Terimakasih banyaak untuk kyucel-san yang sudah me-review, mem-follow, bahkan mem-favorite fict ini. Dan untuk guest-san yang sudah me-review dan yang sudah mengirim PM tentang fict ini. Sekali lagi, aku sungguh sangat terharu dan berterimakasih :')
Untuk semuanya, terimakasih sudah menyempatkan mampir ;)
.
.
.
.
.
Our Notes
D.N. is not mine!
AU, NARASI-mode, slice of life,
OOC, typos, EYD? newbie, dll.
ditulis hanya untuk hiburan semata
.
.
.
.
.
.
.
Tanpa mengurangi rasa hormat, bagi yang kurang berkenan dengan ceritanya, dipersilakan untuk memencet tombol 'kembali'.
Enjoy
.
.
.
Kenapa bisa?
Ya, kenapa bisa?
Amane Misa menjalin hubungan dengan Yagami Light.
Seorang selebriti televisi dengan seorang pelajar teladan.
Bagaimana bisa? Mengapa bisa? Kapan pertemuan pertama mereka?
Amane Misa.
Putri bungsu pengusaha kaya yang berkecukupan. Hidupnya tenang dan bahagia pada awalnya. Papa, Mama, dan dua kakak laki-laki yang sayang dan perhatian. Hobi menyanyi sejak kecil sambil bermain gitar, meniru kakak sulungnya, Amane Seijuro.
Hingga saat usianya 10 tahun, tragedi itu terjadi. Rumahnya dirampok. Misa menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana keluarganya dibunuh tanpa sisa. Hanya ia satu-satunya yang selamat.
Sejak itu hidupnya serasa runtuh. Warisan orang tuanya memang banyak. Tapi apalah arti itu semua tanpa kehangatan keluarga di sisinya?
Misa berubah pemurung. Selalu mengurung diri di rumah dan enggan pergi ke sekolah hingga pengasuhnya kewalahan. Nyaris enam bulan lamanya Misa mengurung diri di rumah. Sekolahnya terbengkalai.
Suatu sore, pengasuhnya dikejutkan dengan kemunculan gadis blonde itu di beranda rumahnya dan kemudian berjalan keluar rumah. Rupanya, Misa berdiam lama-lama di tepi danau dekat taman. Tempat keluarganya biasa menghabiskan sore bersama-sama.
Ia terus berdiam di sana sampai matahari tenggelam. Sambil bertanya-tanya, apa ia bisa turut tenggelam bersama matahari. Begitulah kemudian Misa menghabiskan sore harinya. Kadang-kadang, gitar peninggalan kakaknya turut dibawa serta. Ia menyanyikan beberapa lagu sedih dengan hampa.
Diam-diam, pengasuhnya merekam beberapa kali saat Misa bernyanyi sambil memainkan gitarnya. Saat itu, usianya hampir 11 tahun. Kemudian video rekaman tersebut dikirim ke Perusahaan Rekaman yang tengah mencari bakat.
Entah takdir apa yang bicara, pihak perusahaan terkesan dan memanggil Misa untuk seleksi selanjutnya.
Sang pengasuh gigih membujuk Misa agar gadis kecil itu memiliki kesibukan lain yang tidak membuatnya berlarut-larut dalam kepiluan. Misa akhirnya bersedia. Sekali lagi, nona Amane kecil berhasil membuat mereka—para tim perusahaan rekaman—terkesan dan memilihnya.
Kontrak ditandatangani.
Namun sebelum mulai rekaman, Misa diharuskan menyelesaikan sekolah dasarnya. Entah bagaimana, semangat hidup Misa mulai tumbuh walau hanya sedikit. Ia mau kembali mempelajari pelajaran sekolah. Karena sudah meninggalkan kelas selama 1 semester, Misa mengikuti program penyetaraan khusus.
Ia belajar intensif siang malam mengejar ketertinggalan. Saat ujian kelulusan tiba, Misa berhasil lulus.
Rekamannya pun dimulai dimana Misa memainkan sendiri gitarnya. Satu single siap diluncurkan. Guna memperkenalkan ke publik, ia turut membintangi mini series di televisi.
Ternyata, gadis lolita itu memang berbakat. Tak hanya single-nya yang laris di pasaran. Mini series yang dibintanginya pun mendapat respons sangat bagus dari masyarakat.
