Hai nama gue mella, cukup panggil mella-chan #plak. Ini ff pertama gue yang gue harap bisa gue publish hahaha,pairing yang gue ambil ini dramione .
Hemm ini ceritanya tahun ketujuh sebelum perang harpot dkk di hogwarts,dumbledore belum mati dan dramione jadi kepala murid.
Kayaknya gue udah terlalu banyak ngomong, so lets go to the story.
Disclaimer : harry potter punya tante JK Rowling ,saya cuma pinjem karakter nya
Warning : cerita gaje,EYD ancur ,dont like dont read,summary gak mutu, kata-kata kasar, disini masih rate T XD
Summary : hermione dan draco menjadi ketua murid, bagaimana kehidupan mereka,apakah mereka bisa saling menghargai kehadiran masing-masing?
Sadness of love
Udara semakin dingin menyapu kulit membuat Draco merapatkan mantelnya. Matahari mulai malu-malu meninggalkan peraduannya, tapi tidak bagi pasangan ajaib kita, mereka sama sekali tidak beranjak dari posisinya, sepertinya mereka nyaman dengan posisinya. Tapi hal itu tidak berlangsung lama, Draco mulai membuka matanya perlahan.
"cantik" kata pertama yang diucapkan Draco melihat sosok yang ada diatas perutnya.
'apakah dia seorang peri cantik?' Draco terus memperhatikkan sosok itu, perlahan Draco mengangkat tanggannya ke arah wajah sosok itu, mengusap kepalanya, menyingkirkan anak rambut di wajahnya, menyusuri garis wajahnya.
Draco terus melakukannya dengan perlahan seakan takut membangunkannya.
Wajahnya, hidungnya, kelopak matanya, bibirnya begitu familiar bagi Draco.
Draco mengelus bibir merah gadis itu dengan ibu jarinya, 'apakah aku pernah menyentuh bibir itu? rasanya begitu familiar'
Draco masih setia memandangi sosok itu, hingga ia tersadar rambut coklat itu, bibir itu, wangi itu milik seseorang yang sangat ia kenal. "Granger" Draco menggumam kecil, tangannya langsung mengepal dan menjauh dari kepala Hermione.
'shit apa yang baru saja aku lakukan? aku baru saja terpesona oleh mudblood, ini gila, ini tak boleh terjadi, secantik apapun dia , dia tetap mudblood kotor yang harus dimusnahkan' umpat Draco.
"hei berang-berang bangun, kau pikir kau tidak berat"
Hermione mengulatkan badannya mendengar bentakan Draco. "sudah sore ya?" ucap Hermione lemas, sepertinya nyawanya belum berkumpul sepenuhnya, "kau pikir ini pagi? tentu saja sore bodoh"
Hermione mendengus kesal mendengar jawaban Draco, dia kan hanya bertanya, tidak perlu sesinis itu, tiba tiba Hermione teringat sesuatu "unicorn, bagaimana dengan unicorn nya? oh merlin aku ketiduran!" seketika Hermione panik, mereka tidak mendapatkan unicorn, lalu bagaimana dengan ujian mereka besok.
"tidak ada tanda-tanda unicorn" jawab Draco kalem seakan ini bukanlah hal penting.
"ini semua salah mu Malfoy, gara gara kau kita jadi kehilangan unicorn !"
"itu kesalahanmu, siapa suruh kau ketiduran !"
"aku tidak akan ketiduran kalau kau tidak tertidur di pangkuanku ferret"
"..."
Hening, mereka saling terdiam setelah Hermione keceplosan mengatakan hal itu, mereka memalingkan wajah mereka yang memerah malu tentang kejadian tadi, jika penduduk Hogwarts tahu sang pangeran slytherin tidur dipangkuan putri gryfindor sudah dipastikan akan menjadi hot news di Hogwarts.
