Hai nama saya mella, cukup panggil mella-chan #plak. Ini ff pertama saya yang kuharap bisa saya publish hahaha,pairing yang saya ambil ini dramione .
Hemm ini ceritanya tahun ketujuh sebelum perang harpot dkk di hogwarts, Dumbledore belum mati dan dramione jadi kepala murid. Setengah AU setengah canon (?)
Disclaimer : Harry Potter punya tante JK Rowling ,saya cuma pinjem karakter nya
Warning : cerita gaje,EYD ancur ,dont like dont read,ooc, summary gak mutu, kata-kata kasar, disini masih rate T XD
Summary : Hermione dan Draco menjadi ketua murid, bagaimana kehidupan mereka,apakah mereka bisa saling menghargai kehadiran masing-masing?
Sadness of love
Suara cicitan burung dan sejuknya udara pagi perlahan membangunkan sang pangeran Slytherin dari tidurnya.
"aargh"
Draco sedikit mengerang saat berusaha untuk duduk, kepala nya terasa sangat pusing dan berat sekali, merasa keningnya basah Draco pun menyentuh keningnya.
'kompresan? siapa yang mengompresku? atau mungkin Granger, ah tidak mungkin'
Berusaha menyingkirkan pikirannya yang menggelikan itu, Draco melirik jam weker di nakasnya.
'oh sudah jam 10' batinnya.
"..."
"..."
"OH SHIT AKU LUPA SEKARANG PERTANDINGAN QUIDDITCH"
Dan detik itu juga Draco lansung meloncat ke kamar mandi dan pergi ke lapangan seperti orang kesetanan.
Bendera ular dan elang sudah berkibar di sekeliling podium lapangan, para pendukung pun mulai meneriakkan tim mereka walaupun sebenarnya pertandingan belum dimulai.
Berbanding terbalik dengan suasana lapangan yang riuh, ruang ganti slytherin sunyi senyap, hanya suara detuk langkah sepatu Blaise yang terdengar di ruangan itu.
Tuk tuk tuk tuk tuk
Theo hanya memutar bola matanya bosan melihat tingkah Blaise yang dari tadi mondar-mandir tidak karuan.
"Demi ingus hijau Snape, pertandingan sepuluh menit lagi akan segera dimulai dan Draco belum juga datang!"
Blaise mencak-mencak frustasi Draco belum juga datang. Untuk kesekian kalinya Theo harus bersabar mendengar ocehan Blaise.
Theo menatap semua tim nya, terlihat sekali bahwa mereka gelisah sang kapten belum juga datang, terlebih lagi Blaise dia terlihat seperti orang yang mengantre toilet di tengah medan perang.
'Aku harus menyusulnya' batin Theo, bagaimana pun Draco adalah kapten mereka, tanpa Draco maka tim mereka akan goyah.
"Aku akan mencari Draco"
Ucap Theo seraya keluar dari ruangan.
"Seret dia dalam sepuluh menit , dan kau jangan ikut menghilang Theodore!"
"Yes mommy "
"WHAT THE HELL !"
Theo tertawa mendengar gerutuan Blaise yang menyumpahinya dengan berbagai kutukan khas Blaise.
Trio gryfindor sudah duduk diantara penonton netral (bukan penduduk slytherin maupun elang).
Mereka sangat antusias melihat pertandingan ini, oke ralat sebenarnya kata mereka kurang tepatkarena hanya Harry dan Ron yang antusias, sedangkan Hermione hanya terpaksa mengikuti paksaan dari Harry dan Ron, yang terus merengek untuk mengajak Hermione ikut.
Awalnya ia ingin menolak tetapi setelah Harry berkata "otakmu sangat kami perlukan untuk menganalisis pertandingan" dengan tampang melas akhirnya dirinya luluh juga.
Sebenarnya pikiran Hermione sedang berkecamuk, ini semua gara-gara dan Draco. Akibat Draco jatuh sakit menyuruh dirinya untuk merawat Draco sekaligus memberitahukan tim slytherin bahwa Draco tidak bisa bermain hari ini.
Dan inti permasalahannya adalah, bagaimana cara memberitahukan mereka?.
"Hei harry menurutmu slytherin atau ravenclaw yang menang? bagaimana kalau kita bertaruh?"
Harry tampak menimang tantangan dari Ron, hingga akhirnya dia menyetujuinya.
"Aku bertaruh 10 galleon untuk slytherin"
"Kau yakin Harry? baik DEAL"
Harry dan Ron saling berjabat tangan untuk menyetujuinya.
'Madam Pomprey sialan , kenapa harus aku sih yang diberikan amanat ini'
batin Hermione sedang asyik mengumpati Mrs. Pomprey sampai tidak sadar Ron mengajaknya bicara.