Wajahnya yang imut-imut menggemaskan semakin sering tampil di layar kaca. Tawaran iklan mulai berdatangan. Suara emasnya pun sering terdengar di radio-radio. Menyusul single kedua, ketiga, hingga peluncuran album pertamanya.
Wajah cantik dan imut, image-nya yang ceria dan menggemaskan, suara emas kala menyanyikan lagu, sikapnya yang charming, kepribadiannya yang lovable membuatnya mudah diterima masyarakat segala usia.
Semua lagu, drama, dan apa pun yang dibintanginya selalu meledak di pasaran.
Para produser berlomba-lomba memakainya dalam program mereka. Bahkan Misa mendapat tawaran mengisi program acara memasak yang di-handle-nya sendiri. Usianya padahal baru 13 tahun saat itu. Ia semakin dikenal berkat acara Mini Chef Misa-Misa.
Tak hanya berjaya di bidang musik dan show, karirnya di dunia akting pun makin bersinar. Saat umurnya 14 tahun, tawaran bermain film layar lebar pun mulai berdatangan.
Di tengah aktivitas yang makin padat, hebatnya Misa masih mampu mengikuti pelajaran di sekolah. Meski bukan siswa terbaik, tapi Misa selalu lulus di semua mata pelajaran sekolah. Bahkan ia masih sempat menerima tawaran pemotretan model busana remaja musim panas, dua minggu sebelum ujian kenaikan kelas.
.
.
Misa memang tidak mau berhenti. Karena jika berhenti, kenangan pahit itu akan kembali menghantuinya.
Sampai suatu ketika. Dua bulan menjelang ujian kelulusan SMP.
Sekali lagi tragedi menghampiri hidupnya.
Pengasuhnya tewas. Di depan mata kepalanya sendiri. Pengasuh yang selalu menemani dan menguatkannya semenjak kepergian anggota keluarganya. Pengasuh yang dianggapnya satu-satunya keluarga yang tersisa.
Mati. Di hadapan mata kepalanya.
Lagi.
Dan Misa semakin gila karena ia melihat sendiri, pelakunya adalah orang yang sama dengan yang membunuh keluarganya dulu.
Dengan bantuan pengacara, sang pelaku berhasil diseret ke hadapan polisi. Sayangnya, tak ada bukti yang cukup kuat untuk menghukumnya. Pelaku itu hanya dihukum beberapa bulan penjara.
Misa tak terima. Ia kembali trauma akan hidupnya.
Di hari dibebaskannya si pelaku yang telah menjerumuskannya dalam neraka penderitaan, Misa merasa tak sanggup lagi untuk hidup.
Dunia terlalu tak adil buatnya.
Kala itu senja. Matahari hendak tenggelam. Misa sudah memutuskan untuk ikut tenggelam.
Ia menerjunkan diri dari atas jembatan danau yang selalu menjadi tempat kenangannya.
Melayang. Jatuh.
Air danau yang keruh menerpa kasar kulitnya.
Berikutnya... sesak. Gelap.
Hampa.
.
.
Saat membuka mata, hanya didapati ruangan putih. Semua serba putih. Sudah matikah ia?
Sayangnya, tidak.
Selang oksigen terpasang di hidungnya. Jarum infus menancap di lengannya. Berbagai kabel berseliweran di tubuhnya.
Entah.
Jadi, dia belum ... mati?
Kenapa?
.
.
Misa menjalani perawatan intensif tanpa hasrat. Manager-nya yang kelimpungan setengah mati. Sementara ini, Misa memang menghilang dari jagad dunia hiburan, dan keberadaannya dirahasiakan.
Beruntung, petugas jembatan yang menyelamatkan Misa bukan tipe pencari sensasi. Petugas itu bersedia tutup mulut dan merahasiakan kemana menghilangnya Misa.
Ini sudah lewat minggu ketiga Misa dirawat di rumah sakit. Misa sama sekali enggan melakukan apa pun. Menolak makan dan minum. Tidak kooperatif saat menjalani pemeriksaan ataupun terapi.
Manajernya sampai tidak tahu harus bagaimana membujuk Misa.
.
.
