White rose and baby's breath

.

.

.

Sinar matahari sore menyeruak masuk menembus gorden putih nyaris tembus pandang. Cahaya kemerahan membuat baby's breath di dalam pot kecil terlihat indah. Tapi tetap, ruangan ini bukan tempat yang cocok untuk bunga indah dan mungil seperti itu.

"Sayang sekali..." Yixing menatap baby's breath dari kasur nya. Bukannya enggan untuk berdiri, tapi selang infus di pergelangan kirinya menghambat segalanya.

Wajah pucat rupawan itu semakin tirus dari minggu ke minggu. Mata yang biasanya berkilau jahil, kini sedikit redup...mungkin bosan mematikan saraf sarafnya.

5 kali dia berteriak kesal ingin pergi dari penjara mahal ini. Namun tentu saja, ibu, orang yang paling dicintainya didunia, akan menangis.

Yixing benci melihat ibu menangis. Benci sekali sampai rasanya juga ingin menangis.

Tangannya mengusap rambut cokelat yang mulai lepek.

Yixing gak pernah peduli pada penampilan sebelumnya, sekarang pun begitu. Dan hal ini berhasil membuat Sehun mengerang kesal.

Sehun itu siapa?

Tanya pada Yixing dan yang kau dapat bukan jawaban sebenarnya, tapi..

"Dia setan kecil."

Begitu Yixing memanggilnya.

Cklek!

Yixing gak mau repot repot berpaling dari baby's breath. Toh, dia sudah tahu siapa yang datang. Pasti ibunya yang bakal mengoceh tentang makan siang yang tidak dia habiskan tadi.

"Duduk dulu bu sebelum mengomeliku."

"Siapa yang kau panggil ibu?"

Yixing menoleh dan terkekeh.

"Buat apa kesini?"

"Aw!" Sehun sok mengerang sakit dan duduk di samping Yixing.

"Apa eranganmu itu?"

"Nih!" Sehun meletakkan makanan kesukaan Yixing diatas meja nakas dan berbaring seenaknya disamping Yixing yang masih duduk.

"Ahh...nyamannya."

Yixing menatap pria yang tak kalah pucat disampingnya. Bukan, Sehun bukannya sakit. Dia hanya...terlahir seperti itu. Mungkin itu penyebabnya Yixing juga memanggilnya-

"Pangeran es, bisa kau menyingkir? Asal kau tahu, ini kasur untuk satu orang."

Bukan Sehun namanya kalau menurut. Dia bukan anak baik kok. Bahkan ibunya geram pada anak satu satunya ini karena sering dipanggil guru dengan alasan yang sama, berkelahi.

Mungkin berkelahi semacam hobi bagi Sehun, entahlah.

Sehun tertawa dan menarik Yixing untuk berbaring dilengannya.

"Semakin nyaman." Ucap Sehun.

"Niatku sih ingin mengabaikan, tapi...kenapa pipimu?" Tanya Yixing sambil menatap langit langit kamar yang berwarna putih. Bukannya biru seperti lebam di pipi Sehun.

Lama lama Yixing membenci warna putih...juga biru.

"Perhatikan saja wajahmu."

"Kau membuatku menyesal bertanya, kau tahu?"

"Aku tahu." Sehun tertawa dan memaksa Yixing bersandar didadanya.

Sehun paling senang datang kesini. Kalau bisa sih tiap hari. Namun apa daya, Sehun juga masih bersekolah. Dia juga punya pekerjaan rumah segunung yang malas ia kerjakan. Lagi pula, jangan lupakan perkataan ayahnya tentang menjaga cafe milik keluarga. Sehun gak mau membantah, dia gak bisa. Dia masih seorang anak, ingat? Berbakti itu sangat perlu.

Dan juga, alasan utama Sehun tidak sering kerumah sakit adalah-

"Pulanglah cepat. Aku muak melihatmu. Aku bukan orang sakit. Jadi gak butuh dijenguk."

Yixing selalu berkata demikian. Meski dengan nada main main, Sehun tahu, Yixing benci dianggap sakit. Dan mungkin Sehun terlalu jahat untuk tidak menuruti Yixing, sahabatnya ini. Tapi terlalu baik untuk menurut. Persistent adalah nama tengahnya, asal tahu saja.

