white rose and baby's breath ch 2

.

.

.

Sehun masih berdiri disana meski Dokter dan 3 susternya pergi meninggalkan ruangan itu sejak setengah jam yang lalu. Matanya gak berpaling dari wajah yang semakin pucat di bawah sana. Bunyi bip bip yang terdengar seirama dengan detak jam dinding menambah kesan suram diruangan itu.

Sehun sendiri gak yakin, apakah dia sanggup berbaring disana seperti Yixing. Jarum suntik yang setiap hari...hampir setiap saat Yixing terima di lengannya, atau efek obat yang kadang membuatnya tersiksa...Sehun benar benar gak tahu apa dia sanggup.

Pukulan, tendangan...bukanlah tandingan dari semua penderitaan Yixing, begitu pikir Sehun.

"Cepatlah sembuh Xing." Gumam Sehun sembari mengusap surai cokelat Yixing pelan.

"Besok...aku ujian. Sialan memang. Tapi BoA sonsaengnim gak mau diajak damai sih!" Oceh Sehun entah pada siapa.

"Kyungsoo...kau tahu kan? Si alien pintar itu...dia sangat pelit. Kupukul juga gak ada gunanya. Dia benar benar si culun pelit."

"Kurasa aku harus belajar sendiri...arrght! Tapi aku malas! Kau harus sadar, supaya bisa mengajariku, oke?"

"Udah malam. Aku lapar sekali. Kurasa ibu membuat sup hari ini..."

"Oke, aku pulang ya. Besok aku kemari lagi." Pamit Sehun sambil menyambar tasnya dan keluar dari kamar menyisakan Yixing sendirian. Terbaring dalam pengaruh obat.

'Jangan kemari lagi, karena aku lelah berpura pura di depanmu...'

Berdiri angkuh di depan Luhan dan Minseok, Sehun terkekeh sambil memasukkan kedua tangan di saku celananya.

Luhan yang asik bermain bola dengan Minseok kemudian menatap bingung Sehun yang mulai mendekat.

"Hei kalian!" Sapa Sehun senang sambil melambai lambai kaya orang gila, pikir Minseok bosan.

"Jangan ganggu kami bermain Oh!" Balas Luhan.

"Jangan begitu. Kau tahu urusan kita belum selesai." Ucap Sehun sambil berhenti tepat 5 meter dari si kembar.

Tidak biasanya Sehun mengungkit ungkit masalah yang lalu. Biasanya jika Sehun tertangkap basah berkelahi oleh BoA songsaengnim, besoknya Sehun bakal lupa dan bersikap jahil seperti biasa.

"Kau mencari perkara Oh Sehun?" Tanya Minseok.

"Ups, kembaranmu marah Han...yah, bisa dibilang, aku maunya semua kelar."

"Benar benar bukan gayamu Hun." Balas Luhan sambil melempar bolanya asal.

"Ku kira kau bodoh, ternyata idiot. Datang ke sini sambil menantangku heh?" Luhan tertawa.

Sehun menghela nafas bosan.

"Oooh...ayolah, kau meremehkanku ya?"

"Entahlah. Aku sedang malas sekarang."

Sehun tertawa mencemooh.

"Susah juga ya..." Ucap Sehun sambil menggaruk garuk dagunya yang gak gatal.

"Kalau gitu...oke aku duluan."

Sehun berlari kearah Luhan dan melancarkan tinjuan nya ke hidung Luhan.

Biasanya Luhan bisa mengelak atau menangkis, tapi kali ini dia terdorong ke belakang dengan hidung berdarah. Mungkin belum siap?

Luhan mendengus kesal.

"Kau gila Oh!" Pekik Minseok geram. Minseok maju dan melayangkan pukulan kuat ke pipi Sehun.

"Lambat." Sehun menunduk dan meninju ulu hati Minseok sekuatnya membuat Luhan -Bukan Minseok- Berteriak kencang.

"Minseok!"

Luhan menatap marah Sehun dan memutar tubuhnya menendang dada Sehun.

Sehun terdorong kebelakang. Lumayan sakit, pikirnya. Tapi dia yang mulai kan?

"Kau bakal menyesal Sehun!" Ancam Luhan.

"Ohya?"

Luhan berlari maju dan menyerang Sehun lagi. Bertubi tubi. Saling membalas. Bahkan peluh dipelipis sedikit pun tidak mengganggu mereka berdua.

Emosi sudah tersulut di kedua pihak. Sudah terlanjur, pikir Sehun.