Saat Mogi, sang manajer sudah nyaris putus asa, ia dikejutkan dengan senyum sumringah artisnya di keesokan harinya. Misa bahkan langsung minta disuapi makan dan bertanya tak sabar, kapan ia bisa menjalani terapi.
Meski dalam hati bertanya-tanya, namun Mogi menuruti semua kata-kata Misa.
Singkat cerita, Misa mematuhi semua instruksi dokter dengan sangat baik.
Bertolak belakang dengan tiga minggu sebelumnya, ia justru sekarang nampak bersemangat dan semakin bersemangat. Kesehatannya semakin baik. Perkembangannya sangat pesat. Semua senang.
Namun Mogi masih bertanya-tanya, apa yang membuat Misa kembali bersemangat menjalani hidup.
Mogi ingin sekali berterima kasih pada entah apapun itu, yang telah menghidupkan kembali binar kejora di mata sang bintang yang sempat meredup, bahkan hampir padam.
.
.
Satu setengah minggu kemudian, Misa diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Seminggu kemudian, ia sudah bisa berjalan-jalan dan melakukan segalanya seperti biasa. Lalu di minggu berikutnya, ia kembali muncul di layar kaca.
Kembalinya Misa menjadi berita heboh di tiap acara gosip.
Beragam spekulasi yang sempat muncul, kini ditanggapi langsung oleh sang bintang.
Kepada publik, Misa meminta maaf karena menghilang tiba-tiba. Ia mengaku sedang sakit sehingga tidak bisa tampil di layar kaca seperti biasa. Sebelumnya, ia memang berduka atas kematian pengasuhnya sehingga kondisi kesehatannya terganggu.
Dengan senyumnya, Misa juga berterima kasih untuk semua perhatian dan doa hingga ia bisa kembali muncul di hadapan semua sebagaimana sebelumnya.
Pernyataan ini diterima hangat di kalangan luas. Beragam dukungan muncul, kebanyakan menyatakan bahwa Misa tidak perlu bersedih atau merasa sendirian karena mereka akan selalu berada di sisi Misa dan mendukung Misa selayaknya keluarga. Yah, semua tahu, Misa tak punya sanak saudara.
Sekali lagi, Misa menyampaikan ucapan terima kasih dan berjanji untuk tampil lebih baik dan selalu memberikan yang terbaik bagi semua yang sudah mendukungnya.
Pernyataan ini disambut meriah oleh jutaan fans-nya. Melihat antusiasme penggemar terhadap kembalinya Misa yang sebenarnya hanya menghilang kurang dari 2 bulan, pihak perusahaan rekaman tempat Misa bernaung bermaksud mengadakan mini konser bertajuk Misa-Misa's Comeback!
Misa hanya mengangguk semangat ketika pihak perusahaan menyampaikan hal tersebut padanya.
Misa lalu menoleh pada Mogi dan berkata sambil tertawa lebar, "Kita akan kembali sibuk, Mocchi."
.
.
Tidak ada yang tahu, apa yang membuat senyum di bibir Misa kembali.
Pertanyaan ini seringkali muncul di benak Mogi. Ia yakin, tentu ada sebab mengapa Misa yang sebelumnya sudah amat putus asa menjalani hidup, tiba-tiba berubah bersemangat hanya dalam semalam.
Tentu ada sesuatu. Tapi apa?
Mogi sudah memutuskan tidak akan bertanya. Untuk sementara ini, melihat Misa yang begitu bersemangat, sudah membuatnya sangat senang.
.
.
.
.
Misa tidak pernah mengatakannya.
Malam itu, ia sudah berniat tidur. Sialnya televisi di kamar rawat inapnya masih menyala.
Rupanya, sang make-up artist yang tadi siang menjenguknya lupa mematikan televisi dan Misa terlalu acuh untuk menyadari. Barulah ketika hari semakin malam dimana ia memejamkan mata sembari berharap tak akan pernah terbangun lagi, telinganya merasa terganggu dengan suara televisi.
Sialnya lagi, Mogi tak ada di tempat. Entah kemana dia.
Misa mengulurkan tangan, meraba-raba remote dan bermaksud mematikan televisi.
Namun ...
Brak!
Remote di tangannya terjatuh. Mulutnya menganga lebar. Iris matanya melebar.