"Ini sudah mulai malam, aku mau kembali saja ke Hogwarts, jika kau ingin mencari unicorn, cari saja sendiri" Draco bangkit dari duduknya dan meninggalkan Hermione yang masih diam tidak bergeming dari tempatnya.
Hermione menatap punggung Draco yang semakin menjauh, Hermione berusaha berdiri tapi tidak bisa, kakinya kebas mungkin karena terlalu lama dijadikan bantal oleh Draco.
"Oh shit aku tidak bisa bangun, kakiku kebas" Hermione berusaha untuk berdiri tapi tetap tidak bisa, langit sudah bertambah gelap, Hermione terduduk kembali dibawah pohon, sekarang tinggallah dia sendiri di hutan gelap ini, Draco sudah pergi entah dimana, dia sama sekali tidak menunggu Hermione, bahkan menoleh kebelakang saja tidak. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Hermione berharap Draco ada bersamanya saat ini, bukan apa-apa hanya saja sendirian di tengah hutan pada malam hari dengan kaki kebas dan mungkin saja banyak makhluk hutan yang akan menjadikannya mangsa, sangat menyedihkan bukan? Hermione hanya punya tongkat sebagai pelindungnya, Hermione merutuki betapa sial dirinya hari ini.
"Ferret sialan gara gara dia kaki ku kebas, aku kehilangan unicorn, dasar tidak punya hati meninggalkan ku sendiri, hiks hiks hiks, aku membencinya , aku membenci mu ferret" Hermione berteriak kencang saat merutuki Draco, dia tidak perduli makhluk yang mungkin akan terganggu dengan teriakannya.
Hermione menenggelamkan wajahnya di kedua tangannya mencoba untuk meredam tangisnya yang pecah. Hermione benar-benar membutuhkan menangis sekarang untuk menenangkan hatinya.
"Sudah selesai menangisnya?"
tangis Hermione berhenti mendengar suara dingin itu, dia mengangkat kepalanya untuk melihat orang itu. "Draco?" gumam Hermione, dia kembali? bukankah tadi dia tidak perduli dengannya? lalu kenapa dia kembali?.
Draco berjalan mendekat kearah Hermione, dia men
yenderkan tubuhnya di pohon dan melipat kedua tangannya di dada.
"Bukan, aku si bodoh berambut merah yang meminum ramuan pollyjuss dari rambut Draco"
"cih terserah kau, untuk apa kau kesini?"
"seharusnya kau berterima kasih aku kembali kepadamu, karena aku masih punya rasa kasihan terhadap mudblood sepertimu"
Degg...
kata itu lagi, kata-kata yang selalu membuat hati Hermione sakit, dia tidak akan pernah terima dipanggil seperti itu. Hermione menyentuh dadanya, terasa sesak disana, tanpa terasa bulir-bulir air mata turun kembali dari mata indah Hermione.
"cih dasar cengeng"
"..."
"ayo bangun, kita harus segera kembali ke Hogwarts"
tiba-tiba Draco berjongkok di hadapan Hermione dan tentu saja itu membuat Hermione bingung, sadar Hermione tidak meresponnya, Draco merasa kesal.
"Jangan diam saja seperti orang bodoh, kau mau pulang ke Hogwarts tidak? cepat naik ke punggungku"
'naik ke punggungnya? itu berarti aku akan digendongnya, hell no' batin Hermione.
"Aku tidak mau"
"cih terserah kau kalau begitu, aku tidak akan membantu lagi"
Draco hendak berdiri meninggalkan Hermione sebelum suara Hermione menghentikan Draco.
"tu.. tunggu Malfoy" panggil Hermione malu-malu, untuk kali ini saja dia menjatuhkan gengsinya di hadapan Draco.
"Apa?" jawab Draco sinis , 'cepat sekali dia berubah pikirannya' batin Draco.