"Hei Mione menurutmu slytherin atau ravenclaw yang akan menang?" tanya Ron antusias.
'Bagaimana ini? apa yang harus aku lakukan? yang benar saja aku harus keruang ganti slytherin, itu bunuh diri'.
Merasa tidak dihiraukan oleh Hermione, Ron sekali lagi memangil Hermione dan hasilnya nihil.
"Hei Mione"
'Ayo Mione berpikir cari cara lain'.
Hermione mulai menjambak rambutnya frustasi, membuat Harry dan Ron heran.
"Hei Mione kau dengar kami?"
Kini giliran Harry yang bertanya pada Hermione , dan hasilnya tetap sama.
'Ini amanat bagaimana pun juga harus disampaikan, tapi...'
"HERMIONEEEEEEEEE"
Mendengar suara yang luar biasa kencang, membuat Hermione kaget dan tersadar dari lamunannya, bahkan dia hampir terjatuh dari kursi penonton.
Sebenarnya bukan Hermione saja yang terkejut, beberapa penonton lain juga ikut terkejut dan ikut menyumbangkan deathglare untuk Harry dan Ron. Dan hanya dibalas senyuman kikuk dari keduanya.
"Harry Ron ! kalian bisa membuatku tuli dengan teriakan kalian!"
"kami tidak bermaksud untuk membuatmu tuli Mione, salah sendiri kau kami panggil diam saja"
Ron berusaha membela diri dan dibalas anggukan setuju dari Harry .
Hermione menghela nafas, sekarang bukan saatnya membahas hal konyol bersama Harry dan Ron, masih ada yang harus ia kerjakan.
"Baik lupakan saja, sorry guys aku tidak bisa menemani kalian, ada yang harus aku urus"
Hermione langsung berlari tanpa menghiraukan tatapan heran dari sahabatnya.
"Hei Harry apakah kita salah bicara?"
"entahlah"
Jawab Harry sekenanya sambil menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
Hermione berlari sekuat tenaga untuk sebisa mungkin sampai di ruang ganti slytherin. Persetan dengan reaksi menjijikan dari para slytherin nanti saat melihatnya, yang ada di otaknya kini hanya segera menuntaskan amanat sialan ini, dan tiba-tiba...
Brukkkkk...
"ughhh"
Hermione mengerang karena terjatuh menabrak seseorang.
"Tidak punya mata heh Granger?"
'Pasti slytherin' batin Hermione dan benar saja, Theodore berdiri angkuh dihadapannya tanpa sedikit pun niat untuk membantu Hermione berdiri.
Hermione menghela nafas panjang, ia tahu bahwa bicara dengan slytherin itu sulit.
"Aku tidak tahu harus merasa beruntung atau sial bertemu denganmu, aku hanya ingin menyampaikan amanat madam Pomprey yang mengatakan bahwa Draco tidak diizinkan untuk bertanding karena sakit, itu saja"
Theo hanya diam berusaha mencerna perkataan tanpa jeda dari Hermione sampai akhirnya dia sadar Draco tidak akan ikut bertanding.
"Demi upil Hagrid, dan kau baru memberitahu kami saat tiga menit lagi pertandingan dimulai? kau sangat briliant Granger!"
Theo memijat keningnya yang pusing mendadak, 'ah sial bagaimana nanti keadaan tim' batin Theo.
"Jangan dengarkan berang-berang itu mate, aku akan tetap bertanding"
Mendengar suara yang menginterupsi pembicaraan mereka, sontak membuat Theo dan Hermione menoleh ke asal suara.
Draco berjalan angkuh mendekati mereka, wajah nya yang pucat tambah pucat akibat sakit. Melihat Draco yang pucat seperti zombie membuat Theo bingung harus senang karena Draco ikut bertanding atau melarangnya bertanding.
"Kau ferret seharusnya kau beristirahat karena kau belum pulih!"
"Perduli padaku Granger? urus saja urusanmu sendiri, jangan ikut campur"
"Perduli padamu? haha itu lelucon terlucu Malfoy, dengar aku tidak perduli dan tidak akan pernah perduli padamu"
"Baguslah aku juga tidak mau di khawatirkan oleh mu"
Rasanya Hermione ingin melemparkan kutukan untuk manusia di depannya ini, 'dasar tidak tahu diuntung' umpat Hermione dalam hati.
Theo memutar bola matanya bosan menyaksikan pertengkaran Draco dan Hermione yang buang-buang waktu.
"Bisa tidak debat suami-istri nya ditunda dahulu? masih ada pertandingan yang menunggu"
Ucapan Theo sukses mendapatkan tatapan deathglare dari Draco dan Hermione.
