Terimakasih sudah menyempatkan mampir :D
Muaaaaaf update-nya super duper lama hiks!

Special Thanks to:
kyucel/ guest/ helsinKi/ Bryan Andrew Cho/ Vanny Zhang/ Rika Alya/ ryan. dharmawan. 35/ zielavienaz96/ You ;)

QA:
Ini
fict ultah Misa? Iya :) Misa lebih bahagia segi mananya? Apa belum terlihat? Aku sudah cukup meng-istimewa-kan dia disini lho XD. Misa-Light belum jadian? Yap, baru 'kenalan'. L muncul chapter depan? Ehem :)). Shock, Light punya pacar dan bukan sama L. S-sebenarnya Light itu milik tiga orang: Misa, L, dan.. aku #plak. Kemampuan Misa ingatan fotografis? A-apa yaa... Chapter 2 rada dark. Eeeh m-masa? Ini sho-ai? K-kelihatannya gimana? :( Banyakin Light sama L, Misa nggak usah. Ta-tapi ini birthday fict untuk Nona Gotika itu. Jangan males nulis. Ampuun. Cepet update. Maaaf :(

.

.

.

.

.

.

.

.

.

OUR NOTES

D.N. is not mine!

AU, RUSH, OOC, TYPO, EYD
Slice of Life, Narrative, Fictive

Misa's birthday fict

ditulis hanya untuk hiburan

.

.

.

.

.

.

Enjoy.

.

.

.

Apa Light-kun sering mengajak gadis-gadis ke kamar?

Apa maksudmu?

Kita baru pertama kali bertemu. Tapi Light-kun langsung mengajak Misa ke kamar. Apa biasanya Light-kun juga begitu? Mengajak wanita asing yang baru dikenalnya masuk kamar?

Bukan urusanmu.


Light Yagami.

Light adalah cahaya.

Terlahir sebagai putra pertama pasangan Soichiro dan Sachiko Yagami, Light adalah cahaya bagi keluarga kecil mereka.

Soichiro mendidik putra pertamanya penuh kedisiplinan. Dalam setiap kesempatan, ia selalu berusaha menanamkan nilai-nilai leluhur pada kepribadian sang putra. Pria Yagami itu menyimpan harapan, suatu saat nanti putranya tak hanya menjadi cahaya bagi keluarga kecil mereka, namun juga bagi siapa pun di sekitarnya.

Itulah harapan yang diselipkan Soichiro pada nama putranya, cahaya.

.

.

Light memang pantas menyandang nama tersebut. Sejak kecil, hidupnya serba lurus, teratur, dan berkilau. Ia selalu menduduki peringkat pertama di semua mata pelajaran sekolah. Pelajaran eksak, non-eksak, semua dikuasainya dengan sangat baik. Ia juga terampil menjahit, melukis, dan membuat prakarya. Pendek kata, dimana pun ia berada, ia selalu menjadi bintang yang cahayanya paling terang.

Tak hanya bersinar di dunia akademik. Ia juga menguasai bidang olahraga. Nyatanya, saat usia 13 tahun, Light menjuarai kejuaraan tenis junior se-Jepang. Berkat itu, ia dikirim ke London untuk mengikuti Kejuaraan Tenis Junior Piala Terbuka di Wimbledon, Inggris. Itu pula yang menghantarkannya pada satu peristiwa tak terlupakan dalam hidupnya.

Ingatan. Perjumpaan. Pertemuan. Kenangan.

.

.

.

.

.

Remaja berambut cokelat terang itu berjalan sedikit tergesa. Sebentar lagi gilirannya bertanding, namun sebuah 'panggilan alam' telah memaksanya ke suatu tempat terlebih dulu.

Usai menuntaskan urusannya, Light—nama remaja berambut cokelat tersebut—bermaksud segera meninggalkan tempat itu ketika sebuah teriakan keras dari dalam telah menghentikan langkahnya. Ia membalikkan tubuhnya cepat dan segera mendorong pintu yang baru saja ditutupnya.

Iris mata cokelatnya sedikit melebar melihat apa yang terjadi.

"M-mur-der ... murder! H-help ...! Help! Oh, God!" seorang pria setengah baya bersetelan rapi tampak shock dan ketakutan sembari menunjuk-nunjuk ke salah satu bilik toilet dengan tangan gemetar. Pria itu lalu jatuh terduduk dengan wajah pucat dan mata terbelalak ngeri.

Tanpa membuang waktu, Light melesat mendekat. Kali ini, iris matanya terbelalak.

Di dalam sana, seorang laki-laki muda berambut pirang tergeletak tak bergerak. Terduduk di atas toilet dengan kepala tertunduk.

Tampak bekas darah mengalir lambat dari pelipis kirinya, turun menelusuri pipi, terus ke rahang, hingga—

Tes.

—jatuh mengotori lantai toilet yang putih bersih.

Light terperangah.

Untuk sesaat, tak ada yang bergerak. Hanya mereka bertiga di dalam ruangan itu. Light, si pria bersetelan rapi yang berteriak, dan mayat seorang pemuda.

Tubuh Light bergetar hebat. Jantungnya berdegup teramat kencang, melebihi saat-saat mendebarkan mana pun dalam hidupnya. Lebih. Lebih dari itu. Ini pertama kalinya remaja 13 tahun itu melihat mayat yang terbunuh langsung di depan matanya.

