Pulpen yang dipegang Rivaille mendadak terbagi menjadi dua, menimbulkan bunyi 'krek'. Eren meneguk ludah, serius? Puplen itu patah. Patah, loh! Masih dengan mata obsidian tajam yang menatap Eren, mulut Rivaille terbuka. Oh. Ayolah. Ia pasti salah dengar. Mungkin habis ini dia harus ke klinik THT–Telinga Hidung Tenggorokan–dan memeriksakan disana... –oke, ini berlebihan. Apapun itu, Rivaille inginnya salah dengar.

Inginnya. Kalau ternyata telinganya berfungsi dengan baik, bagaimana?

"... Apa?"

"Sasha mengajak ke kebun binatang besok, dokter," Eren mendengus. Entah kenapa wajah Rivaille sekarang sungguh seperti orang idiot.

"Ya, lalu?"

"Kau harus ikut! Kalau dia kenapa-napa bagaimana, dan aku bego dalam kedokteran, sir!" Eren menepuk dahinya. Payah!

"Aku tidak bisa," Rivaille menghela napas, "jangan ajak Sasha pergi, kalau begitu. Tahan dia, jangan sampai pergi," lelaki itu kembali–ah, pura-pura sibuk pada data-data pasien. Padahal di otaknya hal-hal tentang yang Eren katakan tadi sudah bergentayangan. Jujur saja, Rivaille alergi dengan hewan.

"Kenapa?"

"Aku alergi terhadap hewan. Sekarang jangan mengangguku, hush. Keluar sana. Eren, kandang."

"Kau kira aku anjing!"

Rivaille menjawab cepat, "memang."

"Ukh–SIR!"

.

.

.

Attack on Titan © Isayama Hajime

Warning! Typo, OOC, bahasa tidak sesuai EYD, dan lain-lain

Genre : Romance, Drama

Character : Eren Yeager, Rivaille Ackerman

Note : Saya membuat fic ini atas pemikiran sendiri, kalau ada kesamaan dalam bentuk apapun, itu adalah ketidaksengajaan.

Note 2 : Alur tancap gas :"v

"Take Care of Him" – Andrea Sky

.

.

.

Chapter 4 : "Let's Go!"

.

.

.

"Kak! Itu, jerapah! Sasha mau lihat!"

"Iya, iya..." Eren mengikuti Sasha yang mengenggam erat tangan Eren, ia berlarian dengan ceria. Melihat mereka, Rivaille menghela napas. Eren juga kelihatan senang sekali, memangnya umur berapa dia, 12 tahun? Ah.. tapi mengingat Eren tidak pernah ke kebun binatang, Rivaille rasa wajar saja. Daripada itu...

"Hatsyi–"

Rivaille menutup mulutnya dengan tangan, kemudian menautkan alisnya kesal. Oh. Bagus. Dia berada di kumpulan hewan sekarang. Duduk di salah satu bench yang ada disana, kemudian Rivaille membaringkan tubuhnya. Mungkin tidur sebentar bukan pilihan buruk. Eren dan Sasha pasti lama berputar-putar melihat fauna. Setelah memastikan ponsel-nya dalam keadaan menyala agar Eren bisa meneleponnya, Rivaille menutup mata.

Oh...

waktu itu, tentang masa lalu-nya Eren...

.

.

.

.

.

"Eren adalah anak dari adik perempuanku, Carla. Dan suaminya, Grisha. Sebenarnya mereka keluarga yang cukup baik, hingga Eren berumur 7 tahun..."

Rivaille mengangkat sebelah alisnya. Ada apa dengan umur 7 tahun?

"Mereka semua kecelakaan dalam perjalanan ke Perancis menggunakan kapal. Jadi, ya, hanya Eren yang sampai ke Perancis dengan selamat, karena bantuan tim SAR. Sampai disana, karena tidak ada data yang jelas, Eren pun diadopsi oleh orang yang gak jelas juga..." Erwin mendongak. Ah, hari ini terik sekali, bukan...

"Lalu?"

"Yah... suami istri itu melakukan kekerasan fisik pada Eren. Eren mereka angkat sebagai anak hanya untuk menyimpan harta mereka, sepertinya. Soalnya orang yang tidak memiliki pewaris, maka hartanya harus diserahkan pada pemerintah. Lalu... Eren juga mengalami pelecehan seksual pada umur 14 tahun karena suami istri itu kurang peduli dengan pergaulan Eren di sekolah..."

Rivaille menghela napas. Serius... 14 tahun?

"Begitu mencari data tentang Eren di Jerman, ternyata ada saksi hidup dari kapal waktu itu bahwa bocah kecil berambut brunette katanya sampai di Perancis. Aku pun mencari Eren di Perancis dan ya... baru kuserahkan padamu,"

"Begitukah..." Rivaille menutup matanya, sejenak. Entah kenapa ia lelah. "Kenapa aku?"