Ia ... tidak mungkin salah lihat. Selama ini, ia tidak pernah salah lihat.
Televisi yang tak sengaja ditontonnya tengah menayangkan berita terkini. Tentang seorang tersangka pembunuhan dan penggelapan yang berniat melarikan diri, namun berhasil digagalkan oleh seorang detektif muda. Naas, tersangka tersebut malah menjemput sendiri kematiannya. Karena berontak, ia berakhir dengan tertusuk pisaunya sendiri. Nyawanya tak sempat tertolong meski dilarikan ke rumah sakit. Berakhirlah riwayatnya di sana.
Memang bukan berita istimewa. Namun tidak bagi Misa.
Terlebih saat kemudian televisi menampilkan sekilas data tentang tersangka yang kemudian terbunuh akibat ulahnya sendiri itu. Pria itu rupanya memang sosok bejat. Daftar kejahatannya menumpuk, namun nyaris tak pernah mendapat hukuman karena hampir selalu kekurangan bukti.
Kasus kali ini adalah kasus kesekian yang melibatkannya. Namun tak seperti sebelum-sebelumnya, pria itu berhasil dipojokkan berkat analisis jitu seorang detektif muda. Sadar dirinya kalah telak dan tak mungkin menang di pengadilan sebagaimana biasa, pria itu nekat melarikan diri. Lagi-lagi detektif muda itu berhasil menggagalkan niat busuknya dan malah berujung pada kematian yang sama sekali tak pernah disangkanya.
Pembawa berita menyebutkan kekagumannya karena detektif muda yang beberapa kali memang pernah membantu menyelesaikan kasus hanyalah seorang pelajar SMU.
Layar televisi sempat menampilkan sekilas siluet detektif muda sebelum beralih ke berita selanjutnya.
Di tempatnya, Misa masih terbaring tegang. Jantungnya berdegup kencang.
Pria yang sangat dibencinya kini telah tamat riwayatnya di tangan seorang detektif muda.
Dendamnya telah terbalas sempurna.
Jantungnya berdetak semakin cepat. Tapi kini dengan perasaan tak biasa yang meluap-luap. Binar matanya membuncah. Tiba-tiba ia ingin segera sembuh, lalu menemui detektif muda itu untuk menyampaikan rasa terima kasihnya.
Lalu untuk pertama kalinya sejak dirawat di rumah sakit, Misa berharap pagi datang secepatnya agar ia bisa segera bangun dan membuka mata.
.
.
Misa bahkan bersemangat untuk kembali belajar mengejar ketertinggalannya di sekolah. Seperti dѐ javu, kejadian ini nyaris sama dengan kejadian 3 tahun lalu saat ia harus pontang-panting belajar demi mengikuti ujian penyetaraan kelulusan SD.
Usaha kerasnya membuahkan hasil, ia berhasil mengikuti ujian penyetaraan kelulusan SMP dengan hasil yang tidak buruk. Kemudian meneruskan sekolahnya di sebuah SMA swasta.
Sekembalinya ia ke dunia hiburan, Misa diam-diam mencari tahu identitas detektif muda tersebut di sela-sela kesibukannya belajar dan bekerja. Ia sempat melihat sekilas siluetnya. Dan sekali lagi, penglihatannya tak pernah salah.
Ia sangat terkejut saat pertemuan tak terduga pertama mereka.
Ketika itu, Misa sedang berada di gedung stasiun SakuraTV. Hendak menuruni tangga bersama manager-nya ketika pandangannya tak sengaja menangkap sosok pria muda satu lantai di bawahnya.
Rambut cokelat terang yang tak pernah Misa lupakan. Lalu, postur tubuh itu ...
Misa yakin pria itulah detektif muda yang dicarinya.
Bertingkah tetap tenang, Misa tak melepaskan sedikit pun pandangannya dari pria itu. Pria itu tampak sedikit gusar menarik lengan seorang gadis seusia Misa. Si gadis nampak keberatan dan tetap bersikeras. Entah bagaimana, pria itu berhasil menarik gadis tersebut hingga keluar gedung Sakura TV.
Misa menghela napas.
Memasang wajah polos, Misa meminta manager-nya untuk berjalan terlebih dahulu ke Studio 5 untuk memeriksa persiapan shooting acaranya.