"Hemmm aa...ku a..a..kuu"
"sudah cepat naik kepunggung ku, lalu kita berapparate hingga ke depan gerbang Hogwarts"
Perintah Draco yang terlihat tidak sabar dengan Hermione. Hermione pun mengikuti perintah Draco, Hermione langsung mengeratkan pelukannya di bahu Draco saat Draco langsung berapparate tanpa memberitahu dirinya.
"Dasar ferret bodoh , kenapa tidak bilang mau berapparate, aku kan belum siap" Hermione mengoceh ketika mereka sampai di depan gerbang
"berisik, tutup mulutmu nanti kita ketahuan penjaga" ujar Draco sinis, bagaimana pun dia tidak mau kena hukuman dari Dumbledore karena keluar dari Hogwarts apalagi ini sudah malam. Dan salahkan juga Dumbledore yang melarang apparate di Hogwarts sehingga dirinya harus bersusah payah menggendong Hermione. Ya kalian bayangkan saja Draco harus menggendong Hermione sampai ke kamar mereka dengan jarak yang jauh, belum lagi harus mendengar ocehan Hermione sepanjang jalan cukup membuat Draco geram. Tapi Draco mencoba bersabar, bagaimanapun kaki Hermione kebas karena dirinya, anggap saja ini pertanggung jawaban dari Draco.
"Hei Draco"
"apa lagi? tidak bisakah kau diam"
"tadi kau kenapa kembali lagi padaku?"
"aku hanya tidak mau terkena omelan Mrs. Mcgonnagal karena meninggalkan murid bergigi besarnya sendirian di hutan terlarang"
Draco menjawab sekenanya, tidak mungkin dia mengatakan 'ini bentuk pertanggung jawabanku padamu' cih bukan tipikal Malfoy sekali. Hermione memukul bahu Draco setelah mendengar perkataan Draco hingga tubuh Draco oleng.
"Hei diam, nanti kita jatuh! kau pikir kau tidak berat? dasar berang-berang"
"berhenti mengatai ku ferret albino"
Hermione memukul bahu Draco lagi , membuat Draco nyaris terjatuh kali ini. Hermione menutup matanya dan semakin mengeratkan pelukannya pada Draco, dia mengira akan jatuh tapi ternyata bukannya mendengar suara jatuh, Hermione malah mendengar tawa Draco. "Hahaha kau kenapa Granger? takut jatuh eh? seharusnya kau lihat wajahmu tadi, kau ketakutan sampai memelukku erat sekali"
Hermione baru tersadar dia masih memeluk Draco, Hermione segera mengendurkan pelukannya di bahu Draco. "Diam kau ferret" Hermione menyembunyikan wajahnya yang memanas menahan malu di bahu Draco, sehingga dia bisa mencium wangi susu bercampur mint khas Draco. 'Ternyata si ferret wangi juga' pikir Hermione, wangi Draco begitu menenangkan bagi Hermione , lama kelamaan kesadarannya mulai turun.
"punggung mu lebar juga ya? wangi mu membuatku mengantuk"
Draco mengangkat alisnya heran mendengar pernyataan Hermione. "Jangan bilang kau mulai menyukai ku?"
"..."
Kesal diacuhkan oleh Hermione, Draco hendak megeluarkan ejekan untuk Hermione. Draco tidak suka diacuhkan apalagi oleh mudblood seperti Granger, tapi saat Draco hendak mengeluarkan ejekannya dia menelannya kembali ke kerongkongngannya saat melihat Hermione tertidur pulas di bahunya ya walaupun sedikit mengigau tentang unicorn.
"Jadi daritadi dia mengigau? dasar cewek aneh menyusahkan saja" entah sadar atau tidak ini pertama kalinya Draco tersenyum karena ulah Hermione, bukan senyum sinis ataupun seringaian yang biasa ia tunjukan, tapi segaris senyum tulus yang sangat tipis menghiasi wajahnya.
Sinar matahari pagi mulai masuk ke kamar Hermione, membuat Hermione terbangun dari tidurnya.
