Disclaimer

Naruto © Masashi Kishimoto

Story © UchiHaruno Misaki

Bab 2

"Saki-chan ayo cepat Nak! Keluarga Uchiha sudah menunggu kita di depan!" Mebuki yang tengah membenahi gaun malamnya itu sedikit berteriak memanggil putri bungsunya yang belum juga keluar dari kamarnya, sedangkan sang tuan rumah terlihat tengah berkutat dengan rambutnya yang ia tata sedemikian rupa hingga membentuk err ... bintang? Oke kita abaikan yang satu itu.

"Iya Kaa-chan sebental!" sahut suara kecil itu dari kamarnya di atas sana, Mebuki hanya menggelengkan kepalanya mendengar sahutan dari puterinya itu.

Tap!

Tap!

Tap!

"Kaa-chan! Tou-chan!" Sakura berteriak ketika ia baru saja sampai di lantai bawah, Mebuki dan Kizashi langsung mengalihkan perhatian mereka kepada puteri semata wayangnya itu.

"Wah puteri Kaa-chan cantik sekali," ujar Mebuki seraya menghampiri Sakura yang kini tengah tersenyum malu. Kizashi pun menghampiri Sakura lalu mengusap puncak kepala puteri kesayangannya itu.

"Hm, Kaa-chan-mu benar Saki. Malam ini kamu cantik sekali apalagi dengan sepatu berhak tinggi itu," ujarnya lembut.

Ya, sebenarnya penampilan Sakura sederhana yaitu; sebuah dress putih bermotif bunga sakura tanpa lengan dengan panjang lima sentimeter di atas lutut yang melekat ditubuhnya dengan sempurna, dipadu dengan blazer coklat muda untuk menghangatkan bagian lengannya yang tak tertutup apapun dari angin malam, rambut sebahunya di biarkan tergerai dengan sebuah bando putih berhiaskan pita disisi kanannya dan terakhir sebuah sepatu boot berwarna senada dengan blazer-nya berhak lima sentimeter.

Sakura tersenyum lebar dengan semburat merah muda yang menghiasi kedua pipi ranumnya. "Arigatou, Kaa-chan, Tou-chan! Hehe ..." Sahutnya seraya tersenyum malu.

Kizashi dan Mebuki saling melirik lalu tersenyum lembut pada putri semata wayangnya itu. "Ya sama-sama sayang. Nah ayo kita harus segera bergegas! Jangan sampai keluarga Uchiha menunggu lama." Sahut Mebuki seraya berjalan keluar rumahnya diikuti Sakura dan Kizashi di belakangnya.

.

.

.

.

.

Uchiha Sasuke dengan tuxedo yang membalut tubuh mungilnya itu menyandar pada pintu mobil keluarganya seraya memasukan kedua tangan kecilnya pada saku celananya, tak lupa wajahnya yang imut itu memandang pintu gerbang rumah tetangganya itu dengan tatapan bosan.

"Huffft! Saku-chan lama sekali sih?!" gumamnya kesal. Itachi yang tengah mengaca di kaca mobil keluarganya itu sedikit melirik Sasuke dan kembali mengaca seraya membenarkan tatanan rambutnya.

"Sabarlah sedikit Sasu-chan! Ini masih pukul tujuh malam, dan acaranya akan dimulai satu jam lagi." Sahut Itachi pada Adik tunggalnya itu.

Sasuke mendelik pada Kakaknya dengan bibir yang mengerucut lucu. "Diamlah baka-Aniki!" ketusnya kesal, dan Itachi hanya mengedikan bahunya tak peduli.

Mikoto dan Fugaku hanya menghela napas pelan ketika melihat raut bete anak bungsunya itu. "Sasuke ayo masuk mobil! Tuh lihat keluarga Haruno sudah datang!" ujar Mikoto ketika melihat mobil keluarga Haruno telah keluar dari gerbang.

Mendengar hal itu sontak saja membuat Sasuke kecil menegakan tubuhnya dan menatap pintu penumpang mobil milik keluarga Haruno yang berhenti di depannya itu terbuka. "Sasuke-kuuuuuuuuun!" Sakura berlari ke arah Sasuke dan memeluk tubuh Sasuke erat dengan tawa cerianya yang terdengar jelas dari mulut mungilnya itu.

