Cast : Oh Sehun& Xi Luhan

Genre : Romance & Drama

Rate : T

Warning : Typo, BL, Boy x Boy, YAOI, Author Newbie dan NO PLAGIAT! Mian kalo cerita pasaran.

Sequel of 'Let My Flower Speak'

Ichie Kurosaki present

You are My Garbera

Murid-murid ramai berlalu lalang saat berakhirnya jam pelajaran seperti ini. Sehun yang merupakan murid di sekolah swasta ini juga ada di tengah keramaian ini. Dia berjalan menuju lokernya dan membukanya. Dia mendengus menemukan surat berisi tantangan berkelahi. Sehun sudah berhenti meladeni surat seperti ini sejak dia pacaran dengan Luhan.

Dia kemudian merobek begitu saja kertas itu. Dia tak mungkin menuju belakang sekolahnya jika Luhan sudah menunggunya di gerbang. Lagi pula dia malas berkelahi di belakang sekolahnya sendiri. Cih, apa tak ada tempat pertemuan yang lebih menarik? Di bar misalnya? Jadi dia bisa menggetoki mereka satu-satu dengan botol bir.

Sehun berjalan santai melintasi koridor yang mulai sepi dari murid. Dia ingin segera pulang bersama Luhannya, ya, Luhannya satu-satunya. Tahun ini adalah tahun terakhir Luhan di sekolah ini. Jadi Sehun ingin membuat banyak kenangan manis bersama kekasihnya itu. Karena Luhan bilang dia ingin sekali melanjutkan kuliah.

Luhan pasti sibuk jika sudah kuliah dan akan sering mengabaikan Sehun. Sehun tak suka diabaikan. Dan Sehun pastikan jika dia akan kuliah di Universitas yang sama dengan Luhan. Jangan kira Sehun itu bodoh. Pemuda setampan dia tak afdol jika tak pintar. Sehun rasa dia terlalu narsis seperti kisah bunga Narcissus.

Sehun tak pernah mengagumi wajahnya sebelumnya. Namun entah kenapa dia sangat bersyukur akhir-akhir ini karena terlahir tampan. Itu karena Luhan iri pada ketampanannya. Haha, Sehun ingin sekali tertawa di hadapan Luhan. Namja itu pasti akan menggetok kepalanya.

"Cih! Lihat wajah cantiknya! Menjijikan!" seruan marah dari seorang yeoja yang Sehun kenal menghentikan langkahnya. Lalu terdengar tamparan keras membuat Sehun terkejut. "Berani-beraninya namja menjijikan sepertimu memacari Sehun! Kau cari mati, eoh?"

PLAK!

Sehun kemudia mendekati arah suara itu yang berasal dari kelas kosong. Dia terkejut saat mendapati beberapa yeoja mengelilingi seseorang yang tertutupi. Namun Sehun tahu pasti siapa orang itu.

"Kau sebaiknya-"

"Michiyeoso! APA-APAAN INI!?" bentak Sehun membuat para yeoja itu tersentak kaget. Mereka menoleh dan mendapati Sehun yang terlihat marah. Itu pertama kalinya mereka melihat Sehun seperti itu. Mereka segera berlari keluar pintu namun Sehun menghadang yeoja yang bersuara tadi dengan mencengkram lengannya.

"Se-Sehun-ah, a-aku hanya-" yeoja yang sangat ketakutan itu mencicit dan gemetaran. Siapa yang berani pada berandalan sepertinya? Kemeja yang di keluarkan, kancing atas yang terbuka, rambut pirang dan penampilan berantakan seperti itu juga semua tahu kalau dia berandalan.

"Jessica-ssi, kalau aku tau kau menyakiti atau menyentuh namjachinguku seujung kuku saja, aku pastikan lehermu jadi taruhannya" kata Sehun dingin dan melepaskan cengkramannya pada tangan yeoja itu.

Jessica segera berlari keluar dengan ketakutan. Sehun segera menghampiri Luhan yang terduduk di lantai. Sehun membantunya berdiri dan melihat luka di bibir Luhan. Bekas tamparan tadi. Saat Sehun ingin menyentuhnya tangannya ditepis oleh Luhan.

"Gwenchana?" tanya Sehun. Melihat Luhan hanya menggeleng Sehun mendesah lelah. "Ayo ke rumahku. Kita akan mengobati lukamu." Namun Sehun bingung saat Luhan malah mendengus.

"Kenapa harus di rumahmu? Kau ingin menggodaku di sana?" tanyanya sinis dan kemudian meringis.