Mogi mengangguk patuh dan berjalan mendahului Misa.
Tak membuang waktu, Misa segera menuju meja resepsionis. Menyapa sebentar karyawan di balik meja sembari melirik sekilas buku tamu. Sayangnya, ia tak mendapati nama pria tadi selain nama-nama orang televisi yang dikenalnya.
Beberapa saat kemudian, ia melangkahkan kaki sedikit lesu menuju Studio 5.
.
.
Di apartemennya, Misa memikirkan beragam cara untuk mencari tahu identitas detektif yang dipujanya.
Teringat beberapa nama asing di buku tamu, Misa memutuskan untuk sekedar browsing di internet. Namun ini setelah nama kelima yang diketikkannya di kolom pencarian, Misa tak jua menemukan benang merah. Ia sudah menggerutu sebal dan mengerang ketika mengetikkan nama keenam.
Seketika matanya terbelalak.
Yagami Sayu. Nama yang barusan diketiknya ternyata adalah nama adik perempuan pria detektif yang dicarinya.
Sekali lagi, perasaan meluap-luap itu datang. Memenuhi rongga dadanya.
Akhirnya, ia menemukannya.
Dia. Yagami Light.
.
.
Tercengang, Misa membaca profil Light. Seorang pelajar teladan di sebuah Sekolah Menengah elit. Pernah menjuarai kejuaraan tenis anak-anak nasional Jepang hingga dikirim ke Inggris. Peraih nilai tertinggi ujian kelulusan SMP. Putra kepala kepolisian Tokyo dan beberapa kali pernah membantu memecahkan kasus.
Berikut, Misa memperhatikan beberapa potret Light yang didapatnya dari internet.
Pipinya sedikit bersemu saat melihat potret close up Light. Jantungnya pun tak henti berdebar. Ia terkenang pertemuannya tadi.
Tak bisa tidak.
Ia telah jatuh cinta pada sosok detektif tersebut.
.
.
Usai menemukan identitas Light, Misa masih tak menemukan cara bagaimana bertemu dengan Light. Ia tidak ingin pertemuan mereka terjadi begitu saja. Ia ingin membuat Light terkesan.
Misa tahu, dirinya adalah artis charming yang terkenal. Tapi ia tak cukup yakin bisa menarik perhatian Light hanya dengan mengandalkan keartisannya saja.
Kalau sudah begini, mau tidak mau ia harus memanfaatkan kemampuannya yang satu itu.
.
.
.
.
.
Hari sudah gelap ketika bel berbunyi di kediaman keluarga Yagami.
Sachiko, sang nyonya rumah mengerutkan kening, lalu menyuruh Sayu—putri bungsunya yang sedang bermain ponsel—untuk membukakan pintu.
Sedikit merengut, Sayu menuju ke pintu depan.
Ketika membuka pintu, ia terkejut mendapati seorang gadis asing yang terlihat familier tengah tersenyum manis padanya. Gadis asing itu mengaku teman Light dan akan mengembalikan bukunya.
Sayu baru akan berbalik memanggil kakaknya saat melihat Light turun dari tangga. Segera Sayu memanggilnya dan berkata ada teman yang akan mengembalikan buku.
Sedikit mengerutkan kening, Light mendekat sementara Sayu menyingkir dengan sopan.
Misa menahan jantungnya yang semakin berdegup kencang. Hanya dalam jarak kurang dari dua meter, Light—yang hanya mengenakan kemeja santai lengan panjang dan celana panjang cokelat tua—terlihat semakin tampan.
Light menatapnya tajam. Misa berusaha keras membalas tatapan tersebut dan tak lupa tersenyum manis.
"Aku tidak ingat bukuku dipinjam oleh teman sepertimu," ujar Light setelah keduanya hanya saling bertatapan beberapa lama.
"Ah, maaf. Itu memang alasan tidak kreatif hanya supaya bisa bertemu denganmu," jawab Misa tanpa raut wajah bersalah.
Light sedikit menyipitkan matanya. Ah ya, beberapa penggemarnya memang sering melakukan hal gila ketika mengejarnya. Mungkin tak jauh beda dengan yang satu ini ...
"Pulanglah. Aku tidak ada urusan denganmu."