"Jam berapa sekarang?" Hermione mengulatkan badannya sambil melirik jam wekernya. "Oh shitt aku telat" Hermione melompat dari kasurnya menuju kamar mandi dan segera turun ke aula.
Sesampainya di aula Hermione langsung berlari kearah teman-temannya.
"hai guys" sapa Hermione singkat pada teman-temannya, "oh hai mione, kau kemana saja kemarin kami mencarimu"
Hermione menghentikan acara sarapannya ketika mendengar Harry bertanya padanya. Hermione menelan ludahnya , apa yang harus dia katakan , tidak mungkinkan untuk menceritakan kegiatannya kemarin bersama Draco.
"Seharian kemarin aku berada di perpustakaan"
"benarkah? kemarin aku dan Harry mencarimu kesana tapi kau tidak ada"
"aku berada disana, mungkin saja kalian tidak melihatku"
"ya mungkin saja Mione benar Ron"
Hermione menghela nafas lega, akhirnya Harry dan Ron percaya juga padanya. Hermione menyapukan matanya ke barisan Slytherin tapi dia tak juga melihat sosok rambut platina itu, pasalnya dari pagi Hermione tak melihat batang hidung Draco. 'Cih untuk apa aku mencarinya, aku tidak perduli dengannya' Hermione mulai membatin di dalam hati. "Ah aku ada pelajaran , sampai bertemu nanti di kelas , good luck untuk latihan quidditch kalian guys" Hermione langsung beranjak dari bangkunya sebelum kedua sahabatnya itu bertanya tentang kegiatannya kemarin.
Sepanjang pelajaran Hermione tidak bisa fokus terhadap materi yang diberikan guru bertubuh gempal itu , pikiran Hermione dipenuhi oleh Draco dan ujian ramuan mereka nanti, secara kemarin mereka gagal mendapatkan bubuk unicorn dan pagi ini dia sama sekali tidak melihat Draco. Well itu bukan berarti Hermione merindukan Draco, hanya saja kalau Draco tidak ada bagaimana dengan ujian mereka.
"Hermione kau baik-baik saja?" panggilan Luna menyadarkan Hermione.
"ah aku baik-baik saja"
"dari tadi kau melamun saja"
"ayolah lun aku baik-baik saja"
"ya baiklah"
Akhirnya Luna menyerah untuk menanyai keadaan Hermione, dia tahu bahwa temannya yang satu itu bukan tipe orang yang senang menceritakan masalahnya. Lebih baik dia memperhatikkan materi yang diberikan .
Para murid berangsur-angsur keluar meninggalkan kelas yang baru saja selesai. Tapi tidak dengan Draco , memintanya untuk tetap di kelas entah apa yang akan dibicarakannya tapi Draco yakin ini hal yang membosankan.
"apa yang ingin kau bicarakan dengan ku?"
Snape menghela nafas panjang mendengar nada tidak sopan Draco , mungkin jika itu orang lain
dia akan memberikannya detensi , tapi ini Draco murid yang dilindunginya, murid kebanggaannya dan murid kesayangannya jadi dia tidak akan melakukannya , tidak adil bukan? ya tapi itulah faktanya. "Bagaimana nilai - nilai mu?" tanya Snape dengan nada dingin andalannya, sedangkan Draco hanya mendengus mendengarnya " tidak perlu berbasa-basi denganku, aku tahu bukan itu yang ingin kau bicarakan"
"apakah kau sudah mengusai mantra yang kuajari?" tanya Snape to the point, rasanya percuma berbasa-basi dengan Malfoy. Rahang Draco mengeras mendengar pertanyaan Snape, sejujurnya dia belum menguasai mantra itu, terakhir dia mencoba mantra itu Draco pingsan seharian penuh. Dia belum siap dengan mantra itu, dia belum siap membunuh dengan mantra itu. 'Pengecut aku pengecut, aku menyedihkan' kata-kata itu berputar di dalam otak Draco. Snape terus memperhatikkan perubahan mimik Draco, sepertinya dia sudah tahu jawabannya tanpa Draco menjawabnya. "Aku sudah tahu jawabannya, aku tak akan memaksamu untuk cepat menguasai mantra itu, aku tahu suatu saat kau bisa, ayo kuantar kau ke kelas "
Draco terkejut mendengar perkataan Snape 'dia tak memaksaku?' pikir Draco. Ternyata Snape berbeda dengan ayahnya yang selalu menuntut sesuatu dari Draco, menuntutnya menjadi Malfoy sempurna membuat Draco tertekan, tapi Snape tidak. Snape tidak menuntut dan menekannya, tapi Snape memberinya kepercayaan "terimakasih "
gumam Draco sangat pelan, bahkan mungkin Snape tidak bisa mendengarnya.