Sasuke tersenyum kecil seraya membalas pelukan Sakura tak kalah erat dan tanpa diduga Sasuke sedikit merenggangkan pelukan mereka, lalu—

Chup!

Sasuke mengecup dahi lebar Sakura lembut dan tentu saja membuat lima orang dewasa yang melihat itu langsung membelalakan matanya. "S-Sasuke ..." lirih Sakura dengan wajah merona malu, sedangkan Sasuke dengan tanpa dosanya kembali memeluk tubuh mungil Sakura.

Dengan cepat Mikoto keluar dari mobilnya dan menghampiri Sasuke. "Apa yang kaulakukan Sasuke?!" tanya Mikoto seraya menatap Sasuke sedikit galak.

Sasuke dan Sakura langsung melepaskan tautan tubuh mungil mereka. Sasuke balas menatap Ibunya itu dengan tatapan bingung, "Apa maksud Kaa-chan? Sasu cuma cium dan peluk Sakura doang ko, emangnya kenapa Kaa-chan?"

Mebuki ikut keluar dari mobilnya dan ia pun melangkah mendekati putrinya yang terlihat ketakutan dengan sikap Mikoto. Setelah sampai disana, Mebuki tersenyum tipis dan mengusap rambut Sasuke. "Nak Sasu ... kamu dan Saku-chan masih kecil loh, kamu tidak boleh melakukan hal seperti tadi." Ujar Mebuki lembut dan Mikoto pun ikut mengusap rambut putra bungsunya itu.

"Apa yang dikatakan bibi Mebuki itu benar sayang, kamu tidak boleh melakukan itu. Tidak karena kamu masih kecil." Sambung Mikoto dengan nada khas keibuannya itu.

Sasuke mengerucutkan bibirnya sebal, lalu tanpa aba-aba Sasuke menarik tangan Sakura dan langsung merangkul bahu mungil gadis cilik itu. "Apa salahnya coba? Sasu pelnah lihat Tou-chan peluk Kaa-chan! Sasu juga pelnah lihat Tou-chan cium Kaa-chan! Apa salahnya? Sasu belhak melakukan itu sama Saku kalena bagaimana pun juga Sasu adalah Ayah dali dede bayi yang lagi Saku-chan kandung cekalang!"

Mebuki dan Mikoto langsung mematung, sedangkan Itachi, Kizashi dan Fugaku yang sedari tadi hanya diam membisu itu langsung tersedak air liurnya sendiri.

"Uhuk, uhuk—!" Itachi terbatuk pelan dan langsung memasuki mobil dengan wajah pucat. 'Oh tidak Kami-sama tolong jangan kambuh seperti minggu lalu.' Batin Itachi penuh permohonan.

"Ughm, glek—!" Kizashi tersedak lirih lalu berpura-pura membenarkan dasi tuxedo-nya.

"Ehn—!" sedangkan Fugaku dengan wajah datarnya langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain seraya menyentuh dadanya pelan guna untuk menahan detak jantungnya agar tak berkontraksi lebih seperti kejadian minggu lalu.

Mikoto dan Mebuki? Ah, kedua Ibu awet muda itu hanya mampu tertawa canggung satu sama lain dan langsung mencekal tangan anak mereka masing-masing.

"Ahahaha sebaiknya kita harus bergegas Mikoto." Ujar Mebuki kaku.

Mikoto tersenyum canggung dan mengangguk kaku. "A—haha ya, acaranya akan dimulai sebentar lagi." Dan kedua Ibu itu pun langsung menyeret anak mereka ke dalam mobil mereka masing-masing.

Sasuke dan Sakura? Ah—kedua bocah itu hanya terbengong dengan wajah polos mereka tanpa tahu akibat yang timbul karena tingkah polos mereka itu.

.

.

.

.

.

"Ya, saya bersedia."

Chup!

Prok, prok, prok!

Suara riuh tepuk tanganpun terdengar nyaring di halaman sebuah gereja itu ketika para tamu undangan menyaksikan kedua mempelai pengantin berciuman setelah mengucap janji suci.

Tapi tidak dengan seorang gadis berhelaian soft pink sebahu yang kini tengah memandang pasangan pengantin itu sendu, manik emerald gadis itu mulai berkaca-kaca dan dengan perlahan gadis itu pun menundukan kepalanya dengan kedua tangan yang terkepal erat.