"Kan memang kita berencana akan ke rumahku hari ini. Kau tak ingat?" Sehun memasang wajah polosnya sebaik mungkin. Dia berusaha menahan tawanya saat Luhan merona malu.

"Sial!" umpat Luhan namun dia meringis lagi. Dia pasrah saja tangannya digenggam Sehun dan dibawa pergi dari tempat tadi. Dia kemudian tersenyum kecil merasakan kehangatan dari genggaman tangan Sehun. Dia harap, Sehun akan selalu menggenggamnya seperti ini.

Jalan berdua dengan saling bergandengan tangan sebagai sepasang kekasih merupakan impian Luhan. Dia selalu iri melihat pasangan yang bermesraan seperti ini. Namun kini mimpinya terwujud. Dia bergandengan dengan Sehun. Kekasihnya.

Memikirkan hal itu membuat Luhan kembali merona. Dia menunduk malu dan mengumpat lagi dalam hati.

"Luhannie, pipimu sangat merah. Pasti sakit sekali. Sabar, ya, kita akan segera sampai rumahku lalu aku akan mengobatimu" kata Sehun khawatir melihat pipi Luhan yang semakin memerah. Luhan hanya diam.

Namun Luhan bingung saat langkah mereka terhenti. Dia mendongak dan menemukan tiga orang yang menghadang mereka. Dia kemudian menoleh pada Sehun yang diam saja. Dia sedikit banyak mengerti saat Sehun berdiri membelakanginya bermaksud melindunginya.

"Wowowow, ternyata Sehun si berandal memiliki kekasih seorang namja yang cantik" kata salah satunya. "Lihat saja, dia juga tak akan selamat, Sehun-ssi!" ancam namja asing itu.

Luhan mundur perlahan saat namja berambut cepak itu mulai menyerang Sehun dengan tinjunya. Namun Sehun menghindar dan menendangnya. Lalu dua lainnya juga ikut menyerang Sehun namun Sehun menangkis dan menangkap tangan keduanya dan menendang alat vital mereka.

Luhan meringis membayangkan sakitnya dan menutup matanya. Dia membuka celah sedikit dan mengintip. Dia khawatir pada Sehun dan membelalak kaget saat Sehun menendang keras kepala namja pertama. Sekeji itukah Sehunnya?

"Kalau kau berani menyentuh kekasihku, aku jamin kau akan merasakan neraka seumur hidupmu" ucap Sehun dingin. Dia menendang dada salah satu namja berandalan dari sekolah lain itu. "Pergi dan jangan ganggu aku lagi! Aku sudah berhenti meladeni kalian semua!"

Ketiga namja itu pergi dengan tertatih-tatih dan ketakutan. Kemudian Luhan melihat punggung Sehun yang terlihat dingin. Seperti pemuda itu tak dapat diraih. Seperti pemuda itu sangat jauh dan sulit Luhan gapai. Ini pertama kalinya Luhan melihat Sehun dari sisi yang berbeda.

Luhan baru menyadari, dia tak mengenal Sehunnya. Sehunnya? Sehun miliknya? Selama ini Luhan hanya tahu kalau Sehun itu bengal dan sulit sekali dinasehati. Juga Sehun yang lembut, perhatian dan mencintainya. Juga Sehun yang jahil dan menyebalkan padanya.

Tapi Luhan tak tahu Sehun yang seperti ini. Sehun yang punya monster di dalam dirinya. Tapi dia tetap mencintai Sehun 'kan? Luhan menggelengkan kepalanya dan mendekati Sehun. Dia memegang lengan Sehun dengan tangan lentiknya.

"Sehun, kau jadi mengobatiku di rumahmu 'kan?" tanya Luhan mengagetkan Sehun. Pemuda itu tak menjawab dan malah menatap Luhan tajam. Luhan bingung dan makin terkejut ketika Sehun mendorongnya ke tembok.

Luhan menahan sakit di punggungnya dan menatap Sehun tak mengerti. Tatapan Sehun padanya sangat berbeda. Mata itu lebih gelap dan Luhan tak menyukainya. Itu tatapan monster!

"Kiss me" kata Sehun pelan. Pemuda itu mendekatkan wajahnya dan Luhan memejamkan matanya takut. Dan tak Luhan duga saat bibirnya bersentuhan dengan benda lembut dan lembab. Hanya sesaat karena kemudian Luhan rasakan Sehun menjauh.

