The Real Truth

.

By: Gia-XY

.

Summary:

Padahal aku ada di sampingnya, tetapi kenapa ia lebih mempedulikan orang lain yang bahkan tidak ada di sisinya …?

.

Disclaimer:

Yu-Gi-Oh! ZEXAL Takahashi Kazuki, Yoshida Shin, Miyoshi Naohito

Story © Gia-XY

.

Warning(s):

SPOILER ALERT, AR, Maybe OOC, Shounen-ai, Gender bender, Some Japanese, Some non-formal language, Vocabulary Crisis, Maybe some typo(s), DLDR, etc.

.

Truth 3

The Biggest Chaos Inside Me

.

.

"Orang bernama Jinlong itu, roh Numbers, ada hubungannya denganmu saat kau masih menjadi manusia?" tanya Durbe padaku. Ia menatapku dengan tatapan … menyudutkan ….

Saat ini kami berdiri di atas gedung pencakar langit. Aku yang mengajaknya ke sini untuk bicara. Kurasa, aku memang perlu menceritakan soal apa yang terjadi di reruntuhan Numbers yang kudatangi.

"Benar, tetapi aku sama sekali tidak berniat untuk mempercayainya. Aku adalah seorang varian warrior yang membanggakan." Aku berucap dengan mantap. Aku lalu menatap lurus ke depan dengan tatapan kesal, seakan sedang merendahkan bumi yang sedang kupijak ini, beserta dengan para penghuninya yang hina. Aku lalu melanjutkan ucapanku, "Tidak mungkin aku punya hubungan dengan para manusia yang rendahan itu!"

"Aku juga tidak punya niat untuk mempercayainya," Durbe memberi jeda pada ucapannya, "tetapi aku memiliki ketertarikan pada reruntuhan yang tersisa." Durbe mendongakkan kepalanya, menatap ke arah langit. "Yang ada di sana adalah … legenda milik Nasch dan Merag."

Aku menatap ke arah Durbe dengan tatapan datar. Tentunya terdapat kekesalan di dalam diriku, tetapi aku berusaha menahannya. Ia adalah Varian Nanakou Leader pengganti Nasch, aku tidak boleh asal bersikap kurang ajar di depannya. Aku lalu berkata pada Durbe, "Pada akhirnya, itu artinya kau mempercayainya."

Durbe menoleh ke arahku, lalu menatapku dengan tatapan marah. Ia lalu berseru dengan nada tegas penuh amarah, "Bukan begitu!" Ia menatap ke bawah. Tatapannya seakan menerawang jauh ke tempat yang lain, "Aku hanya ingin mendapatkan petunjuk tentang mereka berdua …."

Durbe kembali menatapku dengan tatapan tegas. Ia lalu melanjutkan ucapannya, "Jika ada mereka, kekuatan Nanakou akan berubah! Kita harus menemukan Numbers yang tersisa, bagaimanapun caranya!"

Kami lalu berteleportasi, pergi dari tempat itu, berniat mencari Numbers yang tersisa. Kami pergi menuju ke tempat yang berbeda.

Di dalam portal penghubung dimensi, aku hanya bisa terbang sambil meratapi nasibku. Sungguh, miris. Aku sangat jarang menghormati orang, dan dari semua orang yang ada, aku memilih untuk menghormati Durbe. Kenapa Durbe, dan bukan Nasch atau Merag? Entahlah, aku tidak tahu. Mungkin karena, aku tidak pernah melihat Nasch atau Merag. Mungkin karena, Durbe adalah orang yang pertama kali bertemu denganku saat aku tereinkarnasi menjadi varian, dan ia juga orang pertama yang perhatian padaku. Sisanya, mereka hanya menganggapku teman kerja, tidak lebih, tidak kurang. Teman kerja dilarang saling mencampuri urusan kerja satu sama lain, mungkin itu yang ada di dalam kepala mereka. Kalau Vector, mungkin lebih parah lagi, ia menganggapku orang yang menyenangkan untuk dikerjai. Tetapi, Durbe, berbeda. Sejak awal, ia yang mengurusku dan menjelaskan segala sesuatu padaku.

Ah, ya, aku memang Varian Nanakou terakhir, yang ketujuh, aku paling junior di antara Varian Nanakou yang lain. Karena itulah, aku sebenarnya—walau aku tidak mau mengakuinya—sangat takut karena aku tidak mengerti tentang dunia yang kutinggali, bahkan tentang spesiesku sendiri. Tidak seperti manusia yang lahir sejak bayi dengan tidak mengerti apa-apa dari kedua orang tua mereka, varian lahir dengan sendirinya dan sudah memiliki pemahaman bahasa sejak awal. Kami tidak perlu makan atau oksigen untuk bertumbuh dan berkembang, karena kami tidak akan mengalami hal itu.

Tidak seperti varian lain yang sudah berumur sampai ratusan, atau bahkan ribuan tahun, umurku sendiri sampai sekarang masih kurang dari 100 tahun. Mungkin karena itu aku tidak percaya ketika mendengar cerita Jinlong di reruntuhan itu. Aku yakin, Mizael di cerita Jinlong pasti sudah berumur sama seperti para Varian Nanakou lainnya.