Misa terbelalak sedikit, tak menyangka Light langsung mengusirnya. Buru-buru ia memasang wajah polos menggemaskannya seraya mengeluarkan sebuah buku.
"Sebentar, sebentar. Kau harus lihat dulu isi buku ini." Misa cepat-cepat membuka halaman pada buku itu dan menyodorkannya pada Light dengan tatapan penuh harap.
Set.
Gerakan Light yang hendak mengibaskan tangan terhenti. Iris matanya sedikit melebar saat matanya menangkap sebaris tulisan di buku catatan tersebut.
Ia menatap Misa tajam. Mempertimbangkan sesuatu. Beberapa saat kemudian, tatapannya melunak.
"Kita bicara di dalam."
.
.
Misa mengira maksud Light bicara di dalam adalah di ruang tamu atau ruang keluarga atau mungkin perpustakaan atau ruangan mana saja di rumah ini. Sama sekali tidak terpikir Light akan mengajaknya kemari.
Mulanya ia mengikuti saja langkah Light yang masuk ke dalam rumah. Keningnya sedikit berkerut saat Light menaiki tangga. Tapi ia tak lupa menyapa ramah Sayu yang kebetulan berpapasan.
Dan ia semakin terheran sekaligus tersipu (?) saat Light membuka sebuah pintu dan itu adalah ... kamar tidur!
Ia berada dalam kamar Light! Detektif pahlawan yang telah membalaskan dendamnya!
Oho. Ingatkan dia untuk bersorak sekeras-kerasnya sepulang dari sini nanti.
.
.
Sayu masih mencuri pandang ke arah gadis asing dan kakaknya hingga punggung keduanya lenyap dari pandangannya.
"Kaa-san belum pernah lihat teman perempuan Light yang ini."
Sayu terlonjak. Rupanya Sachiko tengah berdiri di sampingnya sembari mengamati putranya yang membawa masuk teman perempuannya.
"Kaa-chan benar," sahut Sayu. Matanya berubah berbinar-binar. Katanya sedikit berbisik, "Aku tidak tahu kalau Onii-san sudah punya pacar. Memang sih roknya terlalu pendek dan bajunya sedikit seksi. Tapi dia cantik sekali!"
"Kaa-san yakin belum pernah melihatnya. Tapi entah kenapa wajah itu rasanya begitu familier ..."
"Eh? Kaa-chan juga berpikir begitu? Aku pun merasa dia tidak begitu asing padahal aku yakin belum pernah bertemu dengannya."
Keduanya tampak berpikir sebentar.
Tiba-tiba Sayu berseru, "Ah! Aku ingat!"
Sayu lalu mengguncang-guncang pundak Ibunya pelan. "Kaa-chan! Bukankah dia Misa-Misa yang sering tampil di televisi? Tidak salah lagi! Dia Misa-Misa!"
Sachiko ikut terbelalak dan kemudian mengangguk setuju, "Kau benar, Sayu-chan. Sepertinya dia memang Misa-Misa yang itu. Pantas rasanya dia begitu familiar."
Kening Sayu lalu berkerut, "Tapi ... bagaimana ceritanya Onii-san bisa kenal dengan artis populer seperti Misa-Misa? Bahkan Misa-Misa mengunjungi Onii-san kemari."
Seperti mendapat ide, Sayu menjentikkan jarinya sambil menyeringai senang, "Ah! Kaa-chan, nanti biar aku saja yang mengantar minuman ke kamar nii-san."
.
.
.
.
.
"Masuk," perintah Light datar.
Begitu Misa melangkahkan kakinya masuk ke kamar Light, Light menutup pintu kamarnya rapat.
Seolah tak peduli padahal jantungnya seakan hampir meledak kegirangan, Misa dengan santainya duduk di atas tempat tidur Light sementara Light memutar kursi belajar dan duduk melipat tangan, berhadapan dengan Misa.
Misa berdehem sejenak. Oh, ingatkan bahwa dia adalah aktris jempolan yang (seharusnya) pandai berakting menutupi kegugupannya.
"Namaku Misa. Amane Misa," gadis pirang itu kemudian memperkenalkan diri.
"Aku tidak tanya," sahut pemuda berambut cokelat cerah itu cepat.