Sehun menjaga dirinya tetap terjaga meski mata tajam nya kini terbuka setengah karena, demi Tuhan, dia sangat mengantuk.

Untuk sekedar mengerjakan 3 soal saja, Sehun paling anti. Lah ini? 10 soal, lengkap dengan anak anaknya. Total seluruh soal 50.

BoA sonsaengnim benar benar membenciku, pikir Sehun.

Bukan, guru itu terlalu baik untuk membenci muridnya. Mungkin ini bisa dianggap sebagai hukuman?

Yah, salahkan Sehun. Bukan, salahkan hobi maniaknya. Berkelahi.

"Ibuuuu aku mengantuk!" Erang Sehun dari dalam kamarnya.

"Jangan tidur sebelum selesai! Atau kau minta maaf pada Tao!"

Sehun berdecak.

Minta maaf pada Tao...mungkin menjadi pilihan ke 62 dari 62 pilihan yang ada. Maaf maaf saja. Sehun bukan pria seperti itu.

Tao duluan kok yang mendorongku, pikir Sehun geram.

Mungkin...memang Tao yang mendorongnya. Tapi ini diawali oleh Sehun yang 'tidak sengaja' menjatuhkan makan siangnya ke kepala Tao.

Tao bukan orang pemarah, hanya sedikit temperamental. Tidak separah Sehun, tapi cukup membuat perkelahian di satu dua tempat.

"Ck! Kalau saja anak itu gak mengadu ke guru...aku gak bakal begitu." Gumam Sehun sambil mencoret coret kertas dengan sebal.

Jabatan ketua kelas yang disandang Tao, bukan tanpa alasan. Tao itu pria bertanggung jawab. Kelas 3-B diserahkan padanya. Termasuk keamanan didalamnya.

Perkelahian Sehun dan Luhan mengganggu keamanan kelas, tentu saja. Dan Tao gak hanya melerai, bahkan dia mengadu kepada guru yang sedang bersantai di kantor saat itu. Hingga berita itu sampai ke telinga wali kelas, BoA sonsaengnim.

Mau seribu alasan yang diberi Sehun dan Luhan tentang siapa yang salah, toh mereka berdua tetap sama sama salah.

"Pr mu udah?" Tanya Luhan yang duduk disamping Sehun.

Sehun mendelik dan tersenyum sarkasme.

"Peduli apa?"

"Kau memancingku Sehun?" Bisik Luhan geram. Ingat, didepan masih berdiri tegap Yunho Sonsaengnim.

Tapi maaf, Sehun terlalu peka untuk peduli.

"Aku hanya meladeni." Sahut Sehun santai. Terlampau santai malah.

"Luhan! Kerjakan ini!"

Luhan terkesiap dari niatnya. Yah, kepala sialan Sehun sempat membuat Luhan ingin menendangnya tadi. Tapi untunglah Yunho Sonsaengnim menyadari itu.

Sehun terkekeh melihat Luhan berdiri kedepan. Hey, siapa yang bisa mengerjakan soal super gila dari guru culun didepan sana?! Bahkan Kyungsoo, murid terpintar dikelas, pun menghabiskan waktu 10 menit didepan kelas sebelum berkata,

"Maaf sonsaengnim, saya rasa materi ini melampaui batas materi sekolah menengah atas."

Yixing menatap bosan bapak tua didepannya yang selalu didampingi 3 suster cantik kemana mana. Manja, pikir Yixing.

Matanya menatap televisi yang baru dinyalakan salah satu suster yang bernama...entahlah, Yixing gak mau tahu. Toh dia takkan lama disini. Dia akan keluar, segera...inginnya begitu.

Dokter yang baru saja menyuntik entah apa, lalu berbicara pada suster yang berdiri disebelahnya dengan selembar kertas dan pena.

Yixing gak peduli apa yang ditulis dan apa yang mereka katakan, dia terlalu peka untuk peduli.

"Jangan lupa minum obatmu ya." Ucap dokter sambil tersenyum.

