisa hilang sekarang.

Oh, ngomong-omong, itu… Rivaille bertitah melalui telepon. Dan kalau ada orang yang ingin Eren sumpahi selain dosen-nya yang menempati urutan pertama, urutan kedua adalah Rivaille. Ya ampun, Eren ini lagi di situasi code merah! Ia belum mandi, makan, dan belajar untuk UAS mata pelajaran Akuntasi besok. Kenapa pulang dari kelas dia harus ke rumah sakit, sih…?

(Dan kenapa sebenarnya, jauh–sangat jauh di lubuk hati Eren, ia tidak keberatan, ya?)

"Hmn-mn… baiklah. Tapi aku ingin mandi dan makan siang dulu," jawab Eren, sambil membuka tudung saji yang ada di meja makan, dan menemukan telur mata sapi disana. Err–hapus air liur yang menggantung di sudut bibirmu, Eren. Ya, semua orang tau kau belum makan sedari tadi pagi dan ini jam 11 siang. Itu patut dimaklumi semaklum-maklumnya.

"Ya, sana."

Dan Eren memutus sambungan teleponnya. Untuk beberapa detik kedepan, ia menatap layar ponselnya dengan diam yang telah menggelap, kemudian mendadak, memukul keras-keras kedua pipinya sendiri dengan telapak tangannya.

"Aku tidak boleh tidur," Eren member peringatan pada dirinya sendiri, "aku masih harus belajar untuk besok dan aku harus mandi sekarang…"

Eren berjalan kearah kamar mandi, sambil menenteng handuk miliknya. Deburan dan bunyi kecipak air tercipta didalamnya untuk beberapa saat kedepan. Setelah menyakinkan tubuhnya bersih, Eren mengeringkan bulir-bulir air yang masih menggantungi rambutnya dengan handuk, dan juga seluruh tubuhnya agar kering.

Eren memilih hoodie berwarna biru muda dengan celana basket selutut–gak nyambung bajunya? Yah, biar saja. Yang penting kalian bisa membayangkan dengan seksama, dan lebih bagus lagi kalau dalam imajinasi kalian Eren bisa jadi keren abis.

Eren makan dengan cepat dan lahap, bahkan terkadang hampir tersedak–ah, biarkan saja nasi yang agak berantakan di meja makan karena begitu kacaunya cara makan Eren. Peduli amat, Eren lapar banget sekarang…

Seusai makan, Eren pergi ke rumah sakit dengan menggunakan taksi, dan uang tadi disampirkan Rivaille di bawah gelas bening yang ada di meja makan. Tidak butuh waktu lama untuk Eren agar segera sampai di rumah sakit dengan kepala RS-nya adalah pamannya itu, mungkin hanya berkisar 15 menit.

Eren sedikit kagum saat melihat salah satu RS yang ada di kota Berlin itu. Karena tempatnya sangat luas dan saat masuk ke dalam, Eren bisa melihat begitu banyak orang-orang hebat dengan profesinya sebagai dokter. Lalu, diantara orang-orang berbaju putih ini, dimana Rivaille–

Ah, itu dia. Ada kepala dengan rambut hitam pekat miliknya. Rivaille pendek sih, jadi kalau ditengah sesuatu yang putih ada hitam, maka itu adalah kepala Rivaille.

Beh, teori darimana dah itu.

"Oh, Ereeen!" sebelum sempat lidah Eren melafalkan nama Rivaille, seseorang mendekapnya erat, dan Eren hampir saja terjatuh kalau tadi kakinya tidak kuat menahan. Setelah memperhatikan baik-baik orang yang memeluknya, Eren berkata pelan, "Hange…?" Hange mengangguk antusias, kemudian mencubit pipi Eren, gemas, "halo Eren! Uuh, lama gak ketemu deh!"