Masih dengan tubuh gemetar, perlahan-lahan tangannya terkepal. Tenang. Bersikaplah tenang. Ia harus tenang!

Light mencoba menarik napas dan menghembuskannya seteratur yang ia bisa. Dilakukannya beberapa kali hingga dirasanya getar tubuhnya sedikit berkurang. Hal pertama yang harus dilakukannya setelah ini adalah ...

"Call ... call ambulance ..." Light bisa mendengar getar samar dalam suaranya.

Ia menoleh perlahan-lahan ke samping dan menjumpai pria bersetelan rapi itu masih mangap ketakutan dengan sekujur tubuh gemetar. Light menelan ludah satu kali sebelum kembali mencoba bersuara, "Sir ... can you call ... ambulance, please?"

Pria itu tergagap sebentar sebelum kesadarannya kembali utuh. Ia menjawab kalimat Light dengan terbata sambil merogoh-rogoh sakunya mencari ponsel, "Y-yes ..."

Masih berusaha menetralkan detak jantungnya, Light melanjutkan kalimatnya, "And ... police."

.

.

Light tidak pernah membayangkan sebelumnya.

Memang benar bahwa ayahnya adalah polisi yang mengepalai Divisi Pembunuhan Berantai di Markas Pusat Kepolisian Jepang. Dan Light memang bercita-cita akan menjadi polisi jika besar nanti. Jadi, seharusnya semua ini tak mengejutkan lagi baginya.

Tidak. Light adalah tipikal yang selalu penuh persiapan. Ia sudah mempersiapkan dirinya sejak lama. Waktu senggang yang dimilikinya selalu dihabiskannya dengan mempelajari buku-buku tentang kasus dan hukum. Belakangan ini, ia bahkan sedang menekuni internet dan mencoba-coba membongkar beberapa situs demi mendapatkan pengetahuan yang lebih luas.

Ia sudah menduga, suatu saat, cepat atau lambat, ia akan berurusan langsung atau bahkan melibatkan diri dengan hal-hal semacam ini. Ia sudah menduganya.

Namun yang di luar perhitungannya adalah, ia harus mengalaminya kurang dari sepuluh menit sebelum pertandingan tenis penting dimana ia menjadi salah satu wakil dari negaranya di Arena Tenis Dunia, Wimbledon.

"Memang bukan kau pembunuhnya, Yagami-san. Tapi tetap saja kau akan dianggap terlibat. Mereka tak akan mengijinkanmu mengikuti pertandingan begitu saja. Padahal hanya kau satu-satunya dari kontingen kita yang berhasil mencapai semifinal. Pertandingan tak mungkin ditunda. Jika kau melibatkan diri lebih jauh dalam kasus ini, kau akan dianggap mengundurkan diri."

"T-tapi, sensei. Ini masalah nyawa manusia. Kita tidak mungkin membiar—"

"Yagami-san. Di dunia ini, ada banyak hal yang belum kau ketahui. Tidak semuanya mesti berjalan lurus. Seharusnya kau mengerti."

Tepat sebelum pria bersetelan rapi hendak menelepon ambulans, pelatih tenis Light tiba dengan wajah panik dan langsung memarahi Light yang tak jua kembali, sementara pertandingan akan dimulai.

Sang pelatih sempat shock setelah mengetahui telah terjadi pembunuhan di bilik toilet. Namun ketika Light mengatakan dengan kilat semua yang ia tahu, pelatih itu pun langsung menarik paksa Light agar pergi dari sana sebelum polisi tiba.

"Seharusnya kau tidak kembali masuk tadi. Seharusnya tidak, mengingat dalam lima menit kurang, kau sudah harus berada di lapangan, Yagami-san."

"Maaf, Sensei. Aku tidak bisa meningg—"

"P-pergilah, Anak muda ... Aku bisa mengatakan pada polisi bahwa hanya aku yang menemukan m-mayat ini. Maafkan aku, s-seharusnya memang hanya aku yang menemukannya. K-kau ... kembalilah ke lapangan ..."

"Tapi, Sir ..."

"Terima kasih, Nak ... Kau sungguh hebat, bisa bersikap lebih tenang dariku. Aku percaya kau akan memenangkan pertandinganmu meski baru saja melihat hal yang mungkin seperti mimpi buruk. Tapi kau kuat, kau berbeda dari anak-anak seumuranmu. Sekarang ... pergilah ... dan bertandinglah ..."

"Sebentar, Sir ... Tidakkah Anda merasa ada yang aneh dengan semua ini? Aku justru menduga ada petunjuk penting di balik semua ini. Keberadaanku pasti di luar perhitungan pelaku. Ia tak akan menyangka anak kecil sepertiku yang juga peserta, malah memakai kamar kecil di pojok lantai ini, bukan kamar kecil khusus atlet di lantai atas. Ada kemungkinan besar CCTV di depan toilet ini sudah dirusak. Dan mengingat posisi telapak tangan korban yang tak wajar—"

"Cukup, Yagami-san. Tak ada waktu lagi. Biarkan polisi yang mengurus semuanya. Kita harus kembali ke lapangan. Kalau pun mereka membutuhkan kesaksianmu, kau akan dihubungi usai pertandingan. Kuharap kau mengerti."

Tangan Light terkepal. Apa yang sebenarnya terjadi? Ada apa dengan orang-orang ini?