"Ayolah jangan tatap aku seperti itu, memang benar kan?"
Hermione dan Draco hanya membuang muka mendengar perkataan Theo yang sangat tidak masuk akal.
"Terserah kau sajalah, bicara dengan kalian membuatku gila, dan kalau kau sakit aku tidak mau merawatmu lagi"
Selesai mengatakan itu dengan penuh emosi, Hermione langsung pergi meninggalkan Draco dan Theo, persetan dengan Draco yang sedang sakit, dia tidak mau mengkhwatirkannya lagi.
Melihat Hermione pergi menjauh, Draco hanya diam saja, dia tidak tahu harus berbuat apa. Oke dia mengakui kalau penyebab Hermione pergi dengan kesal adalah dirinya. Sebenarnya Draco ingin mengucapkan terimakasih kepada Hermione, dan yaaa itu gagal total. Draco tidak bisa mengucapkannya, otak hati dan mulutnya tidak bekerja sama dengan baik.
Hatinya mendorongnya untuk berterimakasih, tetapi otaknya membunyikan akal sehatnya bahwa itu tidak mungkin. Ayolah mengucapkan terimakasih bagi kaum MALFOY adalah hal yang tabu, terlebih lagi jika ditujukan untuk darah lumpur, bisa-bisa Abraxas bangkit dari kuburnya hanya untuk mengutuk Draco. Ternyata menjadi Malfoy sangat menyusahkan.
"Ayolah mate, jangan menatapnya seperti itu, kau bisa berduaan dengannya sehabis pertandingan"
Ucap Theo sambil menepuk pundak Draco seakan-akan sedang memberikan semangat.
"Jaga bicara mu Nott, ayo masih ada yang harus kita selesaikan"
Mendengar Draco memanggil nama belakangnya, Theo segera mengentikan aksinya, karena itu tanda Draco akan mengeluarkan tanduknya dan itu cukup membuat Theo merinding.
Draco dan Theo datang disaat pertandingan nyaris dimulai, Blaise menatapnya dengan tatapan 'dari mana saja kalian?' , yang dibalas senyuman tak berdosa Theo dan seringaian Draco, membuat Blaise langsung mendengus melihatnya
Pertandingan dimulai, snitch sudah dilepaskan dan Draco langsung mengejarnya disusul oleh Anthony Goldstein yang mulai mengejarnya dari belakang.
Draco mempercepat laju sapunya mengikuti snitch.
'sial kenapa harus terbang ketempat sempit sih'
Draco mengumpati snitch yang terbang melalui celah kecil membuatnya sulit digapai, dan belum lagi suara jeritan penonton khusunya perempuan yang menjerit dengan suara mereka yang cempreng membuat Draco bertambah pusing mendengarnya.
"Kyaaaaaaaa Draco"
'idiot' gumam Draco saat teriakan para gadis itu kembali menggema.
Rasa nyeri kembali menyerang Draco, sepertinya ini akan sulit, mengingat kondisinya yang masih lemah, tapi dia tidak akan menyerah , Draco menolehkan kepalanya dan tragedi memilukan pun terjadi, ravenclaw berhasil membobol gawang slytherin dan mempertipis selisih score mereka.
'shit, ini tidak bisa dibiarkan' Draco kembali melajukan sapunya dengan kecepatan penuh, tidak perduli dengan keadaannya yang penting adalah slytherin menang. Anthony terus berusaha mengejar Draco, terkadang dia membalap Draco tapi itu tidak berlangsung lama, dan juga Anthony sering menabrakan sapunya ke arah Draco dan hampir saja Draco terjatuh akibat menyeringai sekilas ke arah Draco saat dia berhasil menyalip Draco, melihat seringaian Anthony membuat Draco ingin muntah saat itu juga. Tapi ada yang menguntungkan dari seringaian Anthony, tepat saat dia menyeringai , snitch berbalik arah dan Draco langsung melesat.
Udara semakin dingin saat itu tapi persaingan makin memanas seiring bergulirnya waktu. Draco menggeram kecil saat rasa nyeri disekujur tubuhnya datang lagi, dan parahnya jarinya terasa keram. Draco menjulurkan tangannya saat snitch berada di depanya , namun ternyata itu sangat sulit ditambah jari Draco yang keram dan beberapa usaha Anthony yang membuatnya kehilangan keseimbangan.
"Shit, aku sudah tidak kuat, aku harus menyelesaikanya sekarang juga"
Draco menambah kecepatan sapunya dengan gila.
3 meter
1 meter
30 cm
dan...
"DRACO AWAS!"