"Jangan begitu dok, aku lama lama bosan diperintah terus." Erang Yixing.

Dokter tertawa renyah. Dia sudah terbiasa, toh masih banyak pasien pembangkang yang lebih parah.

Pintu kamar ditutup meninggalkan Yixing sendirian. Bukannya kejam, dokter punya pasien lain kan?

"Kau harusnya diluar...serius deh, aku bahkan gak bisa mandi sesukanya. Hujan diluar sana terasa terbuang percuma." Yixing bergumam memperhatikan baby's breath yang terletak disamping jendela.

Hujan memang menyenangkan. Setidaknya ada hal hal yang Yixing sukai, hujan salah satunya.

Bunyi berisik yang dihasilkan hujan, menjadi kesenangan tersendiri. Semacam musik katanya. Diam diam Yixing tersenyum melihat kaca jendela ditabrak berjuta juta titik air diluar sana. Bau antiseptik menyengat dikamarnya seolah semakin samar dengan aroma tanah segar yang masuk melalui lubang lubang pendingin ruangan.

Gak terlalu buruk, pikir Yixing.

Cklek!

Yixing segera menutup matanya cepat, menaikkan selimutnya asal, pura pura tidur. Dia hanya malas menemui siapapun saat ini. Tubuhnya sedikit lelah dan mengantuk. Dokter tua tadi pasti menyuntikkan sedikit obat tidur dosis rendah.

"Kau gak jago berakting. Jadi bangunlah."

Yixing menghela nafas malas. Lagi lagi Sehun. Sedikit muak mungkin, tapi mau dikata apa? Toh pria jangkung yang kini duduk diujung kasurnya punya sifat keras kepala yang semakin lama semakin membuat Yixing bosan juga.

Yixing membuka matanya malas dan menendang punggung Sehun.

"Kau bau."

"Aku memang belum mandi."

Sehun terbiasa disuruh dulu kalau mandi. Meski peluh menenggelamkan dirinya, Sehun menunggu ibunya berteriak dulu. Kebiasaan buruk sepertinya.

Yixing mendudukkan dirinya.

"Kau basah."

"Ini keringat. Aku baru main bola, kau ingat jadwalku kan?"

Yixing memutar bola matanya. Jadwal bermain bola Sehun itu setiap hari. Sehun punya sifat aneh seperti, 'Apa yang kusenangi itu yang kulakukan'.

"Kau kehujanan bocah."

"Jangan perhatian begitu. Setidaknya aku gak perlu mandi lagi." Sehun terkekeh sambil mengusap kepala Yixing sayang. Kebiasaannya yang lain.

Yixing menoleh malas kearah jendela, membiarkan kepalanya diusap pelan.

"Capek juga aku melarangmu kesini." Gumam Yixing.

"Kau tahu aku bukan anak penurut."

"Iya, aku benci kau."

"Tapi aku gak."

"Diamlah."

Darah sedikit keluar dari sudut bibirnya. Pukulan Luhan tetap kuat seperti biasa. Gak tanpa alasan Luhan dijuluki iblis cantik.

Sehun mengusap darahnya dan melihatnya.

Entah apa masalahnya kali ini. Orang biasa menyebut mereka berdua musuh abadi.

"Hanya segini?" Remeh Sehun. Luhan berdiri didepannya cukup dekat untuk membuat Sehun mampu menendang perut Luhan kuat, membuat pria itu terduduk diatas lapangan olahraga sekolah.

Riuh heboh murid murid lain memekak telinga mereka berdua. Sorak sorai siapa mendukung siapa mulai menggila disekeliling mereka.

Luhan memegangi perutnya dan terkekeh sambil berdiri.

"Lemah. Juga bodoh. Tak kukira kau percaya pada omong kosong Chanyeol."

"Kau salah pendek. Aku udah tahu kalau yang itu."

Luhan maju, niatnya ingin meretakkan tulang pipi Sehun.

Sehun menangkis dan membalas.

"Kau menyenangkan juga." Kekeh Sehun.

"Sialan kau!" Geram Luhan kesal. Entah bagaimana caranya, kaki Luhan tepat mengenai dada Sehun.