Ia tidak suka. Sangat tidak suka, dimana ia yakin dengan prinsip kebenaran yang dipegangnya, namun orang dewasa tak menganggapnya. Ini ... bertentangan dengan nuraninya.

Dadanya bergemuruh. Ia menyesal telah mengatakan semuanya pada orang-orang dewasa ini. Sembari melangkahkan kaki meninggalkan ruangan untuk kembali ke lapangan, remaja 13 tahun itu berjanji pada dirinya sendiri untuk tak akan pernah memercayai mereka lagi.

Ini pertama kalinya dirinya menjumpai kasus. Dan ia meninggalkannya begitu saja seperti pengecut.

.

.

.

.

.

"Pada akhirnya, tetap saja Rusia dan Inggris yang lolos ke final."

"Kau benar. Tapi aku cukup bangga, Jepang berhasil sampai semifinal. Ini jauh lebih baik dibanding tahun lalu. Terlebih, masih ada kemungkinan Light akan menyabet perunggu jika permainannya tetap stabil hingga akhir."

"Ya, aku juga berharap demikian. Entah ini bisa dibilang keberuntungan atau bukan, langkah kita jadi sedikit lebih mulus karena salah satu peserta unggulan ada yang tak hadir di pertandingan ..."

"Maksudmu juara pertama dari Inggris itu? Sayang sekali, kenapa ia tidak hadir, ya? Apa ada yang lebih penting dari pertandingan ini baginya?"

"Hmm, mungkin saja. Nyawa manusia, barangkali? Hahaha."

Light menggeretakkan giginya. Ia mendengar jelas pembicaraan kedua rekan sekontingennya yang berjalan di belakangnya. Tiba-tiba saja ia merasa sangat kesal ... dan marah?

Tentu saja ia masih ingat bagaimana tadi dirinya diseret meninggalkan kasus pembunuhan di depan matanya. Kini ia malah mendengar berita bahwa salah seorang peserta tak hadir di lapangan—nyaris seperti yang akan dilakukannya tadi. Dan entah untuk alasan apa, dadanya terasa panas ... dan sesak.

"Jangan sembarangan bicara. Kau tak tahu? Menurut yang kudengar, si Juara Inggris itu sosok yang teramat misterius."

"Misterius? Hahaha, jangan membuatku tertawa. Bukankah dia peserta yang juga seumuran kita? Maksudmu misterius bagaimana?"

"Huh, kau tak akan bisa membayangkannya. Dia sosok yang tak akan kautemukan fotonya dan tak akan kauketahui namanya."

Light membuang nafas keras. Ia mempercepat langkahnya. Mendengar percakapan ini hanya membuat dadanya semakin berasap.

Sosok yang tak akan kau temukan fotonya dan tak akan kau ketahui namanya?

Huh. Mana ada orang seperti itu.

.

.

Namun lagi-lagi dada Light seolah terhimpit baja raksasa. Ketika ia tak sengaja melewati serombongan petugas stadion, ia mendengarnya dengan amat jelas.

Ia memang tidak dapat menangkap semua yang mereka katakan karena mereka mengucapkannya sambil berbisik dalam bahasa inggris. Tapi Light masih bisa mendengar.

"Syukurlah, pelakunya sudah ditemukan dan pertandingan berjalan lancar hingga akhir. Kita harus berterima kasih pada L yang telah membatalkan pertandingan tenisnya demi mengungkap kasus pembunuhan di toilet itu. Berkat itu pula, stadion tetap dapat terkondisikan dan tak ada pengunjung yang mengetahui hal ini."

Di tempatnya, Light berdiri dengan kaki bergetar. Dadanya terasa berkali lipat lebih sesak dan panas dari sebelum-sebelumnya.

Mustahil ...

Ini mustahil ...

Ia telah meninggalkan kasusnya begitu saja demi pertandingan ...

Dan ada orang lain yang justru melakukan sebaliknya.

Ini ... sangat mustahil ...

.

.

.

.

.

Light tidak pernah tidak setenang ini. Bahkan teman sekamarnya mengerut ketakutan melihat sikapnya yang gelisah dan tampangnya yang berubah menyeramkan. Namun teman sekamarnya yang polos itu hanya menganggap Light sedang tegang karena akan menghadapi pertandingan penentuan besok.

Sebenarnya, sulung Yagami itu tengah uring-uringan. Amat sangat uring-uringan. Ia baru saja menggunakan fasilitas internet kamar hotelnya untuk mencari tahu siapa sebenarnya 'L' yang dimaksud petugas stadion tadi.

Namun ia dibuat tercengang sekaligus frustasi ketika menemukan ribuan artikel tentang L tanpa keterangan meyakinkan. Setiap situs seolah memiliki gambaran sendiri-sendiri tentang sosok itu. Dan ketika akhirnya ia berhasil menemukan situs tersembunyi yang mengaku memiliki foto L, Light harus menggeram kecewa.

Foto yang dimaksud hanyalah foto seseorang dengan topeng aneh yang menutupi seluruh wajahnya, tanpa keterangan lain. Bahkan ketika ia membongkar situs resmi yang menampilkan berita lengkap pertandingan tenis yang sedang diikutinya ini pun—dimana ia yakin sosok berinisial L itu juga mengikutinya—situs tersebut hanya menampilkan foto topeng yang sama dan sebuah inisial 'L'. Tanpa keterangan apa pun.

Sosok yang tak akan kau temukan fotonya dan tak akan kau ketahui namanya.