Sehun terjerembab keras diatas tanah dengan ratusan luka di seluruh tubuhnya. Lebam biru tercetak di mata, tulang pipi dan bibirnya. Darah mengalir dari hidung, sudut bibir dan pelipisnya. Keringat membanjiri dirinya yang semakin membuat Sehun tampak mengenaskan.

"Itu akibatnya pergi ke sarang musuh." Luhan mendecih dan mengelap sudut bibir Minseok yang berdarah.

"Akh! Luhan! Kubilang jangan lakukan itu!" Protes Minseok garang.

Luhan terkekeh.

Sehun menatap si kembar dan mencoba berdiri dengan susah payah.

"Kau kira...ini udah selesai?"

Minseok menatap Sehun tak percaya.

"Kau benar benar...ingin mati?" Tanyanya.

"Heh...jangan meremehkanku." Sehun maju dan meninju wajah Minseok keras. Cukup keras untuk membuat Minseok terjatuh ke tanah.

"Oh Sehun brengsek!" Pekik Luhan garang dan menendang perut, meninju wajah Sehun dan diakhiri dengan lutut Luhan yang melayang tinggi menabrak pelipis Sehun.

Ingatkan Oh Sehun lagi, kalau yang dia tantang adalah "Si Kembar Gila." Bukan tanpa alasan tentu saja. Orang berotak pasti gak niat mencari perkara dengan Luhan dan Minseok. Namun Sehun berbeda, dia adalah manusia berotak dengan tingkat keegoisan lebih dari yang lain, juga lebih tinggi dari tingkat kecerdasannya. Dia merasa ke eksistensiannya adalah untuk mengalahkan siapa saja di sekolah, termasuk si kembar gila.

Asal tahu saja, melawan Luhan seorang diri maupun Minseok seorang diri, Sehun sanggup. Lah ini?

.

.

.

.

Pip...pip...pip...

Sehun kira, dia sedang tertidur nyaman diatas kasur hangatnya. Tapi bau antiseptik, pendingin ruangan yang sangat dingin serta bunyi ribut familiar yang membuatnya terbangun, membuat Sehun sadar. Dia sedang dirumah sakit sekarang.

"Ugh..." Sehun berusaha bangkit untuk duduk. Mata elangnya menatap perban yang terpasang di tangan dan kakinya.

Tangannya terjulur ke kepala karena merasa ada sesuatu yang mengikat kuat.

"Hm...cukup parah rupanya." Gumam Sehun terkekeh.

Matanya mengerling bahagia alih alih kesal karena dihajar kemarin.

"Hihihi..."

Sehun berusaha untuk berdiri dan berjalan terseok seok keluar dari kamarnya. Tujuannya cuma satu...kamar nomor 312.

Toh dari awal hanya itu tujuannya.

Cklek!

"Haaaiii!" Sehun melambai gila saat pintu 312 baru saja dia buka.

Matanya menampakkan eyesmile dan langkahnya maju meski terseok seok sedikit.

"Pagi Yixing!" Sahut Sehun sambil tertawa.

Yixing yang tadinya menonton TV sambil menghabiskan sarapan, langsung kaget dan tersedak.

"Uhuk! Kau- Huk! Minum!" Yixing berusaha menggapai gapai gelas di atas meja nakas sembari menepuk nepuk dadanya.

Sehun terbelalak dan berlari melupakan kaki sakitnya.

"Nih! Minum minum...duh segitu tampannya aku sampai kau tersedak." Kekeh Sehun sambil meminumkan air ke mulut Yixing.

"Kau...kenapa?" Tanya Yixing setelah meredakan cekikan di kerongkongannya tadi. Mata bosannya kini terbuka lebar melihat kondisi Sehun yang cukup parah.

Sehun tertawa sambil menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal, dan duduk di tepi kasur Yixing.

"Kau berkelahi lagi Oh Sehun?" Tanya Yixing lagi.

"Hanya membela diri." Bohong Sehun.

"Kali ini siapa? Luhan?"

"Ya, dan kembarannya."

"Kau bisa larikan?" Ada nada tak suka disana.

"Kenapa harus lari?"

Tuk!

"Akh! Yixing! Kepalaku diperban nih!" Sehun menggeram kesal. Tak tahu kondisi dan situasi, Yixing selalu menjitaknya.

"Kau hari ini ujian kan bocah?"

Sehun menghela nafasnya bosan dan memutar bola matanya.

"Kukira apaan, kan bisa susulan."

"Kau...idiot." Umpat Yixing kesal sembari berbaring memunggungi Sehun.

"Heeii...jangan acuhkan aku." Jari panjang Sehun menyentuh punggung Yixing.

