Hai nama saya mella, cukup panggil mella-chan #plak. Ini ff pertama saya yang kuharap bisa gue publish hahaha,pairing yang saya ambil ini dramione .
Hemm ini ceritanya tahun ketujuh sebelum perang harpot dkk di hogwarts, Dumbledore belum mati dan dramione jadi kepala murid. Setengah AU setengah canon (?)
Disclaimer : Harry Potter punya tante JK Rowling ,saya cuma pinjem karakter nya
Warning : cerita gaje,EYD ancur ,dont like dont read,ooc, summary gak mutu, kata-kata kasar, disini masih rate T XD
Summary : Hermione dan Draco menjadi ketua murid, bagaimana kehidupan mereka,apakah mereka bisa saling menghargai kehadiran masing-masing?
Sadness of love
Seberkas cahaya hijau menerjang centaurus yang tengah berlari kencang menghindari penyihir yang mengincarnya dari tadi, sekuat apapun ia berlari tapi sayang nasib baik tidak menghampirinya.
"Avada kadarva" seketika cahaya hijau itu menerjang centaurus malang itu lagi. Dalam hitungan persekian detik sudah dipastikan centaurus itu mati, wajahnya menggambarkan ketakutan yang sangat, bahkan tergambar jelas bahwa sang waktu tidak memberinya kesempatan untuk merasakan sakit ketika nyawa nya diambil paksa oleh salah satu mantra kutukan tak termaafkan.
Tap...
Tap...
Tap...
Derap langkah itu terus mendekat kearah bangkai centaurus yang tergeletak disana. Udara malam hutan terlarang yang dingin tak menyurutkan sosok itu untuk meninggalkan hutan terlarang. Sosok itu telah berdiri disamping bangkai centaurus, dia hanya diam memandangi hasil buruannya dengan pandangan dingin tak terartikan. Sesekali sosok itu menendang-nendang pelan tubuh centaurus itu. "Lumos" seketika cahaya keluar dari tongkatnya, memberikan sedikit penerangan disana, tapi walaupun begitu rambut pirang platina itu tetap terlihat kontras di gelapnya malam hutan terlarang.
"Malang" Draco bergumam kecil sebelum menjatuhkan diri di bawah pohon. "Lumos" sekali lagi cahaya temaram keluar dari tongkat Draco, ia mengedarkan pandangan ke sekitarnya. Ada setitik rasa bangga di dada Draco melihat hasil yang telah ia lakukan. 'Dua centaurus, tiga babi hutan dan dua wormtail, tidak terlalu buruk' batin Draco. Tapi rasa bangga itu sirna ketika Draco tahu apa yang dilakukannya belum cukup membuat ayah nya bangga. "Haha ayah pasti menertawaiku yg hanya mampu membunuh hewan-hewan tak berguna itu"
Draco menertawai dirinya sendiri , betapa bodohnya dia tidak bisa menjalani latihan yang ayanya berikan. Lemah kata-kata itu berputar terus di kepala Draco , 'Tidak aku tidak lemah, aku hanya tidak ingin menjadi pembunuh, aku tidak mau membunuh peri rumah hanya untuk latihan aku tidak mau' batin Draco bergejolak, dia tidak mau menjadi pembunuh tapi ayahnya terus menekannya.
Kau lemah Draco , kau harus mehilangkan rasa belas kasihanmu itu , matikan hatimu , di dunia ini tidak ada tempat untuk cinta dan mudblood , kau harus mengabdi untuknya. Dunia ini milik kita, milik para pureblood.
Kata-kata ayahnya kembali terngiang di otak Draco , perkataan ayahnya benar, dia hanya perlu mematikan hatinya, maka semua akan terasa benar. 'Dunia ini milik kami para pureblood, dan kami berhak melakukan apapun , karena kami sang penguasa' Draco berusaha menguatkan ideologinya ke dalam otaknya , dia bangkit dan berjalan menuju bangkai-bangkai hewan tak berguna itu. Dengan satu lambaian tongkat Draco berhasil menghilangkan jejak perburuannya, "Selamat tinggal" Draco mengucapkan salam perpisahan untuk hutan terlarang, sekarang saatnya kembali ke Hogwarts, pasti si mudblood jalang itu sedang menunggunya, Draco menyeringai memikirkan hal itu.