Light menggeretakkan giginya. Remaja itu menghantam tinjunya ke meja dengan kesal.

Apa-apaan? Mana ada orang tanpa identitas yang bepergian dengan topeng kemana-mana?

Dewa pasti sedang mengajaknya bercanda.

.

.

Sejujurnya Light penasaran. Teramat sangat penasaran hingga ia merasa bisa mati kapan saja karena digerogoti rasa penasaran.

Bercermin pada dirinya sendiri, Light merasa wajar jika dirinya ingin menyelesaikan misteri di depan matanya walau harus menunda pertandingannya—andai saja ia tak mempedulikan negaranya—dan tak ada pelatih yang menyeretnya. Sebab ia tumbuh besar sebagai putra polisi dan bercita-cita ingin jadi polisi.

Lantas seperti apa sosok 'L' yang rela membatalkan pertandingannya dan menyelesaikan kasus?

Tentu orang itu memiliki hubungan yang dekat dengan kepolisian, dan mungkin pemerintah—hingga orang itu tak merasa masalah meninggalkan pertandingan.

Jika orang itu juga peserta Kejuaraan Tenis Junior sebagaimana dirinya, bukankah seharusnya mereka seumuran?

Rumit. Complicated.

Di sisi lain, sebenarnya Light ingin berterima kasih karena kasus itu dapat terungkap dengan cepat sehingga beban mental yang sempat menderanya, tak lagi seberat sebelumnya. Namun sudut hatinya yang lain merasa marah dan kesal pada orang yang seenaknya meninggalkan pertandingan dan menuntaskan kasus yang ia tinggal. Bagaimana perasaanmu terhadap orang yang mengambil jatahmu?

Light kesal. Tapi juga penasaran. Dan ia merasa harus mencari tahu. Harus.

Sayangnya, Light tak juga berhasil menemukan satupun informasi tentang keberadaan 'L'. Usai mengundurkan diri dari pertandingan, hawa keberadaannya benar-benar lenyap. Bahkan hingga hari terakhirnya di London, Light masih tak menemukan apa pun.

Light tidak puas.

Dan Tuhan seperti mengerti isi hatinya.

.

.

.

.

.

Saat itu, Light sedang menarik kopernya terburu-buru menyusuri koridor panjang airport hendak kembali ke Jepang. Ia tidak pernah tergesa seperti ini sebelumnya. Salahkan teman sekamarnya yang berantakan dan membuat mereka hampir tertinggal.

Keduanya bahkan jadi tak sempat menyantap sarapan. Teman sekamarnya itu memang sudah meminta maf dengan memberikan sebatang lolipop rasa strawberry untuk mengganjal perut.

Tapi, ayolah. Light tidak menyukai cemilan manis dengan bahan pengawet dan kadar gula berlebih seperti itu. Baginya, makanan seperti itu seharusnya tidak disebut sebagai 'makanan yang pantas dimakan'. Apalagi ini rasa strawberry! Tapi karena enggan berdebat, permen loli malang itu kemudian dijejalkan sembarangan ke sakunya.

Pada akhirnya, ia terpaksa menyeret kopernya buru-buru dan ...

Bruk!

Menabrak sosok bocah yang sepertinya seumuran dengannya.

Keduanya sama-sama terkejut.

Light segera mengucap kata maaf dengan sedikit membungkuk. Saat itulah pandangan matanya tertuju pada sebatang lolipop yang tergeletak tak berdaya di lantai.

Sepertinya milik orang yang ditabraknya. Lolipop yang terjatuh itu sama persis dengan lolipop yang ada di sakunya. Permen loli rasa strawberry.

Tanpa pikir panjang, Light merogoh sakunya dan menyerahkan permennya sembari mengucapkan kalimat-kalimat maaf, sedang terburu-buru, ini sebagai ganti milikmu, dan semacamnya dalam bahasa inggris.

Setelahnya, ia segera menarik kembali kopernya dan melangkah cepat melewati anak itu hingga—

"Light."

—langkahnya terhenti sekali lagi. Ia tidak yakin mendengar seseorang di belakangnya menyebutkan namanya atau sekedar mengucap kata 'cahaya' dalam bahasa inggris. Namun kalimat yang didengar selanjutnya memperjelas semuanya.

"Mr. Light Yagami."

Light memutar tubuhnya menghadap sosok yang ditabraknya tadi. Kini ia memberikan perhatian lebih untuk merekam sosok itu dalam ingatannya.

Seorang anak laki-laki seumurannya dengan kaos putih lengan panjang dan celana jins biru. Punggungnya sedikit melengkung. Rambut hitamnya tampak berantakan. Wajahnya menyiratkan emosi datar yang tak bisa ditebak. Pun sorot mata dari sepasang onyx hitam yang tertuju kepadanya.

Jeda dua detik sebelum Light sedikit memiringkan kepala dan membuka mulutnya, "Sorry?" bertanya memastikan bahwa dirinyalah yang dimaksud bocah itu.

Bocah berambut hitam itu justru kemudian menarik sudut bibirnya ke atas dan berkata setengah menggumam, "Nice to meet you. Light."

.

.

.

.

.

Light sudah akan melupakan kejadian di Bandara saat sekembalinya ia di Jepang, dirinya dikejutkan dengan sosok yang masuk di sekolah yang sama dengannya, tepat di hari pertamanya kembali bersekolah.