"Ck! Jangan ganggu. Aku mau tidur."

"Xing." Panggil Sehun lagi sambil terus menusuk nusuk punggung Yixing.

"Iya iya, apa?" Tanya Yixing bosan sembari mendudukkan dirinya.

"Kau mengantuk?"

Sejujurnya gak, Yixing gak mengantuk. Toh dia baru bangun kan?

"Kau gak lihat tadi? Aku mau tidur."

"Kau bolehnya tidur bersamaku." Ucap Sehun dengan nada main main seperti biasa.

"Tiba tiba aku gak ngantuk." Ucap Yixing berkilah.

"Hun...bisa kau...keluar sebentar?" Yixing memegang sprei kasur erat dengan peluh bercucuran di pelipisnya. Biasanya Sehun gak selama ini bersamanya, dan itu memberinya waktu untuk sekedar menahan rasa sakit disekujur tubuhnya. Tapi...sejak pagi tadi, terhitung 6 jam Sehun mendekam di kamar Yixing dengan kegiatan super seru -menurut Sehun-, Yixing gak sanggup lagi. Ini terlalu lama.

"Kenapa? Kau mau kuambilkan makanan?" Tawar Sehun.

Yixing mengangguk.

"Iya...cepatlah keluar.."

"Oke!" Senyum Sehun. Tangannya terjulur hendak menggenggam kenop pintu sampai Yixing memanggilnya,

"Hun...sekalian panggilkan...dokter ya?" Ucap Yixing.

Senyum Sehun memudar. Dia memang pemalas sampai sampai terkategorikan bodoh, tapi dia tahu...Yixing gak baik baik saja sekarang.

Matanya menatap Yixing lama dan mendekat kearah Yixing yang kini terbaring, sedikit menggigil menahan sakit.

"Demi Tuhan Oh Sehun! Cepatlah keluar!" Teriak Yixing.

"Kau...kenapa?" Sehun membatu. Untuk pertama kalinya selama beberapa bulan belakangan ini, baru kali ini Sehun melihat Yixing seperti ini.

"Kau kedinginan? Apa perlu kunaikkan suhu pemanasnya?" Tawar Sehun sedikit panik.

"Sehun! Ku...kubilang keluar- Aarrggghhh!" Yixing...dengan gerakan tiba tiba, terhentak kekasur. Tangannya memegangi kepala dengan kuat dan matanya terpejam rapat. Mulutnya terus mengeluarkan erangan sakit yang memilukan.

Dan itu menyadarkan Sehun untuk segera berlari dan memanggil dokter. Persetan dengan ocehan dokter yang mengurusnya mengenai kakinya yang terkilir. Hal itu bisa diurus nanti. Prioritas hidupnya seketika berubah. Dia menomor satukan Yixing saat ini.

.

.

.

"Yixing...kau baik baik saja?" Tanya Sehun setelah sekitar 30 menit disuruh menunggu diluar oleh suster dan dokter yang menangani Yixing.

Yixing terkekeh.

"Bisa kau lihat kan? Dan...seharusnya kau langsung keluar begitu ku minta. Dasar pembangkang."

"Aku...cuma kaget. Apa begitu sakit?"

"Perhatikan saja kakimu. Bersiap siaplah kena omel doktermu."

Sehun tertawa dan duduk di atas kasur Yixing yang kini terbaring.

"Bisa kuurus nanti."

Malam itu Sehun berkeras ingin terus bermain di kamar Yixing. Meski dokter dan suster menyuruhnya untuk membiarkan Yixing beristirahat, Sehun tetap ngotot-

"Aku gak bakal mengganggu!"

Namun, setelah Dokter Victoria yang menangani Sehun datang dan menyeret Sehun kekamarnya, barulah si tunggal Oh menurut sambil menggerutu.

"Jangan seenaknya dokter! Cuma ibu yang boleh menjewerku!"

Bisa dibilang Dokter Victoria itu sedikit nyentrik. Dia malah tertawa lalu mengubah ekspresinya menjadi bosan seketika. Dalam interval 3 detik, bayangkan saja.

"Berhenti mengomel dan tidur. Lihat perbuatanmu...ck, kakimu itu! Kau terancam tinggal disini 5 hari lebih lama tahu."

"Gak masalah..." Gumam Sehun acuh.

"Apa?"

"Apanya yang apa?" Tanya Sehun tanpa niat sembari menarik selimut hingga ke dagunya, tipikal anak ibu.

"Kau...aaahhh...saya tahu sekarang." Victoria tersenyum aneh. Dia mendekat dan menepuk nepuk kepala Sehun simpati.

