Hai hai Kazu yang pea dan rada rada gila muncul dengan fict lama dengan chapter baru yang gak jelas bin ngaco dan gak niat, gak ngerti apa itu plot dan alur cerita. Dan ane kasih terimaksih yang paling tulus dari hati yang paling dalam untuk kritik dan sarannya yang kalian sampaikan dalam reviewnya, karena review anda menentukan kualitas fict berikutnya. Terimakasih juga buat anak anak pea di kelas, kareana udah dikasih inspirasi dari mereka, dan terutama kakak gue yang ngasih minjem ini laptop. (gue sumpahin lo lulus S1 bro). oke kita ke benang merah sebelum itu harus melewati disclaimer dan waning.
.
.
.
.
Disclaimer
Vocaloid bukan punya author yang malas itu
Tapi cerita yang gaje ini punya si author pemalas itu
.
.
.
.
"Seorang siswa sekolah menengah yang berwajah tampan yaitu, Len Kagamine. Atau sering di panggil Len, ataupun UKE oleh teman-temannya, bahkan samapai seluruh murid di sekolahnya. Tapi semuanya berubah ketika ada siswi pindahan yang di tempatkan di kelasnya,"
.
.
.
.
.
.
WARNING!
Ini merupakan fict straight dengan imbuhan comedy, cerita ngaco, TYPO tersebar tidak merata,kecepatan alur tidak konstan,tidak sesuai EYD, dan dilarang menjadi SILENT READER diakrenakan untuk memperbaiki kesalahan yang ada.
dan terimakasih untuk yang sudah review
.
.
.
.
Mungkin hari ini adalah hari yang beruntung dan juga Sial bagi Len beruntung dikarenakan, pulang lebih awal dan akan mendapat tambahan pekerjaan, Tapi kesialannya adalah, menyikat gigi dengan Lem super dan mendapat "fans" baru selain Rin. Len memulai pekerjaan nya dengan menghela nafas panjang sambil mengelap meja bar, "ada apa Len? Sepertinya tadi kau semangat sekali datang kesini sampai terengah engah begitu, tetapi kenapa sekarang kau malas-malasan?" tanya Gumi Dengan muka polos.
"ah~ tidak apa-apa kok Gumi, aku akan serius sekarang," jawab Len dengan semangat penuh.
"apa kau yakin Len?" tanya Gumi dengan muka tanpa dosa yang dia miliki
"hmmm! aku yakin seribu persen" ujar Len dengan menganggukkan kepalanya dengan semagat.
Tapi kenyataan seteah mengatakan hal itu kepada Gumi seorang pelanggan datang berambut blonde panjang sepinggang yang digerai bagai tirai yang terbuat dari emas, dari jauh pun Len sudah mengenali orang tersebut, tapi Len tetap memasang wajah biasanya. "nah Gumi, bisakah kau mencatat pesanan pelanggan yang baru datang itu? mungkin kalau aku yang mencatat pesanan pelanggan dia akan kabur" tanya Len dengan wajah yang agak murung, yang di lanjutkan dengan senyum pahit. Tanpa banyak bertanya Gumi datang ke pelanggan untuk mencatat pesanan pelanggan yang ditunjuk Len tadi. Walaupun Gumi mencatat pesanan pelanggan tersebut Len juga sudah mengetahui pesanan pelanggan tersebut, sebelum, Gumi memberikan pesanan pelanggan kepada Len, tapi Len sudah membawakan pesanan pelanggan tersebut.
"bagaimana kau tahu pesanan orang itu Len? Jangan-jangan kau ini seorang pembaca pikkiran?!" ujar Gumi dengan agak takut dengan Len, Len yang mendengar pernyataan Gumi langsung melonggarkan mulutnya dengan wajah bingung, "bagaimana kalau kau yang membawakannya Len?" saran Gumi memang bagus tapi karena sangat bagusnya membuat Len tercengang bagaikan Len baru saja melihat malaikat maut melintas di depan matanya.
Memang Gumi itu baik hati dan tidak sombong, selain itu dia itu pintar, dan polos. Walaupun begitu Gumi mempunyai lidah yang tajam setajam pisau dapur. Jadi mau bagaimana lagi Len sudah mengetahui bagaimana sifat Gumi . dengan pasrah Len mengantarkan pesanan pelanggan tersebut, daripada selalu dipanggil pelanggan kita sebut saja mawar. Oke itu tidak akan terjadi nama pelanggan kita samarkan menjadi mawar. Karena para pembaca sudah tahu pasti orang itu siapa, yap siapa lagi kalau bukan Lenka.