Luhan membuka matanya dan menemukan Sehun membekap mulutnya dengan tatapan terkejut. Luhan tak mengerti sikap Sehun. Dia kembali menemukan Sehun lamanya. Sehun yang bukan monster. "Se-Sehun?"

"Mianhae" kata Sehun dan menggandeng kembali tangan Luhan. Dia kembali berjalan dengan Luhan di sampingnya. Sedangkan Luhan sendiri tak bisa menenangkan degupan jantungnya. Sehun baru saja mengambil first kiss-nya! Tapi kenapa kemudian Sehun minta maaf?

Luhan sudah menduga saat kemudian mereka sampai di rumah Sehun. Bangunan itu tak bisa disebut rumah. Dia lebih baik disebut istana, kastil atau museum sekalian. Sehun mendudukan Luhan di ruang tamunya. Dia menyuruh maidnya membawa kotak P3K dan minuman untuknya dan Luhan.

Sehun sendiri ke kamarnya dan berganti baju biasa lalu kembali menemui Luhan. Sudah ada kotak obat dan minuman di sana. Luhan sendiri hanya menatap kosong ke meja. Sehun jadi gelisah dan berpikir Luhan pasti terganggu dengan ciumannya tadi.

"Luhannie" dia tersenyum pada Luhan dan kemudian duduk di samping Luhan. Dia mulai mengobati Luhan. "Aku minta maaf soal tadi. Kalau kau marah, sebaiknya lupakan saja kejadian tadi" katanya dan mengompres luka Luhan.

Luhan menatap Sehun terluka membuat Sehun membeku dan menghentikan gerakan tangannya. "Itu first kiss-ku" kata Luhan geram dan menggetok kepala Sehun dengan botol obat merah yang berukuran sedang. Sehun mengaduh.

"Maafkan aku. Itu juga first kiss-ku" balas Sehun dan terlihat sangat bersalah.

"Kau memang idiot! Aku pacarmu dan kau meminta maaf setelah mencium pacarmu? Kemana otakmu yang katanya jenius itu, Sehun!?" Luhan tak habis pikir. Dia ingin sekali membentak namun bicara saja lukanya sudah perih. "Lalu kau mau mencium siapa kalau bukan kekasihmu sendiri?"

Sehun meringis melihat Luhan yang putus asa. "Jadi, aku boleh menciummu?" tanya Sehun. Dan dia tertawa saat melihat wajah Luhan yang memerah. "Baiklah" katanya dan kembali mendekatkan wajahnya ke wajah cantik Luhan.

Luhan tak melihat lagi tatapan monster Sehun. Dia malah menemukan tatapan Sehun yang sangat lembut. Luhan tak pernah menemukan orang lain yang memperlakukannya seperti Sehun. Kecuali ibunya. Namun ini berbeda dari ibunya. Luhan yakin jika dia kehilangan Sehun, itu berarti kematian kedua untuknya.

Tinggal beberapa senti lagi bibir Sehun menyentuh bibir Luhan-

"SE-SEHUN!?"

Luhan segera mendorong Sehun menjauhinya. Dia dan Sehun menemukan wanita paruh baya yang cantik sedang berdiri di pintu masuk dan menatap keduanya terkejut.

"A-apa yang sedang kalian lakukan!?" tanyanya tercekat. Namun wanita itu lebih terlihat ke arah terguncang dari pada marah.

"Nyonya Oh! Se-Sehun hanya sedang mengobati luka saya! Ka-kami tidak melakukan apa-apa selain itu, kok! Iya, kan Sehun!" Luhan bangkit berdiri dan menunduk di hadapan nyonya Oh. Bagaimana pun, Luhan sudah banyak berhutang budi pada orang tua Sehun.

Kibum segera menghampiri Luhan dan menatapnya khawatir. "Kamu kenapa Luhan? Apa kamu terluka parah?"

"A-aku tak apa-apa, nyo-"

"Sudah kubilang panggil aku Eomma, Luhan. Aku ini pengganti ibumu!" potong Kibum. "Ibumu dan aku adalah teman baik. Dia menitipkanmu padaku. Dan aku harus menjagamu. Oh, kamu harus menginap di sini!"

"Ta-tapi Nyo-eh-ngg-Eomma, bagaimana dengan rumahku-"

"Tempat seperti itu kau sebut rumah? Bukankah kau sudah berteman dengan Sehun? Oh, itu bagus sekali! Kalian sudah dekat! Sebaiknya kau tinggal di sini Luhan. Aku sudah menyiapkan kamar untukmu! Kau-harus-tinggal-di-sini!"