Tes, tes, tes!

Tetes demi tetes air yang mengalir keluar dari kedua mata gadis itupun jatuh membasahi rumput hijau yang menjadi pijakannya, bahu mungil gadis itu bergetar hebat dan suara isakan lirih pun terdengar jelas oleh seorang laki-laki yang tengah berdiri di sampingnya.

"Hiksss—!"

Uchiha Sasuke menoleh ke arah samping dan matanya sukses terbelalak lebar melihat gadis pink yang begitu ia kenal tengah menangis sesenggukan, para orang dewasa yang berada di sekitar mereka tak menyadari itu karena suara bising tepuk tangan dan perbincangan seolah menelan suara isak tangis gadis kecil yang tak lain adalah Haruno Sakura itu.

Sasuke dengan cepat menarik pergelangan tangan Sakura dengan tangan kecilnya dan membawa gadis itu ke sebuah ayunan yang berada di halaman lain gereja tersebut. Sasuke menyentuh kedua bahu mungil Sakura dengan gelisah, "Saki katakan padaku, kamu kenapa nangis?" tanyanya gusar.

"Hikss—!" Sakura hanya diam menundukan kepalanya seraya terisak lirih.

Sasuke kecil menyentuh kedua pipi Sakura kecil itu lembut lalu dengan perlahan Sasuke mengangangkat wajah Sakura dan—deg! Entah mengapa dada Sasuke bergemuruh ketika melihat tatapan sendu manik emerald milik gadisnya itu.

Sakura memamdang Sasuke pilu, "S-Sasuke-kun, hiksss ... S-Saki mau—!" ujar Sakura tidak jelas, tapi Sasuke langsung terpaku dengan mata memerah ketika ia mengerti apa yang Sakura tangisi dan inginkan.

Sasuke dengan rahang mungilnya yang mengeras mulai mengedarkan pandangannya menatap seluruh halaman gereja tempat resepsi pernikahan anak teman orang tuanya itu dengan manik onyx-nya yang menyorot liar, dan tatapannya kini tertuju pada seorang bocah kecil berambut nanas yang hilang di balik pintu gereja.

Tap!

Sasuke langsung menarik tangan Sakura yang kini tengah memandangnya bingung, lalu tanpa aba-aba Sasuke pun menuntun Sakura untuk berjalan entah kemana. "K-kita mau kemana Sasuke-kun? H-hikss ..." tanya Sakura di sela isakannya.

Sasuke menoleh ke arah Sakura yang berada di belakangnya lalu bocah itu tersenyum lembut. "Kita akan melakukannya Saki, jadi berhentilah menangis." Ujar Sasuke ambigu tanpa menghentikan langkah kecilnya.

Sakura menatap Sasuke dengan wajah berbinar, "benarkah?"

Sasuke tersenyum lalu mengangguk pasti. "Hn, percayalah padaku!" Sakura pun segera menghapus air matanya dan mulai tersenyum lebar.

Tanpa Sasuke dan Sakura sadari Itachi, Fugaku, Mikoto, Mebuki dan Kizashi kini tengah mengikuti mereka dalam diam.

.

.

.

.

.

"Uchiha Sasuke, belsediakah kamu menikah dengan Haluno Sakula gadis kecil yang berdili di sampingmu ini dan mencintainya dengan setia seumul hidup baik dalam suka maupun dalam duka?" Tanya sang pendeta kecil berambut nanas itu kepada Sasuke dengan penuh khidmat.

Sasuke terdiam sejenak untuk melirik kearah Sakura yang berdiri di sampingnya, sebelum akhirnya sang Uchiha kecil itu mengucapkan kesediaannya untuk menikahi sang gadis musim seminya itu. "Ya, Sasu belsedia." Jawab Sasuke tegas penuh keyakinan kepada sang pendeta kecil itu.

Sakura kecil benar-benar merasa terharu atas jawaban yang diberikan oleh sang Uchiha bungsu tersebut. Air mata kebahagiaan pun kini sedikit mengalir dari kedua sudut mata indahnya.

Sang pendeta kecil berambut nanas itu menguap sejenak lalu mulai mengalihkan tatapannya pada Sakura untuk bertanya.