"Kau mengejutkanku, setan kecil." Victoria terbahak sambil melenggang menuju pintu.

Sehun berkedip dan alisnya bertaut nanar beberapa detik.

"Aku bukan setan kecil!" Geramnya.

.

.

.

"Baby's breathnya..." Yixing menatap bunga mungil yang semakin layu itu dengan pandangan kasihan.

"Oh ayolaah Xing...ayo berduel dengan ku." Sehun terus menerus menggerakkan tubuhnya kesana kemari membuat sprei kasur Yixing sedikit berantakan. PSP ditangannya dihajar habis habisan. Mungkin membayangkan wajah Luhan atau Minseok dilayar, membantunya untuk menang.

"Mau selama apa kau disini? Aku muak melihatmu tahu."

"Wah wah! Weheeeeyyyy! Xing! Aku menaaaang!" Sehun membanting PSPnya ke kasur dan memeluk lengan Yixing lucu.

Tipikal Sehun, dan Yixing bukan hanya tahu, tapi bosan.

Tak bisa di sangkal lagi, Yixing ikut terkekeh.

"Hun, belajarlah. Jangan buang waktu dengan PSP itu terus."

"Iya nanti, kau ajari aku." Itu pernyataan telak seorang Oh Sehun.

"Kau kira aku tahu materinya? 3 bulan di rumah sakit bukan sebentar." Kekeh Yixing.

"Tetap saja, harus kau yang ajari."

"Ck! Iya iya. Terserah. Yang penting kau belajar. Kau dengar aku?"

"Iya ibu."

"Ck!"

Begitulah Sehun...

Cklek!

Sehun enggan menatap pintu kamarnya yang terbuka, sebab PSP nya masih dia genggam erat dan gak ada yang boleh mengganggu Sehun bermain.

"Hun."

Mau tak mau, Sehun berpaling juga. Karena itu bukan suara dokter Victoria ataupun ibunya.

Matanya sedikit membesar melihat siapa yang kini masuk membawa mawar putih.

"Mau apa?" Tanya Sehun sarkasme sambil lanjut bermain dan mengacuhkan kedua pria yang kini berdiri didekatnya.

"Entahlah. Orang datang ke rumah sakit berarti menjenguk kan?" Tanya Luhan tak kalah sarkasme.

"Jangan buang buang waktumu."

Luhan tersenyum sembari meletakkan mawar putih di pot bunga yang terletak di dekat jendela. Luhan mengeluarkan krisan yang sudah layu dan menggantinya dengan mawar.

"Gak perlu repot repot membawa bunga segala." Lanjut Sehun.

"Kurasa mulutmu perlu dibenahi." Kata Minseok.

"Ya ya terserah."

"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Luhan.

"Apa perlu kau tanyakan itu? Kurasa perban perban ini menjawab segalanya."

"Sehun...aku serius."

"Aku juga."

"Ck! Han, kubilang juga apa, ide buruk pergi kesini tahu." Minseok menghela nafas bosan.

Sehun mendelik.

"Itu saudara mu tahu." Ucap Sehun.

"Hun...aku tahu kau bukan pencari masalah brengsek seperti waktu itu...yah brengsek nya sih iya, tapi kau biasanya hanya meladeni lawanmu, bukan malah menyalakan api duluan." Luhan duduk ditepi kasur Sehun sembari merebut PSP nya.

Sehun membelalak marah.

"Hei!"

"Dengarkan aku."

Sehun menatap Luhan. Sehun pikir kenapa Luhan perhatian begini dengannya? Apa pria pendek didepannya ini ada maunya? Apa dia minta di tonjok lagi? Sehun gak masalah selama itu satu lawan satu, meski dalam kondisi seperti ini.

"Kau sengaja ya?" Tanya Luhan.

"Kembalikan PSP ku atau ku hajar lagi." Ucap Sehun sambil menggapai gapai PSP yang dijauhkan Luhan.

"Ck! Kau tetap menyebalkan meski dalam kondisi seperti ini ya."

"Supaya bisa dirawat disini...bersama Zhang Yixing. Apa aku salah?" Tanya Minseok tiba tiba. Kadang Sehun heran. Si kembar penipu itu, dengan tampang sepolos bocah 3 tahun, menyebalkan juga ya. Pikir Sehun.

Sehun mendengus dan melipat kedua tangan di dadanya.

"Gak diragukan lagi. Kau menyukainya." Sembur Luhan gak pakai otak.

"Dia sahabatku idiot! Ck! Aku masih normal!" Geram Sehun. Oh demi Tuhan, kalau saja kakinya tidak bermasalah, mungkin iblis pendek didepannya ini sudah dia tendang keluar jendela.