Sudah hampir dua jam Hermione menunggu kehadiran Draco, tapi yang ditunggu malah tidak menunjukan batang hidungnya dari tadi. Hermione melirik jam dinding .
"Sudah pukul 11 malam, aku tidak akan menunggunya lagi"
Hilang sudah kesabaran Hermione , dia segera menyambar jubahnya, cuaca malam ini cukup dingin untuk bisa membuat Hermione menggigil.
'Aku akan patroli dengan ataupun tanpa ferret sialan itu' Hermione mengeram di dalam hati, dengan langkah kasar dia keluar asrama.
Dan betapa terkejutnya Hermione saat melihat Draco dengan santainya sedang menyenderkan tubuhnya di tembok.
"Kau lama sekali Granger"
Ucap Draco cuek lalu berjalan meninggalkan Hermione yang masih mengumpati dirinya.
"Kau dari mana?" akhirnya Hermione membuka mulutnya untuk bertanya pada Draco setelah dari beberapa menit yang lalu ia tahan. Sebenarnya Hermione tidak perduli kemana Draco tadi pergi hanya saja dia ingin tahu apa yang membuat Draco telat dan membiarkannya menunggu seperti tadi.
"Bukan urusanmu"
Draco tidak memperdulikan perkataan Hermione bahkan menoleh saja tidak , dia terlalu lelah untuk mendengarkan ocehan Hermione.
"Kau bilang bukan urusanku? yang benar saja, kau membuatku menunggu hampir dua jam jadi itu urusanku" emosi Hermione benar-benar tidak bisa ditahan lagi, makhluk dihadapannya ini selalu menyulut emosi nya.
"oh shut up mudblood, aku sedang tidak ingin adu mulut dengan mu, jadi tutup mulutmu"
"Dasar bedebah sudah kukatakan berapa kali jangan panggil seperti itu" wajah Hermione benar-benar merah terlihat sekali dia menahan amarahnya.
"Kalau begitu tutup mulutmu bodoh, aku lelah mendengar ocehan mu itu!"
Draco membentak Hermione dengan suara yang sangat besar membuat Hermione sedikit mundur tapi bukan berarti Hermione takut, itu tak ada dalam kamusnya.
"Haha kau lelah? lelah habis berkelahi atau lelah habis bercinta dengan para wanita jalang itu?" Hermione memincingkan matanya meneliti penampilan Draco. Well jika dilihat penampilan Draco sangat kacau, rambutnya acak-acakan tidak karuan, kemeja putihnya sudah kusut penuh noda,dua kancingnya sudah terbuka dan keluar dari celananya, dasinya sudah tidak terpasang dengan sempurna, jubahnya entah dimana dan parahnya lengan dan wajah Draco terdapat beberapa memar.
'Apa yang sudah dilakukannya?' pikir Hermione.
"Jangan seenaknya menilaiku Granger"
suara Draco berhasil menarik kembali kesadaran Hermione dari lamunannya tentang Draco. Sepertinya Hermione berhasil memencet tombol amarah Draco, tiba-tiba Draco berbalik dan mendorong tubuh Hermione ke tembok dengan keras lalu mengurungnya dengan kedua tangannya.
"Aww"
Hermione mengaduh saat kepala dan punggungnya terhempas ke tembok. Dilihatnya wajah Draco yang hanya beberapa cm dari wajahnya, Draco sangat terlihat kesal, matanya menggambarkan kebencian yang sangat besar untuk Hermione, membuatnya sedikit bergidik.
"Apa yang kau lakukan?" akhirnya Hermione berhasil membuka suaranya. Brukkk dengan reflek Hermione memejamkan matanya saat Draco menonjok tembok persis di samping kepala Hermione dengan sangat keras.
"Kenapa menutup matamu Granger? kau takut padaku?"
Draco menyindir Hermione membuat Hermione segera membuka matanya dengan cepat.
"Jangan harap Malfoy, aku tidak akan takut pada orang jalang sepertimu" desis Hermione dengan sinis. Draco menyeringai ke arah Hermione
"Lalu kau apa? kau lebih jalang denganku".
"Jaga ucapan mu Malfoy"
"Akui saja dirimu itu jalang Granger" .
Kuping Hermione memanas mendengar ucapan Draco, rasanya ingin sekali dia menonjok Draco.