"Haluno Sakula, belsediakah kamu menikah dengan Uchiha Sasuke bocah kecil yang berdili di sampingmu ini dan mencintainya dengan setia seumul hidup baik dalam suka maupun dalam duka?" Tanya sang pendeta kecil lagi penuh khidmat kepada Sakura.

"Ya, Saki belsedia." Ucap Sakura tanpa ragu kepada sang pendeta kecil berambut nanas itu. Tangan mungilnya kini tengah menggenggam erat tangan sang bocah Uchiha, sedangkan tangan sebelahnya lagi tengah mencengkeram dress-nya erat.

"Atas nama Tuhan dan di hadapan pala hadilin sekalian yang beldili di pintu sana, Shika menegaskan bahwa pelnikahan yang telah dilesmikan ini adalah pelnikahan yang sah. Semoga upacala kudus ini menjadi sumbel kekuatan dan kebahagiaan bagi Saudara berdua yang dipelsatukan Tuhan, janganlah dicelaikan manusia." Ucap pendeta kecil tersebut memberkati pernikahan Sasuke dan Sakura dengan wajah sok serius.

Dengan begitu terikatlah sudah kedua insan ini dalam sebuah takdir pernikahan yang suci dan abadi. Err ... entahlah, apakah pemberkatan yang dilakukan oleh pendeta cilik itu sah atau tidak.

Kini Sasuke dan Sakura berdiri saling berhadapan, lalu Sasuke kecil mulai memajukan wajahnya mendekati wajah Sakura kecil.

Chup!

Dam kedua belah bibir mungil itupun mulai bersinggungan. Perlahan dengan dibekali apa yang dilihatnya tadi di acara pernikahan orang dewasa di luar sana, Sasuke pun mulai melumat bibir Sakura lembut.

"S-Sasuke/S-Sakura ..." Mikoto dan Mebuki yang sedari tadi terdiam mematung di ambang pintu gereja menyaksikan semua upacara konyol anaknya itupun langsung jatuh terduduk.

"K-kalian, m-menikah?" lirih Mebuki dan Mikoto bersamaan, Sasuke dan Sakura langsung melepaskan pagutan bibir mereka dan menoleh menatap keluarga mereka dengan wajah berbinar.

"IYA, KAMI SUDAH MENIKAH! HAHA!" Teriak Sasuke dan Sakura kompak seraya berpelukan, sedangkan pendeta kecil gadungan itu telah tertidur dengan posisi berdiri.

Tap, tap, tap!

Sasuke menarik Sakura berlari keluar melewati keluarga mereka. "Nah Saki ayo kita pulang! Dan kita akan melakukan malam peltama kita di kamal Sasu! Ayo Kaa-chan, Tou-chan, Itachi-nii kita pulang!" seru Sasuke seraya menarik Sakura keluar dengan riang tanpa memedulikan kondisi keluarganya.

Dan—

Bruk!

Mikoto dan Mebuki langsung pingsan di tempat.

Itachi, Kizashi dan Fugaku kini tengah berdiri kaku dengan wajah tanpa ekspresi, lalu—

Plak!

Bruk!

Kizashi menampar dirinya sendiri hingga pingsan.

Dug, dug, dug!

Bruk!

Fugaku memukul dadanya yang berkontraksi berlebihan itu dengan keras a la gorila dan ia pun jatuh pingsan di atas tubuh Kizashi dengan posisi tak elit yang sungguh bukan gaya Uchiha.

"Grrrr, grrrr, grrrrrr—!" Sedangkan Itachi? Ah sungguh sangat disayangkan pemuda tampan seperti Itachi kini telah mengalami gejala kejang-kejang kembali di lantai seperti minggu lalu.

Oh Poor UchiHaruno Family!

.

.

.

.

.

Che, kembali SasuSaku penuh dengan kejutan bukan? Maka kembali kita lihat sejauh mana SasuSaku akan memberikan sesuatu yang lebih mengejutkan lagi.

.

.

.

.

.

- Owari -

A/N : Gaje? Iya! Ancur? Iya! Garing? Iya! xD Haha sorry jika fic ini abal sangat ya minna :) Maklum hanya sebuah cerita pendek selingan di tengah liburan panjang :) Hope you like it. Sankyu^^ Mind to review?

Sign, with love

UchiHaruno Misaki.