"Jangan marah begitu. Aku merasa simpati padamu."

"Gak perlu."

"Sayangnya udah terlanjur, iyakan Minseok?"

Minseok menoleh dari kegiatan menyiram mawarnya.

"Mungkin." Jawabnya acuh.

"Yah intinya...aku gak menyangka dibalik tabiat setanmu ternyata kau baik juga."

"Ya ya terserah apa ocehanmu itu. Sekarang kemarikan PSP ku dan keluar."

"Maaf apa?" Tanya Luhan sok bodoh.

"Luhan!"

"Iya?" Balasnya dengan nada sehalus mungkin. Sehun menggeram. Dia ingin sekali mencongkel pita suara Luhan yang sok lembut itu dan membakarnya. Demi Tuhan, Luhan benar benar mengesalkan.

"Ck! Apa maumu?"

"Hm...aku gak mendengar kata 'Tolong' disana." Kekeh Luhan.

"Bermimpilah."

"Terserah sih." Luhan beranjak dari kasur dan memegang PSP Sehun.

"Ayo Minseok, kita pulang." Panggil Luhan.

Selangkah...dua langkah...tiga langkah-

"Tolong...kemarikan PSP ku." Ucap Sehun pelan sembari menatap jendela kamarnya.

Luhan terkekeh dan berjalan kearah Sehun sambil meletakkan benda itu di pangkuan Sehun.

"Anak baik." Tawa Luhan sembari mengacak ngacak rambut Sehun lucu.

"Ish! Jangan pegang pegang!"

"Cepat sembuh bocah, aku kehilangan rival disekolah." Ucap Luhan.

"Che! Kau terlalu lemah untuk disebut rivalku." Balas Sehun.

"Bersiap siaplah besok. Aku bakal mengajarimu untuk ujian susulan." Sahut Luhan sambil menutup pintu kamar meninggalkan Sehun sendirian.

...

"Apa?!"

.

.

.

"Mukamu Hun."

"Jangan dilihat kalau gak suka." Sehun memajukan bibirnya bersenti senti dan melipat kedua tangan di dadanya.

Yixing terkekeh dan melempar sebutir kacang merah dari piringnya.

"Kau membuat aura kamarku suram."

"Ish!"

"Ada apa?" Tanya Yixing berusaha duduk.

Sehun mendekat dan duduk disebelah Yixing sembari bersandar di bahu Yixing.

"Luhan, iblis pendek menyebalkan!"

"Kenapa lagi?"

"Dia...besok datang. Mengajariku katanya. Che! Pasti ada maunya." Sehun semakin mendekat dan memeluk lengan Yixing. Tipikal bocah manja.

"Bagus kan? Yah...kurasa dia ingin berbaikan."

"Ha! Luhan berbaikan dengan ku? Dunia sudah terbalik." Gumam Sehun sarkasme.

Tuk!

"Akh! Yixing! Kau mau aku membodoh?!" Gerutu Sehun sembari menggosok gosok kepalanya.

"Mau menyadarkanmu idiot. Jangan berulah. Terima saja apa yang diajarkannya- Hei dengarkan aku!"

Sehun mendongak dari kegiatan memain mainkan jemari Yixing.

"Iya iya...berhenti mengoceh. Kau membuat telingaku sakit."

"Ck! Aku mau tidur kalau gitu." Kadang Yixing bisa merajuk juga.

"Ayo tiduuurr." Kekeh Sehun sambil merapatkan diri ke tubuh Yixing.

"Minggir!"

"Gak mau."

"Kau tuli?"

"Tidur sajalah."

"Aku udah bilang aku membencimu kan?"

"Ya. Seratus kali."

"Sekarang aku makin membencimu."

"Seratus satu."

"Gak mau tahu besok kau harus belajar dengan Luhan."

"Bermimpilah."

"Nanti aku tanya pada Luhan, kalau membangkang sekali, aku gak mau bermain denganmu lagi."

"Sekarang aku membencimu."

"Bagus."

Diakhiri dengan balasan Yixing, mereka berdua memutuskan untuk tidur bersama diatas kasur sempit Yixing. Saking damainya tidur mereka, Dokter Victoria yang awalnya ingin menyeret Sehun kembali, akhirnya mengurungkan niatnya dan menutup pintu perlahan.

Bahkan baby's breath di dekat jendela ikut menambah suasana damai kedua pria yang terlelap disana. Seolah tidak mau mengganggu, jam dinding juga ikut memelankan bunyi detakannya.