Oh benar, pria pendek itu baru saja melompat.

Sehun meringis merasakan hantaman tiba tiba di dadanya.

"Kau masokis Sehun." Ejek Luhan.

"Kau pun sama." Sehun menendang lutut Luhan keras, cukup keras untuk membuat Luhan limbung dan terjerembab menghantam lantai semen, bergantian dengan Sehun yang mulai berdiri.

"Bedanya, aku lebih kuat." Lanjut Sehun terlampau santai.

Dan itulah alasan mereka tetap saling hantam meski mereka sama sama tahu, Chanyeol tak lebih dari kumpulan omong kosong.

Luhan membuat Krystal, sepupu Sehun, menangis. Begitulah apa yang disebar Chanyeol.

Krystal itu gadis yang kuat, asal tahu saja. Menangis bukan gayanya. Jangan coba coba mengejeknya atau lututnya bisa saja melayang ke pelipismu. Krystal berutang pada Amber dan Sehun yang mengajari Krystal beberapa teknik pertahanan diri.

"Benar benar psycho." Ejek Luhan.

"Benar."

Baru saja mereka ingin menyerang lagi satu sama lain, suara sopran BoA sonsaengnim menembus gendang telinga seluruh murid.

"Berhenti!" Pekik BoA sonsaengnim.

Semua membeku ngeri melihat tubuh kecil yang menelusup masuk melewati kerumunan menuju Sehun dan Luhan.

Sehun memutar bola matanya bosan sambil mengusap telinganya.

BoA sonsaengnim buru buru mengatur emosinya dan menaikkan kacamatanya, berusaha tampak berwibawa, begitu pikir Sehun.

"Kalian, ke kantor saya sekarang."

Oh tidak, BoA sonsaengnim pasti memberinya tugas lagi. Asal tahu saja, wanita itu tampak seperti PR berjalan bagi Sehun.

"Kerjakan pr mu dirumah. Aku mau tidur." Yixing mendengus bosan melihat Sehun yang kini masih terjaga di sofa kamar 312 itu.

"Tidur saja, aku kan gak mengganggu."

"Aku risih, kau tahu?"

"Kau selalu begitu tiap bersamaku. Gak terlalu kaget mendengarnya." Ucap Sehun sambil masih berkutat dengan soal. Yixing menghela nafas dan berbaring. Benar benar tipikal Sehun.

"Jadwal operasiku seminggu lagi...sedikit memaksa dokter untuk mengundurnya beberapa hari."

Ucap Yixing dengan mata yang terpaku pada langit langit kamar.

Sehun terdiam. Pena yang sedari tadi digigitnya, diletaknya asal diatas sofa.

"Bagus lah. Kau bakal sembuh dan keluar dari sini." Sehun seolah menjanjikan kehidupan pada Yixing, yang seharusnya gak boleh.

"Kau tahu aku muak dengan makanan rumah sakit. Rasanya seperti-"

"Makanan Monggu. Iya kan? Aku tahu, rasanya menjijikkan." Sehun terkekeh sambil duduk di atas kasur Yixing. Membayangkan anehnya rasa makanan anjing berbulu cokelat Jongin yang sempat iseng dicicipinya.

"Gak heran kau pernah mencobanya." Gumam Yixing.

Sehun masih terkekeh. Dan berbaring disamping Yixing meski tempat tidur itu sempit membuat kaki kirinya masih menggantung di sisi kasur. Yixing menggeser tubuhnya membuat Sehun leluasa mendekat dan memeluknya dari samping.

Tubuh Yixing kini menyamping, agar bisa melihat baby's breath lebih jelas, katanya. Meski sejujurnya, Yixing menunggu lengan Sehun melingkar di tubuhnya.

"Jangan takut begitu. Pasti gak bakal terasa apapun nanti." Ucap Sehun pelan.

"Ck! Sok tahu...pasti sakit kan?" Gumam Yixing.

Jauh jauuuuh didalam dirinya, Yixing takut. Operasi sum sum tulang belakang bukan perkara sepele. Siapapun tahu itu.