"Bagaimana kalau kita buktikkan siapa yang lebih jalang dari kita"
Tantang Draco sedangkan Hermione menaikkan alisnya bingung atas perkataan Draco.
"Apa maksud mmphhh..."
belum sempat Hermione menyelesaikan perkataanya, Draco sudah membungkam mulut Hermione dengan bibirnya.
Hermione membelakakan matanya terkejut atas tindakan gila Draco. "mmpphh le ppash" Hermione berusaha mendorong Draco, tapi percuma saja tenaganya hilang begitu saja.
Draco menciumnya dengan kasar, lidahnya memaksa masuk tetapi mulut Hermione tetap tertutup rapat, kesal dengan tindakan Hermione , Draco pun menggigit bibir bawah Hermione.
"mmphh"
Hermione sedikit mengerang dan itu langsung dimanfaatkan Draco untuk menelusupkan lidahnya kemulut Hermione.
Seakan tenaganya habis, Hermione pasrah menerima ciuman kasar Draco, ciuman Draco kali ini sangat berbeda dari yang sebelumnya. Hermione merasakan berjuta emosi dalam ciuman Draco, marah, keputusasaan, sedih, menuntut dan entahlah apalagi Hermione tidak mengerti , tanpa sadar Hermione mengalungkan tangannya di leher Draco, sepertinya benar yang dikatakan orang-orang bahwa Malfoy selalu mendapatkan apa yang mereka mau.
Setelah berciuman selama beberapa menit, akhirnya Draco melepaskan ciumannya, nafas mereka memburu seakan mereka benar-benar kehabisan udara. Wajah Hermione merah padam, dan Draco menyeringai senang saat merasakan Hermione masih merangkulnya.
"Kurasa kau menikmati ciuman kita kan darling?"
Seketika itu jugaHermione melepaskan tangannya dari leher Draco.
"Ternyata kau itu wanita jalang, sama seperti yang lain"
Draco menyeringai puas melihat wajah Hermione yang menahan marah.
PLAKKKK...
Perih ya perih, hal pertama yang Draco rasakan pada pipinya, Hermione menamparnya dengan keras.
"APA YANG KAU LAKUKAN MUDBLOOD, KAU TIDAK BERHAK MENAMPARKU"
"KENAPA? APA KARENA KAU PUREBLOOD, AKU TIDAK BOLEH MENAMPARMU? ITU KONYOL MALFOY, BAHKAN PERI RUMAH LEBIH BERADAB DARIPADA KAU, KAU BIADAB, AKU MEMBENCIMU! "
Rasanya Hermione ingin sekali merapalkan mantra kutukan kepada makhluk dihadapannya ini, tapi entah kenapa tenaganya seakan tersedot oleh manik kelabu yang ada dihadapannya, manik yang begitu memikat sekaligus menakutkan.
Hening, tidak ada yang bicara diantara mereka, mereka hanya diam dan saling menatap seakan mereka berbicara lewat mata. Draco menarik nafas panjang, ia menunjukkan seringaian andalannya pada Hermione.
"Kau tahu Granger, aku diciptakan untuk menyakiti orang-orang sepertimu, aku akan terus menyakitimu entah sampai kapan, jadi pulanglah Granger, pulang ke duniamu, aku lelah"
Draco mengatakannya dengan lirih, seringaian yang tadi ia perlihatkan sudah memudar digantikan ekspresi tidak terbaca.
Draco mengendurkan himpitannya pada Hermione.
"Aku membencimu Malfoy" ucap Hermione pelan tapi dia yakin Draco mendengarnya, dia segera berlari menjauhi Draco, hatinya sakit, mendengar semua perkataan Draco.
Hermione terus berlari tidak perduli dengan langkahnya yang membangunkan para lukisan, dia hanya ingin cepat kekamarnya untuk menangis dan berharap dia melupakan hal tadi.
Draco berjalan gontai menuju asrama slytherin, dia memilih untuk menginap disana ketimbang kembali ke asrama ketua murid.
"Bisa ular"
Pintu asrama pun keluar, Draco pun segera masuk, dia ingin berendam untuk menenangkan dirinya.
Wangi susu bercampur mint segera menyeruak saat Draco berendam.
"Uhh"
Draco sedikit mengaduh saat memarnya mengenai panasnya air, rasanya badannya sakit semua.