Erwin terdiam sejenak. Ia menoleh kearah Rivaille, kemudian tersenyum kecil. Disusul tawa hangat yang menyenangkan. Rivaille sampai mengerutkan dahinya. Sejak kapan Erwin bisa bertingkah seperti... itu? Pokoknya, ia berbeda. Kalau Erwin yang Rivaille kenal dulu saat mulai ber-kuliah, dia adalah orang yang tegas dan berwibawa. Sekarang juga sama. Hanya saja ia terlihat lebih hangat.

"Kenapa, ya... karena aku yakin kamu bisa menjaga Eren, Rivaille. Bukankah jawaban itu yang selalu kuberikan?"

"Ya, ya, terserah–"

"Oh, omong-omong!" Erwin tersenyum, mengingat sesuatu, "kalau aku tidak salah ingat, waktu Eren berumur 6 tahun atau 7–intinya sebelum dia pindah ke Perancis–Eren mempunyai 2 sahabat. Aku lupa namanya. Tapi sahabatnya itu kakak beradik, seingatku."

Ha?

"Penting?"

"Enggak, sih. Kasih tau saja, siapa tahu kau ingin mengetahuinya,"

Rivaille memutar bola matanya. "Ah, terserahlah. Kau memang abstrak,"

Klak–! Pintu kafe terbuka, Eren memunculkan kepalanya dari balik sana.

"Sir?"

"Ayo pulang, semuanyaaaa~" Hange berucap, sambil mencubit pipi Eren gemas–katanya, sih, tanda perpisahan. Eren mengangguk. Tersenyum, "sampai jumpa, Hange."

Rivaille melirik bocah itu sebentar. Eren tersenyum. Tidak aneh, sih... tapi kenapa harus kepada si freak itu? Jadi sejak umur 7 tahun Yeager sudah diangkat menjadi anak oleh suami istri itu? Kalau sekarang umurnya 18, artinya 11 tahun ia di Perancis? Jangan-jangan waktu itu, bahasa yang ia igaukan waktu tidur adalah bahasa Perancis? Tapi dia ngomong apa? Dia–

"Sir?"

.

.

.

.

.

"Sir!"

Rivaille tersentak, membuka matanya, cepat.

"E–ren?" ia mengerjap. Memperhatikan sekeliling, Rivaille menghela napas. Oh, ya. Ia sedari tadi masih di kebun binatang.

"Kau ini," Eren berjongkok, mengusap dahi Rivaille yang sedikit berkeringat–yah, hari ini memang panas. Apalagi ini jam 12, dimana matahari tepat berada di atas kepala. Ah... perasaan Rivaille saja atau sikap Eren... –sudahlah. Itu tidak penting.

"Jangan tidur, dong! Sasha bersemangat mengajakmu ke kandang monyet,"

Rivaille bangkit, menjadi posisi duduk. Kemudian bertanya dengan nada datar, "kenapa harus monyet?"

"Kata Sasha, kamu mirip hewan itu–aw!" Rivaille menjitak kepala Eren dengan tenaga yang sebetulnya agak berlebihan, membuat pemuda itu mengerucutkan bibir sebal, merintih sakit.

"Kau yang meledekku, bocah, bukan anak itu..."

"Kok tau?" sudut bibir eren tertendang keatas, membuat Rivaille ingin memukul bocah ini sekali lagi. Melihat sekeliling, Rivaille menautkan alisnya, heran. Sepertinya ada yang kurang, deh. Ah... "Sasha-nya mana?"

"Eh? Dia di belakangku, kok–"

Eren menoleh ke belakang. Rivaille melihat ke belakang Eren. Disana kosong. Detik berikutnya, obsidian bertabrakan dengan brunette.

"Sasha!"

"Kau ini bodoh!" Rivaille mendecih, berdiri dari kursinya, ia segera berlari. Eren ikut menyusulnya, berlari, matanya menjelajah setiap inci kebun binatang ini, memastikannya melihat seorang bocah kecil dengan mata se-cokelat dirinya.

"Sasha!" Eren berteriak lantang, mencuri perhatian orang-orang di sekitarnya. Eren dan Rivaille berpisah, mencari Sasha ke setiap sudut tempat. Ah, seandainya mereka meminta petugas memanggil Sasha lewat speaker yang ada di setiap sudut kebun binatang itu pun, Sasha masih sangat kecil–dan Rivaille meragukan ia akan mengerti.

"Ya ampun, kenapa aku tidak memperhatikannya tadi!" Eren mengacak rambutnya sendiri, frustasi.