"Kalau kau merasa sakit sedikit saja, kau tahu harus mengadu pada siapa."

Yixing memukul kepala Sehun kuat.

"Akh! Yixing!"

"Apa? Mau membalas? Kau tahu aku bisa mematahkan tulang lehermu seperti korek api. Jadi jangan sok kuat begitu."

"Wah, aku takut sekali." Kekeh Sehun sembari memeluk Yixing erat sambil menenggelamkan kepalanya di tengkuk dingin Yixing.

"Dingin sekali." Bisik Sehun.

"Hangatkan kalau begitu." Balas Yixing malas malasan. Tubuhnya bergerak menyamankan diri di pelukan Sehun.

"Gak perlu meminta, aku sedang melakukannya." Sehun ikut terpejam sambil merapat ke tubuh Yixing.

Mungkin malam ini Sehun gak pulang. Toh diluar lagi lagi hujan. Dan Sehun juga yakin, ibunya sudah tahu akan mencari Sehun kemana.

Pukulan demi pukulan Sehun lontarkan ke Tao.

Lapangan belakang sekolah terlihat ramai dipenuhi murid lain yang heboh menonton...bahkan bertaruh.

Cahaya matahari yang tak terlalu terik seolah mendukung permainan di bawah sana. Seru sepertinya. Tentu saja, si jago wushu melawan petarung jalanan Oh Sehun.

"Kau tahu seharusnya kau gak bermulut besar." Hina Sehun sambil meludah darah ketanah.

Tao terkekeh dan mengelap sudut bibirnya yang berdarah.

"Kukira kau bakal tunduk setelah itu. Bukankah tugas dari BoA sonsaengnim sangat banyak?"

Sepertinya Tao belum mengenal benar Oh Sehun.

Tao berdiri dan merapikan celananya yang berdebu sambil menatap Sehun.

"Kau mampus hari ini." Ancam Tao sembari menyiapkan kuda kudanya.

"Buktikan." Balas Sehun, menaikkan lengan kemeja sekolahnya hingga ke siku.

Luhan menatap kedua orang yang saling baku hantam didepannya. Bibirnya tersenyum, entah senang atau apa. Tapi kuingatkan lagi, Luhan itu tak ada bedanya dengan Sehun. Sama sama maniak.

"Luhan, ayo ke kantin saja." Ajak Minseok, pria pendek satu lagi yang selalu nempel disisi Luhan.

Oh bukan, Luhan yang terus mengekor Minseok. Protective, katanya. Siswa lain menyebutnya si kembar gila. Mengapa disebut demikian? Kau bakal tahu nanti, ada saatnya.

"Oh ayolah, ini seru Minseok."

"Terserah." Ucap Minseok acuh membalikkan tubuh menuju kantin membiarkan Luhan terus berdiri disana.

Waktu terus berlalu seiring dengan bertambahnya pukulan demi tendangan yang dilontarkan kedua pemuda ditengah tengah kerumunan. Pria satunya menggeram marah, pria satunya terkekeh girang.

"Mukamu hancur hari ini Oh Sehun!" Tao melancarkan tendangan memutar kekepala Sehun. Dan kena, dengan sangat telak. Siapa yang bisa menghindar gerakan super cepat Tao?

Sehun tersungkur jauh beberapa meter dari tempat Tao berdiri. Pening pasti melanda kepalanya, namun yang lebih penting kini adalah, Sehun gak mau berakhir seperti ini. Gak sudi. Akhir pertarungan bukan seperti ini seharusnya.

Sehun berdiri perlahan.

"Kemari." Tantang Sehun dengan senyum sarkasme seperti biasa.

"Sial!" Tao berteriak. Dia selalu berteriak by the way. Yah, mungkin itu pula style nya.

Tao berlari kearah Sehun dengan garang.

Kesempatan bagi Sehun untuk-

Oh baru saja aku ingin mengatakannya...Sehun sudah melayangkan tinjuan kerasnya ke ulu hati Tao.

Sejenak penonton sedikit terdiam melihat Tao yang terpaku disana masih didepan Sehun, membelalak menerima hantaman telak tepat di perutnya.