Awalnya, hanya Durbe yang peduli padaku, tetapi akhirnya, Alito dan Girag juga lama-lama menjadi akrab denganku. Tetapi, daripada peduli, mungkin mereka lebih mengapku sebagai rival mereka. Kata mereka, aku menyebalkan, tetapi mereka tidak akan layak berkata begitu sampai mereka mengalahkanku. Yeah, aku lebih kuat dari Alito dan Girag. Intinya, mereka hanya menganggapku sebagai orang menyebalkan yang harus dikalahkan—walau di sisi lain mereka menganggapku sahabat—dan mungkin karena faktor itu juga yang menyebabkanku menjadi lebih memilih untuk menghormati Durbe. Durbe bukan sahabatku, mungkin kami hanya sekedar teman, atau kurang …. Dan, rasanya … Durbe sangat sulit untuk dijangkau …. Lama-kelamaan, akhirnya aku juga menyadari sesuatu lagi. Aku merasakan kepedulian Durbe berkurang seiring waktu.

Sebenarnya, sejak awal aku sudah merasa, ada sesuatu yang lebih penting dariku dalam pikiran Durbe, sayang aku tidak tahu apa itu. Yang tidak kusangka adalah, Durbe menceritakan padaku tentang Nasch dan Merag, varian yang hilang, sekaligus dua orang penting yang paling berharga bagi Durbe.

Sungguh, rasanya aku tidak sanggup mendengar saat Durbe bercerita tentang kedua varian itu. Mungkin Durbe menyadari bahwa aku tidak suka saat ia membahasa tentang kedua varian itu, karena itu, Durbe lama-lama jadi menutup topik soal Nasch dan Merag. Entah memang karena ia memikirkanku, atau ia memang ingin menyimpan tentang kedua varian itu untuk dirinya sendiri.

Awalnya, kupikir ia sudah melupakan mereka. Tetapi, nyatanya, tidak …, ia tidak pernah melupakan mereka ….

Setelah mendengar kata-kata Durbe sebelum ini, aku menyadari sesuatu. Aku tidak akan pernah menang dari Nasch dan Merag ….

Aku tidak mengerti, kenapa aku harus marah ketika Durbe lebih mempedulikan orang lain dibandingkan diriku? Itu, 'kan, haknya. Aku sama sekali tidak berhak untuk marah atau merasa tersakiti.

Aku tersenyum miris. Perjalanan menuju ke Varian Sekai yang biasanya terasa sangat singkat, kini terasa panjang karena perasaanku yang kacau balau.

.

"Mungkin aku merasa seperti ini karena keegoisanku. Aku memang egois. Apa mungkin, ini chaos terbesar yang ada di dalam diriku …?"

.

.

A/N:

Can I kill Durbe now? Jujur, saya memang suka sama Durbe, dia ganteng, keren, berkacamata, kayaknya pinter, pokoknya "he's my type" banget, deh! Tetapi, satu yang saya gak suka dari dia …. KENAPA DIA NYIA-NYIAIN MIZAEL DAN LEBIH MILIH NASCH DAN MERAG?! Yes, I understood,Nasch and Merag is his BEST BEST BEST FRIEND! Tetapi, lihat juga ke posisi Mizael. Seorang Mizael menghormati seseorang, itu WOW banget! Tetapi, di saat ia menghormati seseorang, orang itu malah lebih peduli sama orang lain yang bahkan tidak ada di sisinya! Padahal, Mizael jelas-jelas ada di SEBELAHNYA! Mizael peduli sama Durbe, Mizael hormat sama Durbe, CUMA SAMA DURBE! Okay, mungkin ke Kaito juga, tetapi Mizael tetap kurang aja sama Kaito, dan mungkin Kaito dihormati olehnya hanya sebagai lawan yang sepadan. Terus, Durbe? Masa hanya karena ia leader? No, no, then, how about Nasch? Saya rasa, Mizael jauh lebih hormat sama Durbe dibanding sama Nasch, Merag, atau varian lain.

Ah, maaf, cukup sekian curcol saya …. Lalu, Varian Nanakou itu artinya Seven Varian Emperor.

Ah, maaf, chapter ini singkat banget, Sebenarnya, harusnya chapter tiga bukan ini, tetapi chapter di mana Rei dan Yuuma bertemu. Sayang, mendadak ide tentang cinta bertepuk sebelah tangan Mizael muncul di kepala saya.

Uh, okay, sekian. Maaf atas segala kesalahan dan feeling yang gagal menyentuh perasaan. Tetapi, serius, percaya sama saya, kalau Anda perhatikan baik-baik di ZEXAL II, sampe Mizael meninggal, hidupnya itu menyedihkan banget …. Dilupakan sama semua orang. Uhuhu, saya mau nangis …. Okay, saya pamit dulu sebelum nangis di sini …. Sampai chapter depan ….