Wua, mirip bakpao ya. Pikir Hange saat itu, duh–pipi Eren yang halus dan tembam memang bikin gemas…

"Eren? Ah, aku ingin memperkenalkan seseorang padamu," ucap Rivaille, sama seperti saat ia menelepon pemuda tanggung berambut cokelat itu. Tangan Rivaille terlipat didepan dada, kepalanya dimiringkan sedikit ke kanan, mengisyaratkan Eren untuk ikut padanya. Eren mengangguk paham, mengekor Rivaille yang kemudian naik ke lantai atas menggunakan lift.

Dan langkah kaki Rivaille berhenti didepan sebuah kamar dengan nomor 203 yang menghiasi didepannya. Rivaille membuka pintu kamar itu, dan Eren bisa mendengar suara yang ceria juga semangat menyambut lelaki berambut pekat itu.

"Kak Rivaille!"

Eren tersenyum kecil. 'Kak', ya?

"Oh. Sasha, ada yang ingin kukenalkan padamu," ucap Rivaille, datar–yah, hanya seperti biasanya. Kalau Rivaille yang semulanya pasif bisa tiba-tiba jadi ekspresif karena seorang bocah kan malah membuat heran.

"He, siapa?"

Rivaille menggenggam pergelangan tangan Eren, menyuruh pemuda itu untuk segera masuk. Eren pun masuk ke dalam salah satu kamar dari sekian banyak kamar yang ada di RS tersebut, aroma jeruk membaui indera penciumannya. Aroma yang tidak buruk, dan bahkan menangkan.

Oh ya, Eren ingat. Bukankah wangi kamar Rivaille juga seperti ini?

(Eren kekamar Rivaille hanya untuk mengambil sapu. Bukan untuk ngapa-ngapain)

"Ini," sahut Rivaille singkat, menunjuk Eren. Eren membungkuk kaku.

"Ah, aku Eren," Eren berusaha tersenyum sebaik-baiknya. Ia bahkan bertahan untuk tidak bertanya saat melihat… bahwa anak itu mengenakan topi rajut–tapi di bawah topi rajut itu, tidak ada helaian-helaian rambut sama sekali.

"Aku Sasha Braus! Salam kenal!"

Dan Eren jadi sedikit tau, kenapa Rivaille mengenalkan anak ini padanya.

Ia terlihat sangat bahagia, yang berbanding terbalik dengan keadaannya.

Dan Rivaille sendiri hanya memperhatikan mereka berdua yang kini mulai berinteraksi dengan baik, sambil–tanpa ia sadari–tersenyum tipis. Sejak mendengar cerita Erwin di hari itu, dia melakukan semuanya pelan-pelan, untuk mengubah Eren. Mulai dari meluangkan waktunya hingga mendidik Eren dengan baik tapi juga tegas. Eren sekarang tidak se-kurang ajar dulu, setidaknya.

(Rivaille bersumpah Erwin harus membayar mahal tentang ini)

Hari-hari Eren terisi oleh seseorang lagi.

Tapi sayang… orang tersebut hanya malaikat sementara yang dipinjamkan oleh-Nya untuk turun ke bumi. IA sudah merencanakan semuanya, dan semua itu sempurna.

Jadi bagaimana kisah ini akan berlanjut…?

.

.

.

TBC

.

.

.


… tiba-tiba ubah gaya tulisan. Aneh gak sih? Kalo ada yang gak sreg keluarkan saja semua :v

Dan oh–mulai dari chap ini, romance Rivaille sama Eren yang bakal ditegasin, bukan masalah keluarga maupun ke-bitchy-annya Eren. Yang berharap Eren jadi lebih bitch maaf ya :"v

Dan masa lalu Eren? Hohoho, tenang saja. Tunggu tanggal mainnya. /dilempar ke jurang/

Oke, saatnya balas review!

Putri : Ehehe, emang sengaja gak di kasih tau siiiih.. nanti juga tau kok, tenang saja ;)

Guest : kalo bisa jadiannya secepat mungkin dong ya gak? Wkwkkwkw

Nah, terima kasih~