Luhan ingin sekali membantah. Namun melihat tatapan Kibum padanya dan seberapa baiknya Kibum padanya.

"Kau tak mungkin bisa menolakEomma" kata Sehun kalem. Luhan ingin sekali menonjok Sehun saat itu juga. Namun melihat ada ibunya, Luhan tahan diri. Akhirnya Luhan mengangguk pasrah. Lagi pula, dia masih sempat mengururs bunga-bunganya saat pulang sekolah.

"Ah! Menyenangkan sekali!" Kibum segera memeluk Luhan erat. "Susah sekali menemukanmu!"

"Ryewook pasti senang sekali! Kalian sudah dekat 'kan? Karena kalian sudah dekat dan saling mengenal, Luhan pasti senang bisa tinggal di sini. Ahn, kalian tak akan melakukan yang macam-macam 'kan?"Kibum melepas pelukannya dan menatap tajam Sehun dan Luhan bergantian.

Luhan dan Sehun saling pandang. Luhan kemudian tersenyum paksa pada Kibum dan menggeleng.

"Tentu saja Eomma. Kami hanya bersahabat. Mana mungkin aku menyukai Sehun. Aku 'kan namja normal!"

Kibum tak membalas apa pun. "Kau harus menjaga Luhan, Sehun! Oh, Eomma kan mau ambil barang yang tertinggal. Kalian jaga rumah yaa!"

Kibum masuk ke kamarnya. Lalu dia pergi ke luar setelah menciumi Sehun dan Luhan. Sesaat kemudian hening.

"Cih! Namja normal katamu?" Sehun menatap Luhan sinis. Dia tak menyadari mata Luhan yang sudah berkaca-kaca sejak tadi. "Wajah cantikmu saja sudah menunjukan kau tak normal!"

Luhan menatap Sehun terkejut. "Ibumu tak mungkin menerima hubungan kita! Kau tak lihat wajah terkejutnya saat dia mengira kau ingin menciumku?"

"Aku 'kan memang ingin menciummu," Sehun memalingkan wajahnya. "Lalu, kau mau aku mengakhiri hubungan ini!?" balas Sehun sengit. "Dengar Luhan, aku tak akan memutuskanmu! Dengar itu! Walau aku harus menentang kedua orang tuaku sendiri!"

Sehun kemudian pergi ke kamarnya meninggalkan Luhan. Luhan menggeram dan menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Dia kemudian memutuskan mengompres lagi luka memarnya. "Sial! Brengsek! Bajingan! Fuck! Dammit! Holly Shit! Auch! Bastard!"

Luhan mengumpat sambil sesekali mengaduh sakit saat mengobati lukanya.

"Sehun, aku juga tak ingin berpisah denganmu. Aku sangat mencintaimu" gumam Luhan. Dan air mata mengalir dari mata rusanya.

To Be Continued...

Author's Note :

Annyeong! Ini sequel dan sekaligus chapter lanjutan. Ayeee! Nih, yang minta chapter, Ichie kasih lanjutannya. Mungkin bakal lama lagi updatenyaaa! Apa ini kependekan? Atau ichie harus buat lebih panjang lagi? Review neeeeeeeeeeeeeeeee! /Lempar batu/tebar somay/

Mohon semua dukungannyaaaaaa! Ichie Author baru di sene neeeeeeeeeee! /cium toge/

Engg? Buat author senior dan para readers! Mohon komentarnyaaaaa! Jangan hina yaa! Ichie orangnya sensitif soalnya. /ceilee!/emang lo pikir PMS sensitip!/

Ya kali borokan yang sensitip./duangh!/

Udah, kaga usah banyak cingcong! Review yang mau lanjut. Kalo reviewnya lebih banyak dari yang kemarin berarti lanjut. Tapi kalo lebih dikit berarti kagak lanjut. /digorok/ditimbang/

REVIEEEWWWWW!

/capslock JEBOL/

Garbera dilambangkan sebagai cinta yang sudah lama terikat. Cocok buat kamu yang sudah lama pacaran dan pengin menikah. Buat kamu, para cowok, pilihlah rangkaian bunga Garbera sebagai hadiah Valentine buat pacar kamu. Sertakan juga note yang bunyinya, " Aku tidak bisa hidup tanpamu". Dari : Belahan Jiwamu. Bunga Gerbera sebagai tanda bahwa kamulah jodoh yang paling cocok buatnya.