"Ohok!" Tao memuntahkan sedikit darah bercampur air lambung dari mulutnya.

Bruk!

Pria jago wushu itu kemudian berlutut, masih memegangi perutnya, sebelum terjerembab ke tanah sambil meringkuk.

Sehun tersenyum dan berbalik menatap teman temannya yang sempat terdiam. Bocah itu lalu meninju udara sambil tersenyum lebar, membuat siswa siswa lain riuh menyambut kemenangan Sehun.

Yah, inilah yang disebut Sehun piala dari hasil pertarungannya.

Sehun itu bisa dibilang 'Monster' disekolahnya.

"Akh! Sakit Kris!" Sehun menepis tangan Kris dari pelipisnya yang sedikit robek. Kris, anggota PMR disekolah, berdecak kesal.

Sebenarnya dengan tampang jahat seperti itu, Kris sama sekali gak cocok menghabiskan waktu di UKS. Tapi guru berterimakasih padanya. Bukan, bukan karena kehebatannya dalam mengobati siswa yang sakit. Tapi karena kemampuannya membuat grafik siswa membolos dengan alasan sakit, berkurang drastis. Wajah seramnya berguna sekali.

"Jangan bergerak." Perintahnya. Sehun meringis sebal.

"Pedih bodoh!"

"Jangan cengeng begitu."

"Terserah."

"Jangan kelahi kalau gak mau berakhir disini." Ucap Kris sambil duduk disamping Sehun menatap pria itu menghabiskan bubble tea milik Kris yang tak habis.

"Kau bukan ibuku."

"Aku hanya mengingatkan. Oh! Yixing...bagaimana dia?"

Sehun menatap Kris.

"Masih dirumah sakit. Masih marah kalau ku jenguk." Gumam Sehun.

"Dia memang gak suka dianggap lemah." Angguk Kris mengerti. Kris dan Yixing tidak memiliki hubungan sedekat dan seerat Sehun dan Yixing. Kris hanya teman sebangku Yixing. Sedikit banyak, pasti dia mengkhawatirkan Yixing.

"Mau makan siang?" Tawar Kris.

Sehun tersenyum.

"Oke!" Sahut Sehun senang sambil mencoba merangkul bahu si tinggi Kris.

Suhu ruangan semakin turun. Bahkan pemanas ruangan di kamar Yixing seolah gak berpengaruh apapun. Tapi bukan itu masalahnya.

Yixing kini terbaring lemas tak berdaya. Mungkin dia bisa samar samar mendengar percakapan dokter dan suster di sekelilingnya. Namun tidak bisa membantah.

"Apa kita harus mempercepat jadwal operasinya dok? Kondisinya semakin parah." Ucap seorang suster khawatir.

"Jangan. Ini permintaannya. Kita masih bisa mengontrolnya hingga hari Selasa nanti."

Cklek!

"Hei selamat sore." Suara bariton terdengar setelah bunyi pintu dibuka. Yixing tertawa dalam pikirannya, 'Hilangkan "hei" girangmu. Mereka lebih tua asal kau tahu!'.

Dokter tua itu menurunkan kacamatanya dan terkekeh. Pengunjung setia Zhang Yixing datang, pikir beliau.

"Yixing...kenapa dok?" Tanya Sehun sembari melempar asal tasnya ke sofa. Langkahnya mendekati kasur Yixing dan berdiri di sisi kanan.

"Dia baik baik saja. Hanya butuh istirahat."

Sehun memutar bola matanya.

"Dok, kalau baik baik saja, seharusnya dia menjitakku saat ini bukannya tidur."

Dokter terkekeh maklum. Ada orang orang keras kepala yang sedikit kurang ajar di ciptakan di dunia entah untuk apa, namun Dokter itu maklum. Toh itu berarti, Sehun sangat khawatir.

"Kondisinya sedikit menurun...yah, saat ini biarkan dia seperti itu dulu menjelang operasinya dilaksanakan."

a/n. hello. udah lama banget gak posting ff. ini laman udah berasa krik. sehun sibuk ngebujuk ven buat posting ff ini. entahlah, dituruti saja. review nya ya readers-nim ehew.