"Oh ya?" Misa sedikit cemberut, "Padahal kupikir Light-kun ingin tahu siapa nama gadis yang akan membantunya memecahkan kasus."
Light memutar bola matanya. Gadis di depannya bahkan langsung memanggil nama kecilnya sebelum ia memperkenalkan diri.
Mengacuhkan itu, tangan Light kemudian mengajukan buku catatan tadi ke hadapan Misa. "Apa penjelasanmu soal ini?"
Misa mengangkat alis. "Light-kun ingin tahu?"
"Jawab saja pertanyaanku."
"Tidak mau."
Light menggeram kesal. "Jangan main-main."
"Tentu saja tidak." Raut wajah Misa berubah serius. Tatapannya yang semula ceria dan hangat berubah menajam.
Light terdiam beberapa saat. "Apa tujuanmu sebenarnya?"
Sorot mata Misa berubah cerah. Sementara ini, Light mengambil kesimpulan, wanita di depannya berubah jinak jika pembicaraan mereka menyangkut dirinya. Tipikal gadis remaja sekali.
"Seharusnya Light-kun menanyakannya sedari tadi. Misa hanya ingin berterima kasih karena Light-kun telah menangkap penjahat yang membunuh keluarga Misa dan pengasuh Misa."
Astaga. Cerita apa ini? Light menahan diri untuk tidak memutar bola matanya lagi. Ia harus bersandiwara menjadi pendengar dan penanggap yang baik.
"Keluargamu terbunuh?"
Misa mengangguk kuat-kuat. Light tidak tahu ada manusia yang bisa bercerita demikian dengan raut wajah seperti itu.
"Kejadiannya saat Misa berumur 10 tahun. Misa melihat sendiri penjahat itu membunuh Kaa-san, Tou-san, Sei-nii, dan Aki-nii. Lalu beberapa bulan yang lalu, dia juga membunuh pengasuh Misa. Misa benci sekali padanya. Misa ingin dia dihukum seberat-beratnya, kalau perlu hukuman mati! Tapi dia selalu saja lolos dari dakwaan. Makanya Misa senang sekali saat tahu dia tertangkap oleh Light-kun, bahkan kemudian mati gara-gara berniat melarikan diri."
Otak genius Light segera mencerna cerita Misa. "Maksudmu, penjahat itu adalah orang yang sama dengan pelaku kasus penggelapan yang sedang kuselidiki?"
Misa bertepuk tangan, "Light-kun memang genius!" pujinya kagum.
Beberapa saat Light hanya menatap Misa lurus-lurus. Well, apa gadis di hadapannya ini normal? Dia melihat sendiri penjahat itu membunuh anggota keluarganya. Bagaimana dia bisa selamat?
Lalu, tujuannya datang kemari. Gadis ini membawa kode komplemen yang bisa menjadi titik terang kasus penggelapan dan perampokan yang diselidikinya. Memang, gara-gara pelaku keburu meninggal dunia, kode pemecahannya menemui jalan buntu.
Light melirik sekilas kode tersebut. Jujur, barisan kode itu sungguh amat menggoda. Tapi—
Light kembali menatap gadis yang duduk di hadapannya.
—tidak jika mengingat yang membawanya adalah seorang anak perempuan ingusan yang bahkan tidak bisa membedakan mana pakaian yang pantas untuk malam hari dan mana pakaian untuk siang hari.
Tapi ... bagaimana dia bisa tahu? Dari mana gadis ini mendapatkan kode itu? Dan lagi, bisakah wanita ini dipercaya?
"Dari mana kau mendapatkan kode ini? Kau tahu, ini bukan hal main-main."
Misa mengibaskan tangannya. "Sudah Misa bilang. Saat ini, Misa tidak akan mau kasih tahu. Tapi, Light-kun harus percaya pada Misa. Kode itu asli. Misa berani bertaruh! Alasan Misa memberikan ini pada Light karena Misa yakin, cuma Light-kun yang bisa menuntaskan kasus penjahat itu."
Light menatapnya tajam.
"Kenapa aku harus memercayai orang asing sepertimu?"
"Pokoknya Light-kun harus percaya Misa! Misa melakukan ini benar-benar karena berterima kasih pada Light kok. Misa hanya ingin membantu Light-kun dengan memberi informasi yang Misa punya."