Plus sebatang lolipop yang terlihat familiar di mata Light. Permen loli rasa strawberry.

Entah mengapa, tiba-tiba saja Light merasa harus waspada ketika remaja mencurigakan itu seolah sengaja melakukan kontak mata dengannya saat perkenalan di depan kelas. Namun, Light tetap berusaha terlihat tak peduli. Khas seorang Light. Tenang, namun diam-diam penuh selidik.

Mereka kemudian belajar di kelas yang sama. Remaja laki-laki yang memperkenalkan dirinya sebagai Hideki Ryuuga itu duduk tepat di belakangnya—ini pertama kalinya Light merasa tidak nyaman selama di sekolah. Seperti diawasi dari belakang.

Tapi sekali lagi, ia memutuskan untuk bersikap tak peduli. Bertindak tenang seolah tak ada yang terjadi. Meski nyatanya, memang benar-benar ada yang terjadi.

Seminggu pertama, keduanya selalu mendapat nilai yang sama. Light masih diam. Ia mencoba membiarkan Si Ryuuga itu berkeliaran di sekitarnya sembari diam-diam sibuk menyusun hipotesa mengenai motif bocah menyebalkan ini yang sebenarnya.

Memasuki minggu kedua, terjadi hal yang tak disangka-sangka, namun menjadi titik awal pertemanan mereka.

.

.

Kala itu, bel pulang sekolah berbunyi seperti biasa.

Seperti biasa pula, Light berjalan kaki pulang menuju rumahnya. Dan seperti biasa pula, lima langkah di belakangnya, bocah Ryuuga itu mengikutinya—masih dengan permen loli rasa strawberry yang disesapnya.

Yang tak biasa adalah ketika Light dengan sengaja berbelok masuk ke dalam Game Center. Good, seorang juara kelas sepertinya masuk ke dalam Game Center di siang bolong sepulang sekolah.

Sesuai dugaan Light, bocah Ryuuga itu masih mengikutinya. Light sedikit menyeringai. Sejujurnya ia gerah dengan tindak tanduk Ryuuga selama seminggu ini. Dan hari ini, di tempat ini, remaja 13 tahun itu bermaksud mengakhiri sikap diamnya dan mulai balik menyerang. Hal sepele memang. Tapi, jika si Ryuuga itu selalu menyamainya dalam semua mata pelajaran di sekolah, apa ia masih akan menyamainya dalam bermain game?

Namun terjadi hal yang paling tak disangka-sangka. Belum sempat memilih jenis permainan, keduanya dikejutkan dengan teriakan histeris.

Seseorang telah terbunuh!

Kejadian selanjutnya terjadi begitu cepat. Light berlari mendekat, sementara Ryuuga hanya mengekor di belakang dan lebih banyak mengamati. Lalu entah bagaimana tiba-tiba saja keduanya jadi kompak.

Belum apa-apa, Light sudah dibuat terkejut. Dengan tenang, Ryuuga tiba-tiba saja berkata sudah mengetahui trik dan pelakunya. Dengan raut wajah yang sama pula ia membeberkan teknis kerja mesin game yang menyebabkan pembunuhan tersebut. Termasuk teori gaya mekanik, jenis osilator, perkiraan massa, dan persentase ketepatan dugaannya.

Hal yang membuat Light heran, dirinya memang dapat memahami perkataan Ryuuga. Tapi Light yakin, tidak banyak pelajar kelas 2 SMP yang mengetahui dan menguasai dengan detail seperti si Ryuuga ini. Pun dirinya saat ini.

Benarkah semua yang dikatakannya? Atau remaja ini hanya asal menyusun hipotesa berdasarkan teori yang kebetulan pernah didengarnya?

Semakin mengejutkan ketika Ryuuga dengan tenangnya berkata, "Saya sudah mempelajari soal itu hingga tuntas saat berumur 10 tahun. Saya berani mengatakan, persentase melesetnya dugaan saya kurang dari 7% ."

Bukan. Bukan itu yang kini menjadi masalah utama bagi Light. Remaja 13 tahun itu lebih terganggu dengan fakta bahwa dengan kemampuan selevel ini, untuk apa si Ryuuga itu merelakan diri menghadiri sekolah biasa? Apalagi di Jepang? Sama sekali tidak masuk akal.

Dan apa-apaan sikapnya yang selalu mengikutiku?

Light tidak punya waktu untuk berfikir ataupun meneruskan kecurigaannya. Begitu polisi tiba, mereka langsung mengenali Light sebagai putra atasan mereka. Light benci ini, tapi ia mengatakan semua yang diketahuinya—termasuk bagian yang dikatakan Ryuuga, dan kasus itu terselesaikan dengan segera.

.

.

Matahari sudah bergeser ke arah barat saat keduanya melangkahkan kaki, masih dengan posisi seperti semula saat baru keluar dari gerbang sekolah.

Kurang dari tiga blok lagi dan Light akan segera tiba di rumahnya. Namun remaja berambut cokelat itu tiba-tiba berhenti saat mereka berada di tengah-tengah jembatan.

Light berbalik dan menatap tajam.

Kali ini, ia bermaksud mengakhiri semuanya.

"Kenapa kau mengikutiku?"

Light mengira akan mendapati jawaban bertele-tele atau argumen yang membuat mereka harus berdebat panjang. Nyatanya, remaja rambut hitam itu tak terlihat terkejut sama sekali.