Bersamaan dengan teriakan Blaise sebuah bludger datang dan menghamtam Draco hingga terjatuh dari sapunya.
Draco merasakan tubuhnya seperti daun tertiup angin dan semua pandangan nya memutih dan genggaman nya pun melemas, melepaskan snitch yang ternyata sudah ada ditangganya.
BRUKKKKKK
Tubuh Draco mendarat dengan sangat keras , dan tiba-tiba saja peluit berbunyi dan penonton slytherin bergemuruh, ya slytherin menang, point mereka jauh diatas ravenclaw berkat Draco. Blaise langsung menghampiri tubuh lemas Draco dan disusul oleh Theo. Bagi Blaise ini terlalu cepat dan mengejutkan, semuanya hanya berselang beberapa detik dan kini ia tidak merasa ini bukan saatnya untuk bereuforia, nyawa sahabatnya lebih penting.
Hermione sedang duduk termenung di hospital wings, setelah bertengkar dengn Draco entah kenapa perutnya terasa nyeri dan akhirnya dia datang ke hospital wings untuk meminta obat. Entah kenapa pikirannya selalu melayang memikirkan Malfoy, dan hal itu membuanya frustasi, sebenarnya otaknya masih berfungsi atau tidak karena terus memikirkan Draco.
"Taruh dia disana tuan-tuan, aku akan membuatkan beberapa ramuan"
Mendengar suara Madam Pomprey yang panik ,Hermione menoleh ke asal suara dan mendapati Draco sedang di bopong oleh Theo dan Blaise dengan kondisi jauh dari kata baik.
"Astaga, apa yang terjadi?" Hermione berlari ke arah Draco.
"Draco terjatuh dari sapunya"
Jawab Theo kikuk, bagaimana pun dia merasa bersalah karna dia tahu kondisi Drco tapi malah memintanya bermain dan beginilah jadinya.
"Bisa kalian membantuku? aku perlu bantuan kalian untuk memegangi , karena dia akan berontak efek dari ramuan ini"
Theo dan Blaise menggangguk setuju dan Hermione tidak tahu harus berbuat apa.
"Dengar mengalami kejang otot, patah tulang dan demam tinggi, aku akan melemaskan ototnya tapi dia akan berontak, jadi tolong pegangi dia dengan kuat"
Madam Pomprey mulai melakukan pengobatan pada Draco, dan benar saja Draco langsung berteriak kesakitan dan berontak, membuat Theo dan Blaise
kalang kabut.
"ARRGGGGGHHHHHH"
Untuk kesekian kalinya Draco berteriak sambil berontak. Theo Blaise dan Madam Pomprey sudah bermandikan peluh tapi pengobatan Draco belum juga selesai.
"Tidak bisakah kita memberinya bius agar dia diam?"
Blaise mencoba memberi ide pada Madam Pomprey.
"Aku tidak mau mengambil resiko untuk itu Mr. Zabini, karena itu bisa membuat Mr. Malfoy keracunan"
Blaise meneguk ludahnya, ternyata ide nya sangat buruk. Hermione memajukan langkahnya setelah dari tadi hanya diam memandangi mereka mengobati Draco.
"Boleh aku membantu?" tanyanya kikuk dan langsung dijawab dengan anggukan mantap dari ketiganya.
"Aku tidak tau ini akan berhasil atau tidak"
"Ayolah Granger coba saja"
Theo mulai tidak sabar, Hermione mendekati Draco, sebenarnya Hermione ragu tapi sebagian hatinya mengatakan ini akan berhasil dengan ide gila ini.
"ARGHHHHHHHHHMMMPPHHH"
Entah sudah berapa kali Draco berteriak, tapi berbeda kali ini karena sebelum Draco menyelesaikan teriakkannya mulut Draco sudah dibungkam dengan mulut Hermione. Membuat semua yang ada disana membulatkan matanya tidak percaya
Ya benar Hermione membantu menenangkan Draco dengan menciumnya, ini benar-benar tidak masuk akal. Sebenarnya apa yang ada di pikiran Hermione, entahlah hanya dia yang tahu.
Kyaaaaa khirnya bisa update juga setelah sekian lama terkena WB hohohoho, maaf ya kalau cerita nya jelek, cuma itu yang ada diotak saya -_-V, buat Shizyldrew, diya1013, Ochan Malfoy ,Kutil Zabini, LuluIslamiah, Fressia Athena dan Minri, makasih ya udah review dan untuk para silent rider makasih udah baca, dan makasih juga yang udah memfollow dan memfav hohoho, semoga kalian suka ya , kalau ada saran pm aja XD, ngomong ngomong saya LULUS loh hahahah XD #narihulahula
Jakarta , 08 JUNI 2013