.

.

.

"Aku tidak menemukannya..." Eren terengah-engah. Ia menumpu kedua lengannya di lutut, mengatur napasnya yang tidak beraturan.

"Bocah bego…"

Sumpah, Rivaille ingin memaki Eren sejadi-jadinya. Orang tuanya Sasha sudah mempercayakan anak, semata wayang, mereka, kepada; Eren dan Levi. Garis bawahi! Sekarang kemana gadis itu?! Terlebih, berkeliaran di kebun binatang dengan keadaan kurang sehat sama sekali membuat Rivaille khawatir dengan gadis itu.

"Eh, itu, itu…" Eren menepuk-nepuk pundak Rivaille, menunjuk seseorang yang sedang menggendong gadis kecil. "Sasha, kan itu–hei!" Eren berteriak karena Rivaille langsung berlari kearah orang itu.

"Maaf, ini–"

"Kak Rivaille!" Sasha melihat Rivaille ceria dalam gendongan pemuda itu. "Kakak ini," Sasha menunjuk pemuda yang sedang mengangkatnya, "sedari tadi menemani Sasha karena tidak menemukan Kak Rivaille dan Kak Eren! Kalian kemana saja?"

"Maaf," Rivaille mengusap kepala Sasha, lembut. Kemudian tatapannya beralih pada pemuda yang didepannya, "makasih sudah menjaga Sasha."

"Hm-mnn, tidak masalah." pemuda itu tersenyum, menurunkan Sasha dari gendongannya. Begitu melihat Eren di belakang Rivaille, Sasha langsung berlari memeluk Eren. Dari belakang punggung, Rivaille bisa mendengar Eren bertanya soal kemana saja Sasha atau pembicaraan ringan lainnya. Tapi pertama, ini dulu.

"Anak itu… sakit, kan."

Tadinya Rivaille sudah ingin membalas. Tapi, pemuda itu melanjutkan, "dia bocah yang ceria." Rivaille mengerutkan dahinya. Pemuda ini seperti tau banyak tentang Sasha. Ia tidak ingat Sasha berkerabat dengan pemuda ini. "bocah yang serampangan, tidak pernah mau menurut, suka mencari bahaya dan petualangan, dan juga sangat jujur dalam menghadapi hidupnya,"

Eh…?

"Nah, aku serahkan dia padamu, ya. Jaga baik-baik, loh. Dadah!" pemuda itu melambaikan tangannya. Rivaille masih terpaku di tempat. Apa dia.. mengenal Sasha?

"Sir? Ada apa?"

"Tidak," Rivaille menggeleng, "ayo pulang. Ini sudah sore,"

"Baiklah!"

.

Malamnya, Rivaille bertanya pada orang tua Sasha. Tentang seorang pemuda yang jangkung, dan berambut cokelat, umurnya sekitar 15 tahun. Orang tuanya bilang, bahwa itu adalah anak dari teman ibunya Sasha. Dan pemuda itu sebenarnya perempuan, omong-omong. Rivaille keliru karena rambut orang kemarin itu sangat pendek dan gesturnya yang seperti lelaki. Nama perempuan itu Ymir. Ymir sudah mendengar banyak tentang Sasha dari ibunya. Tapi, baru kali ini perempuan itu menemui Sasha langsung. Ia tau Sasha ada di kebun binatang karena ibunya yang memberitahu.

Baru saja ia berkata, "Nah, aku serahkan dia padamu, ya. Jaga baik-baik, loh. Dadah!"

Lusa kemudian, Sasha 'pulang'. Dokter-dokter memang sudah menganalisis umur Sasha tidak lama lagi. Mungkin karena itu juga Sasha meminta sesuatu permintaan yang egois; ingin ke kebun binatang, bertiga saja dengan Eren dan Rivaille. Tapi sesungguhnya Eren tidak keberatan, kok.

.

"Nah," Rivaille menepuk kepala Eren, "pulang?"

Eren terdiam sejenak. Memandang pasir pantai yang luas beserta laut yang menggulung kecil. Matahari hampir tenggelam, membuat langit berubah menjadi orange di bawah, dengan gradasi biru tua diatasnya. Sasha dikremasi, dan abu-nya dibuang ke laut. Alasan kenapa Eren disini dengan jas hitam.

"Sir…"

"Apa."

Meski sebentar, gadis cilik itu sempat mendiami hati Eren. Merasa kehilangan itu pasti. Eren menjadi ingat lagi bagaimana rasanya ditinggal oleh orang yang ia sayangi. Ternyata memang menyedihkan, ya...

"Sasha bahagia, ya, 'kan."

"Menurutmu,"

"Sir," Eren menghela napas. Kenapa orang ini tidak pernah menjawab pertanyaannya dengan benar?