Seperti itulah dunia seolah olah bagi mereka.

"Soal nomor 5 kau salah...uhm...ini benar...salah lagi..." Luhan terus mengomel-pikir Sehun- yang nyatanya adalah sedang memeriksa latihan Sehun didalam kamar 325.

Sehun memangku pipi kanannya dengan telapak kanan. Matanya melirik bosan Minseok yang terus terusan menggunting daun mawar yang mengering dan menyiramnya.

Sehun menghela nafas bosan. Kalau gak karena ancaman Yixing, Sehun gak sudi diajari iblis pendek yang sedari tadi memukul kepalanya karena Sehun itu bebal.

"Hei hei! Perhatikan!"

Sehun menoleh.

"Lihat ini...kau salah 7 dari 10 soal. Otakmu bebal hah? Ini soal mudah."

"Aku lupa rumusnya, oke? Sekarang berhenti berteriak dan ayo makan."

"Aku gak mengizinkanmu makan sebelum setidaknya benar setengah dari soal."

Tidak ada yang memerintah Oh Sehun asal tahu saja, selain ibunya tercinta tentunya.

"Ish! Sini! Ini perkara gampang. Aku bisa menyelesaikannya dalam waktu 10 menit." Angkuh Sehun sembari menyambar buku latihannya.

Luhan tersenyum kearah Sehun yang terus menggerutu dan kemudian berdiri menghampiri saudara kembarnya, Minseok.

"Hei."

Minseok menoleh.

"Apa?"

Luhan mendongak menatap helaian daun kering yang menempel di atas kepala Minseok dan mengambilnya.

"Jangan serius begitu pada bunga." Kata Luhan sambil terkekeh.

"Aku suka bunga."

"Aku suka kau."

"Itu menjijikkan. Bisa kita pulang?" Tanya Minseok sembari terus menyemprot bunga mawar putih dengan air.

"Sebentar lagi, oke?"

Minseok diam tanda setuju. Sebenarnya dan sejujurnya Minseok hanya tertarik pada bunga mawar putih ini. Selebihnya tidak. Mau Sehun jungkir balik, tetap, Minseok hanya tertarik untuk ikut karena ada tumbuhan cantik ini.

Yah, wajar saja kan? Sebab Luhan gak mau repot repot membelikan bunga untuk Minseok. Takut perhatian saudara kembarnya itu hanya tertuju pada bunga. Tidak padanya. Kadang Luhan bisa bersikap manja juga.

Duk duk duk!

Suara segerombolan orang dewasa berlari di selingi kata kata perintah membuat ketiga pria didalam kamar 325 menoleh kearah pintu. Di jendela kaca kecil pintu terlihat dokter dan suster tergopoh gopoh berlari.

Sehun berdiri dan sedikit terseok menuju pintu. Luhan dan Minseok menghampirinya dan memegangi Sehun.

"Ada apa?" Tanya Luhan.

"Aku mau ke kamar Yixing."

"Maaf, kalian tidak boleh masuk." Larang suster yang kini berdiri didepan pintu kamar 312. Benar dugaan Sehun. Ternyata terjadi apa apa pada Yixing.

Sehun menatap suster marah sembari berusaha melepas pegangan Luhan dan Minseok ditubuhnya.

"Aku cuma mau melihat! Biarkan aku melihat Yixing!"

"Sehun! Tenanglah!" Sahut Luhan.

"Aku gak bisa tenang Han! Lepas ku bilang!"

"Gak! Kau bisa diam gak?!"

"Che! Lepas!"

"Oh Sehun!"

Sehun menoleh dan melihat Dokter Victoria berjalan kearahnya. Dokter itu lalu memegang kedua bahu Sehun dan menyuruhnya duduk.

Sehun menurut sambil tetap mendengus.

"Biarkan Dokter Lee bekerja didalam sana, oke? Kau teruslah berdoa." Kata Victoria lembut. Sehun menatap lantai dan menggigit bibirnya kesal.

Melihat itu Victoria buru buru berlutut didepan Sehun yang sedang duduk dan memegang pipi bocah itu. Sehun menatap Victoria dan menurut ketika Dokter itu menekan tengkuknya untuk bersandar dipundaknya. Sedang tangan Victoria terus mengelus surai Sehun pelan.

"Menangislah, gak perlu malu begitu." Ucap Victoria.

Luhan dan Minseok ikut ikutan mengelus punggung Sehun yang kini bergerak seirama dengan isakannya.

Berdoa...dia terus menerus berdoa untuk Yixing. Mau sebandel, senakal apapun Sehun, dia gak pernah lupa berdoa setiap malam untuk Yixing.