Masih dengan raut wajah stoic-nya, ia justru mengeluarkan permen loli baru dari saku celananya, membuka bungkusnya dengan tenang, dan kemudian menyesapnya―membiarkan Light terlihat bodoh dengan berdiri diam memperhatikan tingkahnya dan menunggu jawabannya.

Hingga sesapan kedua, barulah si Ryuuga itu berkata tenang. Namun sanggup membuat Light terkena serangan jantung di tempatnya.

"Saya L."

Sepasang mata cokelat Light sontak membeliak.

A—AP—

Tunggu!

Light menahan diri untuk tidak bereaksi berlebihan sekalipun pengakuan barusan membuat sekelenyar ingatan saat di London berkelebat dalam benaknya. Remaja 13 tahun itu memicingkan matanya.

Huh. 'L' katanya?

Apa maksudnya menyebut inisial keramat dari―

"Saya L. Senang bertemu Anda, Light-kun." Usai berkata demikian, remaja berambut hitam itu melangkah tenang mendekati bibir jembatan.

sosok yang tak ditemukan fotonya dan tak diketahui namanya.

Light masih berdiri di tempatnya. Tentu ia ingat jelas kalimat yang diucapkan oleh orang yang sama namun dengan bahasa berbeda di airport London beberapa waktu lalu.

Orang ini ...

Remaja berambut hitam yang sebelumnya mengaku bernama Ryuuga, masih menyesap permen loli favoritnya dengan raut wajah tanpa ekspresinya. Ia memandang sungai di bawah dengan sepasang onyx hitamnya yang datar. "Hanya itu satu-satunya jawaban untuk semua pertanyaan."

Jeda sepuluh detik hingga iris mata cokelat Light kembali seperti semula, bahkan sedikit menyipit.

Hmp. Jadi ... begitu ya.

Mengacuhkan segala macam benteng pertahanan yang selama ini selalu dibangunnya, Light mendekat. Membuat remaja yang mengaku bernama Ryuuga menoleh.

Tanpa buang waktu, Light mengulurkan tangan—

"Light. Light Yagami."

Jeda.

"L. Lucious Lawliet."

—yang kemudian langsung disambut remaja berambut hitam tersebut.

Keduanya sama-sama menarik ujung bibir sedikit ke atas, gerakan kecil yang hanya diketahui maknanya oleh masing-masing.

Itulah perkenalan resmi pertama mereka.

.

.

.

.

.

Tanpa kata yang terucap, keesokan harinya keduanya sudah berteman akrab.

Ketika Light kemudian merasa aneh untuk memutuskan tetap memanggil dengan nama 'Ryuuga' ataukah 'L' saja, L berkata enteng, "Panggil saya Ryuzaki." Dan nama itulah yang selalu disebutkan Light ketika memanggil L.

Selanjutnya, mereka benar-benar bersahabat dekat. Kedekatan keduanya berlanjut hingga kelas 3 SMP. Bahkan terus hingga menginjak bangku SMA.

Dalam banyak hal, terdapat persamaan-persamaan yang tak terkatakan.

Nyaman. Light tidak pernah menemukan seseorang yang sedemikian nyambung dengannya. Ideologi-ideologi, pemikiran, cara kerja, pun karakter terpendam. Mereka mirip. Light seperti merasa bercermin.

Banyak yang menyebut L sebagai 'pengikut' Light. Di mana ada Light, pasti ada L. Belum tentu berlaku sebaliknya.

Namun dalam diam, Light justru mengakui yang sebaliknya. Mungkin memang selalu terlihat bahwa L mengikutinya kemana-mana. Tapi L tidak pernah mengunjunginya. Selalu Light yang datang menemuinya. Selalu Light yang datang.

Adalah fakta bahwa Light bintang di berbagai bidang. Adalah fakta pula bahwa L dengan sikap tenang-tenangnya mampu mengimbanginya dalam hal apa pun. Light sangat kesal namun sudut hatinya mengakui kenyataan tersebut.

Rumit.

Sebal, jengkel, tidak suka, kagum, salut, benci, entah.

Namun Light tetap saja membiarkan L berkeliaran di sisinya.

Toh, ia cukup percaya diri untuk tidak akan terjebak dalam permainan L, atau skenario apapun yang sedang dipikirkan L.

.

.

Di antara persamaan-persaman yang tak terkatakan, ada satu persamaan paling signifikan yang tak terbantahkan. Kegemaran keduanya pada kasus.

Pengalaman telah membuat Light belajar untuk tidak memercayai orang dewasa begitu saja. Lantas, L seumuran dengannya bukan? Tak ada salahnya mereka bekerja sama. Tentu saja tak ada yang mengetahui soal ini. Tidak ayahnya, ibunya, adik, apalagi teman-teman sekolah.

Light yang berdiri di depan dan L yang berada di balik layar. Light yang disorot cahaya dan L yang diselubungi bayang-bayang.

Begitu seterusnya.

Hingga kasus saat itu.

Hanya saja, Light tidak menyangka.

Gara-gara itu, yang mengikuti-nya bertambah satu.

.

.

.

.

.

Light tidak begitu peduli pada makhluk bernama perempuan sebelumnya. Bagi penyandang predikat pelajar teladan se-Jepang itu, manusia berjenis kelamin wanita di dunia ini hanya ada dua. Ibunya; dan Sayu, adiknya. Selebihnya, hanya kumpulan makhluk hidup biasa yang tak mempengaruhi kehidupannya.