Tatapan Light semakin menajam. "Oh ya?"
Misa menangkap ada nada sinis tersirat disana. Gadis pirang itu hampir menggigit bibir saat mendengar kalimat Light selanjutnya.
"Apa ada jaminan untuk itu?"
Misa meremas kedua tangannya. Ia sedikit mendongakkan wajahnya, membalas tatapan Light tak kalah serius.
"Light-kun boleh membunuh Misa jika kode itu salah."
Crap.
Apa? Semudah ini dia mempersilakan seseorang membunuhnya? Apa perempuan ini benar-benar waras? pikir Light.
Light-kun. Kumohon, percayalah pada Misa. Mungkin ini hanya permulaan. Tapi selanjutnya, Misa janji akan benar-benar berguna bagi Light-kun. Light-kun tidak akan menyesal jika mempercayai Misa. Misa membatin penuh harap.
Tok. Tok. Tok.
Keduanya segera tersadar. Tanpa mengalihkan pandang, Light berseru, "Masuk!"
Pintu terbuka. Sayu masuk dengan nampan di tangan.
"Aku mengantar minuman untuk Onii-san dan Onee-chan," katanya sopan.
"Hn," balas Light.
Kebalikan dengan Light yang hanya bergumam singkat, Misa tersenyum lebar dan menyapa ramah, "Waah terima kasih. Kau Sayu, 'kan? Adik perempuan Light-kun?"
Sayu tampak terkejut dan salah tingkah. "Umm ... itu ... ya, a-aku adik Light-niisan."
"Kyaaaa ... senangnya bertemu dengan Sayu-chan. Panggil saja aku Misa, yah. Kapan-kapan kita ngobrol."
.
.
Usai menutup pintu kamar, Light berbalik menatap Misa tajam.
"Kau menyelidikiku?"
Misa menghentikan minumnya. Gadis pirang itu meletakkan cangkir tehnya di atas meja dekat tempat tidur Light, lalu menatap Light dengan alis terangkat.
Light menyipitkan matanya. "Kau bahkan tahu nama anggota keluargaku sebelum kuberitahu."
Misa melengos, lalu mengangkat bahunya. "Tentu saja. Misa harus memastikan memberi informasi penting pada orang yang tepat."
Light menahan diri untuk tidak menggeram.
"Baiklah, untuk sementara akan kupertimbangkan." Light meraih laptop dan menyalakannya.
Misa tersenyum senang.
"Tenang saja, Light-kun tidak akan menyesal telah mempercayai Misa. Misa janji."
A.N (Ada secuil tambahan di bawah :p)
Lupakan death note ataupun shinigami yang mengubah kepribadian Light, si pemuda-tampan-dan-teladan kesayanganku jadi psyco x,x
Meski disini dia bakal tetep narsis, sangat percaya diri, dan sulit mempercayai orang lain, tapi dia tetep concern sama hal-hal berbau hukum dan kasus. So, L must be his perfect and matched partner! (or rival?) :'3
Misa? Disini dia juga selalu ingin berguna untuk Light. Dan Light memang akan menggunakan-nya. Tapi Light nggak bersikap semena-mena seperti di manga o.o
Lagipula, Misa cukup berguna kok :* Dia punya semacam kemampuan khusus yang juga membuatnya tetap bisa mengikuti pelajaran sekolah meski dengan seabreg aktivitas, yang nantinya ada gunanya juga untuk membantu penyelidikan :)
"Kalau begitu, berikan nomor ponselmu. Misa juga akan memberi nomer ponsel pribadi Misa."
.
.
"Apa Light-kun sering mengajak gadis-gadis ke kamar?"
"Apa maksudmu?"
"Kita baru pertama kali bertemu. Tapi Light-kun langsung mengajak Misa ke kamar. Apa biasanya Light-kun juga begitu? Mengajak wanita asing yang baru dikenalnya masuk ke kamar?" terdengar nada interogasi bercampur cemburu di sana.
Light mendongak dari laptopnya. Setelah menatap tajam Misa, ia berkata, "Bukan urusanmu."
.
.
.
TBC
Next Chapter: Light Yagami.
.
.
.
Thanks for reading
Menghargai apapun yang disampaikan melalui review :D
Happy new year, all!