Mau bagaimana lagi caranya supaya Tuhan mendengar doa Sehun? Tapi Sehun gak pernah lelah berdoa. Karena cuma itu yang bisa dilakukannya disamping menemani Yixing setiap hari.

"Dokter...maaf bajumu basah." Ucap Sehun sambil masih terisak.

Victoria terkekeh.

"Jangan dipikirkan."

Setelah agak lama, Dokter Lee keluar bersama suster susternya. Harus bawa berita bahagia, tuntut Sehun dalam hati.

Sehun berdiri dibantu Luhan dan Minseok.

"Yixing bagaimana?" Tanya Sehun tanpa nada sopan sedikit pun.

"Masuklah. Kurasa dia menunggumu." Senyum dokter tua itu.

Cklek!

Sehun terseok sedikit dan meminta Luhan serta Minseok menunggu diluar sebentar.

"Xing?" Panggil Sehun.

Yixing menoleh lemah dan mengukir senyum di bibir pucatnya.

"Hun."

Sehun mendekat dan duduk diatas kasur Yixing. Matanya menatap wajah Yixing yang ditutupi alat yang Sehun gak tahu namanya. Semacam masker ada selang nya, begitu Sehun menamakannya.

Tangannya terjulur ke surai Yixing dan mengelusnya.

"Awas tanganmu Hun..."

"Eng? Kenapa? Kau malu yaa?" Goda Sehun berusaha menyembunyikan bekas isak tangisnya.

"Hun..." Tuntut Yixing. Sehun kemudian menurut, menjauhkan tangannya dengan bingung.

Tapi perasaan bingungnya menguap setelah melihat tangannya sendiri. Ada banyak sekali helaian cokelat disana. Itu bukan rambut Yixing kan?

Sehun menatap ngeri tangannya dan wajah Yixing bergantian.

"Xing? Kau..."

Yixing mengangguk dan terkekeh pelan.

"Bentar lagi aku botak. Jangan ketawain ya."

"Xing..." Sehun menggigit bibirnya kuat. Mungkin sudah berdarah.

"Sehun...kemari peluk aku." Pinta Yixing dengan suara lemah hampir berbisik.

Sehun terisak dan menjatuhkan dirinya memeluk Yixing yang terbaring. Suara tangisnya terdengar jelas ditelinga Yixing dan pria itu hanya tersenyum mendengarnya.

"Yixing...kau harus sembuh...aku gak mau tahu..."

"Iya."

"Aku udah belajar bersama Luhan...kau berjanji mau bermain denganku kan?"

"Aku gak bakal lupa."

"Kau harus tepati...karena kalau gak, aku marah sekali."

"Tentu saja...tetaplah seperti ini sampai aku tertidur." Bisik Yixing yang dibalas anggukan serta isakan Sehun.

Cahaya matahari sore yang kemerahan menembus jendela dan menyinari baby's breath. Baby's breath seolah bergoyang lembut terkena pendingin ruangan menciptakan kedamaian tersendiri.

Luhan dan Minseok yang mengintip dari jendela pintu tersenyum di wajah masing masing menatap dan merasakan kedamaian yang tercipta didalam sana.

"Ayo Minseok. Besok kita kemari lagi." Ucap Luhan sembari merangkul Minseok pulang.

.

.

.

.

"Sip! Nih!" Sehun menyerahkan buku latihannya pada Luhan.

Luhan terkekeh. 3 hari terakhir ini Sehun semangat mengerjakan latihan yang diberi Luhan. Bahkan Minseok ikut ikutan mengajari Sehun.

"Jangan senang dulu, mungkin salah semua." Ucap Minseok datar.

Sehun terbahak dan merangkul Minseok yang duduk disampingnya.

"Sebegitu yakinnya?"

"Udah, kau boleh main dulu sana." Luhan menutup buku latihan Sehun yang sudah diperiksanya dan melirik Minseok.

Sehun berdiri bersemangat meski dengan susah payah.

"Oke!" Sahutnya senang sembari berjalan pelan kearah pintu.

Cklek!

Pintu tertutup menyisakan Luhan dan Minseok di dalam kamar 325.

"Apa kau lihat lihat?" Tanya Minseok.

"Hehe...kau adorable, susah diabaikan."

"Bicara gak penting lagi, aku keluar nih."

"Eh, tunggu. Lihat deh." Luhan menyerahkan buku latihan Sehun pada Minseok.

Tertera angka 100 disana.

"Whoa...si tunggal Oh belajar banyak sepertinya." Ucap Minseok terkekeh.