Draco berusaha menutup matanya untuk menikmati kegiatannya, tapi setiap ia menutup matanya yang terbayang adalah manik hazel Hermione yang menatapnya penuh kepedihan. 'Aku membencimu Malfoy' perkataan Hermione kembali berputar dikepala Draco.
"oh shitt"
entah kenapa ada sesuatu yang aneh yang dirasakan Draco saat mendengar kata itu, rasanya seperti kecewa, tapi bukankah dia seharusnya senang? entalah dia tidak mengerti dan terlalu malas untuk mengerti
Sepi, satu kata yang paling sempurna untuk mengambarkan asrama ketua murid kita, Hermione menarik nafas panjang 'sepertinya Draco tidak pulang semalam' batinnya.
Dan Hermaione pun melangkahkan kakinya menuju aula.
Aula besar Hogwarts sudah dipenuhi para murid untuk sarapan sebelum memulai aktifitasnya, tapi tidak dengan Hermione, dia hanya memainkan makanannya tanpa niat untuk mencicipinya, sesekali manik hazelnya melirik kebarisan para ular.
'dia belum datang'
batin Hermione, tapi hey untuk apa dia memikirkannya, Hermione mengelengkan kepalanya berusaha menyingkirkan pikiran menjijikan itu.
"Mione kau baik-baik saja?" pertanyaan Ginny sukses menyita perhatian Harry dan Ron.
"Aku baik-baik saja"
Hermione berusaha tersenyum.
"Benarkah? tapi matamu bengkak, seperti habis menangis" ucap Ron khawatir.
"Oh itu, semalam aku menangis teringat mum and dad"
"Hanya itu?" tanya Harry dengan tatapan aku-tahu-kau-berbohong.
"Ayolah Harry, jangan menatapku seperti itu, aku sudah lama tidak bertemu orang tua ku"
"Ya baiklah Mione kau menang, apapun masalahmu ceritakanlah pada kami"
"Thanks"
Hermione tersenyum , setidaknya sahabatnya selalu ada untuknya.
'maafkan aku guys , aku telah berbohong pada kalian, ini semua gara-gara Malfoy sialan itu, oh aku membencinya' batin Hermione.
Aku membencinya, aku membencinya, aku membencinya, kata-kata itu selalu Hermione masukkan kedalam otaknya, utuk mengingatkan dirinya sendiri betapa becinya dia terhadap makhluk adam bernama Draco Malfoy. Tapi tidakkah Hermione tahu bahwa jika sesuatu yang kita benci bisa berbalik menjadi cinta?.
Entahlah biar waktu yang akan membuktikannya pada Miss-Know-It-All kita.
Megu Takuma : Jengjengjeng chap 6 datang hahaha , sebenernya saya juga mau digendong Draco #loh (?) , maaf ya updatenya lama, tenang saya berusaha buat romance kok udah disiapin tapi di chap ini pengen nyeritain garis batas antara Draco sama Mione dulu, semoga suka, review lagi ya
Reddishblood : makasih udah suka ceritanya, aaaaa makasih juga buat masukannya , ini udah diperbaiki kok, semoga bener , salam kenal juga saya Mella , review lagi ya
Ochan Malfoy : Hai ochan apa kabar? (?) , huaaa maaf lama updatenya, lagi sibuk ujian nih huaaaaa , Draco dapet dari diagon alley dia beli darisana, padahal mahal tapi kan dia kaya #ngegossip, sip romance ditambahain di chap depan tapi disini mau gambarin konflik dulu, semoga suka ya, review lagi yah
Shizyldrew : aaaaaa makasih dibilang keren #peluk , semoga suka ya sama chap ini, mohon review lagi ya
Ajeng Puspita : makasihya #peluk, review lagi ya
Diya 1013 : hehehe maaf lama ya, semoga suka sama chap ini, review lagi ya
Huaaaa maaf ya update nya lama banget mengecewakan :'(( , saya lagi ujian dan TO mulu jadi ide buat fic ini agak mandet gara2 kebanyakan mikir buat ujian hehehehe, semoga suka ya sama chap 6 ini. Buat chap selanjutnya entah kapan updatenya -_-v , UN didepan mata, mohon doanya ya biar saya lulus , makasih buat yang udah review maupun silent reader yang udah baca ff ini, mohon kritik dan saran ya , Review Please
Jakarta , 24 Maret 2013