"maaf telah lama menunggu," ujar Len dengan sopan kepada Lenka
"terima kasih Len" ujar Lenka yang tidak sengaja memanggil namanya karena suara Len yang masih diingat Lenka, dangan respon yang cepat, Lenka lansung menoleh kearah pelayan yang membawakan pesanannya, dan benar saja apa yang didengar oleh Lenka, yang membawakan pesanannya adalah Len sendiri. Dengan respon yang cepat dan tanggap Lenka memegang tangan Len. Dan dia pun mulai mengeluarkan sedikit air mata di ujung matanya, "ano~ maaf aku sedang sibuk, kalau Lenka ingin berbicara nanti tunggu aku sampai istirahat," ujar Len sambil memasang senyum yang agak di paksakan dan juga sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
Jam istirahat Len pun dimulai dan Lenka masih setia menunggu Len, Len pun agak malas dengan situasi kaku seperti ini dengan terpaksa Len harus menemui Lenka untuk berbicara dengan Len karena Len sudah membuat janji kepada Lenka. Len pun menghampiri Lenka yang masih duduk di meja nya dengan tatapan serius, "jadi Lenka, apa yang kau ingin bicarakan?" tanya Len dengan agak malas.
"sebenarnya aku minta maaf sejak kejadian waktu itu Len, aku sungguh menyesal . ternyata Len telah mencitai aku dengan tulus, tapi aku telah menghancurkan ketulusan mu itu dengan kelakuan ku yang diluar batas Len, aku ingin mengulangnya dari awal lagi saat kita bersama" jelas Lenka panjang kali lebar sama dengan luas dengan air mata yang mengalir di pipi Lenka, mendengar penjelasan Lenka pada bagian terakhir Len agak terkejut mendengarnya.
"sudah lah Lenka," hibur Len sambil mengusap kepala Lenka
"itu kan sudah lama sekali, aku bahkan sudah lupa dengan kejadian apa yang kamu maksud Lenka, tapi apa maksudnya untuk mengulang dari awal lagi?"
Walaupun Lenka kaget dan juga senang dalam waktu yang bersamaan karena menurut Lenka, Len tidak mempermasalahkan perlakuannya terhadao Len di masa lalu nya. "aku ingin mengulang dari awal lagi sejak kita bersama Len." Jelas Lenka
"EEHHHHHH?! Ta-ta-tapi kau kan berpacaran dengan Rinto?"
"aku sudah tidak berpacaran dengan Rinto sejak 2 tahun yang lalu, aku baru tahu kalau Rinto hanya indah luar nya tetapi racun di dalam, aku menyesal" jawab Lenka dengan menangis. Len pun bingung harus bagaimana untuk menenangkan Lenka, "ya…. Manusia mana tahu isi hati manusia yang lain kan Lenka, jadi anggap wajar saja, dan untuk jawaban untuk pertanyaan yang terakhir tadi, aku akan memikirkannya lagi Lenka" balas Len sambil mengusap-usap kepala Lenka.
"terimakasih Len-kun " ujar Lenka sambil berdiri untuk meninggalkan café dan tersenyum karena beban di hatinya sudah hilang.
"he~ kelihatannya kau akrab sekali Len dengan gadis tadi~" suara kaito terdengar di belakang Len
"benar sekali, mungkin dia kekasih Len?" tanya Rin dengan agak tersedu-sedu
"Len-kun?" ujar Luka dengan tatapan kosong
Dengan takut Len untuk menghadap ke belakangnya, Len langsung berjalan ke arah ruangan untuk staff café, tapi sayang tangan Kaito lebih cepat daripada insting Len, Len pun sudah di tangkap oleh Kaito, "hmmmmm, Kaito aku sudah masuk jam kerja jadi bisakah kau melepaskan aku?" ujar Len dengan wajah setengah membiru karena takut, karena wajah Luka, dan Rin sangat menyeramkan.
"itu curang Len, bagaimana kau itu bisa di kelilingi oleh wanita cantik?" Ujar Kaito bercanda
"AKU JUGA TIDAK TAHU KA-I-TO!"
"Dan tolong jelaskan kepada mereka berdua kalau aku sudah tidak ada hubungan lagi dengan orang tadi"
"sebenarnya itu agak suit Len, kami ini mendengar semua percakapan mu berdua, ya~ mau bagaimanapun juga aku tidak bisa menjelaskannya" jawab Kaito dengan muka tanpa dosanya.
"hah~ baiklah akan ku jelaskan kepada Luka dan Rin, tapi nanti jika setelah aku selesai bekerja, kebetulan aku tidak mengambil lembur hari ini jadi Luka, Rin nanti kalian bisa datang jam 6 sore kan? Nanti akan kujelaskan semua" ujar Len dengan lesu.
Setelah Len selesai berkerja, Len menjelaskan semuanya kepada Rin dan Luka tentang Lenka, dan Luka dan Rin agak sedikit memelas, antara kasihan dengan timbal balik antara Lenka dengan Len, dan rival Rin dan Luka bertambah.