"Begitulah. Mau kekantin?" Ajak Luhan.

"Maunya disini...bersamamu..." Ucap Minseok memelankan nadanya.

Luhan terbahak.

"Apa?"

"Kau dengar aku..."

"Gak denger lho. Serius!"

"Luhan!" Minseok membelalakkan matanya marah.

Luhan semakin tertawa dan merangkulkan lengannya pada bahu Minseok dan mengacak surai saudara kembar selisih 10 menit nya ini. Tentu saja, Minseok lebih tua. Tapi Luhan merasa harus menjaga Minseok. Sikap protective berlebihan dari Luhan lahir begitu saja. Dan si kakak, Minseok, senang senang saja di jaga Luhan. Meski tangannya geram ingin menyumpal mulut cheesy Luhan. Tetap saja, intinya Minseok senang.

Cklek!

Sehun membuka pintu kamar 312 yang sedikit temaram. Baby's breath yang berdiri diam disana bersinar diterpa rembulan yang menembus jendela kamar, makin cantik saja, pikir Sehun. Langkah Sehun berderap seirama dengan bunyi bip bip bip yang mengisi kekosongan kamar.

"Yixing?" Panggil Sehun.

Sehun mendekati kasur mendapati Yixing kini terlelap nyaman. Sehun tersenyum dan merapikan rambut Yixing yang mulai jarang dengan sangat hati hati.

Mungkin bagusnya dia menyisihkan uang untuk membeli kupluk.

"Sehun?" Gumam Yixing sambil menguap.

"Heiiii...tebak apa..."

"Apa?" Yixing mengucek matanya dan tersenyum.

"Kau jelek." Sehun terbahak diikuti pukulan pelan dari Yixing di lengannya.

"Ada apa kemari?" Tanya Yixing sambil mendudukkan diri. Sehun duduk disebelahnya dan bersandar di bahu Yixing.

"Aku bosan. Ayo main."

"Main apa? Main ayo jitak Sehun?"

"Ha ha kau sangat seru. Ayooolaaaah...kita main ini? Bagaimana?" Sehun tersenyum sumringah memamerkan PSP yang baru dia keluarkan dari kantung seragam pasien super jelek yang dikenakannya.

"Asal kau bersiap siap untuk kalah." Remeh Yixing sembari menyambar benda portable itu.

Dalam keremangan, entah sengaja atau terlupa, mereka berdua berduel ganas dan bertaruh tentu saja. Taruhannya gak lebih dari segelas bubble tea.

Baby's breath diseberang sana seolah ikut tertawa mengiringi tawa kedua pria yang benar benar tulus dan menyenangkan. Dunia seolah mengecil hingga tinggal kamar 312 ini saja. Sebab, mereka kini terlarut dalam kebahagian bersama, bukan kebahagiaan masing masing.

Benar benar membuat iri.

"Hun, 2 hari lagi..." Yixing bersandar sambil masih menatap Sehun menekan nekan tombol dengan heboh.

"2 hari lagi apa? Aish! Kuat juga dia..."

"Jadwalku Hun."

Sehun terdiam dan meletakkan PSPnya di pangkuannya.

Menatap wajah Yixing, Sehun mendekat dan merangkul Yixing memaksa pria itu bersandar di bahunya.

"Kau takut?" Tanya Sehun.

Yixing menarik nafas dan menghelanya pelan sembari memain mainkan jemari Sehun.

"Lebih dari itu."

"Kenapa?"

"Karena...hanya 30 persen...kata Dokter Lee."

Sehun memegang tangan Yixing yang memainkan jemarinya.

"Dokter tua itu bukan Tuhan...tahu apa dia?"

"Benar, kau benar."

"Masih takut?"

"Masih...bagaimana ini Hun?"

Sehun merendahkan kepalanya dan mengecup puncak kepala sahabatnya sayang. Apalagi yang bisa ia lakukan memangnya?

"Kau mau aku berbuat apa?" Tanya Sehun.

"Belajar giat-"

"Oh ayolaah...aku ini jenius. Yang lain."

Yixing terkekeh pelan dan memejamkan matanya pelan. Mungkin mengantuk?

"Belikan aku bubble tea."

tbc.

a.n. hai, ini ch 2 nya semoga suka. makasih atas semua usulannya. iya, ven jg nyadar ini alurnya kecepetan. ribet bgt soalnya ngetik di hp kkkk. read & review~

lagi-lagi sehun mau karakternya dibuat stoic disini, kaya sasuke katanya. Tapi apa daya, sikapnya yang kebego2an tapi manis meninggalkan kesan tersendiri bagi ven.