"Tenang saja," Rivaille beralih memfokuskan pandangannya pada laut yang ada didepannya.

"Aku…" Eren menghela napas. "tidak sekuat Sasha. Berkali-kali aku ingin bunuh diri,"

"Oh ya?" Rivaille rasa, ia tidak terlalu terkejut dengan pernyataan Eren. Mengingat cerita Erwin, hal itu mungkin saja. Eren mengangguk, "iya. Kalau aku ingin menceritakan sesuatu… apa kamu mau mendengar–ah, lupakan. Kau pasti sudah mendengarnya dari Erwin."

"Tepat," Rivaille berbalik, "ayo pulang. Aku mengantuk."

"Iya.."

"Aku ingin masak omelet,"

Eren tersentak. Bangun dari duduknya, ia menepuk-nepuk celananya, membersihkan pasir yang menempel disana.

"Iya, aku mau." senyum tipis terukir disana.

"Beli telur dulu,"

"Ayo, ayo!"

.

.

.

Gadis itu tersenyum tipis. Di tangannya, masih digenggam sebuah ponsel casing berwarna violet.

"Begitu, ya…" gadis itu berucap, "dia memang anak yang baik." alisnya sempat turun sebentar. Manik gadis itu meredup. "Kuharap ia bahagia. Lalu, bagaimana denganmu sendiri?" tanya gadis itu, mengecap macchiato yang dipesannya. Tinggal di sebuah apartment penuh fasilitas dan elite tidak buruk, meski yah, biaya-nya pun tidak bisa dibilang sedikit. Pagi-pagi seperti ini memang biasanya gadis itu memesan sesuatu yang mengandung kafein meski sesedikit apapun itu.

"Aku? Tentu saja aku baik-baik saja… kau tau, ibuku menyuruhku SMA di London,"

"Eh, London?" gadis itu mengerjap, "aku baru saja ingin pergi ke Jerman, hari ini," ucapnya, sembari membereskan baju miliknya, memasukkannya kedalam koper. Ada helaan napas terdengar dari seberang sana, "Oh, begitu? Dan omong-omong, kenapa kau ingin pindah ke Jerman, tiba-tiba?"

Gadis itu terdiam sebentar. "Hm-mn… kenapa, ya…"

"Serius…"

Gadis itu mengulum senyum. "Aku ingin bertemu dengan teman masa kecilku, kau tau.."

"Owh…"

"Yah, begitulah." Gadis itu membuka jendela kamar, membiarkan udara ber-sikulasi. Sungguh, kamar ini dingin sekali karena air conditioner.

"Cowo?" nada disana terdengar jahil, membuat gadis itu mendengus pelan. "Memangnya kenapa? Kau sudah punya malaikat pirang itu, kan,"

"Aku hanya bertanya. Cakep?" orang di seberang sana mengangkat bahu, menarik salah satu sudut bibirnya keatas.

"Ya ampun berisik," sambil terus mengobrol di telepon, gadis ini sibuk membereskan pakaian dan barang-barangnya. Memastikan tidak ada yang ketinggalan untuk keberangkatannya ke Jerman. "Ah, aku harus siap-siap ke bandara sekarang." ucap gadis itu, menutup koper yang telah ia siapkan.

"Hm-mnn, baiklah. Dah. Jaga dirimu,"

Gadis itu tersenyum. Memandang kearah jendela, pemandangan kota London terlihat bagus dan indah dari sini. "Tentu, Ymir. Terima kasih," dan sambungan telepon terputus.

Gadis itu menenteng 2 koper yang disiapkannya. Keluar dari kamar apart-nya, ia mengunci pintu, kemudian mulai berjalan menyusuri lorong. Gadis itu sempat memesan taksi untuk menjemputnya di apartment itu sebelum sarapan di kafetaria di lantai G.

Setelah taksi datang, gadis itu meminta agar jalan ke bandara. Sesampainya disana, gadis itu check in, dan bersiap-siap untuk menaiki pesawat. Setelah waktunya, ia naik kedalam pesawat itu. Dalam hati, ia diam-diam berdoa.

Menarik napas, gadis itu menampilkan senyum ceria–bahkan senyum biasa saja jarang ia tunjukan.

"Sudah berapa lama kita tidak saling bertemu, ya...

Tunggu, kumohon… tunggu aku–"

–Eren,"

.

.

.

TBC

.

.

.

Saatnya balas review ! XD

Aoko : Makasih ya udah mau nunggu fic gak jelas begini… makin hari makin gaje aja nih fic :"v

Putri : Makasih Putriii… ini chap selanjutnya XD

Santa nyasar v : ini lanjutannya, papa /plak/

RnR?