Pun makhluk yang berdiri di depannya saat ini.

Hanya dengan sekali lihat, Light sudah bisa mengambil kesimpulan.

Gadis pendek yang—pada malam hari sedingin ini hanya mengenakan dress hitam mini bertali satu di bahunya—tengah memasang senyum (sok) manis dengan sepasang bola mata biru yang sedikit berbinar dan memancarkan emosi saat melihatnya.

Software canggih dalam sel abu-abu Light sudah akan merekam sosok itu dengan label 'unimportant', namun sebuah tulisan kecil di buku yang disodorkan kepadanya membuat Light segera berubah pikiran.

Heh?

Sepertinya akan menarik.

.

.

Amane Misa. Gadis yang langsung menyebutkan nama bahkan sebelum ditanya.

Sedikit banyak, Light bisa menerka motif perempuan ini mendatanginya. Sebagian di antaranya, perempuan itu sendiri yang mengatakannya.

Well, dia hanya perempuan biasa yang kemunculannya tak terduga. Namun dalam banyak hal, Light merasa harus waspada.

Pun dengan pertanyaan terakhir gadis itu.

Ya, jika yang dimaksud adalah gadis yang bukan keluarganya, maka sampai mati pun Light tidak akan mengatakan bahwa Misa adalah gadis pertama yang masuk ke kamarnya.

Salahkan kode berbahaya yang bisa-bisanya berada di tangan perempuan kecil sepertinya!

Sialnya, Light terpaksa mengakui, kode yang diberikan Misa memang kode asli. Berkat itu, kode dan intrik kasus penggelapan uang berhasil dibongkar. Misteri lokasi uang hasil rampokan pun berhasil terpecahkan.

Selanjutnya, Light memutuskan menemui Misa sekedar berterima kasih sembari menyelidiki darimana Misa memperoleh kode tersebut.

Sialnya lagi, itu adalah tindakan terbodoh yang dilakukan pelajar genius sepertinya.

.

.

"Berterima kasih?"

Light menyipitkan mata cokelatnya dan sedikit mengalihkan kepalanya ke samping. Tidak begitu nyaman dengan suara melengking gadis pendek yang berdiri tepat di depannya.

"Waaaah, Light-kun sengaja menemui Misa untuk berterima kasih~?"

"Sebaiknya kau―"

"Kyaaaa! Apa Misa tidak salah dengar?"

Kali ini Light sedikit, sangat sedikit, menggeretakkan giginya. Oh well, belum pernah ada dalam hidupnya, seorang perempuan kecil yang berani memotong kata-katanya. Pemuda itu segera menolehkan wajahnya kembali dan menatap tajam makhluk pirang di depannya.

Light sudah membaca sekilas profil perempuan ini di internet. Gadis pirang yang masih berstatus pelajar SMU swasta, dan juga seorang model, aktris, dan penyanyi yang lumayan populer. Tadinya Light berpikir tak akan jadi masalah jika ia menemui Misa—gadis itu memberikan nomor ponselnya secara cuma-cuma―untuk sekedar memberitahu bahwa kode yang dibawanya cukup berguna. Tak ada hubungannya sama sekali dengan hal di luar kasus. Jadi, seharusnya ini sederhana saja.

Tak disangkanya. Alih-alih hal-hal yang dikhawatirkannya semula, justru perempuan inilah yang merepotkan bagi Light.

Lihat, mereka baru bertemu beberapa menit lalu dan Light sudah ingin lekas-lekas lenyap dari sana. Sama sekali bukan hobi pemuda genius itu untuk melarikan diri, tapi ia merasa diikuti L seharian masih seratus kali lebih baik daripada mendengar satu lengkingan gadis ini.

Masih dengan tatapan tajamnya, Light bersuara, "Sepertinya kau sama sekali tidak paham apa yang kukatakan tadi."

Gadis itu hanya tersenyum kelewat lebar dengan mata berbinar. Seolah sama sekali tak mengindahkan kalimat Light barusan. Katanya kemudian dengan nada riang, "Sebaiknya Light bersiap-siap."

Alis kiri Light bergerak naik 12 derajat. Pemuda itu lalu menyipitkan mata. Bersiap-siap ap—

"Aaah! Manager Misa menelepon! Gawat, sudah waktunya take adegan selanjutnya! Sampai jumpa, Light! Bye bye! Jangan lupa siap-siap ya!"

Catat. Bahkan seorang Light Yagami belum sempat mengatakan apa pun dan gadis pendek berambut aneh itu sudah berlari meninggalkannya. Kejadian langka bagi putra sulung Yagami dalam 16 tahun hidupnya.

Light bersumpah atas nama perampok yang ditangkapnya, ia tidak akan merendahkan dirinya lagi dengan berinisiatif menemui perempuan itu lagi meskipun ini berhubungan dengan kasus. Tidak. Akan. Pernah.

Perempuan kecil tak tahu diuntung.

Gusar, pemuda itu membalikkan tubuh. Ia ingin selekasnya meninggalkan tempat itu.

Tapi, apa maksud perkataannya 'bersiap-siap'?

.

.

.

.

.

Keesokan harinya, barulah Light mengerti maksud frase 'bersiap-siap' versi Misa.