Sudah sepuluh menit sejak pelajaran dimulai tapi Draco belum muncul juga, tentu saja hal ini membuat Hermione panik. "Mione kau kenapa? dari pelajaran kau aneh" bisik Luna yang jengah melihat tingkah Hermione, "tenang saja Malfoy pasti akan datang" kali ini Lavender yang angkat bicara dan dibalas dengan tatapan 'tahu dari mana kau' dari Hermione.
Terdengar suara ketukkan dari luar pintu kelas, setelah menyuruh anak-anak diam segera membukakan pintu kelas.
"Maaf menganggu pelajaran anda Professor, aku hanya ingin mengatakan bahwa Draco tadi bersamaku, sehingga telat mengikuti kelas anda aku harap anda memakluminya"
"baiklah, karena tadi bersamamu aku mengizinkannya untuk ikut pelajaranku"
"baiklah terimakasih" selesai dengan urusannya Snape segera pergi dari sana sedangkan Draco segera duduk di bangkunya.
"Ujian akan segera dimulai, siapkan bahan-bahannya dan ingat ini tugas kelompok oleh karena itu kalian harus bekerja sama"
Hermione menghela nafas mendengar perkataan , bekerja sama dengan Draco adalah hal tersulit baginya setelah terbang. Lihat saja Draco dia tenang-tenang saja saat ujian akan dimulai sedangkan mereka tidak punya bubuk unicorn.
"Dan untuk kalian dan apa kalian punya bubuk unicorn? jika tidak lebih baik kalian keluar saja"
"hem well, sebenarnya kami..." belum sempat Hermione selesai bicara Draco sudah memotong perkataan Hermione.
"Tentu saja kami punya Sir" ucap Draco sambil menaruh bubuk unicornya di atas meja. "Bagus kalau begitu" ujar , sedangkan Hermione menatap ajaib Draco.
"Kau dapat dari mana?"
"Diagon Alley"
"jadi kau sudah mendapatkannya? kenapa tidak memberitahuku?"
"kau tidak bertanya"
"tapi kan bubuk itu sangat mahal, aku kira kau..."
Hermione menghentikan perkataannya setelah teringat betapa kaya rayanya Malfoy jadi tidak akan mungkinkan jika Draco tidak sanggup membelinya.
"Ah lupakan saja Malfoy"
"Cih dasar cewek aneh"
Draco dan Hermione mulai membuat ramuan mereka, selama pembuatan ramuan mereka tidak pernah akur. Ada saja yang mereka ributkan.
"Seharusnya kau campurkan daun mint itu terlebih dahulu Malfoy"
"aku sudah tahu, kau kira aku bodoh apa"
"cish dasar ferret menyebalkan" Hermione kembali melanjutkan tugasnya menimbang bahan-bahan dengan menggerutui Draco , sedangkan Draco hanya menyeringai melihat kekesalan Hermione terhadapnya.
"Baik waktu habis sekarang taruh ramuan kalian di meja ku" suara menghentikan kegiatan para murid, dengan langkah tidak rela Hermione menaruh ramuan yang menurutnya belum sempurna itu ke meja sang guru.
"Aku harap ramuan kita berhasil"
"tenang saja, ramuan itu dibuat oleh pangeran slytherin yang nilai ramuan nya mengalahkan Miss-Know-It-All" Hermione mendengus mendengar ucapan dari Draco sombong yang menjijikan itu, 'sial nilai ramuan ku memang kalah dengan ferret albino itu' batin Hermione.
masih berkutat untuk mengetes ramuan hasil para murid.
Selang lima belas menit akhirnya selesai.
"Aku akan membacakan nilai kalian" seketika kelas menjadi tegang , mereka harap-harap cemas dengan nilai mereka, kecuali Draco tentunya, tidak ada raut ketegangan dari wajahnya , berbeda dengan Hermione yang sedang meremas-remas ujung jubahnya. Bahkan mungkin Hermione tidak mendengar suara menyebutkan nilai murid lain.
"Dan untuk pasangan ketua murid kita"
Hermione seketika menegang ketika nama mereka disebut 'oh merlin bantu aku, jangan biarkan aku mendapat nilai yang rendah, mau ditaruh dimana mukaku nanti' Hermione berdoa dalam hati.
"Kalian mendapatkan nilai sempurna" Hermione meloncat kegirangan setelah menyebutkan nilai mereka, sedangkan Draco hanya memasang tampang bosan.
Saking senangnya Hermione tanpa sadar meloncat kearah Draco dan memeluknya. Seketika itu juga Draco dan seisi kelas terkejut. "Hei apa yang kau lakukan? lepaskan aku, sesak tahu" Draco berusaha melepaskan diri dari Hermione, dan Hermione yang baru sadar apa yang telah dilakukannya langsung menutup wajahnya menahan malu.
"Wah ternyata kalian serasi, selamat untuk nilai kalian
, kelas bubar" membubarkan kelas, para murid berangsur-angsur meninggalkan kelas, begitu pula dengan Draco dkk yang hendak keluar kelas sebelum Hermione berteriak di kelas.
"Hei ferret yang tadi itu kesalahan teknis" ucap Hermione sambil menahan malunya, dia tidak mau siapapun salah paham dengan kejadian tadi.
"Kalau kau mau memelukku nanti saja di kamar ketua murid, kau bisa memelukku sampai puas" goda Draco sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Hermione dan langsung di sambut umpatan oleh Hermione.
"Tidak akan pernah Malfoy, jangan harap kau, dasar bodoh, albino, kau menyebalkan!"
Draco sama sekali tidak memperdulikan umpatan Hermione, dia terus berjalan keluar kelas bersama Blaise dan Theo sambil menertawakan kebodohan Hermione tadi.
'hahaha kena kau Granger' batin Draco, sepertinya Hermione harus waspada , atau dia akan sial kembali.
A/N :
Yiyituwi : huaaa maaf kesalahan saya T_T
Megu Takuma : makasih dibilang keren wkwkwk, jengjeng mereka gak dapet hehe. Review lagi ya XD
Driccha: hehe iya Draco kan seksi wkwk, makasih udah menghayati fic ini. Kak Riwa siapa? -_-a
Ochan malfoy : huaaa gimana Uas kamu?Sukseskah? Heheehe. Chap ini romance i berasa gak? Gak yah? Hiks . Review lagi ya XD
Dremloxys : aku usahain biar romancenya berasa lagi . Review lagi ya
Shizyldrew : Makasih dibilang keren, review lagi ya XD
Nb author : yey chap lima datang haha ,telat banget updatenya hehe . Chap ini saya lagi bener stuck ide jadi gomenn kalau chap ini jelek. Semoga chap ini bisa memuasakan para reader, dan jangan capek buat baca cerita saya ya XD . Untuk membangkitkan semangat saya sangat mengharap kan review dari readers, oh iya thanks buat temen Toge-chan yang baik hati udah mau bantu bikin nih ff.
SO REVIEW PLEASE XD