Setelah pertemuan mereka kemarin, Misa tiba-tiba saja sering menemui Light sekedar mengganggunya atau hal tak penting lainnya. Ya, gadis itu mengetahui rumahnya. Dan orang-orang rumahnya―ibu dan Sayu—tak pernah mengusir, bahkan menerima kedatangan gadis lolita itu dengan senang hati. Tak ada alasan bagi gadis itu untuk menghentikan hobi barunya ini.

Kebalikan dengan Light yang sudah bersumpah tak akan menemui perempuan itu lagi seberapa pun dirinya penasaran mengapa Misa bisa menyimpan kode tersebut. Tapi toh, justru Misa yang terus-terusan mendatanginya.

Light sampai heran. Apa perempuan itu sebegitu kurang kerjaan hingga merecokinya seperti ini? Padahal setahu Light, Misa adalah artis populer dengan segudang kesibukan. Dia juga masih berstatus pelajar SMU yang berkewajiban belajar dan mengerjakan segunung tugas. Dengan segala aktivitasnya yang bertumpuk, gadis itu masih punya waktu untuk menyambangi rumahnya?

Dalam hati, Light geleng-geleng kepala.

Ia harus benar-benar bersiap dengan bertambahnya seorang pengikutnya. Jika di sekolah dan di luar rumah, ia sudah cukup dipusingkan—sebenarnya senang―dengan keberadaan makhluk berambut dan beriris hitam di sekitarnya, kini ia harus membiasakan diri untuk tidak terkejut setiap kali tiba di rumah dan mendapati perempuan itu di sana.

Belakangan, Misa malah jadi semakin akrab dengan Sayu, adik Light yang lebih muda satu tahun dari Misa.

Jika Light mengurung diri di kamar menghindari Misa, gadis itu akan bermain dengan Sayu, atau sekedar mengobrol dan mencoba resep baru dengan Sachiko.

Tentu saja Sayu dan Sachiko sangat senang. Selanjutnya, dua wanita itu akan memarahi Light jika ketahuan mengacuhkan Misa.

Sungguh, Light tak habis pikir dengan gadis lolita yang semakin rajin mengunjungi rumahnya.

Light tahu, awal mula semua ini hanya gara-gara ia terlibat kasus dimana pelakunya adalah penjahat yang amat sangat didendam Misa. Kemudian gadis itu melakukan transaksi sebagai imbalan terima kasih telah menangkap penjahat yang sudah menghabisi keluarganya.

Setelah itu seharusnya semua selesai, nyatanya Misa masih sering menginjakkan kaki di rumahnya. Berbincang dengan Sayu dan Sachiko.

Jika Light protes, Misa akan memasang wajah memelas sembari berkata, ia hanya merindukan kehangatan keluarga yang lama tak pernah didapatinya—membuat Sachiko dan Sayu yang mendengarnya langsung berkaca-kaca dan memeluk gadis lolita itu sembari berurai air mata.

Kalau sudah begini, Light hanya bisa diam. Sial. Tapi Misa memang artis populer yatim piatu yang tak punya keluarga. Wajar jika gadis itu mencari kehangatan seorang ibu, ayah, dan saudara meskipun ia sendiri punya banyak penggemar.

Tapi, kenapa harus keluarga Light?

"Sebab keluarga Light adalah keluarga polisi. Misa merasa aman di sini."

Begitu jawaban Misa yang langsung membuat Light merasa bodoh telah bertanya.

Daripada memikirkan itu, Light lebih tertarik menyelidiki bagaimana Misa bisa memperoleh kode pemecahan kasusnya dulu. Dan untuk alasan inilah Light membiarkan Misa berkeliaran di sekitarnya.

Seperti sebelumnya, ketika ia membiarkan L berkeliaran di sekitarnya.

.

.

.

TBC ?

.

.

.


A.N:

Ngacoo dimana-mana. Not quite sure with this chapter b-but I post it! Kill me nooww! Setelah lama nggak update, sekalinya update malah publish chapter aa-appaaa i-niii. Huaaah. Terlalu banyak rush! Terlalu OOC parah! Terlalu hambar! Terlalu banyak narasi! Terlalu minim dialog! Terlalu lama sendiri (?)! Terlalu-terlalu duh sungguh terlalu Bang Rhoma Iramaa #plak. Ha-harusnya chap ini banyak Light x Misa-nya loh. Tapi kok ... hikss ...

Maaaf jika ada yang mengharapkan kasus atau konflik berat dan serius. Berhubung genre-nya drama & friendship, jadi ceritanya nggak jauh-jauh dari sana. Tadinya malah drama & romance #dor. Atau jangan-jangan fict ini juga gagal di dua genre itu? #hiks.
Kalau merasa bosan dan tidak puas, boleh caci-maki-kritik-saran-tanya-protes aku di kolom review kok :')

Kemarin aku abis bongkar-bongkar arsip FDNI trus tersadar. Ternyata disini buanyaak banget fict hebat, keren, misterius, berkonflik, dan berat. Hiks, jadi pengen bunuh diri. Semoga fict alay semacam ini masih diperkenankan meramaikan arsip FDNI. #dor

Ehm, ada yang kangen Near, Mello, Matt, BB, dan gerombolan Wammy lainnya? XD

.

.

.

Next Chapter (semoga): Ryuzaki L. Lawliet

Thanks for reading :*

.

.

.


PS: Happy february! Happy birthday Light Yagami! :*